(Rungkut Megah
Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 12 Desember 2010, pk 17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
http://golgothaministry.org
Kel 20:8-11 - “(8)
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: (9) enam hari lamanya engkau akan bekerja
dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat
TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu
laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu
perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. (11) Sebab
enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya,
dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat
dan menguduskannya”.
3.
Kita tidak boleh melakukan perjalanan (kecuali untuk pergi ke gereja /
melakukan pelayanan), dan kita juga tidak boleh melakukan hal-hal demi
kesenangan diri kita sendiri, termasuk rekreasi.
Bdk.
Yes 58:13-14 - “(13) Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum
Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudusKu; apabila engkau
menyebutkan hari Sabat ‘hari kenikmatan’, dan hari kudus TUHAN ‘hari yang
mulia’; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu
dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, (14) maka
engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi
puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan
engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang
mengatakannya”.
Bandingkan
ay 13nya dengan terjemahan dari KJV dan NIV.
KJV: ‘If thou turn away thy foot from the sabbath, from doing thy
pleasure on my holy day; and call the sabbath a delight, the holy of the
LORD, honourable; and shalt honour him, not doing thine own ways, nor finding thine
own pleasure, nor speaking thine own words:’ (= Jika engkau membalikkan
/ memalingkan kakimu dari hari Sabat, dari melakukan kesenanganmu
pada hari kudusKu; dan menyebut hari Sabat suatu kesenangan, hari yang kudus
dari TUHAN, terhormat; dan menghormatiNya, tidak melakukan jalanmu sendiri,
ataupun mencari kesenanganmu sendiri, ataupun mengucapkan kata-katamu
sendiri).
NIV: ‘If you keep your
feet from breaking the Sabbath and from doing as you please on my
holy day, if you call the Sabbath a delight and the LORD’s holy day honorable,
and if you honor it by not going your own way and not doing as you please or
speaking idle words,’ (= Jika engkau menjaga kakimu dari pelanggaran hari Sabat dan dari
melakukan seperti yang engkau sukai pada hari kudusKu, jika engkau
menyebut hari Sabat suatu kesukaan dan hari kudus TUHAN terhormat, dan jika
engkau menghormatinya dengan tidak pergi melakukan jalanmu dan tidak melakukan yang
engkau senangi atau mengucapkan kata-kata kosong / omong kosong).
Jadi,
kata-kata ‘tidak menginjak-injak hukum Sabat’ diterjemahkan ‘membalikkan / memalingkan kakimu dari hari Sabat’
oleh KJV, dan ‘menjaga kakimu dari pelanggaran hari Sabat’ oleh NIV.
Sedangkan
kata-kata ‘urusanmu’ sebetulnya adalah ‘kesenanganmu’
(KJV).
Jadi,
ada 2 hal yang ditekankan:
a. Harus menjaga kaki dari pelanggaran Sabat.
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Yes 58:13): “‘Foot.’ - the instrument of motion ... men are not to
travel for mere pleasure on the Sabbath” (= ‘Kaki’. - alat dari
gerakan ... manusia tidak boleh bepergian semata-mata untuk kesenangan pada hari
Sabat).
Satu
hal yang harus diperhatikan adalah: kalau pada hari Sabat kita melakukan
perjalanan, apalagi yang jauh, maka kita sukar terhindar dari membeli makanan
dan bahan bakar kendaraan.
Calvin (tentang Yes 58:13): “Some
think that the Prophet alludes to the external observation of the Sabbath,
because it was not lawful to perform a journey on that day. (Exodus 20:8)
Though I do not reject that opinion, yet
I think that the meaning is far more extensive; for by a figure of speech, ill
which a part is taken for the whole, he denotes the whole course of human
life; as it is very customary to employ the word ‘going’ or ‘walking’
to denote our life. He says, therefore, ‘If thou cease to advance in thy
course, if thou shut up thy path, walk not according to thine own will,’
etc. For this is to ‘turn away the foot from the Sabbath,’ when we lay
ourselves under the necessity of wandering freely and without restraint in our
own sinful desires. ... by the word ‘foot’ he denotes actions”
(= ).
Matthew
Henry (tentang Yes 58:13): “We
must ‘turn away our foot from the sabbath,’ from trampling upon it, as
profane atheistical people do, from travelling on that day (so some)”
(= ).
Adam
Clarke (tentang Yes 58:13): “‘If
thou turn away thy foot from the Sabbath.’ The meaning of this seems to be,
that they should be careful not to take their pleasure on the Sabbath day, by
paying visits, and taking country jaunts; not going, as Kimchi interprets it,
more than a Sabbath day’s journey, which was only two thousand cubits beyond
the city’s suburbs” (= ).
Barnes’
Notes (tentang Yes 58:13): “‘If
thou turn away thy foot from the Sabbath.’ ... The idea, says Grotius,
is, that they were not to travel on the Sabbath day on ordinary journeys. The
‘foot’ is spoken of as the instrument of motion and travel. ‘Ponder
the paths of thy feet’ (Prov. 2:26 ); that is, observe attentively thy
goings. ‘Remove thy foot from evil’ (Prov 4:27); that is, abstain from
evil, do not go to execute evil. So here, to restrain the foot from the
Sabbath, is not to have the foot employed on the Sabbath; not to be engaged in
traveling, or in the ordinary active employments of life, either for business
or pleasure” (= ).
b. Jangan mencari kesenangan diri sendiri / rekreasi.
The
Biblical Illustrator (Old Testament) tentang Kel 20:8-11:
“We are forbidden to make the
Sabbath a day of pleasure (Isa 58:13,14)” [= Kita dilarang untuk membuat
hari Sabat suatu hari kesenangan (Yes 58:13,14)].
Matthew
Henry (tentang Yes 58:13-14): “we
must turn away our foot ‘from doing out (our?) pleasure on that
holy day,’ that is, from living at large, and taking a liberty to do what we
please on sabbath days, without the control and restraint of conscience, or from
indulging ourselves in the pleasures of sense, ... On sabbath days we must not
walk in ‘our own ways’ (that is, not follow our callings), not ‘find our
own pleasure’ (that is, not follow our sports and recreations)”
[= kita harus memalingkan kaki kita ‘dari melakukan kesenangan kita pada hari
kudus itu’, yaitu, dari hidup bebas, dan bersikap terlalu bebas untuk
melakukan apa yang kita senangi pada hari-hari Sabat, tanpa kontrol dan
pengekangan hati nurani, atau dari pemuasan diri kita sendiri dalam
kesenangan-kesenangan perasaan / tubuh, ... Pada hari Sabat kita tidak boleh
berjalan / hidup ‘dalam jalan kita sendiri’ (yaitu, tidak mengikuti
panggilan / pekerjaan kita), atau ‘mencari kesenangan kita sendiri’ (yaitu
tidak mengikuti kesenangan dan rekreasi kita)].
Catatan: saya tidak tahu apakah hubungan sex juga dilarang
pada hari Sabat. Orang-orang Yahudi melarangnya, tetapi saya tidak menemukan
kata-kata yang explicit dari para penafsir yang melarang orang Kristen melakukan
hubungan sex pada hari Sabat. Tetapi dari kata-kata Matthew Henry di atas ini,
bisa saja disimpulkan demikian.
Bahwa
seluruh hari Sabat harus digunakan bagi Allah, dan karena itu kita dilarang
memikirkan pekerjaan duniawi dan melakukan rekreasi, juga dinyatakan dalam
Westminster Confession of Faith.
Westminster
Confession of Faith:
“This Sabbath is then kept holy unto the Lord, when men, after a due
preparing of their hearts, and ordering of their common affairs beforehand, do
not only observe an holy rest, all the day, from their own works, words,
and thoughts about their worldly employments and recreations, but also
are taken up, the whole time, in the public and private exercises of His
worship, and in the duties of necessity and mercy”
(= Maka hari Sabat ini dipelihara / dijaga kudus bagi Tuhan, pada waktu manusia,
setelah mempersiapkan hati mereka dengan seharusnya, dan mengatur / mengurus
urusan-urusan biasa mereka sebelumnya, tidak hanya memelihara suatu istirahat
yang kudus, seluruh hari itu, dari pekerjaan, dari kata-kata dan dari
pemikiran mereka sendiri tentang pekerjaan-pekerjaan duniawi mereka, dan
rekreasi-rekreasi, tetapi juga membaktikan, seluruh waktu, dalam
pelaksanaan ibadahNya secara umum dan pribadi, dan dalam kewajiban-kewajiban
yang memang mutlak harus dilakukan dan belas kasihan) - Chapter XXI, No 8.
Adam
Clarke (tentang Yes 58:13): “How
vilely is this rule transgressed by the inhabitants of this land! They seem to
think that the Sabbath was made only for their recreation!” (= ).
Jamieson,
Fausset & Brown (tentang Yes 58:13):
“‘My
holy day.’ God claims it as His day; to take it for our pleasure is to
rob Him of His own. This is the very way in which the Sabbath is mostly
broken; it is made a day of carnal pleasure instead of spiritual
‘delight.’” (= ).
Barnes’
Notes (tentang Yes 58:13): “‘From
doing thy pleasure on my holy day.’ Two things may here be observed: 1. God
claims the day as his, and as holy on that account. While all time is his, and
while he requires all time to be profitably and usefully employed, he calls
the Sabbath especially his own - a day which is to be observed with reference
to himself, and which is to be regarded as belonging to him. To take the hours
of that day, therefore, for our pleasure, or for work which is not
necessary or merciful, is to rob God of that which he claims as his own. 2. We
are not to do our own pleasure on that day. That is, we are not to pursue our
ordinary plans of amusement; we are not to devote it to feasting, to riot, or
to revelry. It is true that they who love the Sabbath as they should will
find ‘pleasure’ in observing it, for they have happiness in the service of
God. But the idea is, here, that we are to do the things which God requires,
and to consult his will in the observance. It is remarkable that the thing
here adverted to, is the very way in which the Sabbath is commonly violated.
It is not extensively a day of business, for the propriety of a periodical
cessation from toil is so obvious, that people will have such days recurring
at moderate intervals. But it is a day of pastime and amusement; a day not
merely of relaxation from toil, but also of relaxation from the restraints of
temperance and virtue. And while the Sabbath is God’s great ordinance for
perpetuating religion and virtue, it is also, by perversion, made Satan’s
great ordinance for perpetuating intemperance, dissipation, and sensuality”
(= ).
The
Biblical Illustrator (Old Testament) tentang Yes 58:13:
“Not finding their own pleasure.
Pleasure is here evidently contrasted with business, God has given to us not
only our six days labour and work, but also our six days gratifications and
sources of enjoyment. There are the delights of earth, as well as the duties
of earth. There is Nature, with all her various works. There are also the
pleasures of literature, in all their vast and various extent. There is,
further, the enjoyment of social intercourse, and an almost countless number
of modes of refreshment, for both body and mind, which God would have us to
use, as opportunity is given and need may be, to invigorate us for the more
serious employments of the head or the hands. But these are ‘our own
pleasure;’ and this we are not to find on God’s holy day. Mark the
expression, ‘not finding thine own pleasure.’ In order to ‘find,’ we
seek. ‘Our own pleasure’ may casually come in our way; but we must not
look for it, endeavour after it, or pursue it as our object, in any manner or
measure upon the Sabbath. The pleasures which we must endeavour on this day
to ‘find’ must be such as are not of earthly origin or of man’s
invention, but such as will endure when the world shall be no more, and will
furnish a part of the business and the bliss of the Christian’s happy and
eternal home. Further, ‘not speaking (thine own) words.’ ‘Thine
own,’ here, is in italics; it is inserted by the translators, and only
encumbers the passage. The meaning is, not doing thine own ways, not
finding thine own pleasure, ‘nor speaking words;’ that is, not
speaking words concerning thine own ways and thine own pleasure”
(= ).
Wilmington’s
Bible Handbook (Bible Survey) tentang Yes 58:13:
“It also means setting aside the
Sabbath as a time to delight in the Lord rather than pursuing earthly
pleasures (58:13)” (= ).
Calvin (tentang Yes 58:13): “Whoever
then wishes to serve God in a proper manner, must altogether renounce his
flesh and his will. ... he commanded the Jews to renounce the desires
of the flesh, to give up their sinful inclinations, and to yield obedience
to him; as no man can meditate on the heavenly life, unless he be dead to
the world and to himself” (= ).
Mungkin
saudara berpikir bahwa kalau pada hari Sabat kita tidak boleh bepergian, piknik,
melakukan kesenangan-kesenangan, dsb, apakah kita tidak akan mengalami stres?
Albert Barnes mengatakan bahwa orang Kristen seharusnya mendapatkan kesenangan
dalam diri Tuhan sendiri, sehingga mentaati hukum Sabat ini menyebabkan mereka
mendapatkan sukacita.
Barnes’
Notes (tentang Yes 58:13):
“‘And call the Sabbath a delight.’ This appropriately expresses the
feelings of all who have any just views of the Sabbath. To them it is not
wearisome, nor are its hours heavy. They love the day of sweet and holy rest.
They esteem it a privilege, not a task, to be permitted once a week to disburden
their minds of the cares, and toils, and anxieties of life. It is a
‘delight’ to them to recall the memory of the institution of the Sabbath,
when God rested from his labors; to recall the resurrection of the Lord Jesus,
to the memory of which the Christian Sabbath is consecrated; to be permitted to
devote a whole day to prayer and praise, to the public and private worship of
God, to services that expand the intellect and purify the heart. To the father
of a family it is the source of unspeakable delight that he may conduct his
children to the house of God, and that he may instruct them in the ways of
religion. To the Christian man of business, the farmer, and the professional
man, it is a pleasure that he may suspend his cares, and may uninterruptedly
think of God and of heaven. To all who have any just feeling, the Sabbath is a
‘delight;’ and for them to be compelled to forego its sacred rest would be
an unspeakable calamity” (= ‘Dan menyebut hari Sabat suatu
kesenangan’. Ini dengan tepat menyatakan perasaan dari semua orang yang
mempunyai pandangan yang benar tentang hari Sabat. Bagi mereka, itu bukanlah
sesuatu yang menjemukan, dan saat-saatnya bukanlah merupakan sesuatu yang berat.
Mereka mengasihi hari istirahat yang manis dan kudus itu. Mereka menilainya
sebagai suatu hak, bukan sebagai suatu kewajiban, untuk diijinkan sekali
seminggu untuk melepaskan beban pikiran mereka dari kekuatiran, dan kerja keras,
dan keinginan-keinginan dari kehidupan. Itu merupakan suatu ‘kesenangan’
bagi mereka untuk mengingat ingatan tentang penegakan dari hari Sabat, dimana
Allah beristirahat dari pekerjaanNya; untuk mengingat kebangkitan Tuhan Yesus,
pada ingatan mana hari Sabat Kristen diabdikan; untuk diijinkan untuk
membaktikan seluruh hari itu bagi doa dan pujian, bagi ibadah kepada Allah
secara umum dan pribadi, bagi kebaktian-kebaktian yang mengembangkan intelek dan
memurnikan hati. Bagi ayah dari suatu keluarga, merupakan sumber dari kesenangan
yang tidak terkatakan bahwa ia bisa memimpin anak-anaknya ke rumah Allah, dan
bahwa ia bisa mengajar mereka dalam cara-cara agama. Bagi orang bisnis, petani,
dan orang-orang profesional Kristen, merupakan suatu kesenangan bahwa ia bisa
menunda / menghentikan kekuatirannya, dan bisa berpikir tentang Allah dan
tentang surga tanpa diganggu. Bagi semua yang mempunyai pikiran yang benar, hari
Sabat merupakan suatu kesenangan, dan kalau mereka dipaksa untuk tidak
melaksanakan istirahatnya yang kudus, maka itu merupakan suatu bencana yang
tidak terkatakan).
Barnes’
Notes (tentang Yes 58:14):
“‘Then shalt thou delight thyself in the LORD.’ That is, as a
consequence of properly observing the Sabbath, thou shalt find pleasure in
Yahweh. It will be a pleasure to draw near to him, and you shall no longer be
left to barren ordinances and to unanswered prayers. The delight or pleasure
which God’s people have in him is a direct and necessary consequence of the
proper observance of the Sabbath. It is on that day set apart by his own
authority, for his own service, that he chooses to meet with his people, and to
commune with them and bless them; and no one ever properly observed the Sabbath
who did not find, as a consequence, that he had augmented pleasure in the
existence, the character, and the service of Yahweh. Compare Job 22:21-26, where
the principle stated here - that the observance of the law of God will lead to
happiness in the Almighty - is beautifully illustrated” (= ‘maka engkau
akan bersenang-senang karena TUHAN’. Yaitu, sebagai akibat dari ketaatan /
penghormatan yang benar terhadap hari Sabat, engkau akan mendapatkan kesenangan
dalam Yahweh. Merupakan suatu kesenangan untuk mendekat kepadaNya, dan engkau
tidak akan ditinggalkan pada peraturan-peraturan yang tandus dan pada doa-doa
yang tidak dijawab. Kesenangan yang didapatkan umat Allah dalam Dia merupakan
akibat yang langsung dan yang harus terjadi dari pengamatan / penghormatan yang
benar terhadap hari Sabat. Pada hari itulah, yang Ia pisahkan dengan otoritasNya
sendiri, bagi ibadahNya sendiri, Ia memilih untuk bertemu dengan umatNya, dan
untuk berkomunikasi secara akrab dengan mereka dan memberkati mereka; dan tidak
seorangpun yang memelihara hari Sabat secara benar yang tidak mendapati, sebagai
akibatnya, bahwa ia telah menambah kesenangan dalam keberadaan, karakter, dan
pelayanan / ibadah dari Yahweh. Bandingkan dengan Ayub 22:21-26, dimana prinsip
yang dinyatakan di sini - bahwa pemeliharaan / ketaatan pada hukum Allah akan
membawa pada kebahagiaan dalam Yang Maha Kuasa - dijelaskan secara indah).
Bdk.
Ayub 22:21-26 - “(21) Berlakulah ramah terhadap Dia, supaya engkau
tenteram; dengan demikian engkau memperoleh keuntungan. (22) Terimalah apa yang
diajarkan mulutNya, dan taruhlah firmanNya dalam hatimu. (23) Apabila engkau
bertobat kepada Yang Mahakuasa, dan merendahkan diri; apabila engkau menjauhkan
kecurangan dari dalam kemahmu, (24) membuang biji emas ke dalam debu, emas Ofir
ke tengah batu-batu sungai, (25) dan apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan
emasmu, dan kekayaan perakmu, (26) maka sungguh-sungguh engkau akan
bersenang-senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah”.
Catatan: kata-kata Albert Barnes ini memang benar, tetapi
saya beranggapan bahwa membutuhkan tingkat kerohanian yang sangat tinggi untuk
bisa sepenuhnya menjadi seperti ini.
4. Membangun Kemah Sucipun tidak boleh
dilakukan pada hari Sabat.
Sekalipun
pelayanan merupakan ‘pekerjaan’ yang diijinkan untuk dilakukan pada hari
Sabat, tetapi membangun Kemah Suci / Bait Allah / gedung gereja, tidak sama
dengan pelayanan. Ini dilarang!
Kel
31:12-17 - “(12) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: (13) ‘Katakanlah kepada
orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari SabatKu harus kamu pelihara, sebab
itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui,
bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu. (14) Haruslah kamu pelihara hari
Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat
itu, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada
hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya. (15) Enam hari
lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada
sabat, hari perhentian penuh, hari kudus bagi TUHAN: setiap orang yang melakukan
pekerjaan pada hari Sabat, pastilah ia dihukum mati. (16) Maka haruslah orang
Israel memelihara hari Sabat, dengan merayakan sabat, turun-temurun, menjadi
perjanjian kekal. (17) Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan
untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi,
dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.’”.
Dalam
membaca text ini yang sangat perlu diperhatikan adalah letak text ini dalam
Kitab Suci. Dalam Kitab Suci, text ini terletak dalam kontext perintah
pembangunan Kemah Suci, yang sudah dimulai dalam Kel 25. Dan text ini didahului
oleh Kel 31:1-11, yang menceritakan penunjukan Bezaleel dan Aholiab untuk
mengerjakan Kemah Suci. Mengapa tahu-tahu bisa ada text seperti ini, yang
menekankan hari Sabat dan keharusan istirahat pada hari itu? Jawabannya adalah:
karena bahkan dalam membangun Kemah Suci sekalipun, hari Sabat harus tetap
menjadi hari untuk istirahat. Pada hari itu, pembangunan Kemah Suci harus
dihentikan. Jadi, pada jaman sekarang, gereja-gereja tidak boleh terus
mempekerjakan tukang-tukang bangunan untuk membangun gereja pada hari Minggu.
Membangun gedung gereja tidak sama dengan melayani Tuhan.
Thomas
Watson: “the
work which had reference to a religious use might not be done on the Sabbath, as
the hewing of stones for the building of the sanctuary. ... Exod. 31:15. A
temple is a place of God’s worship, but it was a sin to build a temple on the
Lord’s-day” (= pekerjaan yang berhubungan dengan penggunaan agamawi
tidak boleh dilakukan pada hari Sabat, seperti memotong / membentuk batu untuk
pembangunan tempat kudus. ... Kel 31:15. Bait Allah / Kemah Suci adalah tempat
untuk berbakti kepada Allah, tetapi merupakan suatu dosa untuk membangun Bait
Allah / Kemah Suci pada hari Tuhan) - ‘The Ten Commandments’, hal 100.
Matthew
Henry (tentang Kel 31:12-18):
“A strict command for the sanctification of the sabbath day, v. 13-17.
... Orders were now given that a tabernacle should be set up and furnished for
the service of God with all possible expedition; but lest they should think that
the nature of the work, and the haste that was required, would justify them in
working at it on sabbath days, that they might get it done the sooner, this
caution is seasonably inserted, Verily, or nevertheless, my sabbaths you shall
keep. Though they must hasten the work, yet they must not make more haste than
good speed; they must not break the law of the sabbath in their haste: even
tabernacle-work must give way to the sabbath-rest; so jealous is God for the
honour of his sabbaths” (= Suatu perintah yang ketat bagi pengudusan hari
Sabat, ayat 13-17. ... Sekarang perintah-perintah telah diberikan bahwa Kemah
Suci harus didirikan dan diperlengkapi untuk ibadah bagi Allah dengan secepat
mungkin; tetapi supaya mereka jangan berpikir bahwa sifat dari pekerjaan itu,
dan ketergesa-gesaan yang dituntut, akan membenarkan mereka untuk mengerjakannya
pada hari-hari Sabat, supaya mereka bisa menyelesaikannya dengan lebih cepat,
peringatan ini dimasukkan tepat pada waktunya, Sesungguhnya, atau sekalipun
demikian, hari-hari SabatKu harus kamu pelihara. Sekalipun mereka harus
cepat-cepat mengerjakannya, tetapi mereka tidak boleh melakukan ketergesa-gesaan
yang lebih dari kecepatan yang benar; mereka tidak boleh melanggar hukum dari
hari Sabat dalam ketergesa-gesaan mereka: bahkan pekerjaan Kemah Suci harus
memberi jalan pada istirahat hari Sabat; demikianlah hati-hatinya Allah bagi
kehormatan dari hari-hari SabatNya).
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kel 31:12-17): “The reason for the fresh inculcation of the fourth commandment
at this particular period was, that the great ardour and eagerness with which
all classes betook themselves to the construction of the tabernacle exposed them
to the temptation of encroaching on the sanctity of the appointed day of rest.
They might suppose that the erection of the tabernacle was a sacred work, and
that it would be a high merit - an acceptable tribute - to prosecute the
undertaking without the interruption of a day’s repose; and therefore the
caution here given, at the commencement of the undertaking, was a seasonable
admonition” (= Alasan untuk penanaman segar dari hukum keempat pada masa
khusus ini adalah, bahwa semangat dan kesungguhan dengan mana semua golongan
membaktikan diri mereka bagi pembangunan Kemah Suci, membuka diri mereka
terhadap pencobaan pelanggaran pada kekudusan dari hari istirahat yang telah
ditetapkan. Mereka bisa / mungkin menduga bahwa pendirian dari Kemah Suci
merupakan pekerjaan yang kudus, dan bahwa merupakan suatu kebaikan yang tinggi -
suatu upeti / penghormatan yang bisa diterima - untuk meneruskan usaha itu tanpa
gangguan dari istirahat satu hari; dan karena itu peringatan yang diberikan di
sini, pada permulaan dari usaha itu, merupakan peringatan yang tepat pada
waktunya).
Barnes’
Notes (tentang Kel 31:12-17):
“It seems likely that the penal edict was especially introduced as a
caution in reference to the construction of the tabernacle, lest the people, in
their zeal to carry on the work, should be tempted to break the divine law for
the observance of the day” (= Sangat memungkinkan bahwa pengumuman /
ketetapan yang berhubungan dengan hukuman, secara khusus diajukan sebagai suatu
peringatan berkenaan dengan pembangunan Kemah Suci, supaya umat / bangsa itu
jangan, dalam semangat mereka untuk melaksanakan pekerjaan itu, dicobai untuk
melanggar hukum ilahi untuk pemeliharaan / penghormatan hari itu).
Keil
& Delitzsch (tentang Kel 31:12-17): “The repetition and further development of this command, which
was included already in the decalogue, is quite in its proper place here,
inasmuch as the thought might easily have occurred, that it was allowable to
omit the keeping of the Sabbath, when the execution of so great a work in honour
of Jehovah had been commanded” (= Pengulangan dan pengembangan selanjutnya
dari perintah ini, yang sudah dimasukkan dalam 10 hukum Tuhan, ada pada tempat
yang tepat di sini, karena dengan mudah terjadi pemikiran bahwa merupakan
sesuatu yang diijinkan untuk menghapuskan pemeliharaan hari Sabat, pada waktu
pelaksanaan dari pekerjaan yang begitu besar dalam penghormatan terhadap Yehovah
telah diperintahkan).
Matthew
Henry (tentang Neh 13:15-22): “The
law of the sabbath was very strict and much insisted one, and with good reason,
for religion is never in the throne while sabbaths are trodden under foot”
(= Hukum Sabat sangat ketat dan merupakan satu hukum yang sangat ditekankan, dan
dengan alasan yang baik, karena agama tidak pernah ada di takhta pada waktu
hari-hari Sabat diinjak-injak).
Catatan:
apa yang saya jelaskan tentang hal-hal yang dilarang untuk dilakukan pada hari
Sabat ini, bukanlah merupakan pandangan extrim dari satu atau dua penafsir saja,
tetapi boleh dikatakan dari hampir semua penafsir, dan ini saya tunjukkan dengan
memberikan komentar dari banyak penafsir di atas (tetapi yang tidak saya
terjemahkan).
c) Pentingnya
istirahat pada hari Sabat / hari minggu.
The
Biblical Illustrator (Old Testament) tentang Kel 20:8-11:
“Sunday and suicide: - There is
no one thing that kills, exhausts, or sends to the lunatic asylum more of the
active and strong men of this country (United States) than the breach of the
Fourth Commandment. ... ‘He kept no Sunday.’ You may safely write that
epitaph over hundreds of graves that will be dug this year for ambitious,
prosperous, influential men, cut off in the midst of the race of life. There are
suicides in scores where no apparent cause exists for what
the newspapers call ‘the rash act.’ The man was doing well; his business was
prospering; his family relations were pleasant and affectionate. ... It is for
man’s good that God has established all His statutes. Clear as that truth is
about them all, it is especially clear about the day of rest. ... As a matter of
fact, there is no rest, no relaxation, so utter as that offered by a well-kept
Sunday. There is perfect rest and quiet for the body, and, to the worker with
his hands, that may be the main point. But there is far more than this. The mind
is called away from all its cares and all its common vulgar interests. The man
is called to rise out of the changing into the unchanging, out of the
temporary into the eternal, out of the low into the infinitely lofty, out of the
strife into the deep calm of the eternal peace. ... It is the neglect of this
provision of God that is the root-cause of the deaths and suicides from
overwork, which shock us almost daily in the current items of news” [=
Hari Minggu dan bunuh diri: - Tidak ada suatu hal apapun yang lebih membunuh,
meletihkan / menghabiskan tenaga, atau mengirimkan ke rumah sakit jiwa / gila,
orang-orang yang aktif dan kuat dari negeri ini (Amerika Serikat) dari pada
pelanggaran terhadap hukum ke empat ini. ... ‘Ia tidak memelihara hari
Minggu’. Engkau bisa dengan aman menulis tulisan ini di batu nisan di atas
ratusan kuburan yang akan digali tahun ini bagi orang-orang yang ambisius,
makmur, berpengaruh, yang mati di tengah-tengah balapan kehidupan. Ada puluhan
kasus-kasus bunuh diri dimana tidak ada penyebab yang jelas untuk apa yang
disebut surat kabat sebagai ‘tindakan gegabah’. Orang itu baik-baik saja,
bisnisnya makmur / berhasil dengan baik; hubungan keluarganya menyenangkan dan
penuh kasih. ... Untuk kebaikan manusialah Allah telah menentukan semua
undang-undangNya. Kebenaran itu jelas untuk semua undang-undang itu, tetapi itu
khususnya jelas tentang hari istirahat. ... Dalam faktanya, tidak ada istirahat,
tidak ada kesantaian, yang begitu lengkap / sempurna seperti istirahat yang
diberikan oleh hari Minggu yang dipelihara dengan baik. Ada istirahat dan
ketenangan yang sempurna untuk tubuh, dan bagi pekerja yang menggunakan
tangannya, itu mungkin / bisa merupakan hal yang utama. Tetapi ada jauh lebih
banyak dari ini. Pikiran dipanggil untuk menjauhi semua kekuatirannya dan semua
kepentingan orang-orang biasa. Orang dipanggil untuk naik / bangkit dari yang
berubah ke dalam yang tidak berubah, dari yang sementara ke dalam yang kekal,
dari yang rendah ke dalam yang tinggi / mulia, dari pergumulan ke dalam
ketenangan yang dalam dari damai yang kekal. ... Pengabaian terhadap penyediaan
Allah inilah yang merupakan akar penyebab dari kematian-kematian dan bunuh diri
- bunuh diri dari pekerjaan yang berlebihan, yang mengejutkan kita hampir setiap
hari dalam pokok-pokok berita sekarang ini].
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali