(Rungkut Megah
Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 16 Januari 2011, pk 17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
http://golgothaministry.org
Kel 20:12 - “Hormatilah
ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu,
kepadamu”.
1)
Hukum ini hanya ditujukan untuk anak-anak terhadap orang tuanya.
Calvin
(dan juga Jamieson, Fausset & Brown, dan Keil & Delitzsch) berpendapat
bahwa hukum ini tidak hanya berlaku untuk orang tua, tetapi untuk semua otoritas
yang Allah tempatkan di atas kita. Jadi, ini juga mencakup:
a) Pemerintah (Ro 13:1-2
1Pet 2:13-14).
b) Majikan / boss (Ef 6:5).
c) Pimpinan gereja (Kis 23:1-5).
d) Suami (Ef 5:22).
e) Guru / dosen / pimpinan di sekolah.
Sekalipun
saya setuju bahwa sebagai orang kristen kita harus mentaati / menghormati semua
otoritas di atas kita, tetapi saya berpendapat bahwa hukum ke 5 ini khusus
berhubungan dengan orang tua. Jadi, dalam hal ini saya tidak setuju dengan
Calvin dan para penafsir di atas. Alasan saya: dalam Kitab Suci, hukum ke 5 ini
selalu diterapkan dalam hubungan orang tua dengan anak.
Misalnya:
1.
Mat 15:4-6 - “(4) Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan
ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.
(5) Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya:
Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan
untuk persembahan kepada Allah, (6) orang itu tidak wajib lagi menghormati
bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku
demi adat istiadatmu sendiri”.
2.
Ef 6:1-3 - “(1) Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam
Tuhan, karena haruslah demikian. (2) Hormatilah ayahmu dan ibumu - ini adalah
suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: (3) supaya kamu
berbahagia dan panjang umurmu di bumi”.
Perhatikan
kontext dari Ef 6:1-3 ini, yaitu mulai Ef 5:22-6:4. Ef 5:22-24 ditujukan kepada
istri-istri; Ef 5:25-33 ditujukan kepada suami-suami; Ef 6:1-3 ditujukan kepada
anak-anak; dan Ef 6:4 ditujukan kepada bapa-bapa. Semuanya dalam urusan
keluarga, dan karena itu ‘anak-anak’ jelas betul-betul merupakan
‘anak-anak’.
Juga,
kalau hukum kelima mencakup hubungan hamba / pegawai dengan tuannya, untuk apa
Paulus lalu menambahkan lagi Ef 6:5-9, yang memberikan peraturan kepada
hamba-hamba dan tuan-tuan?
3. Hal yang sama terjadi dalam Kol 3:18-22
Kol
3:18-22 - “(18) Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu,
sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. (19) Hai suami-suami, kasihilah
isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. (20) Hai anak-anak,
taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.
(21) Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar
hatinya. (22) Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam
segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka,
melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan”.
Adam
Clarke: “There is a degree of
affectionate respect which is owing to parents, that no person else can properly
claim” (= Di sana ada suatu tingkat dari rasa hormat yang penuh kasih yang
harus kita berikan kepada orang tua, yang tak bisa diclaim
secara benar oleh orang lain).
2)
‘Ibu’ disebutkan secara khusus dan explicit dalam hukum ke 5
ini.
Calvin
(tentang Kel 20:12):
“The name of the mothers is expressly introduced, lest their sex should
render them contemptible to their male children” (= Nama dari ibu
dimasukkan secara explicit, supaya jangan jenis kelamin mereka membuat mereka
rendah bagi anak-anak laki-laki mereka) - hal 7.
3)
Anak-anak harus menghormati ibu dan bapa mereka.
a) Tidak hormat kepada orang tua berarti tidak hormat kepada
Allah.
Calvin
(tentang Kel 20:12): “Since, therefore, the name of the Father is a sacred one, and
is transferred to men by the peculiar goodness of God, the dishonouring of
parents redounds to the dishonour of God Himself, nor can anyone despise his
father without being guilty of an offence against God” (= Karena itu,
karena nama Bapa merupakan nama yang keramat / kudus, dan dialihkan kepada
manusia oleh kebaikan khusus dari Allah, sikap tidak hormat kepada orang tua
mempunyai akibat ketidak-hormatan kepada Allah sendiri, dan seseorang tidak bisa
merendahkan / meremehkan bapanya tanpa bersalah melakukan pelanggaran terhadap
Allah) - hal 7-8.
John
Stott berkata sebagai berikut: banyak orang yang membagi 10 hukum Tuhan ini
dalam 2 bagian dimana bagian pertama mencakup hukum 1-4, dan bagian kedua
mencakup hukum 5-10. Tetapi orang-orang Yahudi membaginya dengan cara yang
berbeda, yaitu bagian pertama mencakup hukum 1-5, dan bagian kedua mencakup
hukum 6-10.
John
Stott: “The
significance of this arrangement is that it brings the honouring of our parents
into our duty to God. And this is surely right. For at least during our
childhood they represent God to us and mediate to us both his authority and his
love. We are to ‘honour’ them, that is, acknowledge their God-given
authority, and so give them not only our obedience, but our love and respect as
well. ... Reverence for parents was thus made an integral part of reverence for
God as their God and of their special relationship to him as his people”
(= Arti dari pengaturan ini adalah bahwa itu membawa hormat kepada orang tua
kita ke dalam kewajiban kita kepada Allah. Dan ini jelas benar. Karena
setidaknya selama masa kanak-kanak kita mereka mewakili Allah kepada kita dan
menjadi pengantara bagi kita baik dalam hal otoritasNya dan kasihNya. Kita harus
‘menghormati’ mereka, yaitu mengakui otoritas yang diberikan oleh Allah
kepada mereka, dan dengan demikian memberikan kepada mereka bukan hanya ketaatan
kita, tetapi juga kasih kita dan hormat kita. ... Dengan demikian sikap hormat
untuk orang tua dijadikan sebagai bagian integral dari sikap hormat untuk Allah
sebagai Allah mereka dan dari hubungan khusus mereka dengan Dia sebagai umatNya)
- ‘The Message of Ephesians’, hal 239-240.
Catatan: kata ‘reverence’
seharusnya bukan sekedar berarti ‘sikap hormat’, tetapi ‘gabungan dari
sikap takut, hormat dan kasih’.
Bdk.
Im 19:1-3 - “(1) TUHAN berfirman kepada Musa: (2) ‘Berbicaralah
kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab
Aku, TUHAN, Allahmu, kudus. (3) Setiap orang di antara kamu haruslah
menyegani ibunya dan ayahnya dan memelihara hari-hari sabatKu; Akulah TUHAN,
Allahmu”.
Kata
‘menyegani’ diterjemahkan agak berbeda-beda dalam Kitab Suci bahasa
Inggris.
KJV: ‘fear’
(= takut).
RSV: ‘revere’ (= takut, hormat dan kasih).
NIV:
‘respect’ (= hormat).
NASB: ‘reverence’ (= sikap takut, hormat dan kasih).
Perhatikan
bahwa dalam text yang membicarakan hubungan Allah dengan umatNya, tahu-tahu bisa
terselip hukum kelima
b) Sikap apa saja yang harus ada pada seorang anak terhadap
orang tuanya?
Calvin
menganggap bahwa ada 3 hal yang tercakup dalam hukum ke 5 ini, yaitu:
1.
Hormat. Ini bukan hanya dalam tindakan, tetapi juga dalam kata-kata dan
pemikiran kita.
2.
Taat.
3.
Rasa / sikap tahu berterima kasih.
Stott
(hal 240) menambahkan hal yang ke 4, yaitu ‘kasih’ / ‘cinta’. Seorang
anak harus mencintai orang tuanya.
Sikap-sikap
ini tetap harus ada dalam diri seorang anak, sekalipun orang tua mereka adalah
orang-orang yang brengsek! Kalau seorang budak harus tetap menghormati tuan
mereka yang bengis / jahat (1Pet 2:18), pasti seorang anak harus tetap
menghormati, mentaati, mengasihi, dan mempunyai rasa terima kasih terhadap orang
tua mereka, bahkan kalau orang tua mereka adalah orang-orang brengsek, kafir,
dsb!
4)
Anak harus mentaati orang tua, tetapi tidak secara mutlak.
a) Hormat kepada orang tua jelas mencakup ketaatan.
Ef 6:1
- “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena
haruslah demikian”.
Kol 3:20
- “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam
segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan”.
Catatan: kata-kata ‘itulah yang indah di dalam Tuhan’
pada akhir dari Kol 3:20 ini salah terjemahan!
NASB:
‘this is well pleasing to the
Lord’ (= ini menyenangkan bagi Tuhan).
b) Apakah anak harus taat secara mutlak kepada orang tua?
1. Ketaatan
kepada orang tua dibatasi oleh Firman Tuhan.
Kol 3:20
memang mengatakan bahwa anak harus taat kepada orang tua ‘dalam segala hal’. Tetapi kalau kita menafsirkan bagian ini
dengan melihat ayat-ayat lain dalam Kitab Suci, maka kita harus memberi
perkecualian, yaitu pada saat orang tua memberikan perintah yang bertentangan
dengan Firman Tuhan. Jadi, kalau orang tua memerintahkan sesuatu yang dilarang
oleh Firman Tuhan, atau melarang melakukan apa yang diperintahkan oleh Firman
Tuhan, maka anak tidak boleh mentaati orang tua mereka!
Dasar
dari pandangan ini:
a.
Kis 5:29 - “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia”.
b.
Mat 10:37a - “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari
padaKu, ia tidak layak bagiKu”.
c.
Istilah ‘di dalam Tuhan’ yang ditambahkan oleh Paulus dalam Ef
6:1.
Calvin
(tentang Kel 20:12):
“parents govern their children only under the supreme authority of God.
Paul, therefore, does not simply exhort children to obey their parents, but adds
the restriction, ‘in the Lord;’ whereby he indicates that, if a father
enjoins anything unrighteous, obedience is freely to be denied him” (=
orang tua memerintah anak-anak mereka hanya di bawah otoritas yang tertinggi
dari Allah. Karena itu, Paulus tidak hanya mendesak anak-anak untuk mentaati
orang tua mereka, tetapi menambahkan pembatasan ‘di dalam Tuhan’; dengan
mana ia menunjukkan bahwa jika seorang bapa memerintahkan apapun yang tidak
benar, ketaatan kepadanya dengan bebas ditiadakan) - hal 8.
John
Stott: “It
is quite true that in the parallel passage in Colossians children are told to
obey parents ‘in everything.’ But this is balanced in Ephesians by the
command to obey them ‘in the Lord’ (6:1). The latter instruction surely
modifies the former. Children are not to obey their parents in absolutely
everything without exception, but in everything which is compatible with their
primary loyalty, namely to their Lord Jesus Christ” (= Memang benar
bahwa dalam text paralel dalam surat Kolose, anak-anak disuruh untuk mentaati
orang tua ‘dalam segala sesuatu’. Tetapi ini diimbangi dalam surat Efesus
oleh perintah untuk mentaati mereka ‘dalam Tuhan’ (6:1). Instruksi yang
belakangan ini tentu memodifikasi instruksi yang lebih dulu. Anak-anak tidak
harus mentaati orang tua mereka dalam segala sesuatu secara mutlak tanpa
perkecualian, tetapi dalam segala sesuatu yang cocok dengan kesetiaan utama
mereka, yaitu kepada Tuhan mereka Yesus Kristus) - ‘The Message of
Ephesians’, hal 242.
Tetapi
Calvin juga menambahkan bahwa selama orang tua tidak menyuruh / melarang hal-hal
yang bertentangan dengan Firman Tuhan, maka biarpun mereka memberlakukan
keketatan yang tidak wajar, atau mereka marah, atau bahkan mereka berlaku kejam,
maka hal-hal itu harus ditanggung / dipikul oleh anak-anak mereka.
Jadi,
kalau orang tua adalah orang-orang yang terlalu melindungi (overproteksi)
anak-anak sehingga melarang anak-anak pergi / memingit (‘memenjarakan’)
anak-anak, dsb, maka hal ini tetap tidak bertentangan dengan Firman Tuhan,
sehingga anak harus mentaati orang tua dalam hal seperti ini. Ini tentu tidak
gampang bagi anak!
2. Ketaatan
anak kepada orang tuanya dibatasi oleh umur.
Kita
tentu tidak bisa beranggapan bahwa anak harus tetap taat kepada orang tua pada
saat mereka sudah betul-betul dewasa, apalagi pada saat mereka sudah menikah dan
sebagainya. Tetapi sampai kapan / sampai umur berapa seorang anak harus taat
kepada orang tuanya?
John
Stott (hal 242,243) menganggap hal itu tergantung tradisi / budaya setempat.
Di Romawi pada jaman Paulus, anak harus tunduk kepada orang tua selama orang tua
masih hidup. Di Inggris pada abad 20, usia 18 tahun dianggap sudah dewasa dan
bebas dari orang tua.
3.
Mungkin saya bisa menambahkan sesuatu yang lain, yaitu bahwa ketaatan
anak kepada orang tua dibatasi oleh kondisi dari orang tua itu.
Kalau
orang tua itu sudah tua dan pikun, sehingga menyuruh yang bukan-bukan, saya
menganggap anak tidak harus mentaati mereka.
Catatan: sekalipun ada sikon dimana anak boleh tidak mentaati
orang tua, tetapi tidak demikian dengan sikap hormat, kasih, dan rasa terima
kasih kepada orang tua. Itu harus selalu ada secara mutlak. Jadi, pada saat
harus menolak untuk mentaati orang tua, anak harus tetap hormat, dan kasih
kepada mereka. Anak tidak boleh menolak untuk taat dengan cara yang kurang ajar!
Ini lagi-lagi bukan sesuatu yang gampang! Juga, pada saat anak sudah dewasa dan
tidak lagi ada di bawah otoritas orang tua, ia tetap harus menghormatinya.
Banyak anak memasukkan orang tua ke panti jompo, dan ini rasanya tidak mungkin
bisa sesuai dengan hukum ke 5 ini!
5)
Hormat kepada orang tua mencakup pemeliharaan terhadap mereka pada saat
mereka sudah tua / tidak bisa bekerja. Ini pasti akan ada kalau anak memang
mencintai orang tuanya.
Mat 15:4-6
- “(4) Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa
yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. (5) Tetapi kamu berkata:
Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang
dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan
kepada Allah, (6) orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya.
Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu
sendiri”.
Calvin
(tentang Kel 20:12):
“The third head of honour is, that children should take care of their
parents, and be ready and diligent in all their duties towards them. ... storks
supply food to their parents when they are feeble and worn out with old age, and
are thus our instructors in gratitude. Hence the barbarity of those is all the
more base and detestable, who either grudge or neglect to relieve the poverty of
their parents, and to aid their necessities” (= Point ketiga dari hormat
adalah, bahwa anak-anak harus memelihara orang tua mereka, dan siap dan rajin
dalam semua kewajiban mereka terhadap orang tua. ... burung bangau menyuplai
orang tua mereka ketika mereka telah menjadi lemah dan usang dengan usia tua,
dan dengan demikian menjadi pengajar-pengajar kita dalam rasa terima kasih.
Karena itu, sikap bar-bar dari mereka yang atau menggerutu atau mengabaikan
untuk meringankan kemiskinan dari orang tua mereka dan membantu kebutuhan
mereka, menjadi makin hina dan menjijikkan) - hal 9-10.
Editor dari Calvin’s Commentary: “This law many
men do carelessly neglect, which the stork alone, among all living creatures,
doth keep most precisely. For other creatures do hard, and scarcely know or look
upon their parents, if peradventure they need their aid to nourish them; whereas
the stork doth mutually nourish them, being stricken in age, and bear them on
her shoulders, when for feebleness they cannot fly” (= Hukum ini dilakukan dengan sembrono oleh banyak orang, dimana hanya
burung bangau, di antara semua makhluk hidup, melakukannya dengan paling tepat.
Karena makhluk lain memperlakukan dengan keras, dan jarang mengenal atau
menganggap orang tua mereka, jika kebetulan orang tua mereka membutuhkan bantuan
mereka untuk memelihara / memberi makan mereka; sedangkan burung bangau secara
bergotong royong memberi makan mereka, pada saat mereka menjadi tua, dan memikul
mereka pada bahunya, pada saat karena kelemahan mereka tidak dapat terbang) - hal 9
(footnote).
Adam
Clarke: “This precept therefore
prohibits, not only all injurious acts, irreverent and unkind speeches to
parents, but enjoins all necessary acts of kindness, filial respect, and
obedience. We can scarcely suppose that a man honours his parents who, when they
fall weak, blind, or sick, does not exert himself to the uttermost in their
support” (= Karena itu, perintah / ajaran ini melarang, bukan hanya semua
tindakan melukai, tidak hormat dan ucapan-ucapan yang tidak baik kepada orang
tua, tetapi juga memerintahkan semua tindakan kebaikan yang perlu, hormat dari
anak, dan ketaatan. Kita tidak bisa menganggap bahwa seseorang menghormati orang
tuanya, yang pada saat orang tuanya menjadi lemah, buta, atau sakit, tidak
berusaha sekuatnya dalam menyuport / menopang mereka).
6)
Bagaimana kalau ada hubungan yang bersifat dualisme / ganda antara anak
dengan bapa?
Misalnya
anaknya menjadi pendeta, sedangkan bapanya menjadi jemaatnya. Lalu siapa yang
harus menghormati siapa?
Calvin
(tentang Kel 20:12):
“all things may be so tempered by their mutual moderation as that,
whilst the father submits himself to the government of his son, yet he may not
be at all defrauded of his honour, and that the son, although his superior in
power, may still modestly reverence his father” (= segala sesuatu bisa
begitu disesuaikan oleh sikap saling moderat mereka, sehingga sementara sang
ayah menundukkan dirinya sendiri pada pemerintahan dari anaknya, tetapi ia tidak
boleh sama sekali dirampok dari kehormatannya, dan bahwa sang anak, sekalipun
lebih tinggi dalam kekuasaan, bisa dengan rendah hati tetap menghormati ayahnya)
- hal 9.
Saya
berpendapat bahwa dalam kasus adanya hubungan ganda seperti ini, maka kita harus
mempertanyakan dulu apa urusannya. Kalau urusan itu adalah urusan gereja maka
ayah itu harus menghormati dan tunduk kepada anaknya yang adalah pendeta, tetapi
kalau itu bukan urusan gereja, maka anaknya harus tetap menghormati ayahnya.
Yang
jelas, pada saat seorang anak mempunyai kedudukan lebih tinggi dari ayahnya, ia
tidak bisa mengabaikan begitu saja hukum kelima ini, tak peduli betapa rendah
kedudukan ayahnya.
Dalam
kasus Yesus, jelas bahwa hubungan yang bersifat dualisme ini ada. Sebagai
manusia, Ia adalah anak dari Maria (dan secara hukum / sah juga anak dari Yusuf)
dan karena itu Ia harus mentaati dan menghormati mereka. Tetapi sebagai Allah,
orang tuaNya yang harus mentaatiNya dan bahkan menyembah dan melayaniNya! Jadi,
dalam kasus-kasus dimana kelihatannya Yesus seolah-olah bersikap kurang ajar /
tidak hormat kepada Maria, seperti dalam Luk 2:49
Yoh 2:4 Mat 12:48, kita
harus mempertimbangkan hal ini!
Luk
2:49 - “JawabNya
kepada mereka: ‘Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus
berada di dalam rumah BapaKu?’”.
Yoh
2:4 - “Kata
Yesus kepadanya: ‘Mau apakah engkau dari padaKu, ibu? SaatKu belum tiba.’”.
Mat
12:48 - “Tetapi
jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepadaNya: ‘Siapa ibuKu?
Dan siapa saudara-saudaraKu?’”.
7)
Adanya hukum kelima ini mensyaratkan adanya kewajiban dari orang tua
terhadap anak-anak mereka.
Adam
Clarke: “1.
Since children are bound to succour their parents, so parents are bound to
educate and instruct their children in all useful and necessary knowledge, and
not to bring them up either in ignorance or idleness. 2. They should teach their
children the fear and knowledge of God, for how can they expect affection or
dutiful respect from those who do not have the fear of God before their eyes?
Those who are best educated are generally the most dutiful” (= 1. Karena
anak-anak harus menolong orang tua mereka, maka orang tua harus mendidik dan
mengajar anak-anak mereka dalam semua pengetahuan yang berguna dan perlu, dan
tidak membesarkan / mengasuh mereka atau dalam ketidak-tahuan / kebodohan atau
kemalasan. 2. Mereka harus mengajar anak-anak mereka rasa takut dan pengenalan
terhadap Allah, karena bagaimana mereka bisa mengharapkan kasih dan rasa hormat
yang patuh dari mereka yang tidak mempunyai rasa takut terhadap Allah di depan
mata mereka? Mereka yang dididik dengan cara yang terbaik biasanya adalah yang
paling patuh).
Kalau
saudara adalah orang-orang yang mendidik anak dengan cara yang tidak karuan,
maka perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
·
Amsal 10:1 - “Amsal-amsal
Salomo. Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang
bebal adalah kedukaan bagi ibunya”.
·
Amsal 15:20 - “Anak
yang bijak menggembirakan ayahnya, tetapi orang yang bebal menghina ibunya”.
·
Amsal 17:21 - “Siapa
mendapat anak yang bebal, mendapat duka, dan ayah orang bodoh tidak akan
bersukacita”.
·
Amsal 17:25 - “Anak
yang bebal menyakiti hati ayahnya, dan memedihkan hati ibunya”.
·
Amsal 19:13 - “Anak
bebal adalah bencana bagi ayahnya, dan pertengkaran seorang isteri adalah
seperti tiris yang tidak henti-hentinya menitik”.
·
Amsal 28:7 - “Orang
yang memelihara hukum adalah anak yang berpengertian, tetapi orang yang bergaul
dengan pelahap mempermalukan ayahnya”.
·
Amsal 22:6 - “Didiklah
orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak
akan menyimpang dari pada jalan itu”.
·
Amsal 29:17 - “Didiklah
anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita
kepadamu”.
·
Ef 6:4 - “Dan
kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi
didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan”.
Juga
ayat-ayat ini:
¨
Amsal 22:15 - “Kebodohan
melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari
padanya”.
¨
Amsal 23:13-14 - “(13)
Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya
dengan rotan. (14) Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan
nyawanya dari dunia orang mati”.
¨
Amsal 29:15,17
- “(15) Tongkat dan teguran
mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya. ... (17)
Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan
sukacita kepadamu”.
¨
Amsal 19:18 - “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi
jangan engkau menginginkan kematiannya”.
Bagian yang saya garis bawahi diterjemahkan berbeda
oleh KJV, tetapi RSV/NIV/NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia.
KJV: ‘and let not thy soul spare for his
crying’ (= dan jangan biarkan jiwamu menyayangkan tangisannya).
Para penafsir tidak sependapat tentang mana
yang benar dari 2 terjemahan ini.
Ada lagi
penafsir kelompok 3 yang menterjemahkan ‘Don’t avoid chastening and
(thus) bring on his death’ (= Jangan menghindari penghajaran dan dengan
demikian membawa kematiannya).
Wycliffe,
Bible Knowledge Commentary menerima terjemahan / penafsiran ini.
Adam
Clarke dan Matthew Henry setuju dengan terjemahan KJV.
Adam
Clarke (tentang Amsal 19:18): “‘Let
not thy soul spare for his crying.’ This is a hard precept for a parent.
Nothing affects the heart of a parent so much as a child’s cries and tears.
But it is better that the child may be caused to cry, when the correction may be
healthful to his soul, than that the parent should cry afterward, when the child
is grown to man’s estate, and his evil habits are sealed for life” (=
‘jangan biarkan jiwamu menyayangkan tangisannya’. Ini adalah suatu
ajaran / perintah yang sukar bagi orang tua. Tak ada yang lebih mempengaruhi
hati dari orang tua begitu banyak seperti tangisan dan air mata dari seorang
anak. Tetapi adalah lebih baik bahwa seorang anak dijadikan menangis, pada waktu
koreksi itu bisa sehat bagi jiwanya, dari pada bahwa orang tua akan menangis
belakangan, pada waktu anak itu bertumbuh ke tingkat dewasa, dan kebiasaan
jahatnya dimeteraikan seumur hidup).
Jamieson,
Fausset & Brown, Barnes, Keil & Delitzsch, Pulpit Commentary setuju
dengan terjemahan RSV/NIV/NASB. Kelihatannya pandangan ini yang paling banyak
diikuti para penafsir maupun penterjemah Alkitab bahasa Inggris.
Jamieson,
Fausset & Brown (tentang Amsal 19:18):
“‘And
let not thy soul spare for his crying.’ ... But Gejer, Grotius, and Maurer
take it ..., ‘But do not let thy soul rise to killing him.’ Avoid both
extremes, either the withholding of chastisement, or extreme severity in it.
Cartwright takes it, ‘Let not thy soul spare him, to his destruction,’ when
he will be past ‘hope’ ... You have your choice, either that he should feel
your rod, or else the sword of avenging justice. I prefer this as forming the
best antithesis to the parallel ‘while there is hope,’” (= ‘dan janganlah jiwamu menyayangkan tangisannya’. ... Tetapi Gejer,
Grotius, dan Maurer mengartikannya ..., ‘Tetapi jangan biarkan jiwamu bangkit
untuk membunuhnya’. Hindarkan kedua extrim, atau menahan penghajaran, atau
kekerasan yang extrim dalam penghajaran. Cartwright mengartikannya, ‘Jangan
hendaknya jiwamu menyayangkan dia, kepada kehancurannya’, pada waktu ia telah
melewati ‘pengharapan’ ... Kamu mempunyai pilihanmu, atau bahwa ia merasakan
tongkatmu, atau kalau tidak ia akan merasakan pedang dari keadilan yang
membalas. Saya lebih memilih ini sebagai membentuk antitesis yang terbaik bagi
bagian paralelnya ‘selama ada harapan’,).
¨
Amsal 13:24 - “Siapa
tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya,
menghajar dia pada waktunya”.
Matthew Henry (tentang Amsal 13:24): “every
child of ours is a child of Adam, and therefore has that foolishness bound up in
its heart which calls for rebuke, more or less, the rod and reproof which give
wisdom. ... It is good to begin betimes with the necessary restraints of
children from that which is evil, before vicious habits are confirmed. The
branch is easily bent when it is tender. ... Those really hate their children,
though they pretend to be fond of them, that do not keep them under a strict
discipline, and by all proper methods, severe ones when gentle ones will not
serve, make them sensible of their faults and afraid of offending” (=
setiap anak kita adalah anak / keturunan Adam, dan karena itu mempunyai
kebodohan yang terikat dalam hatinya yang memerlukan comelan / kemarahan, banyak
atau sedikit, tongkat dan teguran yang memberi hikmat. ... Adalah baik untuk
memulai sejak dini dengan pengekangan yang perlu terhadap anak-anak dari apa
yang jahat, sebelum kebiasaan yang jahat menetap. Ranting mudah dibengkokkan
pada saat masih lembut / muda. ... Mereka betul-betul membenci anak-anak mereka,
sekalipun mereka berpura-pura sangat mencintai mereka, yang tidak menjaga mereka
di bawah disiplin yang ketat, dan dengan semua metode / cara yang benar, metode
/ cara yang keras pada waktu yang lembut tidak menolong, membuat mereka
berpikiran sehat tentang kesalahan mereka dan takut untuk melanggar).
Wycliffe Bible Commentary (tentang Amsal 13:24): “We
should remember, however, that Proverbs does not recommend brutal beatings. Nor
is physical chastisement the only instrument of child training mentioned (cf.
22:6). Indeed, instruction in righteousness and in the fear of the Lord is that
without which mere whipping will fail” [= Tetapi kita harus ingat bahwa
Amsal tidak menganjurkan pemukulan yang brutal. Juga penghajaran secara fisik
bukanlah satu-satunya cara pendidikan anak yang disebutkan (bdk. 22:6). Memang,
pengajaran dalam kebenaran dan dalam rasa takut terhadap Tuhan adalah pengajaran
tanpa mana sekedar penderaan akan gagal].
Orang
tua tidak boleh membiarkan anak untuk berlaku kurang ajar terhadap mereka
(apalagi menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu, khususnya untuk anak kecil).
Orang tua harus mengajar anaknya untuk hormat dan taat kepada mereka, dan bahkan
kalau perlu menghajar / mendisiplin anak-anaknya! Orang tua yang membiarkan
anaknya kurang ajar terhadap mereka harus memikirkan hal ini: apakah aku ingin
anak-anakku dihukum mati dan lalu dibuang ke neraka oleh Tuhan? Dalam Perjanjian
Lama, imam besar Eli kelihatannya kurang mendidik anak-anaknya dengan baik,
sehingga menyebabkan mereka menjadi bejad, dan akhirnya dihukum mati oleh Tuhan.
Keharusan
menggunakan tongkat kontras dengan pembiaran dan / atau pemanjaan terhadap anak.
Amsal
29:21 - “Siapa memanjakan hambanya
sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala”.
KJV:
‘He that delicately bringeth up his
servant from a child shall have him become his son at the length’ (= Ia
yang mengasuh / membesarkan dengan lembut pelayannya sejak anak / muda pada
akhirnya akan menjadikan dia anaknya).
RSV:
‘He who pampers his servant from
childhood, will in the end find him his heir’ (= Ia yang memanjakan
pelayannya sejak anak / kecil, pada akhirnya akan mendapati dia sebagai
pewarisnya).
NIV:
‘If a man pampers his servant from
youth, he will bring grief in the end’ (= Jika seseorang memanjakan
pelayannya dari muda, pada akhirnya ia akan membawa kesedihan).
NASB:
‘He who pampers his slave from childhood
Will in the end find him to be a son’ (= Ia yang memanjakan hambanya sejak
anak, pada akhirnya akan mendapati dia sebagai seorang anak).
Catatan:
kata Ibrani yang diterjemahkan ‘son’ (= anak) dalam KJV/NASB hanya muncul ditempat ini dan tak
diketahui artinya dengan pasti.
Adam
Clarke (tentang Amsal 29:21): “‘He
that delicately bringeth up his servant.’ Such persons are generally forgetful
of their obligations, assume the rights and privileges of children, and are
seldom good for anything” (= ‘Ia yang mengasuh / membesarkan dengan
lembut pelayannya’. Orang-orang seperti itu biasanya lupa akan tanggung jawab
mereka, mengambil hak-hak dari anak-anak, dan jarang jadi baik untuk apapun).
Matthew
Henry (tentang Amsal 29:21): “Note,
1. It is an imprudent thing in a master to be too fond of a servant, to advance
him too fast, and admit him to be too familiar with him, to suffer him to be
over-nice and curious in his diet, and clothing, and lodging, and so to bring
him up delicately, because he is a favourite, and an agreeable servant; it
should be remembered that he is a servant, and, by being thus indulged, will be
spoiled for any other place. ... 2. It is an ungrateful thing in a servant, but what
(that?)
is very common, to behave insolently because he has been used tenderly. .. the
pampered slave thinks himself too good to be called a servant, and will be a son
at the length, will take his ease and liberty, will be on a par with his master,
and perhaps pretend to the inheritance. Let masters give their servants that
which is equal and fit for them, and neither more nor less”
(= Perhatikan, 1. Merupakan suatu hal yang tidak bijaksana dalam diri seorang
tuan untuk menjadi terlalu sayang kepada seorang pelayan, untuk mempromosikan
dia terlalu cepat, dan mengijinkan dia untuk menjadi terlalu dekat / akrab
dengannya, membiarkan dia untuk menjadi terlalu enak / senang dan diperhatikan
dalam makanannya, dan pakaiannya, dan tempat tinggalnya, dan dengan demikian
membesarkan dia dengan lembut, karena ia adalah seorang yang favorit, dan
seorang pelayan yang menyenangkan; harus diingat bahwa ia adalah seorang
pelayan, dan dengan dituruti / dimanjakan seperti itu, akan dirusak untuk tempat
lain manapun. ... 2. Merupakan sikap tidak tahu terima kasih dalam diri seorang
pelayan, tetapi itu merupakan sesuatu yang sangat umum, untuk berkelakuan secara
kurang ajar karena ia telah diperlakukan dengan lembut. ... hamba yang
dimanjakan menganggap dirinya sendiri terlalu bagus untuk disebut seorang
pelayan, dan akhirnya akan menjadi seorang anak, akan mengambil kesenangan dan
kebebasannya, dan mungkin mengclaim
warisan. Hendaklah tuan-tuan memberikan pelayan-pelayan mereka apa yang setara
dan cocok untuk mereka, dan tidak lebih ataupun kurang).
Jadi,
sekalipun seorang tuan dilarang untuk berlaku kejam atau tidak adil terhadap
pelayannya, dan harus mengasihinya, itu berbeda dengan memanjakannya. Pelayan /
hamba yang dimanjakan biasanya menjadi kurang ajar dan tidak tahu diri. Ini
pasti juga berlaku untuk pegawai, dan bahkan untuk anak.
Contoh-contoh
pemanjaan terhadap anak / pendidikan yang buruk terhadap anak dan akibatnya:
*
Eli yang mendidik anak-anaknya
dengan cara yang buruk / kurang tegas.
1Sam 2:12-17,22-25,27-36
- “(12) Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila;
mereka tidak mengindahkan TUHAN, (13) ataupun batas hak para imam terhadap
bangsa itu. Setiap kali seseorang mempersembahkan korban sembelihan, sementara
daging itu dimasak, datanglah bujang imam membawa garpu bergigi tiga di
tangannya (14) dan dicucukkannya ke dalam bejana atau ke dalam kuali atau ke
dalam belanga atau ke dalam periuk. Segala yang ditarik dengan garpu itu ke
atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri. Demikianlah mereka memperlakukan
semua orang Israel yang datang ke sana, ke Silo. (15) Bahkan sebelum lemaknya
dibakar, bujang imam itu datang, lalu berkata kepada orang yang mempersembahkan
korban itu: ‘Berikanlah daging kepada imam untuk dipanggang, sebab ia tidak
mau menerima dari padamu daging yang dimasak, hanya yang mentah saja.’ (16)
Apabila orang itu menjawabnya: ‘Bukankah lemak itu harus dibakar dahulu,
kemudian barulah ambil bagimu sesuka hatimu,’ maka berkatalah ia kepada orang
itu: ‘Sekarang juga harus kauberikan, kalau tidak, aku akan mengambilnya
dengan kekerasan.’ (17) Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang
muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN.
... (22) Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan
anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan
perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, (23)
berkatalah ia kepada mereka: ‘Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu,
sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang
jahat itu? (24) Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar
itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran. (25) Jika seseorang
berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika
seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?’
Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak
mematikan mereka. .... (27) Seorang abdi Allah datang kepada Eli dan berkata
kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Bukankah dengan nyata Aku menyatakan
diriKu kepada nenek moyangmu, ketika mereka masih di Mesir dan takluk kepada
keturunan Firaun? (28) Dan Aku telah memilihnya dari segala suku Israel menjadi
imam bagiKu, supaya ia mempersembahkan korban di atas mezbahKu, membakar ukupan
dan memakai baju efod di hadapanKu; kepada kaummu telah Kuserahkan segala korban
api-apian orang Israel. (29) Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban
sembelihanKu dan korban sajianKu, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa
engkau menghormati anak-anakmu lebih dari padaKu, sambil kamu menggemukkan
dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umatKu Israel? (30)
Sebab itu - demikianlah firman TUHAN, Allah Israel - sesungguhnya Aku telah
berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapanKu selamanya, tetapi
sekarang - demikianlah firman TUHAN - : Jauhlah hal itu dari padaKu! Sebab siapa
yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan
dipandang rendah. (31) Sesungguhnya akan datang waktunya, bahwa Aku akan
mematahkan tangan kekuatanmu dan tangan kekuatan kaummu, sehingga tidak ada
seorang kakek dalam keluargamu. (32) Maka engkau akan memandang dengan mata
bermusuhan kepada segala kebaikan yang akan Kulakukan kepada Israel dan dalam
keluargamu takkan ada seorang kakek untuk selamanya. (33) Tetapi seorang dari
padamu yang tidak Kulenyapkan dari lingkungan mezbahKu akan membuat matamu rusak
dan jiwamu merana; segala tambahan keluargamu akan mati oleh pedang lawan. (34) Inilah
yang akan menjadi tanda bagimu, yakni apa yang akan terjadi kepada kedua anakmu
itu, Hofni dan Pinehas: pada hari yang sama keduanya akan mati. (35) Dan Aku
akan mengangkat bagiKu seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan
hatiKu dan jiwaKu, dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia,
sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi. (36) Kemudian siapa yang
masih tinggal hidup dari keturunanmu akan datang sujud menyembah kepadanya
meminta sekeping uang perak atau sepotong roti, dan akan berkata: Tempatkanlah
kiranya aku dalam salah satu golongan imam itu, supaya aku dapat makan sekerat
roti.’”.
Eli
tidak menindak dengan keras anak-anaknya yang jelas-jelas melakukan dosa-dosa
yang hebat, dan ini dianggap sebagai menghormati anak-anaknya lebih dari pada
Tuhan!
Kita
memang harus berhati-hati untuk tidak menjadi ‘hakim yang terlalu keras’
yang sama sekali tidak bisa menoleransi kelemahan sesama kita, tetapi sebaliknya
kita juga harus berhati-hati untuk tidak terus sabar terhadap orang bersalah
yang seharusnya ditindak! Bdk. 1Kor 5:1-13
2Kor 11:4.
*
Anehnya, Samuel yang tahu tentang
pendidikan Eli yang buruk terhadap anak-anaknya dan apa akibatnya, ternyata juga
tidak mendidik anak-anaknya dengan baik.
1Sam
8:1-5 - “(1) Setelah Samuel menjadi
tua, diangkatnyalah anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel. (2)
Nama anaknya yang sulung ialah Yoel, dan nama anaknya yang kedua ialah Abia;
keduanya menjadi hakim di Bersyeba. (3) Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup
seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan
keadilan. (4) Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang
kepada Samuel di Rama (5) dan berkata kepadanya: ‘Engkau sudah tua dan anak-anakmu
tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami
untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.’”.
*
Kelihatannya Daud juga buruk dalam
mendidik anak, dan ini terlihat dari anak-anaknya yang menjadi brengsek seperti
Absalom dan Amnon.
Tuhan
sendiri memberikan teladan dalam mendidik kita sebagai anak-anakNya. Ibr 12:5-11
- “(5) Dan sudah lupakah kamu akan
nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku,
janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila
engkau diperingatkanNya; (6) karena Tuhan menghajar orang yang
dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.’ (7) Jika
kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di
manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi,
jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu
bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. (9) Selanjutnya: dari ayah kita
yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian
bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?
(10) Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang
mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya
kita beroleh bagian dalam kekudusanNya. (11) Memang tiap-tiap ganjaran
pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi
kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang
dilatih olehnya”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali