(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 3 Oktober 2010, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
http://golgothaministry.org
Kel 20:7 - “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan
sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut namaNya
dengan sembarangan”.
1)
Ada penterjemahan yang berbeda.
Dalam
Kitab Suci Indonesia dikatakan ‘dengan
sembarangan’, sedangkan dalam
KJV/RSV/NASB diterjemahkan ‘in vain’
(= dengan sia-sia). Sedangkan NIV menterjemahkan ‘misuse’
(= menyalah-gunakan).
Tetapi
kelihatannya masih ada terjemahan yang lain lagi. Perhatikan kutipan-kutipan di
bawah ini.
Barnes’
Notes: “Our translators make the Third commandment bear upon any profane and
idle utterance of the name of God. Others give it the sense, ‘Thou shalt not
swear falsely by the name of Jehovah thy God.’ The Hebrew word which answers
to ‘in vain’ may be rendered either way” (= Penterjemah kita membuat
hukum ketiga berhubungan dengan pengucapan nama Allah yang duniawi / biasa dan
sia-sia / tak berarti. Orang-orang lain memberikannya arti, ‘Janganlah engkau
bersumpah palsu dengan nama Yehovah, Allahmu’. Kata Ibrani yang cocok /
sesuai dengan ‘dengan sia-sia’ bisa diterjemahkan dengan cara yang manapun).
Pulpit Commentary: “Verse 7. - Thou shalt not take the name of the Lord thy God in vain. It is disputed whether this is a right rendering. Shav in Hebrew means both ‘vanity’ and ‘falsehood;’ so that the Third Commandment may forbid either ‘vain-swearing’ or simply ‘false-swearing’” (= Ayat 7. - ‘Janganlah engkau menggunakan nama Tuhan Allahmu dengan sia-sia’. Merupakan sesuatu yang diperdebatkan apakah ini merupakan penterjemahan yang benar. SHAV dalam bahasa Ibrani berarti baik ‘kesia-siaan’ maupun ‘kepalsuan’; sehingga hukum ketiga bisa melarang ‘sumpah yang sia-sia’ atau sekedar ‘sumpah palsu’).
2) Nama TUHAN / YHWH.
a)
Pertama-tama mungkin perlu dipersoalkan apa perbedaan arti kata
‘Allah’ dan ‘Tuhan’.
Saya
berpendapat bahwa kata ‘Allah’ menunjuk pada jenisnya. Jadi, kalau kita
adalah jenisnya adalah manusia, Mopi dan Bleki jenisnya adalah anjing, Gabriel
dan Mikhael jenisnya adalah malaikat, maka Dia jenisnya adalah Allah.
Sebagai
argumentasi saya menunjuk pada ayat-ayat Alkitab yang mengkontraskan Allah
dengan manusia, yang merupakan jenis makhluk kita.
1Sam
15:29 - “Lagi Sang Mulia dari Israel
tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang
harus menyesal.’”.
Ayub
9:32 - “Karena Dia bukan manusia
seperti aku, sehingga aku dapat menjawabNya: Mari bersama-sama menghadap
pengadilan”.
Ayub
32:13 - “Jangan berkata sekarang: Kami
sudah mendapatkan hikmat; hanya Allah yang dapat mengalahkan dia, bukan
manusia”.
Hos 11:9 - “Aku tidak akan melaksanakan murkaKu yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan”.
Yes 31:3 - “Sebab orang Mesir adalah manusia, bukan allah, dan kuda-kuda mereka adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Apabila TUHAN mengacungkan tanganNya, tergelincirlah yang membantu dan jatuhlah yang dibantu, dan mereka sekaliannya habis binasa bersama-sama”.
Yeh 28:2,9 - “(2) ‘Hai anak manusia, katakanlah kepada raja Tirus: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena engkau menjadi tinggi hati, dan berkata: Aku adalah Allah! Aku duduk di takhta Allah di tengah-tengah lautan. Padahal engkau adalah manusia, bukanlah Allah, walau hatimu menempatkan diri sama dengan Allah. ... (9) Apakah engkau masih akan mengatakan di hadapan pembunuhmu: Aku adalah Allah!? Padahal terhadap kuasa penikammu engkau adalah manusia, bukanlah Allah”.
Juga
perhatikan ayat-ayat di bawah ini.
Yes 45:22 - “Berpalinglah kepadaKu dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain”.
Yes 46:9 - “Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku”.
Yes 43:10 - “‘Kamu inilah saksi-saksiKu,’ demikianlah firman TUHAN, ‘dan hambaKu yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepadaKu dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi”.
Hakim 6:31 - “Tetapi jawab Yoas kepada semua orang yang mengerumuninya itu: ‘Kamu mau berjuang membela Baal? Atau kamu mau menolong dia? Siapa yang berjuang membela Baal akan dihukum mati sebelum pagi. Jika Baal itu allah, biarlah ia berjuang membela dirinya sendiri, setelah mezbahnya dirobohkan orang.’”.
1Raja 18:21-24,37-39 - “(21) Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: ‘Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.’ Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun. (22) Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: ‘Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya. (23) Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Akupun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api. (24) Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!’ Seluruh rakyat menyahut, katanya: ‘Baiklah demikian!’ .... (37) Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.’ (38) Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya. (39) Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: ‘TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!’”.
1Sam 17:46 - “Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah”.
KJV: ‘that there is a God in Israel’ [= bahwa ada (suatu / seorang) Allah di Israel].
Daniel 2:28 - “Tetapi di sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia; Ia telah memberitahukan kepada tuanku raja Nebukadnezar apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang. Mimpi dan penglihatan-penglihatan yang tuanku lihat di tempat tidur ialah ini:”.
KJV: ‘there is a God in heaven’ [= ada (suatu / seorang) Allah di surga].
Maz
14:1 - “[Untuk pemimpin biduan. Dari Daud.] Orang bebal berkata dalam hatinya:
‘Tidak ada Allah.’ Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang
berbuat baik”.
KJV: ‘There is no God’ (= Tidak ada Allah).
Juga Alkitab mengatakan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia (Yoh 1:1,14). Kalau manusia adalah jenis makhluk, maka rasanya tak terhindar bahwa Allah juga adalah jenis makhluk.
Sedangkan kata ‘Tuhan’ menunjuk pada kedudukan / jabatan. Jadi, kalau saya adalah pendeta, si A adalah direktur, si B adalah sekretaris, SBY adalah presiden, maka Dia adalah Tuhan.
Easton’s Bible Dictionary: “Lord ... Heb. 'adon, means one possessed of absolute control. It denotes a master, as of slaves (Gen 24:14,27), or a ruler of his subjects (45:8), or a husband, as lord of his wife (18:12). The old plural form of this Hebrew word is 'adonai. ... Greek kurios, a supreme master, etc” [= Tuhan ... Ibr. 'ADON, artinya seseorang yang memiliki kontrol yang mutlak. Itu menunjukkan seorang tuan, seperti dari budak-budak (Kej 24:14,27), atau seorang pemerintah / penguasa dari orang-orang bawahannya (45:8), atau seorang suami, seperti tuan dari istrinya (18:12). Bentuk jamak kuno dari kata Ibrani ini adalah 'ADONAI. ... Kata Yunani KURIOS, seorang tuan yang tertinggi, dsb].
b) Selanjutnya, mari kita mempersoalkan lebih jauh kata ‘Tuhan’.
Dalam Perjanjian Lama terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, ada 2 jenis kata ‘Tuhan’. Kata ‘Tuhan’ (hanya huruf pertamanya saja yang adalah huruf besar) berasal dari kata Ibrani ADONAY, sedangkan kata ‘TUHAN’ (semua menggunakan huruf besar) berasal dari kata Ibrani YHWH, yang merupakan nama pribadi / nama diri dari Allah.
Kel 3:15 - “Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah namaKu untuk selama-lamanya dan itulah sebutanKu turun-temurun”.
Kel 6:2 - “Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan namaKu TUHAN Aku belum menyatakan diri”.
Yes 42:8 - “Aku ini TUHAN, itulah namaKu; Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain atau kemasyhuranKu kepada patung”.
Yer 16:21 - “‘Sebab itu, ketahuilah, Aku mau memberitahukan kepada mereka, sekali ini Aku akan memberitahukan kepada mereka kekuasaanKu dan keperkasaanKu, supaya mereka tahu, bahwa namaKu TUHAN.’”.
Kadang-kadang muncul kata ‘ALLAH’ (semua dengan huruf besar) dalam Perjanjian Lama versi Lembaga Alkitab Indonesia. Ini juga berasal dari kata Ibrani YHWH / YAHWEH. Kalau ada kata-kata Ibrani ADONAY YAHWEH, maka seharusnya terjemahannya adalah ‘Tuhan TUHAN’. Mungkin karena rasanya tidak enak, maka lalu diubah menjadi ‘Tuhan ALLAH’. Contoh: Kej 15:2 - “Abram menjawab: ‘Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.’”.
KJV/RSV/NASB: ‘Lord GOD’ (= Tuhan ALLAH).
NIV: ‘Sovereign Lord’ (= Tuhan yang berdaulat).
c) Sekarang mari kita mempersoalkan kata YHWH / YAHWEH, yang merupakan nama dari Allah itu.
Yang benar sebetulnya bukan YAHWEH tetapi hanya YHWH. Mungkin saudara merasa heran dengan kata YHWH ini. Mengapa tidak ada huruf hidupnya? Bagaimana membacanya? Sebetulnya jaman sekarang ini tidak ada orang yang tahu dengan pasti bagaimana membaca nama itu, jadi pengucapan / penyebutan YAHWEH hanyalah sebuah tebakan. Perlu saudara ketahui bahwa dalam bahasa Ibrani sebetulnya tidak ada huruf hidup. Dalam abjad Ibrani ada 22 huruf, dan tidak satupun merupakan huruf hidup. Jadi mereka menulis dengan huruf mati saja, tetapi dalam pengucapannya tentu saja ada bunyi huruf hidup. Mungkin saudara lagi-lagi merasa heran. Bagaimana mungkin orang bisa mengerti kalau hanya menggunakan huruf mati saja? Coba saudara pikirkan, kalau saudara menulis sms menggunakan handphone saudara, maka seringkali untuk menyingkat maka saudara membuang huruf-huruf hidup juga, bukan? Tetapi orang tetap bisa mengerti kata-kata yang ditulis tanpa huruf hidup. Jadi, kalau seseorang menguasai suatu bahasa, adalah mungkin baginya untuk mengerti, sekalipun kata-katanya ditulis tanpa huruf hidup.
Pada waktu
Tuhan memperkenalkan namaNya kepada Israel / Musa, tentu mereka tahu bagaimana
mengucapkan nama YHWH itu. Tetapi pada suatu
saat [menurut Encyclopedia Britannica 2010 (dengan topik ‘Yahweh’) ini
dimulai sekitar abad 6 SM], bangsa Israel begitu takut menggunakan nama Tuhan,
sehingga setiap kali mereka membaca Kitab Suci dan menemui nama YHWH, mereka
membacanya sebagai ‘ADONAY’ (yang terjemahannya adalah ‘Tuhan’). Apa
sebabnya terjadi hal seperti ini? Ada beberapa kemungkinan:
1.
Ketakutan mereka terhadap hukum ketiga ini.
The Biblical Illustrator (Old Testament): “The Third Commandment: - The name of God stands for Himself and for that which He has revealed of Himself, not for our thoughts about Him. It is not surprising that this great name was invested with a superstitious sanctity. Even the Jews used it rarely. There is a tradition that it was heard but once a year, when it was uttered by the high-priest on the great day of atonement. In reading the Scriptures it became customary never to pronounce it, but to replace it with another Divine name, which was regarded as less awful and august. The Third Commandment requires something very different from this ceremonial homage to His name. His name stands for Himself, and it is to Him that our reverence is due” (= Hukum ketiga: - Nama Allah mewakili diriNya sendiri dan untuk hal-hal yang telah Ia nyatakan tentang diriNya sendiri, bukan untuk pemikiran kita tentang Dia. Bukanlah sesuatu yang mengejutkan bahwa nama yang agung / besar ini ditanamkan dengan kesucian yang bersifat takhyul. Bahkan orang-orang Yahudi jarang menggunakannya. Ada tradisi yang mengatakan bahwa nama itu didengar hanya sekali setahun, pada waktu nama itu diucapkan oleh imam besar pada hari raya penebusan. Dalam membaca Kitab Suci merupakan suatu kebiasaan untuk tidak pernah mengucapkannya, tetapi menggantikannya dengan nama Ilahi yang lain, yang dianggap sebagai kurang mengerikan / dahsyat dan membangkitkan rasa takut. Hukum ketiga menuntut sesuatu yang sangat berbeda dari penghormatan yang bersifat upacara terhadap namaNya ini. NamaNya mewakili diriNya sendiri, dan bagi Dialah takut / hormat kita seharusnya diberikan).
Catatan: ada yang mengatakan, dan kelihatannya ini benar, bahwa belakangan praktek pengucapan nama oleh imam besar sekali setahun itupun akhirnya dihapuskan.
Unger’s
Bible Dictionary (dengan topik ‘Lord’):
“The Jews, out of a superstitious reverence for the name Jehovah, always
pronounce Adonai where Jehovah is written” (= Orang-orang Yahudi, karena
suatu rasa hormat yang bersifat takhyul bagi nama ‘Yehovah’, selalu
mengucapkan ‘ADONAI’ dimana dituliskan ‘Yehovah’).
Catatan: sebetulnya agak aneh
kalau mereka mulai menghentikan untuk mengucapkan nama YHWH pada abad 6 SM,
padahal hukum ke 3 ini sudah ada sejak jaman Musa (1500 SM). Tetapi memang
penafsiran yang aneh, salah, atau bahkan sesat, bisa saja muncul jauh setelah
text Alkitabnya ditulis.
2. Text
dalam Im 24:10-16 yang berbunyi sebagai berikut: “(10)
Pada suatu hari datanglah seorang laki-laki, ibunya seorang Israel sedang
ayahnya seorang Mesir, di tengah-tengah perkemahan orang Israel; dan orang itu
berkelahi dengan seorang Israel di perkemahan. (11) Anak perempuan Israel itu menghujat
nama TUHAN dengan mengutuk, lalu dibawalah ia kepada Musa. Nama ibunya ialah
Selomit binti Dibri dari suku Dan. (12) Ia dimasukkan dalam tahanan untuk
menantikan keputusan sesuai dengan firman TUHAN. (13) Lalu berfirmanlah TUHAN
kepada Musa: (14) ‘Bawalah orang yang mengutuk itu ke luar perkemahan dan
semua orang yang mendengar haruslah meletakkan tangannya ke atas kepala orang
itu, sesudahnya haruslah seluruh jemaah itu melontari dia dengan batu. (15)
Engkau harus mengatakan kepada orang Israel, begini: Setiap orang yang mengutuki
Allah harus menanggung kesalahannya sendiri. (16) Siapa yang menghujat nama
TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh
jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama
TUHAN, haruslah dihukum mati”.
Tetapi text ini melarang / mengecam orang yang ‘menghujat’ nama TUHAN
(YHWH), bukan sekedar ‘mengucapkan’ nama TUHAN (YHWH). Lalu bagaimana mereka
bisa menjadi takut untuk mengucapkan nama TUHAN (YHWH)? Ada beberapa teori tentang hal ini:
a.
Penafsiran orang-orang Yahudi tentang text ini.
Kalau
dilihat dari text bahasa Ibraninya, maka dalam Im 24:11 sebetulnya tidak
ada nama ‘YHWH’ (TUHAN), tetapi hanya disebutkan HASHEM (= the
name), tetapi dalam Im 24:16 nama ‘Yhwh’
itu muncul.
Ay
11: “Anak perempuan Israel itu menghujat nama TUHAN dengan mengutuk,
lalu dibawalah ia kepada Musa. Nama ibunya ialah Selomit binti Dibri dari suku
Dan”.
KJV: ‘blasphemed the name of the LORD’ (= menghujat nama TUHAN).
Catatan: KJV mencetak kata-kata ‘of the LORD’ dengan huruf miring, yang menandakan kalau dalam bahasa aslinya kata-kata itu sebetulnya tidak ada.
RSV/NIV/NASB: ‘blasphemed the Name’ (= menghujat Nama itu).
The
Biblical Illustrator (Old Testament) tentang Im 24:10-16:
“It is striking to notice that in the Hebrew text it is only said that
he blasphemed ‘The name’; what that was being left unwritten. On this
omission the later Jews grounded their prohibition of the use of the word
Jehovah, under almost any circumstances” (= Merupakan sesuatu yang
menyolok untuk diperhatikan, bahwa dalam text Ibrani hanya dikatakan bahwa ia
menghujat ‘nama itu’; apa nama itu dibiarkan tak dituliskan. Pada tak adanya
nama ini, orang-orang Yahudi belakangan mendasarkan larangan mereka tentang
penggunaan kata Yehovah, dalam hampir setiap keadaan).
Catatan: tak adanya nama YHWH dalam ay 11 itu sudah sejak jaman Musa. Adalah aneh kalau baru pada abad 6 SM mereka mulai takut menyebutkan nama YHWH. Tetapi sama seperti yang di atas, penafsiran yang aneh, salah, atau bahkan sesat, bisa saja muncul jauh setelah text Alkitabnya ditulis.
b. Ada
yang mengatakan ini disebabkan terjemahan yang salah dari LXX / Septuaginta.
Pulpit Commentary: “In the course of the struggle
the Israelitish woman’s son blasphemed the name of the Lord, and cursed. The
word nakav is here rightly
translated ‘blasphemeth’ (cf. verses 14, 16, 23), ... The LXX. have
rendered nakav by a word meaning
‘pronounced’, and on this misunderstanding, adopted by the Jews, has been
founded the Jewish precept forbidding the utterance of the Divine Name. Owing to
that prohibition, the true pronunciation of the word written and called
‘Jehovah’ has been lost” [= Dalam perkelahian itu anak laki-laki dari perempuan
Israel itu menghujat nama Tuhan, dan mengutuk. Kata NAKAV di sini dengan benar
diterjemahkan ‘menghujat’ (bdk. ayat-ayat 14,16,23), ... LXX telah
menterjemahkan NAKAV dengan suatu kata yang berarti ‘mengucapkan’, dan pada
kesalah-pahaman ini, yang diterima oleh orang-orang Yahudi, telah didirikan
ajaran Yahudi yang melarang pengucapan Nama Ilahi. Karena larangan itu,
pengucapan yang benar dari kata yang dituliskan dan disebut ‘Yehovah’ telah
hilang] - hal
383.
Catatan: agak aneh kalau ini
penyebabnya, karena LXX baru diterjemahkan pada abad 2-3 SM, sedangkan mulai
dihentikannya pengucapan nama YHWH sudah mulai terjadi pada abad 6 SM. Apakah
mereka menganggap bahwa mulai hilangnya pengucapan YHWH itu terjadi pada abad
2-3 SM dan bukannya pada abad 6 SM?
c. Ada
yang mengatakan ini disebabkan karena perubahan bahasa dari Ibrani ke Aram.
Encyclopedia
Wikipedia: “During the Babylonian
captivity the Hebrew
language spoken by the Jews
was replaced by the Aramaic
language of their Babylonian
captors. Aramaic was closely related to Hebrew and, while sharing many
vocabulary words in common, contained some words that sounded the same or
similar but had other meanings. In Aramaic, the Hebrew word for
‘blaspheme’ used in Leviticus
24:16, ‘Anyone who blasphemes the name of YHWH must be put to death’ carried
the meaning of ‘pronounce’ rather than ‘blaspheme’. When the Jews began
speaking Aramaic, this verse was understood to mean, ‘Anyone who pronounces
the name of YHWH must be put to death.’ Since then, observant Jews have
maintained the custom of not pronouncing the name” [= Selama pembuangan
Babilonia bahasa Ibrani yang digunakan oleh orang-orang Yahudi digantikan oleh
bahasa Aram dari para penawan Babilonia mereka. Bahasa Aram berhubungan dekat
dengan bahasa Ibrani dan, sementara menggunakan banyak perbendaharaan kata yang
sama, mempunyai beberapa kata-kata yang bunyinya sama atau mirip tetapi
mempunyai arti yang berbeda. Dalam bahasa Aram, kata Ibrani untuk
‘menghujat’ yang digunakan dalam Im 24:16, ‘Siapa
yang menghujat nama TUHAN (Yahweh), pastilah ia dihukum mati’
mempunyai arti ‘mengucapkan’ dan bukannya ‘menghujat’. Pada waktu
orang-orang Yahudi mulai berbicara dalam bahasa Aram, ayat ini dimengerti
sebagai berarti ‘Siapa
yang mengucapkan nama TUHAN (Yahweh), pastilah ia dihukum mati’. Sejak
saat itu, orang-orang Yahudi yang taat telah mempertahankan kebiasaan untuk
tidak mengucapkan nama itu].
Illustrasi: ini mungkin seperti
bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia, yang sekalipun mempunyai banyak persamaan,
tetapi tetap mempunyai kata-kata yang sama, tetapi artinya berbeda. Contoh: kata ‘percuma’ dalam bahasa Indonesia
artinya ‘sia-sia’, tetapi dalam bahasa Malaysia artinya ‘gratis /
cuma-cuma’. Bayangkan kalau orang Kristen Malaysia mengatakan ‘keselamatan
itu percuma’. Bagaimana orang Kristen Indonesia menafsirkan kata-kata itu?
Jadi kacau, bukan?
Yang manapun yang benar, yang jelas adalah bahwa nama YHWH itu berhenti untuk diucapkan / digunakan. Setelah berhentinya pengucapan nama YHWH ini berlangsung cukup lama (mungkin ratusan tahun) maka orang-orang yang tadinya tahu bagaimana mengucapkan nama YHWH itu mati semua, dan akhirnya tidak ada satupun orang yang tahu dengan pasti bagaimana sebenarnya pengucapan dari nama YHWH itu! Kebanyakan orang menganggap bahwa pengucapannya adalah YAHWEH, tetapi tidak ada orang yang pasti tentang hal ini.
Lalu
dari mana muncul istilah YEHOVAH? Ada yang mengatakan bahwa bunyi huruf-huruf
hidup dari kata ADONAY diambil (yaitu A-O-A), dan dimasukkan disela-sela kata
YHWH, sehingga didapatkan kata YAHOWAH, yang lalu (menurut dosen saya) dalam
logat Jerman diucapkan YEHOWAH. Tetapi dalam Encyclopedia Britannica 2010
(dengan topik ‘Yahweh’) dikatakan bahwa huruf-huruf hidup dari kata Ibrani
ELOHIM (yaitu E-O-I) dan kata Ibrani ADONAY (yaitu A-O-A) dimasukkan ke dalam
kata YHWH itu sehingga didapat kata YEHOWAH. Dari penjelasan ini jelas bahwa
pengucapan YEHOVAH sudah pasti merupakan pengucapan yang salah!
Catatan: Perlu saudara ketahui bahwa dalam bahasa Ibrani huruf V dan W adalah sama.
d) Haruskah kita menggunakan nama YHWH / YAHWEH / Yehovah / Yehuwa?
Sekarang ada sekte-sekte Kristen (Yahweh-isme dan Saksi Yehuwa) yang menghendaki bahwa kata ‘TUHAN’ dalam Kitab Suci kita dikembalikan menjadi YAHWEH / Yehovah / Yehuwa. Saya tidak keberatan kalau mereka menghendaki hal itu selama mereka tidak mengharuskan hal itu dan menyalahkan orang-orang yang tetap menggunakan istilah ‘Lord’ / ‘TUHAN’. Mengapa saya tidak setuju pengharusan penggunakan nama YAHWEH? Karena:
1. LXX / Septuaginta (Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani) menterjemahkan kata YHWH itu dengan istilah Yunani KURIOS, yang artinya memang ‘Lord’ / ‘TUHAN’. Satu hal yang patut diperhatikan adalah: Yesus tidak pernah menyalahkan LXX / Septuaginta yang menggunakan kata Yunani KURIOS untuk nama YHWH itu.
2. Perjanjian Baru sendiri, yang menggunakan bahasa asli bahasa Yunani, pada waktu mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama yang menggunakan kata YHWH, pada umumnya menggantinya dengan kata Yunani KURIOS (misalnya Mat 4:7), yang artinya ‘Lord’ / ‘TUHAN’, dan kadang-kadang menggantinya dengan kata Yunani THEOS (misalnya Mat 4:4), yang artinya ‘Allah’.
Karena itu, perubahan / penggantian ini memiliki otoritas Firman Tuhan / otoritas ilahi, dan karena itu, sudah pasti benar / bisa dipertanggung-jawabkan.
Catatan: untuk mengatasi argumentasi yang tidak terbantah ini, kelompok Yahweh-isme lalu mengatakan bahwa Perjanjian Baru itu bahasa aslinya adalah bahasa Ibrani. Ini merupakan suatu dusta, penyesatan, dan kegilaan, yang tidak tahu malu, dan yang sama sekali tidak berdasar!
3. Kalau Tuhan memang mengharuskan kita untuk menggunakan nama YHWH / YAHWEH, maka adalah aneh bahwa Ia mengijinkan pengucapan nama itu hilang sehingga jaman sekarang tidak ada orang yang tahu bagaimana mengucapkannya. Dan mengetahui bahwa nama itu hilang pengucapannya, pada waktu Yesus melayani selama 3 ½ tahun di dunia ini, mengapa Ia tidak memberitahu murid-muridNya bagaimana mengucapkan nama itu? Mungkin Yesus tidak pernah menggunakan nama itu, karena kalau Ia menggunakan nama itu, para murid pasti akan tahu bagaimana mengucapkan nama itu. Dan kalau para murid tahu, maka seluruh gereja sampai saat ini juga akan tahu. Tetapi kenyataannya tidak ada yang tahu bagaimana mengucapkan nama tersebut.
The International Standard Bible Encyclopedia (Revised Edition) dengan topik ‘God, names of’: “The pronunciation of YHWH in the OT can never be certain, since the original Hebrew text used only consonants. The vowel points added in the MT are not those of the name itself (see below), which had come to be considered too holy to pronounce (cf. Ex 20:7; Lev 24:11)” [= Pengucapan / pelafalan dari YHWH dalam PL tidak pernah bisa pasti, karena text asli dalam bahasa Ibrani hanya menggunakan huruf-huruf mati. Titik-titik / tanda-tanda huruf hidup yang ditambahkan dalam MT bukanlah dari nama itu sendiri (lihat di bawah), yang telah dianggap terlalu kudus / keramat untuk diucapkan (bdk. Kel 20:7; Im 24:11)] - PC Study Bible version 5.
Catatan: saya kira MT = Masoretic Text, Text Ibrani pada sekitar abad 10 M.
4. Penyebutan ‘YAHWEH’ belum tentu benar. Dan penyebutan ‘Yehovah’ bahkan pasti salah. Lalu mengapa mengharuskan orang Kristen menggunakan nama yang pasti salah atau belum tentu benar?
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali