(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 5 Januari 2025, pk 09.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
nabi murtad
1Raja 13:1-34 - “(1) Sedang Yerobeam berdiri di atas mezbah itu sambil membakar korban, maka atas perintah TUHAN datanglah seorang abdi Allah dari Yehuda ke Betel. (2) Lalu atas perintah TUHAN berserulah orang itu terhadap mezbah itu, katanya: ‘Hai mezbah, hai mezbah! Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya seorang anak akan lahir pada keluarga Daud, Yosia namanya; ia akan menyembelih di atasmu imam-imam bukit pengorbanan yang membakar korban di atasmu, juga tulang-tulang manusia akan dibakar di atasmu.’ (3) Pada waktu itu juga ia memberitahukan suatu tanda ajaib, katanya: ‘Inilah tanda ajaib, bahwa TUHAN telah berfirman: Bahwasanya mezbah itu akan pecah, sehingga tercurah abu yang di atasnya.’ (4) Demi raja Yerobeam mendengar perkataan abdi Allah yang diserukannya terhadap mezbah di Betel itu, ia mengulurkan tangannya dari atas mezbah dan berkata: ‘Tangkaplah dia!’ Tetapi tangan yang diulurkannya terhadap orang itu menjadi kejang, sehingga tidak dapat ditariknya kembali. (5) Mezbah itupun pecahlah, sehingga abu yang di atasnya tercurah, sesuai dengan tanda ajaib yang diberitahukan abdi Allah itu atas perintah TUHAN. (6) Lalu berbicaralah raja dan berkata kepada abdi Allah itu: ‘Mohonkanlah belas kasihan TUHAN, Allahmu, dan berdoalah untukku, supaya tanganku dapat kembali.’ Dan abdi Allah itu memohonkan belas kasihan TUHAN, maka tangan raja itu dapat kembali dan menjadi seperti semula. (7) Kemudian berbicaralah raja kepada abdi Allah itu: ‘Marilah bersama-sama dengan aku ke rumah, segarkan badanmu, sesudah itu aku hendak memberikan suatu hadiah kepadamu.’ (8) Tetapi abdi Allah itu berkata kepada raja: ‘Sekalipun setengah dari istanamu kauberikan kepadaku, aku tidak mau singgah kepadamu; juga aku tidak mau makan roti atau minum air di tempat ini. (9) Sebab beginilah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air dan jangan kembali melalui jalan yang telah kautempuh itu.’ (10) Lalu pergilah ia melalui jalan lain dan tidak kembali melalui jalan yang telah diambilnya untuk datang ke Betel. (11) Di Betel diam seorang nabi tua. Anak-anaknya datang menceritakan kepadanya segala perbuatan yang dilakukan abdi Allah pada hari itu di Betel. Mereka menceriterakan juga kepada ayah mereka perkataan yang dikatakannya kepada raja. (12) Kemudian ayah mereka bertanya: ‘Dari jalan manakah ia pergi?’ Lalu anak-anaknya menunjukkan kepadanya jalan yang diambil abdi Allah yang datang dari Yehuda itu. (13) Ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Pelanai keledai bagiku!’ Mereka memelanai keledai baginya, lalu ia menunggangnya (14) dan pergi mengikuti abdi Allah itu dan mendapatinya duduk di bawah sebuah pohon besar. Ia bertanya kepadanya: ‘Engkaukah abdi Allah yang telah datang dari Yehuda?’ Jawabnya: ‘Ya, akulah itu.’ (15) Katanya kepadanya: ‘Marilah bersama-sama aku ke rumah untuk makan roti.’ (16) Tetapi jawabnya: ‘Aku tidak dapat kembali bersama-sama engkau dan singgah kepadamu; aku tidak dapat makan roti atau minum air bersama-sama engkau di tempat ini, (17) sebab telah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air di sana. Jangan berjalan pulang melalui jalan yang telah kauambil itu.’ (18) Lalu jawabnya kepadanya: ‘Akupun seorang nabi juga seperti engkau, dan atas perintah TUHAN seorang malaikat telah berkata kepadaku: Bawa dia pulang bersama-sama engkau ke rumahmu, supaya ia makan roti dan minum air.’ Tetapi ia berbohong kepadanya. (19) Kemudian orang itu kembali bersama-sama dia, lalu makan roti dan minum air di rumahnya. (20) Sedang mereka duduk menghadapi meja, datanglah firman TUHAN kepada nabi yang telah membawa dia pulang. (21) Ia berseru kepada abdi Allah yang telah datang dari Yehuda: ‘Beginilah firman TUHAN: Karena engkau telah memberontak terhadap titah TUHAN dan tidak berpegang pada segala perintah yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, (22) tetapi kembali dan makan roti dan minum air di tempat ini walaupun Ia telah berfirman kepadamu: Jangan makan roti atau minum air, - maka mayatmu tidak akan masuk ke dalam kubur nenek moyangmu.’ (23) Setelah orang itu makan roti dan minum air, dipelanailah keledai baginya. (24) Orang itu pergi, tetapi di tengah jalan ia diserang seekor singa dan mati diterkam. Mayatnya tercampak di jalan dan keledai itu berdiri di sampingnya; singa itupun berdiri di samping mayat itu. (25) Orang-orang yang lewat melihat mayat itu tercampak di jalan dan singa berdiri di sampingnya. Dan mereka menceriterakannya di kota tempat kediaman nabi tua itu. (26) Ketika hal itu kedengaran kepada nabi yang telah membujuk dia berbalik kembali, ia berkata: ‘Dialah abdi Allah yang telah memberontak terhadap titah TUHAN. TUHAN menyerahkan dia kepada singa, yang mencabik dan membunuhnya sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkanNya kepadanya.’ (27) Lalu berbicaralah ia kepada anak-anaknya: ‘Pelanailah keledai bagiku.’ Dan mereka memelanainya. (28) Kemudian ia pergi dan menemukan mayat orang itu tercampak di jalan, sedang keledai dan singa berdiri di sampingnya. Singa itu tidak memakan mayat itu dan tidak mencabik keledai itu. (29) Nabi tua itu mengangkat mayat abdi Allah itu, menaruhnya ke atas keledai dan membawanya kembali ke kotanya sendiri untuk diratapi dan dikuburkan. (30) Mayat orang itu dikuburkannya di dalam kuburnya sendiri, maka diratapilah dia: ‘Wahai, saudaraku!’ (31) Setelah ia menguburkannya, ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Kalau aku mati, kuburkanlah aku dalam kubur ini bersama dengan abdi Allah itu, dan taruhlah tulang-tulangku di sisi tulang-tulangnya. (32) Sebab perkataan yang atas perintah TUHAN telah diserukannya terhadap mezbah yang di Betel itu dan terhadap segala kuil di bukit-bukit pengorbanan yang di kota-kota Samaria akan betul-betul terjadi.’ (33) Sesudah peristiwa inipun Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu, tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat untuk bukit-bukit pengorbanan. Siapa yang mau saja, ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengorbanan. (34) Dan tindakan itu menjadi dosa bagi keluarga Yerobeam, sehingga mereka dilenyapkan dan dipunahkan dari muka bumi.”.
Ay 4: “Demi raja Yerobeam mendengar perkataan abdi Allah yang diserukannya terhadap mezbah di Betel itu, ia mengulurkan tangannya dari atas mezbah dan berkata: ‘Tangkaplah dia!’ Tetapi tangan yang diulurkannya terhadap orang itu menjadi kejang, sehingga tidak dapat ditariknya kembali.”.
1) Allah melindungi nabiNya.
Kalau kita hanya membaca ay 4a, maka kita melihat hal ini sebagai bencana bagi nabi yang dengan setia dan berani melaksanakan tugas yang ia terima dari Allah. Tetapi pada waktu kita membaca ay 4b, kita melihat bahwa ternyata Allah bertindak untuk menyelamatkan / melindungi nabiNya.
Pulpit Commentary: “The path of duty is the path of safety” [= Jalan kewajiban adalah jalan yang aman] - hal 292.
Matthew Henry: “Jeroboam’s hand withered, which he stretched out to seize or smite the man of God, v. 4. Instead of trembling at the message, as he might well have done, he assaulted him that brought it, in defiance of the wrath of which he was warned and contempt of that grace which sent him the warning. Rebuke a sinner and he will hate thee, and do thee a mischief if he can; yet God’s prophets must rather expose themselves than betray their trust: he that employs them will protect them, and restrain the wrath of man, as he did Jeroboam’s here by withering his hand, so that he could neither hurt the prophet nor draw it in to help himself” [= Tangan Yerobeam, yang diulurkan untuk menangkap atau memukul abdi Allah itu, menjadi layu / lemah, ay 4. Ia bukannya menjadi gemetar karena pesan tersebut, seperti yang seharusnya ia lakukan, tetapi malah menyerang orang yang membawa pesan itu, dalam tantangan terhadap kemurkaan tentang mana ia diperingatkan dan dalam kejijikan / sikap memandang rendah terhadap kasih karunia yang mengirimkan peringatan kepadanya. ‘Tegurlah orang berdosa dan ia akan membencimu’, dan melakukan kejahatan kepadamu jika ia bisa melakukannya; tetapi nabi-nabi Allah harus membuka diri mereka sendiri dari pada mengkhianati kepercayaan mereka: Ia yang memakai mereka akan melindungi mereka, dan mengekang kemurkaan manusia, seperti yang Ia lakukan terhadap Yerobeam di sini dengan melemahkan tangannya, sehingga ia tidak bisa menyakiti nabi itu ataupun menariknya kembali untuk menolong dirinya sendiri].
Bdk. Amsal 9:8 - “Janganlah mengecam seorang pencemooh, supaya engkau jangan dibencinya, kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya,”.
2) Allah menghukum Yerobeam.
Bagian ini menunjukkan bahwa kalau seseorang marah kepada seorang hamba Tuhan karena Firman Tuhan yang disampaikannya, maka tindakan / sikap itu mengundang murka dan hukuman / hajaran Allah bagi orang itu. Mengapa? Karena Allah memandang tindakan negatif terhadap hambaNya itu sebagai tindakan yang dilakukan terhadap diriNya sendiri.
Pulpit Commentary: “that hand, really raised against the Most High, suddenly becomes rigid and powerless” [= tangan itu, yang sebenarnya diangkat terhadap Yang Maha Tinggi, tiba-tiba menjadi kaku dan tak bertenaga] - hal 286.
Penerapan: Kalau saudara berkata / bersikap / bertindak negatif terhadap seorang hamba Tuhan yang benar dan setia, ingatlah bahwa kata-kata / sikap / tindakan negatif saudara itu pada hakekatnya sedang saudara lakukan terhadap Tuhan sendiri!
Bandingkan dengan:
a) Luk 10:16 - “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.’”.
b) Kis 9:4-5 - “(4) Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: ‘Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?’ (5) Jawab Saulus: ‘Siapakah Engkau, Tuhan?’ KataNya: ‘Akulah Yesus yang kauaniaya itu.”.
Wesley: “in this example God might shew, how highly he resents the injuries done to his ministers, for the faithful discharge of their office” [= dalam contoh ini Allah bisa menunjukkan, betapa besarnya Ia membenci tindakan merugikan / membahayakan yang dilakukan kepada pelayan-pelayanNya, untuk pelaksanaan yang setia dari tugas-tugas mereka].
Matthew Henry: “When his hand was stretched out to burn incense to his calves it was not withered; but, when it is stretched out against a prophet, he shall have no use of it till he humble himself. Of all the wickedness of the wicked there is none more provoking to God than their malicious attempts against his prophets, of whom he has said, Touch them not, do them no harm. As this was a punishment of Jeroboam, and answering to the sin, so it was the deliverance of the prophet. God has many ways of disabling the enemies of his church from executing their mischievous purposes. Jeroboam’s inability to pull in his hand made him a spectacle to all about him, that they might see and fear” [= Pada waktu tangannya diulurkan untuk membakar kemenyan bagi anak-anak lembunya, tangan itu tidak menjadi lemah; tetapi pada waktu tangan itu diulurkan terhadap seorang nabi, ia tidak akan bisa menggunakannya sampai ia merendahkan dirinya sendiri. Dari semua kejahatan dari orang-orang jahat tidak ada yang lebih membuat Allah marah dari pada usaha-usaha jahat mereka terhadap nabi-nabiNya, tentang siapa Ia telah berkata: ‘Janganlah menyentuh mereka, janganlah menyakiti mereka’. Sebagaimana ini merupakan suatu hukuman bagi Yerobeam, dan sesuai dengan dosanya, demikian juga itu merupakan jalan untuk menyelamatkan sang nabi. Allah mempunyai banyak cara / jalan untuk membuat musuh-musuh gereja tidak mampu melaksanakan tujuan / rencana jahat mereka. Ketidak-mampuan Yerobeam untuk menarik kembali tangannya membuatnya menjadi tontonan bagi semua orang di sekitarnya, supaya mereka bisa melihat dan menjadi takut].
Bdk. Maz 105:15 - “‘Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabiKu!’”.
3) Allah tidak selalu bertindak seperti itu.
Ini tidak berarti bahwa setiap kali ada seorang penguasa yang bersikap sewenang-wenang terhadap seorang hamba Tuhan, Tuhan mesti langsung menghajar penguasa tersebut. Kadang-kadang, dan bahkan sering, Tuhan membiarkan penguasa itu bertindak sewenang-wenang dan bahkan membunuh hamba Tuhan itu. Misalnya pada waktu Herodes membunuh Yohanes Pembaptis (Mat 14:1-12) dan rasul Yakobus (Kis 12:1-2). Juga pada waktu Stefanus dirajam sampai mati (Kis 6-7).
Lalu, apakah pada saat-saat seperti itu Allah tidak melindungi nabi-nabi / hamba-hambaNya?
Pulpit Commentary: “The ministers of God are secure so long as they do their duty. Jeroboam, with the ten tribes at his back, was powerless against the unprotected missionary. ‘He reproved kings for their sakes, saying, ... Do my prophets no harm’ (Psa. 105:14,15). The stars shall fall from their courses before a hair of their heads shall be injured. Cf. Dan. 3:27; 6:22; 2Kings 1:10, &c. But it may be objected, ‘The saints and messengers of God have often been brutally outraged and murdered’ (Heb. 11:35-37). True, but who shall say that they were not then most secure? ‘Through much tribulation you must enter into the kingdom of God’ (Acts 14:22)” [= Pelayan-pelayan Allah aman selama mereka melakukan kewajiban mereka. Yerobeam, dengan 10 suku di belakangnya, tidak berdaya terhadap seorang misionaris yang tidak dilindungi. ‘Ia menegur / menghardik raja-raja demi mereka, dengan berkata, ... Jangan menyakiti nabi-nabiKu’ (Maz 105:14,15). Bintang-bintang akan jatuh lebih dulu dari jalur peredaran mereka dari pada selembar rambut dari kepala mereka akan dilukai / disakiti. Bdk. Dan 3:27; 6:22; 2Raja 1:10, dsb. Tetapi ada keberatan yang mungkin diajukan, ‘Orang-orang kudus dan pesuruh-pesuruh Allah telah sering disakiti secara brutal dan dibunuh’ (Ibr 11:35-37). Benar, tetapi siapa yang akan mengatakan bahwa mereka tidak paling aman pada saat itu? ‘Melalui banyak penderitaan engkau harus masuk ke dalam Kerajaan Allah’ (Kis 14:22)] - hal 288.
Maz 105:14-15 - “(14) Ia tidak membiarkan seorangpun memeras mereka, raja-raja dihukumNya oleh karena mereka: (15) ‘Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabiKu!’”.
Dan 3:27 - “Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.”.
Dan 6:22-24 - “(22) Lalu kata Daniel kepada raja: ‘Ya raja, kekallah hidupmu! (23) Allahku telah mengutus malaikatNya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapanNya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan.’ (24) Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya.”.
2Raja 1:10 - “Tetapi Elia menjawab, katanya kepada perwira itu: ‘Kalau benar aku abdi Allah, biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu.’ Maka turunlah api dari langit memakan dia habis dengan kelima puluh anak buahnya.”.
Ibr 11:35-37 - “(35) Ibu-ibu telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab dibangkitkan. Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik. (36) Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. (37) Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan.”.
Kis 14:22 - “Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.”.
Ay 5: “Mezbah itupun pecahlah, sehingga abu yang di atasnya tercurah, sesuai dengan tanda ajaib yang diberitahukan abdi Allah itu atas perintah TUHAN.”.
Dengan tergenapinya tanda yang diberitahukan oleh nabi ini, maka jelas bahwa Tuhan memang merendahkan mezbah / sistim ibadah yang dikembangkan oleh Yerobeam ini. Tetapi perlu diingat bahwa ibadah ini terus berlangsung dan berkembang selama ratusan tahun. Jadi, suatu gereja / sistim ibadah yang sesat, bisa saja terus berlangsung, dan bahkan berkembang, sekalipun dikecam / dikutuk oleh Tuhan.
Ay 6: “Lalu berbicaralah raja dan berkata kepada abdi Allah itu: ‘Mohonkanlah belas kasihan TUHAN, Allahmu, dan berdoalah untukku, supaya tanganku dapat kembali.’ Dan abdi Allah itu memohonkan belas kasihan TUHAN, maka tangan raja itu dapat kembali dan menjadi seperti semula.”.
Pulpit Commentary: “His heart was not touched, though his arm was withered. Hence he did not ask the prophet to pray that his sin might be forgiven, but that his arm might be restored” [= Hatinya tidak tersentuh, sekalipun lengannya menjadi layu / lemah. Karena itu ia tidak meminta sang nabi untuk berdoa supaya dosanya bisa diampuni, tetapi supaya lengannya bisa dipulihkan] - hal 309.
Penerapan: kalau saudara merasa bahwa ada suatu penderitaan terjadi dalam kehidupan saudara sebagai hajaran dari Tuhan, apakah saudara hanya mempersoalkan bagaimana supaya penderitaan itu hilang? Atau apakah saudara memikirkan bagaimana membereskan dosa itu?
Ay 7-9: “(7) Kemudian berbicaralah raja kepada abdi Allah itu: ‘Marilah bersama-sama dengan aku ke rumah, segarkan badanmu, sesudah itu aku hendak memberikan suatu hadiah kepadamu.’ (8) Tetapi abdi Allah itu berkata kepada raja: ‘Sekalipun setengah dari istanamu kauberikan kepadaku, aku tidak mau singgah kepadamu; juga aku tidak mau makan roti atau minum air di tempat ini. (9) Sebab beginilah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air dan jangan kembali melalui jalan yang telah kautempuh itu.’”.
1) Tindakan ‘baik’ dari Yerobeam terhadap nabi itu (ay 7).
Kalau tadi Yerobeam bertindak keras, maka di sini ia bertindak ‘baik’ terhadap nabi tersebut. Kedua tindakan / sikap ini merupakan serangan yang berbahaya bagi hamba Tuhan. Setan kadang-kadang melakukan penganiayaan, tetapi kadang-kadang memberikan sogokan, semua dengan tujuan supaya hamba Tuhan itu menyimpang dari kebenaran.
Matthew Henry: “Jeroboam was so affected with the cure of his hand that though we read not of his thanksgivings to God for the mercy, or of his sending an offering to the altar at Jerusalem in acknowledgment of it, yet he was willing to express his gratitude to the prophet and pay him for his prayers, v. 7. Favours to the body will make even graceless men seem grateful to good ministers” [= Yerobeam begitu terharu oleh penyembuhan tangannya sehingga sekalipun kita tidak membaca tentang rasa syukurnya kepada Allah untuk belas kasihanNya, atau bahwa ia mengirimkan suatu persembahan / korban pada mezbah di Yerusalem sebagai pengakuan akan hal ini, tetapi ia mau menyatakan rasa terima kasihnya kepada sang nabi dan membayarnya untuk doa-doanya, ay 7. Kemurahan / kebaikan bagi tubuh akan membuat bahkan orang-orang yang bejad kelihatan berterima kasih kepada pelayan-pelayan yang baik].
Tidak semua penafsir setuju dengan Matthew Henry bahwa Yerobeam memang bermaksud untuk menunjukkan terima kasihnya kepada sang nabi. Kebanyakan penafsir justru menganggap bahwa Yerobeam mempunyai maksud yang buruk dengan tawarannya itu.
Keil & Delitzsch: “As Jeroboam could do nothing by force against the prophet, he endeavoured to gain him over to his side by friendliness, that at least he might render his threat harmless in the eyes of the people. For this purpose, and not to do him honour or to make him some acknowledgment for the restoration of his hand, he invited him to his house, to strengthen himself with food ... and receive from him a present” [= Karena Yerobeam tidak bisa melakukan apapun dengan kekerasan terhadap sang nabi, ia berusaha untuk mendapatkan dia ke pihaknya dengan persahabatan, supaya setidaknya ia bisa membuat ancamannya tidak berbahaya di mata masyarakat. Untuk tujuan ini, dan bukan untuk menghormatinya atau untuk membuat suatu pengakuan baginya tentang pemulihan tangannya, ia mengundangnya ke rumahnya, menyegarkan dirinya sendiri dengan makanan ... dan menerima darinya suatu hadiah].
Pulpit Commentary: “Immediately after, with a show of civility and gratitude, he invited him to his house. Clearly this was not in order to honour the prophet, but to weaken the effect of his message. The people had heard it, and had been moved by it; but if they saw the messenger going down in seeming friendship with their king, this would diminish, perhaps destroy, the effect of his words. Lest this should happen, the prophet had been forbidden to enter any house. As the representative of Jehovah, he was to show that God would not dwell amongst the people” [= Segera setelahnya, dengan suatu pameran kesopanan dan rasa terima kasih, ia mengundangnya ke rumahnya. Jelas bahwa ini bukan untuk menghormati sang nabi, tetapi untuk melemahkan pengaruh dari pesannya. Bangsa itu telah mendengar pesan itu, dan tergerak olehnya; tetapi jika mereka melihat utusan itu pergi dengan raja mereka dan kelihatannya bersahabat dengannya, ini akan mengurangi, mungkin menghancurkan, pengaruh / hasil dari kata-katanya. Supaya ini tidak terjadi, nabi itu telah dilarang untuk memasuki rumah manapun. Sebagai wakil Yehovah, ia harus menunjukkan bahwa Allah tidak mau tinggal di antara bangsa itu] - hal 309.
2) Penolakan sang nabi (ay 8-9).
Ay 8-9 - “(8) Tetapi abdi Allah itu berkata kepada raja: ‘Sekalipun setengah dari istanamu kauberikan kepadaku, aku tidak mau singgah kepadamu; juga aku tidak mau makan roti atau minum air di tempat ini. (9) Sebab beginilah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air dan jangan kembali melalui jalan yang telah kautempuh itu.’”.
Suatu sikap yang bagus sekali dari nabi ini adalah bahwa ia lebih mengutamakan ketaatan kepada Tuhan dari pada uang / kekayaan / persahabatan dengan raja. Bayangkan makanan yang begitu enak dari meja sang raja, dan hadiah yang pasti banyak sekali. Bayangkan juga persahabatan dengan raja, yang pasti akan memberinya banyak kemudahan dalam hidupnya. Tetapi semua itu ditolak oleh sang nabi, demi ketaatannya kepada Tuhan.
Matthew Henry: “the prophet, though hungry and weary, and perhaps poor, in obedience to the divine command refused both the entertainment and the reward proffered him. He might have supposed his acceptance of it would give him an opportunity of discoursing further with the king, in order to his effectual reformation, now that he was convinced; yet he will not think himself wiser than God, but, like a faithful careful messenger, hastens home when he has done his errand. Those have little learned the lessons of self-denial that cannot forbear one forbidden meal” [= sang nabi, sekalipun lapar dan lelah, dan mungkin miskin, dalam ketaatan kepada perintah ilahi, menolak penghiburan dan upah yang ditawarkan kepadanya. Ia bisa mengira bahwa penerimaannya akan memberinya suatu kesempatan untuk pembicaraan lebih lanjut dengan sang raja, untuk reformasinya yang lebih efektif, karena sekarang ia telah diyakinkan; tetapi ia tidak berpikir bahwa dirinya sendiri lebih bijaksana dari pada Allah, tetapi seperti seorang utusan yang hati-hati dan setia, cepat-cepat pulang ke rumah setelah ia melakukan tugasnya. Mereka hanya belajar sedikit pelajaran tentang penyangkalan diri kalau mereka tidak bisa menahan diri terhadap makanan yang dilarang].
Suatu pemikiran yang bagus dari Matthew Henry! Sang nabi memang bisa saja berpikir bahwa kalau ia menerima tawaran sang raja, ia mempunyai kesempatan untuk menasehati dan memberitakan Firman Tuhan lebih jauh lagi kepada sang raja, dan ini mungkin akan mempertobatkannya. Tetapi Tuhan sudah melarang untuk makan dan minum, dan sang nabi tidak berpikir bahwa ia lebih bijaksana dari Allah. Ia taat, dan menolak tawaran sang raja.
3) Sebetulnya, apa alasan dari Allah untuk melarang nabi itu makan dan minum di Betel?
a) Karena makan dan minum bersama merupakan suatu persekutuan, dan kalau ia dianggap bersekutu dengan Yerobeam, maka hal itu bisa melemahkan pesan / kata-katanya. Ini sudah ada dalam kutipan kata-kata Keil & Delitzsch dan Pulpit Commentary di atas, dan ini ada lagi dalam komentar Wycliffe di bawah ini.
Wycliffe Bible Commentary: “the prophet declined on the ground that it had been expressly forbidden him to eat bread or to drink water in Bethel. Such social intercourse might well have created the impression in the minds of the people that the judgment pronounced by the prophet had either been averted or at least mitigated” [= sang nabi menolak karena ia telah dilarang secara explicit untuk makan roti dan minum air di Betel. Hubungan sosial seperti itu bisa menciptakan kesan dalam pikiran bangsa itu bahwa penghakiman yang diumumkan oleh sang nabi telah dipalingkan atau setidaknya dikurangi].
b) Untuk menunjukkan betapa Allah jijik dan benci terhadap penyembahan berhala, dan juga untuk menunjukkan bahwa mereka dikucilkan oleh Allah.
Keil & Delitzsch: “God had forbidden the prophet to eat and drink ‘to manifest His detestation of idolatry, and to show by that fact that the Bethelites were so detestable, and as it were excommunicated by God, that He wished none of the faithful to join with them in eating and drinking’” [= Allah telah melarang sang nabi untuk makan dan minum ‘untuk menyatakan kebencian / kejijikanNya terhadap penyembahan berhala, dan untuk menunjukkan oleh fakta itu bahwa orang-orang Betel begitu menjijikkan, dan mereka seakan-akan dikucilkan oleh Allah, sehingga Ia tidak menginginkan seorangpun dari orang-orang yang setia untuk bergabung dengan mereka dalam makan dan minum’].
Matthew Henry: “God forbade his messenger to eat or drink in Beth-el (v. 9), to show his detestation of their execrable idolatry and apostasy from God, and to teach us not to have fellowship with the works of darkness, lest we have infection from them or give encouragement to them” [= Allah melarang utusanNya untuk makan atau minum di Betel (ay 9), untuk menunjukkan kebencian / kejijikanNya terhadap penyembahan berhala mereka yang buruk sekali dan kemurtadan mereka dari Allah, dan untuk mengajar kita untuk tidak mempunyai persekutuan dengan pekerjaan-pekerjaan dari kegelapan, supaya kita jangan ketularan oleh mereka atau memberikan dorongan kepada mereka].
Pulpit Commentary: “Participation in food ... is in the East a token of friendship and affinity; a sign of close communion and fellowship. The prophet’s refusal to participate was consequently a practical and forcible disclaimer of all fellowship, a virtual excommunication, a public repudiation of the calf-worshippers. Cf. 1Cor. 5:11, ‘With such an one, no, not to eat.’” [= Partisipasi dalam makanan ... di Timur merupakan suatu tanda persahabatan dan hubungan yang dekat; suatu tanda dari hubungan dan persekutuan yang dekat. Karena itu, penolakan sang nabi untuk berpartisipasi merupakan suatu penyangkalan yang praktis dan kuat tentang semua persekutuan, suatu pengucilan yang sebenarnya, penyangkalan umum terhadap para penyembah anak lembu. Bdk. 1Kor 5:11, ‘Dengan orang seperti itu, jangan, jangan makan’] - hal 285.
Memang dalam Kitab Suci ada banyak sekali ayat yang menunjukkan bahwa Tuhan tidak menghendaki kita bersekutu dengan orang-orang yang jahat. Misalnya:
1. 2Taw 20:35-37 - “(35) Kemudian Yosafat, raja Yehuda, bersekutu dengan Ahazia, raja Israel, yang fasik perbuatannya. (36) Ia bersekutu dengan Ahazia untuk membuat kapal-kapal yang dapat berlayar ke Tarsis. Kapal-kapal itu dibuat mereka di Ezion-Geber. (37) Tetapi Eliezer bin Dodawa dari Maresa bernubuat terhadap Yosafat, katanya: ‘Karena engkau bersekutu dengan Ahazia, maka TUHAN akan merobohkan pekerjaanmu.’ Lalu kapal-kapal itu pecah, dan tak dapat berlayar ke Tarsis.”.
2. Maz 139:21-22 - “(21) Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau? (22) Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku.”.
Catatan: perhatikan bahwa yang dibicarakan oleh pemazmur di sini bukan sekedar orang jahat, tetapi orang-orang yang memusuhi Tuhan. Kalau jaman sekarang, kita bisa katakan itu sebagai orang-orang yang anti Kristen.
3. Mat 18:15-17 - “(15) ‘Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. (16) Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. (17) Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.”.
4. Tit 3:10 - “Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.”.
Catatan: Dari sini terlihat bahwa orang-orang yang harus dikucilkan bukan hanya orang-orang yang secara moral hidup jahat, tetapi juga orang-orang yang mempunyai kepercayaan dan ajaran yang sesat, tak peduli hidup mereka saleh atau kelihatan saleh. Ini perlu direnungkan oleh banyak orang Kristen yang menjauhi orang yang jahat, tetapi bisa akrab dengan orang-orang yang mereka tahu adalah nabi-nabi palsu!
5. 1Kor 5:9-13 - “(9) Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. (10) Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. (11) Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. (12) Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? (13) Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu.”.
Catatan: kata ‘kikir’ dalam ay 11 oleh KJV/RSV/NIV/NASB diterjemahkan ‘tamak’.
6. 2Tes 3:6,14-15 - “(6) Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. ... (14) Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu, (15) tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara.”.
7. 2Tim 3:5 - “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”.
8. Ro 16:17 - “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!”.
9. 2Yoh 10-11 - “(10) Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. (11) Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.”.
Penerapan: dalam kehidupan saudara bagaimana sikap saudara terhadap orang-orang jahat, nabi palsu, orang-orang yang menentang kekristenan / Yesus, dsb?
Pulpit Commentary: “When John Wesley once proposed to give a note of admission to the Lord’s Table to a man of dubious character, Henry Moore, one of his preachers, bluntly said that if that man were admitted he should refuse to attend. ‘Sir,’ said Wesley, ‘I should attend even if the devil came to Holy Communion.’ ‘So should I,’ was the answer; ‘but not if John Wesley gave him a note of admission.’” [= Pada waktu John Wesley suatu kali mengusulkan untuk memberi suatu catatan tentang pemberian ijin untuk datang ke Meja Tuhan kepada seseorang dengan karakter yang mencurigakan / dipertanyakan, Henry Moore, salah satu dari pengkhotbah-pengkhotbahnya, dengan terus terang berkata bahwa jika orang itu diijinkan ia akan menolak untuk mengikuti. ‘Tuan’, kata Wesley, ‘Aku harus mengikuti bahkan jika setan / Iblis datang ke Perjamuan Kudus’. ‘Demikian juga dengan aku’, jawabnya, ‘tetapi tidak jika John Wesley memberinya catatan pemberian ijin’.] - hal 287.
Ay 9b-10: “(9b) ... jangan kembali melalui jalan yang telah kautempuh itu.’ (10) Lalu pergilah ia melalui jalan lain dan tidak kembali melalui jalan yang telah diambilnya untuk datang ke Betel.”.
1) Larangan ini memberikan kesukaran bagi nabi itu untuk mentaatinya.
Word Biblical Commentary: “Bethel was connected to Jerusalem by a major highway. To return from it by another route would mean following perilous pathways through fields and thickets” [= Betel dihubungkan dengan Yerusalem dengan jalan raya utama / besar. Kembali dari Betel melalui jalan lain berarti mengikuti jalan-jalan yang penuh bahaya melalui padang-padang dan semak belukar].
2) Kita tidak bisa tahu apa alasan Allah yang sebenarnya dengan larangan ini.
Ada bermacam-macam penafsiran tentang alasan Allah memberikan larangan ini:
a) Matthew Henry mengatakan bahwa Allah memberikan larangan ini supaya orang-orang Betel / Israel tidak menganggap bahwa nabi itu memang diutus untuk tujuan khusus memberitakan Firman Tuhan. Mereka tidak layak untuk menerima kebaikan seperti itu. Jadi sang nabi harus pulang melalui jalan lain, supaya kelihatannya ia hanya lewat jalanan itu secara kebetulan, dan lalu Tuhan menyuruhnya untuk memberitakan Firman Tuhan di sana.
Saya sukar menerima alasan ini. Tidak ada orang yang layak menerima kebaikan Allah, tetapi Allah memang penuh dengan kasih karunia, sehingga Ia memberikan hal-hal yang baik kepada orang-orang yang tidak layak menerimanya.
b) Adam Clarke mengatakan bahwa alasan Allah adalah supaya orang-orang di jalan yang tadi telah ia lalui, setelah mendengar kabar tentang apa yang ia lakukan, tidak lalu menganiayanya / menahannya.
Menurut saya ini tidak masuk akal, karena orang-orang yang ada di jalan yang lain itu juga bisa melakukan hal yang sama.
c) Pulpit Commentary mengatakan bahwa alasan Allah adalah supaya nabi itu tidak diikuti.
Saya berpendapat ini juga tidak masuk akal, karena di jalan yang lain itupun ia bisa diikuti.
d) Tuhan menguji ketaatan nabi itu dengan larangan yang tidak masuk akal dan memberatkan ini.
Mungkin pandangan yang paling bisa saya terima adalah yang diberikan oleh Barnes dan Word Biblical Commentary di bawah ini, yang menyatakan bahwa ini merupakan ujian ketaatan bagi nabi itu.
Barnes’ Notes: “This command seems to have been given simply to test the obedience of the prophet” [= Perintah ini kelihatannya diberikan hanya untuk menguji sang nabi].
Word Biblical Commentary: “Yahweh’s command not to ... return by the same road certainly seems arbitrary and irrational, but that is precisely the point: the man of God’s complete subjection to the divine purpose can only be tested through laying on him conditions that may seem unreasonable and burdensome to him” [= Perintah Yahweh untuk tidak ... kembali melalui jalan yang sama pastilah kelihatan sewenang-wenang dan tidak rasionil, tetapi itu justru adalah maksudnya / gunanya: ketundukan sempurna dari abdi Allah itu pada tujuan / rencana ilahi hanya bisa diuji dengan memberikan kepadanya syarat-syarat yang baginya kelihatannya tidak masuk akal dan memberatkan].
Penerapan: hati-hati kalau saudara mendapat perintah Tuhan yang saudara anggap tidak masuk akal. Jangan tidak mau taat karena perintah itu tidak masuk akal, tidak logis, tidak bijaksana dan sebagainya. Bisa saja itu merupakan ujian Tuhan bagi saudara, apakah saudara mau taat kepadaNya atau tidak. Kewajiban saudara hanyalah memastikan apakah itu memang perintah Tuhan atau tidak, dan kalau ya, mentaatinya.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin