(Rungkut Megah
Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 19 Desember 2010, pk 17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
http://golgothaministry.org
Kel 20:8-11 - “(8)
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: (9) enam hari lamanya engkau akan bekerja
dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat
TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu
laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu
perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. (11) Sebab
enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya,
dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat
dan menguduskannya”.
2) Kita harus berbakti kepada Tuhan pada hari Sabat.
Im 23:3
- “Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang
ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, yakni hari pertemuan kudus;
janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah sabat bagi TUHAN di segala
tempat kediamanmu”.
Im 19:30
- “Kamu harus memelihara hari-hari sabatKu dan menghormati tempat
kudusKu; Akulah TUHAN”.
Maz 92:1-5
- “(1) Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat. (2)
Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur
bagi namaMu, ya Yang Mahatinggi, (3) untuk memberitakan kasih setiaMu di waktu
pagi dan kesetiaanMu di waktu malam, (4) dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan
dengan gambus, dengan iringan kecapi. (5) Sebab telah Kaubuat aku bersukacita,
ya TUHAN, dengan pekerjaanMu, karena perbuatan tanganMu aku akan
bersorak-sorai”.
Bil 28:9-10
- “(9) ‘Pada hari Sabat: dua ekor domba berumur setahun yang tidak
bercela, dan dua persepuluh efa tepung yang terbaik sebagai korban sajian,
diolah dengan minyak, serta dengan korban curahannya. (10) Itulah korban bakaran
Sabat pada tiap-tiap Sabat, di samping korban bakaran yang tetap dan korban
curahannya”.
Yeh 46:1-3
- “(1) Beginilah firman Tuhan ALLAH: Pintu gerbang pelataran dalam yang
menghadap ke sebelah timur haruslah tertutup selama enam hari kerja, tetapi pada
hari Sabat supaya dibuka; pada hari bulan baru juga supaya dibuka. (2) Raja itu
akan masuk dari luar melalui balai gerbang dan akan berdiri dekat tiang pintu
gerbang itu. Sementara itu imam-imam akan mengolah korban bakaran dan korban
keselamatan raja itu dan ia akan sujud menyembah di ambang pintu gerbang itu,
lalu keluar lagi. Dan pintu gerbang itu tidak boleh ditutup sampai petang hari.
(3) Penduduk negeri juga harus turut sujud menyembah di hadapan TUHAN di pintu
gerbang itu pada hari Sabat dan hari bulan baru”.
Ada
beberapa hal yang ingin saya tekankan berkenaan dengan ibadah / kebaktian pada
hari Sabat.
a)
Sebenarnya ‘berbakti kepada Tuhan’ merupakan tujuan dari istirahat
pada hari Sabat. Bukan sekedar istirahatnya semata-mata yang ditekankan, tetapi
kita harus beristirahat / berhenti mengurusi urusan sehari-hari kita, supaya
kita bisa menggunakan hari itu untuk berbakti kepada Tuhan.
John
Murray: “The
weekly sabbath is based upon the divine example; the divine mode of procedure in
creation determines one of the basic cycles by which human life here on earth is
regulated, namely, the weekly cycle; this sequence of six days of labour and one
of rest have applied to Adam in the state of innocence ...” (= Sabat
mingguan didasarkan pada teladan ilahi; cara / prosedur ilahi dalam penciptaan
menentukan satu dari siklus dasar oleh mana kehidupan manusia di bumi diatur,
yaitu, siklus mingguan; urutan enam hari kerja dan satu hari istirahat ini telah
diterapkan kepada Adam dalam keadaan tidak berdosa) - ‘Principles of
Conduct’, hal 34.
John
Murray: “Even
in innocence man would have required time for specific worship. ... Unfallen man
would need to suspend his weekly labours in order to refresh himself with the
exercises of concentrated worship” (= Bahkan dalam keadaan tidak berdosa
manusia membutuhkan waktu tertentu untuk ibadah / kebaktian. ... Manusia yang
belum jatuh ke dalam dosa butuh untuk menghentikan pekerjaan-pekerjaan
mingguannya untuk menyegarkan dirinya sendiri dengan pelaksanaan dari ibadah
yang terkonsentrasi) - ‘Principles of Conduct’, hal 34.
Calvin
(tentang Kel 20:8):
“Surely God has no delight in idleness and sloth, and therefore there
was no importance in the simple cessation of the labours of their hands and
feet; nay, it would have been childish superstition to rest with no other view
than to occupy their repose in the service of God. ... they were only called
away from their own works, that, as if dead to themselves and to the world, they
might wholly devote themselves to God. ... we must see what is the sum of
this sanctification, viz., the death of the flesh, when men deny themselves and
renounce their earthly nature, so that they may be ruled and guided by the
Spirit of God” (= Jelas bahwa Allah tidak menyenangi kemalasan, dan karena
itu tidak ada kepentingan dalam sekedar penghentian dari pekerjaan dari tangan
dan kaki mereka; tidak, merupakan suatu takhyul yang kekanak-kanakan untuk
beristirahat tanpa maksud untuk mengisi istirahat mereka dalam kebaktian /
pelayanan Allah. ... mereka hanya dipanggil untuk menjauh dari
pekerjaan-pekerjaan mereka sendiri, supaya, seakan-akan mati bagi diri mereka
sendiri dan bagi dunia, mereka bisa membaktikan diri mereka seluruhnya kepada
Allah. ... kita harus melihat intisari dari pengudusan ini, yaitu mati bagi
daging, pada waktu manusia menyangkal diri mereka sendiri dan meninggalkan sifat
duniawi mereka, sehingga mereka bisa diatur dan dipimpin oleh Roh Allah) -
hal 434.
Calvin
(tentang Kel 20:8):
“the legitimate use of the Sabbath must be supposed to be
self-renunciation, since he is in fact accounted to cease from his works who is
not led by his own will nor indulges his own wishes, but who suffers himself to
be directed by the Spirit of God” (= penggunaan yang sah dari Sabat harus
dianggap sebagai penyangkalan diri sendiri, karena ia yang dianggap berhenti
dari pekerjaan-pekerjaannya sebetulnya adalah ia yang tidak dibimbing oleh
kehendaknya sendiri maupun menuruti pemuasan keinginannya sendiri, tetapi ia
yang membiarkan dirinya diarahkan oleh Roh Allah) - hal 436.
Calvin
(tentang Kel 20:8):
“There is indeed no moment which should be allowed to pass in which we
are not attentive to the consideration of the wisdom, power, goodness, and
justice of God in His admirable creation and government of the world; but, since
our minds are fickle, and apt therefore to be forgetful or distracted, God, in
his indulgence providing against our infirmities, separates one day from the
rest, and commands that it should be free from all earthly business and cares,
so that nothing may stand in the way of that holy occupation. On this ground
He did not merely wish that people should rest at home, but that they should
meet in the sanctuary, there to engage themselves in prayer and sacrifices,
and to make progress in religious knowledge through the interpretation of the
Law” (= Memang tidak ada saat / waktu yang boleh dibiarkan berlalu dalam
mana kita tidak memberi perhatian pada pertimbangan / perenungan tentang hikmat,
kuasa, kebaikan, dan keadilan dari Allah dalam penciptaanNya dan pemerintahanNya
atas alam semesta yang mengagumkan; tetapi karena pikiran kita plin-plan, dan
karena itu condong untuk lupa atau disimpangkan, maka Allah, dalam kebaikanNya
bersiap-siap untuk menghadapi kelemahan-kelemahan kita, memisahkan satu hari
dari yang lainnya, dan memerintahkan bahwa hari itu harus bebas dari semua
kesibukan dan kekuatiran duniawi, sehingga tidak ada apapun yang menghalangi
pekerjaan / kesibukan kudus itu. Berdasarkan hal ini Ia tidak semata-mata
menginginkan supaya manusia harus beristirahat di rumah, tetapi supaya mereka
bertemu di tempat kudus, menyibukkan diri mereka sendiri dalam doa dan
korban-korban di sana, dan untuk membuat kemajuan dalam pengetahuan agamawi
melalui penafsiran dari hukum Taurat) - hal 437.
Matthew
Henry (tentang Yer 17:19-27):
“They must apply themselves to that which is the proper work and
business of the day: ‘Hallow you the sabbath, that is, consecrate it to the
honour of God and spend it in his service and worship.’ It is in order to
this that worldly business must be laid aside, that we may be entire for, and
intent upon, that work, which requires and deserves the whole man” (=
Mereka harus menerapkan kepada diri mereka sendiri pekerjaan dan kesibukan yang
benar pada hari itu: ‘Kuduskanlah hari Sabat, yaitu, kuduskanlah hari itu bagi
kehormatan Allah dan habiskanlah / gunakanlah hari itu untuk pelayanan dan
penyembahan / ibadah’. Adalah untuk tujuan ini maka kesibukan / urusan
duniawi harus disingkirkan, supaya kita bisa sepenuhnya untuk, dan
bersungguh-sungguh untuk, pekerjaan itu, yang membutuhkan / menuntut dan layak
mendapatkan seluruh manusia).
Jamieson, Fausset & Brown: “the
physical rest, though necessarily made prominent in the prohibitory form of the
enactment ... did not certainly comprehend the whole or the chief object of the
institution. Such abstinence from ‘any manner of work’ would not be
equivalent to ‘keeping holy the Sabbath day.’ It is a part - an important,
but not the principal, end of it, which was to afford an opportunity of
worshipping God” [= istirahat fisik, sekalipun perlu ditonjolkan dalam
bentuk larangan dari undang-undang ... jelas tidak meliputi seluruh hukum
ataupun merupakan tujuan utama dari hukum. Tindakan menjauhkan diri dari
‘setiap bentuk pekerjaan’ seperti itu tidak akan sama dengan ‘menjaga
kekudusan hari Sabat’. Itu merupakan sebagian, suatu tujuan yang penting
tetapi bukan tujuan yang utama darinya, yang adalah mengadakan suatu kesempatan
untuk berbakti kepada Allah].
Jadi,
melakukan hal-hal dalam kebaktian, seperti berdoa, menyanyi, mendengar / belajar
Firman Tuhan, dan bahkan melayani, jelas bukan dosa, tetapi bahkan merupakan
hal-hal yang harus dilakukan pada hari Sabat, dan merupakan tujuan utama adanya
hari Sabat.
Bdk.
Maz 92:1-5 - “(1) Mazmur.
Nyanyian untuk hari Sabat. (2) Adalah baik untuk menyanyikan
syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi namaMu, ya Yang
Mahatinggi, (3) untuk memberitakan kasih setiaMu di waktu pagi dan kesetiaanMu
di waktu malam, (4) dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan
iringan kecapi. (5) Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan
pekerjaanMu, karena perbuatan tanganMu aku akan bersorak-sorai”.
Catatan: memang ayat 1 (yang saya garis-bawahi),
sebetulnya bukan termasuk dalam Kitab Suci. Kalau saudara menggunakan Kitab Suci
bahasa Inggris maka bagian ini diletakkan di atas sebagai judul, dan ay 2 dalam
Kitab Suci Indonesia merupakan ay 1 dalam Kitab Suci bahasa Inggris. Ay 1
dalam Kitab Suci Indonesia ini merupakan sesuatu yang ditambahkan kepada mazmur
ini, dan seringkali bisa membuat kita lebih mengerti latar belakang mazmur
tersebut. Tetapi bagian seperti ini tidak selalu benar. Kalau ay 1 dalam Kitab
Suci Indonesia ini benar, maka kontext dari bagian ini adalah ‘nyanyian untuk
hari Sabat’.
Matthew
Henry (tentang Maz 92): “This psalm was appointed to be
sung, at least it usually was sung, in the house of the sanctuary on the sabbath
day” (= Mazmur ini ditetapkan untuk dinyanyikan, setidaknya itu biasanya
dinyanyikan, dalam tempat kudus pada hari Sabat).
Matthew
Henry (tentang Maz 92):
“The sabbath day must be a day, not only of holy rest, but of holy work,
and the rest is in order to the work” (= Hari Sabat haruslah menjadi suatu
hari, bukan hanya dari istirahat yang kudus, tetapi pekerjaan yang kudus, dan
istirahat itu tujuannya untuk pekerjaan itu).
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Maz 92): “this psalm is for the ‘holy convocation’ on ‘the
Sabbath’ (Lev. 23:3). On it the Church is to ‘rest from her own works,’
and to ‘triumph in the Lord’s work’ (Ps. 92:4) in saving her and
destroying her foes” [= mazmur ini adalah untuk ‘pertemuan kudus’ pada
hari Sabat (Im 23:3). Pada hari itu Gereja harus ‘beristirahat dari
pekerjaan-pekerjaannya sendiri’, dan ‘bersukacita dalam pekerjaan Tuhan’
(Maz 92:4) dalam menyelamatkannya dan menghancurkan musuh-musuhnya].
b) Kalau
ada orang yang pada hari Sabat hanya beristirahat tetapi tidak berbakti, maka
ada juga yang sebaliknya. Mereka berbakti, tetapi lalu bekerja lagi setelah
kebaktian itu selesai. Atau, mereka bekerja dulu, dan lalu pada sore hari baru
berbakti kepada Tuhan / ke gereja.
Ini tetap salah, karena seluruh hari Sabat itu harus untuk Tuhan.
Thomas
Watson: “The
Lord forbade manna to be gathered on the Sabbath. ... One might think it would
have been allowed, as manna was the ‘staff of their life;’ and the time when
it fell was between five and six in the morning, so that they might have
gathered it betimes, and all the rest of the Sabbath might have been employed in
God’s worship; and besides, they needed not to have taken any great journey
for it, for it was but stepping out of their doors, and it fell about their
tents: and yet they might not gather it on the Sabbath: and for purposing only
to do it, God was very angry” (= Tuhan melarang manna dikumpulkan pada
hari Sabat. ... Seseorang bisa berpikir bahwa itu akan diijinkan, karena manna
merupakan ‘bahan pokok dari kehidupan mereka’; dan saat dimana manna itu
jatuh adalah di antara pk 5 dan pk 6 pagi, sehingga mereka bisa mengumpulkannya
sangat pagi, dan seluruh sisa dari hari Sabat bisa digunakan dalam ibadah kepada
Allah; dan disamping itu, mereka tidak perlu melakukan perjalanan yang jauh
untuk hal itu, karena mereka hanya perlu melangkah keluar pintu mereka dan manna
itu jatuh di sekitar tenda-tenda mereka: tetapi toh mereka tidak boleh
mengumpulkan manna itu pada hari Sabat: dan hanya karena adanya maksud seperti
itu sudah membuat Allah sangat marah) - ‘The Ten Commandments’, hal 99.
c) Sebetulnya,
pergi ke gereja
pada hari Sabat / Minggu itu bukan hanya merupakan kewajiban kita, tetapi juga
kebutuhan kita.
Thomas
Watson: “The
Sabbath-day is for our interest; it promotes holiness in us. The business of
week-days makes us forgetful of God and our souls: the Sabbath brings him back
to our remembrance” (= Hari Sabat adalah untuk kepentingan kita; itu
memajukan kekudusan dalam diri kita. Kesibukan dari hari-hari dalam minggu itu
membuat kita lupa kepada Allah dan jiwa kita: hari Sabat membawa Dia kembali
pada ingatan kita) - ‘The Ten Commandments’, hal 94.
Seseorang
mengatakan: “After
looking at the earth for six days we need the Lord’s day to look up” (=
Setelah melihat pada bumi / dunia selama 6 hari, kita membutuhkan hari Tuhan
untuk melihat ke atas).
d) Kita
harus berbakti kepada Tuhan di gereja (Im 19:30 26:2
Luk 4:16).
Im 19:30
- “Kamu harus memelihara hari-hari sabatKu dan menghormati tempat
kudusKu; Akulah TUHAN”.
Im 26:2
- “Kamu harus memelihara hari-hari SabatKu dan menghormati tempat
kudusKu, Akulah TUHAN”.
Luk
4:16 - “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut
kebiasaanNya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak
membaca dari Alkitab”.
Dari
2 ayat dalam kitab Imamat di atas bisa terlihat dengan jelas bahwa ‘pemeliharaan
hari Sabat’
dihubungkan dengan tindakan ‘menghormati tempat kudus Allah’. Jadi, jelas bahwa pada
hari Sabat kita memang harus berbakti kepada Tuhan.
Jadi,
berbakti kepada Tuhan, bukanlah sekedar merupakan anjuran, tetapi merupakan
suatu keharusan. Jadi, kalau kita tidak melakukannya, kita berdosa.
Ada beberapa hal yang ingin saya persoalkan:
1. Kita tidak boleh
berbakti di rumah sendiri (kecuali kalau rumah saudara memang dijadikan gereja).
Ada
orang-orang yang berbakti kepada Tuhan di rumahnya sendiri (membaca Kitab Suci
sendiri, berdoa sendiri, menyanyi sendiri, dsb). Dengan adanya Mimbar agama
Kristen di TV pada hari Minggu, hal ini bisa dilakukan oleh makin banyak orang.
Tetapi
ini bukan cara berbakti yang benar, dan ini terlihat dari:
a.
Ul 12:5-7 - “(5) Tetapi tempat
yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediamanNya untuk
menegakkan namaNya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus
kamu pergi. (6) Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban
sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban
nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing
dombamu. (7) Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria,
kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN,
Allahmu”.
Sebelum
jaman Musa, maka tempat ibadah kepada Tuhan belum ditetapkan, dan karena itu
orang boleh beribadah di mana-mana. Tetapi sejak jaman Musa, Tuhan menetapkan
satu tempat ibadah tertentu. Tetapi penetapan
tempatnya juga bisa berubah.
·
pada saat Israel
ada di padang gurun, tentu saja Kemah Sucinya berpindah-pindah sesuai dengan
keberadaan mereka.
·
pada jaman Eli dan
Samuel, Kemah Suci ada di Silo (1Sam 1:3,9,24 1Sam 2:14 1Sam
3:21 1Sam 4:3).
·
pada jaman Daud,
Kemah Suci dipindahkan ke Yerusalem (2Sam 6).
Tetapi pada jaman Perjanjian Baru, tidak ada
tempat yang ditetapkan.
Yoh 4:20-24 - “(20) Nenek moyang kami
menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat
orang menyembah.’ (21) Kata Yesus kepadanya: ‘Percayalah kepadaKu, hai
perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini
dan bukan juga di Yerusalem. (22) Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami
menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. (23)
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah
benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki
penyembah-penyembah demikian. (24) Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia,
harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.’”.
Kata-kata
‘menyembah dalam roh’ di sini dikontraskan dengan kata-kata ‘menyembah
secara lahiriah’. Contoh penyembahan yang lahiriah adalah penekanan tempat
tertentu untuk ibadah, doa dsb (dalam kontex ini jelas inilah yang dimaksud.
Bdk. ay 21). Dari sini jelas bahwa:
¨
Orang
kristen tidak punya tempat / kota suci.
Jadi,
Yerusalem, maupun Israel / Kanaan bukan merupakan tempat suci bagi orang
kristen!
¨
Orang
kristen tidak harus berbakti di gedung gereja.
Rumah,
restoran, ruang senam, lapangan, atau tempat manapun / apapun, boleh dipakai
sebagai tempat untuk berbakti.
Catatan: kalau pemerintah melarang hal-hal itu, itu lain
urusan. Tetapi Kitab Suci sendiri tidak pernah melarang kebaktian di
tempat-tempat seperti itu.
¨
Orang
kristen tidak perlu pergi ke suatu tempat tertentu (misalnya bukit doa) kalau
mau berdoa. Memang kita harus mencari tempat yang sunyi, tetapi bukan tempat
tertentu.
¨
Orang
kristen tidak perlu pergi ke tempat tertentu untuk mendapat berkat tertentu.
Bandingkan dengan Gereja Roma Katolik dengan Lourdes-nya, dan juga orang-orang
yang mempercayai Toronto Blessing dengan Toronto-nya.
b.
Im 23:3 - “Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi
pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, yakni hari
pertemuan kudus; janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah sabat
bagi TUHAN di segala tempat kediamanmu”.
Kata-kata ‘hari pertemuan kudus’ dalam terjemahan bahasa
Inggris adalah sebagai berikut:
KJV: ‘an holy convocation’ (= suatu pertemuan kudus).
RSV/NASB: ‘a holy convocation’ (= suatu pertemuan kudus).
NIV: ‘a day of sacred assembly’ (= suatu hari pertemuan keramat / kudus).
Jadi,
semua terjemahan mengandung kata ‘pertemuan’, dan itu jelas menunjuk
pada ibadah bersama, bukan sendiri-sendiri.
c. Adanya Kemah Suci atau Bait Suci.
Kalau
Tuhan memang menghendaki setiap orang percaya berbakti sendiri-sendiri di rumah
masing-masing, untuk apa didirikan Kemah Suci / Bait Allah?
d. Adanya hamba-hamba Tuhan.
Kalau
memang Tuhan menghendaki setiap orang percaya berbakti di rumahnya
masing-masing, apa gunanya Tuhan menetapkan adanya hamba Tuhan / gembala (Ef 4:11),
penatua dan diaken (1Tim 3:1-13), dsb?
Ef 4:11
- “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik
pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar”.
1Tim 3:1-13
- “(1) Benarlah perkataan ini: ‘Orang yang menghendaki jabatan penilik
jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.’ (2) Karena itu penilik
jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat
menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,
(3) bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang,
(4) seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.
(5) Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia
dapat mengurus Jemaat Allah? (6) Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar
jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. (7) Hendaklah ia juga
mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke
dalam jerat Iblis. (8) Demikian juga diaken-diaken haruslah orang
terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, (9)
melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci. (10)
Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah
ternyata mereka tak bercacat. (11) Demikian pula isteri-isteri hendaklah orang
terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercayai
dalam segala hal. (12) Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus
anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. (13) Karena mereka yang melayani
dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus
mereka dapat bersaksi dengan leluasa”.
Kis 14:23
- “Di tiap-tiap jemaat (church) rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat
itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu
kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka”.
1Tim 5:17
- “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali
lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar”.
e.
Tidak bisanya kita bersekutu dengan saudara seiman, kalau kita berbakti
sendiri di rumah masing-masing. Perlu diingat bahwa Kristen sangat menekankan
persekutuan dengan saudara seiman.
Ibr 10:25
- “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita,
seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati,
dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat”.
A. T. Robertson: “‘As the custom of some is.’
... Already some Christians had formed the habit of not attending public
worship, a perilous habit then and now” (= ‘seperti dibiasakan oleh
beberapa orang’. ... Sudah ada sebagian orang Kristen yang membentuk kebiasaan
untuk tidak menghadiri kebaktian umum, suatu kebiasaan yang membahayakan, dulu
maupun sekarang).
Wycliffe Bible Commentary: “When
Christians meet together, they exhort each other to fruitful service and
unbroken fellowship. The danger of apostasy lurks in the failure of believers to
meet together for mutual help” (= Pada waktu orang-orang kristen berkumpul
/ bertemu bersama-sama, mereka saling menasihati bagi pelayanan yang penuh buah
dan persekutuan yang utuh. Bahaya dari kemurtadan mengintip dalam kegagalan
orang-orang percaya untuk bertemu bersama-sama untuk saling menolong).
Barnes’ Notes: “it refers to public
worship. ... The command, then, here is, to meet together for the worship of
God, and it is enjoined on Christians as an important duty to do it. It is
implied, also, that there is blame or fault where this is ‘neglected.’ ...
Why those here referred to neglected public worship, is not specified. It may
have been from such causes as the following. (1) some may have been deterred by
the fear of persecution, as those who were thus assembled would be more exposed
to danger than others. (2) some may have neglected the duty because they felt no
interest in it - as professing Christians now sometimes do. (3) it is possible
that some may have had doubts about the necessity and propriety of this duty,
and on that account may have neglected it. (4) or it may perhaps have been,
though we can hardly suppose that this reason existed, that some may have
neglected it from a cause which now sometimes operates - from dissatisfaction
with a preacher, or with some member or members of the church, or with some
measure in the church. Whatever were the reasons, the apostle says that they
should not be allowed to operate, but that Christians should regard it as a
sacred duty to meet together for the worship of God. None of the causes above
suggested should deter people from this duty. With all who bear the Christian
name, with all who expect to make advances in piety and religious knowledge, it
should be regarded as a sacred duty to assemble together for public worship.
Religion is social; and our graces are to be strengthened and invigorated by
waiting together on the Lord. There is an obvious propriety that people should
assemble together for the worship of the Most High, and no Christian can hope
that his graces will grow, or that he can perform his duty to his Maker, without
uniting thus with those who love the service of God” [= ini menunjuk pada
kebaktian umum. ... Jadi, di sini diperintahkan untuk bertemu bersama-sama untuk
menyembah Allah / berbakti kepada Allah, dan hal itu diperintahkan kepada
orang-orang kristen sebagai suatu kewajiban yang penting untuk dilakukan. Secara
tak langsung, juga terlihat bahwa ada kesalahan pada waktu hal itu diabaikan.
... Mengapa mereka yang dibicarakan di sini mengabaikan kebaktian umum, tidak
dinyatakan. Itu bisa disebabkan oleh penyebab-penyebab sebagai berikut. (1)
sebagian mungkin dihalangi oleh rasa takut terhadap penganiayaan, karena mereka
yang berkumpul seperti itu akan lebih terbuka terhadap bahaya dari pada yang
lain. (2) sebagian mungkin telah mengabaikan kewajiban ini karena mereka tidak
merasa ingin melakukannya - seperti yang kadang-kadang dilakukan oleh
orang-orang yang mengaku sebagai orang Kristen pada jaman sekarang. (3) adalah
mungkin bahwa sebagian mungkin mempunyai keragu-raguan tentang keharusan dan
kebenaran dari kewajiban ini, dan karena itu telah mengabaikannya. (4) atau itu
mungkin, sekalipun kita hampir tidak bisa menganggap bahwa alasan ini ada pada
saat itu, bahwa sebagian telah mengabaikannya dari suatu penyebab yang pada
jaman sekarang beroperasi - dari ketidak-puasan / ketidak-senangan terhadap sang
pengkhotbah, atau terhadap jemaat tertentu dari gereja, atau terhadap
tindakan-tindakan tertentu dalam gereja. Apapun alasannya, sang rasul mengatakan
bahwa hal-hal itu tidak boleh diijinkan untuk beroperasi, tetapi bahwa
orang-orang kristen harus menganggapnya sebagai suatu kewajiban yang sakral /
kudus untuk bertemu bersama-sama bagi penyembahan terhadap Allah. Tidak ada dari
penyebab-penyebab di atas yang boleh menahan orang-orang dari kewajiban ini.
Bersama-sama dengan semua orang yang disebut orang Kristen, bersama-sama dengan
semua orang yang berharap untuk maju dalam kesalehan dan pengetahuan agamawi,
itu harus dianggap sebagai suatu kewajiban kudus untuk bertemu bersama-sama
untuk melakukan kebaktian umum. Agama merupakan sesuatu yang bersifat sosial;
dan kasih karunia kita harus dikuatkan dan disegarkan dengan bersama-sama
melayani Tuhan. Ada kebenaran / kepantasan yang jelas bahwa orang-orang harus
berkumpul bersama-sama bagi penyembahan terhadap Yang Maha Tinggi, dan tidak ada
orang Kristen bisa berharap bahwa kasih karunianya akan bertumbuh, atau bahwa ia
bisa melakukan kewajibannya kepada Penciptanya, tanpa bersatu seperti itu
bersama mereka yang mencintai pelayanan / ibadah kepada Allah].
2. Yang dimaksud ‘gereja’ adalah persekutuan
orang kristen, bukan gedungnya.
Bdk. 1Kor 1:2 - “kepada
jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam
Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang
di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan
mereka dan Tuhan kita”.
Kata
‘jemaat’ seharusnya adalah ‘gereja’, dan yang disebut
dengan ‘gereja’ sebetulnya bukanlah ‘gedung’nya tetapi
‘orang’nya. Bandingkan dengan kata-kata selanjutnya dalam ay 2 - ‘yaitu
mereka yang dikuduskan’.
Jadi,
sekalipun kebaktian itu tidak diadakan di gedung gereja, tetapi di restoran,
hotel, rumah, dsb, itu tidak jadi soal, selama orang-orang yang mengikuti
kebaktian itu adalah orang-orang kristen yang sejati (biarpun tidak semuanya,
karena pasti ada lalang di antara gandum), itu tidak jadi soal.
Sekarang
ada gereja-gereja (biasanya yang sudah mapan) yang mengajar jemaatnya bahwa
kebaktian di ruko, restoran, hotel, rumah, dsb, itu tidak sah. Kebaktian yang
sah hanyalah kebaktian yang diadakan di gedung gereja. Ini adalah omong kosong
yang busuk dan kurang ajar, karena sebetulnya diucapkan hanya dengan tujuan
supaya jemaat mereka tidak ‘lari’ ke gereja-gereja yang ada di tempat-tempat
tersebut! Ingat bahwa orang kristen abad pertama juga tidak mempunyai gedung
gereja, sehingga mereka berbakti di rumah-rumah yang digunakan sebagai tempat
berbakti. Kalau itu semua tidak sah, maka boleh dikatakan semua orang Kristen
abad-abad awal, dan juga semua rasul-rasul, melakukan kebaktian yang tidak sah!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali