kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 12 Januari 2025, pk 09.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

 

I Raja-Raja 13:1-34(3)

 

nabi murtad

 

1Raja 13:1-34 - “(1) Sedang Yerobeam berdiri di atas mezbah itu sambil membakar korban, maka atas perintah TUHAN datanglah seorang abdi Allah dari Yehuda ke Betel. (2) Lalu atas perintah TUHAN berserulah orang itu terhadap mezbah itu, katanya: ‘Hai mezbah, hai mezbah! Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya seorang anak akan lahir pada keluarga Daud, Yosia namanya; ia akan menyembelih di atasmu imam-imam bukit pengorbanan yang membakar korban di atasmu, juga tulang-tulang manusia akan dibakar di atasmu.’ (3) Pada waktu itu juga ia memberitahukan suatu tanda ajaib, katanya: ‘Inilah tanda ajaib, bahwa TUHAN telah berfirman: Bahwasanya mezbah itu akan pecah, sehingga tercurah abu yang di atasnya.’ (4) Demi raja Yerobeam mendengar perkataan abdi Allah yang diserukannya terhadap mezbah di Betel itu, ia mengulurkan tangannya dari atas mezbah dan berkata: ‘Tangkaplah dia!’ Tetapi tangan yang diulurkannya terhadap orang itu menjadi kejang, sehingga tidak dapat ditariknya kembali. (5) Mezbah itupun pecahlah, sehingga abu yang di atasnya tercurah, sesuai dengan tanda ajaib yang diberitahukan abdi Allah itu atas perintah TUHAN. (6) Lalu berbicaralah raja dan berkata kepada abdi Allah itu: ‘Mohonkanlah belas kasihan TUHAN, Allahmu, dan berdoalah untukku, supaya tanganku dapat kembali.’ Dan abdi Allah itu memohonkan belas kasihan TUHAN, maka tangan raja itu dapat kembali dan menjadi seperti semula. (7) Kemudian berbicaralah raja kepada abdi Allah itu: ‘Marilah bersama-sama dengan aku ke rumah, segarkan badanmu, sesudah itu aku hendak memberikan suatu hadiah kepadamu.’ (8) Tetapi abdi Allah itu berkata kepada raja: ‘Sekalipun setengah dari istanamu kauberikan kepadaku, aku tidak mau singgah kepadamu; juga aku tidak mau makan roti atau minum air di tempat ini. (9) Sebab beginilah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air dan jangan kembali melalui jalan yang telah kautempuh itu.’ (10) Lalu pergilah ia melalui jalan lain dan tidak kembali melalui jalan yang telah diambilnya untuk datang ke Betel. (11) Di Betel diam seorang nabi tua. Anak-anaknya datang menceritakan kepadanya segala perbuatan yang dilakukan abdi Allah pada hari itu di Betel. Mereka menceriterakan juga kepada ayah mereka perkataan yang dikatakannya kepada raja. (12) Kemudian ayah mereka bertanya: ‘Dari jalan manakah ia pergi?’ Lalu anak-anaknya menunjukkan kepadanya jalan yang diambil abdi Allah yang datang dari Yehuda itu. (13) Ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Pelanai keledai bagiku!’ Mereka memelanai keledai baginya, lalu ia menunggangnya (14) dan pergi mengikuti abdi Allah itu dan mendapatinya duduk di bawah sebuah pohon besar. Ia bertanya kepadanya: ‘Engkaukah abdi Allah yang telah datang dari Yehuda?’ Jawabnya: ‘Ya, akulah itu.’ (15) Katanya kepadanya: ‘Marilah bersama-sama aku ke rumah untuk makan roti.’ (16) Tetapi jawabnya: ‘Aku tidak dapat kembali bersama-sama engkau dan singgah kepadamu; aku tidak dapat makan roti atau minum air bersama-sama engkau di tempat ini, (17) sebab telah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air di sana. Jangan berjalan pulang melalui jalan yang telah kauambil itu.’ (18) Lalu jawabnya kepadanya: ‘Akupun seorang nabi juga seperti engkau, dan atas perintah TUHAN seorang malaikat telah berkata kepadaku: Bawa dia pulang bersama-sama engkau ke rumahmu, supaya ia makan roti dan minum air.’ Tetapi ia berbohong kepadanya. (19) Kemudian orang itu kembali bersama-sama dia, lalu makan roti dan minum air di rumahnya. (20) Sedang mereka duduk menghadapi meja, datanglah firman TUHAN kepada nabi yang telah membawa dia pulang. (21) Ia berseru kepada abdi Allah yang telah datang dari Yehuda: ‘Beginilah firman TUHAN: Karena engkau telah memberontak terhadap titah TUHAN dan tidak berpegang pada segala perintah yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, (22) tetapi kembali dan makan roti dan minum air di tempat ini walaupun Ia telah berfirman kepadamu: Jangan makan roti atau minum air, - maka mayatmu tidak akan masuk ke dalam kubur nenek moyangmu.’ (23) Setelah orang itu makan roti dan minum air, dipelanailah keledai baginya. (24) Orang itu pergi, tetapi di tengah jalan ia diserang seekor singa dan mati diterkam. Mayatnya tercampak di jalan dan keledai itu berdiri di sampingnya; singa itupun berdiri di samping mayat itu. (25) Orang-orang yang lewat melihat mayat itu tercampak di jalan dan singa berdiri di sampingnya. Dan mereka menceriterakannya di kota tempat kediaman nabi tua itu. (26) Ketika hal itu kedengaran kepada nabi yang telah membujuk dia berbalik kembali, ia berkata: ‘Dialah abdi Allah yang telah memberontak terhadap titah TUHAN. TUHAN menyerahkan dia kepada singa, yang mencabik dan membunuhnya sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkanNya kepadanya.’ (27) Lalu berbicaralah ia kepada anak-anaknya: ‘Pelanailah keledai bagiku.’ Dan mereka memelanainya. (28) Kemudian ia pergi dan menemukan mayat orang itu tercampak di jalan, sedang keledai dan singa berdiri di sampingnya. Singa itu tidak memakan mayat itu dan tidak mencabik keledai itu. (29) Nabi tua itu mengangkat mayat abdi Allah itu, menaruhnya ke atas keledai dan membawanya kembali ke kotanya sendiri untuk diratapi dan dikuburkan. (30) Mayat orang itu dikuburkannya di dalam kuburnya sendiri, maka diratapilah dia: ‘Wahai, saudaraku!’ (31) Setelah ia menguburkannya, ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Kalau aku mati, kuburkanlah aku dalam kubur ini bersama dengan abdi Allah itu, dan taruhlah tulang-tulangku di sisi tulang-tulangnya. (32) Sebab perkataan yang atas perintah TUHAN telah diserukannya terhadap mezbah yang di Betel itu dan terhadap segala kuil di bukit-bukit pengorbanan yang di kota-kota Samaria akan betul-betul terjadi.’ (33) Sesudah peristiwa inipun Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu, tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat untuk bukit-bukit pengorbanan. Siapa yang mau saja, ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengorbanan. (34) Dan tindakan itu menjadi dosa bagi keluarga Yerobeam, sehingga mereka dilenyapkan dan dipunahkan dari muka bumi..

 

Ay 11: “Di Betel diam seorang nabi tua. Anak-anaknya datang menceritakan kepadanya segala perbuatan yang dilakukan abdi Allah pada hari itu di Betel. Mereka menceriterakan juga kepada ayah mereka perkataan yang dikatakannya kepada raja.”.

 

Ada macam-macam pandangan tentang nabi tua ini:

 

1) Pulpit Commentary (hal 309) menganggap nabi tua ini sebagai nabi palsu, yang tahu kehendak Tuhan, tetapi tidak mentaatinya. Ia seharusnya menegur Yerobeam karena penyembahan berhala yang dilakukannya, tetapi ternyata ia diam saja. Matthew Henry mempunyai pandangan yang sama.

 

Matthew Henry: “I cannot but call him a false prophet and a bad man, ... If he had been a good prophet he would have reproved Jeroboam’s idolatry” [= Aku tidak bisa lain selain menyebutnya seorang nabi palsu dan seorang yang jahat, ... Seandainya ia adalah nabi yang baik, ia akan sudah menegur penyembahan berhala Yerobeam].

 

Matthew Henry menambahkan alasan sebagai berikut: “When this old prophet is spoken of (2 Kin. 23:18) he is called the prophet that came out of Samaria, whereas there was no such place as Samaria till long after, 1Kin 16:24. Therefore I take it he is so called there, though he was of Beth-el, because he was like those who were afterwards the prophets of Samaria, who caused God’s people Israel to err, Jer. 23:13” [= Pada waktu nabi tua ini dibicarakan (2Raja 23:18) ia disebut ‘nabi yang telah datang dari Samaria’, padahal tidak ada tempat yang disebut Samaria sampai lama setelahnya, 1Raja 16:24. Karena itu, saya menafsirkannya, ia disebut demikian di sana, sekalipun ia dari Betel, karena ia seperti mereka yang setelah itu menjadi nabi-nabi Samaria, yang menyebabkan umat Allah bersalah, Yer 23:13].

 

2Raja 23:17-18 - “(17) Ia berkata: ‘Apakah tanda keramat yang kulihat ini?’ Lalu orang-orang di kota itu menjawab dia: ‘Itulah kuburan abdi Allah yang sudah datang dari Yehuda dan yang telah menyerukan segala hal yang telah kaulakukan terhadap mezbah Betel ini!’ (18) Lalu katanya: ‘Biarkanlah itu, janganlah ada orang yang menjamah tulang-tulangnya!’ Jadi mereka tidak mengganggu tulang-tulangnya dan tulang-tulang nabi yang telah datang dari Samaria itu.”.

 

1Raja 16:24 - “Kemudian ia membeli gunung Samaria dari pada Semer dengan dua talenta perak. Ia mendirikan suatu kota di gunung itu dan menamainya Samaria, menurut nama Semer, pemilik gunung itu.”.

 

Yer 23:13 - “Di kalangan para nabi Samaria Aku melihat ada yang kurang pantas: mereka bernubuat demi Baal dan menyesatkan umatKu Israel.”.

 

Catatan: penafsiran ini belum tentu benar, karena Kitab Suci sering melakukan hal seperti itu, yaitu menggunakan suatu istilah dari zaman si penulis, bukan dari zaman pada saat peristiwa itu terjadi (bandingkan dengan ay 32 dimana kata ‘Samaria’ itu sudah digunakan). Misalnya:

 

a) Dalam Mat 10:4 Yudas Iskariot sudah disebut ‘yang mengkhianati Dia’, padahal Yudas Iskariot baru mengkhianati Yesus dalam Mat 26-27.

 

b) Dalam Kej 12:8 dan Kej 13:3 nama ‘Betel’ sudah dipakai, padahal penamaan ‘Betel’ sebetulnya baru terjadi dalam Kej 28:19.

 

Kej 12:8 - “Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.”.

 

Kej 13:3 - “Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai,”.

 

Kej 28:19 - “Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus.”.

 

2) Wesley mengatakan bahwa nabi tua ini tetap tinggal di Betel, yang merupakan salah satu pusat penyembahan berhala di Israel, tetapi ia tidak berkhotbah apa-apa menentang penyembahan berhala tersebut. Dan anak-anaknya hadir, bahkan bergabung dengan para penyembah berhala untuk melakukan penyembahan berhala tersebut.

 

Catatan: Kitab Suci hanya menceritakan bahwa nabi tua itu mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi, dan apa yang dikatakan oleh abdi Allah dari Yehuda itu dari anak-anaknya (ay 11). Tetapi Kitab Suci tidak mengatakan anak-anak itu ikut atau tidak dalam penyembahan berhala yang dilakukan oleh Yerobeam. Kitab Suci bahkan tidak mengatakan apakah anak-anak nabi tua itu hadir atau tidak hadir dalam upacara tersebut. Bisa saja mereka tidak hadir, dan mendapatkan informasi tersebut dari orang lain.

 

3) Seorang penafsir lain dari Pulpit Commentary mengatakan (hal 294) bahwa dalam 2Taw 11:13-16 dikatakan bahwa imam-imam dan orang-orang Lewi, dan juga semua orang-orang yang betul-betul mencari Allah, telah pindah ke Yehuda. Karena itu, jelas nabi tua ini bukan orang yang terlalu beres.

 

Bdk. 2Taw 11:13-16 - “(13) Para imam dan orang Lewi di seluruh Israel datang menggabungkan diri dengan dia (Rehabeam) dari daerah-daerah kediaman mereka. (14) Sebab orang Lewi meninggalkan tanah penggembalaan dan milik mereka, lalu pergi ke Yehuda dan Yerusalem, oleh karena Yerobeam dan anak-anaknya melarang mereka memegang jabatan imam TUHAN, (15) dan mengangkat bagi dirinya imam-imam untuk bukit-bukit pengorbanan untuk jin-jin dan untuk anak-anak lembu jantan yang dibuatnya. (16) Dari segenap suku Israel orang datang ke Yerusalem mengikuti orang-orang Lewi itu, yakni orang yang telah membulatkan hatinya untuk mencari TUHAN Allah Israel; dan mereka datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka.”.

 

Matthew Henry (tentang 2Taw 11:13-16): “No secular advantages whatsoever should draw us thither, or detain us there, where we are in danger of making shipwreck of faith and a good conscience. ... it was an evidence that they loved their work better than their maintenance, ... Poverty in the way of duty is to be chosen rather than plenty in the way of sin. Better live upon alms, or die in a prison, with a good conscience, than roll in wealth and pleasure with a prostituted one” [= Tidak ada keuntungan duniawi apapun yang boleh menarik kita ke sana, atau menahan kita di sana, dimana kita ada dalam bahaya membuat kandas iman dan hati nurani kita yang baik. Itu merupakan suatu bukti bahwa mereka mengasihi pekerjaan mereka lebih dari pemeliharaan / biaya hidup mereka, ... Kemiskinan dalam jalan kewajiban harus lebih dipilih dari kelimpahan dalam jalan dosa. Lebih baik hidup karena sedekah, atau mati dalam penjara, dengan hati nurani yang baik, dari pada berguling-guling dalam kekayaan dan kesenangan dengan hati nurani yang disalah-gunakan / dilacurkan].

 

4) Adam Clarke menganggap bahwa nabi ini betul-betul adalah nabi, tetapi sudah jatuh dari kesetiaannya kepada Tuhan, tetapi ia tidak kehilangan pengenalannya yang benar akan Tuhan, dan karena itu ia tidak bergabung dengan Yerobeam dalam upacara penyembahan berhalanya. Anak-anaknya memang ada dalam upacara tersebut, tetapi mungkin hanya sebagai pengamat, dan tidak ikut dalam penyembahan berhala tersebut.

 

Ay 12-19: “(12) Kemudian ayah mereka bertanya: ‘Dari jalan manakah ia pergi?’ Lalu anak-anaknya menunjukkan kepadanya jalan yang diambil abdi Allah yang datang dari Yehuda itu. (13) Ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Pelanai keledai bagiku!’ Mereka memelanai keledai baginya, lalu ia menunggangnya (14) dan pergi mengikuti abdi Allah itu dan mendapatinya duduk di bawah sebuah pohon besar. Ia bertanya kepadanya: ‘Engkaukah abdi Allah yang telah datang dari Yehuda?’ Jawabnya: ‘Ya, akulah itu.’ (15) Katanya kepadanya: ‘Marilah bersama-sama aku ke rumah untuk makan roti.’ (16) Tetapi jawabnya: ‘Aku tidak dapat kembali bersama-sama engkau dan singgah kepadamu; aku tidak dapat makan roti atau minum air bersama-sama engkau di tempat ini, (17) sebab telah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air di sana. Jangan berjalan pulang melalui jalan yang telah kauambil itu.’ (18) Lalu jawabnya kepadanya: ‘Akupun seorang nabi juga seperti engkau, dan atas perintah TUHAN seorang malaikat telah berkata kepadaku: Bawa dia pulang bersama-sama engkau ke rumahmu, supaya ia makan roti dan minum air.’ Tetapi ia berbohong kepadanya. (19) Kemudian orang itu kembali bersama-sama dia, lalu makan roti dan minum air di rumahnya.”.

 

1)      Kita tidak bisa tahu dengan pasti apa motivasi dari tindakan nabi tua itu.

 

a) Pulpit Commentary mengatakan (hal 309) bahwa teguran dari abdi Allah dari Yehuda itu juga dirasakan oleh nabi tua itu. Dan makan bersama abdi Allah dari Yehuda itu bisa memulihkannya dalam pandangannya sendiri, dan juga dalam pandangan dari masyarakat.

 

b) Matthew Henry mengatakan bahwa nabi tua itu melakukan hal itu karena sebagai nabi palsu, ia selalu memusuhi nabi asli. Ia ingin merusakkan abdi Allah dari Yehuda itu supaya ia bisa bermegah dalam kejatuhannya.

 

Matthew Henry: “I suppose it was done with a bad design, to draw him into a snare, and so to expose him; for false prophets have ever been the worst enemies to the true prophets, usually aiming to destroy them, but sometimes, as here, to debauch them and draw them from their duty. Thus they gave the Nazarites wine to drink (Amos 2:12), that they might glory in their fall” [= Saya menduga ini dilakukan dengan rencana yang buruk / jahat, untuk menariknya ke dalam jerat, dan dengan demikian membuka dia; karena nabi-nabi palsu selalu merupakan musuh-musuh terburuk dari nabi-nabi asli, biasanya bertujuan untuk membinasakan mereka, tetapi kadang-kadang, seperti di sini, membuat rusak mereka dan menarik mereka dari kewajiban mereka. Karena itu mereka memberi para nazir anggur untuk diminum (Amos 2:12), supaya mereka bisa bermegah dalam kejatuhan mereka].

 

Amos 2:12 - “‘Tetapi kamu memberi orang nazir minum anggur dan memerintahkan kepada para nabi: Jangan kamu bernubuat!”.

 

c)  Adam Clarke mengatakan bahwa motivasi dari nabi tua itu hanyalah sekedar karena ingin tahu, baik tentang nubuat dari abdi Allah dari Yehuda itu maupun semua hal-hal aneh yang terjadi pada upacara Yerobeam tersebut.

 

d) Word Biblical Commentary mengatakan bahwa nabi tua itu hanya berusaha menguji keotentikan dari nubuat abdi Allah dari Yehuda itu.

 

e) Tanya kepada ChatGPT: apa maksud nabi tua itu membohongi abdi Allah dari Yehuda itu?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Kisah mengenai nabi tua dan nabi dari Yehuda terdapat dalam 1 Raja-Raja 13. Inti dari cerita ini adalah tentang seorang nabi muda dari Yehuda yang diberi perintah langsung oleh Tuhan, namun akhirnya disesatkan oleh nabi tua melalui kebohongan.

Ringkasan Cerita

1.  Perintah Tuhan kepada nabi dari Yehuda: Nabi muda dari Yehuda diperintahkan oleh Tuhan untuk menubuatkan penghukuman terhadap mezbah di Betel dan untuk tidak makan, minum, atau kembali melalui jalan yang sama setelah melaksanakan tugasnya.

2.  Nabi tua di Betel: Seorang nabi tua mendengar tentang perbuatan nabi dari Yehuda dan berusaha menemuinya. Nabi tua ini membohongi nabi muda dengan mengatakan bahwa malaikat Tuhan telah menyuruhnya membawa nabi muda ke rumahnya untuk makan dan minum.

3.  Nabi muda disesatkan: Karena percaya pada nabi tua, nabi muda melanggar perintah Tuhan. Akibatnya, Tuhan menghukum nabi muda, dan dia dibunuh oleh seekor singa di perjalanan pulang.


Mengapa Nabi Tua Membohongi Nabi Muda?

Motivasi nabi tua tidak dijelaskan secara eksplisit dalam teks, tetapi ada beberapa kemungkinan interpretasi:

1.  Kecemburuan atau Ambisi: Nabi tua mungkin merasa cemburu terhadap nabi muda karena Tuhan memberikan pesan penting kepada nabi muda, bukan kepada dirinya. Sebagai nabi yang sudah tua, ia mungkin ingin menunjukkan otoritasnya atau merasa terancam oleh kehadiran nabi muda.

2.  Kesalahan Manusiawi: Nabi tua mungkin berpikir ia sedang melakukan hal yang benar, tetapi sebenarnya ia keliru. Ini bisa menjadi gambaran bagaimana manusia sering kali keliru menafsirkan kehendak Tuhan.

3.  Ujian Ketaatan: Ada yang menganggap bahwa peristiwa ini adalah ujian bagi nabi muda. Perintah Tuhan jelas, tetapi nabi muda gagal menaati karena tergoda oleh suara manusia yang berbohong.

4.  Gambaran Kejatuhan Rohani: Nabi tua mungkin sudah tidak lagi sepenuhnya setia kepada Tuhan. Ini mencerminkan bagaimana beberapa orang yang pernah dipakai Tuhan bisa kehilangan fokus atau berbuat dosa.


Pelajaran dari Kisah Ini

1.  Pentingnya Taat pada Firman Tuhan: Kisah ini menekankan bahwa ketaatan kepada perintah Tuhan lebih penting daripada mendengarkan manusia, bahkan jika orang itu adalah tokoh rohani.

2.  Berhati-hati terhadap Kebohongan Rohani: Tidak semua yang mengaku berbicara atas nama Tuhan benar-benar menyampaikan kehendak-Nya. Kita perlu bijaksana dan membandingkan perkataan mereka dengan Firman Tuhan.

3.  Kehati-hatian dalam Ujian Iman: Nabi muda diuji dalam imannya, tetapi ia gagal karena tidak memegang teguh perintah awal yang diterimanya dari Tuhan.

 

Apakah Anda ingin diskusi lebih dalam mengenai bagian ini atau aspek tertentu dari cerita ini?

 

=========================================================

 

Pertanyaan lagi: kalau nabi tua itu membohongi karena iri hati, mengapa pada waktu nabi dari Yehuda itu mati diterkam singa, ia kelihatannya mengasihinya?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pertanyaan Anda sangat menarik! Memang ada ketegangan emosional dalam kisah ini yang menunjukkan kompleksitas karakter nabi tua. Meskipun ia menipu nabi muda, reaksinya setelah nabi muda mati menunjukkan semacam penyesalan dan kasih. Untuk memahami ini, kita bisa melihat dari beberapa sudut pandang teologis dan psikologis:


1.       Penyesalan dan Kesadaran Dosa

Nabi tua mungkin merasa bersalah setelah menyadari konsekuensi dari tindakannya. Kebohongannya menyebabkan nabi muda melanggar perintah Tuhan dan menerima hukuman fatal. Ketika ia melihat nabi muda mati, ia mungkin diliputi rasa penyesalan yang mendalam, seperti yang terlihat dari caranya menghormati tubuh nabi muda dengan mengambilnya, menguburkannya dengan hormat, dan bahkan meminta agar tulang-tulangnya kelak dikubur bersama nabi muda (1Raja 13:31).

Ini menunjukkan bahwa ia akhirnya menyadari kesalahan besar yang telah ia perbuat dan mungkin menyesali tindakannya, meskipun sudah terlambat untuk memperbaiki hasilnya.


2.       Keinginan untuk Memiliki Koneksi dengan Allah

Sebagai seorang nabi tua yang mungkin sudah ‘tidak aktif’ dalam pelayanan, ia mungkin merindukan hubungan dengan Tuhan seperti yang dimiliki oleh nabi muda. Setelah melihat hukuman Tuhan terhadap nabi muda, ia bisa jadi merasa terhubung kembali dengan realitas kehendak Allah. Kesedihan dan kasih yang ia tunjukkan mungkin mencerminkan rasa hormat terhadap nabi muda sebagai hamba Tuhan yang telah dipilih untuk membawa pesan penting.


3.       Kasih Sejati yang Tertutup oleh Kelemahan

Meskipun nabi tua membohongi nabi muda, ini tidak serta-merta berarti ia tidak peduli atau membenci nabi muda. Manusia sering kali bertindak salah meskipun mereka memiliki kasih atau niat baik di hati mereka. Kebohongannya mungkin lahir dari kelemahan, ambisi, atau kebingungan, tetapi ini tidak menghilangkan rasa kasih yang ia rasakan setelah melihat akibat tragis tindakannya.


4.       Penghormatan terhadap Tugas Ilahi

Nabi tua mungkin menyadari bahwa nabi muda adalah seorang utusan Tuhan yang setia, meskipun ia gagal dalam ujian terakhir karena kebohongan nabi tua itu sendiri. Dengan menguburkan nabi muda secara terhormat, ia ingin menunjukkan penghormatan kepada panggilan ilahi nabi muda.


5.       Konflik Batin yang Kompleks

Kisah ini mencerminkan kompleksitas manusia. Nabi tua tidak digambarkan sebagai ‘jahat’ dalam pengertian mutlak, tetapi sebagai pribadi dengan kelemahan dan konflik batin. Ia mungkin iri pada awalnya, tetapi setelah melihat dampak tindakannya, ia menunjukkan sisi manusiawinya yang penuh kasih dan penyesalan.


Pelajaran dari Perilaku Nabi Tua:

1.  Kesadaran akan Konsekuensi Dosa: Nabi tua menyadari betapa seriusnya dampak dari tindakannya. Hal ini mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam perkataan dan tindakan, terutama yang memengaruhi orang lain.

2.  Kasih setelah Kegagalan: Meskipun ia salah, nabi tua menunjukkan bahwa kasih dan penghormatan masih bisa muncul bahkan setelah dosa dilakukan. Ini mengajarkan pentingnya penyesalan dan langkah kecil untuk memperbaiki kesalahan.

3.  Kerapuhan Manusia dalam Melayani Tuhan: Tidak ada yang sempurna, bahkan mereka yang disebut nabi. Ini mengingatkan kita untuk tidak hanya mengandalkan manusia, tetapi tetap fokus kepada Tuhan.


Kisah ini memang penuh lapisan makna! Apakah ada aspek lain dari cerita ini yang Anda ingin eksplorasi lebih lanjut?

 

2) “atas perintah TUHAN seorang malaikat telah berkata kepadaku: Bawa dia pulang bersama-sama engkau ke rumahmu, supaya ia makan roti dan minum air.’ Tetapi ia berbohong kepadanya.”.

 

a) “Tetapi ia berbohong kepadanya.”.

 

Pulpit Commentary: “The old prophet stoops to lies. And yet he was a true prophet. A preacher of righteousness, yet he practised deceit. ... it is a common thing to find insight without holiness, light without love. Prophetic gifts do not imply piety” [= Nabi tua itu membungkuk / merendahkan dirinya pada dusta. Tetapi ia adalah seorang nabi yang benar / sungguh-sungguh. Seorang pengkhotbah tentang kebenaran, tetapi ia mempraktekkan penipuan. ... merupakan sesuatu yang umum untuk mendapati pengertian / pengetahuan tanpa kekudusan, terang tanpa kasih. Karunia nubuat tidak menunjukkan adanya kesalehan] - hal 303.

 

Barnes’ Notes: “‘But he lied unto him.’ It is always to be remembered that the prophetic gift might co-exist with various degrees of moral imperfection in the person possessing it. Note especially the case of Balaam” [= ‘Tetapi ia berbohong kepadanya’. Harus selalu diingat bahwa karunia nubuat bisa ada bersama-sama dengan bermacam-macam tingkat dari ketidak-sempurnaan moral dalam diri orang yang memilikinya. Perhatikan khususnya dalam kasus Bileam].

 

b) “atas perintah TUHAN seorang malaikat telah berkata kepadaku”.

Kebanyakan penafsir menganggap ini sebagai dusta, tetapi ada 2 pandangan yang agak berbeda tentang hal ini:

 

1.  Adam Clarke membuka kemungkinan bahwa nabi tua itu sebetulnya tidak berdusta, tetapi ia didustai oleh setan, yang menyamar sebagai malaikat yang memberikan Firman Tuhan kepadanya.

 

Adam Clarke: “it is possible that he was not conscious of his lie, for Satan, as an angel of light, might have deceived him in order to lead him to deceive the other. ... I think it very likely that an angel did appear to him on the occasion; an angel of darkness and idolatry, in the garb of an angel of light” [= adalah mungkin bahwa ia tidak sadar akan dustanya, karena Setan / Iblis, sebagai seorang malaikat terang, bisa telah menipu dia untuk membimbingnya untuk menipu orang lain. ... Saya kira adalah sangat mungkin bahwa seorang malaikat memang menampakkan diri kepadanya pada peristiwa itu; seorang malaikat kegelapan dan penyembahan berhala, dalam pakaian dari malaikat terang].

 

Komentar saya: Bagaimana mungkin Clarke berkata demikian? Penafsiran ini menentang Kitab Suci yang jelas mengatakan bahwa nabi tua itu berbohong (ay 18b). Kalau iblis menyamar sebagai malaikat, dan mendustai nabi tua itu, pada hakekatnya nabi tua itu tidak berbohong.

 

2.  Jamieson, Fausset & Brown mengatakan bahwa nabi tua itu menggunakan istilah ‘malaikat’ dalam arti ‘utusan’, karena kata Ibrani MALAKH bisa berarti ‘angel’ (= malaikat), dan bisa juga berarti ‘messenger’ (= utusan). Dan yang dimaksud dengan ‘utusan’ adalah anak-anaknya sendiri, yang oleh Jamieson, Fausset & Brown dianggap sebagai penyembah-penyembah, bahkan mungkin imam-imam, di Betel.

 

Komentar saya: penafsiran ini memang masih memungkinkan, tetapi ini tidak membersihkan nabi tua itu dari dustanya. Kalau nabi tua itu memaksudkan kata MALAKH itu sebagai ‘utusan’, dan ‘utusan’ itu adalah anak-anaknya, maka perlu dipertanyakan kepadanya: ‘Siapa yang mengutus anak-anaknya kepadanya?’. Tidak ada! Kalau tidak ada, bagaimana mungkin mereka ia sebut sebagai utusan? Jadi, dengan berkata demikian, tetap saja ia berdusta.

 

3) “Kemudian orang itu kembali bersama-sama dia, lalu makan roti dan minum air di rumahnya” (ay 19).

 

Nabi tua itu berhasil menipu abdi Allah dari Yehuda itu, dan abdi Allah dari Yehuda itu mau pergi ke rumah nabi tua itu untuk makan dan minum bersama dia. Apa kesalahan dari abdi Allah dari Yehuda itu?

 

a) Pulpit Commentary mengatakan bahwa hal ini terjadi karena ia berlambat-lambat meninggalkan Israel. Seandainya ia tidak berlambat-lambat di tempat pencobaan, maka tidak akan ada godaan, yang akhirnya menjatuhkannya ini.

 

Pulpit Commentary: “Lingering near scenes of temptation may imperil us fatally. Had the prophet not rested he might not have been overtaken, but would have crossed the border line of the two kingdoms. As the moth flutters round the candle, so do some hover about sin. They read of vices which they think they would never commit, and chose associates unlike what they meant to be, and yet dare to pray, ‘Lead us not into temptation.’ He who ‘standeth in the way of sinners,’ as one half inclined to join them, may at last ‘sit in the seat of the scorners,’ as one who has united with them. ‘Avoid it, pass not by it,’ &c. (Prov. 3:15).” [= Berlambat-lambat di dekat tempat pencobaan bisa membahayakan kita secara fatal. Seandainya sang nabi tidak beristirahat, ia tidak akan tersusul, tetapi telah menyeberang perbatasan kedua kerajaan. Seperti ngengat terbang di sekitar lilin, demikianlah beberapa orang melayang-layang / menunggu di dekat dosa. Mereka membaca kejahatan-kejahatan yang mereka kira tidak akan pernah mereka lakukan, dan memilih teman / sekutu tidak seperti pandangan mereka, tetapi berani berdoa: ‘Jangan membawa kami ke dalam pencobaan’. Ia yang ‘berdiri di jalan orang berdosa’, seperti orang yang setengah condong untuk bergabung dengan mereka, bisa pada akhirnya ‘duduk dalam kumpulan pencemooh’, seperti seseorang yang telah bersatu dengan mereka. ‘Hindarilah itu, jangan melaluinya’, dsb. (Amsal 3:15)] - hal 310.

 

Catatan: Amsal 3:15 itu pasti salah cetak, seharusnya adalah Amsal 4:15.

 

Amsal 4:14-15 - “(14) Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. (15) Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus.”.

 

Maz 1:1 - “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,”.

 

Komentar saya: memang mungkin untuk menafsirkan seperti ini, dan kalau itu memang kasusnya, maka mungkin komentar Pulpit Commentary di atas bisa diterima. Tetapi jelas bahwa kita tidak bisa tahu apakah abdi Allah dari Yehuda itu memang berlambat-lambat. Manusia bukan mesin, dan kita tidak tahu berapa beratnya perjalanan yang harus ia tempuh tanpa makanan dan minuman itu. Bisa saja ia memang harus / terpaksa beristirahat.

 

b) Pulpit Commentary juga mengatakan bahwa pencobaan ini berhasil mengalahkan abdi Allah dari Yehuda itu, karena ia merasa puas setelah bisa mengalahkan pencobaan yang diberikan oleh Yerobeam. Dengan kata lain, kemenangan membuatnya jadi sombong, sehingga pada waktu pencobaan lain datang, ia jatuh.

 

Pulpit Commentary: “How came this temptation to succeed? Not improbably there was some self-complacency in one who had just resisted the king successfully, and a sense of false security which is indicated by his resting under the terebinth instead of pressing on homewards. Observe here - 1. The conquest of one evil may only bring on the assault of another; ... A gross sin fails to conquer us, but a subtle sin may lead us to bitter bondage. We can never say to our soul, ‘Take thine ease;’ but always, and everywhere, must listen to the command, ‘Watch, and pray, lest ye enter into temptation.’” [= Bagaimana pencobaan ini bisa berhasil? Bukan tidak mungkin bahwa di sana ada rasa puas diri dalam diri orang yang baru menolak sang raja dengan sukses, dan suatu rasa aman yang palsu, yang ditunjukkan dengan beristirahat di bawah pohon besar dan bukannya memaksakan diri untuk pulang. Perhatikan di sini - 1. Penaklukan dari satu kejahatan bisa hanya akan membawa serangan dari kejahatan yang lain; ... Suatu dosa yang kasar / menyolok gagal mengalahkan kita, tetapi suatu dosa yang halus / tidak kentara bisa membimbing kita pada belenggu yang pahit. Kita tidak pernah dapat berkata kepada jiwa kita: ‘Beristirahatlah / Santailah’; tetapi selalu, dan dimana-mana, harus mendengarkan perintah: ‘Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan masuk / jatuh ke dalam pencobaan’] - hal 309-310.

 

Catatan: dua bagian yang saya garis bawahi itu diambil dari ayat-ayat ini:

1.  Luk 12:19 - “Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!”.

2.  Mat 26:41 - Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.’”.

 

Komentar saya: penafsiran ini memang memungkinkan, tetapi tentu saja tidak bisa dipastikan.

 

c)  Abdi Allah dari Yehuda itu menganggap bahwa makan roti di Betel dengan nabi tua itu agak berbeda dengan makan bersama sang raja yang adalah seorang penyembah berhala.

 

Pulpit Commentary: “To eat bread in Bethel with a prophet did not seem quite the same thing as eating with the idolatrous king; nor does fellowship with those who profess to know God, but yet remain in communion with the world, seem the same thing as fellowship with the world itself. ... A worldly Church ensnares where the world itself cannot” [= Makan roti di Betel dengan seorang nabi tidak kelihatan sebagai hal yang persis sama dengan makan dengan seorang raja yang menyembah berhala; juga persekutuan dengan mereka yang mengaku mengenal Allah, tetapi tetap bersekutu dengan dunia, kelihatannya tidak sama dengan persekutuan dengan dunia sendiri. ... Gereja yang duniawi bisa menjerat dimana dunia itu sendiri tidak bisa melakukannya] - hal 311.

 

Contoh: ada orang Kristen yang tidak mau mendapat jodoh orang yang tidak percaya. Dan mereka bisa menolak orang kafir yang mendekati mereka. Tetapi mereka akhirnya jatuh pada waktu didekati oleh orang kristen KTP.

 

Matthew Henry: “The good prophet’s weakness, in suffering himself to be thus imposed upon: He went back with him, v. 19. He that had resolution enough to refuse the invitation of the king, who promised him a reward, could not resist the insinuations of one that pretended to be a prophet. God’s people are more in danger of being drawn from their duty by the plausible pretences of divinity and sanctity than by external inducements; we have therefore need to beware of false prophets, and not believe every spirit” [= Kelemahan dari nabi yang baik ini, dalam membiarkan dirinya sendiri dipaksa: ‘Kemudian orang itu kembali bersama-sama dia’, ay 19. Ia yang mempunyai ketetapan hati yang cukup untuk menolak undangan sang raja, yang menjanjikannya suatu pahala, tidak bisa menahan desakan dari seseorang yang berpura-pura menjadi seorang nabi. Umat Allah ada dalam bahaya yang lebih besar untuk ditarik dari kewajiban mereka oleh kepura-puraan yang masuk akal dari agama / theologia dan kekudusan / kesucian, dari pada oleh bujukan lahiriah; karena itu kita perlu berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu, dan tidak mempercayai setiap roh].

 

Bdk. 1Yoh 4:1-3 - “(1) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. (2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.”.

 

Komentar saya: abdi Allah dari Yehuda itu tadinya tetap menolak undangan nabi tua itu, dan baru menerimanya setelah didustai. Jadi ia menerima undangan itu bukan karena ia menganggap bahwa makan dengan raja yang menyembah berhala itu berbeda dengan makan dengan nabi tua tersebut.

 

d) Abdi Allah dari Yehuda ini terlalu mudah mempercayai kata-kata manusia / nabi.

Bandingkan dengan:

 

1.  Gal 1:6-9 - “(6) Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, (7) yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. (8) Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. (9) Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.”.

 

2.  2Kor 11:14 - “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.”.

 

3.  Kis 17:11 - “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”.

 

Wycliffe Bible Commentary: “The prophet from Bethel pretended that he had received divine orders countermanding those previously given the younger prophet.  ... ‘So he went back with him.’ He disobeyed the divine command. A practical lesson to be learned is that the advice of other men, no matter if they are Christian friends, should not be substituted for the clear call of duty within our own hearts [= Nabi dari Betel itu berpura-pura bahwa ia telah menerima perintah-perintah ilahi yang membatalkan perintah ilahi sebelumnya yang telah diberikan kepada nabi yang lebih muda. ... ‘Demikianlah ia kembali bersama dia’. Ia tidak mentaati perintah ilahi. Suatu pelajaran praktis untuk dipelajari adalah bahwa nasehat dari orang-orang lain, tidak peduli jika mereka adalah teman-teman Kristen, tidak boleh menggantikan panggilan kewajiban yang jelas dalam hati kita sendiri].

 

Word Biblical Commentary: “Because he is unable to discern that the Bethelite prophet is only trying to test the authenticity of his inspiration, but trusts that prophet’s assurance that it is all right to disregard the divine instruction in this one instance, the man of God actually disobeys Yahweh” [= Karena ia tidak bisa melihat bahwa nabi Betel itu sedang hanya berusaha untuk menguji keotentikan dari pengilhamannya, tetapi mempercayai jaminan nabi itu bahwa ia boleh mengabaikan instruksi ilahi dalam hal ini, abdi Allah itu sungguh-sungguh tidak mentaati Yahweh].

 

e) Abdi Allah dari Yehuda ini menganggap Allah membatalkan firman yang mula-mula Ia berikan kepadanya, padahal ia tidak menerima pembatalan itu dari Tuhan sendiri.

 

Kitab Suci menceritakan kasus dimana Abraham diperintahkan oleh Tuhan untuk mempersembahkan Ishak (Kej 22:1-19). Abraham mula-mula mendapat Firman Tuhan untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran (Kej 22:2), tetapi pada waktu ia mau membunuh Ishak untuk dikorbankan, Tuhan memberikan Firman Tuhan yang membatalkan perintah pertama tadi, dan mengatakan bahwa itu hanya untuk menguji Abraham (Kej 22:10-12).

 

Kej 22:2,10-12 - “(2) FirmanNya: ‘Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.’ ... (10) Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. (11) Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: ‘Abraham, Abraham.’ Sahutnya: ‘Ya, Tuhan.’ (12) Lalu Ia berfirman: ‘Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu.’”.

 

Jadi, bukankah kelihatannya merupakan sesuatu yang memungkinkan bagi Tuhan untuk membatalkan perintah yang sudah Ia sendiri berikan? Kalau demikian, apakah tidak mungkin bahwa abdi Allah dari Yehuda itu mengira bahwa kasusnya adalah seperti kasus Abraham? Perhatikan kata-kata Adam Clake dan Pulpit Commentary di bawah ini.

 

Adam Clarke: “He should have had it from the word of the Lord to himself, in both cases, as Abraham had; and not taken an apparent contradiction of what was before delivered unto him, from the mouth of a stranger, who only professed to have it from an angel, who pretended to speak unto him by the word of the Lord. In this, and in this alone lay the sinfulness of the act of the man of God who came out of Judah” [= Ia seharusnya mendapatkan itu (pembatalan) dari firman Tuhan kepadanya sendiri, dalam kedua kasus, seperti Abraham mendapatkannya; dan tidak mengambil sesuatu yang kelihatannya bertentangan dengan apa yang sebelumnya diberikan kepadanya, dari mulut seorang asing, yang hanya mengaku mendapatkannya dari seorang malaikat, yang berpura-pura menyampaikan kepadanya firman Tuhan. Dalam hal ini, dan dalam hal ini saja, terletak keberdosaan dari tindakan dari abdi Allah dari Yehuda ini].

 

Pulpit Commentary: “God was as near to him as He could be to his tempter, and he might have inquired of Him. But in the weakness of the flesh he desired to have it so. There is only one preservative from spiritual shipwreck - a sincere desire to know what the Lord saith, and a determination to follow that only” [= Allah sama dekatnya dengan dia seperti si pencoba itu, dan ia bisa bertanya kepadaNya. Tetapi dalam kelemahan dari daging ia menginginkannya demikian. Hanya ada satu bahan pengawet dari kandasnya kapal rohani - suatu keinginan yang sungguh-sungguh untuk mengetahui apa yang Tuhan katakan, dan suatu keputusan untuk hanya mengikuti hal itu saja] - hal 311.

 

Dalam kasus Abraham, ia menerima perintah dari Tuhan, dan ia menerima pembatalan juga dari Tuhan sendiri. Jadi, sebetulnya abdi Allah dari Yehuda itu baru bisa menganggapnya sebagai pembatalan, kalau pembatalan itu ia terima dari Tuhan sendiri. Pada waktu ia menerimanya dari seorang asing, yang mengaku sebagai nabi yang mendapatkannya dari seorang malaikat, sebetulnya ia tidak boleh menerimanya. Atau, ia sebetulnya bisa menanyakan hal itu sendiri kepada Tuhan. Tetapi ternyata ia tidak menanyakannya, dan langsung percaya kepada nabi tua tersebut.

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin