Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Minggu, tgl 21 Nopember 2010, pk 17.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

http://golgothaministry.org

HUKUM 4 (3)

 

Ingatlah dan Kuduskanlah hari sabat

 

(Kel 20:8-11)

 

b)      Text-text Kitab Suci yang digunakan untuk menyatakan penghapusan hukum Sabat sama sekali tidak bisa diartikan demikian.

Pembahasan text-text Kitab Suci yang seolah-olah menghapuskan hukum tentang hari Sabat.

 

1.   Kol 2:16-17 - “(16) Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus”.

 

Matthew Henry: “Here is a caution to take heed of judaizing teachers, or those who would impose upon Christians the yoke of the ceremonial law: ... but here the apostle shows that since Christ has come, and has cancelled the ceremonial law, we ought not to keep it up” (= Di sini ada suatu peringatan untuk berhati-hati terhadap guru-guru Yudaisme / agama Yahudi, atau mereka yang ingin membebankan / memaksakan pada orang-orang kristen kuk dari hukum ceremonial: ... tetapi di sini sang rasul menunjukkan bahwa karena Kristus telah datang, dan telah membatalkan hukum ceremonial, kita tidak seharusnya memeliharanya).

 

Adam Clarke: “it is not clear that the apostle refers at all to the Sabbath in this place, whether Jewish or Christian; his sabbatoon, ‘of sabbaths or weeks,’ most probably refers to their feasts of weeks (= sama sekali tidak jelas bahwa sang rasul menunjuk pada Sabat di tempat ini, apakah Sabat Yahudi atau Sabat Kristen; kata sabbatoon yang digunakannya, yang berarti ‘tentang Sabat-Sabat atau minggu-minggu’ paling memungkinkan menunjuk pada perayaan / pesta mingguan mereka).

 

Barnes’ Notes: “The word Sabbath in the Old Testament is applied not only to the seventh day, but to all the days of holy rest that were observed by the Hebrews, and particularly to the beginning and close of their great festivals. There is, doubtless, reference to those days in this place, since the word is used in the plural number, and the apostle does not refer particularly to the Sabbath properly so called. There is no evidence from this passage that he would teach that there was no obligation to observe any holy time, for there is not the slightest reason to believe that he meant to teach that one of the ten commandments had ceased to be binding on mankind. If he had used the word in the singular number - ‘THE Sabbath,’ it would then, of course, have been clear that he meant to teach that that commandment had ceased to be binding, and that a Sabbath was no longer to be observed. But the use of the term in the plural number, and the connection, show that he had his eye on the great number of days which were observed by the Hebrews as festivals, as a part of their ceremonial and typical law, and not to the moral law, or the Ten Commandments [= Kata ‘Sabat’ dalam Perjanjian Lama diterapkan bukan hanya pada hari ketujuh, tetapi pada semua hari-hari istirahat yang kudus yang dipelihara oleh orang-orang Ibrani, dan khususnya pada permulaan dan akhir dari perayaan-perayaan besar mereka. Tidak diragukan, bahwa yang ditunjuk di tempat ini adalah hari-hari itu, karena kata itu digunakan dalam bentuk jamak, dan sang rasul tidak menunjuk secara khusus pada Sabat yang sebenarnya. Tidak ada bukti dari text ini bahwa ia mengajarkan bahwa tidak ada kewajiban untuk memelihara / menghormati saat kudus manapun, karena tidak ada alasan yang paling kecil sekalipun untuk percaya bahwa ia bermaksud untuk mengajar bahwa satu dari 10 hukum Tuhan telah berhenti mengikat umat manusia. Seandainya ia menggunakan kata itu dalam bentuk tunggal - ‘Sabat’, maka tentu saja akan jelas bahwa ia bermaksud untuk mengajar bahwa hukum itu (hukum Sabat) telah berhenti mengikat, dan hari Sabat tidak lagi perlu dihormati / dipelihara. Tetapi penggunaan istilah ini dalam bentuk jamak, dan hubungannya, menunjukkan bahwa ia mengarahkan matanya pada sejumlah besar hari-hari yang dipelihara oleh orang-orang Ibrani sebagai pesta / perayaan, sebagai suatu bagian dari hukum ceremonial dan yang bersifat type / bayangan, dan bukan pada hukum moral, atau pada 10 hukum Tuhan].

 

International Standard Bible Encyclopedia - Revised Edition (dengan topik ‘Sabbath’): “SABBATH ... The seventh day of the week (Ex 16:26; 20:10; etc.), as well as certain feast days (Lev 16:31; 23:32; etc.), marked in ancient Israel, Judaism, and early Christianity by cessation of work and ceremonial observance” [= Sabat ... Hari ketujuh dari minggu (Kel 16:26; 20:10; dsb), maupun hari-hari raya tertentu (Im 16:31; 23:32; dsb), ditandai / diperhatikan pada Israel kuno, Yudaisme, dan kekristenan awal oleh penghentian pekerjaan dan perayaan yang bersifat upacara] - PC Study Bible 5.

Im 16:29-31 - “(29) Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. (30) Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN. (31) Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya”.

Im 23:30-32 - “(30) Setiap orang yang melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu, orang itu akan Kubinasakan dari tengah-tengah bangsanya. (31) Janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun di segala tempat kediamanmu. (32) Itu harus menjadi suatu sabat, hari perhentian penuh bagimu, dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Mulai pada malam tanggal sembilan bulan itu, dari matahari terbenam sampai matahari terbenam, kamu harus merayakan sabatmu.’”.

Catatan: kedua text di atas ini ada dalam kontext yang membicarakan hari raya pendamaian. Ini jelas bukan sabat dalam arti hari ketujuh dari suatu minggu, tetapi toh disebut dengan istilah ‘Sabat’!

 

R. L. Dabney: “it must be distinctly remembered that the word ‘Sabbath’ was never applied, in New Testament language, to the Lord’s day, but was always used for the seventh day, and other Jewish festivals, as distinguished from the Christian Sunday. ... And we assert that, according to well known usage of the word SABBATA at that time, the Sundays were definitely excluded from the apostle’s assertion. When he says here, ‘holy-days, new-moons, and Sabbath-days,’ he intentionally excludes the Lord’s days. We are entitled to assume, therefore, that they are excluded when he says in the parallel passage of Romans, ‘every day,’ and in Galatians, ‘days, and months, and times, and years.’’” (= harus diingat dengan jelas bahwa kata ‘Sabat’ tidak pernah diterapkan, dalam bahasa Perjanjian Baru, pada ‘hari Tuhan’, tetapi selalu digunakan untuk hari yang ketujuh, dan pesta-pesta Yahudi yang lain, yang dibedakan dari hari Minggu orang Kristen. ... Dan kami menegaskan bahwa, sesuai dengan penggunaan yang telah dikenal dari kata SABBATA pada saat itu, hari Minggu jelas dikeluarkan dari penegasan sang rasul. Pada waktu ia berkata di sini, ‘hari kudus / raya, bulan baru, dan hari-hari Sabat’, ia dengan sengaja mengeluarkan hari-hari Tuhan. Karena itu, kita berhak untuk menganggap bahwa hari-hari Minggu juga dikeluarkan pada waktu ia berkata dalam text-text yang paralel dari Roma, ‘setiap / semua hari’, dan dalam Galatia, ‘hari-hari, dan bulan-bulan, dan masa-masa, dan tahun-tahun’.) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 389.

 

Sekarang kita soroti Kol 2:17 - ‘semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus’.

KJV: ‘Which are a shadow of things to come; but the body is of Christ’ (= Yang merupakan bayangan dari hal-hal yang akan datang; tetapi tubuhnya / wujudnya adalah Kristus).

 

Tentang ayat ini Dabney memberikan komentar / penafsiran sebagai berikut.

 

R. L. Dabney: “the Sabbath was to the Jews both a perpetual, moral institution, and a type. ... That it was to the Jews also a type, we admit. ... It was for a time, at least, a foreshadowing of the rest of Canaan. Heb. 4:4-11. It was to them, as it is to us, a shadow of the rest in heaven. Heb. 4:9. ... When the Epistle to the Colossians says that Sabbath, along with holy days and new-moons, are a shadow, it seems to us much the most simple explanation to say that it is the sacrificial aspect of those days, or (to employ other words) their use as special days of sacrifice, in which they together constituted a shadow. They were a shadow in this: that the sacrifices, which constituted so prominent a part of their Levitical observance, pointed to Christ the body. This is exactly accordant with the whole tenor of the Epistles. The seventh day had been, then, to the Jews, both a moral institution and a ritual type. In its latter use, the coming of Christ had of course abrogated it. In its former use, its whole duties and obligations had lately been transferred to the Lord’s day” [= hari Sabat bagi orang Yahudi merupakan hukum yang bersifat kekal dan moral, dan juga merupakan suatu type. ... Bahwa bagi orang Yahudi itu juga merupakan suatu type, kami mengakuinya. ... Setidaknya, untuk suatu waktu tertentu, itu merupakan bayangan dari istirahat di Kanaan. Ibr 4:4-11. Bagi mereka, dan bagi kita, itu merupakan bayangan dari istirahat di surga. Ibr 4:9. ... Pada waktu surat Kolose mengatakan bahwa Sabat, bersama-sama dengan hari-hari kudus / raya dan bulan baru, merupakan suatu bayangan, sangat terlihat bagi kita bahwa penjelasan yang paling sederhana adalah mengatakan bahwa itu merupakan aspek korban dari hari-hari / saat itu, atau (menggunakan kata-kata yang lain) penggunaan mereka tentang hari-hari korban khusus, dalam mana mereka bersama-sama membentuk / merupakan suatu bayangan. Mereka merupakan suatu bayangan dalam hal ini: bahwa korban-korban, yang merupakan bagian yang begitu menonjol dari pemeliharaan Imamat mereka, menunjuk pada Kristus yang adalah wujudnya. Ini secara tepat sesuai dengan seluruh tujuan dari surat. Jadi, hari ketujuh bagi orang Yahudi merupakan suatu hukum moral dan type / bayangan yang bersifat ritual / upacara. Dalam penggunaannya yang terakhir, tentu saja kedatangan Kristus membatalkannya. Dalam penggunaanya yang pertama, seluruh kewajibannya telah dipindahkan pada hari Tuhan] - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 388-389.

Catatan: bagian yang saya garis-bawahi itu agak sukar dimengerti. Mungkin maksudnya adalah sebagai berikut: yang ditekankan dari kata ‘Sabat’ dalam Kol 2:16-17 ini, sama seperti dengan kata-kata ‘hari raya’ dan ‘bulan baru’, adalah aspek / sudut korbannya (pada hari Sabat ada pengorbanan binatang; itu yang ditekankan, bukan peraturan Sabatnya). Semua ini memang merupakan type, sedangkan wujudnya / anti-typenya adalah Kristus.

 

2.   Ro 14:5-6,10,13 - “(5) Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. (6) Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah. ... (10) Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. ... (13) Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!”.

 

Matthew Henry: “Those who thought themselves still under some kind of obligation to the ceremonial law esteemed one day above another - kept up a respect to the times of the passover, pentecost, new moons, and feasts of tabernacles; thought those days better than other days, and solemnized them accordingly with particular observances, binding themselves to some religious rest and exercise on those days. Those who knew that all these things were abolished and done away by Christ’s coming esteemed every day alike. We must understand it with an exception of the Lord’s day, which all Christians unanimously observed; but they made no account, took no notice, of those antiquated festivals of the Jews. Here the apostle speaks of the distinction of meats and days as a thing indifferent, when it went no further than the opinion and practice of some particular persons, who had been trained up all their days to such observances, and therefore were the more excusable if they with difficulty parted with them. But in the epistle to the Galatians, where he deals with those that were originally Gentiles, but were influenced by some judaizing teachers, not only to believe such a distinction and to practise accordingly, but to lay a stress upon it as necessary to salvation, and to make the observance of the Jewish festivals public and congregational, here the case was altered, and it is charged upon them as the frustrating of the design of the gospel, falling from grace, Gal. 4:9-11. The Romans did it out of weakness, the Galatians did it out of wilfulness and wickedness; and therefore the apostle handles them thus differently. This epistle is supposed to have been written some time before that to the Galatians. The apostle seems willing to let the ceremonial law wither by degrees, and to let it have an honourable burial; now these weak Romans seem to be only following it weeping to its grave, but those Galatians were raking it out of its ashes” (= Mereka yang berpikir bahwa diri mereka masih berada di bawah kewajiban tertentu pada hukum ceremonial, menilai satu hari lebih dari yang lainnya - memelihara rasa hormat terhadap masa-masa Paskah, Pentakosta, bulan-bulan baru, dan hari raya pondok daun; menganggap hari-hari itu lebih baik / penting dari hari-hari yang lain, dan sesuai dengan pandangan itu menguduskan hari-hari itu dengan pemeliharaan khusus, mengikat diri mereka sendiri pada istirahat dan aktivitas agamawi tertentu pada hari-hari itu. Mereka yang mengerti bahwa semua hal-hal ini telah dicabut / dibatalkan dan disingkirkan oleh kedatangan Kristus menganggap setiap hari sama. Kita harus mengerti ini dengan perkecualian tentang hari Tuhan, yang secara sepakat dipelihara oleh semua orang Kristen; tetapi mereka memperhatikan hari-hari raya Yahudi kuno itu. Di sini sang rasul berbicara tentang perbedaan tentang daging dan hari sebagai suatu hal yang tidak penting, dimana itu bukan lain adalah pandangan dan praktek dari beberapa orang-orang tertentu, yang telah dididik seumur hidup mereka pada pemeliharaan-pemeliharaan seperti itu, dan karena itu lebih mudah dimaafkan jika mereka sukar berpisah dengan hal itu. Tetapi dalam surat Galatia, dimana ia menangani mereka yang asal usulnya adalah orang non Yahudi, tetapi telah dipengaruhi oleh beberapa guru agama Yahudi, yang bukan hanya mempercayai perbedaan seperti itu dan mempraktekkannya, tetapi menekankannya sebagai sesuatu yang perlu untuk keselamatan, dan membuat pemeliharaan hari-hari raya Yahudi itu bersifat umum dan jemaat, di sini kasusnya berubah, dan dituduhkan kepada mereka sebagai menggagalkan rencana / tujuan dari injil, jatuh dari kasih karunia / murtad, Gal 4:9-11. Orang-orang Roma melakukannya dari kelemahan, orang-orang Galatia melakukannya dari kesengajaan dan kejahatan; dan karena itu sang rasul menangani mereka secara berbeda. Surat ini (Roma) diduga / dianggap telah ditulis beberapa waktu sebelum surat Galatia. Sang rasul kelihatannya mau untuk membiarkan hukum ceremonial menjadi layu perlahan-lahan, dan membiarkannya mendapatkan penguburan yang terhormat; orang-orang Roma yang lemah ini kelihatannya hanya mengikutinya dengan menangis sampai pada kuburnya, tetapi orang-orang Galatia itu menggaruknya dari abunya).

 

Barnes’ Notes: “The question has been agitated whether the apostle intends in this to include the Christian Sabbath. Does he mean to say that it is a matter of ‘indifference’ whether this day be observed, or whether it be devoted to ordinary business or amusements? This is a very important question in regard to the Lord’s day. That the apostle did not mean to say that it was a matter of indifference whether it should be kept as holy, or devoted to business or amusement, is plain from the following considerations. (1) the discussion had reference only to the special customs of the ‘Jews,’ to the rites and practices which ‘they’ would attempt to impose on the Gentiles, ... The inquiry pertained to ‘meats,’ and festival observances among the Jews, and to their scruples about partaking of the food offered to idols, etc.; and there is no more propriety in supposing that the subject of the Lord’s day is introduced here than that he advances principles respecting ‘baptism’ and ‘the Lord’s supper.’ (2) the ‘Lord’s day’ was doubtless observed by ‘all’ Christians, whether converted from Jews or Gentiles; see 1 Cor. 16:2; Acts 20:7; Rev. 1:10; compare the notes at John 20:26. The propriety of observing ‘that day’ does not appear to have been a matter of controversy. The only inquiry was, whether it was proper to add to that the observance of the Jewish Sabbaths, and days of festivals and fasts [= Ada pertanyaan yang mengganggu apakah sang rasul bermaksud dengan ini untuk mencakup Sabat Kristen. Apakah ia bermaksud untuk mengatakan bahwa merupakan sesuatu yang tidak penting apakah hari ini dipelihara, atau apakah itu digunakan untuk bisnis dan hiburan biasa? Ini merupakan pertanyaan yang sangat penting berkenaan dengan hari Tuhan. Bahwa sang rasul tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa merupakan sesuatu yang tidak penting apakah itu (hari Minggu) harus dipelihara sebagai hari yang kudus, atau digunakan untuk bisnis atau hiburan, adalah jelas dari pertimbangan-pertimbangan berikut. (1) diskusi itu hanya berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan / tradisi-tradisi khusus dari ‘orang-orang Yahudi’, dengan upacara-upacara dan praktek-praktek yang mereka usahakan untuk dipaksakan terhadap orang-orang non Yahudi, ... Penyelidikan / pertanyaan ini mengenai ‘daging’, dan pemeliharaan hari-hari raya / perayaan di antara orang-orang Yahudi, dan keberatan mereka tentang ambil bagian terhadap makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala, dsb.; dan sama tidak cocoknya untuk menganggap bahwa pokok tentang hari Tuhan diajukan di sini dengan bahwa ia (Paulus) mengajukan prinsip-prinsip tentang ‘baptisan’ dan ‘Perjamuan Kudus’. (2) tak diragukan bahwa ‘hari Tuhan’ dipelihara oleh ‘semua’ orang-orang kristen, apakah dipertobatkan dari kalangan Yahudi atau non Yahudi; lihat 1Kor 16:2; Kis 20:7; Wah 1:10; bandingkan dengan catatan pada Yoh 20:26. Kepatutan / kebenaran tentang pemeliharaan ‘hari itu’ tidak merupakan persoalan kontroversi. Satu-satunya pertanyaan adalah, apakah merupakan sesuatu yang benar untuk menambahkan pada itu pemeliharaan terhadap Sabat-Sabat Yahudi, dan hari-hari perayaan dan puasa].

 

Catatan: saya menganggap bagian point (1) dari kutipan dari Barnes ini sebagai sesuatu yang sangat bagus, dan karena itu akan saya perjelas dengan kata-kata saya sendiri. Barnes mengatakan bahwa text Ro 14:5-6 ini berkenaan dengan 2 hal, yaitu pandangan tentang ‘hari’, dan pandangan tentang ‘makanan’. Keduanya berkenaan dengan agama Yahudi. Yang tentang ‘hari’, berurusan dengan Sabat Yahudi dan hari-hari raya maupun puasa mereka, dan yang tentang ‘makanan’ berkenaan dengan makan daging yang telah dipersembahkan kepada berhala. Kalau yang tentang ‘hari’ diterapkan pada Sabat Kristen / hari Minggu, itu sama salahnya dengan kalau yang tentang ‘makanan’ diterapkan pada Perjamuan Kudus.

 

3.   Gal 4:7-11 - “(7) Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. (8) Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. (9) Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh [KJV: ‘elements’ (= elemen-elemen)] dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? (10) Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. (11) Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia”.

 

Baik Adam Clarke maupun Barnes menganggap bahwa istilah-istilah dalam text Galatia ini berkenaan dengan Sabat Yahudi dan hari-hari raya Yahudi.

 

Tentang ketiga text di atas perhatikan komentar / penafsiran R. L. Dabney di bawah ini.

R. L. Dabney: “The facts in which all are agreed, which explain the Apostle’s meaning in these passages, are these: After the establishment of the new dispensation, the Christian converted from among the Jews had generally combined the practice of Judaism with the forms of Christianity. They observed the Lord’s day, baptism, and the Lord’s supper; but they also continued to keep the seventh day, the passover, and circumcision. At first it was proposed by them to enforce this double system on all Gentile Christian; but this project was rebuked by the meeting of apostles and elders at Jerusalem, recorded in Acts 15. A large part, however, of the Jewish Christians, out of whom ultimately grew the Ebionite sect, continued to observe the forms of both dispensations; and restless spirits among the mixed churches of Jewish and Gentile converts planted by Paul, continued to attempt their enforcement on Gentiles also; some of them conjoining with this Ebionite theory the graver heresy of a justification by ritual observances. Thus, at this day, this spectacle was exhibited. In the mixed churches of Asia Minor and the West, some brethren went to the synagogue on Saturday, and to the church-meeting on Sunday, keeping both days religiously; while some kept only Sunday. Some felt bound to keep all the Jewish festivals and fasts, while others paid them no regard. And those who had not Christian light to apprehend these Jewish observances as non-essentials, found their consciences burdened or offended by the diversity. It was to quiet this trouble that the apostle wrote these passages. ... We, however, further assert, that by the beggarly elements of ‘days,’ ‘months,’ ‘times,’ ‘years,’ ‘holy-days,’ ‘new-moons,’ ‘Sabbath-days,’ the apostle means Jewish festivals, and those alone. The Christian’s festival, Sunday, is not here in question; because about the observance of this there was no dispute nor diversity in the Christian churches. Jewish and Gentile Christians alike consented universally in its sanctification. When Paul asserts that the regarding of a day, or the not regarding it, is a non-essential, like the eating or not eating of meats, the natural and fair interpretation is, that he means those days which were in debate, and no others. When he implies that some innocently ‘regarded every day alike,’ we should understand, every one of those days which were subjects of diversity - not the Christians’ Sunday, about which there was no dispute (= Fakta-fakta dalam mana semua orang setuju, yang menjelaskan maksud dari sang Rasul dalam text-text ini adalah ini: Setelah penegakan dari sistim agama yang baru, orang Kristen yang bertobat dari antara orang-orang Yahudi pada umumnya mengombinasikan praktek dari agama Yahudi dengan bentuk-bentuk dari kekristenan. Mereka memelihara / menghormati hari Tuhan, baptisan, dan Perjamuan Kudus; tetapi mereka juga terus memelihara hari ketujuh, Paskah, dan sunat. Mula-mula mereka bermaksud untuk memaksakan sistim ganda ini terhadap semua orang Kristen non Yahudi; tetapi rancangan ini dikecam oleh pertemuan rasul-rasul dan tua-tua di Yerusalem, yang dicatat dalam Kis 15. Tetapi sebagian besar dari orang-orang kristen Yahudi, dari mana akhirnya tumbuh sekte Ebionite, terus memelihara bentuk-bentuk dari kedua sistim agama; dan roh-roh yang resah di antara gereja-gereja campuran dari petobat-petobat Yahudi dan non Yahudi yang ditanam oleh Paulus, terus berusaha untuk memaksa orang-orang non Yahudi juga; sebagian dari mereka bergabung dengan teori Ebionite ini yang merupakan kesesatan yang lebih berat dari pembenaran oleh ketaatan ritual. Maka, pada saat ini, tontonan ini ditunjukkan. Dalam gereja-gereja campuran Asia Kecil dan di Barat, sebagian saudara-saudara pergi ke sinagog pada hari Sabtu, dan ke pertemuan / kebaktian gereja pada hari Minggu, memelihara kedua hari secara agamawi; sementara sebagian hanya memelihara hari Minggu. Sebagian merasa harus memelihara semua hari-hari raya dan hari-hari puasa Yahudi, sedangkan yang lain tidak mempedulikannya. Dan mereka yang tidak mempunyai terang Kristen untuk memahami bahwa pemeliharaan Yahudi ini sebagai sesuatu yang tidak penting, mendapati bahwa hati-hati nurani mereka dibebani atau tersinggung / tersandung oleh perbedaan ini. Untuk menenangkan problem inilah maka sang rasul menulis text-text ini. ... Tetapi kami selanjutnya menegaskan, bahwa dengan elemen-elemen / roh-roh yang miskin dari ‘hari-hari’, ‘bulan-bulan’, ‘masa-masa’, ‘tahun-tahun’, ‘hari-hari kudus / raya’, ‘bulan-bulan baru’, ‘hari-hari Sabat’, sang rasul memaksudkan hari-hari raya Yahudi, dan hanya hari-hari raya Yahudi itu saja. Hari raya Kristen, hari Minggu, tidak dipertanyakan / dipersoalkan di sini; karena tentang pemeliharaan terhadap hari ini tidak ada perdebatan ataupun perbedaan dalam gereja-gereja Kristen. Orang-orang kristen Yahudi maupun non Yahudi sama-sama setuju secara universal tentang pengudusan hari itu. Pada waktu Paulus menegaskan bahwa ‘menghormati suatu hari’, atau ‘tidak menghormati suatu hari’ merupakan hal yang tidak penting, seperti ‘makan daging’ atau ‘tidak makan daging’, penafsiran yang alamiah / wajar dan adil adalah bahwa ia memaksudkan hari-hari yang diperdebatkan, dan bukan hari-hari yang lain. Pada waktu ia secara implicit mengatakan bahwa sebagian secara tidak bersalah ‘menganggap semua hari sama’, kita harus mengertinya bahwa ia memaksudkan setiap hari dari hari-hari itu yang merupakan pokok perbedaan - bukan hari Minggunya orang Kristen, tentang mana di sana tidak ada perdebatan) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 385-386.

 

Kesimpulan: ketiga text di atas (Kol 2:16-17  Ro 14:5-6  Gal 4:9-11) berbicara tentang hari-hari raya dalam agama Yahudi, bukan tentang hari Sabat Kristen (Minggu), dan karena itu tidak bisa digunakan untuk mengatakan bahwa hari Sabat Kristen ditiadakan. Jelas bahwa text-text ini juga tidak bisa digunakan untuk menentang perayaan Natal, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang.

 

c)      Sabat merupakan type dari istirahat di surga, dan karena itu tidak mungkin dihapuskan sebelum anti type / penggenapannya terjadi.

 

Adam Clarke: “The word shabaat signifies ‘rest or cessation from labour,’ and the sanctification of the seventh day is commanded, ... for it typifies the rest which remains for the people of God, and in this light it evidently appears to have been understood by the apostle, Heb. 4. Because this commandment has not been particularly mentioned in the New Testament as a moral precept that is binding on all, therefore some have presumptuously inferred that there is no Sabbath under the Christian dispensation. The truth is, the Sabbath is considered as a type: All types are of full force till the thing signified by them takes place; but the thing signified by the Sabbath is that rest in glory which remains for the people of God, therefore the moral obligation of the Sabbath must continue till time be swallowed up in eternity (= Kata SHABAAT berarti ‘istirahat atau berhenti dari pekerjaan’, dan pengudusan hari ketujuh diperintahkan, ... karena itu merupakan type dari istirahat yang tertinggal bagi umat Allah, dan jelas dalam terang ini itu terlihat telah dimengerti oleh sang rasul, Ibr 4. Karena perintah ini tidak disebutkan secara khusus dalam Perjanjian Baru sebagai perintah moral yang mengikat semua orang, maka sebagian orang secara lancang menyimpulkan bahwa tidak ada Sabat dalam sistim Kristen. Kebenarannya adalah, Sabat dianggap sebagai type: Semua type berlaku sampai hal yang dibayangkan olehnya terjadi; tetapi hal yang dibayangkan oleh Sabat adalah istirahat dalam kemuliaan yang tertinggal bagi umat Allah, dan karena itu, kewajiban Sabat harus terus berlaku sampai waktu ditelan dalam kekekalan).

 

Ibr 4:4-11 - “(4) Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: ‘Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaanNya.’ (5) Dan dalam nas itu kita baca: ‘Mereka takkan masuk ke tempat perhentianKu.’ (6) Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka. (7) Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu ‘hari ini’, ketika Ia setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas: ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suaraNya, janganlah keraskan hatimu!’ (8) Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain. (9) Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. (10) Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentianNya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaanNya. (11) Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga”.

 

Memang type hanya berlaku sampai anti-typenya / penggenapannya terjadi. Contoh: korban binatang untuk dosa merupakan type dari Kristus yang dikorbankan untuk dosa kita. Pada waktu Kristus telah dikorbankan di atas kayu salib, maka typenya dihapuskan. Demikian juga imam merupakan type dari Kristus sebagai pengantara. Pada saat Kristus telah datang, mati di salib, maka imam harus disingkirkan.

Tetapi karena Sabat merupakan type dari istirahat di surga, itu belum terjadi / tergenapi sampai kita masuk surga. Karena itu, kewajiban berkenaan dengan Sabat terus berlaku.

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali