kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 26 Januari 2025, pk 09.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

 

I Raja-Raja 13:1-34(5)

 

nabi murtad

 

1Raja 13:1-34 - “(1) Sedang Yerobeam berdiri di atas mezbah itu sambil membakar korban, maka atas perintah TUHAN datanglah seorang abdi Allah dari Yehuda ke Betel. (2) Lalu atas perintah TUHAN berserulah orang itu terhadap mezbah itu, katanya: ‘Hai mezbah, hai mezbah! Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya seorang anak akan lahir pada keluarga Daud, Yosia namanya; ia akan menyembelih di atasmu imam-imam bukit pengorbanan yang membakar korban di atasmu, juga tulang-tulang manusia akan dibakar di atasmu.’ (3) Pada waktu itu juga ia memberitahukan suatu tanda ajaib, katanya: ‘Inilah tanda ajaib, bahwa TUHAN telah berfirman: Bahwasanya mezbah itu akan pecah, sehingga tercurah abu yang di atasnya.’ (4) Demi raja Yerobeam mendengar perkataan abdi Allah yang diserukannya terhadap mezbah di Betel itu, ia mengulurkan tangannya dari atas mezbah dan berkata: ‘Tangkaplah dia!’ Tetapi tangan yang diulurkannya terhadap orang itu menjadi kejang, sehingga tidak dapat ditariknya kembali. (5) Mezbah itupun pecahlah, sehingga abu yang di atasnya tercurah, sesuai dengan tanda ajaib yang diberitahukan abdi Allah itu atas perintah TUHAN. (6) Lalu berbicaralah raja dan berkata kepada abdi Allah itu: ‘Mohonkanlah belas kasihan TUHAN, Allahmu, dan berdoalah untukku, supaya tanganku dapat kembali.’ Dan abdi Allah itu memohonkan belas kasihan TUHAN, maka tangan raja itu dapat kembali dan menjadi seperti semula. (7) Kemudian berbicaralah raja kepada abdi Allah itu: ‘Marilah bersama-sama dengan aku ke rumah, segarkan badanmu, sesudah itu aku hendak memberikan suatu hadiah kepadamu.’ (8) Tetapi abdi Allah itu berkata kepada raja: ‘Sekalipun setengah dari istanamu kauberikan kepadaku, aku tidak mau singgah kepadamu; juga aku tidak mau makan roti atau minum air di tempat ini. (9) Sebab beginilah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air dan jangan kembali melalui jalan yang telah kautempuh itu.’ (10) Lalu pergilah ia melalui jalan lain dan tidak kembali melalui jalan yang telah diambilnya untuk datang ke Betel. (11) Di Betel diam seorang nabi tua. Anak-anaknya datang menceritakan kepadanya segala perbuatan yang dilakukan abdi Allah pada hari itu di Betel. Mereka menceriterakan juga kepada ayah mereka perkataan yang dikatakannya kepada raja. (12) Kemudian ayah mereka bertanya: ‘Dari jalan manakah ia pergi?’ Lalu anak-anaknya menunjukkan kepadanya jalan yang diambil abdi Allah yang datang dari Yehuda itu. (13) Ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Pelanai keledai bagiku!’ Mereka memelanai keledai baginya, lalu ia menunggangnya (14) dan pergi mengikuti abdi Allah itu dan mendapatinya duduk di bawah sebuah pohon besar. Ia bertanya kepadanya: ‘Engkaukah abdi Allah yang telah datang dari Yehuda?’ Jawabnya: ‘Ya, akulah itu.’ (15) Katanya kepadanya: ‘Marilah bersama-sama aku ke rumah untuk makan roti.’ (16) Tetapi jawabnya: ‘Aku tidak dapat kembali bersama-sama engkau dan singgah kepadamu; aku tidak dapat makan roti atau minum air bersama-sama engkau di tempat ini, (17) sebab telah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air di sana. Jangan berjalan pulang melalui jalan yang telah kauambil itu.’ (18) Lalu jawabnya kepadanya: ‘Akupun seorang nabi juga seperti engkau, dan atas perintah TUHAN seorang malaikat telah berkata kepadaku: Bawa dia pulang bersama-sama engkau ke rumahmu, supaya ia makan roti dan minum air.’ Tetapi ia berbohong kepadanya. (19) Kemudian orang itu kembali bersama-sama dia, lalu makan roti dan minum air di rumahnya. (20) Sedang mereka duduk menghadapi meja, datanglah firman TUHAN kepada nabi yang telah membawa dia pulang. (21) Ia berseru kepada abdi Allah yang telah datang dari Yehuda: ‘Beginilah firman TUHAN: Karena engkau telah memberontak terhadap titah TUHAN dan tidak berpegang pada segala perintah yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, (22) tetapi kembali dan makan roti dan minum air di tempat ini walaupun Ia telah berfirman kepadamu: Jangan makan roti atau minum air, - maka mayatmu tidak akan masuk ke dalam kubur nenek moyangmu.’ (23) Setelah orang itu makan roti dan minum air, dipelanailah keledai baginya. (24) Orang itu pergi, tetapi di tengah jalan ia diserang seekor singa dan mati diterkam. Mayatnya tercampak di jalan dan keledai itu berdiri di sampingnya; singa itupun berdiri di samping mayat itu. (25) Orang-orang yang lewat melihat mayat itu tercampak di jalan dan singa berdiri di sampingnya. Dan mereka menceriterakannya di kota tempat kediaman nabi tua itu. (26) Ketika hal itu kedengaran kepada nabi yang telah membujuk dia berbalik kembali, ia berkata: ‘Dialah abdi Allah yang telah memberontak terhadap titah TUHAN. TUHAN menyerahkan dia kepada singa, yang mencabik dan membunuhnya sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkanNya kepadanya.’ (27) Lalu berbicaralah ia kepada anak-anaknya: ‘Pelanailah keledai bagiku.’ Dan mereka memelanainya. (28) Kemudian ia pergi dan menemukan mayat orang itu tercampak di jalan, sedang keledai dan singa berdiri di sampingnya. Singa itu tidak memakan mayat itu dan tidak mencabik keledai itu. (29) Nabi tua itu mengangkat mayat abdi Allah itu, menaruhnya ke atas keledai dan membawanya kembali ke kotanya sendiri untuk diratapi dan dikuburkan. (30) Mayat orang itu dikuburkannya di dalam kuburnya sendiri, maka diratapilah dia: ‘Wahai, saudaraku!’ (31) Setelah ia menguburkannya, ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Kalau aku mati, kuburkanlah aku dalam kubur ini bersama dengan abdi Allah itu, dan taruhlah tulang-tulangku di sisi tulang-tulangnya. (32) Sebab perkataan yang atas perintah TUHAN telah diserukannya terhadap mezbah yang di Betel itu dan terhadap segala kuil di bukit-bukit pengorbanan yang di kota-kota Samaria akan betul-betul terjadi.’ (33) Sesudah peristiwa inipun Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu, tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat untuk bukit-bukit pengorbanan. Siapa yang mau saja, ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengorbanan. (34) Dan tindakan itu menjadi dosa bagi keluarga Yerobeam, sehingga mereka dilenyapkan dan dipunahkan dari muka bumi..

 

Ay 23-30: “(23) Setelah orang itu makan roti dan minum air, dipelanailah keledai baginya. (24) Orang itu pergi, tetapi di tengah jalan ia diserang seekor singa dan mati diterkam. Mayatnya tercampak di jalan dan keledai itu berdiri di sampingnya; singa itupun berdiri di samping mayat itu. (25) Orang-orang yang lewat melihat mayat itu tercampak di jalan dan singa berdiri di sampingnya. Dan mereka menceriterakannya di kota tempat kediaman nabi tua itu. (26) Ketika hal itu kedengaran kepada nabi yang telah membujuk dia berbalik kembali, ia berkata: ‘Dialah abdi Allah yang telah memberontak terhadap titah TUHAN. TUHAN menyerahkan dia kepada singa, yang mencabik dan membunuhnya sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkanNya kepadanya.’ (27) Lalu berbicaralah ia kepada anak-anaknya: ‘Pelanailah keledai bagiku.’ Dan mereka memelanainya. (28) Kemudian ia pergi dan menemukan mayat orang itu tercampak di jalan, sedang keledai dan singa berdiri di sampingnya. Singa itu tidak memakan mayat itu dan tidak mencabik keledai itu. (29) Nabi tua itu mengangkat mayat abdi Allah itu, menaruhnya ke atas keledai dan membawanya kembali ke kotanya sendiri untuk diratapi dan dikuburkan. (30) Mayat orang itu dikuburkannya di dalam kuburnya sendiri, maka diratapilah dia: ‘Wahai, saudaraku!’”.

 

1) “Setelah orang itu makan roti dan minum air, dipelanailah keledai baginya. Orang itu pergi, tetapi di tengah jalan ia diserang seekor singa dan mati diterkam.” (ay 23-24a).

 

a) Allah melakukan penghakiman yang keras ini untuk memperingatkan orang-orang yang Ia pakai untuk mentaatiNya secara ketat.

 

Matthew Henry: “by this God intended to warn all those whom he employs strictly to observe their orders, at their peril” [= dengan ini Allah bermaksud untuk memperingatkan semua mereka yang ia pakai untuk mentaati / memperhatikan dengan ketat perintah-perintah yang diberikan kepada mereka, dengan resiko mereka sendiri].

 

b) Mungkin Allah melakukan hal ini juga untuk mengeraskan hati Yerobeam.

Matthew Henry: “Perhaps God by this intended, in a way of righteous judgment, to harden Jeroboam’s heart, since he was not reformed by the withering of his hand; for he would be apt to make a bad use of it, and to say that the prophet was well enough served for meddling with his altar, he had better have staid at home; ... he would say that Providence had punished him for his insolence, and the lion had done that which his withered hand might not do” [= Mungkin dengan ini Allah memaksudkan, dengan suatu cara penghakiman yang benar, untuk mengeraskan hati Yerobeam, karena ia tidak direformasi / diperbaharui oleh kelayuan tangannya; karena ia akan cenderung menyalahgunakan hal ini, dan mengatakan bahwa sang nabi diperlakukan dengan cukup ‘bagus’ karena menentang / merusakkan mezbahnya, ia lebih baik tinggal di rumah; ... ia akan mengatakan bahwa providensia telah menghukumnya untuk kekurang-ajarannya, dan sang singa telah melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh tangannya yang layu itu].

 

Pada saat Yerobeam mendengar bahwa abdi Allah dari Yehuda itu mati diterkam singa, ia memang bisa saja berpikir bahwa abdi Allah dari Yehuda itu ternyata adalah orang brengsek sehingga ia dihukum oleh Tuhan, sedangkan ia sendiri adalah orang benar, sehingga tidak diapa-apakan oleh Tuhan.

 

Tetapi, mengingat bahwa tangannya pernah dijadikan kejang oleh Tuhan dan disembuhkan oleh abdi Allah dari Yehuda itu, saya memikirkan suatu kemungkinan yang lain, yaitu: bisa saja bahwa ia sebetulnya tahu bahwa ialah yang brengsek, dan abdi Allah dari Yehuda itu yang benar, tetapi peristiwa ini tetap ia gunakan untuk meyakinkan rakyatnya bahwa sebaliknyalah yang benar. Jadi, sebetulnya ia tahu fakta sebenarnya, tetapi ia sengaja memutar-balikkannya untuk keuntungannya sendiri.

 

Hal seperti ini membutuhkan banyak perenungan. Pada saat saudara berdosa / hidup dalam dosa, selalu ada hal-hal yang bisa saudara pakai untuk membenarkan diri dan mengeraskan hati saudara sendiri. Misalnya:

1.  Musuh saudara atau orang-orang yang menentang saudara, mengalami bencana.

2.  Ada banyak berkat Tuhan bagi saudara, seperti kesehatan, keuangan yang baik, bisnis yang lancar, dan sebagainya.

3.  Banyak orang mendukung / membela saudara.

4.  Banyak orang yang menentang musuh saudara atau orang-orang yang menentang saudara.

 

Hal-hal seperti ini bukanlah standard untuk menentukan apakah Allah berkenan dengan kehidupan saudara atau tidak. Satu-satunya standard yang benar adalah Kitab Suci / Firman Tuhan!

 

c)  Ini menunjukkan bahwa jalan / cara Allah seringkali tidak sesuai dengan pikiran kita.

 

Matthew Henry: “The case was indeed very lamentable that so good a man, a prophet so faithful, and so bold in God’s cause, should, for one offence, die as a criminal, while an old lying prophet lives at ease and an idolatrous prince in pomp and power. ‘Thy way, O God! is in the sea, and thy path in the great waters.’ We cannot judge of men by their sufferings, nor of sins by their present punishments; with some the flesh is destroyed that the spirit may be saved, while with others the flesh is pampered that the soul may ripen for hell” [= Kasus ini betul-betul sangat disesalkan bahwa seorang yang begitu baik / saleh, seorang nabi yang begitu setia, dan begitu berani dalam perkara Allah, untuk satu pelanggaran, harus mati sebagai seorang kriminal, sementara seorang nabi tua pendusta hidup enak dan seorang raja yang menyembah berhala hidup dalam kemegahan dan kekuasaan. ‘JalanMu, ya Allah! ada dalam laut, dan jalan kecilMu ada dalam air yang luas’. Kita tidak bisa menghakimi / menilai orang berdasarkan penderitaan mereka, ataupun menghakimi / menilai dosa-dosa mereka berdasarkan penghukuman mereka pada saat ini; pada beberapa orang ‘daging dihancurkan supaya roh bisa diselamatkan’, sedangkan pada yang lain daging dimanjakan supaya jiwa bisa menjadi matang untuk neraka].

Catatan: kutipan-kutipan ayat diambil dari Maz 77:20 dan 1Kor 5:5 versi KJV.

1.  Maz 77:20 - Melalui laut jalanMu dan lorongMu melalui muka air yang luas, tetapi jejakMu tidak kelihatan.”.

KJV: Thy way is in the sea, and thy path in the great waters, and thy footsteps are not known [= JalanMu ada dalam laut, dan jalan kecilMu ada dalam air yang luas, dan jejakMu tidak diketahui / dikenal].

2.  1Kor 5:5 - “orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.”.

KJV: ‘To deliver such an one unto Satan for the destruction of the flesh, that the spirit may be saved in the day of the Lord Jesus’ [= Untuk menyerahkan orang seperti itu kepada Iblis untuk penghancuran daging, supaya rohnya bisa diselamatkan pada hari Tuhan Yesus].

 

d) Ini menunjukkan bahwa penghakiman sering dimulai pada rumah Allah!

Adam Clarke: “From the instance here related, we see, as in various other cases, that often judgment begins at the house of God. The true prophet, for receiving that as a revelation from God which was opposed to the revelation which himself had received, and which was confirmed by so many miracles, is slain by a lion, and his body deprived of the burial of his fathers; while the wicked king, and the old fallen prophet, are both permitted to live! If this was severity to the man of God, it was mercy to the others, neither of whom was prepared to meet his judge. Here we may well say, ‘If the righteous scarcely be saved, where shall the ungodly and the sinner appear?’” [= Dari contoh yang diceritakan di sini, kita melihat, seperti dalam bermacam-macam kasus yang lain, bahwa seringkali penghakiman dimulai di rumah Allah. Sang nabi yang benar, karena menerima itu sebagai suatu wahyu dari Allah yang bertentangan dengan wahyu yang telah ia terima sendiri, dan yang diteguhkan oleh begitu banyak mujizat, dibunuh oleh seekor singa, dan tubuhnya tidak dikuburkan dalam kuburan nenek moyangnya; sementara sang raja yang jahat, dan nabi tua yang jatuh, kedua-duanya diizinkan untuk hidup! Jika ini adalah sesuatu yang keras terhadap abdi Allah itu, itu adalah belas kasihan kepada yang lain, dan tidak ada dari mereka yang siap untuk bertemu dengan Hakimnya. Di sini kita bisa bertanya: ‘Jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, dimana orang-orang jahat dan berdosa akan muncul?’].

Catatan: bagian terakhir dikutip dari 1Pet 4:18 versi KJV, yang agak berbeda dengan terjemahan Kitab Suci Indonesia, karena KJV menterjemahkan dengan cara lebih hurufiah.

1Pet 4:17-18 - “(17) Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? (18) Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?.

KJV: ‘(17) For the time is come that judgment must begin at the house of God: and if it first begin at us, what shall the end be of them that obey not the gospel of God? (18) And if the righteous scarcely be saved, where shall the ungodly and the sinner appear? [= (17) Karena saatnya sudah tiba bahwa penghakiman harus dimulai pada rumah Allah: dan jika itu pertama-tama dimulai pada kita, bagaimana akhirnya dengan mereka yang tidak mentaati injil Allah? (18) Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, dimana orang-orang jahat dan berdosa akan muncul?].

 

Ini juga membutuhkan banyak perenungan. Kalau kita betul-betul menghayati hal ini, maka kita tidak akan menganggap orang yang mengalami bencana, atau bahkan mati secara mengerikan, sebagai orang-orang yang lebih brengsek dari orang-orang yang tidak mengalaminya, dan bahkan kelihatannya hidupnya enak dan ‘diberkati’ oleh Tuhan. Mengingat bahwa Allah sering memulai penghakiman pada rumahNya sendiri, maka orang-orang yang mengalami bencana sebagai hajaran Tuhan itu, mungkin sekali justru lebih baik dari orang-orang yang tidak dihajar oleh Tuhan, yang menunjukkan bahwa mereka bukan anak-anak Tuhan.

 

Bdk. Ibr 12:7-8 - “(7) Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.”.

KJV: ‘then are ye bastards, and not sons’ [= maka kamu adalah anak yang haram / tidak sah, dan bukan anak].

NIV: then you are illegitimate children and not true sons [= maka kamu adalah anak haram dan bukan anak yang sejati].

 

Bdk. Luk 13:1-5 - “(1) Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. (2) Yesus menjawab mereka: ‘Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? (3) Tidak! kataKu kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. (4) Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? (5) Tidak! kataKu kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.’”.

 

Dari kata-kata Yesus ini terlihat bahwa kalau ada orang mengalami bencana, bahkan mati dengan cara yang mengerikan, maka:

1.  Itu tidak berarti bahwa orang-orang itu lebih jahat dari kita yang tidak mengalami bencana / kematian yang mengerikan tersebut.

2.  Itu merupakan sesuatu yang seharusnya mendorong kita melakukan introspeksi, dan lalu bertobat dari dosa-dosa kita. Kalau tidak, kita juga akan mengalami hal yang sama.

 

e) Perbandingan abdi Allah dari Yehuda itu dengan Yesus.

Word Biblical Commentary: “In all of history there was only one Prophet who kept God’s rules in every minutia. He would not be distracted from God’s stern pathway, not even by religion’s greatest authorities. He too was doomed to die, but for the sins of others rather than for sins of his own. In his grave he sanctified the death of many others - of all those who call him not just ‘man of God’ but ‘Son of God.’ The paradox of the Judahite man of God, ... is but a faint illumination of that greater paradox, the absolute obedience and the saving death of Jesus Christ” [= Dalam seluruh sejarah hanya ada satu Nabi yang memelihara peraturan-peraturan Allah sampai hal yang sekecil-kecilnya. Ia tidak disimpangkan dari jalan yang keras dari Allah, bahkan tidak oleh otoritas-otoritas agama yang terbesar. Ia juga harus mati, tetapi untuk dosa-dosa dari orang-orang lain dan bukan untuk dosa-dosaNya sendiri. Dalam kuburNya Ia menguduskan kematian dari banyak orang lain - dari semua mereka yang menyebut Dia bukan hanya sebagai ‘abdi Allah’ tetapi ‘Anak Allah’. Paradox tentang abdi Allah dari Yehuda, ... hanyalah merupakan suatu penerangan yang redup dari paradox yang lebih besar, ketaatan mutlak dan kematian yang menyelamatkan dari Yesus Kristus].

 

2) “(24b) Mayatnya tercampak di jalan dan keledai itu berdiri di sampingnya; singa itupun berdiri di samping mayat itu. (25) Orang-orang yang lewat melihat mayat itu tercampak di jalan dan singa berdiri di sampingnya. ... (28) Kemudian ia pergi dan menemukan mayat orang itu tercampak di jalan, sedang keledai dan singa berdiri di sampingnya. Singa itu tidak memakan mayat itu dan tidak mencabik keledai itu. (29) Nabi tua itu mengangkat mayat abdi Allah itu, menaruhnya ke atas keledai dan membawanya kembali ke kotanya sendiri untuk diratapi dan dikuburkan.”.

 

a) Apa yang sangat aneh dari singa itu adalah bahwa setelah membunuh abdi Allah dari Yehuda itu, ia tidak memakannya. Ia juga tidak memakan keledai yang tadinya ditunggangi si abdi Allah, dan ia juga tidak mengapa-apakan orang-orang yang lewat di sana maupun si nabi tua yang datang untuk mengambil dan menguburkan mayat si abdi Allah.

 

Word Biblical Commentary menggunakan istilah ‘the very unlionlike lion’ [= singa yang sangat tidak seperti singa] untuk singa tersebut.

 

b) Mengapa Allah mengatur bahwa singa itu hanya membunuh abdi Allah dari Yehuda itu tanpa mengapa-apakan tubuhnya, atau si keledai, atau si nabi tua?

 

1.  Semua ini untuk menunjukkan bahwa ini bukan sekedar suatu kecelakaan, dimana seseorang ‘secara kebetulan’ dibunuh oleh seekor singa, tetapi sesuatu yang bersifat supranatural, yang merupakan penghukuman Allah bagi abdi Allah dari Yehuda itu karena dosanya.

 

Wycliffe Bible Commentary: “in order that it might be known that this was indeed a supernatural judgment and not simply an unfortunate accident, the lion, after slaying the prophet, did not harm or tear his body, nor did he even kill the meek donkey upon which the prophet had been riding, but calmly stood at attention, as if by divine arrest” [= supaya bisa diketahui bahwa ini memang merupakan suatu penghakiman yang bersifat supranatural dan bukan sekedar suatu kecelakaan yang sial, sang singa, setelah membantai sang nabi, tidak mengganggu atau merobek-robek tubuhnya, bahkan ia tidak membunuh keledai yang lembut yang ditunggangi sang nabi, tetapi dengan tenang berdiri tegak, seakan-akan oleh penahanan ilahi].

 

Adam Clarke: “‘The lion had not eaten the carcass, nor torn the ass.’ All here was preternatural. The lion, though he had killed the man, does not devour him; the ass stands quietly by, not fearing the lion; and the lion does not attempt to tear the ass: both stand as guardians of the fallen prophet. How evident is the hand of God in all!” [= ‘Singa itu tidak memakan mayatnya, ataupun menyobek-nyobek keledai itu’. Semua di sini adalah supranatural. Singa itu, sekalipun ia telah membunuh orang itu, tidak memakannya; keledai itu berdiri dengan tenang di dekatnya, tidak takut kepada singa itu; dan singa itu tidak mencoba untuk menyobek keledai itu: keduanya berdiri sebagai penjaga-penjaga dari nabi yang jatuh itu. Betapa nyatanya tangan Allah dalam semua ini!].

 

Pulpit Commentary: “These particulars are mentioned to show that his death was no accident, or chance, but a visitation of God” [= Hal-hal khusus ini disebutkan untuk menunjukkan bahwa kematiannya bukanlah kecelakaan, atau kebetulan, tetapi suatu kunjungan Allah] - hal 297.

 

Catatan: kata ‘visitation’ [= kunjungan] sering dipakai untuk menunjuk pada kunjungan Allah untuk memberi pahala, atau untuk memberi hukuman.

 

2.  Bahwa abdi Allah dari Yehuda itu hanya dibunuh oleh singa itu tetapi selanjutnya tidak dimakan, menunjukkan bahwa dalam kemarahanNya dan penghukumanNya, Allah tetap mengingat dan mempunyai belas kasihan kepada abdi Allah dari Yehuda itu. Dan selanjutnya, Matthew Henry mengatakan, bahwa ini menunjukkan bahwa penghukuman Allah tersebut hanya sampai di sana saja. Dengan kata lain, abdi Allah dari Yehuda itu tidak masuk neraka, tetapi tetap selamat / masuk surga.

 

Matthew Henry: “The wonderful preservation of his dead body, which was a token of God’s mercy remembered in the midst of wrath. The lion that gently strangled him, or tore him, did not devour his dead body, nor so much as tear the ass, v. 24, 25, 26. Nay, what was more, he did not set upon the travellers that passed by and saw it, nor upon the old prophet (who had reason enough to fear it) when he came to take up the corpse. His commission was to kill the prophet; hitherto he should go, but no further. Thus God showed that, though he was angry with him, his anger was turned away, and the punishment went no further than death” [= Penjagaan yang luar biasa terhadap mayatnya, yang merupakan suatu tanda dari belas kasihan Allah yang diingat di tengah-tengah kemurkaanNya. Singa yang dengan lembut mencekiknya, atau menyobeknya, tidak menelan mayatnya, ataupun menyobek keledainya, ay 24,25,26. Lebih lagi, ia tidak menyerang orang-orang yang lewat dan melihatnya, ataupun nabi tua (yang mempunyai alasan yang cukup untuk takut kepadanya) pada waktu ia datang untuk mengambil mayat itu. Otoritas / perintahnya adalah untuk membunuh si nabi; sampai sini ia harus pergi, tetapi tidak lebih jauh lagi. Dengan cara ini Allah menunjukkan bahwa sekalipun Ia marah kepadanya, kemarahanNya dipalingkan, dan hukuman itu berjalan tidak lebih jauh dari kematian].

 

Catatan: sesuatu yang tetap tidak saya mengerti adalah: bagaimana mungkin Allah memberikan hukuman mati untuk seseorang yang betul-betul adalah anakNya. Bukan hanya karena, sepanjang ingatan saya, ini merupakan satu-satunya kasus dimana seorang anak Tuhan dihukum mati, tetapi juga karena secara theologis, menurut saya hal ini tidak masuk akal. Mengapa? Karena dalam arti yang strict [= ketat], Allah tidak bisa menghukum anakNya, karena semua hukuman sudah ditanggung oleh Kristus (Catatan: bagi orang-orang percaya zaman Perjanjian Lama, penebusan Kristus berlaku surut). Jadi, yang dilakukan oleh Allah terhadap anakNya yang berdosa sebetulnya bukan ‘menghukum’, tetapi ‘menghajar’. Dan kalau Ia menghajar, seharusnya tujuannya adalah untuk memperbaiki anak yang Ia hajar itu (bdk. Ibr 12:5-11). Dalam hal pemberian ‘hukuman mati’, atau lebih tepat ‘hajaran mati’, seperti ini, bagaimana mungkin orang itu menjadi lebih baik? Buah kebenaran apa yang dihasilkan oleh anak Tuhan yang dihukum / dihajar mati? Apakah mungkin hajaran itu diberikan hanya demi kepentingan orang-orang lain? Kalau demikian, bagaimana mengharmoniskannya dengan Ibr 12:11?

 

Ibr 12:5-11 - “(5) Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; (6) karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.’ (7) Jika kamu harus menanggung ganjaran (hajaran); Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran (hajaran), yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. (9) Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran (hajaran), dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? (10) Sebab mereka mendidik (menghajar) kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya. (11) Memang tiap-tiap ganjaran (hajaran) pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”.

 

c)  Bahwa singa itu membunuh abdi Allah dari Yehuda yang saleh, tetapi tidak mengapa-apakan nabi tua brengsek yang mendustainya, membuktikan akan adanya kehidupan yang akan datang, dimana setiap orang akan menerima hukuman dan pahala yang betul-betul adil.

 

Pulpit Commentary: “The deceived dies; the deceiver lives. The lion which slew the comparatively innocent man of God would not touch the lying prophet. ... What an illustration this of the strange confusion of this present life (cf. Psa. 69, 73, &c.); what a proof of a life to come, where each shall receive his just recompense of reward!” [= Yang ditipu mati; yang menipu hidup. Singa yang membunuh abdi Allah yang secara relatif tidak bersalah, tidak mau menyentuh nabi yang berdusta. ... Ini betul-betul merupakan suatu ilustrasi tentang kekacauan yang aneh dari hidup sekarang ini (bdk. Maz 69, 73, dsb); betul-betul suatu bukti tentang kehidupan yang akan datang, dimana setiap orang akan menerima imbalan pahala yang adil!] - hal 305.

 

Memang dalam hidup yang sekarang ini ada banyak ketidak-adilan. Melihat adanya ketidak-adilan ini saudara bisa memikirkan salah satu dari 2 hal di bawah ini:

 

1.      Allah itu tidak adil.

Kalau saudara memilih ini, ingatlah bahwa ini membuktikan bahwa Allah yang tidak adil itu bukan Allah, dan dengan demikian Allah itu sebetulnya tidak ada.

 

2.  Akan adanya penghakiman akhir zaman, dimana semua ketidak-adilan dalam hidup ini akan diadili, dan bahkan akan kehidupan yang akan datang, dimana akan terlihat bahwa semua betul-betul adil.

 

Bdk. Luk 16:19-25 - “(19) ‘Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. (20) Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, (21) dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. (22) Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. (23) Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. (24) Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. (25) Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.”.

 

Semua orang yang waras harus memilih pilihan yang kedua!

 

3) “(25b) Dan mereka menceriterakannya di kota tempat kediaman nabi tua itu. (26) Ketika hal itu kedengaran kepada nabi yang telah membujuk dia berbalik kembali, ia berkata: ‘Dialah abdi Allah yang telah memberontak terhadap titah TUHAN. TUHAN menyerahkan dia kepada singa, yang mencabik dan membunuhnya sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkanNya kepadanya.’ (27) Lalu berbicaralah ia kepada anak-anaknya: ‘Pelanailah keledai bagiku.’ Dan mereka memelanainya. (28) Kemudian ia pergi dan menemukan mayat orang itu tercampak di jalan, sedang keledai dan singa berdiri di sampingnya. Singa itu tidak memakan mayat itu dan tidak mencabik keledai itu. (29) Nabi tua itu mengangkat mayat abdi Allah itu, menaruhnya ke atas keledai dan membawanya kembali ke kotanya sendiri untuk diratapi dan dikuburkan. (30) Mayat orang itu dikuburkannya di dalam kuburnya sendiri, maka diratapilah dia: ‘Wahai, saudaraku!’”.

 

Betul-betul aneh, bahwa nabi tua yang tadinya secara sengaja mendustai / menyesatkan abdi Allah dari Yehuda itu, sekarang menguburkan mayatnya sambil menangisinya, dan menyebutnya sebagai saudaranya. Mengapa bisa demikian?

 

Matthew Henry: “It would well have become him to ask why the lion was not sent against him and his house, rather than against the good man whom he had cheated. ... Perhaps when he cheated him into his ruin he intended to laugh at him; yet now his conscience so far relents that he weeps over him” [= Adalah baik baginya seandainya ia bertanya mengapa singa itu tidak dikirim terhadap dia dan rumah / keluarganya, dan bukannya terhadap orang yang baik / saleh yang telah ia tipu. ... Mungkin pada waktu ia menipunya ke dalam kehancurannya, ia bermaksud untuk menertawakannya; tetapi sekarang hati nuraninya begitu menyesal sehingga ia menangisinya].

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin