(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 19 Januari 2025, pk 09.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
nabi murtad
1Raja 13:1-34 - “(1) Sedang Yerobeam berdiri di atas mezbah itu sambil membakar korban, maka atas perintah TUHAN datanglah seorang abdi Allah dari Yehuda ke Betel. (2) Lalu atas perintah TUHAN berserulah orang itu terhadap mezbah itu, katanya: ‘Hai mezbah, hai mezbah! Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya seorang anak akan lahir pada keluarga Daud, Yosia namanya; ia akan menyembelih di atasmu imam-imam bukit pengorbanan yang membakar korban di atasmu, juga tulang-tulang manusia akan dibakar di atasmu.’ (3) Pada waktu itu juga ia memberitahukan suatu tanda ajaib, katanya: ‘Inilah tanda ajaib, bahwa TUHAN telah berfirman: Bahwasanya mezbah itu akan pecah, sehingga tercurah abu yang di atasnya.’ (4) Demi raja Yerobeam mendengar perkataan abdi Allah yang diserukannya terhadap mezbah di Betel itu, ia mengulurkan tangannya dari atas mezbah dan berkata: ‘Tangkaplah dia!’ Tetapi tangan yang diulurkannya terhadap orang itu menjadi kejang, sehingga tidak dapat ditariknya kembali. (5) Mezbah itupun pecahlah, sehingga abu yang di atasnya tercurah, sesuai dengan tanda ajaib yang diberitahukan abdi Allah itu atas perintah TUHAN. (6) Lalu berbicaralah raja dan berkata kepada abdi Allah itu: ‘Mohonkanlah belas kasihan TUHAN, Allahmu, dan berdoalah untukku, supaya tanganku dapat kembali.’ Dan abdi Allah itu memohonkan belas kasihan TUHAN, maka tangan raja itu dapat kembali dan menjadi seperti semula. (7) Kemudian berbicaralah raja kepada abdi Allah itu: ‘Marilah bersama-sama dengan aku ke rumah, segarkan badanmu, sesudah itu aku hendak memberikan suatu hadiah kepadamu.’ (8) Tetapi abdi Allah itu berkata kepada raja: ‘Sekalipun setengah dari istanamu kauberikan kepadaku, aku tidak mau singgah kepadamu; juga aku tidak mau makan roti atau minum air di tempat ini. (9) Sebab beginilah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air dan jangan kembali melalui jalan yang telah kautempuh itu.’ (10) Lalu pergilah ia melalui jalan lain dan tidak kembali melalui jalan yang telah diambilnya untuk datang ke Betel. (11) Di Betel diam seorang nabi tua. Anak-anaknya datang menceritakan kepadanya segala perbuatan yang dilakukan abdi Allah pada hari itu di Betel. Mereka menceriterakan juga kepada ayah mereka perkataan yang dikatakannya kepada raja. (12) Kemudian ayah mereka bertanya: ‘Dari jalan manakah ia pergi?’ Lalu anak-anaknya menunjukkan kepadanya jalan yang diambil abdi Allah yang datang dari Yehuda itu. (13) Ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Pelanai keledai bagiku!’ Mereka memelanai keledai baginya, lalu ia menunggangnya (14) dan pergi mengikuti abdi Allah itu dan mendapatinya duduk di bawah sebuah pohon besar. Ia bertanya kepadanya: ‘Engkaukah abdi Allah yang telah datang dari Yehuda?’ Jawabnya: ‘Ya, akulah itu.’ (15) Katanya kepadanya: ‘Marilah bersama-sama aku ke rumah untuk makan roti.’ (16) Tetapi jawabnya: ‘Aku tidak dapat kembali bersama-sama engkau dan singgah kepadamu; aku tidak dapat makan roti atau minum air bersama-sama engkau di tempat ini, (17) sebab telah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air di sana. Jangan berjalan pulang melalui jalan yang telah kauambil itu.’ (18) Lalu jawabnya kepadanya: ‘Akupun seorang nabi juga seperti engkau, dan atas perintah TUHAN seorang malaikat telah berkata kepadaku: Bawa dia pulang bersama-sama engkau ke rumahmu, supaya ia makan roti dan minum air.’ Tetapi ia berbohong kepadanya. (19) Kemudian orang itu kembali bersama-sama dia, lalu makan roti dan minum air di rumahnya. (20) Sedang mereka duduk menghadapi meja, datanglah firman TUHAN kepada nabi yang telah membawa dia pulang. (21) Ia berseru kepada abdi Allah yang telah datang dari Yehuda: ‘Beginilah firman TUHAN: Karena engkau telah memberontak terhadap titah TUHAN dan tidak berpegang pada segala perintah yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, (22) tetapi kembali dan makan roti dan minum air di tempat ini walaupun Ia telah berfirman kepadamu: Jangan makan roti atau minum air, - maka mayatmu tidak akan masuk ke dalam kubur nenek moyangmu.’ (23) Setelah orang itu makan roti dan minum air, dipelanailah keledai baginya. (24) Orang itu pergi, tetapi di tengah jalan ia diserang seekor singa dan mati diterkam. Mayatnya tercampak di jalan dan keledai itu berdiri di sampingnya; singa itupun berdiri di samping mayat itu. (25) Orang-orang yang lewat melihat mayat itu tercampak di jalan dan singa berdiri di sampingnya. Dan mereka menceriterakannya di kota tempat kediaman nabi tua itu. (26) Ketika hal itu kedengaran kepada nabi yang telah membujuk dia berbalik kembali, ia berkata: ‘Dialah abdi Allah yang telah memberontak terhadap titah TUHAN. TUHAN menyerahkan dia kepada singa, yang mencabik dan membunuhnya sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkanNya kepadanya.’ (27) Lalu berbicaralah ia kepada anak-anaknya: ‘Pelanailah keledai bagiku.’ Dan mereka memelanainya. (28) Kemudian ia pergi dan menemukan mayat orang itu tercampak di jalan, sedang keledai dan singa berdiri di sampingnya. Singa itu tidak memakan mayat itu dan tidak mencabik keledai itu. (29) Nabi tua itu mengangkat mayat abdi Allah itu, menaruhnya ke atas keledai dan membawanya kembali ke kotanya sendiri untuk diratapi dan dikuburkan. (30) Mayat orang itu dikuburkannya di dalam kuburnya sendiri, maka diratapilah dia: ‘Wahai, saudaraku!’ (31) Setelah ia menguburkannya, ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Kalau aku mati, kuburkanlah aku dalam kubur ini bersama dengan abdi Allah itu, dan taruhlah tulang-tulangku di sisi tulang-tulangnya. (32) Sebab perkataan yang atas perintah TUHAN telah diserukannya terhadap mezbah yang di Betel itu dan terhadap segala kuil di bukit-bukit pengorbanan yang di kota-kota Samaria akan betul-betul terjadi.’ (33) Sesudah peristiwa inipun Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu, tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat untuk bukit-bukit pengorbanan. Siapa yang mau saja, ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengorbanan. (34) Dan tindakan itu menjadi dosa bagi keluarga Yerobeam, sehingga mereka dilenyapkan dan dipunahkan dari muka bumi.”.
Ay 20-22: “(20) Sedang mereka duduk menghadapi meja, datanglah firman TUHAN kepada nabi yang telah membawa dia pulang. (21) Ia berseru kepada abdi Allah yang telah datang dari Yehuda: ‘Beginilah firman TUHAN: Karena engkau telah memberontak terhadap titah TUHAN dan tidak berpegang pada segala perintah yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, (22) tetapi kembali dan makan roti dan minum air di tempat ini walaupun Ia telah berfirman kepadamu: Jangan makan roti atau minum air, - maka mayatmu tidak akan masuk ke dalam kubur nenek moyangmu.’”.
1) ‘Sedang mereka duduk menghadapi meja, datanglah firman TUHAN kepada nabi yang telah membawa dia pulang’ (ay 20).
KJV/RSV/NASB menterjemahkan secara sama dengan Kitab Suci Indonesia.
KJV: ‘the word of the LORD came unto the prophet that brought him back’ [= firman Tuhan datang kepada nabi yang telah membawanya kembali].
RSV: ‘the word of the LORD came to the prophet who had brought him back’ [= firman Tuhan datang kepada nabi yang telah membawanya kembali].
NIV: ‘the word of the LORD came to the old prophet who had brought him back’ [= firman Tuhan datang kepada nabi tua yang telah membawanya kembali].
NASB: ‘the word of the LORD came to the prophet who had brought him back’ [= firman Tuhan datang kepada nabi yang telah membawanya kembali].
Catatan: kata ‘old’ (= tua) dalam terjemahan NIV sebetulnya tidak ada dalam bahasa Ibraninya.
Dari kata-kata dalam ay 20 ini kebanyakan orang menganggap bahwa Tuhan berfirman kepada abdi Allah dari Yehuda itu melalui nabi tua itu. Tetapi ada penafsir-penafsir yang mempunyai penafsiran yang berbeda, dan menganggap bahwa Firman Tuhan datang langsung dari Allah sendiri kepada abdi Allah dari Yehuda itu.
Pulpit Commentary: “By the word of Jehovah he was reproved. ... This came to the man of God himself. ... The reading of the text would lead us to conclude that it came to the old prophet. The word אֲשֶׁ֥ר הֱשִׁיבֽו(ASHER HESHIVO) rendered, ‘who brought him back,’ are in verse 23 construed, ‘whom he had brought back,’ and might be so construed here. Josephus asserts that the word of the Lord here came to the man of God; and so does the Arabic. In the 26th verse we are assured by the old prophet that this word of the Lord came to the man of God. ... So, coming to himself, as the command did in the first instance, he had not to weigh contradictory testimonies from the old prophet, but was left without a doubt” [= Oleh kata-kata Yehovah ia ditegur. ... Ini datang kepada abdi Allah itu sendiri. ... Pembacaan dari text ini akan membimbing kita untuk menyimpulkan bahwa itu datang kepada nabi tua itu. Kata-kata אֲשֶׁ֥ר הֱשִׁיבֽוֹ (ASHER HESHIVO) yang di sini diterjemahkan, ‘yang membawanya kembali’, dalam ay 23 diterjemahkan ‘yang telah ia bawa kembali’, dan bisa diterjemahkan demikian di sini. Josephus menegaskan bahwa firman Tuhan di sini datang kepada si abdi Allah; dan demikian juga dengan (Kitab Suci) bahasa Arab. Dalam ay 26 kita diyakinkan oleh sang nabi tua bahwa firman Tuhan ini datang kepada si abdi Allah. ... Jadi, karena (firman Tuhan itu) datang kepada dirinya sendiri, seperti perintah itu datang kepada dirinya sendiri pada kejadian pertama (ay 1-2), ia tidak harus mempertimbangkan kesaksian-kesaksian yang bertentangan dari nabi tua itu, tetapi dibiarkan tanpa keraguan] - hal 306.
Adam Clarke: “if we examine with attention the original words here, they will be found to signify either ‘he who brought him back;’ or, ‘whom he had brought back;’ for the very same words, 'ªsher heshiybow, occur again in 1 Kings 13:23, where they are now translated, ‘whom he had brought back;’ and where they cannot be translated otherwise. This being the case, we are at liberty to consider the word of the Lord as delivered to the true prophet thus brought back; and then the sentence is pronounced by GOD himself calling to him out of heaven, as in Gen. 22:11. And that this doom was thus pronounced by God, not by the false prophet, we are assured in 1 Kings 13:26: ‘The Lord hath delivered him unto the lion according to the word of the Lord which HE spake unto him.’ Josephus expressly asserts that the sentence was declared by God to the true prophet.’ The Arabic asserts the same” [= jika kita memeriksa dengan teliti kata-kata orisinilnya di sini, kata-kata itu bisa berarti ‘ia yang telah membawanya kembali’; atau ‘yang telah ia bawa kembali’; karena kata-kata yang persis sama 'Asher heshiybow, muncul lagi dalam 1Raja 13:23, dimana kata-kata itu sekarang diterjemahkan ‘yang telah ia bawa kembali’, dan dimana kata-kata itu tidak bisa diterjemahkan lain. Karena kasusnya seperti ini, kita bebas untuk menganggap firman Tuhan sebagai diberikan kepada nabi yang benar yang telah dibawa kembali; dan lalu kalimat itu diucapkan oleh Allah sendiri, yang berseru kepadanya dari langit / surga, seperti dalam Kej 22:11. Dan bahwa penghakiman / ketetapan ini ducapkan oleh Allah, dan bukan oleh sang nabi palsu, kita diyakinkan dalam 1Raja 13:26 - ‘TUHAN menyerahkan dia kepada singa, yang mencabik dan membunuhnya sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkanNya kepadanya.’. Josephus secara explicit menegaskan bahwa kalimat itu dinyatakan oleh Allah kepada nabi yang benar. (Kitab Suci) bahasa Arab menegaskan secara sama].
Jadi, dari 2 kutipan di atas ini, kita bisa melihat adanya beberapa argumentasi yang diberikan oleh Pulpit Commentary dan Adam Clarke untuk mengatakan bahwa Firman Tuhan sebetulnya datang bukan melalui sang nabi tua, tetapi langsung dari Allah kepada si abdi Allah dari Yehuda itu sendiri. Argumentasi-argumentasinya adalah sebagai berikut:
a) Terjemahan dari ay 20 dianggap salah.
Kata-kata Ibrani yang dipakai dalam ay 20 dan ay 23 adalah sama persis, tetapi anehnya kedua bagian itu diterjemahkan secara berbeda.
Ay 20: ‘who brought him back’ [= yang membawanya kembali] ® nabi tua.
Ay 23: ‘whom he had brought back’ [= yang telah ia bawa kembali] ® abdi Allah dari Yehuda.
Perlu saya tambahkan bahwa dalam ay 26 kata-kata Ibrani yang persis sama itu muncul lagi, dan diterjemahkan seperti dalam ay 20.
Ay 26: ‘who brought him back’ [= yang membawanya kembali] ® nabi tua.
Menurut Clarke, kata-kata bahasa Ibraninya memang bisa diterjemahkan seperti dalam ay 20 atau seperti dalam ay 23.
Sekarang, kalau kita menterjemahkan ay 20 itu dengan cara yang dipakai dalam ay 23, maka ay 20 akan berbunyi sebagai berikut: ‘Sedang mereka duduk menghadapi meja, datanglah firman TUHAN kepada nabi yang telah ia bawa kembali’. Ini akan menunjukkan bahwa Firman Tuhan itu datang kepada si abdi Allah dari Yehuda itu sendiri.
Ay 23: “Setelah orang itu makan roti dan minum air, dipelanailah keledai baginya”.
Kitab Suci Indonesia memotong terjemahan pada bagian akhir dari ay 23.
KJV: ‘And it came to pass, after he had eaten bread, and after he had drunk, that he saddled for him the ass, to wit, for the prophet whom he had brought back’ [= Dan setelah ia makan roti dan setelah ia minum, ia memelanai keledai untuknya, yaitu, untuk nabi yang telah ia bawa kembali].
RSV: ‘And after he had eaten bread and drunk, he saddled the ass for the prophet whom he had brought back’ [= Dan setelah ia makan roti dan minum, ia memelanai keledai untuk nabi yang telah ia bawa kembali].
NASB: ‘And it came about after he had eaten bread and after he had drunk, that he saddled the donkey for him, for the prophet whom he had brought back’ [= Dan setelah ia makan roti dan setelah ia minum, ia memelanai keledainya untuknya, untuk nabi yang telah ia bawa pulang].
NIV: ‘When the man of God had finished eating and drinking, the prophet who had brought him back saddled his donkey for him’ [= Pada waktu abdi Allah itu telah selesai makan dan minum, nabi yang telah membawanya kembali memelanai keledainya untuk dia].
Catatan: NIV menterjemahkan lain sendirian.
Adam Clarke: “That is, according to the above interpretation, the voice of God from heaven addressing the man of God, the old prophet having nothing to do in this business” [= Yaitu, sesuai dengan penafsiran di atas, suara Allah dari surga ditujukan kepada abdi Allah itu, sang nabi tua tidak melakukan apa-apa dalam hal ini].
Tanggapan saya:
1. Kalau terjemahan dari ay 20 diganti seperti dalam ay 23, maka perhatikan bagaimana jadinya ay 20-22: “(20) Sedang mereka duduk menghadapi meja, datanglah firman TUHAN kepada nabi yang telah ia bawa pulang. (21) Ia berseru kepada abdi Allah yang telah datang dari Yehuda: ‘Beginilah firman TUHAN: Karena engkau telah memberontak terhadap titah TUHAN dan tidak berpegang pada segala perintah yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, (22) tetapi kembali dan makan roti dan minum air di tempat ini walaupun Ia telah berfirman kepadamu: Jangan makan roti atau minum air, - maka mayatmu tidak akan masuk ke dalam kubur nenek moyangmu.’”.
Ada hal-hal yang aneh kalau terjemahannya diubah seperti ini, karena:
a. Sekalipun dari ay 18 kita bisa menganggap bahwa ‘abdi Allah dari Yehuda’ itu adalah seorang nabi, tetapi dalam sepanjang perikop / pasal ini istilah ‘nabi’ selalu menunjuk kepada ‘nabi tua’ itu. Sedangkan ‘abdi Allah dari Yehuda’ itu tidak pernah disebut sebagai ‘nabi’, tetapi selalu disebut sebagai ‘abdi Allah dari Yehuda’ atau ‘abdi Allah’. Bahkan dalam 2Raja 23:17-18, yang menunjuk pada peristiwa ini, istilah-istilah itu tetap dipertahankan.
2Raja 23:17-18 - “(17) Ia berkata: ‘Apakah tanda keramat yang kulihat ini?’ Lalu orang-orang di kota itu menjawab dia: ‘Itulah kuburan abdi Allah yang sudah datang dari Yehuda dan yang telah menyerukan segala hal yang telah kaulakukan terhadap mezbah Betel ini!’ (18) Lalu katanya: ‘Biarkanlah itu, janganlah ada orang yang menjamah tulang-tulangnya!’ Jadi mereka tidak mengganggu tulang-tulangnya dan tulang-tulang nabi yang telah datang dari Samaria itu”.
Mungkin, sekalipun mereka berdua sama-sama adalah nabi, digunakannya istilah-istilah yang berbeda ini dimaksudkan supaya kita sebagai pembaca bisa membedakan mereka berdua.
Tetapi kalau terjemahan dari ay 20 diubah, maka istilah ‘nabi’ dalam ay 20 menunjuk kepada ‘abdi Allah dari Yehuda’ itu. Mengapa sekarang tahu-tahu ia disebut secara explicit sebagai ‘nabi’?
b. Kata ‘Ia’ di awal ay 21 (yang saya beri garis bawah ganda) menunjuk kepada siapa?
(1) Kalau kata ‘Ia’ itu menunjuk kepada ‘abdi Allah dari Yehuda’ itu, maka:
(a) Kalimatnya menjadi aneh. Akan lebih enak kalau bunyinya adalah ‘Ia berseru kepada dirinya sendiri’.
(b) Ini menunjukkan bahwa abdi Allah dari Yehuda itu berseru / memberitakan Firman Tuhan kepada dirinya sendiri. Sekalipun Tuhan bisa saja melakukan hal seperti ini, tetapi sepanjang yang saya ingat, Kitab Suci tidak pernah menceritakan bahwa Tuhan pernah melakukannya hal seperti itu.
(2) Kalau kata ‘Ia’ itu menunjuk kepada ‘Allah’, seperti yang dikatakan oleh Adam Clarke, maka rasanya juga aneh, karena:
(a) Bagaimana mungkin Allah berbicara langsung tetapi menggunakan kata-kata ‘Beginilah firman TUHAN’ (KJV: ‘Thus saith the LORD’)? Kata-kata itu biasanya digunakan oleh seorang nabi yang berbicara atas nama Allah.
(b) Kata-kata ‘titah TUHAN’ (ay 21) seharusnya berbunyi ‘titahKu’.
(c) Kata-kata ‘segala perintah yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu’ (ay 21) seharusnya berbunyi ‘segala perintah yang Kuperintahkan kepadamu’.
(d) Kata-kata ‘Ia telah berfirman kepadamu’ (ay 22) seharusnya berbunyi ‘Aku telah berfirman kepadamu’.
b) Josephus (seorang ahli sejarah Yahudi) dan Kitab Suci bahasa Arab mengatakan bahwa firman Tuhan datang langsung dari Tuhan kepada abdi Allah dari Yehuda itu sendiri.
Ini tentu saja tidak menjamin apa-apa. Bisa saja Josephus dan Kitab Suci bahasa Arab itu yang salah.
c) Ay 26 mendukung pandangan bahwa Firman Tuhan itu datang kepada abdi Allah dari Yehuda itu sendiri.
Ay 26: “Ketika hal itu kedengaran kepada nabi yang telah membujuk dia berbalik kembali, ia berkata: ‘Dialah abdi Allah yang telah memberontak terhadap titah TUHAN. TUHAN menyerahkan dia kepada singa, yang mencabik dan membunuhnya sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkanNya kepadanya.’”.
Catatan: sepintas lalu ay 26 ini mendukung mutlak pandangan ini, tetapi sebetulnya belum tentu, karena kata-kata yang saya garis bawahi itu bisa saja diartikan ‘sesuai dengan firman Tuhan yang diucapkanNya kepadanya melalui aku’.
Sekarang mari kita tanyakan kepada ChatGPT.
Pertanyaan: Dalam 1Raja 13:20-21 apakah firman Tuhan datang melalui nabi tua, atau secara langsung?
Jawaban ChatGPT:
Dalam 1Raja 13:20-21, firman Tuhan datang melalui nabi tua, meskipun konteksnya menunjukkan hal yang cukup mengejutkan. Berikut teksnya:
1Raja 13:20-21 (TB):
Sedang mereka duduk menghadapi meja, datanglah firman TUHAN kepada nabi yang telah membawa dia pulang. Dan ia berseru kepada abdi Allah yang telah datang dari Yehuda itu, katanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Oleh karena engkau telah memberontak terhadap firman TUHAN dan tidak berpegang pada perintah yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu...’
Penjelasan:
1. Melalui nabi tua:
Ayat ini secara eksplisit menyatakan bahwa firman Tuhan datang kepada nabi tua, yang kemudian menyampaikan pesan tersebut kepada nabi muda (abdi Allah dari Yehuda). Nabi tua menjadi saluran yang digunakan Tuhan untuk menyampaikan pesan, meskipun sebelumnya dia telah menyesatkan nabi muda.
2. Bukan secara langsung:
Firman itu tidak diberikan langsung kepada nabi muda dari Yehuda, tetapi melalui perantaraan nabi tua. Hal ini ironis karena nabi tua sebelumnya telah membohongi nabi muda dengan mengatakan bahwa malaikat memerintahkannya untuk membawa nabi muda pulang (1Raja 13:18).
3. Pelajaran teologis:
a. Kedaulatan Tuhan: Tuhan tetap bisa menggunakan seseorang yang tidak sempurna atau bahkan yang telah berbuat salah (seperti nabi tua) untuk menyampaikan firman-Nya.
b. Peringatan keras: Pesan yang disampaikan melalui nabi tua itu menekankan konsekuensi ketidaktaatan nabi muda kepada perintah Tuhan, yang sebelumnya telah diterimanya langsung.
Hal ini menunjukkan bahwa firman Tuhan dapat disampaikan melalui berbagai cara dan orang, tetapi tanggung jawab untuk menaati firman itu tetap berada pada individu yang menerimanya.
2) Kalau kita menganggap bahwa Firman Tuhan datang melalui nabi tua tersebut, maka perlu dipertanyakan:
a) Mengapa Tuhan menyampaikan hukuman dari abdi Allah dari Yehuda itu melalui nabi tua itu?
Matthew Henry mengatakan bahwa Tuhan memakai nabi tua itu untuk menyampaikan hukuman mati dari abdi Allah dari Yehuda itu, untuk mengejutkan nabi tua itu sendiri. Nabi tua itu seharusnya berpikir: kalau nabi ini, yang bersalah secara tak sengaja, karena ia kudustai, dihukum mati oleh Allah, hukuman yang bagaimana yang layak aku sendiri dapatkan, karena terang-terangan mendustai / menyesatkan dia?
b) Mungkinkah Tuhan bicara melalui seorang nabi palsu?. Jawabannya:
1. Nabi tua itu belum tentu adalah seorang nabi palsu. ChatGPT bahkan memastikan ia sebagai nabi asli / sejati, karena Tuhan bernubuat melalui dia.
2. Kalaupun nabi tua itu adalah seorang nabi palsu, maka ini bukan satu-satunya kasus dimana Tuhan berbicara / memberikan nubuat melalui seorang nabi palsu. Contoh lain:
a. Kasus Bileam (Bil 22-25).
b. Kasus Kayafas (Yoh 11:49-52).
Yoh 11:49-52 - “(49) Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: ‘Kamu tidak tahu apa-apa, (50) dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.’ (51) Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, (52) dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.”.
3) “(21b) ‘Beginilah firman TUHAN: Karena engkau telah memberontak terhadap titah TUHAN dan tidak berpegang pada segala perintah yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, (22) tetapi kembali dan makan roti dan minum air di tempat ini walaupun Ia telah berfirman kepadamu: Jangan makan roti atau minum air, - maka mayatmu tidak akan masuk ke dalam kubur nenek moyangmu.’”.
a) Ini jelas menunjukkan kemarahan Allah terhadap abdi Allah dari Yehuda itu.
Matthew Henry: “nothing is more provoking to him than disobedience to an express command, though in a small matter” [= tidak ada yang lebih membuat Dia marah dari pada ketidak-taatan terhadap suatu perintah yang jelas, sekalipun dalam suatu hal yang kecil].
Matthew Henry: “God is displeased at the sins of his own people, and no man shall be protected in disobedience by the sanctity of his profession, the dignity of his office, his nearness to God, or any good services he has done for him” [= Allah tidak senang pada dosa-dosa dari umatNya sendiri, dan tidak ada orang akan dilindungi dalam ketidak-taatan oleh kesucian / kekudusan dari pekerjaannya, kewibawaan dari jabatan / tugasnya, kedekatannya dengan Allah, atau pelayanan baik apapun yang telah ia lakukan untukNya].
Karena itu, kalau saudara mempunyai jabatan rohani yang tinggi, dan telah melakukan banyak hal-hal yang baik bagi Tuhan, dan mempunyai hubungan yang dekat dengan Tuhan, jangan lalu sengaja berbuat dosa dengan pemikiran bahwa hal-hal itu akan melindungi saudara di dalam dosa.
Menurut saya, kalau seseorang berdosa, padahal ia mempunyai jabatan rohani tinggi, pengetahuan yang banyak tentang Tuhan, kedekatan dengan Tuhan, dsb, maka hal-hal tersebut bukan hanya tidak akan melindunginya, tetapi bahkan menjadi sesuatu yang memberatkannya.
Luk 12:47-48 - “(47) Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. (48) Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.’”.
b) ‘mayatmu tidak akan masuk ke dalam kubur nenek moyangmu’.
Ini maksudnya adalah bahwa ia akan mati secara tidak wajar / dengan kekerasan sedemikian rupa sehingga tidak dikubur dalam kuburan nenek moyangnya.
Adam Clarke: “This intimated to him that he was to die an untimely death, but probably did not specify by what means” [= Ini menunjukkan kepadanya bahwa ia akan mati sebelum waktunya, tetapi mungkin tidak menyebutkan secara terperinci dengan cara apa (ia akan mati)].
Saya tak setuju dengan kata-kata Clarke yang berbau Arminian ini, yang menunjukkan bahwa seolah-olah kematian bisa terjadi sebelum waktu yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Tak ada kematian sebelum waktunya!
Mat 6:27 - “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”.
Maz 39:5-6 - “(5) ‘Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! (6) Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagiMu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela”.
Barnes’ Notes: “On the anxiety of the Hebrews to be buried with their fathers, see Gen. 47:30; 49:29; 50:25; 2 Sam. 19:37, etc” [= Tentang keinginan dari orang-orang Ibrani untuk dikuburkan bersama nenek moyang mereka, lihat Kej 47:30; 49:29; 50:25; 2Sam 19:37, dsb].
c) Mengapa abdi Allah dari Yehuda itu dihukum mati untuk kesalahan yang kelihatannya relatif kecil? Bukankah ia jatuh bukan dengan kesengajaan, tetapi karena kebodohan / didustai oleh nabi tua itu?
Untuk ini perhatikan beberapa hal di bawah ini:
1. Perhatikan istilah ‘memberontak’ yang digunakan dalam ay 21b.
KJV/RSV/NASB: ‘disobeyed’ [= tidak mentaati].
NIV: ‘defied’ [= menentang].
Keil & Delitzsch: ‘thou hast been rebellious against the command of the Lord’ [= engkau telah memberontak terhadap perintah Tuhan].
2. Ini merupakan peringatan bagi semua orang untuk tidak menyimpang dari perintah Allah, bahkan dengan penyimpangan yang kecil sekalipun.
Pulpit Commentary: “a solemn warning for all time against any, the slightest, departure from the commandments of God” [= suatu peringatan yang serius untuk semua jaman terhadap penyimpangan apapun, bahkan yang paling kecil, dari perintah Allah] - hal 294.
3. Matthew Henry menganggap kita tidak bisa membenarkan abdi Allah dari Yehuda ini hanya karena ia didustai. Kesalahan abdi Allah dari Yehuda ini besar, karena:
a. Ia seharusnya lebih yakin pada perintah Allah yang langsung ia terima, dari pada pada pembatalan perintah Allah yang diberikan oleh nabi tua itu.
b. Ia seharusnya juga bisa berpikir bahwa tidak mungkin Allah membatalkan perintahNya pada saat alasan untuk melakukan perintah itu masih tetap ada, yaitu supaya ia bisa menyaksikan kejijikan / kebencian Allah terhadap tempat penyembahan berhala tersebut.
c. Ia mempunyai alasan untuk mencurigai nabi tua itu, yang tidak berbicara apa-apa untuk menentang penyembahan berhala di sana, dan juga yang tidak dianggap cocok oleh Tuhan untuk menegur penyembahan berhala di sana.
d. Ia setidaknya harus meminta petunjuk dari Tuhan sendiri untuk mengetahui apakah Tuhan membatalkan perintahNya atau tidak.
e. Apakah ia berpikir bahwa makan di rumah nabi tua ini lebih aman dari pada makan di rumah lain di Betel, padahal Allah sudah melarang dia untuk makan di rumah manapun di Betel? Kalau demikian, ia menghaluskan perintah Allah, dan membuat dirinya sendiri lebih bijaksana dari pada Allah.
f. Apakah ia bisa memaafkan dirinya sendiri karena ia lapar? Tidak pernahkah ia membaca bahwa manusia hidup bukan dari roti saja? Bdk. Ul 8:3 Mat 4:4.
d) Apa yang aneh adalah: nabi tua itu, yang jelas-jelas mendustai abdi Allah dari Yehuda itu, tidak diapa-apakan; sedangkan abdi Allah dari Yehuda itu, yang bersalah hanya karena didustai, dihukum mati.
Dari peristiwa ini beberapa penafsir mengatakan bahwa hal ini merupakan bukti akan adanya penghakiman terakhir, dan baru pada saat itu semua akan betul-betul adil.
Wesley: “But is it not strange that the lying prophet escapes, while the man of God is so severely punished? Certainly there must be a judgment to come, when these things shall be called over again, and when those who sinned most and suffered least in this world, will receive according to their works” [= Tetapi tidakkah aneh bahwa nabi yang berdusta lolos, sementara abdi Allah itu dihukum dengan begitu berat? Pasti harus ada suatu penghakiman yang akan datang, pada waktu hal-hal ini akan dipanggil lagi, dan pada waktu mereka yang paling berdosa dan menderita paling sedikit dalam dunia ini, akan menerima menurut pekerjaan / perbuatan mereka.].
Matthew Henry: “here we may well wonder that the wicked prophet, who told the lie and did the mischief, went unpunished, while the holy man of God, that was drawn by him into sin, was suddenly and severely punished for it. What shall we make of this! The judgments of God are unfathomable. ‘The deceived and the deceiver are his,’ and ‘he giveth not account of any of his matters.’ Certainly there must be a judgment to come, when these things will be called over again, and when those that sinned most and suffered least, in this world, will receive according to their works” [= di sini kita boleh terheran-heran karena sang nabi yang jahat, yang berdusta dan melakukan kejahatan, pergi tanpa dihukum, sementara abdi yang kudus dari Allah, yang ditarik olehnya ke dalam dosa, secara tiba-tiba dan dengan hebat dihukum untuk itu. Apa yang akan kita perbuat dengan hal ini! Penghakiman Allah tidak dapat dimengerti. ‘Orang yang ditipu dan orang yang menipu adalah milikNya’, dan ‘Ia tidak bertanggung jawab kepada siapapun tentang persoalan-persoalanNya’. Pasti harus ada penghakiman yang akan datang, pada waktu hal-hal ini akan dipanggil kembali, dan pada waktu mereka yang paling berdosa dan menderita paling sedikit dalam dunia ini, akan menerima menurut pekerjaan / perbuatan mereka].
Ayub 12:16 - “Pada Dialah kuasa dan kemenangan, Dialah yang menguasai baik orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan”.
KJV: ‘With him is strength and wisdom: the deceived and the deceiver are his’ [= Bersama Dia ada kekuatan dan hikmat: orang yang ditipu dan orang yang menipu adalah milikNya].
Ayub 33:13 - “Mengapa engkau berbantah dengan Dia, bahwa Dia tidak menjawab segala perkataanmu?”.
KJV: ‘Why dost thou strive against him? for he giveth not account of any of his matters’ [= Mengapa engkau berjuang melawan Dia? karena Ia tidak memberi pertanggungan jawab kepada siapapun tentang persoalan-persoalanNya].
Kata-kata yang saya beri warna merah dalam kedua kutipan di atas, hanya bisa berlaku untuk orang yang tidak percaya. Bagi orang percaya, semua hukuman sudah ditanggung Kristus sehingga tidak mungkin akan ada penghukuman pada penghakiman akhir zaman!
=========================================================
Pertanyaan: Mengapa Tuhan tidak menghukum nabi tua itu karena membohongi nabi dari Yehuda itu?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaan ini menyentuh salah satu aspek paling misterius dan sering diperdebatkan dalam kisah 1Raja 13. Mengapa Tuhan menghukum nabi muda yang tertipu tetapi tampaknya tidak menghukum nabi tua yang membohonginya? Berikut adalah beberapa perspektif teologis yang bisa membantu menjelaskan hal ini:
1. Fokus pada Tanggung Jawab Pribadi
Tuhan memberi perintah langsung kepada nabi muda: ia dilarang makan, minum, atau kembali melalui jalan yang sama. Perintah ini bersifat jelas dan spesifik, sehingga tanggung jawab utama nabi muda adalah menaati Tuhan, terlepas dari godaan atau kebohongan manusia lain.
Dalam narasi ini, Tuhan menekankan pentingnya ketaatan langsung kepada perintah-Nya. Nabi muda tidak dihukum karena kebohongan nabi tua, tetapi karena ia melanggar perintah Tuhan meskipun ia tahu apa yang benar. Tuhan menguji ketaatan nabi muda, bukan nabi tua.
2. Hukuman Tidak Selalu Langsung
Fakta bahwa tidak ada catatan eksplisit tentang hukuman nabi tua dalam teks tidak berarti Tuhan mengabaikan dosanya. Dalam Alkitab, Tuhan kadang menghukum secara langsung dan terlihat (seperti nabi muda), tetapi ada juga kasus di mana hukuman datang kemudian atau dalam bentuk yang tidak terlihat manusia. Misalnya:
a. Tuhan bisa saja membiarkan nabi tua hidup dengan rasa bersalah yang mendalam sebagai bentuk hukuman emosional atau spiritual.
b. Tidak semua hukuman dicatat dalam teks, terutama jika itu adalah hukuman batiniah.
3. Pelajaran tentang Otoritas Ilahi
Kisah ini menekankan bahwa tanggung jawab utama seorang hamba Tuhan adalah kepada Tuhan, bukan kepada manusia lain, bahkan jika mereka mengaku sebagai nabi. Dengan menghukum nabi muda, Tuhan menegaskan bahwa ketaatan kepada perintah-Nya tidak bisa dikompromikan, bahkan oleh klaim seseorang yang tampaknya memiliki otoritas rohani.
4. Tuhan Sebagai Hakim yang Sempurna
Kita sering kali ingin melihat keadilan dalam bentuk langsung: ‘Dia salah, maka dia harus dihukum.’ Namun, Tuhan adalah hakim yang sempurna dan memiliki kebijaksanaan melampaui pemahaman manusia. Mungkin dalam konteks ini:
a. Tuhan menghukum nabi muda karena ia memiliki tanggung jawab langsung untuk menaati perintah-Nya.
b. Nabi tua, meskipun bersalah karena berbohong, mungkin sudah dihukum dalam cara yang tidak tercatat dalam teks atau masih akan dihukum pada waktu yang ditentukan Tuhan.
Yesaya 55:8-9 menyatakan bahwa jalan Tuhan lebih tinggi daripada jalan manusia, sehingga kita mungkin tidak sepenuhnya memahami mengapa Tuhan bertindak seperti ini dalam cerita ini.
5. Penggambaran Kelemahan Manusia
Kisah ini juga mencerminkan kelemahan manusia, bahkan nabi, sebagai alat Tuhan. Nabi tua tidak dihukum langsung mungkin karena perannya adalah sebagai instrumen dalam ujian bagi nabi muda. Ini bukan berarti ia tidak bersalah, tetapi perannya dalam narasi lebih sebagai penguji daripada yang diuji.
6. Pesan bagi Pembaca
Cerita ini lebih banyak berbicara kepada pembaca tentang pentingnya ketaatan kepada Tuhan daripada tentang pembalasan atau hukuman bagi nabi tua. Pesan utama bagi pembaca adalah untuk tidak tergoda atau disesatkan oleh suara manusia jika itu bertentangan dengan Firman Tuhan.
7. Peluang untuk Bertobat
Dalam banyak kasus dalam Alkitab, Tuhan memberikan waktu bagi seseorang untuk bertobat. Nabi tua mungkin tidak dihukum langsung untuk memberinya kesempatan merenungkan kesalahannya dan mencari pengampunan Tuhan. Bahkan dalam kisah ini, rasa penyesalan nabi tua terlihat ketika ia menghormati nabi muda setelah kematiannya.
Kesimpulan
Tuhan tidak menghukum nabi tua secara langsung (dalam teks) mungkin karena:
1. Fokus narasi adalah ujian terhadap ketaatan nabi muda.
2. Tuhan memiliki cara dan waktu sendiri untuk menangani dosa manusia.
3. Hukuman atau konsekuensi bagi nabi tua mungkin berbentuk non-fisik, seperti rasa bersalah atau kehilangan kehormatan rohani.
Kisah ini pada akhirnya mengajarkan bahwa ketaatan kepada Tuhan adalah hal yang utama, dan keadilan Tuhan tidak selalu sesuai dengan pemahaman manusia.
Jika Anda ingin mendalami lebih jauh tentang aspek ini, saya bisa membantu dengan penjelasan tambahan.
=========================================================
Karena itu, jangan heran dan jangan marah, lebih-lebih jangan menganggap Allah tidak adil, pada waktu saudara melihat orang yang sangat berdosa dibiarkan, sedangkan orang yang melakukan kesalahan yang relatif kecil, dihukum dengan berat. Di dunia ini memang ada banyak ketidak-adilan, tetapi akan ada suatu penghakiman akhir zaman, dimana Allah akan menghakimi segala sesuatu, dan baru pada saat itu keadilan betul-betul terjadi secara sempurna! Bagi orang percaya yang berdosa sekalipun tidak mungkin ada penghukuman pada akhir zaman, tetapi tetap bisa ada hajaran dari Allah yang tidak terlihat mata manusia, seperti kehilangan sukacita, dan damai, dan juga adanya segala bentuk penderitaan.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin