(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 8 Agustus 2010, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
Kel 20:4-6 - “(4) Jangan membuat bagimu patung yang
menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah,
atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah
kepadanya atau beribadah kepadanya,
sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah
Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya,
kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
(6) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka
yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu”.
1)
Penafsiran Kel 20:4-5.
Kel 20:4
melarang untuk membuat patung. Ada 2 kemungkinan untuk menafsirkan bagian ini:
a)
Kel 20:4 ditafsirkan secara terpisah dari Kel 20:5, tetapi yang
dimaksud dengan ‘patung’ bukanlah patung biasa, tetapi ‘patung
berhala’ [NIV/NASB: ‘an idol’ (= patung berhala)].
Calvin kelihatannya
mengambil pandangan ini. Ia mengatakan bahwa hukum kedua ini terdiri dari dua
bagian. Bagian pertama melarang pendirian / pembuatan patung, dan bagian kedua
melarang penyembahan terhadap patung itu.
b)
Kel 20:4 dan Kel 20:5 tidak boleh dipisahkan sehingga berdiri
sendiri-sendiri, tetapi harus ditafsirkan dalam suatu kesatuan. Jadi, yang
dilarang bukanlah ‘membuat patung’ dan ‘menyembah
patung’, tetapi ‘membuat patung
untuk disembah’.
Pulpit
Commentary: “Verses 4 and 5 are to be taken together, the prohibition being
intended, not to forbid the arts of sculpture and painting, or even to condemn
the religious use of them, but to disallow the worship of God under material
forms” (= Ayat 4 dan 5 harus diartikan bersama-sama, larangan yang
dimaksudkan, bukanlah melarang seni memahat dan melukis, atau bahkan mengecam
penggunaan agamawi dari mereka, tetapi tidak mengijinkan penyembahan Allah di
bawah bentuk-bentuk materi).
Catatan:
saya tidak mengerti mengapa Pulpit Commentary mengijinkan patung untuk
penggunaan agamawi. Matthew Henry melarang hal itu (lihat kutipan dari Matthew
Henry di bawah). Mungkin mereka memaksudkan ‘penggunaan agamawi’ yang
berbeda.
Bdk.
Im 26:1 - “‘Janganlah kamu membuat berhala
bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu
berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya,
sebab Akulah TUHAN, Allahmu”.
Jadi,
membuat patung, asal bukan patung berhala (seperti patung Buddha, Kwan Im, dsb),
atau patung untuk disembah, bukanlah dosa. Bahwa membuat patung biasa, selama
bukan dengan tujuan untuk menyembahnya, tidak dilarang, terlihat dari beberapa
bagian Kitab Suci dimana Tuhan sendiri menyuruh membuat patung, misalnya:
1.
Patung ular tembaga.
Bil
21:8-9 - “(8) Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Buatlah ular tedung
dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia
melihatnya, akan tetap hidup.’ (9) Lalu Musa membuat ular tembaga dan
menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang
kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup”.
Tuhan
sendiri yang menyuruh membuat patung ular ini, sehingga tindakan Musa membuat
patung itu jelas bukan dosa. Memang akhirnya patung ini dihancurkan, tetapi itu
terjadi karena akhirnya patung ini disembah (2Raja 18:4).
2Raja 18:4
- “Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan
tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan
ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang
masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan”.
2.
Patung kerub di atas tutup tabut perjanjian.
Kel
25:18-20 - “(18) Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu
dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. (19) Buatlah satu
kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras
dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya. (20)
Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang
sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada
masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub
itu”.
Juga
dalam Bait Allah buatan Salomo ada ukiran kerub dan hal-hal lain, dan ini tidak
pernah dikecam / disalahkan.
1Raja 6:18,29,32
- “(18) Kayu aras sebelah dalam rumah itu berukirkan buah labu dan bunga
mengembang; semuanya ditutupi kayu aras, tidak ada batu kelihatan. ... (29) Dan
pada segala dinding rumah itu berkeliling ia mengukir gambar kerub, pohon korma
dan bunga mengembang, baik di ruang sebelah dalam maupun di ruang sebelah luar.
... (32) Pada kedua daun pintu yang dari kayu minyak itu ia mengukir gambar
kerub, pohon korma dan bunga mengembang, kemudian dilapisinya dengan emas; juga
pada kerub dan pada pohon korma itu disalutkannya emas”.
Matthew
Henry: “It
is certain that it forbids making any image of God (for to whom can we liken
him? Isa 40:18,25), or the image of any creature for a religious use”
[= Adalah pasti bahwa itu melarang gambar / patung apapun dari Allah (karena
dengan siapa bisa kita samakan / serupakan Dia? Yes 40:18,25), atau gambar /
patung dari makhluk ciptaan apapun untuk suatu penggunaan agamawi].
Yes
40:18,25 - “(18) Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang
dapat kamu anggap serupa dengan Dia? ... (25) Dengan siapa hendak kamu samakan
Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus”.
Jamieson,
Fausset & Brown: “Under
the auspices of Moses himself, figures of cherubim, brazen serpents, oxen, and
many other things were made and never condemned. The mere making of them was no
sin, it was the making with the intent to give idolatrous worship” (= Di
bawah nubuat / ajaran Musa sendiri, bentuk / gambar / patung dari kerub-kerub,
ular tembaga, sapi jantan, dan banyak hal-hal lain dibuat dan tidak pernah
dikecam. Semata-mata membuat mereka bukanlah dosa, yang merupakan dosa adalah
membuat dengan maksud / tujuan untuk memberikan penyembahan yang bersifat
pemberhalaan).
Catatan:
saya tak tahu dimana ada ajaran Musa tentang patung sapi jantan.
Hal
seperti ini perlu diketahui karena pada jaman ini ada banyak gereja atau hamba
Tuhan (biasanya dari kalangan Pentakosta / Kharismatik) yang begitu extrim
dengan menyuruh menghancurkan seadanya patung, lebih-lebih kalau
patungnya berbentuk naga atau orang yang matanya seperti mata setan, dsb.
2)
Penekanan hukum ini: cara penyembahan harus benar.
Kalau
diperhatikan sepintas lalu, maka hukum 1 dan hukum 2 ini kelihatannya tumpang
tindih (overlap). Apa sebetulnya perbedaan kedua hukum ini?
Matthew
Henry: “The
first commandment concerns the object of our worship, Jehovah, and him only ...
The second commandment concerns the ordinances of worship, or the way in which
God will be worshipped, which it is fit that he himself should have the
appointing of. ... The prohibition: we are here forbidden to worship even the
true God by images” (= Hukum pertama bersangkutan dengan obyek dari ibadah
/ penyembahan kita, Yehovah, dan hanya Dia saja ... Hukum kedua bersangkutan
dengan peraturan ibadah / penyembahan, atau cara dengan mana Allah akan
disembah, yang adalah cocok bahwa Dia sendiri yang menetapkannya. ...
Larangannya: di sini kita dilarang untuk menyembah bahkan Allah yang benar
dengan menggunakan patung-patung).
Jadi,
kalau hukum 1 mempersoalkan tujuan / obyek penyembahannya harus benar,
maka hukum 2 ini menekankan cara penyembahannya juga harus benar.
Sekalipun kita mempunyai obyek / tujuan penyembahan yang benar, yaitu Allah,
tetapi kalau kita menyembahNya dengan cara yang salah, yaitu melalui patung,
maka kita berdosa. Untuk itu perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
a)
Kel 32:1-6 - “(1) Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa
mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni
Harun dan berkata kepadanya: ‘Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan
berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar
dari tanah Mesir - kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.’ (2)
Lalu berkatalah Harun kepada mereka: ‘Tanggalkanlah anting-anting emas yang
ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya
kepadaku.’ (3) Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang
ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. (4) Diterimanyalah itu dari
tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak
lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: ‘Hai Israel, inilah Allahmu,
yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!’ (5) Ketika Harun
melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun,
katanya: ‘Besok hari raya bagi TUHAN!’ (6) Dan keesokan harinya
pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan,
sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka
dan bersukaria”.
Ini
cerita tentang bangsa Israel yang jatuh ke dalam penyembahan anak lembu emas.
Sebetulnya tujuan mereka bukanlah menyembah anak lembu emas itu sendiri, tetapi
menyembah Allah. Ini terlihat dari Kel 32:5 dimana Harun berkata: ‘Besok hari raya bagi TUHAN’. Tetapi penyembahan terhadap
Allah itu mereka lakukan melalui anak lembu emas / berhala, dan ini menyebabkan
Tuhan murka dan menghukum mereka.
b)
Ul 12:4,31 - “(4) Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap
TUHAN, Allahmu. ... (31a) Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap TUHAN,
Allahmu”.
NIV: “You must not worship the LORD
your God in their way” (= Kamu tidak boleh menyembah TUHAN Allahmu dengan
cara mereka).
Ayat
ini dengan jelas menunjukkan larangan penyembahan terhadap Allah dengan cara
orang kafir / Kanaan (yaitu menyembah Allah menggunakan berhala).
c)
Hakim 8:22-27 - “(22) Kemudian berkatalah orang Israel kepada
Gideon: ‘Biarlah engkau memerintah kami, baik engkau baik anakmu maupun
cucumu, sebab engkaulah yang telah menyelamatkan kami dari tangan orang
Midian.’ (23) Jawab Gideon kepada mereka: ‘Aku tidak akan memerintah kamu
dan juga anakku tidak akan memerintah kamu tetapi TUHAN yang memerintah kamu.’
(24) Selanjutnya kata Gideon kepada mereka: ‘Satu hal saja yang kuminta
kepadamu: Baiklah kamu masing-masing memberikan anting-anting dari
jarahannya.’ - Karena musuh itu beranting-anting mas, sebab mereka orang
Ismael. (25) Jawab mereka: ‘Kami mau memberikannya dengan suka hati.’ Dan
setelah dihamparkan sehelai kain, maka masing-masing melemparkan anting-anting
dari jarahannya ke atas kain itu. (26) Adapun berat anting-anting emas yang
dimintanya itu ada seribu tujuh ratus syikal emas, belum terhitung
bulan-bulanan, perhiasan telinga dan pakaian kain ungu muda yang dipakai oleh
raja-raja Midian, dan belum terhitung kalung rantai yang ada pada leher unta
mereka. (27) Kemudian Gideon membuat efod dari semuanya
itu dan menempatkannya di kotanya, di Ofra. Di sanalah orang Israel berlaku
serong dengan menyembah efod itu; inilah
yang menjadi jerat bagi Gideon dan seisi rumahnya”.
d)
Hakim 17:1-13 - “(1) Ada seorang dari pegunungan Efraim, Mikha
namanya. (2) Berkatalah ia kepada ibunya: ‘Uang perak yang seribu seratus itu,
yang diambil orang dari padamu dan yang karena itu kauucapkan kutuk - aku
sendiri mendengar ucapanmu itu - memang uang itu ada padaku, akulah yang
mengambilnya.’ Lalu kata ibunya: ‘Diberkatilah kiranya anakku oleh TUHAN.’
(3) Sesudah itu dikembalikannyalah uang perak yang seribu seratus itu kepada
ibunya. Tetapi ibunya berkata: ‘Aku mau menguduskan uang itu bagi TUHAN,
aku menyerahkannya untuk anakku, supaya dibuat patung pahatan dan patung tuangan
dari pada uang itu. Maka sekarang, uang itu kukembalikan kepadamu.’ (4) Tetapi
orang itu mengembalikan uang itu kepada ibunya, lalu perempuan itu mengambil
dua ratus uang perak dan memberikannya kepada tukang perak, yang membuat patung
pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu; lalu patung itu ditaruh di rumah
Mikha. (5) Mikha ini mempunyai kuil. Dibuatnyalah efod dan terafim,
ditahbiskannya salah seorang anaknya laki-laki, yang menjadi imamnya. (6) Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang
berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. (7) Maka ada seorang
muda dari Betlehem-Yehuda, dari kaum Yehuda; ia seorang Lewi dan tinggal di sana
sebagai pendatang. (8) Lalu orang itu keluar dari kota Betlehem-Yehuda untuk
menetap sebagai pendatang di mana saja ia mendapat tempat; dan dalam
perjalanannya itu sampailah ia ke pegunungan Efraim di rumah Mikha. (9)
Bertanyalah Mikha kepadanya: ‘Engkau dari mana?’ Jawabnya kepadanya: ‘Aku
orang Lewi dari Betlehem-Yehuda, dan aku pergi untuk menetap sebagai pendatang
di mana saja aku mendapat tempat.’ (10) Lalu kata Mikha kepadanya:
‘Tinggallah padaku dan jadilah bapak dan imam bagiku; maka setiap tahun aku
akan memberikan kepadamu sepuluh uang perak, sepasang pakaian serta
makananmu.’ (11) Orang Lewi itu setuju untuk tinggal padanya. Maka orang muda
itu menjadi seperti salah seorang anaknya sendiri. (12) Mikha mentahbiskan orang
Lewi itu; orang muda itu menjadi imamnya dan diam di rumah Mikha. (13) Lalu kata
Mikha: ‘Sekarang tahulah aku, bahwa TUHAN akan berbuat baik kepadaku,
karena ada seorang Lewi menjadi imamku.’”.
e)
1Raja 12:25-33 - “(25) Kemudian Yerobeam memperkuat Sikhem di
pegunungan Efraim, lalu diam di sana. Ia keluar dari sana, lalu memperkuat
Pnuel. (26) Maka berkatalah Yerobeam dalam hatinya: ‘Kini mungkin kerajaan itu
kembali kepada keluarga Daud. (27) Jika bangsa itu pergi mempersembahkan korban
sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan
berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan
membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda.’ (28) Sesudah
menimbang-nimbang, maka raja membuat dua anak lembu jantan dari emas dan ia
berkata kepada mereka: ‘Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai
Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari
tanah Mesir.’ (29) Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain
ditempatkannya di Dan. (30) Maka hal itu menyebabkan orang berdosa, sebab rakyat
pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang lain.
(31) Ia membuat juga kuil-kuil di atas bukit-bukit pengorbanan, dan mengangkat
imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi. (32) Kemudian Yerobeam
menentukan suatu hari raya pada hari yang kelima belas bulan kedelapan, sama
seperti hari raya yang di Yehuda, dan ia sendiri naik tangga mezbah itu.
Begitulah dibuatnya di Betel, yakni ia mempersembahkan korban kepada anak-anak
lembu yang telah dibuatnya itu, dan ia menugaskan di Betel imam-imam bukit
pengorbanan yang telah diangkatnya. (33) Ia naik tangga mezbah yang dibuatnya di
Betel itu pada hari yang kelima belas dalam bulan yang kedelapan, dalam bulan
yang telah direncanakannya dalam hatinya sendiri; ia menentukan suatu hari raya
bagi orang Israel dan ia naik tangga mezbah itu untuk membakar korban”.
Thomas
Manton: “It
is idolatry not only to worship false gods in the place of the true God, but to
worship the true God in a false manner” (= Adalah merupakan penyembahan
berhala bukan hanya menyembah allah-allah palsu menggantikan tempat Allah yang
benar, tetapi juga menyembah Allah yang benar dengan cara yang palsu / salah).
Bandingkan
ini dengan kata-kata dari banyak orang: yang penting tujuannya benar, yaitu
menyembah Allah, caranya berbeda tidak apa-apa. Ini jelas merupakan suatu
omong kosong! Kitab Suci mengajar kita bahwa bukan tujuannya saja yang harus
benar, tetapi caranya juga harus benar!
Karena
itu, jangan menganggap bahwa Allah mau menerima seadanya penyembahan yang
dilakukan manusia menurut pemikiran dan khayalannya masing-masing.
Bdk.
Yoh 4:23-24 - “(23) Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba
sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan
kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
(24) Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam
roh dan kebenaran.’”.
Bandingkan
juga dengan Kol 2:8,16-23 - “(8) Hati-hatilah, supaya jangan ada yang
menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran
turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. ... (16)
Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan
minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya
ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.
(18) Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura
merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada
penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya
yang duniawi, (19) sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari
mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan
sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya. (20) Apabila kamu telah mati
bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu
menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di
dunia: (21) jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; (22) semuanya
itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut
perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. (23) Peraturan-peraturan ini,
walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti
merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup
duniawi”.
Perhatikan
penyembahan dan peraturan-peraturan dari ajaran sesat yang dibicarakan oleh
Paulus dalam text di atas ini. Kelihatannya ada kerendahan hati, dan bahkan
kelihatannya penuh hikmat, tetapi dikecam oleh Paulus, karena tidak sesuai
dengan Kristus / Kitab Suci!
3)
Contoh pelanggaran terhadap hukum ini (Catatan: ada hal-hal yang overlap / bertumpukan antara pelanggaran terhadap hukum pertama dan
pelanggaran terhadap hukum kedua):
a)
Menyembah patung berhala, atau lebih tepat, menyembah Allah melalui
patung berhala.
Bagaimana
kalau saudara diminta seseorang untuk mengantarkan dia pergi ke kelenteng / kuil
berhala, supaya dia bisa beribadah melalui penyembahan berhala? Haruskah, atau
bolehkah, saudara ‘berbuat baik’ dengan mengantarkan dia?
Dalam
kontext gereja kita yang berdampingan dengan kelenteng, apakah merupakan suatu
‘perbuatan baik’ kalau kita memberi jalan bagi orang-orang yang mau
menyembah berhala di kelenteng?
b)
Menyembah / menghormati / mencium Kitab Suci.
Kita
memang mempercayai dan menghormati Kitab Suci sebagai Firman Allah. Tetapi bukan
bendanya / bukunya itu sendiri yang kita hormati, melainkan isinya.
‘Mencium’
sering berarti ‘menyembah’, dan hal ini terlihat dari ayat-ayat ini:
1Raja
19:18 - “Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni
semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak
mencium dia.’”.
Hos
13:2 - “Sekarangpun mereka terus berdosa, dan membuat baginya patung
tuangan dari perak dan berhala-berhala sesuai dengan kecakapan mereka; semuanya
itu buatan tukang-tukang. Persembahkanlah korban kepadanya!, kata mereka.
Baiklah manusia mencium anak-anak lembu!”.
Ayub
31:26-28 - “(26) jikalau aku pernah memandang matahari, ketika ia bersinar,
dan bulan, yang beredar dengan indahnya, (27) sehingga diam-diam hatiku
terpikat, dan menyampaikan kecupan tangan kepadanya, (28) maka hal itu
juga menjadi kejahatan yang patut dihukum oleh hakim, karena Allah yang di atas
telah kuingkari”.
Maz
2:11-12 - “(11) Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah
kakiNya dengan gemetar, (12) supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di
jalan, sebab mudah sekali murkaNya menyala. Berbahagialah semua orang yang
berlindung padaNya!”.
Ini
salah terjemahan, dan RSV sama salahnya.
KJV:
‘(11) Serve the LORD with fear, and rejoice with trembling. (12) Kiss
the Son, lest he be angry, and ye perish from the way, when his wrath is
kindled but a little. Blessed are all they that put their trust in him’ [=
(11) Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut, dan bersukacitalah dengan gemetar.
(12) Ciumlah Anak, supaya Ia jangan marah, dan kamu binasa di jalan, pada
saat murkaNya dinyalakan sedikit saja. Diberkatilah semua mereka yang meletakkan
kepercayaan mereka kepadaNya]. NIV/NASB/ASV/NKJV ≈
KJV.
c)
Menyembah / menghormati / mencium salib, patung Yesus / Maria / malaikat
/ orang suci (Gereja Katolik).
Karena
itu hati-hatilah dengan benda-benda seperti salib, patung / gambar Yesus dan
sebagainya. Semua itu bukan dosa selama kita tidak menyembahnya. Tetapi kalau
ada sedikit saja rasa hormat dalam hati kita terhadap benda-benda itu, maka itu
menjadi penyembahan berhala, dan itu merupakan dosa!
d)
Berdoa sambil menghadap pada salib atau sambil membayangkan Yesus.
D.
L. Moody: “someone says, ‘I
find pictures are a great help to me, and images. I know that they are not
themselves sacred, but they help me in my devotion to fix my thoughts on
God.’” (= seseorang berkata: ‘Aku mendapati gambar-gambar sebagai
suatu pertolongan yang besar bagiku, dan juga patung-patung. Aku tahu bahwa
dalam dirinya sendiri mereka tidak kudus / keramat, tetapi mereka menolongku
dalam ibadahku untuk memusatkan pikiranku kepada Allah) - ‘D. L. Moody
On The Ten Commandments’, hal 34.
Terhadap
kata-kata seperti ini D. L. Moody menjawab dengan kata-kata sebagai berikut: “Whatever
comes between my soul and my Maker is not a help to me, but a hindrance. God
has given different means of grace by which we can approach Him. Let us use
these, and not seek for other things that He has distinctly forbidden” (= Apapun
yang datang di antara jiwaku dan Penciptaku bukanlah suatu pertolongan bagiku,
tetapi suatu halangan. Allah telah memberikan cara / jalan kasih karunia yang berbeda melalui mana
kita bisa mendekati Dia. Hendaklah kita
menggunakan hal-hal ini, dan tidak mencari hal-hal lain yang secara jelas telah
Ia larang) - ‘D. L. Moody On The
Ten Commandments’, hal 34.
e)
Berdoa sambil menggunakan yosua / kemenyan.
Sekalipun
dalam Perjanjian Lama ada penggunaan kemenyan (Im 2:1,15 dsb), tetapi dalam
sejak sobeknya tirai Bait Allah pada saat Yesus mati (Mat 27:50-51), maka
seluruh Bait Allah, imam-imam, korban-korban dan upacara-upacara (termasuk sunat
dan Perjamuan Paskah), dan jelas juga penggunaan kemenyan, harus disingkirkan.
Jadi pada jaman Perjanjian Baru penggunaan kemenyan tidak lagi diijinkan.
f)
Menyembah roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus.
Saya
pernah pergi ke gereja dimana pada waktu mengadakan Perjamuan Kudus, pendeta dan
majelisnya berlutut dan menyembah pada seluruh meja Perjamuan Kudus, dimana
terletak roti dan anggur yang akan digunakan dalam Perjamuan Kudus. Ini jelas
juga salah. Roti dan anggur hanyalah lambang dari tubuh dan darah
Kristus, bukan Kristusnya sendiri, sehingga penyembahan terhadap hal-hal itu
merupakan penyembahan berhala.
Sekalipun
bukan menyembah roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus, tetapi kalau saudara
mempunyai rasa hormat terhadap benda-benda itu, itu sudah merupakan penyembahan
berhala!
g)
Memberhalakan minyak urapan, atau benda-benda apapun yang diberikan
‘pendeta-pendeta’ sebagai semacam jimat.
Karena
itu, hati-hati dengan pendeta-pendeta yang memberi sapu tangan atau benda
apapun, yang katanya telah didoakan, dan disuruh untuk diletakkan di bawah
bantal dan sebagainya. Ini jelas merupakan pemberhalaan!
h)
Kepercayaan terhadap magic / sihir dan semua penggunaannya (bdk. Kel 22:18
Ul 18:10-14 2Taw 33:6 Kis 8:9-11).
Magic / sihir sering dilakukan atas nama Allah (bandingkan dengan Toronto
Blessing, nggeblak / tumbang dalam Roh dsb), tetapi sebetulnya magic atau sihir
mendapatkan kekuatannya dari setan. Karena
itu, orang yang melakukan hal ini sama saja dengan menyembah setannya sendiri. Kalau saudara adalah orang yang senang menggunakan kuasa gelap untuk
mendapatkan keinginan saudara, perhatikan kata-kata dalam Yes 47:9b - “Kepunahan
dan kejandaan dengan sepenuhnya akan menimpa engkau, sekalipun banyak sihirmu
dan sangat kuat manteramu”.
i)
Dalam Perjanjian Baru, ini mencakup semua penyembahan terhadap Allah yang
dilakukan tanpa melalui Yesus.
1Tim
2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara
Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.
Yoh
14:6 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”.
Calvin:
“although Moses only speaks of idolatry, yet there is no doubt but that
by synecdoche, as in all the rest of the Law, he condemns all fictitious
services which men in their ingenuity have invented” (= sekalipun Musa
hanya berbicara tentang penyembahan berhala, tetapi tidak diragukan bahwa oleh
suatu synecdoche, seperti dalam seluruh sisa hukum Taurat, ia mengecam semua
ibadah khayalan yang telah manusia temukan dalam kepintaran mereka) - hal
107.
Penerapan:
sama dengan persoalan mengantar orang ke kelenteng tadi, sekarang hal itu bisa
diperluas sehingga mencakup semua agama yang jelas-jelas bertentangan dengan
Alkitab, yaitu tidak melalui Yesus Kristus. Apakah merupakan suatu perbuatan
baik untuk mengantarkan seseorang ke gereja sesat, atau tempat ibadah agama lain
(sekalipun tidak menyembah berhala, tetapi tidak menggunakan Yesus)??? Apakah
merupakan suatu perbuatan baik untuk memberikan kemudahan pada orang-orang yang
beragama lain sehingga mereka bisa melakukan ibadahnya, yang adalah sesat, kalau
ditinjau dari Kitab Suci kita? Kita memang harus bertoleransi, tetapi kita tidak
boleh berkompromi! Kita tidak boleh menghina agama lain, ataupun menghalangi
orang yang beragama lain untuk melakukan ibadah mereka, tetapi kita juga
tidak boleh membantu mereka dalam hal itu!
Renungkan:
berapa kali saudara melanggar hukum kedua ini?
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali