(Rungkut Megah
Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 7 Nopember 2010, pk 17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
Kel 20:8-11 - “(8)
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: (9) enam hari lamanya engkau akan bekerja
dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat
TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu
laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu
perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. (11) Sebab
enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya,
dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat
dan menguduskannya”.
I) Perubahan Sabat dari Sabtu ke
Minggu.
1)
Dasar dari hukum tentang hari Sabat: Tuhan menciptakan alam semesta dalam
6 hari, dan Ia beristirahat pada hari ke 7, lalu menguduskan (memisahkan) hari
ke tujuh itu (Kel 20:11 bdk.
Kej 2:1-3).
Kel 20:11
- “Sebab
enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan
Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan
menguduskannya”.
Kej
2:1-3 - “(1) Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya.
(2) Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuatNya
itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuatNya
itu. (3) Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada
hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya
itu”.
2)
Hari Sabat sebetulnya adalah hari Sabtu.
Dari
penjelasan di atas terlihat bahwa hari Sabat sebetulnya adalah hari yang
ketujuh. Sekarang, hari ketujuh itu hari apa? Bangsa Israel / orang-orang Yahudi
menghitung hari dengan cara berbeda dari orang Tionghoa. Bagi orang Tionghoa,
hari pertama adalah hari Senin, tetapi bagi bangsa Israel / orang Yahudi hari
pertama adalah hari Minggu, hari kedua adalah hari Senin, dst., sehingga bagi
mereka hari ketujuh adalah hari Sabtu. Jadi, hari Sabat sebetulnya (pada jaman
Perjanjian Lama) adalah hari Sabtu.
Hal
lain yang perlu diingat adalah bahwa pergantian hari bagi orang-orang Yahudi
terjadi pada pk 6 sore. Jadi kalau bagi kita masih Jumat pk 6 sore, bagi mereka
saat itu sudah mulai masuk hari Sabtu / Sabat.
Bdk.
Luk 23:53-54 - “(53) Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya
dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam
bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat. (54) Hari itu adalah hari
persiapan dan sabat hampir mulai”.
Catatan: Yesus mati pada Jumat pk 3 siang, dan setelah itu
mayatNya diturunkan dan dikuburkan. Jadi pada saat penguburan itu selesai, sudah
mendekati pk 6 sore, sehingga sudah hampir memasuki hari Sabat / Sabtu.
3) Perubahan Sabat dari Sabtu menjadi
Minggu.
Sabat
Kristen berbeda harinya dengan Sabat Yahudi. Bagi orang Kristen, hari Sabat
berubah dari Sabtu menjadi Minggu.
Thomas
Watson: “The
old-seventh-day Sabbath, which was the Jewish Sabbath, is abrogated, and in the
room of it the first day of the week, which is the Christian Sabbath, succeeds. The
morality or substance of the fourth commandment does not lie in keeping the
seventh day precisely, but keeping one day in seven is what God has
appointed” (= Sabat hari ke 7 yang lama, yang merupakan hari Sabat Yahudi,
dibatalkan / dicabut, dan di tempatnya digantikan dengan hari pertama dari suatu
minggu, yang adalah hari Sabat Kristen. Moralitas atau substansi / hakekat
dari hukum ke 4 tidak terletak dalam pemeliharaan hari ke 7 secara persis,
tetapi pada pemeliharaan 1 dari 7 hari yang merupakan apa yang telah
ditetapkan Allah) - ‘The Ten Commandments’, hal 95.
Catatan: ini tentu tidak berarti bahwa setiap kita berhak
menentukan Sabatnya sendiri-sendiri. Setelah Sabat berubah ke hari Minggu, pada
umumnya kita harus menjadikan hari Minggu sebagai Sabat kita. Saya katakan
‘pada umumnya’ karena hamba-hamba Tuhan tidak mungkin bisa mempunyai Sabat
pada hari itu.
Orang-orang
Advent menganggap bahwa kalau Sabat memang diubah, maka harus ada ayat yang
secara explicit menunjukkan hal itu. Saya menjawab: tidak ada alasan untuk
menuntut ayat yang explicit. Alkitab memang sering mengajar secara implicit.
Sebagai contoh: perubahan sakramen sunat menjadi baptisan, sekalipun ada
ayatnya (Kol 2:11-12), juga tidak explicit / nyata / jelas. Lebih-lebih
perubahan dari Perjamuan Paskah menjadi Perjamuan Kudus (Mat 26:26-29)! Lalu
mengapa orang Advent sendiri mau mengubah sunat menjadi baptisan dan Perjamuan
Paskah menjadi Perjamuan Kudus, padahal tidak ada ayat yang explicit?
Sekalipun
dasar explicit tidak ada, tetapi dasar implicit ada dan cukup kuat. Apa saja
alasan dari Alkitab yang menyebabkan orang Kristen mengubah Sabat dari Sabtu
menjadi Minggu?
a)
Kristus bangkit pada hari Minggu, dan 2 x Ia menampakkan diri setelah
kebangkitan, juga pada hari Minggu.
Bible
Knowledge Commentary: “In
the present Church Age the day of worship has been changed from Saturday to
Sunday because of Jesus’ resurrection on the first day of the week (cf. Acts
20:7; 1 Cor 16:2)” [= Dalam Jaman Gereja sekarang hari kebaktian telah
diubah dari Sabtu menjadi Minggu karena kebangkitan Yesus pada hari pertama dari
minggu (bdk. Kis 20:7; 1Kor 16:2)].
Wycliffe
Bible Commentary: “The
keeping of the seventh day of the week as the Sabbath is not abrogated in the
NT, but the Sabbath of the New Creation is most naturally to be celebrated on
that day when Christ, having ceased from his finished work, rose from the dead. The
apostolic church celebrated both the first and the seventh days, but they soon
discontinued the old Hebrew observance” (= Pemeliharaan hari yang
ketujuh dari suatu minggu sebagai hari Sabat tidak dihapuskan dalam Perjanjian
Baru, tetapi Sabat dari Ciptaan Yang Baru paling wajar / alamiah untuk dirayakan
pada hari dimana Kristus, setelah berhenti dari pekerjaanNya yang telah
diselesaikan, bangkit dari antara orang mati. Gereja rasuli merayakan baik
hari pertama maupun hari ketujuh, tetapi mereka dengan cepat menghentikan
pemeliharaan Ibrani yang lama).
R.
L. Dabney: “After
the resurrection of Christ, the perpetual Divine obligation of a religious rest
was transferred to the first day of the week, and thence to the end of the
world, the Lord’s day is the Christian Sabbath, by Divine and apostolic
appointment” (= Setelah kebangkitan Kristus, kewajiban Ilahi yang kekal tentang
istirahat agamawi dipindahkan ke hari pertama dari suatu minggu, dan dari sana
sampai akhir jaman, hari Tuhan adalah Sabat Kristen, oleh penetapan Ilahi dan
rasuli) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal
367-368.
Keil
& Delitzsch:
“... after the completion of His work, He also rested on the Sabbath.
But He rose again on the Sunday; and through His resurrection, which is the
pledge to the world of the fruits of His redeeming work, He has made this day
the kuriakee’ heeme’ra (Lord’s day) for His Church, to be
observed by it till the Captain of its salvation shall return” [= ...
setelah penyelesaian pekerjaanNya, Ia juga beristirahat pada hari Sabat (Sabtu).
Tetapi Ia bangkit kembali pada hari Minggu; dan melalui kebangkitanNya, yang
merupakan janji kepada dunia tentang buah dari pekerjaan penebusanNya, Ia telah
menjadikan hari ini kuriakee’
heeme’ra (hari Tuhan) bagi GerejaNya, untuk diperhatikan / dihormati
olehnya sampai Kapten keselamatannya datang kembali].
Thomas
Watson: “Christ
rose on the first day of the week, out of the grave, and appeared twice on that
day to his disciples, John 20:19,26, which was to intimate, as Augustine and
Athanasius say, that he transferred the Jewish Sabbath to the Lord’s day”
(= Kristus bangkit dari kubur pada hari pertama dari suatu minggu, dan muncul /
menampakkan diri 2 x pada hari itu kepada murid-muridNya, Yoh 20:19,26, yang
tujuannya adalah untuk mengisyaratkan, seperti yang dikatakan Agustinus dan
Athanasius, bahwa Ia memindahkan hari Sabat Yahudi ke hari Tuhan)
- ‘The Ten Commandments’, hal 95.
Sekarang
mari kita memperhatikan 2 ayat yang dibicarakan dalam kutipan Thomas Watson di
atas.
1. Yoh 20:19
- “Ketika
hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah
murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena
mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan
berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’”.
a.
‘pada
hari pertama minggu itu’.
Yohanes menulis sedemikian rupa sehingga hari pertama itu sangat
ditekankan.
KJV: ‘Then the same day at evening, being the first day of the
week’ (= Maka pada hari yang sama pada sore / malam hari, yang merupakan
hari pertama dari minggu).
William
Hendriksen mengatakan (hal 457) bahwa Yohanes mau menekankan hari pertama itu.
Ia mulai dengan mengatakan ‘Now when it was evening of that day’
(= Pada sore / malam dari hari itu). Dilihat dari kontextnya itu sudah
menunjuk kepada hari pertama (bdk. 20:1). Tetapi Yohanes tidak puas dengan itu,
dan ia melanjutkan ‘that day, the first day of the week’ (= hari itu,
hari pertama dari minggu). Ini menunjukkan penekanan pada hari pertama (hari
minggu) itu.
Matthew
Henry beranggapan bahwa ini merupakan tanda / bukti bahwa Allah menghormati hari
itu.
b. ‘malam’.
Text
yang sedang kita pelajari ini (Yoh 20:19-23) paralel dengan Luk 24:36-dst.
Sekarang mari kita perhatikan kontext dari Luk 24 itu.
Luk 24:29,33,36
- “(29) Tetapi mereka sangat mendesakNya, katanya: ‘Tinggallah
bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari
hampir terbenam.’ Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan
mereka. ... (33) Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ
mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama
dengan teman-teman mereka. ... (36) Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang
hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada
mereka: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’”.
Jadi,
kalau dilihat dari Luk 24:29,33,36 ini, terlihat dengan jelas bahwa saat
ini bukan lagi siang / sore (sebelum pk 6 sore) tetapi sudah malam (lewat dari
pk 6 sore). Itu berarti bahwa sebetulnya, dari perhitungan waktu Yahudi,
itu bukan lagi hari pertama (minggu) tetapi hari kedua (senin).
William
Hendriksen: “It
was evening. In the light of Luke 24:29,33,36 we have a right to conclude that
it was no longer early in the evening when the great event recorded in the
present paragraph took place. As the Jews compute the days it was no longer
the first day of the week. But John, though a Jew, is writing much later than
Matthew and Mark, and does not seem to concern himself with Jewish
time-reckoning” (= Itu adalah malam. Dalam terang dari Luk 24:29,33,36
kami mempunyai hak untuk menyimpulkan bahwa itu bukan lagi awal dari suatu sore
ketika peristiwa yang besar yang dicatat dalam text ini terjadi. Sebagaimana
orang-orang Yahudi menghitung hari, itu bukan lagi hari pertama dari minggu.
Tetapi Yohanes, sekalipun ia adalah orang Yahudi, menulis jauh lebih belakangan
dari Matius dan Markus, dan kelihatannya tidak mempedulikan perhitungan waktu
Yahudi) - hal 458.
A.
T. Robertson menganggap bahwa kata-kata “Ketika hari sudah malam pada
hari pertama minggu itu” menunjukkan bahwa Yohanes menggunakan
perhitungan waktu Romawi dan bukan Yahudi.
Catatan: kalau Yohanes menggunakan perhitungan waktu Yahudi,
maka ia tidak mungkin menggabungkan ‘malam’ dengan ‘hari pertama
minggu itu’.
Bagian
ini perlu diperhatikan karena ada orang-orang yang menolak perubahan Sabat
dari Sabtu menjadi Minggu dengan mengatakan bahwa Yesus menampakkan diri di
sini pada hari Senin, bukan pada hari Minggu. Itu memang Senin berdasarkan
perhitungan waktu Yahudi, tetapi itu adalah Minggu berdasarkan perhitungan
waktu Romawi. Dan Yohanes jelas menggunakan perhitungan waktu Romawi.
Salah
satu bukti penggunaan perhitungan waktu Romawi oleh Yohanes adalah Yoh 19:14 - “Hari
itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus
kepada orang-orang Yahudi itu: ‘Inilah rajamu!’”.
NIV/Lit:
‘about the sixth hour’ (=
kira-kira jam keenam).
Dan
kalau digunakan perhitungan waktu Yahudi, maka ini memang akan menjadi pk 12,
seperti dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia. Tetapi ini tidak mungkin, karena
akan bertentangan dengan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Yesus sudah disalibkan
pada pk 9 pagi.
Bdk.
Mark 15:25,33 - “ (25) Hari jam sembilan (Lit: jam yang ketiga)
ketika Ia disalibkan. ... (33) Pada jam dua belas (Lit: jam yang keenam),
kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga”.
Hendriksen
(juga Tasker, Tyndale) menganggap Yohanes menggunakan perhitungan jam Romawi,
dan itu berarti kira-kira pk 6.00 pagi.
William
Hendriksen: “it has been shown that in other passages the author of the
Fourth Gospel in all probability used the Roman civil day time-computation. See
on 1:39; 4:6; 4:52. If there, why not here?” (= telah ditunjukkan bahwa
dalam text-text lain pengarang dari Injil keempat sangat mungkin menggunakan
perhitungan waktu Romawi. Lihat tentang 1:39; 4:6; 4:52. Jika di sana demikian,
mengapa di sini tidak?) - hal 421.
Pulpit
Commentary menambahkan (hal 423) argumentasi seorang penafsir yang
mengatakan bahwa rasul Yohanes menulis Injil Yohanes ini di Efesus, yang
menggunakan perhitungan waktu Asia, yang sama dengan perhitungan waktu Romawi.
c. ‘berkumpullah
murid-murid Yesus di suatu tempat’.
Kita
memang tidak tahu apa tujuan para murid berkumpul pada saat itu, tetapi
sedikitnya itu adalah suatu persekutuan. Bahkan ada penafsir yang beranggapan
bahwa murid-murid berkumpul pada hari minggu dalam Yoh 20:19 itu, untuk
berbakti.
Barnes’
Notes: “It
is worthy of remark that this is the first assembly that was convened for
worship on the Lord’s Day, and in that assembly Jesus was present. Since that
time, the day has been observed in the church as the Christian Sabbath,
particularly to commemorate the resurrection of Christ” (= Layak
diperhatikan bahwa ini adalah perkumpulan pertama yang dilakukan untuk kebaktian
pada hari Tuhan, dan dalam perkumpulan itu Yesus hadir. Sejak saat itu, hari itu
dihormati dalam gereja sebagai Sabat Kristen, khususnya untuk memperingati
kebangkitan Kristus).
2.
Yoh 20:26 - “Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada
kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara
pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan
berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’”.
Maksudnya
adalah 8 hari setelah Yoh 20:19. Ini bukan hari Senin, tetapi hari Minggu!
Yoh 20:19 adalah hari Minggu. 8 hari setelah itu / hari ke 8 setelah itu
juga adalah hari Minggu! (bandingkan dengan Yesus yang mati pada hari Jum’at,
lalu bangkit pada hari ke 3 yang adalah hari Minggu - itulah cara mereka
menghitung hari!).
M S
S R K
J S
M
----|----|----|----|----|----|----|----|----|---
1 2
3 4
5 6
7 8
Mengapa
Yesus muncul lagi-lagi pada hari Minggu? Untuk menekankan perubahan Sabat dari
Sabtu menjadi hari pertama (Minggu). Mari kita memperhatikan beberapa komentar
dari para penafsir tentang bagian ini.
Barnes’ Notes: “‘And after eight days
again’. That is, on the return of the first day of the week. From this it
appears that they thus early set apart this day for assembling together, and
Jesus countenanced it by appearing twice with them. It was natural that the
apostles should observe this day, but not probable that they would do it without
the sanction of the Lord Jesus. His repeated presence gave such a sanction,
and the historical fact is indisputable that from this time this day was
observed as the Christian Sabbath. See Acts 20:7; 1 Cor. 16:2; Rev. 1:10.”
(= ‘Dan setelah 8 hari lagi’. Yaitu, pada kembalinya hari pertama dari suatu
minggu. Dari sini kelihatannya mereka demikian awal memisahkan hari ini untuk
berkumpul bersama-sama, dan Yesus menyetujuinya dengan muncul 2 x bersama mereka.
Adalah sesuatu yang wajar bahwa rasul-rasul memperingati hari ini, tetapi tidak
mungkin bahwa mereka melakukan hal itu tanpa persetujuan dari Tuhan Yesus.
KehadiranNya yang terulang memberikan persetujuan seperti itu, dan fakta
historis tidak dapat dibantah bahwa sejak saat ini hari ini diperingati sebagai
Sabat Kristen. Lihat Kis 20:7; 1Kor 16:2; Wah 1:10).
Jadi kelihatannya Barnes beranggapan bahwa rasul-rasul yang lebih dulu
melakukan perubahan Sabat, dan Yesus lalu merestuinya. Tetapi saya lebih condong
pada pandangan dari beberapa penafsir di bawah ini.
William Hendriksen: “Did the Lord wait until
Sunday evening in order to encourage his disciples to observe that day - and not
some other day - as day of rest and worship? That would seem probable” (=
Apakah Tuhan menunggu sampai Minggu malam untuk mendorong murid-muridNya untuk
menghormati hari itu - dan bukannya hari yang lain - sebagai hari istirahat dan
ibadah? Itu kelihatannya memungkinkan) - hal 464.
Matthew
Henry: “He
deferred it so long as seven days. And why so? ... that he might put an honour
upon the first day of the week, and give a plain intimation of his will, that it
should be observed in his church as the Christian sabbath, the weekly day of
holy rest and holy convocations” (= Ia menunda itu selama 7 hari. Dan
mengapa demikian? ... supaya Ia bisa meletakkan suatu penghormatan pada hari
pertama dari suatu minggu, dan memberikan suatu isyarat yang jelas dari
kehendakNya, bahwa hari itu harus diperingati / dihormati dalam gerejaNya
sebagai Sabat Kristen, hari libur mingguan dan pertemuan kudus mingguan).
Jamieson, Fausset & Brown: “‘And
after eight days’ - that is, on the eighth or first day of the following week.
They themselves probably met every day during the preceding week, but their
Lord designedly reserved His second appearance among them until the recurrence
of His resurrection-day, that He might thus inaugurate the delightful sanctities
of THE LORD’S DAY (Rev. 1:10)” [= ‘Dan setelah 8 hari’ - yaitu,
pada hari ke 8 atau hari pertama dari minggu berikutnya. Mereka sendiri
mungkin bertemu setiap hari dalam sepanjang minggu yang lalu, tetapi Tuhan
mereka dengan terencana menahan pemunculanNya yang kedua di antara mereka sampai
kembalinya hari kebangkitanNya, supaya dengan demikian Ia bisa melantik
kekudusan yang menggembirakan dari HARI TUHAN (Wah 1:10)].
Jelas
bahwa inisiatif perubahan Sabat itu tidak mungkin datang dari rasul-rasul,
yang lalu disetujui oleh Yesus. Inisiatif itu datang dari Yesus sendiri, yang
secara sengaja dan terencana melakukan 2 x pemunculan pada hari Minggu, dan
dengan demikian memberikan isyarat yang jelas tentang hal itu.
b)
Hari Pentakosta (Kis 2:1-13), yang merupakan ‘hari berdirinya
gereja’, juga jatuh pada hari Minggu (bdk. Im 23:15-16
Ul 16:9).
Im 23:15-16
- “(15) Kemudian kamu harus menghitung, mulai dari hari sesudah sabat
itu, yaitu waktu kamu membawa berkas persembahan unjukan, harus ada genap
tujuh minggu; (16) sampai pada hari sesudah sabat yang ketujuh kamu harus
hitung lima puluh hari; lalu kamu harus mempersembahkan korban sajian yang baru
kepada TUHAN”.
Sabat
jatuh pada hari ketujuh. Jadi, hari sesudah Sabat pasti adalah hari pertama /
Minggu.
c) Hari
Minggu disebut sebagai ‘hari Tuhan’.
Wah 1:10
- “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari
belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala”.
Sekalipun
ayat ini tak menyebutkan bahwa itu adalah hari pertama / hari Minggu, tetapi
boleh dikatakan semua penafsir menganggapnya demikian
Thomas
Watson: “As
it is called the ‘Lord’s Supper,’ because of the Lord’s instituting the
bread and wine and setting it apart from a common to a special and sacred use;
so it is called the Lord’s-day, because of the Lord’s instituting it, and
setting it apart from common days, to his special worship and service” [=
Sebagaimana itu disebut ‘Makan Malam / Perjamuan Tuhan’ (= Perjamuan
Kudus), karena Tuhan menetapkan roti dan anggur dan memisahkannya dari
penggunaan yang umum / biasa menjadi penggunaan yang khusus dan keramat / kudus;
demikian juga itu disebut ‘hari Tuhan’, karena Tuhan menetapkannya, dan
memisahkannya dari hari-hari yang umum / biasa, bagi penyembahan dan
kebaktianNya yang khusus]
- ‘The Ten Commandments’, hal 95.
Catatan: istilah ‘the Lord’s Supper’ muncul
dalam 1Kor 11:20 versi KJV.
1Kor 11:20
- “Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan
Tuhan”.
KJV: ‘the Lord’s supper’ (= makan malam Tuhan / perjamuan
Tuhan).
Bdk.
Yes 58:13-14 - “(13) Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat
dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudusKu; apabila engkau menyebutkan hari
Sabat ‘hari kenikmatan’, dan hari kudus TUHAN ‘hari yang mulia’;
apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan
tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, (14) maka engkau akan
bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak
bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau
dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang
mengatakannya”.
Matthew
Henry: “Even
in Old-Testament times the sabbath was called the Lord’s day, and therefore it
is fitly called so still, and for a further reason, because it is the Lord
Christ’s day, Rev. 1:10” (= Bahkan dalam jaman Perjanjian Lama Sabat
disebut ‘hari Tuhan’, dan karena itu, itu cocok tetap disebut demikian, dan
untuk alasan lain, karena itu adalah hari Tuhan Kristus, Wah 1:10).
d)
Sejak kebangkitan Tuhan Yesus, orang-orang kristen berbakti pada hari
pertama / hari Minggu.
1.
Kis 20:7 - “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika
kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan
saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan
harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam”.
Ini
jelas merupakan suatu kebaktian, dan itu diadakan pada hari pertama / hari
Minggu.
Matthew
Henry: “They came together upon the
first day of the week, which they called the Lord’s day (Rev. 1:10), the
Christian sabbath, celebrated to the honour of Christ and the Holy Spirit, in
remembrance of the resurrection of Christ, and the pouring out of the Spirit,
both on the first day of the week. This is here said to be the day when the
disciples came together, that is, when it was their practice to come together in
all the churches” [= Mereka datang berkumpul pada hari pertama dari minggu
itu, yang mereka sebut ‘hari Tuhan’ (Wah 1:10), hari Sabat Kristen,
dirayakan bagi kehormatan Kristus dan Roh Kudus, dalam peringatan tentang
kebangkitan Kristus, dan pencurahan Roh Kudus, keduanya pada hari pertama dari
minggu. Di sini ini dikatakan sebagai hari dimana murid-murid datang berkumpul,
yaitu, pada waktu itu merupakan praktek mereka untuk datang berkumpul dalam
semua gereja-gereja].
Matthew
Henry:
“They
came together to break bread, that is, to celebrate the ordinance of the
Lord’s supper, ... In the primitive times it was the custom of many churches
to receive the Lord’s supper every Lord’s day, celebrating the memorial of
Christ’s death in the former, with that of his resurrection in the latter”
(= Mereka datang berkumpul untuk memecahkan roti, yaitu untuk merayakan
peraturan Perjamuan
Kudus, ... Dalam jaman primitif merupakan kebiasaan dari banyak gereja untuk
menerima Perjamuan Kudus setiap hari Tuhan, merayakan peringatan kematian
Kristus dalam hal yang terdahulu, dan kebangkitanNya dalam hal yang terakhir).
Adam
Clarke: “‘To break bread.’ To break eucaristia,
the eucharist, as the Syriac has it; intimating, by this, that they were
accustomed to receive the holy sacrament on each Lord’s day. It is likely
that, besides this, they received a common meal together. Some think that the agapee,
or love feast, is intended” (= ‘Untuk memecah-mecahkan roti’. Untuk
memecah-mecahkan EUCARISTIA, EUCHARIST, seperti bahasa Aram menuliskannya;
menunjukkan dengan ini bahwa mereka terbiasa untuk menerima sakramen kudus pada
setiap hari Tuhan. Adalah mungkin bahwa disamping ini mereka menerima makanan
bersama. Sebagian orang beranggapan bahwa AGAPE, atau perjamuan kasih, yang
dimaksudkan).
Jamieson,
Fausset & Brown:
“‘To
break bread.’ This, when compared with 1 Cor. 16:2, and other similar
allusions, plainly indicates that the Christian observance the first day of the
week - afterward emphatically termed ‘The Lord’s Day’ - was already a fixed
practice of the churches”
(= ‘Untuk memecah-mecahkan roti’. Ini, pada saat dibandingkan dengan 1Kor
16:2, dan bagian-bagian lain yang mirip yang menunjukkan secara tak langsung,
dengan jelas menunjukkan bahwa pemeliharaan orang-orang Kristen terhadap hari
pertama dari minggu - yang belakangan secara menekankan diistilahkan dengan
‘hari Tuhan’ - sudah merupakan suatu praktek yang tetap dari gereja-gereja).
Wycliffe:
“This is the earliest clear
reference to the Christian practice of observing Sunday as a day of worship. The
first Christians, as Jews, probably continued to observe the Sabbath as well as
the first day of the week. We are not told when or how the practice of Sunday
worship arose in the church. ... Broken bread refers to the breaking of the
bread of the Lord’s Supper. Eaten refers to the agape or love feast, a fellowship meal that accompanied the
Lord’s Supper” (= Ini merupakan referensi yang
jelas yang paling awal bagi praktek Kristen untuk memperingati hari Sabat maupun
hari pertama dari minggu. Kita tidak diberitahu kapan atau bagaimana praktek
ibadah minggu muncul dalam gereja. ... Pemecahan roti menunjuk pada pemecahan
roti dari Perjamuan Kudus. ‘Makan’ menunjuk pada AGAPE atau perjamuan kasih,
suatu makan persekutuan yang menyertai Perjamuan Kudus).
Catatan:
bagian akhir yang saya garis-bawahi menunjuk pada Kis 20:11 - “Setelah
kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan;
habis makan masih lama lagi ia berbicara, sampai fajar menyingsing. Kemudian ia
berangkat”.
Bible
Knowledge Commentary:
“This is the clearest verse in the New Testament
which indicates that Sunday was the normal meeting day of the apostolic church.
Paul stayed in Troas for seven days (v. 6) and the church met on the first day
of the week. Luke’s method of counting days here was not Jewish, which
measures from sundown to sundown, but Roman, which counted from midnight to
midnight. This can be stated dogmatically because ‘daylight’ (v. 11) was the
next day (v. 7)” [= Ini adalah ayat yang paling jelas dalam
Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa hari minggu adalah hari pertemuan normal
dari gereja rasuli. Paulus tinggal di Troas untuk 7 hari (ay 6) dan gereja
bertemu pada hari pertama dari minggu. Metode Lukas tentang penghitungan hari di
sini bukanlah metode Yahudi, yang mengukur dari matahari terbenam sampai
matahari terbenam, tetapi metode Romawi, yang menghitung dari tengah malam
sampai tengah malam. Ini bisa dinyatakan secara dogmatik karena ‘fajar
menyingsing’ (ay 11) merupakan hari berikutnya (ay 7)].
Kis
20:6-11 - “(6) Tetapi sesudah hari raya
Roti Tidak Beragi kami berlayar dari Filipi dan empat hari kemudian sampailah
kami di Troas dan bertemu dengan mereka. Di situ kami tinggal tujuh hari
lamanya. (7) Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk
memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena
ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu
berlangsung sampai tengah malam. (8) Di ruang atas, di mana kami berkumpul,
dinyalakan banyak lampu. (9) Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela.
Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya.
Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia
diangkat orang, ia sudah mati. (10) Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan
diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: ‘Jangan ribut, sebab ia
masih hidup.’ (11) Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti
lalu makan; habis makan masih lama lagi ia berbicara, sampai fajar
menyingsing. Kemudian ia berangkat”.
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“The
‘breaking of bread’ in Acts 20:7 refers to the Lord’s Supper, whereas in
Acts 20:11 it describes a regular meal” (= Pemecahan roti dalam Kis
20:7 menunjuk pada Perjamuan Kudus, sedangkan dalam Kis 20:11 itu menggambarkan
makan biasa).
Kesimpulan:
memang ada perbedaan pandangan di antara para penafsir tentang arti dari 2 x
pemecahan roti (ay 7,11), tetapi bagaimanapun, dari 2 x pemecahan roti itu,
salah satu pasti menunjuk pada Perjamuan Kudus. Dengan demikian, itu pasti
dilakukan dalam kebaktian.
2.
1Kor 16:2 - “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu
hendaklah kamu masing-masing - sesuai dengan apa yang kamu peroleh - menyisihkan
sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku
datang”.
Kata-kata
‘di rumah’ ini bukan hanya salah terjemahan, tetapi juga tidak masuk
akal. Kalau memang harus disimpan ‘di rumah’ mengapa mereka harus
mengumpulkan pada hari pertama? Kata-kata ‘di rumah’ itu seharusnya
tidak ada / dihapuskan. KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV tidak mempunyai kata-kata itu.
NIV:
‘each one of you should set aside a sum of money in keeping with his
income, saving it up, ...’ (= setiap orang dari kamu harus menyisihkan
sejumlah uang sesuai dengan penghasilannya, menyimpannya, ...).
Adam
Clarke: “It
appears from the whole that the first day of the week, which is the Christian
Sabbath, was the day on which their principal religious meetings were held in
Corinth and the churches of Galatia; and, consequently, in all other places
where Christianity had prevailed. This is a strong argument for the keeping of
the Christian Sabbath” (= Kelihatan dari seluruh bagian ini bahwa hari pertama dari minggu,
yang merupakan Sabat Kristen, adalah hari dimana pertemuan-pertemuan agama utama
mereka dilakukan di Korintus dan gereja-gereja Galatia; dan karena itu, di semua
tempat dimana kekristenan tersebar. Ini merupakan argumentasi yang kuat untuk
memelihara hari Sabat Kristen).
Charles Hodge:
“If Paul directed this money to be laid up at
home, why was the first day of the week selected? It is evident that the first
day must have offered some special facility for doing what is here enjoined. The
only reason that can be assigned for requiring the thing to be done on the first
day of the week, is, that on that day the Christians were accustomed to meet,
and what each one had laid aside from his weekly gains could be treasured up,
i.e. put into the common treasury of the church” (= Jika
Paulus mengarahkan uang ini untuk disimpan di rumah, mengapa hari pertama dari
minggu dipilih? Adalah jelas bahwa hari pertama pasti memberikan suatu fasilitas
khusus untuk melakukan apa yang diperintahkan di sini. Satu-satunya alasan yang
bisa diberikan untuk mengharuskan hal itu dilakukan pada hari pertama dari
minggu adalah bahwa pada hari itu orang-orang Kristen terbiasa untuk bertemu,
dan apa yang tiap orang telah sisihkan dari keuntungan mingguannya bisa
disimpan, yaitu dimasukkan ke dalam perbendaharaan umum dari gereja).
Berbakti
pada hari Minggu ini sudah dimulai sangat awal, dan beberapa penafsir mengatakan
bahwa sejak awal abad kedua, seluruh gereja sudah meninggalkan Sabat Yahudi, dan
menggunakan hari Minggu sebagai hari Sabat /
hari Kebaktian. Ke-universal-an seperti ini tidak mungkin terjadi kalau
hanya orang-orang kristen tertentu yang mengubahnya. Bahkan saya berpendapat
tidak akan mungkin terjadi seandainya hanya sebagian dari rasul-rasul yang
mengubahnya. Ini hanya bisa terjadi kalau semua rasul-rasul mengubahnya,
dan mereka tidak mungkin mengubah berdasarkan kemauan / pemikiran mereka
sendiri. Mereka pasti mendapat perintah dari Tuhan.
Jewish
New Testament Commentary (tentang 1Kor 16:2): “There is good documentation that the Gentile churches have observed
Sunday as a day of worship since very early times. Specifically, Ignatius writes
in the early second century of Sunday as ‘the Lord’s Day,’ commemorating
the day Yeshua rose from the grave. This we know to have been Sunday from Mt
28:1 and Lk 24:1”
(= Ada dokumentasi yang baik bahwa gereja-gereja dari orang-orang non Yahudi
telah memelihara hari Minggu sebagai suatu hari kebaktian sejak masa yang sangat
awal. Secara khusus, Ignatius menulis pada awal abad ke 2 tentang hari Minggu
sebagai ‘hari Tuhan’, untuk memperingati hari dimana Yesus bangkit dari
kubur. Ini kita ketahui sebagai hari minggu dari Mat 28:1 dan Luk 24:1).
Thomas
Watson: “Augustine
and Innocentius, and Isidore, make the keeping of our gospel Sabbath to be of
apostolic sanction, and affirm, that by virtue of the apostles’ practice, this
day is to be set apart for divine worship. What the apostles did, they did by
divine authority; for they were inspired by the Holy Ghost” (= Agustinus
dan Innocentius, dan Isidore, menganggap pemeliharaan Sabat Injil kita sebagai
penetapan rasuli, dan menegaskan, bahwa berdasarkan praktek rasul-rasul, hari
ini harus dipisahkan untuk penyembahan / ibadah ilahi. Apa yang dilakukan
rasul-rasul, mereka lakukan oleh otoritas ilahi; karena mereka diilhami oleh Roh
Kudus) - ‘The Ten Commandments’, hal 95.
Thomas
Watson: “The
primitive church had the Lord’s-day, which we now celebrate, in high
estimation. It was a great badge of their religion to observe this day.
Ignatius, the most ancient father, who lived in the time of John the apostle,
has these words, ‘Let every one that loveth Christ keep holy the first day of
the week, the Lord’s-day.’” (= Gereja mula-mula sangat meninggikan
hari Tuhan, yang sekarang kita rayakan. Merupakan lencana yang besar dari agama
mereka untuk menghormati hari ini. Ignatius, bapa gereja yang paling kuno, yang
hidup pada jaman Yohanes sang rasul, mengatakan kata-kata ini: ‘Hendaklah
setiap orang yang mengasihi Kristus menguduskan hari pertama dari suatu minggu,
hari Tuhan’)
- ‘The Ten Commandments’, hal 95-96.
William Barclay: “By early in the second
century the Sabbath had been abandoned and the Lord’s Day was the accepted
Christian day” (= Pada awal abad kedua hari
Sabat telah ditinggalkan dan hari Tuhan diterima sebagai hari Kristen) - hal 43.
Catatan:
‘awal abad kedua’ berarti tahun 100an, dan itu sangat dekat
dengan masa kehidupan rasul Yohanes, yang masih hidup sampai akhir abad pertama.
Philip Schaff: “The universal and
uncontradicted Sunday observance in the second century can only be explained by
the fact that it had its roots in apostolic practice” (= Ibadah
pada hari Minggu yang bersifat universal dan tidak ditentang pada abad kedua,
hanya bisa dijelaskan oleh fakta bahwa itu mempunyai akarnya dalam praktek
rasuli) - ‘History of the Christian Church’,
vol I, hal 478.
Homer Hailey: “The ante-Nicene writers who
wrote after John followed a consistent pattern in considering ‘the first
day,’ ‘the Lord’s day,’ the ‘resurrection day,’ and the day of
meeting, Sunday, as identical. Ignatius (30-107 A.D.) writes, ‘Let every
friend of Christ keep the Lord’s day as a festival, the resurrection day, the
queen and chief of all the days (of the week)’ (A-N-F, I, p. 63). Justin
(110-165 A.D.), writing of the day which the saints met for worship identified
it as ‘Sunday ... the first day ... and Jesus Christ our Saviour on the same
day rose from the dead’ (I, p. 168). The teaching of the Twelve (120-190
A.D.): ‘But every Lord’s day do ye gather yourselves, and break bread’
(VII, p. 381). Clement (153-217 A.D.), writing agonist (against?) Gnostics,
identifies the Lord’s day with the resurrection, saying, ‘He, in fulfillment
of the precept, according to the Gospel, keeps the Lord’s day ... glorifying
the Lord’s resurrection’ (II, p. 545). Tertullian (145-220 A.D.) identifies
‘the Lord’s day’ as ‘every eighth day’ (III, p. 70). Constitution of
the Holy Apostles (250-325 A.D.): ‘And on the day of our Lord’s
resurrection, which is the Lord’s day, meet more diligently’ (VII, p. 423);
and ‘on the day of the resurrection of the Lord, that is, the Lord’s day,
assemble yourselves together, without fail’ (ibid. p. 471)”
[= Penulis-penulis sebelum Nicea yang menulis setelah Yohanes mengikuti pola
yang konsisten dalam menganggap ‘hari pertama’, ‘hari Tuhan’, ‘hari
kebangkitan’, dan hari pertemuan, Minggu, sebagai identik. Ignatius
(30-107 M) menulis: ‘Hendaknya setiap teman Kristus memelihara hari Tuhan
sebagai suatu perayaan, hari kebangkitan, ratu dan kepala dari semua hari (dari
suatu minggu)’ (A-N-F, I, hal 63). Justin (110-165 M), menulis tentang hari
dimana orang-orang kudus bertemu untuk kebaktian menyebutnya sebagai ‘Minggu
... hari yang pertama ... dan Yesus Kristus Juruselamat kita bangkit dari antara
orang mati pada hari yang sama’ (I, hal 168). The teaching of the Twelve
(120-190 M): ‘Tetapi setiap hari Tuhan kamu berkumpul dan memecahkan roti’
(VII, hal 381). Clement (153-217 M), menulis menentang Gnostics, mengidentikkan
hari Tuhan dengan kebangkitan, dengan berkata: ‘Ia, dalam penggenapan ajaran /
perintah, sesuai dengan Injil, memelihara hari Tuhan ... memuliakan kebangkitan
Tuhan’ (II, hal 545). Tertullian (145-220 M) mengidentikkan / menyebut ‘hari
Tuhan’ sebagai ‘setiap hari ke 8’ (III, hal 70). Constitution of the Holy
Apostles (250-325 M): ‘Dan pada hari kebangkitan Tuhan, yang adalah hari
Tuhan, bertemulah dengan makin rajin’ (VII, hal 423); dan ‘pada hari
kebangkitan Tuhan, yaitu, hari Tuhan, kumpulkanlah dirimu bersama-sama, tanpa
gagal (jangan pernah gagal untuk bertemu)’ (ibid. hal 471)] - hal 107.
Keberatan:
Tetapi
bagaimana dengan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa rasul Pauluspun tetap berbakti
pada hari Sabat (hari ketujuh) setelah kebangkitan Yesus? Misalnya:
·
Kis 13:14 - “Dari Perga mereka (Paulus dan
kawan-kawan) melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di
Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di
situ”.
·
Kis 13:42 - “Ketika Paulus dan Barnabas keluar, mereka
diminta untuk berbicara tentang pokok itu pula pada hari Sabat
berikutnya”.
·
Kis 13:44 - “Pada hari Sabat berikutnya datanglah
hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah”.
·
Kis 16:13 - “Pada hari Sabat kami (Paulus dan
Silas) ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan
tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami
berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ”.
·
Kis 17:2 - “Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat
itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka
bagian-bagian dari Kitab Suci”.
·
Kis 18:4 - “Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara
dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang
Yunani”.
Catatan: dalam semua ayat di atas, kata ‘Sabat’
menunjuk pada hari ketujuh. Dalam Kitab Suci kata ‘Sabat’ tidak
pernah digunakan untuk menunjuk pada hari Minggu / hari pertama.
Jawaban
saya:
Ada
2 kemungkinan untuk menjawab keberatan di atas:
1.
Ini merupakan masa peralihan dari Sabat Yahudi (Hari ketujuh / Sabtu) ke
Sabat Kristen (Hari pertama / Minggu), sehingga orang-orang kristen Yahudi
(termasuk Paulus) beribadah baik pada hari ketujuh / Sabtu, maupun pada hari
pertama / Minggu.
R.
L. Dabney: “After the establishment of the
new dispensation, the Christian converted from among the Jews had generally
combined the practice of Judaism with the forms of Christianity. They
observed the Lord’s day, baptism, and the Lord’s supper; but they
also continued to keep the seventh day, the passover, and circumcision. ...
In the mixed churches of Asia Minor and the West, some brethren went to the
synagogue on Saturday, and to the church-meeting on Sunday, keeping both days
religiously” (= Setelah penegakan dari sistim agama yang baru, orang
Kristen yang bertobat dari antara orang-orang Yahudi pada umumnya
mengombinasikan praktek dari agama Yahudi dengan bentuk-bentuk dari kekristenan.
Mereka memelihara / menghormati hari Tuhan, baptisan, dan Perjamuan
Kudus; tetapi mereka juga terus memelihara hari ketujuh, Paskah, dan
sunat. ... Dalam gereja-gereja campuran Asia Kecil dan di Barat, sebagian
saudara-saudara pergi ke sinagog pada hari Sabtu, dan ke pertemuan / kebaktian
gereja pada hari Minggu, memelihara kedua hari secara agamawi) - ‘Lectures
in Systematic Theology’, hal 385-386.
2.
Paulus pergi ke tempat ibadah Yahudi itu bukan dengan tujuan berbakti,
tetapi untuk memberitakan Injil. Kalau ia pergi ke sana pada hari pertama /
Minggu, tidak akan ada siapa-siapa di sana. Lalu siapa yang mau ia injili? Ia
harus pergi pada hari kebaktian Yahudi, yaitu hari ketujuh / Sabtu. Dan memang
kalau saudara perhatikan semua ayat di atas dimana Paulus kelihatannya
berbakti pada hari Sabat / Sabtu, ia selalu memberitakan Injil / Firman
Tuhan.
e)
Perubahan dari Sabtu ke Minggu ini perlu untuk mengingat penebusan dosa
kita oleh Kristus.
Thomas
Watson: “The
grand reason for changing the Jewish Sabbath to the Lord’s-day is that it puts
us in mind of the ‘Mystery of our redemption by Christ.’ The reason why God
instituted the old Sabbath was to be a memorial of the creation; but he has now
brought the first day of the week in its room in memory of a more glorious work
than creation, which is redemption. Great was the work of creation, but greater
was the work of redemption” (= Alasan yang agung untuk mengubah Sabat
Yahudi menjadi hari Tuhan adalah bahwa itu mengingatkan kita akan ‘Misteri
penebusan kita oleh Kristus’. Alasan mengapa Allah mengadakan Sabat yang lama
adalah sebagai peringatan tentang penciptaan; tetapi sekarang Ia telah membawa
hari pertama dari minggu sebagai gantinya untuk mengingat tentang suatu
pekerjaan yang lebih mulia dari pada penciptaan, yaitu penebusan. Pekerjaan
penciptaan itu besar, tetapi pekerjaan penebusan itu lebih besar)
- ‘The Ten Commandments’, hal 96.
Bagian ini penting untuk
diingat kalau saudara menghadapi orang Advent, yang berkeras bahwa hari untuk
berbakti haruslah Sabtu, yang merupakan hari Sabat Perjanjian Lama.
Ada
satu ayat sukar yang seolah-olah menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Barupun
Sabat tetap adalah hari Sabtu (sama dengan Sabat Perjanjian Lama).
Mat
24:20 - “Berdoalah, supaya waktu kamu
melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat”.
Mereka
disuruh berdoa supaya hal itu tidak terjadi pada musim dingin dan tidak terjadi
pada hari Sabat. Ini kelihatannya menunjukkan bahwa pada jaman setelah Yesus
(ayat ini menunjuk pada penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M.) para murid
tetap harus memelihara Sabat (Sabtu), karena kalau tidak apa pedulinya tindakan
melarikan diri itu dengan hari Sabat? Tetapi sebetulnya artinya tidak demikian.
Arti yang benar adalah sebagai berikut: Yang dimaksud dengan ‘hari Sabat’ di
sini bukanlah Sabat Kristen (Minggu), tetapi Sabat Yahudi (Sabtu), karena dalam
Kitab Suci kata ‘Sabat’ tidak pernah menunjuk pada hari Minggu, tetapi
selalu menunjuk pada hari Sabtu. Orang Kristen sebetulnya sudah tidak terikat
lagi dengan hari Sabat Yahudi, karena sejak kebangkitan Yesus, bagi orang
Kristen hari Sabat adalah hari Minggu. Jadi, ditinjau dari sudut orang-orang
kristen itu, sebetulnya tidak jadi soal kalau hal itu terjadi pada hari Sabat
Yahudi (Sabtu), karena bagi mereka tidak ada larangan apa-apa pada hari itu.
Tetapi perlu diingat bahwa orang-orang Yahudi yang bukan Kristen masih memegang
hari Sabat Yahudi (Sabtu) itu, sehingga mereka tidak mau berjualan, dan mereka
bahkan menutup / mengunci pintu-pintu gerbang kota pada hari itu. Karena itu,
kalau hal itu terjadi pada hari Sabat Yahudi (Sabtu), maka orang-orang kristen
yang melarikan diri itu tidak akan bisa membeli makanan maupun
kebutuhan-kebutuhan yang lain, dan juga tidak bisa memasuki kota-kota dalam
perjalanan mereka. Ini pasti akan menyukarkan mereka dalam melarikan diri itu.
Jadi,
ayat ini tidak berarti bahwa orang Kristen tetap memelihara hari Sabat Yahudi,
yaitu hari Sabtu. Hari Sabat akan menyukarkan orang-orang kristen dalam
melarikan diri, bukan karena orang-orang kristen tetap memelihara hari Sabat
itu, tetapi karena orang-orang Yahudi yang non Kristen tetap memelihara hari
Sabat itu.
Catatan:
penjelasan ini perlu saudara camkan, karena orang-orang dari ‘Gereja Masehi
Advent Hari Ketujuh’ menggunakan ayat ini untuk mengatakan bahwa bagi orang
Kristen hari Sabat tetap adalah hari Sabtu.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali