Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl  24 Oktober 2023, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Kharismatik 16c

 

exposisi

I korintus 14:1-40(3)

 

1Kor 14:1-40 - (1) Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. (2) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. (3) Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. (4) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. (5) Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. (6) Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? (7) Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi - bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? (8) Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? (9) Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara! (10) Ada banyak - entah berapa banyak - macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. (11) Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. (12) Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. (13) Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. (14) Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. (15) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. (16) Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya. (18) Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. (19) Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh. (20) Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu! (21) Dalam hukum Taurat ada tertulis: ‘Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.’ (22) Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman. (23) Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? (24) Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; (25) segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: ‘Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.’ (26) Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. (27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (29) Tentang nabi-nabi - baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. (30) Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. (31) Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. (32) Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. (34) Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. (35) Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. (37) Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. (38) Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. (39) Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. (40) Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”.

 

6) Ay 5: “Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.”.

 

a)  Ay 5a: ‘Aku suka supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa Roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat.’.

 

1.  Orang Kharismatik sering memotong bagian ini dan hanya melihat kata-kata ‘Aku suka supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa Roh’, dan lalu menggunakannya sebagai dasar untuk mengharuskan orang kristen berbahasa Roh.

 

Keberatan terhadap pandangan ini:

 

a.  Kalau bagian ini diartikan sebagai sesuatu yang menunjukkan keharusan berbahasa roh, maka jelaslah bahwa ay 5a ini (baca seluruh ay 5a!) juga mengharuskan, atau bahkan lebih mengharuskan, orang kristen untuk bernubuat! Bdk. Bil 11:29 (baca mulai Bil 11:26).

 

Ay 5: Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun..

 

Bil 11:26-29 - “(26) Masih ada dua orang tinggal di tempat perkemahan; yang seorang bernama Eldad, yang lain bernama Medad. Ketika Roh itu hinggap pada mereka - mereka itu termasuk orang-orang yang dicatat, tetapi tidak turut pergi ke kemah - maka kepenuhanlah mereka seperti nabi (mereka bernubuat) di tempat perkemahan. (27) Lalu berlarilah seorang muda memberitahukan kepada Musa: ‘Eldad dan Medad kepenuhan seperti nabi di tempat perkemahan.’ (28) Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa: ‘Tuanku Musa, cegahlah mereka!’ (29) Tetapi Musa berkata kepadanya: ‘Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi RohNya hinggap kepada mereka!’.

 

Catatan: kata-kata ‘kepenuhanlah mereka seperti nabi’ salah terjemahan! Seharusnya ‘mereka bernubuat’.

 

Tetapi kenyataannya, saya tidak pernah mendengar ada orang Kharismatik yang mengharuskan orang kristen bernubuat. Ini menunjukkan penafsiran yang tidak konsekwen!

 

b.  Keharusan mempunyai suatu karunia tertentu jelas bertentangan dengan 1Kor 12:7,8-10,28-30, yang jelas menunjukkan bahwa tiap orang kristen menerima karunia yang berbeda-beda, ada yang menerima karunia ini dan ada yang menerima karunia itu. Jelas bahwa tidak ada karunia apapun yang harus dimiliki oleh setiap orang kristen.

 

1Kor 12:7-10,28-30 - “(7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. ... (28) Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. (29) Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, (30) atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?.

 

2.  Bagian ini menunjukkan bahwa sekalipun karunia bernubuat itu adalah karunia yang terpenting, dan karena itu harus ditempatkan pada tempat pertama, tetapi karunia bahasa Roh tidak boleh diabaikan, karena Tuhan tidak memberikan karunia tanpa ada gunanya (Calvin, hal 436-437).

 

b) Ay 5b: ‘Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa Roh, kecuali kalau orang itu dapat menafsirkannya,’.

 

1.      ‘Sebab’.

Kata ‘sebab’ pada awal ay 5b ini menunjukkan bahwa ay 5b ini adalah alasan dari kata-kata Paulus dalam ay 5a. Jadi, Paulus lebih senang orang bernubuat dari pada berbahasa Roh karena orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berbahasa Roh.

 

2.  ‘kecuali orang itu dapat menafsirkannya,’.

Kalau orang yang berbahasa Roh itu bisa menafsirkan bahasa Rohnya, maka bahasa Roh itu menjadi sesuatu yang bisa dimengerti, sehingga menjadi sama berharganya dengan nubuat.

 

Tetapi kalau ada seorang yang berbahasa Roh, lalu ada seorang lain yang menafsirkannya, kita tetap harus berhati-hati, karena bagaimana kita tahu bahwa itu memang penafsiran yang benar? Bagaimana kalau 2 orang itu ternyata cuma bersandiwara supaya dianggap hebat / rohani / penuh Roh Kudus dsb? Ingat bahwa pada akhir jaman ada banyak nabi-nabi palsu yang tidak akan segan-segan menipu jemaat, supaya mereka diikuti banyak orang!

 

Victor Budgen mengutip kata-kata Charles Haddon Spurgeon (1834-1892) sebagai berikut: “Every now and then there comes up a heresy, some woman turns prophetess and raves; or some lunatic gets the idea that God has inspired him, and there are always fools ready to follow any impostor,” [= Sesekali muncullah seorang penyesat, seorang wanita yang menjadi nabiah dan mengoceh; atau seorang gila yang mempunyai gagasan bahwa Allah mengilhaminya, dan selalu ada orang-orang tolol yang siap untuk mengikuti seadanya penipu,] - ‘The Charismatics and the Word of God’, hal 183.

 

c)  Ay 5c: ‘Sehingga jemaat dapat dibangun.’.

 

1.  Bagian ini menunjukkan bahwa tujuan karunia / pelayanan adalah supaya jemaat dapat dibangun!

Memang tujuan utama / tertinggi kita dalam hidup / pelayanan kita adalah untuk memuliakan Allah (1Kor 10:31).

 

1Kor 10:31 - Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah..

 

Tetapi untuk mencapai hal itu, maka kita harus membangun jemaat / gereja, yaitu dengan:

a.  Mempertobatkan orang yang belum percaya.

b.  Menumbuhkan iman orang yang sudah percaya.

 

Penerapan:

Apakah saudara mempunyai pelayanan yang cukup berarti dalam gereja? Kalau tidak, perhatikan kata-kata Pulpit Commentary (hal 479): “The useless members of a Church are those who are satisfied to get, not to give.” [= Anggota-anggota yang tidak berguna dari sebuah Gereja adalah mereka yang puas untuk mendapat, bukan untuk memberi.].

 

Dan kalau saudara sudah mempunyai pelayanan yang cukup berarti, maka renungkanlah: apakah pelayanan itu saudara maksudkan untuk membangun jemaat / gereja? Atau saudara melayani hanya karena dipaksa oleh orang lain, atau hanya untuk ramai-ramai saja? Atau saudara punya tujuan yang lebih egois lagi, yaitu untuk kepentingan diri saudara sendiri?

 

2.  Ini juga menunjukkan bahwa jemaat / gereja bisa dibangun hanya dengan menambah pengertian Firman Tuhan.

Bahasa Roh yang tidak diterjemahkan tidak bisa memberikan pengertian, sehingga tidak bisa membangun jemaat. Tetapi nubuat, ataupun bahasa Roh yang diterjemahkan, memberikan pengertian Firman Tuhan kepada jemaat, sehingga jemaat bisa dibangun.

 

Penerapan:

 

a.  Dalam pelayanan, usahakanlah supaya seluruh jemaat bisa dibangun dalam pengertian Firman Tuhan. Kalau saudara sekedar mengajak jemaat untuk memasang pohon Natal / menghias gereja, atau datang dalam pesta-pesta yang diadakan oleh gereja, tetapi saudara tidak pernah mengajak / mendorong jemaat untuk rajin ke Kebaktian / Pemahaman Alkitab, maka mungkin sekali saudara sedang giat menuju ke arah yang salah!

 

b.  Kalau saudara melayani Tuhan dalam bentuk puji-pujian, gunakanlah nyanyian dalam bahasa yang bisa dimengerti jemaat. Kalau toh harus menyanyikan lagu dalam bahasa asing, jelaskan lebih dulu arti kata-kata lagu itu, atau beri terjemahannya. Kalau tidak demikian, pada hakekatnya saudara tidak berbeda dengan orang yang menggunakan bahasa Roh tanpa penterjemahan.

 

c.  Jaman sekarang juga sering ada pengkhotbah yang menggunakan bahasa asing di mimbar, tanpa menterjemahkannya. Apa tujuannya? Untuk pamer kepandaian? Lagi-lagi hal ini sebetulnya tidak berbeda dengan orang yang menggunakan bahasa Roh tanpa penterjemahan.

 

Ay 6-12: “(6) Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? (7) Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi - bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? (8) Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? (9) Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara! (10) Ada banyak - entah berapa banyak - macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. (11) Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. (12) Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat.”.

 

1) Ay 6: “Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran?”.

 

a)  Orang Korintus pernah mendapatkan berkat dari pengajaran Paulus. Karena itu, sekarang Paulus seakan-akan berkata: ‘Seandainya aku dulu datang kepadamu dengan menggunakan bahasa Roh, apa gunanya itu bagimu? Aku berguna bagimu, karena aku datang untuk menyampaikan penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran’.

 

b) Ayat ini juga menunjukkan bahwa bahasa Roh yang tidak bisa dimengerti adalah sia-sia (perhatikan kata-kata ‘apakah gunanya itu bagimu’). Bahasa Roh seharusnya menyampaikan penya­taan Allah / revelation, pengetahuan (dalam hal rohani / Firman Tuhan), nubuat, pengajaran, dan jelas bahwa kalau hal-hal itu disampaikan dalam suatu bahasa yang tidak dimengerti, maka semua itu akan sia-sia belaka.

 

c)  Ayat ini menunjukkan juga bahwa bahasa Roh seharusnya menyampaikan berita dari Allah kepada manusia, dan bukan dari manusia kepada Allah (doa dengan bahasa Roh).

 

Alasannya:

 

1.  Adanya kata ‘kepadamu dalam ay 6 ini.

 

2.  Keempat hal yang disebutkan dalam ay 6 ini, yaitu penyataan Allah / revelation, pengetahuan, nubuat, pengajaran, merupakan hal-hal yang berguna bagi manusia dan diberikan oleh Allah kepada manu­sia, bukan sebaliknya.

 

2) Ay 7-9: “(7) Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi - bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? (8) Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? (9) Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!”.

 

Dengan menggunakan bermacam-macam penggambaran, bagian ini menguatkan ay 6 dalam menunjukkan kesia-siaan bahasa Roh yang tidak dimengerti.

 

a)  Ay 7 menggambarkan bahasa Roh yang tidak dimengerti itu sebagai alat musik yang tidak bisa mengeluarkan bunyi-bunyi / nada-nada yang berbeda. Kalau suatu alat musik bisa mengeluarkan bunyi-bunyi / nada-nada yang berbeda, maka alat musik itu bisa digunakan untuk mengeluarkan suatu lagu. Tetapi kalau tidak, alat musik itu hanya bisa mengeluarkan suara yang tidak berguna.

 

b) Ay 8 menggambarkannya sebagai nafiri / terompet yang ‘tidak mengeluarkan bunyi yang terang.

NIV: ‘does not sound a clear call’ [= tidak mengeluarkan bunyi yang jelas].

 

Dalam ketentaraan pada saat itu, digunakan nafiri untuk memberikan perintah kepada tentara (bdk. Bil 10:1-9).

 

Bil 10:1-9 - “(1) TUHAN berfirman kepada Musa: (2) ‘Buatlah dua nafiri dari perak. Dari perak tempaan harus kaubuat itu, supaya dipergunakan untuk memanggil umat Israel dan untuk menyuruh laskar-laskarnya berangkat. (3) Apabila kedua nafiri itu ditiup, segenap umat itu harus berkumpul kepadamu di depan pintu Kemah Pertemuan. (4) Jikalau hanya satu saja ditiup, maka para pemimpin, para kepala pasukan Israel harus berkumpul kepadamu. (5) Apabila kamu meniup tanda semboyan, maka haruslah berangkat laskar-laskar yang berkemah di sebelah timur; (6) apabila kamu meniup tanda semboyan kedua kalinya, maka haruslah berangkat laskar-laskar yang berkemah di sebelah selatan. Jadi tanda semboyan harus ditiup untuk menyuruh mereka berangkat; (7) tetapi untuk menyuruh jemaah itu berkumpul kamu harus meniup saja tanpa memberi tanda semboyan. (8) Nafiri-nafiri itu harus ditiup oleh anak-anak imam Harun; itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. (9) Dan apabila kamu maju berperang di negerimu melawan musuh yang menyesakkan kamu, kamu harus memberi tanda semboyan dengan nafiri, supaya kamu diingat di hadapan TUHAN, Allahmu, dan diselamatkan dari pada musuhmu..

 

Nafiri itu bisa mengeluarkan bermacam-macam bunyi, dan setiap bunyi mempunyai arti tertentu. Kalau nafiri itu ternyata tidak bisa memberikan bunyi-bunyi yang berbeda-beda seperti itu, sekalipun sebetulnya berita yang disampaikan itu penting (misalnya: ada musuh menyerang!), maka nafiri itu sama sekali tidak berguna.

 

Ini gambaran orang yang berbicara dalam bahasa Roh yang tidak dimengerti. Sekalipun berita yang ia sampaikan itu sangat penting, tetapi kalau bahasa Rohnya tidak bisa dimengerti oleh para pendengarnya, maka semua itu akan sia-sia belaka.

 

Calvin: “as though he had said - ‘A man cannot give life to a harp or flute, but he makes it give forth a sound that is regulated in such a manner, that it can be distinguished. How absurd then it is, that even men, endowed with intelligence, should utter a confused, indistinguishable sound!’” [= seakan-akan dia telah mengatakan - ‘Seseorang tidak dapat memberi kehidupan kepada sebuah harpa atau seruling, tetapi dia membuatnya mengeluarkan suara yang diatur sedemikian rupa sehingga bisa dibedakan. Maka betapa menggelikan / konyolnya, bahwa bahkan orang-orang, yang diberi kecerdasan, mengeluarkan suara yang membingungkan dan tidak dapat dibedakan / dimengerti!’] - hal 439.

 

Bandingkan dengan orang-orang Kharismatik yang kalau ‘berbahasa Roh’ hanya mengatakan satu atau dua kata yang sama terus menerus!

 

c)  Ay 9b menggambarkannya sebagai orang yang mengucapkan kata-kata di udara. ‘Mengucapkan kata-kata di udara’, jelas menunjukkan suatu tindakan yang sia-sia.

 

Bandingkan dengan 1Kor 9:26 dimana tindakan yang sia-sia digambarkan sebagai ‘sembarangan saja memukul’.

 

1Kor 9:26 - Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul..

NIV: ‘beating the air’ [= memukul udara].

 

Calvin: “To ‘speak into the air’ is to ‘beat the air’ (1Cor. 9:26) to no purpose. ‘Thy voice will not reach either God or man, but will vanish into air.’” [= ‘Berbicara ke udara’ adalah sama dengan ‘memukul udara’ (1 Kor 9:26) tanpa tujuan. ‘Suaramu tidak akan sampai kepada Allah atau manusia, melainkan akan lenyap begitu saja di udara.’] - hal 440.

 

3) Ay 10: “Ada banyak - entah berapa banyak - macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti.”.

Literal: ‘no voice / voiceless’ [= tidak ada suara / bunyi].

Calvin: ‘dumb’ [= bisu].

 

Calvin: “He uses the term ‘dumb’ here, to mean ‘confused’ - as opposed to an articulate voice; for the barking of dogs differs from the neighing of horses, and the roaring of lions from the braying of asses. Every kind of bird, too, has its own particular way of singing and chirping. The whole order of nature, therefore, as appointed by God, invites us to observe a distinction.” [= Dia menggunakan istilah ‘bisu’ di sini untuk mengartikan ‘bingung’ - bertentangan dengan suatu suara yang jelas; karena gonggongan anjing berbeda dari kuda yang meringkik, dan auman singa berbeda dari ringkikan keledai. Setiap jenis burung juga memiliki cara bernyanyi dan berkicau yang khas. Karena itu, seluruh tatanan alam, sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah, mengajak kita untuk memperhatikan suatu perbedaan.] - hal 441.

 

Ayat ini menunjukkan kemustahilan adanya suatu bahasa yang menggunakan bunyi-bunyi yang tidak ada artinya. Semua bahasa di dunia pasti menggunakan bunyi-bunyi / kata-kata yang ada artinya. Karena itu, bahasa Rohpun harus demikian!

 

Kesimpulannya: bahasa Roh itu haruslah betul-betul suatu bahasa, yang mempunyai grammar [= tatabahasa], dan perbendaharaan kata / kata-kata yang berbeda-beda.

 

Ayat ini jelas bertentangan dengan praktek bahasa Roh yang jaman ini banyak terdapat, dimana orangnya hanya menggunakan satu atau dua kata yang tidak ada artinya dan yang diulang terus-menerus. Ini jelas bukan bahasa (karena tidak adanya tata bahasa maupun perbendaharaan kata), dan juga bukan bahasa Roh!

 

Orang Kharismatik memberikan penjelasan dengan mengibaratkan bahasa Roh seperti itu sebagai suatu telegram, yang sekalipun pada pihak pengirim mengeluarkan bunyi-bunyi yang sama, tetapi pada pihak penerima mendapatkan pesan dalam bentuk kata-kata yang bisa dimengerti.

 

Tanggapan terhadap penjelasan ini:

 

a)  Tidak ada satupun dasar Kitab Suci yang bisa dipakai untuk mendu­kung penjelasan tersebut. Penjelasan yang hanya menggunakan logika / illustrasi, tetapi tidak punya dasar Kitab Suci, harus ditolak!

 

b) Harus diingat bahwa bahasa Roh itu seharusnya ditujukan kepada manusia dan bukan kepada Allah. Jadi, penerima ‘telegram’ itu bukan Allah tetapi manusia. Sedangkan kenyataannya penerima ‘telegram’ itupun cuma mendengar bunyi-bunyi yang sama terus-menerus. Jadi, jelas tidak cocok dengan penjelasan mereka.

 

4) Ay 11-12a: “(11) Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. (12) Demikian pula dengan kamu:”.

 

Kata-kata ‘orang asing’ seharusnya adalah ‘a barbarian’ [= seorang barbar / biadab].

 

Editor dari Calvin’s Commentary mengutip kata-kata M‘Knight: “The Greeks, after the custom of the Egyptians, mentioned by Herodotus, (lib. 2,) called all those ‘barbarians’ who did not speak their language. In process of time, however, the Romans having subdued the Greeks, delivered themselves by the force of arms from that opprobrious appellation; and joined the Greeks in calling all barbarians who did not speak either the Greek or the Latin language. Afterwards, ‘barbarian’ signified any one who spoke a language which another did not understand. ... This is the sense which the Apostle affixes to the word ‘barbarian’, in the present passage.” [= Orang-orang Yunani, mengikuti kebiasaan orang-orang Mesir, sebagaimana yang disebutkan oleh Herodotus (buku 2), menyebut semua mereka ‘barbar’ yang tidak berbicara dalam bahasa mereka. Seiring berjalannya waktu, orang-orang Romawi yang telah menundukkan orang-orang Yunani, dengan kekuatan senjata, menghapuskan sebutan merendahkan itu dan bergabung dengan orang-orang Yunani dalam menyebut semua orang ‘barbar’ yang tidak berbicara dalam bahasa Yunani atau Latin. Kemudian, ‘barbar’ menjadi istilah untuk seseorang yang berbicara dalam bahasa yang tidak bisa dipahami oleh orang lain. ... Inilah makna yang dipegang oleh Rasul dalam penggunaan kata ‘barbar’ dalam ayat ini.] - hal 441 (footnote).

 

Charles Hodge: “The word ‘barbarian’ means simply one of another country. All other people, whether civilized or not, were barbarians to the Greeks, or to the Romans. As ancient civilization came to be confined to those nations, not to be a Greek or Roman, was to be uncivilized, and hence barbarian or foreigner came to mean without civilization. Just as the true religion being confined to the Jews, ‘Gentile’ (one not a Jew) came to be synonomous with ‘heathen.’ In this passage, however, barbarian means simply foreigner.” [= Kata ‘barbarian’ secara sederhana berarti seseorang dari negara lain. Semua orang lain, baik mereka beradab atau tidak, dianggap sebagai barbar oleh orang-orang Yunani atau orang-orang Romawi. Karena peradaban kuno terbatas pada bangsa-bangsa itu, maka tidak menjadi seorang Yunani atau Romawi dianggap sebagai biadab / tidak beradab, dan karena itu, ‘barbarian’ atau ‘orang asing’ mulai berarti tanpa peradaban. Sama seperti agama yang benar hanya terbatas pada orang-orang Yahudi, istilah ‘Gentile’ (seorang non Yahudi) menjadi sinonim dengan ‘orang kafir’. Dalam ayat ini, namun, ‘barbarian’ hanya berarti ‘orang asing’.] - ‘I & II Corinthians’, hal 285.

 

Charles Hodge: “If a man utters incoherent, inarticulate sounds, which no man living could understand, that would not make him a foreigner. It might prove him to be deranged, but not a stranger.” [= Jika seseorang mengeluarkan suara yang tidak jelas dan tidak dapat dimengerti oleh orang hidup manapun, itu tidak akan menjadikannya seorang asing. Hal tersebut mungkin menunjukkan bahwa dia mengalami gangguan mental, tetapi bukan berarti dia adalah seorang asing.] - ‘I & II Corinthians’, hal 285.

 

Jadi ay 11 ini menyatakan bahwa pembicara dan pendengar menjadi seperti orang asing satu terhadap yang lain, kalau mereka tidak saling mengerti. Dan kata-kata ‘demikian pula dengan kamu’ (ay 12a) menerapkan hal itu dalam persoalan bahasa Roh. Jadi, pembicara bahasa Roh itu menjadi seperti orang asing bagi pendengarnya, kalau bahasa Rohnya tidak dimengerti. Ini lagi-lagi menekankan kesia-siaan bahasa Roh yang tidak bisa dimengerti oleh pendengarnya.

 

Calvin: “The tongue ought to be an index of the mind ... How foolish then it is and preposterous in a man, to utter in an assembly a voice of which the hearer understands nothing - in which he perceives no token from which he may learn what the person means! It is not without good reason, therefore, that Paul views it as the height of absurdity, that a man should be a ‘barbarian’ to the hearers, by chattering in an unknown tongue, and at the same time he elegantly treats with derision the foolish ambition of the Corinthians, who were eager to obtain praise and fame by this means!” [= Lidah seharusnya menjadi cermin pikiran seseorang ... Maka, betapa bodoh dan tidak masuk akalnya jika seseorang mengeluarkan suara di hadapan sekelompok orang yang sama sekali tidak dimengerti oleh pendengar - di mana pendengar tidak melihat tanda apa pun dari mana dia dapat memahami apa yang dimaksud oleh orang tersebut! Karena itu, bukan tanpa alasan bahwa Paulus menganggapnya sebagai tingkat menggelikan yang tinggi jika seseorang menjadi ‘barbarian’ bagi pendengar dengan berbicara dalam bahasa yang tidak dikenal, dan pada saat yang sama, ia dengan elegan mengejek ambisi bodoh orang-orang Korintus yang bersemangat untuk mendapatkan pujian dan ketenaran dengan cara ini!] - hal 441-442.

 

Ay 11 ini secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa bahasa Roh yang tidak dimengerti itu merusak persekutuan dalam gereja.

 

Calvin: “By these words he intimates, that to speak in an unknown tongue, is not to hold fellowship with the Church, but rather to keep aloof from it, and that he who will act this part, will be deservedly despised by others, because he first despised them.” [= Dengan kata-kata ini, dia mengisyaratkan bahwa berbicara dalam bahasa yang tidak dikenal bukanlah cara untuk bersekutu dengan Gereja, melainkan justru untuk menjauhinya, dan bahwa orang yang berperilaku demikian akan patut dihina / direndahkan oleh orang-orang lain, karena dia pertama-tama menghina / merendahkan mereka.] - hal 442.

 

5) Ay 12b,c: “Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat.”.

 

a)  Ay 12b: ‘kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh’.

NASB: ‘you are zealous of spiritual gifts’ [= kamu bersemangat / berkobar-kobar tentang karunia-karunia rohani].

 

1.  Kata yang diterjemahkan ‘berusaha untuk memperoleh’ / ‘zealous’ [= bersemangat / berkobar-kobar] itu, dalam bahasa Yunaninya mempunyai kata dasar yang sama dengan ZELOUTE dalam ay 1,39 dan 12:31 (lihat pembahasan tentang kata ZELOUTE dalam pembahasan ay 1 di atas). Karena itu jelaslah bahwa ayat ini tidak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa karunia adalah sesuatu yang bisa dicari / diusa­hakan.

 

2.  ‘karunia-karunia Roh’.

Literal: ‘spirits’ / ‘spiritual things’ [= roh-roh / hal-hal rohani].

 

Charles Hodge: “The most probable explanation of this expression is to be sought from 12:7, where it is said that ‘to every one is given a manifestation of the Spirit.’ One and the same Spirit manifests himself in different ways in different persons; and these different manifestations are called ‘spirits.’ Somewhat analogous are the expressions, ‘spirits of the prophets,’ v. 32; ‘discernment of spirits,’ 12:11; ‘try the spirits,’ 1John 4:1; and ‘the seven Spirits of God,’ spoken of in the Apocalypse. In all these cases ‘spirits’ mean manifestations of the Spirit, or forms under which the Spirit manifests himself. It is not an unusual metonomy when the effect receives the name of its cause. Comp. Gal. 5:17, ‘The spirit lusteth against the flesh,’ where ‘spirit’ may mean the renewed principle produced by the Spirit.” [= Penjelasan yang paling memungkinkan tentang ungkapan ini dapat ditemukan dalam 1Kor 12:7, di mana dikatakan bahwa ‘kepada setiap orang diberikan suatu manifestasi Roh.’ Roh yang sama memanifestasikan diriNya sendiri dengan cara-cara yang berbeda pada orang-orang yang berbeda, dan manifestasi-manifestasi yang berbeda ini disebut ‘roh-roh.’ Agak mirip dengan ungkapan ‘roh-roh dari nabi-nabi’ (ay 32), ‘pembedaan dari roh-roh’ (1Kor 12:11), ‘ujilah roh-roh’ (1Yoh 4:1), dan ‘tujuh Roh Allah’ yang disebutkan dalam Kitab Wahyu. Dalam semua kasus ini, ‘roh-roh’ berarti manifestasi-manifestasi dari Roh, atau bentuk-bentuk di mana Roh memanifestasikan diriNya sendiri. Ini bukanlah metonim yang tidak biasa ketika efek menerima nama dari penyebabnya. Bdk. Gal 5:17, ‘Roh berlawanan dengan daging,’ di mana ‘roh’ dapat berarti kwalitas hakiki yang diperbaharui yang dihasilkan oleh Roh.] - ‘I & II Corinthians’, hal 285.

Catatan: metonim adalah suatu gaya bahasa dimana sesuatu digambarkan dengan sesuatu yang lain yang berhubungan dekat dengannya. Misalnya kata ‘botol’ adalah metonim dari ‘minuman keras’.

 

b) Ay 12c: ‘hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat.’.

NASB / Literal: ‘seek to abound for the edification of the church’ [= berusahalah untuk berlimpah-limpah untuk pendidikan gereja].

 

Kata ‘abound’ [= berlimpah-limpah] ini menunjukkan bahwa kita harus berusaha / berjuang semaximal mungkin untuk pendidikan gereja.

 

c)  Jadi, kalau ay 12b dan ay 12c dihubungkan, maka artinya adalah: adalah sesuatu yang bagus kalau kamu bersemangat / berkobar-kobar dalam hal karunia-karunia rohani, tetapi arahmu harus benar, yaitu untuk pendidikan gereja.

 

Dari sini bisa didapatkan beberapa hal:

 

1.  Semua karunia harus digunakan untuk membangun jemaat / mendidik gereja!

 

Calvin: “‘If spiritual gifts,’ says he, ‘delight you, let the end be edification. Then only may you reckon, that you have attained an excellence that is true and praiseworthy - when the Church receives advantage from you.’” [= ‘Jika karunia-karunia rohani’, katanya, ‘menyenangkan kamu, biarkan tujuannya adalah pendidikan. Hanya pada saat itu kamu bisa / boleh menganggap bahwa kamu telah mencapai keunggulan yang benar dan patut dipuji - ketika Gereja mendapat manfaat dari kamu.’] - hal 442.

 

2.  Bahasa Roh tidak boleh dipakai untuk sombong-sombongan, pamer dsb! Ini tidak membangun jemaat / mendidik gereja! Kalau bahasa Roh yang sejati saja tidak boleh dibuat jadi sombong-sombongan, maka menyombongkan diri karena bahasa Roh yang palsu adalah suatu kegilaan!

 

3.  Semangat yang berkobar-kobar hanya baik kalau arahnya benar, dan arah seseorang tidak mungkin benar kalau ia tidak mempunyai pengetahuan Firman Tuhan!

 

Bdk. Amsal 19:2 - ‘tanpa pengetahuan, kerajinanpun tidak baik’.

NIV: “It is not good to have zeal without knowledge” [= Adalah tidak baik mempunyai semangat tanpa pengetahuan].

 

4.  Makin seseorang membaktikan dirinya untuk pendidikan gereja, makin ia harus dihargai / dinilai tinggi.

 

Calvin: “He would have a man to be held in higher estimation, in proportion as he devotes himself with eagerness to promote edification.” [= Dia menginginkan seseorang dihormati / dinilai lebih tinggi, sebanding dengan pembaktian dirinya sendiri dengan kesungguhan untuk memajukan pendidikan.] - hal 442-443.

 

5.  Pendidikan adalah sesuatu yang harus diutamakan dalam gereja.

Penerapan:

a.  Gereja-gereja yang mengutamakan puji-pujian dan / atau bahasa Roh lebih dari pengajaran Firman Tuhan, jelas merupakan gereja-gereja yang salah arah!

b.  Gereja yang tidak mempunyai Pemahaman Alkitab, atau yang mempunyai Pemahaman Alkitab yang ‘hidup segan mati tidak mau’, adalah gereja yang tidak beres!

c.  Dalam gereja, acara Pemahaman Alkitab tidak boleh ditabrak oleh acara-acara lain seperti rapat, bezoek, latihan koor / vocal group dsb! Mengapa? Supaya jemaat bisa hadir semua dalam acara Pemahaman Alkitab itu, sehingga gereja betul-betul maju dalam pendidikan!

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali