Kpd
Yth Pdt Yakub,
Shalom
Pak Budi,
Ini
saya kirim naskah tentang nama Tuhan dlm bentuk WORD. Agar huruf Ibrani bisa
kelihatan, font yang saya sertakan dlm attachment ini bapak install dahulu ke
Directory C:/windows/fonts
Ada
beberapa naskah lagi namun krn besarnya file selalu gagal utk di send.
Semoga
menambah wacana bapak. Selamat berkarya dan sukses selalu.
Kalau
boleh tahu bapak tinggal dimana?
Tuhan
memberkati.
Salam,
Yakub
NAMA
TUHAN UMAT NASRANI
Dalam
kurun waktu lima tahun belakangan ini, kasus Nama Tuhan bagi umat Nasrani di
Indonesia muncul dipermukaan. Tudingan sesat, sekte atau bidat, kelompok
sempalan, kelompok kurang cerdas yang bikin onar, bahkan disinyalir sebagai
“saksi Yehuwa” yang berganti baju dan sebagainya menjadi makanan setiap hari
bagi umat Nasrani yang memunculkan Nama Yahweh. Sebenarnya siapakah Nama Tuhan
umat Nasrani?
1.
Apa yang melatar-belakangi tudingan tersebut?
Umat Nasrani di Indonesia yang memunculkan Nama Yahweh sebagai Nama
Tuhannya, dianggap sesat, sekte atau bidat, kelompok sempalan, kelompok kurang
cerdas yang bikin onar, “Saksi Yehuwa” yang berganti baju dan sebagainya,
karena menghilangkan kata “Allah” dan “ALLAH” dari terjemahan Kitab Suci
terbitan Lembaga Alkitab Indonesia serta mengganti beberapa bagian dari kata
“Tuhan” dan “TUHAN”.
Akibat tindakan tersebut rupanya menyebabkan gereja-gereja dan
sinode-sinode di Indonesia “Shock” berat sehingga berupaya untuk meredam
sekuat tenaga dengan berbagai cara, salah satu diantaranya adalah membenturkan
gerakan baru tersebut kepada ormas Islam dengan alasan menghina agama Islam
karena dikatakan “membuang” Allah dan membenturkannya juga kepada Pemerintah
Republik Indonesia karena dianggap membuat resah. Hal itu penulis alami sendiri
ketika bulan Agustus 2001 mulai mengajarkan kepada jemaat yang digembalakannya
di Gereja Bethel Indonesia “Yerikho” Ambarawa, sehingga penulis dipecat dari
Sinode Gereja Bethel Indonesia dan disidang oleh Muspika, Linmas, Depag, dan
harus berurusan dengan DPRD dan Bupati Kab. Semarang, bahkan sampai ke Laskar
Jihad. Namun dengan penjelasan yang disampaikan justru mereka semua dapat
menerima gerakan tersebut.
2. Apa yang melatar-belakangi gerakan “pemulihan Nama Tuhan”?.
Sebenarnya gerakan Nama Tuhan ini datang dari Tuhan Yahweh sendiri sesuai
dengan nubuatan :
a. Kitab Daniel 12: 4 dimana akhir jaman pengetahuan akan disingkapkan /
bertambah, bukan hanya pengetahuan sekuler, melainkan juga pengetahuan
theologia.
Tanggapan Budi Asali:
Dan 12:4 – “Tetapi engkau, Daniel, sembunyikanlah segala firman itu, dan
meteraikanlah Kitab itu sampai pada akhir zaman; banyak orang akan
menyelidikinya, dan pengetahuan akan bertambah."”.
Saya tidak melihat bahwa ayat ini ada hubungannya dg
gerakan nama TUHAN!
Tangapan Yakub :
Saya menghargai pandangan bapak. Lalu menurut bapak,
pengetahuan apa yang bertambah? Apakah pengetahuan ttg nama TUHAN salah? Kalau
salah dimana salahnya? Melihat kenyataan adanya perkembangan ilmu pengetahuan di
bidang sekuler dan pemahaman ttg nama Yahweh yg begitu jelas sampai ke org2 awam
yg tdk sekolah theologia sekalipun menurut bapak bagaimana? Org yg tdk
berpendidikan theologia bisa membedakan antara NAMA DIRI, SEBUTAN dan BAHASA,
namun yg bertitel berderet2 sangat sulit mengerti. Hal itu krn memang kasih
karunia dari Yahweh dan dari Yeshua sendiri.
Tanggapan Budi Asali:
Saya tak peduli pengetahuan apa. Jgn coba membelokkan serangan saya. Saya
hanya tunjukkan bahwa ayat ini tak ada urusannya dg nama YHWH.
Siapa bilang semua orang tahu nama itu. Sudah pernah tanyakan, dan adakan
angket, ttg hal itu?
Siapa bilang tidak bisa membedakan? Saya membedakan nama YHWH dan kata Tuhan
tapi saya mensahkan perubahan itu krn dukungan PB dan LXX.
b. Kitab Kisah Rasul 3: 21 dimana Kristus / Ha Masiakh harus tetap tinggal
di sorga sampai terjadi pemulihan segala sesuatu, termasuk pemulihan Nama Tuhan
yang sudah hilang dan tidak dikenal oleh umatNya sendiri di Indonesia.
Tanggapan Budi Asali:
Kis 3:21 – “Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan
segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya
yang kudus di zaman dahulu”.
Saya juga tidak melihat bahwa ayat ini ada hubungannya dg gerakan /
pemulihan nama TUHAN! Anda ngawur saja pakai ayat!
Tanggapan Yakub :
Di Indonesia Nama Yahweh sudah diterjemahkan menjadi
TUHAN dan ALLAH (huruf kapital semua) dlm PL dan Tuhan (hanya T nya saja yang
huruf besar) dlm PB, sehingga akibat penerjemahan ini nama Yahweh sekarang tidak
dikenal dan dianggap sesat. Dan sekarang hal itu sedang dipulihkan!. Saya tidak
ngawur pak, tetapi ini kenyataan, padahal ALLAH, Allah atau allah itu sama saja,
tdk ada huruf besar atau huruf kecil, itu adalah nama sesembahan orang Arab pra
Islam dan nama sesembahannya umat Islam yang diadopsi oleh Kristen. Kitab
sucinya umat Kristen tdk ada kata
ALLAH! Nah... kalau begitu siapa yang ngawur? Padahal firman Tuhan mengajar agar
Jangan menyebut nama Yahweh dengan sembarangan (Kel 20: 7), coba bapak
renungkan, dipanggil sembarangan saja dilarang apalagi diganti dengan
sembarangan! Kel 23: 13 juga Tuhan melarang kita memanggil nama sesembahan
lain!. ALLAH itu nama sesembahan lain, bukan nama sesembahannya Avraham, Yishaq
dan Yaaqov. Coba bapak tanya kepada Dr. Peter Wagner guru besar di Fuller
Theological Seminary, beliau pernah menulis naskah dgn jelas ttg siapa allah
itu.
Tanggapan Budi Asali:
Anda tak bisa menjawab serangan saya, shg lalu membelokkan pembicaraan. Saya
bilang tak ada hubungan Kis 3:21 dg pemulihan nama YHWH. Pemulihan segala sst yg
dibicarakan dlm Kis 3:21 itu, dr mana sdr simpulkan mencakup penggunaan nama
YHWH. Ayat itu jelas menunjukkan bahwa pemulihan itu hrs terjadi pd akhir jaman
/ saat Yesus dtg ke2xnya. Sebelum itu Yesus (sbg manusia) hrs tetap ada di
surga. Kalau pemulihan segala sesuatu itu mencakup nama YHWH, berarti itu juga
hrs terjadi pd saaqt Yesus datang ke2xnya! Jadi, jawab serangan saya, jgn
membelokkan!
Saya sama sekali tak bicara ttg kata ‘ALLAH’, jadi jawaban anda itu
menjawab apa? Pakai logika kalau menjawab / berargumentasi.
Kalau mau salahkan pengubahan (bukan penterjemahan) YHWH menjadi KURIOS /
TUHAN / LORD, salahkan LXX / PB, krn LXX / PB yg melakukan itu shg org kristen
juga melakukannya.
Umat Nasrani yang dianggap sesat, sekte dan sebagainya seperti tudingan
tersebut diatas, sebenarnya justru kembali ke Kitab Suci Asli yang berbahasa
Ibrani dimana kata “Allah” atau “ALLAH” yang dalam huruf Arab tidak
mengenal huruf kapital atau tidak, adalah merupakan Nama Tuhan dari umat Islam,
tidak pernah ada dalam kitab tersebut dan mengoreksi kesalahan terjemahan dari
Lembaga Alkitab Indonesia dan mengembalikannya sesuai dengan apa yang menjadi
keinginan dan kerinduan hati Tuhan sendiri, bukan mengubah isi Firman Tuhan
seperti tudingan umat Nasrani dan para Theolog yang belum menerima pemulihan
Nama Tuhan ini.
Tanggapan Budi Asali:
Siapa mengatakan bahwa kata ‘Allah’ mrpk nama dr Tuhan orang Islam? Kata
‘Allah’ berarti ‘the God’, bukan suatu nama, dan istilah ini sudah
dipakai oleh orang2 Kristen di Arab sebelum Islam ada! Dari mana saya
mendapatkan hal ini?
1) Dari Bambang
Noorsena.
2) Dari
seorang kyai Islam yang mengundang saya khotbah 3 x di tempatnya. Ia bernama
Sumardi, punya gelar S2 dalam Islam, dan mengaku bisa berbicara dalam bahasa
Arab.
3) Dari
sumber-sumber lain di bawah ini:
Microsoft
Encarta Reference Library 2003:
“Allah, Arabic name of the supreme being. The term is a contraction
of the Arabic al-llah, ‘the God.’ Both the idea and the word existed in
pre-Islamic Arabian tradition, in which some evidence of a primitive monotheism
can also be found. Although they recognized other, lesser gods, the pre-Islamic
Arabs recognized Allah as the supreme God” (= ).
Microsoft
Encarta Reference Library 2003 (related articles, definition of Allah):
“for God, Allah, refers to the same God worshiped by Jews and
Christians. Islam’s central teaching is that there is only one all-powerful,
all-knowing God, and this God created the universe. ... The Arabic word
‘Allah’ means ‘the God,’ and this God is understood to be the God
who brought the world into being and sustains it to its end. ... Before
Islam, many Arabs believed in a supreme, all-powerful God responsible for
creation; however, they also believed in lesser gods. With the coming of
Islam, the Arab concept of God was purged of elements of polytheism and turned
into a qualitatively different concept of uncompromising belief in one God, or
monotheism” (= ).
Adam
Clarke (tentang Kej 1:1): “As
the word 'Elohiym is the term by which the Divine Being is most
generally expressed in the Old Testament, it may be necessary to consider it
here more at large. It is a maxim that admits of no controversy, that every noun
in the Hebrew language is derived from a verb, which is usually termed the radix
or root, from which, not only the noun, but all the different flections of the
verb, spring. This radix is the third person singular of the preterite or past
tense. The ideal meaning of this root expresses some essential property of the
thing which it designates, or of which it is an appellative. The root in
Hebrew, and in its sister language, the Arabic, generally consists of three
letters, and every word must be traced to its root in order to ascertain its
genuine meaning, for there alone is this meaning to be found. In Hebrew and
Arabic this is essentially necessary, and no man can safely criticize on any
word in either of these languages who does not carefully attend to this point. I
mention the Arabic with the Hebrew for two reasons: 1. Because the two languages
evidently spring from the same source, and have very nearly the same mode of
construction. 2. Because the deficient roots in the Hebrew Bible are to be
sought for in the Arabic language. The reason of this must be obvious, when
it is considered that the whole of the Hebrew language is lost except what is in
the Bible, and even a part of this book is written in Chaldee. Now, as the
English Bible does not contain the whole of the English language, so the Hebrew
Bible does not contain the whole of the Hebrew. If a man meet with an English
word which he cannot find in an ample concordance or dictionary to the Bible, he
must of course seek for that word in a general English dictionary. In like
manner, if a particular form of a Hebrew word occur that cannot be traced to a
root in the Hebrew Bible, because the word does not ocour in the third person
singular of the past tense in the Bible, it is expedient, it is perfectly
lawful, and often indispensably necessary, to seek the deficient root in the
Arabic. For as the Arabic is still a living language, and perhaps the most
copious in the universe, it may well be expected to furnish those terms which
are deficient in the Hebrew Bible. And the reasonableness of this is founded on
another maxim, viz., that either the Arabic was derived from the Hebrew, or the
Hebrew from the Arabic. I shall not enter into this controversy; there are great
names on both sides, and the decision of the question in either way will have
the same effect on my argument. For if the Arabic were derived from the Hebrew,
it must have been when the Hebrew was a living and complete language, because
such is the Arabic now; and therefore all its essential roots we may reasonably
expect to find there: but if, as Sir William Jones supposed, the Hebrew were
derived from the Arabic, the same expectation is justified, the deficient roots
in Hebrew may be sought for in the mother tongue. If, for example, we meet with
a term in our ancient English language the meaning of which we find difficult to
ascertain, common sense teaches us that we should seek for it in the Anglo-Saxon
from which our language springs; and, if necessary, go up to the Teutonic, from
which the Anglo-Saxon was derived. No person disputes the legitimacy of this
measure, and we find it in constant practice. I make these observations at the
very threshold of my work, because the necessity of acting on this principle
(seeking deficient Hebrew roots in the Arabic) may often occur, and I wish to
spear; once for all on the subject. The first sentence in the Scripture shows
the propriety of having recourse to this principle, We have seen that the
word 'Elohiym is plural; we have
traced our term ‘God’ to its source, and have seen its signification; and
also a general definition of the thing or being included under this term, has
been tremblingly attempted. We should now trace the original to its root, but
this root does not appear in the Hebrew Bible. Were the Hebrew a complete
language, a pious reason might be given for this omission, viz., ‘As God is
without beginning and without cause, as his being is infinite and underived, the
Hebrew language consults strict propriety in giving no root whence his name can
be deduced.’ Mr. Parkhurst, to whose pious and learned labours in Hebrew
literature most Biblical students are indebted, thinks he has found the root in 'aalaah,
‘he swore, bound himself by oath’; and hence, he calls the ever-blessed
Trinity 'Elohiym, as being bound by a conditional oath to redeem man,
etc., etc. Most pious minds will revolt from such a definition, and will be glad
with me to find both the noun and the root preserved in Arabic. ALLAH is the
common name for GOD in the Arabic tongue, and often a more emphatic form is used.
Now both these words are derived from the root 'alaha,
‘he worshipped, adored, was struck with astonishment, fear, or terror,’ and
hence, ‘he adored with sacred horror and veneration,’ cum
sacro horrore ac veneratione coluit, adoravit. - WILMET. Hence, ilahon,
‘fear, veneration, and also the object of religious fear, the Deity, the
supreme God, the tremendous Being.’ This is not a new idea; God was considered
in the same light among the ancient Hebrews; and hence, Jacob swears by the fear
of his father Isaac, Gen. 31:53. To complete the definition, Golius renders alaha,
juvit, liberavit, et tutatus fuit,
‘he succoured, liberated kept in safety, or defended.’ Thus, from the ideal
meaning of this most expressive root, we acquire the most correct notion of the
divine nature, for we learn that God is the sole object of adoration, that the
perfections of his nature are such as must astonish all those who piously
contemplate them, and fill with horror all who would dare to give his glory to
another, or break his commandments; that consequently he should be worshipped
with reverence and religious fear; and that every sincere worshipper may expect
from him help in all his weaknesses, trials, difficulties, temptations, etc.;
freedom from the power, guilt, nature, and consequences of sin; and to be
supported, defended and saved to the uttermost and to the end” (= ).
Encyclopedia
Britannica 2000 dengan topik ‘Allah’:
(Arabic:
‘God’), the one and only God in the religion of Islam.
Etymologically, the name Allah is probably a contraction of the Arabic al-Ilah,
‘the God.’ The name’s origin can be traced back to the earliest Semitic
writings in which the word for god was Il or El, the latter being
an Old Testament synonym for Yahweh. Allah is the standard Arabic
word for ‘God’ and is used by Arab Christians as well as by Muslims. ...
Copyright
© 1994-2000 Encyclopædia Britannica, Inc.
Names
of God (PC Study Bible): “There
is another word from which some say Elohim is derived. It is Alah, which is said
to mean to declare or to swear. Thus it is said to imply a covenant
relationship. Before examining this derivation, however, it may be well to say
that in either case, whether El or Alah, the idea of omnipotence in God is
expressed. To make a covenant implies the power and right to do so, and it
establishes the fact of ‘absolute authority in the Creator and Ruler of the
universe.’ So the Elohim is seen making a covenant with Abraham, and because
there is none greater He swears by Himself. ‘By myself I have sworn.’ In Gen
17 we see perhaps a combination of both of these derivations. In verse 1 we
have: ‘I am the Almighty God [El-Shaddai]; walk before me, and be thou
perfect’; in verse 7: ‘I will establish my covenant between me and
thee and thy seed after thee in their generations for an everlasting covenant,
to be to thee Elohim and to thy seed after thee’ - that is, to be with them in
covenant relationship” (= ).
Vine
(OT): “’elah,
‘god.’ This Aramaic word is the equivalent of the Hebrew ’eloah. It is a
general term for ‘God’ in the Aramaic passages of the Old Testament, and it
is a cognate form of the word ’allah, the designation of deity used by the
Arabs” (= ).
A.
Heuken SJ: “Alkitab,
Terjemahan Arab. Sebelum kebangkitan Islam, agama Kristen berdiri kokoh di
beberapa tempat di Jazirah Arab, khususnya di bagian baratnya dan di Yaman.
Sejak abad ke 2 bagian-bagian dari Kitab Suci sudah diterjemahkan ke dalam
bahasa Arab untuk digunakan sebagai bacaan dalam ibadat” - ‘Ensiklopedi
Gereja’, vol I, hal 87.
Catatan:
Buku ini dari perpustakaan STRIS.
A.
Heuken SJ: “Mengingat
sejarah terjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Arab, peraturan beberapa negara
bagian - Malaysia, yang melarang orang Kristen menggunakan kata-kata Arab
seperti nabi, Allah ... adalah tidak adil. Sebab kata-kata itu sudah digunakan
sebelum zaman nabi Muhammad oleh orang Kristen bangsa Arab” -
‘Ensiklopedi Gereja’, vol I, hal 88.
A.
Heuken SJ: “Kata
‘Allah’ merupakan perpaduan dua kata Arab: ‘al’ dan ‘ilah’, artinya
‘the God’ atau Yang (Maha)kuasa. Kata Semit ‘ilah’ sama arti dan akarnya
dengan kata Ibrani ‘el’, yang berarti ‘yang kuat’, ‘yang berkuasa’
dan menjadi sebutan untuk ‘Tuhan’” - ‘Ensiklopedi Gereja’, vol I,
hal 88.
A.
Heuken SJ: “Sebelum
masa Muhammad, kata ‘Allah’ sudah dipakai dalam bahasa Arab untuk Pencipta
alam semesta yang terlalu jauh atau tinggi untuk disembah atau dimintai
perhatian. Orang Kristen keturunan Arab pada waktu itupun sudah memakai sebutan
‘Allah’ untuk Tuhan” - ‘Ensiklopedi Gereja’, vol I, hal 88-89.
Dari semua ini jelas bahwa kata ‘Allah’ bukan nama, tetapi berarti
‘the God’, dan istilah itu sudah digunakan oleh orang-orang kristen Arab
jauh sebelum Islam ada.
Tanggapan Yakub :
ALLAH itu NAMA PRIBADI bukan SEBUTAN atau Al-ilah
seperti yang disampaikan oleh Bambang Noerseno. Justru Bambang Noorseno ngawur
dan membohongi pendeta2 yg tdk mengerti bahasa Arab. Buktinya diajak dialog
terbuka dgn teman saya aja tdk berani!. Silakan bapak hubungi Bambang Noorseno!
Tanyakan kebenaran ini, ini pernah dimuat di SalibNet!.
Tanggapan Budi Asali:
a)
Saya bukan hanya beri dr Bambang, tetapi juga dr kyai islam itu, dan dr
ensiklopedi2 terkemuka, dan seorang ahli sejarah. Mengapa anda tak menanggapi?
Mrk ngawur semua? Jawab ini!
b)
Saya juga anggap Bambang sesat, tetapi krn hal2 lain. Dlm bahasa Arab
dll, saya yakin dia memang mampu. Dia tak berani debaqt, belum tentu krn takut
kalah. Bisa krn alasan lain. Jadi, itu tak membuktikan pandangan anda yg benar.
c)
Teman anda yg ajak Bambang debat itu siapa? Teguh Hindarto? Soalnya
argumentasi anda sama tololnya dg punya dia dlm hal ini! Dia juga bilang Allah
itu nama pribadi, dan jg bahwa PB bahasa aslinya adalah bahasa Ibrani. Luar
biasa bodohnya! Bahasa Inggris bilang itu ignorance! Tapi ttg ini saya bicarakan
nanti saja di bawah.
3.
Apa bedanya dengan “Saksi Yehuwa”?
Saksi Yehuwa justru sama dengan kelompok umat Nasrani yang masih belum
menerima pemulihan Nama Tuhan / Yahweh, karena kedua-duanya masih sama-sama
menggunakan kata “Allah” dalam Kitab Sucinya. Sedangkan umat Nasrani yang
kembali kepada Kitab Suci Asli yaitu bahasa Ibrani sudah tidak lagi mengucapkan
atau menyebut kata “Allah” atau “ALLAH”.
Tanggapan Budi Asali:
Nonsense! Kalau mau kembali ke bahasa Ibrani maka harus pakai kata Ibrani.
Siapa yang haruskan hal seperti itu? Kalau memang demikian, seluruh Perjanjian
Baru juga salah, karena tidak kembali ke Kitab Suci bahasa Ibrani.
Bapak harus membedakan antara NAMA DIRI dengan BAHASA.
Yahweh itu NAMA DIRI bukan BAHASA, jadi kitab bisa dlm bahasa apa saja tetapi
nama diri tdk diterjemahkan. Saya punya kitab berbahasa Tagalog, Illokano, Urdu,
tidak mengubah nama Yahweh walaupun bahasanya berbeda-beda. Kalau bapak bertanya
atau membaca dlm Kitab Suci berbahasa Mandarin, nama Yahweh juga tdk
diterjemahkan tetapi ditulis Yehohwa (kira2 vokalnya demikian) bahkan LAI juga
mencetak Kitab Suci punya Katholik edisi pastoral juga pakai Yahweh, sayangnya
masih menggunakan kata allah yg dianggap sebagai sebutan, padahal allah bukan
sebutan tetapi nama pribadi juga!.
Perjanjian Baru pun mau pakai bahasa apa saja tdk
masalah, asal nama Yahweh jangan diubah!.
Tanggapan Budi Asali:
LXX dan PB jg pakai kata KURIOS. Pd jaman Yesus hidup di dunia, Ia dan
rasul2 jg menggunakan LXX. Ini terlihat dr fakta bahwa kutipan2 PL sering sesuai
dg LXX, dan bukan dg PL bahasa Ibrani.
Jadi, LXX, Yesus, rasul2 juga tak bisa bedakan nama dg bahasa? Dlm hal ini
menyalahkan kami berarti menyalahkan Yesus dan rasul2, dan jg PB!
Kalau mau ikuti argumentasi anda, maka saya katakan bahwa nama tak shrsnya
diubah sama sekali dlm bahasa yg berbeda. Mengapa nama YHWH berubah?
Apakah kalau saya ke USA nama saya menjadi BUDAI ESELAI, krn diinggriskan?
4. Dimana kesalahan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia?
Kami menyadari bahwa penerjemah Lembaga Alkitab Indonesia adalah orang
orang yang dipakai Tuhan untuk melakukan karya penerjemahan Kitab Suci dengan
dipenuhi Roh Kudus / Ruakh Ha Kodesh sehingga banyak orang mengenal Yesus /
Yeshua, namun bukan berarti orang yang dipenuhi Ruakh Ha Kodesh bebas dari
kesalahan, akhir jaman ini banyak hamba-hamba Tuhan yang dipenuhi Ruakh Ha
Kodesh dan dipakai Tuhan dengan kuasa mujizat dan tanda tanda heran yang
menyertainya jatuh dalam dosa, baik dosa masalah materi maupun dosa perzinahan.
Dibawah ini merupakan contoh kesalahan terjemahan Kitab Suci terbitan
Lembaga Alkitab Indonesia yang telah dianggap sebagai tolok ukur kebenaran dari
Kitab Suci umat Nasrani di Indonesia.
a. Yesaya 42: 8. (Huruf Ibrani dibaca dari kanan ke kiri)
!Ta-al rxal ydwbkW ymv aWh hwhy yna
~ylysPl
ytLhtW
Bunyinya
: Ani Yahweh hu sh’mi uk'vodi leakher lo-eten ut'hilati lap'silim.
Dimana artinya “Aku ini Yahweh, itu namaKu; Aku tidak memberikan
kemuliaanKu kepada yang lain atau kemasyhuranKu kepada patung.” Dalam ayat
tersebut Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan “Nama Yahweh” menjadi
“TUHAN”
b. Kejadian 15: 8.
hnvrya yk [da hmB hwhy ynda rmayw
Bunyinya : Wayomar adonai Yahweh bama edaa ki irashena.
Dimana artinya “Katanya, Tuhan Yahweh, dari mana aku tahu, bahwa aku
akan memilikinya.” Di sini Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan “Nama
Yahweh” menjadi “ALLAH”
Tanggapan Budi Asali:
Biarpun dalam bahasa Ibrani memang menggunakan YAHWEH, tetapi dalam LXX /
Septuaginta diterjemahkan menjadi KURIOS, dan itu digunakan pada jaman Yesus dan
rasul-rasul. Yesus tak pernah mengkritik penterjemahan itu, dan itu berarti
tidak menyalahkannya, tetapi sebaliknya, merestuinya!
Tanggapan Yakub :
LXX menerjemahkan Yahweh menjadi KURIOS krn huruf
Yunani tdk mengenal abjad YHW sehingga Yeshua ditulis Iesous. Sama dengan huruf
Arab tdk mengenal vokal e sehingga dlm Kitab Suci berbahasa Arab nama Yahweh
terpaksa ditulis dgn Yahwah namun hal itu tdk masalah sebab tdk mengganti dgn
nama lain!
Kalau bapak katakan bahwa dgn LXX diterjemahkan menjadi
KURIOS dan digunakan jaman Yesus dan rasul2 lalu bapak menganggap Yeshua / Yesus
merestuinya, mana ayatnya yg mengatakan hal itu? Yg ada justru Yeshua mengatakan
dlm Mattai / Matius 22: 37 “Wayomer Yeshua elaiw weahavtta et Yahweh eloheikha
be’kal-le’vavkha uvkal-nafshekha uvkal-maddaekha” Firman Yeshua: Kasihilah
Yahweh elohimmu / Tuhanmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu.”
Hanya org yg berusaha mempertahankan nama ALLAH aja yg
menganggap tdk masalah, Yeshua sendiri mengajar untuk mengasihi Yahweh!. Ayat yg
saya tulis itu dari Haverit Hakadasha yg oleh orang2 yg anti PB dlm bhs Ibrani
dianggap menerjemahkan dari Yunani, itupun nama Yahweh masih tetap dan tidak
berubah! Apalagi kalau di Kitab DuTilled Hebrew? Jelas tdk akan mengubah nama
Yahweh! Saya punya kitabnya!.
Pertanyaan saya kepada bapak Budi, kenapa bapak lebih
suka yg terjemahan dr pada yg asli? Apakah krn sdh biasa?
Tanggapan Budi Asali:
Yosua / Yehosua menjadi Yesus, atau IOANES menjadi Yohanes masih ada
kemiripan, shg itu mrpk peyunanian, pengindonesiaan. Tetapi YHWH menjadi KURIOS
tak ada miripnya sama sekali. Ini betul2 suatu perubahan, tetapi yg dilakukan
LXX maupun PB, jadi punya otoritas ilahi!
Mana ayatnya? Dlm semua kutipan dr ayat2 PL yg menggunakan YHWH, maka kata /
nama YHWH itu diubah menjadi KURIOS. Itu ayat2nya, banyak sekali. Kalau Y/ tak
menyetujui perubahan itu, mengapa Ia membiarkannya dan bahkan jg melakukannya?
Krn itu saya katakan Ia merestuinya!
Anda tetap anggap Matius bahasa aslinya adalah Ibrani. Saya tak peduli dg
omong kosong ini. Saya berpendapat bahwa PB bahasa aslinya adalah bahasa Yunani!
Memang, saya yakin semua PB bahasa Ibrani diterjemahkan dr PB aslinya, yaitu
Yunani. Anda bilang nama YHWH tak berubah di sana? Itu dlm aslinya KURIOS,
tetapi waktu diterjemahkan ke Ibrani, lalu dikembalikan ke YHWH. Yg punya
otoritas dlm pengajaran adalah bahasa aslinya, bukan terjemahannya!
Anda yg suka terjemahannya dp aslinya. Saya yakin PB asli dlm Yunani, dan
itu sebabnya saya pro pd yg asli! Anda yg gunakan terjemahannya.
Herman Hoeksema: “From this practice must undoubtedly also be explained the fact that the Septuagint uniformly translates hvhy by Kurioj” [= Dari praktek ini tidak diragukan harus dijelaskan fakta bahwa Septuaginta secara seragam menterjemahkan hvhy (YHWH) dengan Kurioj (KURIOS)] - ‘Reformed Dogmatics’, hal 68.
Herman Bavinck: “We do know, however, that the LXX already read Adonai for Jehovah; hence the translation Kyrios” (= Tetapi kami tahu bahwa LXX / Septuaginta sudah membaca ‘Adonay’ untuk ‘Yehovah’; dan dari sini muncul terjemahan ‘Kurios’) - ‘The Doctrine of God’, hal 103.
William Hendriksen (tentang 1Tes 1:1): “In the LXX the name ‘Lord’ (kurioj) translates ‘Jehovah,’ the God of Israel. It is more often the rendering of Jehovah than of anything else. (At times it is the equivalent of Adon, Adonai, Baal, etc.)” (=) - hal 40.
Bahkan Perjanjian Baru, pada waktu mengutip Perjanjian Lama yang menggunakan
kata YAHWEH, selalu menterjemahkan dengan kata KURIOS.
Karena bahasa Yunani tidak mengenal abjad Y H W.
Tanggapan Budi Asali:
Saya tak peduli apa alasannya, pokoknya PB mengganti! Dan itu ditulis dg
pengilhaman Roh Kudus, dan krn itu pasti betul! PB bisa mentransliterasikan
Haleluya, mengapa tak bisa lakukan pd nama YHWH?
John Calvin: “we know from the common custom of the Greeks that the apostles usually substitute the name kurioj (Lord) for Jehovah” [= kita / kami tahu dari kebiasaan umum dari orang-orang Yunani bahwa rasul-rasul menggantikan nama kurioj (Tuhan) untuk Yehovah] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, no 20.
Walter Martin: “It can be shown from literally thousands of copies of the Greek New Testament that not once does the tetragrammaton appear, not even in Matthew, possibly written in Hebrew or Aramaic originally, and therefore more prone than all the rest to have traces of the divine name in it, yet it does not! Beyond this, the roll of papyrus (LXX) which contains the latter part of Deuteronomy and the divine name only proves that one copy did have the divine name (YHWH), whereas all other existing copies use kyrios and theos, which the Witnesses claim are ‘substitutes.’ ... the Septuagint with minor exeptions always uses kyrios and theos in place of the tetragrammaton, and the New Testament never uses it at all” [= Bisa ditunjukkan dari ribuan naskah dari Perjanjian Baru berbahasa Yunani bahwa tidak sekalipun tetragrammaton (= 4 huruf / YHWH) muncul, bahkan tidak dalam Matius, yang naskah aslinya mungkin ditulis dalam bahasa Ibrani atau Aram, dan karena itu lebih condong daripada semua sisanya untuk mempunyai jejak dari nama ilahi di dalamnya, tetapi ternyata tidak ada! Di luar ini, gulungan papirus (LXX) yang mempunyai bagian terakhir dari kitab Ulangan dan nama ilahi itu hanya membuktikan bahwa satu copy / naskah memang mempunyai nama ilahi (YHWH), sedangkan semua naskah lain yang ada menggunakan KURIOS dan THEOS, yang oleh Saksi-Saksi Yehuwa diclaim sebagai ‘pengganti-pengganti’. ... Septuaginta dengan perkecualian yang sangat sedikit selalu menggunakan KURIOS dan THEOS di tempat dari tetragrammaton, dan Perjanjian Baru tidak pernah menggunakannya sama sekali] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 74.
Walter Martin: “Relative to the nineteen ‘sources’ the Watchtower uses (pp. 30-33) for restoring the tetragrammaton to the New Testament, it should be noted that they are all translations from Greek (which uses kyrios and theos, not the tetragrammaton) back into Hebrew, the earliest of which is A.D. 1385, and therefore they are of no value as evidence” [= Berhubungan dengan 19 ‘sumber’ yang digunakan Menara Pengawal (hal 30-33) untuk mengembalikan tetragrammaton kepada Perjanjian Baru, harus diperhatikan bahwa semua itu adalah terjemahan dari bahasa Yunani (yang menggunakan KURIOS dan THEOS, bukan tetragrammaton) kembali ke dalam bahasa Ibrani, dan yang paling awal adalah pada tahun 1385, dan karena itu semua itu tidak mempunyai nilai sebagai bukti] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 74.
Tanggapan Budi Asali:
Mengapa tak ada tanggapan utk semua kutipan di atas ini? Org2 itu ngawur
semua?
Dan itu menunjukkan adanya suatu otoritas ilahi untuk menterjemahkan YAHWEH
sebagai TUHAN / LORD! Anda berani menyalahkan Perjanjian Baru / Firman Tuhan?
Kalau mengganti Nama Tuhan tentu saja salah donk pak!
Apakah nama Budi Asali kalau di Amerika berubah? Kenapa saya tdk berani
mengatakan salah kalau Alkitab sendiri mengatakan salah?. Tuhan Yahweh tdk
pernah mengijinkan namaNya diubah!. Tolong bapak jawab juga pertanyaan saya,
tunjukkan ayat yg mengijinkan nama Yahweh diubah! Apakah krn dipakai dlm bhs
Yunani langsung kita “anggap” berarti Tuhan merestui? Padahal ayat
larangannya sdh ada!
Bagaimana kalau ada Alkitab yg menerjemahkan nama
Yahweh dgn Kwankong dll dgn alasan kontekstual dan itu sdh berlangsung lama,
apakah juga berarti Tuhan merestui?
Lalu apakah kalau misalkan saya mau mencuri atau
membunuh berarti Tuhan mengijinkan krn saya sdh melakukan sekian tahun lamanya
dan tdk bermasalah? Lalu bagaimana dgn larangan jangan mencuri dan jangan
membunuh yg sdh ada? Apakah itu tdk berlaku krn pencurian dan pembunuhan telah
saya lakukan dan berlangsung bertahun2... tolong bapak berikan argumentasinya!
Tanggapan Budi Asali:
Anda terus ngotot spt banteng menyeruduk tanpa otak! Jawab argumentasi saya.
Kalau PB ubah, itu otoritas ilahi, krn PB diilhamkan Roh Kudus. Anda berani
salahkan PB / Roh Kudus? Kalau berani, anda saya anggap kafir. Kalau ndak
berani, berarti PB benar ubah YHWH jadi KURIOS. Itulah ijinnya!!!!!
Bukan krn bahasa Yunani, tetapi krn itu dlm PB! Masih nggak ngerti, atau
pura2 ndak mengerti?
Anda mengatakan ‘Alkitab sendiri mengatakan salah’. Saya tanya: Alkitab
bagian mana yg mengatakan salah? Itu tak masuk akal, Kalau alkitab menyalahkan,
berarti menyalahkan PB. Itu berarti KS tabrakan dg KS. Saya tak percaya omong
kosong spt itu!
c. Roma 10: 13
jlmy hwhy ~vb arqy-rva lk-yk
Bunyinya
: ki-kol a’sher-yiq’ra v’shem Yahweh yimalet. Dimana artinya
“Sebab barang siapa berseru dalam nama Yahweh, akan diselamatkan.”
Tetapi di sini Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan “Nama Yahweh” menjadi
“Tuhan”.
Tanggapan Budi Asali:
Omong kosong! Ini ayat Perjanjian Baru, biarpun ini merupakan kutipan dari
Perjanjian Lama (Yoel 2:32), tetapi tetap menggunakan bahasa Yunani. Anda
mendapatkan bahasa Ibraninya dari mana? Kalau dari Kitab Suci Ibrani, itu
berarti itu diterjemahkan dari bahasa aslinya (Yunani). Kalau anda mendapatkan
dari Perjanjian Lama (karena ayat ini mengutip Perjanjian Lama), maka saya
anggap lucu, karena ini adalah ayat Perjanjian Baru, yang ditulis oleh orang
yang diilhami Roh Kudus, sehingga tidak bisa salah. Karena dalam bahasa Yunani
maka tidak mungkin bisa ada kata YAHWEH! Yang digunakan adalah kata Yunani
KURIOU, yang secara tepat diterjemahkan ‘Tuhan’!
Tanggapan Yakub :
Tolong bapak kalau diskusi dengan hati yang sejuk pak!
Jangan pakai kata2 intimidasi. Saya tidak bicara omong kosong!. Kalau bapak
berpikir bahwa PB yg berbahasa Ibrani itu terjemahan bhs Yunani, kenapa dalam
ayat Mattius 22: 37 di atas nama Yahweh masih ditulis? Coba bapak juga jawab!
Dalam Matius 1: 1- 17 di ayat 17 dikatakan sejak pembuangan ke Babel sampai
jaman Hamasiakh / Kristus ada 14 generasi, coba bapak hitung dr ayat 12 – 21,
ada berapa generasi? Cuma 13 khan pak? Lalu yg satu nama kemana? Kalau bapak
baca dlm Kitab DuTillet Hebrew, ada satu nama yg tdk tertulis yaitu nama Avner,
yg shrsnya ada di ayat 13. Mana yg asli? Hebrew atau Yunani yg salah-salah dalam
menyalin? Menurut bapak bagaimana utk masalah ayat tsb? Nanti saya sodorkan
ayat2 yg lain yg membuktikan bahwa PB itu ASLI nya dr Hebrew.
Kalau bapak ktkan bhw KURIOS diterjemahkan TUHAN,
kenapa Yeshua waktu berteriak di kayu salib tdk mengatakan Theos Mou.... theos
mou? Yang oleh LAI diterjemahkan Allahku allahku? Bukankah Lai menerjemahkan
Theos dgn Allah?
Bapak jangan mengatakan “Anda mendapatkan bahasa
Ibraninya dr mana?” Saya punya Kitabnya koq pak!. Mau bukti bapak bisa datang
ke rumah saya nanti saya tunjukkan!. Kalau tdk ada kitabnya saya menulis huruf2
Ibrani itu dr mana? Ngaraang.... ya nggak donk pak!
Tanggapan Budi Asali:
Saya tanya: anda ngerti kata ‘intimidasi’ itu atau ndak? Apakah saya
menakut2i anda dg kata2 ‘omong kosong’ itu? Saya katakan itu, krn bagi saya
omongan anda memang omong kosong! Anda lebih senang dg orang munafik yg
berbicara bukan apa adanya?
Mat 22:37 versi Ibrani, ‘mengembalikan’ nama YHWH itu, krn itu kutipan
dr PL. Jadi, dlm arti sebenarnya mrk bukan ‘menterjemahkan’, tetapi
mengubah!
Mat 1:1-17, saya tak perlu hitung. Kalau anda katakan beda, itu krn
terjemahan ke Ibrani itu mengalami kesalahan. Penterjemahan bisa salah kan?
Atau, pd waktu mrk menterjemahkan, mrk lalu menambahkan nama yg mrk anggap
kurang dlm Yunaninya. Atau mrk menggunakan manuscript Yunani yg ada nama itu,
sedangkan KS Indonesia / Inggris yg tak punya nama itu menterjemahkan dr
manuscript yg tak punya nama itu.
Memang kdg2 dlm PB Yunani tetap dituliskan bahasa Ibrani atau Aramnya. Itu
banyak ada dlm KS, tetapi itu tak membuktikan bahwa asli seluruh PB adalah
Ibrani. Tetapi kata2 asli DIUCAPKAN oleh Yesus dlm Ibrani / Aram.
Skrg perhatikan Mat 27:46 itu – “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus
dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku,
Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.
Kalau PB aslinya dlm bahasa Ibrani, dan Yesus ucapkan kata2 itu jg dlm
bahasa Ibrani, lalu utk apa ayat itu menterjemahkan kata2 Yesus dr bahasa
Ibrani ke bahasa Ibrani? Jawab pertanyaan ini!!!
Ini berlaku juga utk byk ayat spt:
Joh 1:38
Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia
lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka
kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?"
Joh 1:41
Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata
kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)."
Joh 1:42
Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau
Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."
Joh 20:16
Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata
kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.
Ac 1:19
Hal itu diketahui oleh semua penduduk Yerusalem, sehingga tanah itu
mereka sebut dalam bahasa mereka sendiri "Hakal-Dama", artinya
Tanah Darah--.
Perlunya penterjemahan / pemberian arti dlm ayat2 ini menunjukkan bahwa PB
mayoritas ditulis dlm bahasa Yunani, dan krn itu, pd kata2 tertentu dimana
digunakan bahasa Ibrani, maka kata2 itu diberi arti dlm bahasa Yunani.
Sekarang saya tanya lagi, dlm PB Ibrani anda, ayat2 itu bunyinya bgm?
d. Mattithayu / Matius 4: 4
hyxy wdbl ~xLh-l[ al yK bwtK rmayw ![yw
hwhy-yp acwm-lK-l[ yK ~dah
Bunyinya:
Wayaan wayomer katuv ki lo al-hallekhem l’vaddo yikh’ye haadam ki
al-kal-motsa pi-Yahweh. Namun disini Lembaga Alkitab Indonesia telah
menerjemahkan “Nama Yahweh” menjadi “Allah”.
Tanggapan Budi Asali:
Sekarang saya yakin anda mengambil sumber kutipan dalam Perjanjian Lama,
yaitu Ul 8:3. Saya tanya anda: anda anggap apa tentang Perjanjian Baru? Hanya
Perjanjian Lama yang adalah Firman Tuhan, sedangkan Perjanjian Baru bukan?
Penulis-penulis Perjanjian Baru diilhami Roh Kudus, dan tidak bisa salah; anda
percaya itu? Lembaga Alkitab Indonesia tidak salah menterjemahkan, karena kata
Yunani dari Mat 4:4 menggunakan THEOU, jadi diterjemahkan ‘Allah’. Anda
bukan menyelahkan Lembaga Alkitab Indonesia saja, tetapi menyalahkan
penulis-penulis Perjanjian Baru yang diilhami Roh Kudus, dan itu sama dengan
menyalahkan Roh Kudusnya sendiri!
Tanggapan Yakub :
Ada banyak ayat2 dlm PB yg aslinya pakai nama Yahweh
dan tidak diterjemahkan! Tetapi LAI sdh menerjemahkannya dgn Tuhan (hanya T nya
yg kapital), beda dengan yg PL dimana nama Yahweh diterjemahkan dgn ALLAH huruf
kapital semua dan TUHAN huruf kapital semua. Ini bukti LAI tdk konsekuen!
Saya tdk menganggap PB bukan firman Tuhan! Coba bapak
tunjukkan kalimat dr saya yg mengatakan PB bukan firman Tuhan! Mohon bapak
jangan menafsirkan pikiran saya donk pak!.
Saya memaklumi bapak mengatakan seperti di atas krn
bapak berpikir PB tdk ada yg berbahasa Ibrani!. Sebagai org yg bertitel MDIV,
seharusnya bapak tahu sejarahnya kenapa PB sampai dianggap aslinya berbahasa
Yunani!. Padahal firman Tuhan mengatakan bahwa pengajaran datang dr Sion! Bukan
dari bangsa lain! Tetapi dr bangsa Yahudi yg berbahasa Ibrani bukan Yunani.
Kalau bapak melegalkan PB ASLINYA YUNANI, berarti
secara tdk langsung bapak mengakui bahwa kebenaran keselamatan juga bisa datang
dr bangsa kafir?. Mana ayatnya pak?
Tanggapan Budi Asali:
a) LAI
menterjemahkan spt itu, krn PL memang beda dg PB. Dlm PL asli digunakan YHWH,
dlm PB asli digunakan KURIOS!
b) Siapa
mengatakan anda anggap PB bukan FT? Saya kan hanya bertanya? Ini pertanyaan
menyerang, masih nggak ngerti? Kalau anda memang percaya PB adalah FT, maka bgm
bisa salahkan PB, yg terjemahkan YHWH jadi KURIOS? Bukankah itu berarti anda
salahkan FT?
c) Saya tak
berkata tak ada PB bahasa Ibrani. Saya katakan bahasa aslinya bukan bahasa
Ibrani tetapi bahasa Yunani.
d) Sama, saya
heran org punya gelar S. Th. dan M. A. kok bisa begitu ignorant ttg fakta yg
diketahui semua orang, dan didukung bahkan oleh ensiklopedi sekuler, bahwa PB
asli adalah dlm bahasa Ibrani! Saya anggap anda sbg org yg tidak belajar, atau
anda belajar dr org2 yg sama butanya. Orang buta menuntun org buta!
e) Jgn
permainkan ayat yg katakan pengajaran dtg dr Sion. Anda katakan itu artinya
pengajaran dtg mula2 dr bgs Yahudi, saya bisa terima. Tetapi kalau anda
tambahkan dr bgs Yahudi yg berbahasa Ibrani, apa dasarnya? Sama sekali tak
ada kata2 spt itu dlm ayatnya. Anda melakukan eisegesis, bukan exegesis!
f) Yg
menggunakan bahasa Yunani itu adalah orang2 Yahudi, jadi keselamatan /
pengajaran tetap dtg dr Sion. Dan ayat itu juga tak boleh diartikan bahwa ajaran
tak bisa dtg dr non yahudi. Mula2 dr Yahudi, tetapi lalu diteruskan ke
non Yahudi, dan non yahudi teruskan lagi!
Bagaimana mungkin “satu nama” yaitu “Nama
Pribadi” Yahweh diterjemahkan menjadi TUHAN, ALLAH, Tuhan dan Allah? Dengan
terjemahan “Nama” tersebut maka dunia kekristenan mengenal istilah Allah
Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus yang sangat populer di kalangan gereja, namun
istilah itu dalam bahasa Ibrani sebenarnya tidak pernah ada.
Tanggapan Budi Asali:
Sekali lagi, anda menyalahkan penulis-penulis Perjanjian Baru! Anda kira
anda siapa?
Tentang istilah yang tidak ada, kalau ajarannya ada, lalu mengapa tidak
boleh? Anda tak setuju juga dengan istilah Tritunggal? Lalu bagaimana dengan
istilah ‘sakramen’, ‘free will’, yang semuanya tak ada dalam Kitab Suci?
Anda percaya itu / mengajarkan itu atau tidak?
Mengapa selalu mengacu pada bahasa Ibrani? Bagi anda bahasa Yunani bukan
bahasa Kitab Suci?
Tanggapan Yakub :
Sekali lagi bapak salah dlm menafsirkan kalimat saya!.
Saya tdk pernah mengatakan PENULIS PB SALAH. Tetapi penerjemahnya PB yang ngawur
shg yg lebih mempercayai PB dlm bhs Yunani juga ngawur!.
Kenapa bapak kaitkan masalah TRITUNGGAL dgn SAKRAMEN
dan FREE WILL? Apa hubungannya dgn TRITUNGGAL dgn pembahasan kita ttg NAMA
Yahweh? Bapak perlu ingat, oleh bapak2 gereja istilah TRITUNGGAL / TRINITY itu
tdk membicarakan KEBERAPAAN TUHAN, tetapi KEBAGAIMANAAN TUHAN!. Karena saya
bukan penyembah 3 Tuhan tetapi 1 Tuhan (Mono Theisme).
Saya mengacu ke Ibrani krn bahasa Yunani itu
terjemahan! Bukan ASLI!. Coba bapak beli buku “Ruakh Emet” oleh Jimm S.
Trimm. Disitu dibuktikan secara arkeologis dan historis serta pengakuan dari
bapak2 gereja bahwa PB itu ASLI nya IBRANI bukan YUNANI.
Tanggapan Budi Asali:
Penulis PB yg mengubah YHWH menjadi KURIOS!!!!!! Jadi, kalau itu salah, maka
penulis PB salah, dan PB jg salah! Saya tanya sekali lagi, berani salahkan PB?
Kalau tak mengerti bgm saya mengkaitkan, ya sudah. Ngomong dg anda
‘sukar’!
Buat apa saya beli buku sampah spt itu? Kalau dia katakan bahasa asli Pb
adalah bahasa Ibrani, dia tolol, dan tak terpelajar, jadi, saya tak sudi belajar
dr org spt itu.
Kalau anda memang niat debat, jgn suruh saya lihat di sini atau di sana.
Tuliskan / kutip kata2 mrk.Kalau bapa grj, dr buku apa dan bapa grj yg mana, dan
kata2nya apa. Saya juga tuliskan kalau mengutip. Anda tak mau berjerih payah
‘demi dipulihkannya nama YHWH’?????
Saya banyak sekali menggunakan buku2 tafsiran, dan dlm PB semua penafsir
selalu mengacu pd bahasa Yunani, bukan bahasa Ibrani. Mengapa demikian kalau
bahasa asli adalah bahasa Ibrani?
Saya beri contoh:
Adam Clarke (ttg Mat
5:1): “Matthew 5:1
And
seeing the multitudes, he went up into a mountain: and when he was set, his
disciples came unto him:
[And seeing the multitudes] Tous ochlous,
these multitudes, namely those mentioned in the preceding verse, which should
make the first verse of this chapter. … [His
disciples] The word matheetees,
signifies literally a scholar. Those who originally followed Christ considered
him in the light of a divine teacher; and conscious of their ignorance, and the
importance of his teaching, they put themselves under his tuition, that they
might be instructed in heavenly things. Having been taught the mysteries of the
kingdom of God, they became closely attached to their divine Master, imitating
his life and manners; and recommending his salvation to all the circle of their
acquaintance. This is still the characteristic of a genuine disciple of Christ. ”.
Perhatikan bagian yg digaris-bawahi. Itu
Yunani, bukan Ibrani, bukan? Mengapa Ia membahas Yunaninya, bukan Ibraninya,
kalau PB memang bahasa aslinya adalah bahasa Ibrani?
Saya beri contoh lain:
Dlm Yoh 1:18 ada problem text, shg ada 4
golongan manuscript. Semuanya dlm bahasa Yunani, mengapa bukan Ibrani?
A.
T. Robertson: “The only begotten Son ho monogenees
huios.
This is the reading of the Textus Receptus and is intelligible after hoos monogenous
para
patros in
John 1:14. But the best old Greek manuscripts (a, B, C, L) read
monogenees
Theos
(God only begotten)
which is undoubtedly the true text. Probably some scribe changed it to ho monogenees huios
to obviate the
blunt statement of the deity of Christ and to make it like John 3:16. But
there is an inner harmony in the reading of the old uncials. The Logos is
plainly called Theos in
John 1:1. The Incarnation is stated in John 1:14, where he is also
termed monogenees.
He was that before the Incarnation. So he is "God only begotten,"
"the Eternal Generation of the Son" of Origen's phrase”.
Hal lain lagi, A. T. Robertson ini ahli
Yunani, dan krn itu ia hanya menulis buku tafsiran ttg PB, sebaliknya Keil &
Delitzsch ahli bahasa Ibrani, dan krn itu hanya menulis buku tafsiran ttg PL.
Mengapa demikian, kalau PB dan PL sama2 bahasa aslinya adalah Ibrani, spt yg
anda claim mati2an?
e. Ye’khez’qel / Yehezkiel 34: 16.
trBvnlw byva txdnh-aw
vqba tdbah-ta
hqzxh-taw hnmvh-taw qzxa
hlwxh-taw vbxa
jpvmb hn[ra dymva
Bunyinya:
et-haovedet a’vaqesh we’et-hanidakhat ashiv we’lanish’beret ekhe’vosh
we’et-hakhola a’khazzeq we’et-hash’mena we’et-hakha’zaqa ash’mid
er’enna ve’mish’pat. Kata “ashmid” dalam bahasa Ibrani berarti Runtuh
/ Hancur, namun Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan dengan “Lindungi”
sehingga bukan “….. yang gemuk dan yang kuat akan Kuhancurkan;” melainkan
diterjemahkan “……. yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi;” – coba
bandingkan dengan terjemahan bahasa Inggris.
Tanggapan Budi Asali:
Ini tak ada hubungannya dengan kata ‘Allah’ dan ‘Tuhan’, dan karena
itu saya tidak tanggapi. Lebih baik kita fokuskan pembicaraan ini pada satu
pokok saja. Saya tahu terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia banyak yang salah,
saya tidak memeriksa yang satu ini. Dan saya tak mau Lembaga Alkitab Indonesia
disalahkan pada saat sebetulnya Lembaga Alkitab Indonesia benar, seperti dalam
kasus Mat 4:4 di atas!
Tanggapan Yakub :
Ini sebagai bukti kalau LAI itu bukan Tuhan yg tdk bisa
salah, bukankah bapak ktkan bahwa mrk itu org2 yg penuh Roh Kudus? Apakah kalau
org penuh Roh Kudus tdk bisa salah? Kalau masalah ini bapak anggap tdk ada
kaitannya dgn masalah Nama, kenapa pembahasan Nama koq melebar ke masalah
BAHASA? Sdh jelas NAMA beda dgn BAHASA.
Kalau bapak tdk mau LAI disalahkan, coba buktikan
kebenaran dlm ayat di atas donk!.
Tanggapan Budi Asali:
Anda sedang ngelindur / mengigau? Kapan saya katakan penterjemah LAI penuh
Roh Kudus? Dan kapan saya katakan LAI tak bisa salah? Yg saya katakan adalah dlm
ubah YHWH jadi TUHAN LAI tak salah, krn didukung oleh LXX dan PB yg ubah YHWH
jadi KURIOS! Menyalahkan LAI dlm hal ini sama dg menyalahkan PB / FT /
Tuhan sendiri!
5.
Akibat kesalahan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia.
Dengan
Lembaga Alkitab Indonesia mengadopsi kata “Allah” atau “ALLAH” dan
beberapa kesalahan yang lain, maka :
a. Tidak sesuai dengan kaidah penerjemahan dimana
“Nama Diri” tidak bisa diterjemahkan.
Allah adalah Nama Diri sesembahan umat Islam, sedangkan Yahweh adalah
nama diri dari sesembahan umat Nasrani seperti contoh berikut:
ymv
aWh hwhy yna
Ani Yahweh hu sh’mi – Aku ini Yahweh
itu NamaKu (Yeshayahu/Yesaya 42: 8A)
hwhy
ymv-yK
Ki-sh’mo Yahweh – NamaKu Yahweh
(Yirmeyahu/Yeremia 16: 21)
Tanggapan Budi Asali:
Di atas sudah saya buktikan bahwa ‘Allah’ bukan nama!
Saya tahu bahwa YAHWEH tidak bisa diterjemahkan. Pada waktu Perjanjian Baru
mengutip ayat Perjanjian Lama yang menggunakan nama YAHWEH itu, Perjanjian Baru
mengubahnya (bukan menterjemahkannya) menjadi KURIOS / Lord / Tuhan. Bahwa
Perjanjian Baru melakukan itu, maka jelas bahwa ada otoritas ilahi untuk
penggantian nama YAHWEH menjadi Lord / Tuhan! Kalau anda tak setuju ini, anda
menentang otoritas ilahi / Kitab Suci sendiri!
Tanggapan Yakub :
Nah... bapak mengatakan YAHWEH tdk bisa diterjemahkan!
Kenapa tdk dipegang kebenaran ini! Saya sdh mengatakan kenapa bahasa Yunani
mengubah (seperti kt bapak di atas), karena tdk mengenal huruf YHW. Pernyataan
itu sendiri “Pada waktu PB mengutup ayat PL yg menggunakan nama YAHWEH”
seperti kalimat bapak di atas membuktikan kalau PB Yunani itu bukan bahasa asli
Firman Tuhan.
Dengan bukti apa bapak mengatakan kalau pengubahan
YAHWEH menjadi KURIOS ada otoritas ilahi? Apakah tindakan yg tdk sesuai isi hati
Yahweh, bapak jadikan sbg otoritas ilahi? Bagaimana bapak berpikir hal itu? Saya
tunggu jawaban bapak!.
Tanggapan Budi Asali:
Saya tak peduli apa alasan PB ubah, tetapi kalau PB ubah, itu dg otoritas
ilahi. Ada byk ayat PB yg kutip PL, tetapi bunyinya diubah.
Contoh:
Ada
perbedaan antara Mikha 5:1 dengan Mat 2:5-6:
Mikha
5:1 - “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di
antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan
memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”.
Mat
2:5-6 - “(5) Mereka berkata kepadanya: ‘Di
Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab
nabi: (6) Dan engkau Betlehem, tanah
Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka
yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin,
yang akan menggembalakan umatKu Israel.’”.
Mikha
5:1
Matius 2:5-6
-
Efrata.
- tanah Yudea / Yehuda.
-
Yang terkecil.
- Bukan yang terkecil.
Dlm hal itu anda katakan PB salah? Saya tidak berkata demikian, krn PB
adalah FT, dan pasti punya alasannya utk mengubah.
Saya sudah jelaskan hanya anda memang menutup mata. PB itu FT, dan PB ubah
YHWH jadi KURIOS. Jadi itu otoritas ilahinya.
Sebaliknya saya tanya, dr mana anda katakan bahwa perubahan itu ‘tindakan yg tdk sesuai isi hati Yahweh’?
b. Ayat-ayat
Kitab Suci akan saling bertentangan.
Contohnya, Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan
Kitab Ulangan 6: 4 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN
itu esa.” Menurut Tata Bahasa Indonesia yang baik, arti dari kalimat “TUHAN
itu Allah kita” adalah “Ada Allah yang kita sembah Namanya TUHAN.” Padahal
TUHAN itu bukan NAMA melainkan SEBUTAN, sebab setiap agama punya TUHAN
masing-masing. Sedangkan dalam Kejadian 33: 20 Lembaga Alkitab Indonesia
menerjemahkan “Ia mendirikan mezbah disitu dan dinamainya itu : “Allah
Israel ialah Allah.” Menurut Tata Bahasa Indonesia yang baik, arti dari
kalimat “Allah Israel ialah Allah” adalah “Ada Allah yang disembah oleh
Israel namanya Allah.” Bagaimana mungkin Allah bisa menjadi NAMA DIRI
sekaligus menjadi SEBUTAN?.
Terjemahan
yang benar dari Kitab Ulangan 6: 4.
dxa hwhy wnyhla hwhy larfy [mv
Bunyinya: Sh’ma Yisra’el Yahweh eloheynu Yahweh 'ekhad, yang artinya :
Dengarlah hai orang Israel, Yahweh itu Tuhan kita Yahweh itu Satu.
Terjemahan yang benar dari Kitab Kejadian 33: 20.
larfy yhla la wl-arqyw xBzm
~v-bcyw
Bunyinya: Wayatsev-sham miz’bbeakh wayiqra-lo El
elohei Yisrael, yang artinya : Dan dia mendirikan altar disana dan dia menamai
El Tuhannya Israel. El adalah bentuk singkat dari Elohim yang berarti
sesembahan. Bisa diartikan El yang benar-benar El adalah El nya Israel.
Tanggapan Budi Asali:
Perubahan YAHWEH menjadi TUHAN didukung oleh Perjanjian Baru, jadi, anda tak
berhak menyalahkan penterjemah dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris dan
sebagainya pada waktu menterjemahkannya menjadi LORD / TUHAN. Saya tidak anti
penggunaan nama YAHWEH, tetapi saya anti kalau hal itu diharuskan!
Kalau itu diharuskan, saya tanya anda:
a) Mengapa
Perjanjian Baru mengubahnya menjadi KURIOS?
b) Gara-gara
ketakutan bangsa Israel menyebut nama YAHWEH itu, mereka selalu mengganti
pembacaan YHWH menjadi ADONAY. Setelah ratusan tahun maka jaman sekarang tak ada
yang tahu pengucapan yang pasti dari nama itu. Anda dapat pengucapan YAHWEH dari
mana? Bukankah aslinya hanya YHWH? Huruf hidupnya anda dapat dari mana? Siapa
tahu pengucapannya adalah YAHAWIH, YUHUWUH, YAHIWOH, dsb? Sekarang
pertanyaannya, kalau Allah memang MENGHARUSKAN kita menggunakan namaNya, mengapa
Ia mengatur dalam sejarah sehingga pengucapan nama itu hilang, dan sekarang tak
ada yang tahu bagaimana pengucapan sebenarnya?
c) Apakah
Yesus pernah mengajarkan bagaimana mengucapkan YHWH itu? Kalau Ia pernah ajarkan
itu, pasti rasul-rasul tahu, dan kita juga akan tahu. Jadi, saya yakin Yesus tak
pernah ajarkan pengucapan nama itu. Kalau memang harus digunakan Ia pasti
ajarkan. Bahwa Ia tak ajarkan, berarti nama itu tak harus digunakan!
d) Sebetulnya
patut dipertanyakan apakah menebak huruf hidupnya itu bisa dibenarkan.
Seandainya yang benar adalah YUHWIH, tetapi anda menyebutnya YAHWEH, apakah anda
tak salah? Sebagai contoh, nama saya BUDI. Apakah saya tak marah kalau ada orang
yang mengubahnya dengan menyebutnya BODO?
Tanggapan Yakub :
Terjemahan YAHWEH menjadi TUHAN walaupun didukung oleh
PB, itu bukan PB bahasa asli lho pak! Kitab suci yg menggunakan bhs Inggris juga
SALAH!. Karena telah mengubah nama YAHWEH menjadi LORD dan GOD dlm huruf kapital
semua, krn itulah mk sdh ada Kitab Suci dlm bhs Inggris yg mengembalikan nama
YAHWEH dgn tdk menerjemahkannya. Saya punya “The Scripture” Hebraic Roots
Version terbitan th 2002 yg tdk lagi ada kt LORD dan GOD tetapi Yahweh dan
Elohim. Silakan bapak berkunjung ke rumah saya nanti saya tunjukkan juga
referensi2 saya yg ternyata bapak tidak miliki!. Dalam PB nama Yahweh juga
banyak krn disesuaikan dgn bahasa aslinya dan nama Yesus pakai YESHUA.
Tanggapan Budi Asali:
Tak peduli anda anggap yg mana yg asli, bagi saya
aslinya bahasa Yunani. Kalau tak mau percaya, tetaplah dlm kebodohan anda.
KS Ibrani anda cuma terjemahan dr Yunani ke Ibrani. Itu
tak buktikan apa2.
Kalau bapak mengatakan “Saya tidak anti penggunaan
nama YAHWEH, tetapi saya anti kalau hal itu di haruskan!” Ingat bapak Budi,
saya TIDAK PERNAH MENGHARUSKAN. Tetapi Firman Tuhanlah yg mengharuskannya. Saya
tdk punya kuasa utk mengharuskan, tetapi saya belajar tunduk dgn Tuhan yg
mengharuskan namaNya jangan diubah2 ataupun disebut dengan sembarangan itu.
Tanggapan Budi Asali:
Sama saja, jgn mbulet kalau bicara dg saya. Kalau KS
haruskan orang ke gereja, anda haruskan atau tidak? Kalau FT haruskan, dan anda
tidak mengharuskan, anda bukan hamba Tuhan. Semua hamba Tuhan punya kuasa
mengharuskan kalau itu memang diharuskan oleh KS.
Ini jawaban pertanyaan bapak :
a.
Karena huruf Ibrani tdk
punya abjad huruf Y H W.
Tanggapan Budi Asali:
Mengapa diubah, bukannya ditransliterasikan?
b.
Org Yahudi tdk menyebut
Yahweh bukan krn ANTI atau TIDAK TAHU, seperti di Indonesia, tetapi krn mereka
menghormatiNya. Sedangkan Adonai itu ada hurufnya sendiri yaitu Alef Daled Nun
Yod.
Kalau bapak tanya dari mana saya mengetahui kalau YHWH
itu membacanya YAHWEH? Karena saya belajar Ibrani. Bahasa Ibrani memang tdk ada
tanda bacanya tetapi bukan berarti tdk bisa dibaca. Coba bapak perhatikan : SLWM
= Shalom, HLLWYH = Haleluyah, ADNY = Adonai. Bahasa Ibrani diberi tanda masoret
khan mulai abad ke 6. Bagaimana dgn Moshe / Musa sebelum abad ke 6 saat menerima
10 perintah Tuhan? Apakah Musa tdk bisa membacanya krn semua huruf mati? Kalau
org mengatakan seperti bapak bahwa YHWH bisa ada kemungkinan dibaca YAHAWIH,
YUHUWUH, TAHIWOH krn bapak tdk mempelajari bhs Ibrani dgn serius!. Sekarang
banyak CD tutorial utk belajar bhs Ibrani. Kalau bapak menulis surat dgn menulis : KPD YTH tentu semua
org Indonesia akan tahu bagaimana membacanya!. Tetapi coba bapak tanyakan ke
orang bule? Mereka bisa aja membaca KAPODE YATERHURMET dll. Sama khan? Kalau org
bule tinggal di Indonesia pasti mrk tahu bagaimana membacanya. Tanda2 lalu
lintas dan papan2 peringatan di Israel saat ini apakah ada tanda bacanya? Tidak
lho pak! Tetapi mereka semua yg tinggal disana bisa tuh membacanya.
Tanggapan Budi Asali:
Anda yg tidak belajar shg ngawur saja. Saya juga tak
berkata anti, tetapi takut, gara2 hk ke 3.
Anda bilang anda tahu krn belajar Ibrani, tetapi anda
jg katakan Ibrani tak ada huruf hidup. Lalu anda tahu huruf hidupnya dr mana?
Jgn kira anda saja yg mengerti bahasa Ibrani, saya juga
mempelajarinya, biarpun tak terlalu mendalam, tetapi itu cukup utk membuat diri
saya tidak mudah dibohongi oleh org2 yg mengaku hebat dlm bahasa Ibrani.
Memang saya percaya Musa dulu tahu. Tetapi gara2
ketakutan mengucapkan nkata2 itu selama ratusan thn, akhirnya pengucapannya
hilang. Byk org yg mengatakan bahwa YHWH tak diketahui lagi pembacaannya dg
pasti itu juga belajar bahasa Ibrani, dan bahkan sgt mendalam. Tetapi mrk jg
tidak pasti bgm ucapkan kata itu!
Jgn samakan dg ‘Kpd Yth’. Itu bahasa Indonesia dan
itu singkatan. Kata lengkapnya ada, dan huruf hidupnya jg ada. Mana bisa
disamakan dg YHWH, yg bukan singkatan, dan huruf hidupnya memang tak pernah
dituliskan!
c.
Berkali2 Yeshua
mengucapkan Nama Yahweh lho pak, masalahnya krn bapak tdk punya Kitab PB dlm bhs
Ibrani shg tdk tahu, namun saya sarankan kalau tdk tahu bapak jangan menghakimi,
sebaiknya cari tahu dahulu. Jaman Yeshua hidup tanda Masoret belum ada lho pak!
Apakah mrk tdk tahu semua apa yg Yeshua ktkan krn dlm bhs Hebrew sdg bhs Hebrew
tdk ada tanda vokalnya!. Aaaah... yg bener aja pak!
Tanggapan Budi Asali:
PB anda itu terjemahan dr Yunani, yg mengembalikan
KURIOS ke YHWH. Itu tak berarti apa2. Kalau Yesus ajarkan bgm ucapkan nama YHWH,
rasul2 pasti tahu, dan itu akan diturunkan kpd kita. Tapi ternyata tidak ada.
Kecuali anda yg mengaku2 sbg tahu! Anda bukannya tahu, tetapi hanya sok tahu!
d.
Saya tidak menebak
huruf hidupnya, tetapi memang bunyinya demikian, justru bapaklah yg menebak shg
bisa menulis “Seandainya yg benar adalah YUHWIH”, tolong bapak belajar
bahasa Ibrani lebih serius lagi pak, shg bapak tdk akan mengatakan demikian!
Nah... bapak memberikan perumpamaan, bapak akan MARAH
kalau ada org yg menyebut BUDI dgn BODO, krn itu mengganti nama bapak!. Lhah
bagaimana dgn Yahweh yg dgn seenaknya diganti menjadi ALLAH? Bapak pasti bisa
menjawabnya donk!.
Tanggapan Budi Asali:
Mengatakan ‘seandainya’ tidak sama dg ‘menebak’.
Saya tidak mempersoalkan perubahan menjadi ALLAH (yg bisa saja salah); yg
saya persoalkan perubahan menjadi TUHAN. Yg pertama tak ada dukungan dlm PB, yg
kedua didukung oleh PB.
Perubahan menjadi ALLAH, hanya terjadi dlm ungkapan ADONAY YHWH. Utk
menghindarkan ungkapan ‘Tuhan TUHAN’ yg dirasa aneh, maka diubah jadi Tuhan
ALLAH. Ini memang tak didukung PB, shg memang bisa saja disalahkan. Tetapi kalau
melihat kata2 Walter Martin, LXX kdg2 mengubah YHWH menjadi THEOS. Jadi, pasti
salah juga tidak.
Tetapi perubahan jadi TUHAN didukung PB, yg menyalahkan adalah orang yg tak
tunduk pd FT.
Itu berbeda dg menebak huruf hidupnya semaunya sendiri, dan utk itulah BUDI
diubah menjadi BODO itu saya berikan sbg ilustrasi. Tetapi anda terus
membelokkan pembicaraan.
c. Bermasalah dan terjadi konflik berkepanjangan antara Islam dengan
Nasrani.
Realita yang ada atau dalam kenyataan di Indonesia, umat Islam “tidak
sependapat” jika umat Nasrani menggunakan kata “Allah” dalam dunia
kekristenan. Karena sejak Nabi Muhammad saw menerima wahyu Allah di gua Hira (QS
96 Al’Alaq 1-5), dalam QS 112 Al Ikhlas 1-3 mengatakan : Qul huwallaahu ahad
(Katakanlah Allah itu Esa) Allah hussomad (Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepadaNya segala sesuatu) Lam yalid wa lam yuulad (Tidak beranak dan tidak pula
diperanakkan) Wa lam yaqul lahu kufuan ahad (dan tidak ada seorangpun yang
setara dengan Dia). Artinya Islam berpedoman bahwa Allah itu Esa dan Tidak ada
istilah lain yang harus berada menyatu dengan Nama tersebut. Demikian pula dalam
QS 5 Al Maaidah 17 dalam Al Qur’an dan Terjemahannya yang dicetak dari Khadim
al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua Tanah Suci) Fahd ibn ‘Abd al’Aziz
Al Sa’ud, Raja Kerajaan
Saudi Arabia menerjemahkan: “Laqod (Sesungguh-sungguhnya) kafaro (telah
kafirlah) alladziina (orang-orang yang) qooluu (berkata): “Inna (Sesungguhnya)
Allah (Allah) huwa (dia) almasiihu (Al Masih) Ibnu (Putra) Maryama
(Maryam).”... “
Itulah
sebabnya Dr. Kautsar Azhari Noer (Guru Besar Program Pasca Sarjana IAIN Syarif
Hidayatullah-Jakarta) pernah menulis naskah di mana di antara isi naskahnya,
beliau juga mengungkapkan pandangan umum umat Islam di Indonesia di Jawa Pos,
Minggu Pahing 23 September 2001 dengan judul “Tuhan Kepercayaan” Pandangan
para ulama yang tidak sesuai dengan pandangan theolog secara umum yaitu bahwa
“Tuhan adalah satu, tetapi disebut dengan banyak nama, seperti Yahweh, God,
Allah, Brahman dan Tao.” Demikian pula Majalah “Sabili” No. 14 Tahun XI 30
Januari 2004 / 8 Dzulhijjah 1424 halaman 58 dalam naskahnya berjudul “Allah
dan Elohim” memisahkan “Allah” sebagai “Nama Diri” dengan
“Sebutan” yang selama ini telah dipergunakan oleh umat Nasrani. Tidak
ketinggalan keluar surat keberatan dan himbauan agar umat Nasrani di Indonesia
tidak menggunakan kata Allah, ALLAH ataupun allah dari “Majlis Ta’lim - Al
Rodd” Wonosobo tertanggal 28 Mei 2004 kepada Lembaga Alkitab Indonesia dan
“Ikatan Mubalig Seluruh Indonesia” Jakarta tertanggal 1 Nopember 2004 kepada
Dirjen Bimas Kristen Depag RI dan Lembaga Alkitab Indonesia. Hal-hal tersebut
sebagai bukti bahwa “Kerancuan” atau “Mempersekutukan agama” itu
menimbulkan reaksi dari pemeluk agama yang bersangkutan dan dapat juga
dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu atau politik tertentu yang tidak
menghendaki adanya perdamaian di Indonesia untuk ikut memanaskan situasi negara
kita.
Memang semuanya itu
tidak akan pernah ada, apabila Kitab Sucinya umat Nasrani di Indonesia
diluruskan dalam penerjemahannya, yang sudah mengalami kesalahan penerjemahan
sekitar 400 tahunan dan mengacu atau kembali kepada Kitab Suci berbahasa Ibrani
sebagai kitab asli umat Nasrani untuk acuannya, dimana kata “Allah” atau
“ALLAH” atau “allah” tidak pernah ada. Sebab selama ini Lembaga Alkitab
Indonesia telah menerjemahkan “Nama Diri” Yahweh menjadi TUHAN, ALLAH,
Tuhan dan Allah. (Perhatikan huruf kapital dan tidak).
Tanggapan Budi Asali:
Di atas anda mengatakan bahwa orang-orang kristen menabrakkan anda dengan
orang Islam. Tetapi dari kata-kata anda di atas ini, saya lihat bahwa andalah
yang menabrakkan kami (yang menggunakan kata ‘Allah’) dengan orang Islam!
Di atas telah saya tunjukkan bahwa istilah ‘Allah’ sudah digunakan oleh
orang-orang kristen Arab jauh sebelum Islam muncul. Jadi, mereka sama sekali
tidak punya hak melarang orang Kristen menggunakan kata ‘Allah’! Di Malaysia
itu dilarang, dan itu sesuatu yang sangat kurang ajar dan tidak adil.
Pertentangan Islam dengan Kristen bukan terjadi karena kata ‘Allah’!
Tetapi karena ajaran / kepercayaan yang lain seperti keilahian Kristus, doktrin
Allah Tritunggal, keselamatan karena iman saja, dan sebagainya! Saya 3 x khotbah
di depan orang-orang Islam, dan tak pernah kata ‘Allah’ menjadi
pertentangan. Yang jadi pertentangan adalah ajaran-ajaran yang saya sebutkan di
atas. Jadi, jangan ngawur saja dalam menyimpulkan.
Tanggapan Yakub :
Saya tdk ngawur, coba bapak konfirmasikan kepada org
Islam, apakah mereka setuju kata allah digunakan oleh org Kristen? Apa yg saya
sampaikan diatas itu merupakan REALITAS!. Suatu kenyataan memang org Islam tdk
suka org Kristen pakai allah!. Bapak jangan katakan saya menabrakkan bapak cs
dgn org Islam. Kesaksian saya saat pertama kali mengajarkan masalah ini th 2001,
saya justru difitnah oleh pendeta2 teman bapak krn tdk mau menghilangkan allah,
shg saya berurusan dgn Polisi, Linmas, Depag, DPRD sampai ke Jihad!. Kenapa
mereka ikut campur? Pendeta2 temen bapak lah (yg ngotot HARUS pakai allah) yg
menyerahkan saya kepada mereka, bahkan berkas saya juga sampai ke Mabes Polri di
Jakarta. Saya bisa tunjukkan pemberitaan di Majalah Kristen, Tabloid Katholik,
Koran Kriminal yg saya kliping yg menulis berita ngawur ttg saya!. Apakah saya
takut? Tidak sama sekali, sebab saya yakin kebenaran yg bela saya! Dan terbukti
sekarang semakin banyak org sadar akan kesalahannya dgn menyebut2 nama
sesembahan asing.
Bapak jangan mengatakan org Islam kurang ajar dan tidak
adil, dgn dasar apa bapak ngotot harus menggunakan allah? Coba renungkan, dlm
bhs inggris aja tdk ada kt allah! Apakah kalau begitu kitab2 yg berbahasa
Inggris SALAH krn tdk ada kata allahnya sebab bapak menyalahkan org Malaysia yg
melarang pemakaian kt allah?
Saya tdk ngawur menyimpulkan kalau kt allah juga
merupakan sumber konflik, jelas2 dgn adanya pelarangan Kristen menggunakan kt
allah itu sdh merupakan bukti khan? Kenapa bapak masih belum juga mampu
menangkap kasus ini!. Ini khan realitasnya demikian!
Tanggapan Budi Asali:
Saya ketemu byk orang Islam yg tak keberatan dg hal
itu. Kalau ada beberapa yg keberatan, mrk tidak mewakili semua. Apakah krn ada
beberapa yg lakukan itu, lalu kita generalisasikan bahwa semua begitu?
Bahwa kepercayaan anda itu dianut oleh makin banyak
orang, jgn terlalu cepat dianggap sbg bukti bahwa itu memang benar. Banyak agama
lain dan sekte sesat yg juga berkembang. Apa itu membuktikan mrk benart? Menurut
saya orang yg ikut anda bukannya sadar, tetapi itu orang bodoh yg anda sesatkan!
Anda bicara ttg saya menuduh anda menabrakkan saya dg
orang Islam, tetapi tahu2 memberi contoh orang2 yg tabrakkan anda dg Islam.
Perhatikan bagian yg saya garis bawahi dr tulisan anda di atas. Otak anda
kortslet?
Anda bisa membaca atau
tidak? Saya tidak mengatakan seadanya
orang Islam, tetapi mrk di Malaysia yg melarang org kristen menggunakan kata
Allah!
Kata Allah bagi saya adalah kata Indonesia yg berasal
dr bahasa Arab, jadi mengapa dlm Inggris hrs ada kata Allah?
Belum tentu itu sumber konfliknya. Bisa saja sumber
konfliknya adalah ajaran2 lain, dan lalu mrk cari perkara dlm hal ini.
6.
Allah dan Yahweh bukan Bahasa melainkan Nama Diri.
Umat
Nasrani yang masih belum mengembalikan Nama Allah kepada umat Islam beranggapan
bahwa jika menggunakan nama “Yahweh” berarti Kitab Sucinya harus menggunakan
bahasa Ibrani merupakan pemahaman yang keliru sebab Yahweh itu bukan bahasa,
melainkan Nama Diri. Sama seperti Allah adalah Nama Diri.
Sebagai buktinya, penulis sampaikan terjemahan Kitab
Suci Nasrani yang tidak menghilangkan Nama Yahweh dan Al Quran terjemahan bahasa
Inggris, Belanda, Perancis, dan Jerman yang tidak mengubah Nama Allah.
a. Kitab Suci “Padan Si Ndekah” Balai Alkitab
Jakarta 1953. Jeremia 24: 7.
“Djanah bantji kubereken man bana ukur, lako
nandai Aku, maka Aku nge Jahwe; ia nge djadi bangsangku, djanah Aku djadi
Dibatana, adi ia djera ku Aku alu bulat ukurna.”
b. Kitab Suci “Magandang Balita - Biblia”
Philippine Bible Society - Bahasa Tagalog. Kitab Keluaran / Exodo 3: 15.
“ni Yahweh, ng Diyos ng inyong mga ninuno,
ng Diyos nina Abraham, Isaac at Jacob. At ito ang pangalang itatawag nila sa
akin magpakailanman.”
c. Kitab Suci “Ti Baro A Naimbag A Damag -
Biblia” Philippine Bible Society – Bahasa Ilokano (Bahasa daerah di
Philipina).
“Ibagamto kadagiti Israelita, a siak ni Yahweh
a Dios dagiti kapuonanyo, ti Dios da Abraham, Isaac ken Jacob, imbaonka
kadakuada. Daytoy ti naganko iti agnanayon. Isunto ti pangawag kaniak dagiti
amin a kaputotan.”
d. Kitab Suci “The Scripture” dalam Bahasa Inggris. – Isaiah / Yesaya
42: 8.
“I am Yahweh, that is My Name, and My
esteem I do not give to another, nor My praise to idols.”
e. Kitab Suci “The Word of Yahweh” dalam Bahasa Inggris. Romans 14: 6
“He that regardeth the day, regardeth it unto Yahweh;
He that eateth, eateth to Yahweh, for he giveth Elohim thanks; and he
that eateth not, to Yahweh he eateth not, and giveth Elohim thanks.”
f. Kitab Suci “Hebraic Root Version New
Testament” dalam bahasa Inggris. -
Mattithayu 4: 4.
“And Yeshua answered and said, “it is writen,
for not by bread alone will man live, but by everything that proceeds from the
mouth of YHWH will man live.”
“YHWH” dalam
terjemahan tersebut di atas adalah dari huruf Ibrani Yod He Waw He yang jika
dibaca berbunyi “Yahweh”, memang huruf Ibrani terdiri dari huruf mati,
seperti SLWM (huruf Ibraninya Shin Lamed Waw Mem) juga dapat dibaca dan bunyinya
Shalom.
Tanggapan Budi Asali:
Adanya Kitab Suci yang mempertahankan nama YAHWEH tak membuktikan bahwa itu
harus dilakukan! Anda tak punya bukti apapun! Allah bukan nama diri!
Tanggapan Yakub :
Sungguh aneh bapak ini, saya sodorkan Kitab Suci yg
mempertahankan nama YAHWEH sbg bukti kebenaran bahwa NAMA DIRI tidak bisa
diterjemahkan dianggap tdk membuktikan bhw itu hrs dilakukan, tetapi mengganti
nama YAHWEH malah dilakukan!. Pertanyaan saya, bapak lebih taat kepada perintah
manusia dari pada perintah Tuhan donk pak?.
Jangan-jangan untuk melakukan firman bapak juga pilih2,
yang kira2 cocok untuk dilakukan ya dilakukan, yang sekiranya tdk cocok ya tidak
dilakukan krn kebenaran tidak harus dilakukan.
Pernyataan bapak di atas akan ditertawakan anak SD,
sebab mereka juga tahu kalau nama itu tdk bisa diterjemahkan!. Coba bapak baca
ulang semua jawaban saya dengan baik, jangan dgn emosi pak! Saya menjawab dgn
KASIH dgn satu pengharapan bapak juga menerima karunia dr Yahweh dan Yeshua utk
dpt mengerti masalah ini. Bapak akan menemukan kebenaran bahwa Allah itu nama
diri. Saya punya bukti2 arkeologis dan historisnya pak!. Bapak perlu banyak
membaca buku referensi ttg masalah ini pak. Enciklopedia juga membuktikan bahwa
Allah itu nama diri. Apakah penulis ensiklopedia salah krn ada bukti2
arkeologisnya?
Tanggapan Budi Asali:
Saya berikaqn ensiklopedinya dg kutipannya, anda tidak. Dan anda tuntut saya
percaya anda. Bukankah shrsnya anda yg percaya saya?
KS anda itu yg mengubah, khususnya utk ayat2 PBnya. Kata KURIOS dikembalikan
ke YAHWEH. Saya pegang aslinya, itu yg FT sesungguhnya, bukan yg telah diubah /
dikembalikan ke YHWH!
Yg ditertawakan itu anda. Tulisan anda saya forwardkan ke pdt Esra dr
Kupang, dan dg marah dia sms ke saya dan berkata: ‘Org tolol, PB kok bisa
bahasa Ibrani!’.
Saya cukup byk beri kutipan yg menyatakan Allah sbg ‘the God’; anda tak
beri kutipan apa2.
Demikian
pula karena “Allah” itu juga Nama Diri Tuhannya umat Islam, penulis kutipkan
Terjemahan Al Qur’an yang saya miliki yang tidak mengubah Nama “Allah”
dalam bahasa apapun, misalnya :
a. Terjemahan Al Qur’an Surat 1 Al Faatihah 1-2
dalam Bahasa Inggris.
In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. Praise be to Allah,
the Cherisher and Sustainer of the Worlds.
b. Terjemahan Al Qur’an Surat 1 Al Faatihah 1-2 dalam Bahasa Belanda.
In naam van Allah, de Barmhartige, de Genadevolle. Alle lof zij Allah,
de Heer der Werelden.
c. Terjemahan Al Qur’an Surat 1 Al Faatihah 1-2 dalam Bahasa Perancis.
Au
nom d'Allah, le Tout Misיricordieux, le Trטs
Misיricordieux. Louange א
Allah, Seigneur de l'univers.
d. Terjemahan Al Qur’an Surat 1
Al Faatihah 1-2 dalam bahasa Jerman.
Im
Namen Allah, des Gnהdigen, des Barmherzigen. Aller Preis gehצrt Allah, dem Herrn der Welten,
Jadi jika umat Nasrani tidak menggunakan kata “Allah”, yang memang tidak
pernah ada dalam Kitab Suci asli yang diyakininya, maka tidak akan ada lagi
kecurigaan antara dua agama tersebut di Indonesia. Masing-masing berjalan di
“relnya” sendiri-sendiri seperti Agama Hindu dan Agama Budha.
Tanggapan Budi Asali:
Saya tak peduli mereka mau gunakan kata itu bagaimana, tetapi bukti-bukti
yang saya berikan di atas cukup kuat untuk mengatakan bahwa ‘Allah’ bukan
nama. Apa alasan mereka mempertahankan dalam setiap bahasa lain, itu urusan
mereka.
Tanggapan Yakub :
Saya berikan bukti2nya tetapi bapak katakan “TIDAK
PERDULI”, sementara bapak memberikan argumentasinya yg tdk ada dasar firman
Tuhan sama sekali, hal2 yg bukan firman bisa mengalahkan firman.
Tanggapan Budi Asali:
Yg bukan firman mengalahkan firman? Anda gunakan firman
dr mana utk mengatakan Allah itu nama? Jgn asal ngomong!
Ini sangat ironis!. Kalau begitu kenapa bapak mengimani
firman yg ada saat ini? Saran saya imani aja sesuatu yg bisa mengalahkan firman
Tuhan yg ada di tangan bapak!. Sedangkan kalau ada org yg memanggil nama bapak
dgn seenaknya aja PASTI bapak akan marah koq. Katakanlah bapak tdk marah, krn
bapak yg empunya nama memang mengijinkan kalau nama bapak mau disebut dgn apa
saja. Namun Yahweh tdk mau namaNya disebut dgn sembarangan! Nah bapak mau
menurut siapa? Menurut penerjemah yg salah atau menurut Tuhan? Saya punya 2
Kitab Suci berbahasa Arab yg juga menerjemahkan Yahweh menjadi Arobu, namun ada
juga yg versi tdk menerjemahkan, nah ini saja
membuktikan kalau penerjemah Kristen Arab kebingungan krn sdh terpengaruh agama
suku, seperti di Indonesia.
Bukti yang bapak sodorkan bahwa Allah itu bukan nama
tidak kuat pak!. Saya juga sdh membuktikannya diatas khan!. Allah itu juga bukan
berasal dari Al-ilah.
Coba bapak baca Kejadian 33: 20 dlm terjemahan LAI,
disitu tertulis “Allah Israel ialah Allah”, pertanyaan saya kapan bangsa
Israel menyembah Allah yg bernama Allah? Dimana mereka menyembah Allah yg
bernama Allah? Tolong bapak buktikan hal ini. Saya tunggu.
Terjemahan LAI itu saja sudah menunjukkan kerancuannya!
Bukankah sebagai org Indonesia yg bertitel MDIV bapak dapat menjabarkan bahwa
kalimat “Allah Israel ialah Allah” itu menunjukkan bahwa kata “Allah”
disitu berperan sebagai NAMA DIRI sekaligus sebagai SEBUTAN. Kalau begitu saya
bisa berkata ada Presiden bernama Presiden. Apa ini tdk rancu pak?.
Tanggapan Budi Asali:
Saya justru tak menganggap Allah sbg nama. Justru
pertanyaan anda itu cocok utk anda sendiri. Saya kira maksud ayat itu hanyalah
bahwa Allah Israel adalah Allah yg sgh2, bukan allah palsu spt dewa, berhala
dsb. Argumentasi anda sgt konyol!
7. Allah bukan bahasa Indonesia atau sesuai budaya Indonesia.
Sangat
disayangkan jika para theolog Indonesia menganggap bahwa kata Allah merupakan
bahasa Indonesia untuk sinonim atau padanan kata dari kata Tuhan atau sudah
menjadi budaya Indonesia.
a. Tidak bisa diterima oleh semua agama.
Untuk mengadopsi suatu kata asing menjadi bahasa Indonesia, seharusnya
memenuhi kriteria-kriterianya yaitu bisa diterima oleh semua suku dan agama di
Indonesia. Misalkan “Kursi” yang berasal dari bahasa Arab “alkursi” (ﺃﻠﮑﺭﺴﻲ,
) semua agama dan golongan di Indonesia mempunyai persepsi yang sama untuk arti
dari kata tersebut. Sedangkan kata “Allah” tidak pernah dipakai oleh agama
Hindu dan agama Budha di Indonesia dan di belahan dunia manapun untuk sinonim
dari kata “Tuhan”. Dengan adanya kesalahan penerjemahan tersebut telah
membuat perpedaan persepsi antara umat Islam dan Kristen tentang kata
“Allah”. Jadi kata “Allah” itu bukan “BAHASA INDONESIA” melainkan
“NAMA DIRI”
b. Sila Pertama tidak bisa diubah.
Jika Allah adalah bahasa
Indonesia untuk padanan kata / sinonim dari kata Tuhan, sila pertama Pancasila
yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa.” dapat diubah menjadi “Keallahan
Yang Maha Esa.”
Tanggapan Budi Asali:
Saya berpendapat bahwa Allah adalah kata Arab yang sudah diindonesiakan.
Karena Indonesia jajahan belanda sampai sekarang banyak kata Belanda yang
diindonesiakan. Juga banyak kata bng yang diindonesiakan. Dan itu semua diterima
tanpa persoalan. Lalu mengapa hebohkan kata Allah yang diindonesiakan?
Saya tidak menganggap kata Allah dan Tuhan sebagai sinonim. Menurut saya
kata Allah menunjuk pada jenis makhluknya. Jadi, kalau kita adalah manusia,
Gabriel adalah malaikat, bleki adalah anjing, maka YAHWEH adalah Allah.
Sedangkan kata Tuhan adalah jabatan / kedudukannya. Kalau saya adalah pendeta,
SBY adalah presiden, maka Dia adalah Tuhan. Jadi, siapa yang menyamakan arti
kedua kata itu?
Tanggapan saya :
Bapak benar! Sekarang memang banyak kata yang diadopsi
dr kata asing, lalu kriterianya apa kata “allah” itu merupakan kata
“Arab” yg di “Indonesia”kan. Kalau agama Hindu dan Budha saja tidak
menerima kata Allah sbg sinonim dr kata Tuhan lalu dari sisi mana bapak katakan
kalau allah itu sdh jadi bahasa Indonesia? Harus ada kriteria akademisinya donk
pak. Bapak khan bukan org yg tdk berpendidikan! Bapak khan org akademis?
Siapa bilang itu diterima tanpa persoalan? Bapak baca
dlm Majalah Sabili milik Islam, sdh banyak naskah2 yg menunjukkan ketidak
senangan umat Islam kalau Kristen pakai kata allah. Ini suatu realitas yg tdk
bisa dipungkiri telah menimbulkan persoalan dan konflik horizontal antara
Kristen dan Katolik dengan Islam.
Bagaimana bapak mengatakan kalau Allah itu menunjuk
jenis makhluknya? Kalau bapak mengatakan Yahweh adalah Allah .... makhluk jenis
apakah Allah itu? Kalau jenis makhluk tentu agama lain seperti Hindu dan Budha
juga bisa memakainya donk pak? Karena mereka juga pasti bisa mengindentifikasi
makhluk yg mereka sebut dgn Allah, namun kenyataannya tidak tuh?..
Tanggapan Budi Asali:
Bandingkan terjemahan Inggris dan Indonesia. Setiap kata ‘God’
diterjemahkan ‘Allah’. Lalu apa salahnya mengatakan itu adalah kata Arab yg
sudah diindonesiakan? Saya jg tidak menerima kata Allah sbg sinonim dr kata
Tuhan. Kalau Tuhan itu jabatan / kedudukannya.
Anda sendiri buktikan kalau Allah itu nama.
Anda memang tak bisa membaca dg baik. Saya bilang yg diterima tanpa
persoalan itu adalah kata2 lain dr Belanda, Inggris dsb yg diindonesiakan. Itu
diterima tanpa persoalan. Krn itu saya anggap aneh kalau kata Allah yg
diindonesiakan dr Arab kok dipermasalahkan. Ya, hanya orang kengangguren, dan
memang suka cari masalah, yg mempermasalahkan.
Allah itu jenis makhluk yg bgm? Ya Allah. Kalau anjing itu jenis makhluk yg
bgm? Bedanya yg jenis makhluknya Allah hanya ada satu, yg anjing, manusia,
malaikat, ada banyak.
Kalau Hindu, Buddha dan agama lain mau pake, saya tak keberatan sama sekali.
Kalau mrk tak mau pake, itu urusan mrk. Saya tak punya hak memaksa mrk.
8.
Allah (ﺍﷲ) bukan
berasal dari Al-ilah (ﺍﻹﻠﻪ).
Para theolog Nasrani di Indonesia beranggapan bahwa kata Allah itu
berasal dari al-ilah atau hanya sekedar sebutan, padahal bukan!. Kenapa?
Karena :
a. Allah itu Nama Tuhannya umat Islam, buktinya umat
Islam di Amerika jika sembahyang akan mengucapkan “Allahu akbar” bukan
“God akbar”.
Tanggapan Budi Asali:
Lucu sekali. kata ‘akbar’nya dipertahankan dalam bahasa Arab, lalu
mengapa kata ‘Allah’nya harus diganti ‘God’?
Tanggapan Yakub :
Rupanya Bapak Budi Asali tdk memahami kalimat saya nih.
Bukankah kata Allah selalu disandingkan dgn kata Akbar? Lhah bapak tanya donk
dgn org bule, kenapa koq Allahnya tidak diganti God? Kenapa org bule yg beragama
Islam kalau sembahyang selalu mengatakan Allah Hu Akbar? Apakah bapak Budi Asali
pernah mendengar org bule Islam saat sembayang mengganti Allah? Tidak khan? Nah
itu bukti kalau Allah itu nama diri yg tdk bisa berubah pak!. Bapak Budi Asali
mendapatkan titel MDIV dimana? Amerika atau Australia? Mudah2an di Luar Negeri
shg bapak sering mendengar org bule Islam kalau sembayang, walaupun di Amrik mrk
tdk pakai Loudspeaker seperti di Indonesia, but at least dapat tanya langsung
lah!.
Tanggapan Budi Asali:
Siapa bilang selalu disandingkan dg Akbar? Itu akan berarti kata Allah tak
pernah digunakan selain dg kata Akbar, dan itu jelas nonsense!
Anda yg tak mengerti kalimat saya. Saya lihat kata Allahu akbar itu memang
seluruhnya dlm bahasa Arab, lalu mengapa anda menuntut kata ‘Allah’nya saja
yg diganti God?
Apakah anda pernah dengar orang bule berdoa Allahu great? Tidak bukan? Itu
bukti bahwa semua itu memang hrs diucapkan dlm Arab, dan krn itu tak membuktikan
bahwa Allah adalah nama!
b. Allah bukan berasal dari al-ilah dengan
menghilangkan “alif” seperti penjelasan para dosen Islamologi, sehingga
tinggal “lah” (ﻠﻪ
) sebab artinya akan berubah, bukan nama Tuhannya umat Islam atau sebutan untuk
“dewa” atau sesembahan lagi, melainkan “lisyakshin” (ﻠﺸﺨﺹ) atau
“baginya laki-laki”.
c. ilah (ﺇﻠﻪ ) itu sudah satu paket kosakata
yang tidak bisa dipenggal, karena kata benda bukan kata kerja.
d. ilah (ﺇﻠﻪ ) bisa dimasukkan “alif”
“lam” (ﺃﻝ) karena ilah adalah gelar atau sebutan sedangkan Allah
itu tidak bisa karena nama pribadi.
Contoh : Ustaadzun (ﺃﺴﺘﺎﺫ) - guru laki-laki, bisa
dimasukkan “alif” “lam” (ﺃﻝ), sehingga menjadi
“al-ustaadzu” (ﺃﻷﺴﺘﺎﺫ) tetapi Fatimah (ﻔﺎﻁﻤﺔ) tidak bisa ditulis menjadi al-Fatima (ﺃﻠﻔﺎﻁﻤﺔ) karena
Fatimah itu Nama Pribadi atau nama orang.
e. ilah (ﺇﻠﻪ ) atau al-ilah (ﺍﻹﻠﻪ) ada
Mutsannahnya (ﻤﺜﻨﺔ) yaitu ilahaani (ﺇﻠﻬﺎﻥ) artinya dua tuhan atau dua dewa, sedangkan Allah tidak ada Mutsannahnya /
Tatsniyahnya (ﺍﻠﺘﺜﻨﻴﺔ),
kalau ada artinya bukan Allah lagi tetapi Allahaani (ﺃﻠﻟﻬﺎﻥ),
ini mengganti nama sesembahannya umat Islam.
Contoh : Fatimah (ﻔﺎﻁﻤﺔ) kalau dimutsannahkan menjadi Fatimataani
(ﻔﺎﻁﻤﺘﺎﻥ) yang berarti bukan lagi Fatimah tetapi berubah menjadi Tante Fatimataani.
f. ilah atau al-ilah bisa diterjemahkan menjadi dewa
atau sesuatu yang disembah sedang “Allah” tidak bisa diterjemahkan ke dalam
bahasa apapun karena Nama Pribadi. Silakan baca di Kamus Indonesia-Arab-Inggris
Karangan Abd. bin Nuh dan Oemar Bakri halaman 76.
g. Allah bukan berasal dari hamzah, lam, ha (ﻫ -
ﻝ -
ﺀ) karena
kalau diuraikan secara ilmu shorof (ilmu yang menguraikan kata kerja) tidak
pernah ditemukan, baik fiil madhinya / past tense, mudhori’nya / present
continous tense maupun mashdarnya / kata kerja yang tidak ada waktunya atau
sumber kata. Yang ada hamzah, lam, lam, ha (ﻫ - ﻝ -
ﻝ -
ﺀ) atau
allaha (ﺃﻟﹽﻪ),
tetapi kalau diuraikan secara wazan / ukuran / timbangan dalam ilmu shorof juga
tdk bisa menjadi Allah.
Contoh : “allaha” (ﺃﻟﹽﻪ) dengan wazan
afa’la-yufi’lu-if’a’a’lan (ﺇﻔﻌﺎﻻ
-ﻴﻔﻌﻝ - ﺃﻔﻌﻝ). Jadi kalau kita uraikan secara nahu
shorof “allaha” (ﺃﻟﹽﻪ) menjadi : allaha-yullihu-illaahan ( ﺇﻟﹽﻪ - ﻴﻠﹽﻪ
- ﺃﻟﹽﻪ).
Dan itu bukan Allah tetapi sebutan.
Tanggapan Budi Asali:
Saya tak peduli dengan semua penjelasan bahasa Arab karena saya memang tak
mengerti bahasa itu. Tetapi sumber-sumber yang saya kutip di atas merupakan
sumber-sumber yang cukup bisa dipercaya.
Tanggapan Yakub :
Bapak mengatakan tidak perduli dgn apa yg saya sodorkan
krn tidak mengerti bahasa itu. Semua kalau dipelajari tentu bisa dimengerti pak.
Sedangkan sumber2 yg bapak sodorkan sangat tidak bisa dipercaya. Sumbernya
Bambang Noerseno, beliau pernah diajak dialog dgn teman saya yang sebagai
penerjemah bahasa Arab utk mendiskusikan masalah ini tidak berani, silakan bapak
bisa lihat filenya di salibnet.com Bambang Noerseno menghindar ketika diajak
dialog masalah allah bahkan diminta menjawab dalam huruf Arab tidak mau. Apanya
yg bisa dipercaya, justru bapak sudah tertipu!. Saya sajikan di atas menggunakan
huruf arab dgn tujuan supaya melihat, bahwa hurufnya saja berbeda shg tdk bisa
berasal dari al-ilah!
Lhah kalau bapak katakan TIDAK PERDULI krn tdk mengerti
bahasa Arab, kenapa bapak PERDULI dgn penjelasan Bambang Noorseno? Bukankah apa
yg dia jelaskan juga tentu mengacu ke bahasa yg bapak tdk mengerti yaitu Arab.
Konsekuen donk pak!.
Namun oke lah... saya menghormati bapak. Kalau bapak
mau lebih percaya kepada mereka itu memang hak bapak!, Saya tdk bisa memaksa,
saya hanya menyampaikan apa yg saya tahu.
Tanggapan Budi Asali:
Memang kalau dipelajari bisa, tetapi apa gunanya saya belajar Arab? Kan
mending belajar Yunani dan Ibrani, atau bahkan Inggris, krn bisa digunakan utk
membaca buku2 theologia.
Sumber saya tak bisa dipercaya, sementara anda tak berikan satu sumberpun.
Encyclopedia Britannica mrpk ensiklopedi dg nama besar, masakan ngawur begitu
saja. Juga Encarta.
Saya percaya bukan krn Bambang jelaskan dlm Arab, tetapi krn adanya sumber2
lain yg saya anggap qualified.
Saya tak peduli kata2 anda di atas, krn memang tidak mungkin bagi saya utk
mengertinya atau melihat salah benarnya, krn saya tak mengerti Arab. Kasarnya,
dibujuki anda saya juga tak tahu. Juga mengingat betapa tak akuratnya pernyataan
anda berkenaan dg bahasa asli dr PB, saya otomatis meragukan semua informasi dr
anda. Apalagi pd saat menggunakan bahasa yg saya tak mengerti.
9.
Kenapa harus Yahweh?
Menyebut
Nama Yahweh sebagai Nama Tuhan, bukan pemaksaan kehendak yang dilakukan oleh
orang-orang tertentu, melainkan karena memang Yahweh sendiri menghendaki NamaNya
disebut dari generasi ke generasi, bukan dihilangkan atau diganti dengan
sembarangan.
a. Yahweh ingin NamaNya disebut. Keluaran 3: 15
ynB-la rmat-hk hvm-la ~yhla dw[ rmayw
yhla ~hrba yhla ~kytba yhla hwhy larfy
~l[l ymv-hz ~kyla ynxlv
bq[y yhlaw qtcy
rd rdl yrkz hzw
Wayomer
od Elohim el-Moshe ko-tomar el-b’ni Yisrael Yahweh elohei
avotekem
elohei Avraham elohei Yitskhaq we'elohei Ya’aqov shelakhni
aleikem
ze-sh’mi le'olam weze zikri ledor dor
Artinya : “Selanjutnya berfirmanlah Tuhan kepada
Moshe : Beginilah kau katakan kepada anak-anaknya Israel: Yahweh,
Tuhannya Avraham, Tuhannya Yitskhaq dan Tuhannya Ya’aqov, telah mengutus aku
kepadamu: Inilah namaKu
selama-lamanya dan inilah sebutanKu dari generasi ke generasi.”
Tanggapan Budi Asali:
Kalau anda biasanya mengecek terjemahan Kitab Suci Indonesia, mengapa di
sini tidak? Terjemahan ‘sebutan’ dalam KJV adalah ‘memorial’, dalam RSV
‘thus I am to be remembered’, NIV hampir sama dengan RSV.
Kalau dari ayat ini anda mengharuskan penggunakan nama YAHWEH, sekali lagi
saya tanya: mengapa gerangan Allah membiarkan sehingga dalam sejarah pengucapan
namaNya menjadi hilang? Semua orang yang belajar theologia tahu bahwa tak ada
yang tahu bagaimana mengucapkan nama itu.
Bandingkan dengan kutipan-kutipan di bawah ini:
Herman Bavinck: “Because of the Jewish dread to pronounce this name, its original pronunciation, derivation, and meaning were lost” (= Karena rasa takut orang-orang Yahudi untuk mengucapkan nama ini, pengucapan orisinilnya, dari mana kata itu diturunkan, dan artinya, hilang) - ‘The Doctrine of God’, hal 102.
Herman Bavinck: “Because of the Jewish dread of pronouncing this name its original pron(o)unciation was forgotten” (= Karena rasa takut dari orang-orang Yahudi untuk mengucapkan nama ini, pengucapan orisinilnya telah dilupakan) - ‘The Doctrine of God’, hal 103.
Herman Hoeksema: “Hence, the question arises as to the proper vocalization and pronunciation of the name. The answer to this question can only be conjectured, and Hebrew scholars have suggested different possibilities” (= Karena itu muncul pertanyaan berkenaan dengan pemberian huruf hidup dan pelafalan / pengucapan dari nama itu. Jawaban terhadap pertanyaan ini hanya bisa diduga / diterka, dan ahli-ahli bahasa Ibrani telah mengusulkan kemungkinan-kemungkinan yang berbeda-beda) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 68.
The
International Standard Bible Encyclopedia, vol II:
“The pronunciation of YHWH in the OT can never be certain, since the
original Hebrew text used only consonants” (= Pengucapan dari YHWH dalam
PL tidak pernah bisa pasti, karena text Ibrani yang orisinil / asli hanya
menggunakan huruf-huruf mati) - hal 507.
Tanggapan
Yakub :
Kenapa
bapak lebih tertarik mengungkapkan argumentasinya dr terjemahan? Kenapa bapak
tidak mengacu kepada sumbernya?
Pak
Budi, orang Yahudi jangan dijadikan contoh krn beberapa kali org Yahudi berusaha
menghilangkan nama Yahweh. Kalau bapak menjadikan org Yahudi sebagai contoh,
kenapa org Yahudi menyalibkan Yeshua tidak
dicontoh? Nah itu saja menunjukkan kalau org Yahudi pun bisa salah pak !
Mengenai
huruf YHWH, memang semua kata Ibrani itu terdiri dari huruf mati semua pak!.
Bagi saya hal itu tdk perlu dipusingkan krn huruf mati itu bukan berarti tdk
bisa berbunyi dan bunyinya beda-beda. Coba bapak mempelajari bahasa Ibrani dgn
lebih intensif, ada banyak CD dijual via internet oleh sekolah2 theologia di
Israel.
Tanggapan Budi Asali:
Anda selalu menangkap kata2 saya secara melenceng. Saya kan hanya ceritakan
sejarahnya bgm kok nama YHWH sekarang tak diketahui lagi pengucapannya. Siapa
bilang bahwa Yahudi itu benar pd waktu tak mengucapkan samaqsekali nama itu?
Lebih2, siapa yg bilang mau tiru Yahudi2 itu?
Yg saya tekankan adalah mengapa Allah ijinkan pengucapan nama itu hilang,
kalau Ia memang haruskan kita gunakan nama itu? Anda tak menjawab pertanyaan
ini. Tetapi anda memang mengklaim tahu bgm ucapkan nama itu. Bagi saya ini bukan
tahu, tetapi sok tahu. Saya tak percaya kebenaran claim tsb.
Saya cukup mengerti Ibrani, jadi tak usah bohongi saya! Yg sudah belajar
Ibrani mendalampun tetap tak tahu bgm ucapkan YHWH.
Skrg, apa pandangan anda ttg kata YEHOVAH? Mengapa beda dg YAHWEH? Ada
YEHOVAH dan ada YAHWEH, bukankah itu membuktikan manusia memang tak tahu dg
pasti bgm ucapkan nama itu (huruf hidupnya)? Jg dr mana YEHOVAH itu? Apakah
salah? Kalau salah, mengapa salah? Tolong jawab pertanyaan ini!
Hal itu bahkan diakui oleh Saksi-Saksi Yehuwa yang begitu fanatik dengan
penggunaan nama YAHWEH.
Mohon maaf, bapak jangan mengkait2kan ini dengan saksi
Yehuwa, sebab saksi Yehuwa itu MASIH pakai Allah seperti org yg belum menerima
Yahweh sebagai Tuhannya para nabi. Jadi diskusi kita ini TIDAK ADA KAITANNYA
dengan saksi Yehuwa. Jadi jangan melebar. Saya bukan saksi Yehuwa, jadi saya tdk
teropini dgn bapak mengkaitkan dgn saksi Yehuwa. Mohon bapak jangan mengalihkan
substansi pembicaraan!
Tanggapan Budi Asali:
Anda memang selalu menyimpulkan secara bodoh, krn itu tak heran bisa punya
pandangan seburuk itu. Yg mengkaitkan anda dg SSY itu siapa? Saya hanya
mengatakan bahwa mrk yg begitu fanatik dg nama YHWH, tetap mengakui tak ada yg
tahu bgm ucapkan nama itu.
Saya juga tak mengalihkan substansi pembicaraan. Anda dr tadi spt itu!
Saksi-Saksi Yehuwa:
· “orang-orang modern menyusun nama Yehuwa, yang tidak dikenal oleh semua orang pada jaman dulu, orang Yahudi ataupun orang Kristen; karena ucapan yang benar dari nama itu, yang ada dalam naskah Ibrani, karena sudah lama tidak digunakan, kini tidak diketahui lagi” - ‘Bertukar Pikiran mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 420.
· “Bentuk manakah dari nama ilahi yang benar - Yehuwa atau Yahweh? Tidak seorang pun dewasa ini dapat merasa pasti bagaimana nama itu mula-mula diucapkan dalam bahasa Ibrani. Mengapa tidak? Bahasa Ibrani dari Alkitab pada mulanya ditulis dengan huruf mati saja, tanpa huruf hidup. Ketika bahasa itu digunakan sehari-hari, para pembaca dengan mudah menyisipkan huruf-huruf hidup yang tepat. Tetapi, lambat laun, orang Yahudi mempunyai gagasan takhyul bahwa adalah salah untuk mengucapkan nama pribadi Allah dengan keras, jadi mereka menggunakan ungkapan-ungkapan pengganti. ... Jadi ucapan yang semula dari nama ilahi sama sekali tidak diketahui lagi” - ‘Bertukar Pikiran mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 423,424.
b. Penulis Kitab 1 Tawarikh seperti
Yeshayahu/Yesaya, Ezra, Natan dan lain-lain menghendaki Nama Yahweh dipanggil. 1
Tawarikh 16: 8.
wytlyl[ ~ym[b w[ydwh wmvb warq hwhyl wdwh
Hodu laYahweh qir’u vish’mo
hodiau vaamim a’lilotaiw
Artinya: “Bersyukurlah kepada Yahweh,
panggillah namaNya, perkenalkan lah perbuatanNya di antara bangsa-bangsa.”
Tanggapan Budi Asali:
Kata ‘nama’ sering bukan menunjuk pada nama pribadi / personal name,
tetapi kepada diri orang itu.
Misalnya dalam ayat-ayat di bawah ini, jelas bahwa kata ‘nama’ menunjuk
kepada orang yang mempunyai nama itu.
Maz 20:2
- “Kiranya TUHAN menjawab engkau pada waktu kesesakan! Kiranya nama
Allah Yakub membentengi engkau!”.
NASB: ‘May
the LORD answer you in the day of trouble! May the name of the God of Jacob
set you securely on high!’ (= Kiranya TUHAN menjawab engkau pada hari kesukaran! Kiranya
nama Allah Yakub meletakkan engkau dengan aman di tempat tinggi!).
Amsal 18:10
- “Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar
berlari dan ia menjadi selamat”.
Mungkinkah nama pribadi menjadi benteng / menara yang kuat? Jelas yang
dimaksud adalah YAHWEHnya sendiri, bukan hanya namanya.
Tanggapan saya :
Mazmur 20: 2 Yaan’kha Yahweh be’yom tsara
ye’saggev’kha shem elohei Ya’aqov. – Biarlah Yahweh menjawab engkau saat
kesulitan. Engkau dibentengi nama elohimnya / Tuhannya Ya’aqov.
Amsal 18: 10 Mig’dal-oz shem Yahweh bo-yaruts tsaddiq
we’nis’gav - Nama Yahweh itu menara yang kuat, orang benar berlari kesana
dan selamat.
Ya jelas yg dimaksud disini Yahweh nya sendiri donk
pak!. Bukan namanya! Lalu kenapa? Khan bapak sdh mengerti! Lalu kenapa kalau
bapak sdh mengerti bahwa pribadi Yahweh itu menara yg kuat dsb tdk bapak
agungkan, tetapi mengagungkan nama sesembahan lain yang bukan Tuhan?
Tanggapan Budi Asali:
Lagi2 anda tak mengerti point kata2 saya. Bukankah ayat2 itu bicara soal
‘nama’? Tetapi yg dimaksud dg ‘nama’ itu adalah pemilik nama itu. Ini
saya hubungkan dg ayat yg anda pakai di atas (1Taw 16:8), dan krn itu
tafsirannya menjadi: memanggil nama tak berarti hrs menggunakan nama YHWH itu,
tetapi hrs memanggil / berdoa kpd pemilik dr nama itu! Masih nggak ngerti?
c. Dilarang menyebut NamaNya dengan sembarangan,
apalagi mengganti nama Nya dengan sembarangan. Keluaran 20: 7
al yK awvl
^yhla hwhy-~v-ta aft al
awvl wmv-ta afy-rva ta hwhy hqny
Lo tisa et-shem-Yahweh e’loheikha
lashawe ki lo y’naqe Yahweh et
a’sher-yisa et-sh’mo lashawe
Artinya: “Jangan menyebut nama Yahweh Tuhanmu
dengan sembarangan, sebab Yahweh akan memandang bersalah orang yang menyebut
namaNya dengan sembarangan.”
Tanggapan Budi Asali:
Ayat ini melarang penyebutan namaNya secara sembarangan, tanpa ada gunanya.
Jadi, melarang kita menggunakannya misalnya untuk suatu lelucon yang tak ada
gunanya. Ini tidak mengharuskan penggunaan nama itu. Mengganti nama bukanlah
penekanan ayat ini sama sekali. Disamping, seperti sudah saya katakan,
Perjanjian Baru mengubah YAHWEH menjadi KURIOS. Saya hanya ingin tanya: anda
berani menyalahkan Perjanjian Baru?
Tanggapan Yakub :
Jadi bapak menganggap kata “JANGAN” disini tidak
mengharuskan! Lalu kata apa yg tepat bagi bapak untuk mengharuskan? Kalau begitu
berarti kalau ada kalimat “Jangan mencuri” berarti kitapun tdk perlu
menekankan pada kata “Jangan”?
Waaah... waaah... waaah... bagaimana bapak ini?!.
Sekali lagi saya katakan, kalau terjemahan dalam PB,
saya berani mengatakan ada ayat2 yang salah! Kenapa tidak? Di atas sdh saya beri
contohnya! Apakah bapak pikir semua yg sdh diterjemahkan LAI tdk bisa salah? Nah
LAI sendiri sdh merevisi kitabnya berkali2. Pertanyaan saya kenapa direvisi? Itu
khan krn ada kekeliruan!
Tanggapan Budi Asali:
Anda memang tolol. Jangan pisahkan kata ‘jangan’ dg
kata2 ‘dg sembarangan’. Yg dilarang adalah menyebut dg sembarangan.
Sembarangan dlm arti apa? Dlm arti kalau itu tak ada gunanya, tak membangun iman
orang, tak memuliakan Allah, dsb. Ini tak mencakup kalau kita mengubahnya
menjadi TUHAN, krn itu diberi otoritas oleh PB.
Siapa yg bilang terjemahan PB tak bisa salah? Yg tak
bisa salah hanya autograph. Manuscript, yg masih dlm bahasa aslipun, bisa salah.
Siapa yg bilang LAI tak bisa salah? Dlm khotbah saya sering menunjukkan
kesalahan LAI!
Yg saya maksudkan dg bpertanyaan ‘anda berani
menyalahkan PB’ hrs diartikan dlm kontext pembicaraan kita, yaitu berkenaan dg
perubahan YHWH menjadi KURIOS. Itu pasti tidak salah. Anda berani salahkan itu,
itu berarti anda salahkan FT!
d. Dilarang menyebut nama sesembahan lain. Keluaran 23: 13
~yhla ~vw wrmvt ~kyla
ytrma-rva lkbw
^yp-l[ [mvy al wryKzt al
~yrxa
Uv’kol a’sher-amar’ti a’leikem tishameru we’shem
e’lohim a’kherim
lo taz’kiru lo yishama al-pikha
Artinya: “Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu
berawas-awas; nama tuhan lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu
kedengaran dari mulutmu.”
Tanggapan Budi Asali:
Memanggil di sini harus diartikan berdoa, atau menyembahnya. Kalau hanya
menyebut, tanpa menghormati, berdoa kepadanya, menyembahnya, pasti tidak salah.
Bandingkan dengan:
Tanggapan Yakub :
Apakah kalau bapak menyembah allah itu bapak anggap
tidak bersalah di hadapan Tuhan?. Jelas2 allah itu NAMA DIRI. Saya kira kalimat
diatas sangat jelas, tetapi koq bapak masih belum mampu menerjemahkannya dgn
baik!. Anak kecil saja mengerti artinya!
Tanggapan Budi Asali:
Kembali pd pembicaraan di atas. Anda kira apa tujuan
saya di atas membuktikan bahwa kata ‘nama’ sering bukan menunjuk pd nama
pribadi, tetapi kpd orangnya? Dlm ayat ini juga hrs diartikian demikian. Nama
Allah lain (bukan Tuhan lain, sejak kapan ELOHIM artinya Tuhan? Kalau ELOHIM
artinya Tuhan, tabrakan dg ADONAY, lalu apa bedanya?) maksudnya diri dr Allah
lain itu, misalnya Baal, Dagon dsb.
Saya bilang kalau menyembah salah, kalau cuma menyebut tidak. Kita tak boleh
extrim dlm menafsirkan kata2 ‘jgn nama itu kedengaran dr mulutmu’. Kalau
saya berkata ‘Baal itu dewa / allah palsu, ia tidak bisa berbuat apa2’. Maka
kata ‘Baal’ itu kedengaran dr mulut saya, tetapi saya tidak menyembahnya
atau berdoa kepadanya atau memuji dia. Sebaliknya saya mengecam dia. Salahkah
saya?
Anak kecil yg mana, dan dg pengertian yg bgm? Kalau dg pengertian yg sama
spt tafsiran anda, he he, itu anak tolol!
Nu 25:5 Lalu
berkatalah Musa kepada hakim-hakim Israel: "Baiklah masing-masing kamu
membunuh orang-orangnya yang telah berpasangan dengan Baal-Peor."
Jud 6:31 Tetapi jawab
Yoas kepada semua orang yang mengerumuninya itu: "Kamu mau berjuang membela
Baal?
Atau kamu mau menolong dia? Siapa yang berjuang membela Baal akan dihukum mati sebelum pagi. Jika Baal
itu allah, biarlah ia berjuang membela dirinya sendiri, setelah mezbahnya
dirobohkan orang."
1Ki 18:18 Jawab Elia
kepadanya: "Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan
kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan
engkau ini telah mengikuti para Baal.
1Ki 18:19
Sebab itu, suruhlah mengumpulkan seluruh Israel ke gunung Karmel, juga
nabi-nabi Baal
yang empat ratus lima puluh orang itu dan nabi-nabi Asyera yang empat ratus itu,
yang mendapat makan dari meja istana Izebel."
1Ki 18:21
Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: "Berapa lama
lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah
Dia, dan kalau Baal,
ikutilah dia." Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun.
Anda mau mengatakan orang-orang ini salah semua karena sekedar menyebutkan
nama dewa padahal mereka sama sekali tak berdoa kepadanya, menyembahnya, dsb?
Kalau bapak memuji dgn pujian ALLAH DITINGGIKAN DGN
SORAK SORAI, apakah bapak pikir itu YAHWEH yg ditinggikan dg sorak sorai?
Astaga....
Tanggapan Budi Asali:
Tentu saja. Anda tak percaya? Astaga …
e. Tidak ada satu kuasa apapun atau institusi sinode
gereja manapun di dunia ini yang lebih berkuasa dari Yahweh sang pemilik Nama
tersebut untuk mengubah, mengganti namaNya dengan sembarangan dengan dalih sudah
terjadi ratusan tahun lamanya, khususnya di Indonesia.
Sekitar tahun 1960 an, Pemerintah Indonesia pernah memerintahkan kepada
warga negara Indonesia keturunan Tionghoa untuk mengganti nama, dan semua WNI
keturunan Tionghoa yang berdomisili di wilayah Indonesia mau tidak mau dan bisa
tidak bisa harus mengganti nama mereka. Hasilnya berubahlah nama asli yang
diberikan oleh orang tua menjadi “nama Indonesia”. Hal itu bisa terjadi
karena Pemerintah Indonesia memiliki kuasa yang melebihi si pemilik nama
tersebut.
Untuk Nama Tuhan, siapakah yang lebih berkuasa dari
Tuhan itu sendiri, yang justru menghendaki namaNya disebut / dipanggil dan
diserukan sampai selama-lamanya?.
Tanggapan Budi Asali:
Ya, saya setuju YAHWEH yang paling berkuasa. Dan Dia juga yang mengilhami penulis-penulis Perjanjian Baru sehingga
mereka mengubah nama YAHWEH dengan sebutan KURIOS. Jadi itu otoritas saya untuk
mempertahankan hal itu!
Tanggapan Yakub :
Nah puji Tuhan kalau bapak sdh memberikan statement
bahwa YAHWEH itu paling berkuasa. Namun kalau mengubah nama diri dengan sebutan
itu karena huruf Yunani tdk mengenal huruf YHW jadi jelas tdk mungkin utk
menulisnya. Namun dlm Septuaginta abad 1 nama Yahweh masih di tulis dgn huruf
PALEO HEBREW.
Bapak katakan “Dia juga mengilhami penulis-penulis
Perjanjian Baru sehingga mengubah nama YAHWEH dengan sebutan KURIOS”, tolong
bapak tunjukkan ayatnya kalau pengubahan itu karena ilham Yahweh? Pengilhaman
itu utk penulisan dlm bhs Hebrew bukan dlm bhs Yunani pak. Kalau utk penulisan
Yunani, berarti ilham itu tdk cocok dgn firmanNya sendiri yg melarang mengubah
namaNya donk! Diubah itu krn keterbatasan pemikiran manusia pak!
Tanggapan Budi Asali:
Anda memang ‘an ignorant person’. Terus terang IQ anda sgt rendah,
tetapi keminter, makanya theologianya jadi kacau.
Bukankah PB ditulis oleh penulis2nya dg pengilhaman dr Roh Kudus? Anda
percaya ini atau tidak? Baca 2Pet 1:20-21. Jg 2Tim 3:16 – All Scripture is
inspired by God.
Dan dlm PB itu YHWH diubah jadi KURIOS. Itu dasar saya mengatakan!
Anda berkata ilham itu hanya butk bahasa Ibrani? Bukan Yunani? Sekarang
tolong beri ayatnya, jgn asal ngomong!
Lukas adalah orang Yunani, bukan Yahudi. Lalu bgm dia
bisa menulis Injil Lukas dan Kisah Rasul dlm bahasa Ibrani? Dia pasti menulis
dlm bahasa Yunani. Dia diilhami atau tidak?
10.
Pertanyaan umum seputar nama Yahweh dan jawaban singkat.
a. Apa sih artinya sebuah nama?.
Nama Diri sangat penting dan tidak bisa dilepaskan
dengan pribadi si penyandang nama tersebut, itulah sebabnya tidak ada satu
manusia di duniapun yang tidak mempunyai nama, itu membuktikan bahwa nama diri
merupakan sesuatu yang sangat penting, buktinya saat ini binatang juga banyak
yang diberi nama.
b. Tuhan tahu isi hati, yang penting hati saya
kepada Tuhan.
Isi hati manusia seharusnya sama dengan apa yang
diucapkannya.
Mattithyahu/Matius 14: 34B “yang diucapkan mulut
meluap dari hati.”
Roma 10: 10B “dengan mulut orang mengaku dan
diselamatkan.”
Untuk itu janganlah mendirikan kebenaran sendiri
seperti kata Roma 10: 1-3.
c. Bukankah selama ini tidak ada masalah?
Tidak masalah bagi Anda, namun bermasalah bagi Tuhan
sebab Tuhan tidak menghendaki namaNya disebut dengan sembarangan. Umat Nasrani
di Indonesia sudah waktunya harus kembali ke Firman Tuhan yang diyakininya,
kalau pun kesalahan itu sudah terjadi ratusan tahun di Indonesia, bukan berarti
Tuhan mengijinkan, karena firman Tuhan sudah menulis “Jangan menyebut NamaNya
dengan sembarangan” (Keluaran 20: 7) apalagi mengganti dengan sembarangan.
Apakah kalau mencuri tidak ketahuan sehingga tidak ditangkap polisi dan tidak
dipenjarakan, berarti Tuhan mengijinkan? Bukankah sudah ada firman Tuhan yang
mengatakan “Jangan mencuri” (Keluaran 20: 15).
Tanggapan Budi Asali:
Tiga point di atas ini sama sekali tak perlu saya tanggapi, karena bukan
merupakan argumentasi saya.
Tanggapan Yakub :
Mungkin bapak tdk menganggap itu argumentasi bapak,
tetapi masih sangat terkait dgn pembahasan kita, shrsnya bapak tanggapi donk!.
Bukankah yg sering saya dengar mengatakan yg penting HATI. Saya yakin bapak
pernah mendengar org mengatakan demikian, nah lalu kalau bapak tdk bersedia
menanggapi masalah ini, bagaimana kalau ada org yg mengatakan YANG PENTING HATI
SAYA, DAN TUHAN TAHU HATI SAYA. Apa jawab bapak? Apakah bapak akan berdiam
seribu bahasa saja?.
Tanggapan Budi Asali:
Saya tak berpendapat bahwa cukup hatinya benar. Pemikiran jg hrs benar. Tapi
anda salah dlm pemikiran / pengertian.
d. Orang Yahudi saja tidak menyebut Yahweh.
Orang Yahudi tidak menyebut Nama Yahweh, bukan
berarti tidak mengenal Nama Yahweh, melainkan menguduskannya sehingga setiap ada
huruf Ibrani Yod He Waw He yang seharusnya dibaca Yahweh, mereka baca Adonai
yang berasal dari kata Adon yang berarti Tuan. Kalau mereka tidak tahu Nama
Yahweh, seharusnya yang dibaca Adonai adalah dari huruf Ibrani Alep Daled Nun
dan Yod bukan Yod He Waw He. Apa yang dilakukan orang Yahudi tersebut sebenarnya
tidak sesuai dengan isi hati Tuhan Yahweh yang menghendaki
namaNya disebut,
dipanggil dan diserukan
(Keluaran 3: 15, 1 Tawarikh 16: 7-8, Yeshayahu / Yesaya 12: 4 dan lain-lain).
Apabila yang dijadikan contoh orang Yahudi, kenapa orang Yahudi menolak Yeshua /
Yesus tidak diikuti juga?.
Tanggapan Budi Asali:
Anda mengatakan ‘seharusnya dibaca YAHWEH’. Anda tahu dari mana?
Saya tak meniru Yahudi. Mereka bereaksi secara berlebihan terhadap hukum ke
3 sehingga tak berani menyebut nama YAHWEH sama sekali. Saya berani menyebut,
selama bukan dengan sembarangan / sia-sia. Tetapi tetap tdak ada keharusan
menyebut / menggunakan nama itu!
Kata ‘berseru’, ‘panggil’ tidak berarti sekedar menggunakan nama
itu. Tetapi harus berdoa / menyembah pemilik nama itu. Bagaimana anda
menafsirkan Ro 10:13 - “Sebab, barangsiapa yang berseru
kepada nama Tuhan, akan diselamatkan”?
Tanggapan Yakub :
Huruf Yod He waw He dibaca Yahweh (huruf H dibelakang
tdk kedengeran) jadi kalau ditulis bunyinya akan tertulisnya YAHWE, tentu saya
tahu dr belajar bhs Ibrani donk pak!. Coba deh bapak belajar secara serius,
bukan dr org2 yg antisemit melainkan dr sudut ilmiah! Ada banyak CD2 pelajaran
Ibrani di internet.
Yaaah... puji Tuhan kalau bapak berani menyebut nama
Yahweh krn memang Yahweh ingin namaNya disebut, ada banyak ayat2 yg merujuk hal
ini.
Roma 10: 13 tdk perlu ditafsirkan pak, dlm kitab
Haverit Hakadasha yg menurut bapak “terjemahan dr Yunani” saja menulis nama
Yahweh krn jika dibaca bunyinya : Wehaya kol asher-yiq’ra be’shem Yahweh
yimaleth – Barang siapa berseru dalam nama Yahweh akan diselamatkan!.
So pasti dgn saya mengerti nama Tuhan saya yg juga sama
dgn yg disembah oleh para nabi, saya akan makin mantap menyembah, mengagungkan
dan meninggikan DIA bukan meninggikan allah.
Tanggapan Budi Asali:
Saya tidak tanyakan huruf matinya, tetapi huruf hidupnya. Dlm buku pelajaran
Ibrani mana diajarkan mengucapkan huruf hidup yg tidak ada? Anda belajar dr buku
pelajaran Ibrani atau dr tukang sulap?
e. Dalam Perjanjian Baru tidak ada Nama Yahweh.
Karena Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan Nama
Yahweh dalam Perjanjian Lama dengan “TUHAN” dan “ALLAH” dalam huruf
kapital semua dan dalam kamus Alkitab dibagian belakang ditulis TUHAN adalah
salinan dari nama Allah Israel yaitu Yahweh (bd. Keluaran 3: 14), maka orang
berpikir Nama Yahweh tidak ada dalam Perjanjian Baru karena dalam Perjanjian
Baru tidak ada kata “TUHAN” dalam huruf kapital semua. Dalam kamus tersebut
juga kurang tepat, sebab “Nama diri” tidak bisa disalin-salin, apalagi yang
dijadikan referensi Keluaran 3: 14 yang mengacu kepada kalimat “Aku adalah
Aku” sehingga orang menganggap bahwa Tuhan itu tidak punya nama. Seharusnya
yang dijadikan pembanding adalah Kitab Keluaran 3: 15 atau Yeshayahu/Yesaya 42:
8 dan sebagainya.
Jika dilihat dalam bahasa asli Kitab Suci umat
Nasrani yang berbahasa Ibrani, ternyata Nama Yahweh dalam Perjanjian Baru
diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia dengan “Tuhan” atau
“Allah”.
Contoh : Roma 10: 13 dan Kisah Rasul 2: 21
jlMy hwhy ~vB arqy-rva lK hyhw
Wehaya
kol asher-yiqra be'shem Yahweh yimaleth
(Barang
siapa berseru dalam nama YAHWEH akan diselamatkan)
Lembaga Alkitab Indonesia mengakui identik dengan Yoel 2: 32 ( Lihat di Foot
Note ) yaitu dalam Nama Yahweh, namun sayangnya nama Yahweh diterjemahkan dengan
“Tuhan”
Contoh : Kisah Rasul 7: 33
yK ^ylgr l[m ^yl[n lv hwhy
wyla rmayw
awh vdq-tmda wyl[ rmw[
hta rva ~wqmh
Wayomer elaiw Yahweh shal n’aleikha meal rag’leikha ki
hamaqom
a’sher atta omer alaiw ad’mat-qodesh hu
(Firman Yahweh kepadanya: Tanggalkan kasutmu dari kakimu,
sebab tempat di mana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus.)
Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan Nama Yahweh menjadi “Allah”.
Nama Yahweh sebenarnya banyak tersebar dalam Kitab
Perjanjian Baru, tanpa disadari juga umat Nasrani sebenarnya sudah memuliakan
Nama Yahweh, namun karena tidak dikenal dan tidak mengerti bahasa Ibrani,
sehingga mengucapkan namun tidak tahu maknanya, malah menolak nama Yahweh dan
dianggapnya sesat.
Tanggapan Budi Asali:
Anda punya gelar S. Th. dan M. A. Dapat dari sekolah mana? Sekolah itu
mengajar anda seperti itu, sehingga berani mengatakan bahwa dalam Perjanjian
Baru ada nama YAHWEH? Atau anda dapat dari Saksi-Saksi Yehuwa?
Tanggapan Yakub :
Bapak tdk perlu tanya saya dpt gelar dimana krn saya
tdk membanggakan gelar, saya tulis krn kalau tdk ada gelar dianggaptdk
berpendidikan koq ngomong, yg jelas saya bukan sekolah karbitan yg cuma bikin
paper 1 bulan bergelar STh dan bikin paper lagi bergelar MA. Saya bener2 sekolah
Alkitab bertahun2 pak!. Kalau bapak menuntut saya salah krn mengatakan
Perjanjian Baru ada nama Yahweh, bapak perlu banyak mencari literatur dr luar
negeri pak! Coba bapak titip temen yg ke Israel! Ada banyak kitab2 PB dlm bhs
Ibrani dijual disana dan sdh barang tentu ada banyak nama Yahweh ditulis dlm PB.
Maaf pak, bapak jangan mengkait-kaitkan saya dgn saksi Yehuwa!. Saksi Yehuwa itu
tdk menerima Yeshua sbg Tuhan lho pak dan saya tdk mendapat Kitab dr Saksi
Yehuwa, kalaupun dapat juga terjemahannya masih kacau krn amsih pakai allah
juga!. Jangan terlalu picik berpandangan kalau menyebut Yahweh berarti punya
kaitan dgn saksi Yehuwa!. Itu bapak sdh apriori! Saya juga bukan mendapatkan dr
saksi Yehuwa, justru saksi Yehuwa MASIH PAKAI ALLAH dlm kitabnya. Sama seperti
bapak!. Namun perlu saya informasikan bahwa pemimpin saksi Yehuwa kab. Semarang
sdh mengakui bahwa Yeshua itu bukan sekedar penghulu malaikat tetapi Tuhan dan
Juru selamat, Dia itu Yahweh sendiri yg turun ke dunia, bukan allah yg turun ke
dunia krn allah itu bukan dr sorga.
Tanggapan Budi Asali:
Mengapa takut sebutkan nama sekolahnya? Saya betul2 ingin tahu sekolah gila
mana yg ajar PB bahasa aslinya Ibrani!
Belajar lama, bertahun2, tak menjamin apapun. Tergantung siapa yg mengajar.
Kalau sekolah anda brengsek, dan dosen2nya brengsek, makin lama anda sekolah
disana, makin mendarah daging kesesatan anda!
Anda selalu berargumentasi secara konyol. Kalau menuruti cara argumentasi
anda, saya bisa mengatakan bahwa PL ditulis dg bahasa asli Yunani. Tak percaya?
Dtg ke rumah saya, akan saya tunjukkan PL saya yg pake Yunani. Masih tak
percaya? Silahkan pergi ke Yunani, dan cari KS disana, seluruhnya dlm Yunani!
Masih tak melihat ketololan argumentasi anda?
Di sini saya memang curiga anda dpt dr SSY, krn mrk juga mengatakan hal yg
sama, bahwa dlm PB ada kata YHWH. Saya tahu krn sgt mendalami ajaran mrk, dan
bahkan menulis buku ttg mrk. Jadi, anda tak mendapat dr mrk, dan hanya krn
kebetulan saja mendapatkan pemikiran yg sama gilanya / sesatnya?
Saya kutip ulang apa yang sudah saya kutip di atas.
Walter
Martin: “It can be shown from literally
thousands of copies of the Greek New Testament that not once does the
tetragrammaton appear, not even in Matthew, possibly written in Hebrew or
Aramaic originally, and therefore more prone than all the rest to have traces of
the divine name in it, yet it does not! Beyond this, the roll of papyrus (LXX)
which contains the latter part of Deuteronomy and the divine name only proves
that one copy did have the divine name (YHWH), whereas all other existing copies
use kyrios and theos,
which the Witnesses claim are ‘substitutes.’ ... the Septuagint with minor
exeptions always uses kyrios and theos in place of the tetragrammaton, and the New Testament
never uses it at all” [= Bisa ditunjukkan dari
ribuan naskah dari Perjanjian Baru berbahasa Yunani bahwa tidak
sekalipun tetragrammaton (= 4 huruf / YHWH) muncul, bahkan
tidak dalam Matius, yang naskah aslinya mungkin ditulis dalam bahasa Ibrani atau
Aram, dan karena itu lebih condong daripada semua sisanya untuk mempunyai jejak
dari nama ilahi di dalamnya, tetapi ternyata tidak ada! Di luar ini, gulungan
papirus (LXX) yang mempunyai bagian terakhir dari kitab Ulangan dan nama ilahi
itu hanya membuktikan bahwa satu copy / naskah memang mempunyai nama ilahi
(YHWH), sedangkan semua naskah lain yang ada menggunakan KURIOS dan THEOS, yang
oleh Saksi-Saksi Yehuwa diclaim sebagai ‘pengganti-pengganti’. ...
Septuaginta dengan perkecualian yang sangat sedikit selalu menggunakan KURIOS
dan THEOS di tempat dari tetragrammaton, dan Perjanjian
Baru tidak pernah menggunakannya sama sekali] - ‘The Kingdom of
the Cults’, hal 74.
Walter Martin: “Relative to the nineteen ‘sources’ the Watchtower uses (pp. 30-33) for restoring the tetragrammaton to the New Testament, it should be noted that they are all translations from Greek (which uses kyrios and theos, not the tetragrammaton) back into Hebrew, the earliest of which is A.D. 1385, and therefore they are of no value as evidence” [= Berhubungan dengan 19 ‘sumber’ yang digunakan Menara Pengawal (hal 30-33) untuk mengembalikan tetragrammaton kepada Perjanjian Baru, harus diperhatikan bahwa semua itu adalah terjemahan dari bahasa Yunani (yang menggunakan KURIOS dan THEOS, bukan tetragrammaton) kembali ke dalam bahasa Ibrani, dan yang paling awal adalah pada tahun 1385, dan karena itu semua itu tidak mempunyai nilai sebagai bukti] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 74.
Tanggapan Yakub :
Ya jelas kalau bapak mengacunya dr bhs Yunani mana ada
YHWH? Saya sdh tulis di atas bahwa huruf Yunani itu tdk mengenal abjad YHW.
Bapak mengambilnya referensi tidak akurat!. Bagaimana mungkin kitab
Matius yg berbahasa Ibrani dan Aramaic tdk menulis YHWH.... saya punya kitabnya
pak! Memang di Indonesia mungkin hanya beberapa org saja yg memilikinya. Silakan
bapak mampir ke rumah, nanti saya tunjukkan kitabnya! Saya tdk berani berbicara
kalau tdk melihat buktinya! Kalau bapak selalu mengacunya ke Yunani dan meyakini
bhs Yunani merupakan bahasa asli Kitab Suci, berarti bapak percaya bahwa
pengajaran bisa datang dr bangsa kafir? Padahal firman Tuhan mengatakan bahwa
pengajaran datang dr Sion.
Tanggapan Budi
Asali:
Anda bilang anda
punya kitabnya. Kalau kitab, sudah jelas keluaran jaman modern. Para penafsir yg
mengatakan PB bahasa aslinya Yunani itu bahkan punya manuscriptnya, yg masih dlm
bentuk gulungan, bukan berbentuk kitab. Buku Injil Matius anda itu tak ada
nilainya sbg barang bukti!
Ttg Sion sudah saya
bahas di atas, tak usah diulang di sini.
Contoh : Kata “Haleluyah”, bukankah kata ini
sering disebut oleh semua umat Nasrani? Namun pemahaman kata “Haleluyah”
selama ini berarti Pujilah Tuhan, malah ada yang mengatakan bahwa Haleluyah itu
bahasa sorga yang tidak berarti. Padahal “Haleluyah” itu artinya Pujilah Yah
(kependekan dari Yahweh)
Tanggapan Budi Asali:
Tahu dari mana kalau Yah itu kependekan dari YAHWEH? Hanya menebak bukan?
Bukankah bisa dari YAHWUH? Atau YAHWIH? Bahkan YAH itu dari mana anda tahu
membacanya memang YAH? Apa bukan YIH, atau YUH, atau YEH? Ingat, bahasa Ibrani
tak punya huruf hidup!
Tanggapan Yakub :
Bapak beli aja buku Ensiklopedia yg saya tulis dibawah
ini, bapak akan menemukan kalau Yah itu kependekan dr Yahweh dan memang dlm
kitab Hebrew sering nama Yahweh hanya disebut dgn Yah. Apakah profesor2 yg
menulis buku Ensiklopedia di bawah ini bodoh dibandingkan dgn bapak shg bapak
dgn mudahnya menyalahkan? Boleh2 saja sih bapak menyalahkan seorg profesor
sekalipun, tetapi bapak hrs dpt mengungkapkan argumentasi yg benar donk pak!.
Bukan kira2 begitu.
Tanggapan Budi Asali:
Memang ada kemungkinan Yah itu kependekan YAHWEH,
tetapi saya katakan tak pasti krn apa? Krn ada nama2 spt Yehoram, Yehosua, dsb.
Yeho, itu kependekan YEHOVAH. Lalu yg benar YEHOVAH atau YAHWEH?
Jgn asal ngomong ensiklopedi, tapi tak mau kutip di
sini. Anda orang yg nggak niat dan nggak punya semangat dlm ‘memulihkan nama
Yahweh’!!!
Hal
tersebut juga tertulis di dalam Buku Ensiklopedia Alkitab Masa Kini jilid 1
(A-L) oleh Yayasan Komunikasi Bina Kasih / OMF halaman 359 sbb. : Sebutan
liturgis, disalin dari kata Ibrani Hallelu-yah, Pujilah Yah, kependekan
dari Yahweh, muncul 24 kali dalam Mazmur. .... dst. Untuk PB baca Wahyu 19: 1,
3, 4, 6.
Tanggapan Budi Asali:
Dalam Yunani diyunanikan menjadi ALLELOUIA.
Tanggapan Yakub :
Berkali-kali saya katakan bahwa hal itu krn huruf
Yunani tdk mengenal abjad YHW !.
Tanggapan Budi Asali:
Saya tahu, tetapi itu menunjukkan bahwa kalau YAHWEH
tak hrs diganti KURIOS, bisa diyunanikan. Tapi penulis PB mengubah jadi KURIOS.
Haleluyah itu dalam bahasa Ibrani ditulis dengan
huruf He Lamed Lamed Waw Yod He (HLLWYH) sebagai berikut :
Hywllh
- Haleluyah dari kata wllh - Halelu dan
hy-
Yah
Selain itu karena bahasa asli penulisan Kitab
Perjanjian Baru dianggap menggunakan bahasa Yunani, karena huruf Yunani tidak
mengenal huruf YHW maka diterjemahkan menjadi Kurios dan Theos. Padahal
bahasa Asli Kitab Perjanjian Baru adalah Ibrani. Buktinya Silsilah Tuhan
Yeshua di Mattithayu 1: 1-17 nama Avner tidak tertulis dalam ayat 13 seperti di
Kitab DuTillet Hebrew sehingga jumlahnya 13 generasi, tidak seperti di ayat 17.
Tanggapan Budi Asali:
Betul-betul hebat, Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani!!!! Lagi-lagi
anda belajar dari sekolah mana? ‘Bukti’ yang anda berikan tidak bisa saya
mengerti. Itu omongan apa? Bisa berikan bukti naskah Perjanjian Baru dalam
bahasa Ibrani? Atau berikan penafsir / Ahli theologia / encyclopedia /
dictionary yang cukup punya nama yang mengatakan demikian?
Tanggapan Yakub :
Bapak shrsnya kalau diskusi jangan emosi! Bapak perlu
banyak membaca buku dan referensi yg akurat, jangan hanya mengajarkan tradisi
turun-temurun dan filsafat yg kosong (Kolose 2: 8)
Bukti saya sangat jelas tetapi tdk bisa dimengerti oleh
bapak yg bertitel MDIV? Anak SD juga bisa koq pak. Coba donk baca Kitab Matius
yg saya sodorkan di atas lalu dihitung jumlah nama yg ada seperti yg saya tulis
dlm statement di atas! Apakah benar jumlahnya 14 ? Kalau kenyataannya Cuma 13
lalu yg satu dikemanakan? Ini khan sangat jelas pak? Koq bapak mengatakan
omongan apa! Oke lah... kalau bapak mengatakan ini omongan apa, sekarang jawab
pertanyaan saya. Ada kekurangan satu nama disitu apa jawaban bapak? Saya tunggu
jawaban bapak ya !
Tanggapan Budi Asali:
Hehehe. Siapa yg emosi? kalau emosi saya akan akui emosi, tetapi di sini
tidak. Hanya heran, bgm org bisa begitu ignorant sementara punya 2 gelar
theologia! Makanya saya tanya sekolah anda.
Ttg 13 dan 14 sudah saya jawab di atas. Anda memang tak becus argumentasi.
Sama sekali tidak ada kekuatan dlm argumentasi anda. Perlu anda ketahui, ini
bukan utk sombongkan diri lho, saya sudah debat ratusan kali, selama puluhan
tahun dg orang dr segala macam agama dan aliran. Saya bisa bedakan mana yg
argumentasinya kuat dan mana yg tidak. Saksi Yehuwa, sekalipun sesat, jauh lebih
bagus dlm argumentasi dr anda.
Saya kutipkan dari Nelson’s Bible Dictionary, dengan topik
‘languages of the Bible’:
LANGUAGES OF THE BIBLE
The
languages in which the Bible was originally written. The most famous of these
are Hebrew, the original language of the Old Testament, and Greek, used in
the writing of most of the New Testament. But several other ancient
languages also had an important bearing on the writing or transmission of the
original texts of the Bible.
(from Nelson's Illustrated Bible Dictionary)
(Copyright (C) 1986, Thomas Nelson Publishers)
Saya kutipkan juga dari International Standard Bible Encyclopedia,
dengan topik ‘language of the New Testament’:
LANGUAGE OF THE NEW TESTAMENT
(lan'-gwaj)
(Greek). See ARAMAIC LANGUAGE also:
-------------------
I.
THE VERNACULAR KOINE THE LANGUAGE OF THE NEW TESTAMENT
..
1. The Old Point of View
..
2. The Revolution
..
3. The Proof of the New Position
......
(1) The Papyri
......
(2) The Ostraka
......
(3) The Inscriptions
......
(4) Modern Greek
......
(5) Historical and Comparative Grammar
..
4. Characteristics of the Vernacular koine
II.
LITERARY ELEMENTS IN THE NEW TESTAMENT
III.
THE SEMITIC INFLUENCE
IV.
INDIVIDUAL PECULIARITIES OF THE NEW TESTAMENT WRITERS
V.
THE KOINE GREEK SPOKEN BY JESUS
LITERATURE
-------------------
I.
The Vernacular "koine" the Language of the New Testament.-- The ghost
of the old Purist controversy is now laid to rest for good and all. The story of
that episode has interest chiefly for the historian of language and of the
vagaries of the human intellect.
1.
The Old Point of View: See Winer-Thayer, Grammar of the Idiom of the New
Testament, 1869, 12-19, and Schmiedel's Winer, sectopm 2, for a sketch of this
once furious strife. In the 17th century various scholars tried to prove that the
Greek of the New Testament was on a paragraph with the literary Attic of the
classic period. But the Hebraists won the victory over them and sought to show
that it was Hebraic Greek, a special variety, if not dialect, a Biblical
Greek The 4th edition of Cremer's Biblico-Theological Lexicon of New
Testament Greek (translated by W. Urwick, 1892) quotes, with approval, Rothe's
remark (Dogmatik, 1863, 238):
"We
may appropriately speak of a language of the Holy Ghost. For in the Bible it is
evident that the Holy Spirit has been at work, moulding for itself a
distinctively religious mode of expression out of the language of the country
which it has chosen as its sphere, and transforming the linguistic elements
which it found ready to hand, and even conceptions already existing, into a
shape and form appropriate to itself and all its own." Cremer adds:
"We have a very clear and striking proof of this in New Testament Greek."
This
was only twenty years ago and fairly represented the opinion of that day. Hatch
in 1889 (Essays in Biblical Greek, 34) held that with most of the New Testament
words the key lay in the Septuagint. But Winer (Winer-Thayer, 20) had long ago
seen that the vernacular koine was "the special foundation of the diction
of the New Testament," though he still admitted "a Jewish-Greek,
which native Greeks did not entirely understand" (p. 27). He did not
see the practical identity of New Testament Greek with the vernacular koine--
("common" Greek), nor did Schmiedel in the 8. Auflage of Winer (I.
Theil; II. Theil, erstes Heft, 1894-97). In the second edition of his Grammar of
New Testament Greek (English translation by Thackeray, 1905, 2), Blass sees the
dawn of the new day, though his book was first written before it came. Viteau
(Etude sur le grec du Nouveau Testament, I, Le verbe, 1893, II, Le sujet, 1896)
occupies wholly the old position of a Judaic Greek An extreme instance of that
view is seen in Guillemard's Hebraisms in the Greek Testament (1879).
2.
The Revolution: A turn toward the truth comes with H. A. A. Kennedy's Sources of
the New Testament Greek (1895). He finds the explanation of the vocabulary of
both the Septuagint and the New Testament to be the vernacular which he traces
back to Aristophanes. It is a good exercise to read Westcott's discussion of
the "Language of the New Testament" in Smith, Dictionary of the Bible,
III (1888), and then turn to Moulton, "Language of the New Testament,"
in the 1-vol Hastings, Dictionary of the Bible (five volumes). Westcott says:
"The chief peculiarities of the syntax of the New Testament lie in the
reproduction of Hebrew forms." Moulton remarks: "There is no reason to
believe that any New Testament writer who ever lived in Palestine learned Greek
only as a foreign language when he went abroad." Still better is it to read
Moulton, "New Testament Greek in the Light of Modern Discovery" in
Cambridge Biblical Essays (1909, 461-505); Deissmann, Light from the Ancient
East (1911); or Angus, "The koine, the Language of the New
Testament," Princeton Review, January, 1910, 42-92.
The
revolution has come to stay. It is now clear that the Greek of the New
Testament is not a jargon nor a patois. In all essential respects it is just
the vernacular koine of the 1st century AD, the lingua franca of the Greek-Roman
empire, the legacy of Alexander the Great's conquest of the East. This
world-speech was at bottom the late Attic vernacular with dialectical and
provincial influences. It was not a decaying tongue, but a virile speech
admirably adapted to the service of the many peoples of the time. The able
article in volume III of Hastings, Dictionary of the Bible (five volumes) on the
"Language of the New Testament" by Dr. J. H. Thayer appeared in 1900,
and illustrates how quickly an encyclopaedia article may become out of date.
There is a wealth of knowledge here displayed, as one would expect, but Thayer
still speaks of "this species of Greek," "this peculiar idiom,
.... Jewish Greek," though he sees that its basis is "the common or
spoken Greek." The last topic discussed by him is "Problems."
He little thought that the biggest "problem" so near solution was the
character of the language itself. It was Adolph Deissmann, then of Heidelberg,
now of Berlin, who opened the new era in the knowledge of the language of the
New Testament. His Bibelstudien (zumeist aus den Papyri und Inschriften zur
Geschichte der Sprache, des Schrifttums und der Religion des hellenistischen
Judentums und des Urchristentums) appeared in 1895. In this epochmaking volume
he proved conclusively from the papyri and the inscriptions that many of the
seeming Hebraisms in the Septuagint and the New Testament were common idioms in
the vernacular koine. He boldly claimed that the bulk of the Hebraisms were
falsely so termed, except in the case of translating Greek from the Hebrew or
Aramaic or in "perfect" Hebraisms, genuine Greek usage made more
common by reason of similarity to the Semitic idiom. In 1897 he produced Neue
Bibelstudien, sprachgeschichtliche Beitrage zumeist aus den Papyri und
Inschriften zur Erklarung des Neuen Testaments.
In
1901 (2nd edition in 1903) these two volumes were translated as one by A. Grieve
under the title Bible Studies. Deissmann's other volumes have confirmed his
thesis. The most important are New Light on the New Testament (1907), The
Philology of the Greek Bible (1908), Licht vom Osten (1908), Light from the
Ancient East (translation by Strachan, 1910), St. Paul in the Light of Social
and Religious History (1912). In Light from the Ancient East, Deissmann
illustrates the New Testament language with much detail from the papyri, ostraka
and inscriptions. He is now at work on a new lexicon of the New Testament which
will make use of the fresh knowledge from these sources.
The
otherwise helpful work of E. Preuschen, Vollstandiges griechisch-deutsches
Handworterbuch zu den Schriften des Neuen Testaments und der ubrigen
urchristlichen Literatur (1908-10), fails to utilize the papyri and inscriptions
while drawing on the Septuagint and the New Testament Apocrypha and other early
Christian literature. But this has been done by Ebeling in his
Griechisch-deutsches Worterbuch zum New Testament, 1913. The next step was made
by A. Thumb, the great philologian, in his Griechische Sprache im Zeitalter des
Hellenismus; Beitrage zur Geschichte und Beurteilung der "koine,"
1901, in which the real character of the koine was for the first time properly
set forth.
Winer
and Blass had both lamented the need of a grammar of the koine, and that demand
still exists, but Thumb went a long way toward supplying it in this volume. It
is to be hoped that he will yet prepare a grammar of the koine. Thumb's
interests cover the whole range of comparative philology, but he has added in
this field "Die Forschungen fiber die hellenistische Sprache in den Jahren
1896-1901," Archiv fur Papyrusforschung, II, 396 f; "Prinzipienfragen
der Koina-Forschung," Neue Jahrb. fur das kl. Alt., 1906; "Die
sprachgeschichtliche Stellung des biblischen Griechisch," Theologische
Rundschau, V, 85-99.
The
other most important name to add is that of J. Hope Moulton, who has the credit
of being the first to apply the new knowledge directly to the New Testament
Greek His Grammar of New Testament Greek, I, Prolegomena (1906, 2nd edition,
1906, 3rd edition, 1908, German translation in 1911, Einleitung in die Sprache
des NT) is a brilliant piece of work and relates the Greek of the New
Testament in careful detail to the vernacular koine, and shows that in all
important points it is the common Greek of the time and not a Hebraic Greek
Moulton probably pressed his point too far in certain respects in his zeal
against Hebraisms, but the essential position of Deissmann and Moulton is
undoubtedly sound.
Moulton
had previously published the bulk of this material as "Grammatical Notes
from the Papyri," The Expositor, 1901, 271-82; 1903, 104-21, 423-39; The
Classical Review, 1901, 31-37, 434-41; 1904, 106-12, 151-55;
"Characteristics of New Testament Gr," The Expositor, 1904.
In
1909 appeared his essay, Greek in the Light of Modern Discovery (see above).
Since 1908, The Expositor has had a series of papers by J.H. Moulton and George
Milligan called "Lexical Notes from the Papyri," which are very useful
on the lexical side of the language. Thus the study is fairly launched on its
new career. In 1900, A.T. Robertson produced a Syllabus on the N T Greek Syntax
from the standpoint of comparative philology, which was rewritten in 1908, with
the added viewpoint of the papyri researches, as A Short Grammar of the Greek
New Testament (2nd edition, 1909, 3rd edition, 1912; translations in Italian in
1910, German and French in 1911, Dutch in 1912). In October, 1909, S. Angus
published a good article in the Harvard Theological Review on "Modern
Methods in New Testament Philology," followed in January, 1910, by another
in the Princeton Review on "The koine, the Language of the New
Testament." The new knowledge appears also in Jakob Wackernagel, "Die
griechische Sprache" (pp. 291-318, 2nd edition, of Die griechische und
lateinische Literatur und Sprache, 1907). L. Radermachcr has set forth very ably
"die sprachlichen Vorgange in ihrem Zusammenhang," in his
Neutestamentliche Grammatik: Das Griechisch des Neuen Testaments im Zusammenhang
mit der Volkssprache. It is in reality the background of the New Testament Greek
and is a splendid preparation for the study of the Greek New Testament. A full
discussion of the new knowledge in grammatical detail has been prepared by A.T.
Robertson under the title A Grammar of the Greek New Testament in the Light of
Historical Research. Moulton and Schmiedel are planning also to complete their
works.
The
proof of the new position is drawn from several sources:
3.
The Proof of the New Position: (1) The papyri.-- These rolls have lain in the
museums of the world many years and attracted little attention. For lists of the
chief collections of the papyri see Moulton, Prolegomena, 259-62; Milligan,
Selections from the Greek Papyri, xi, xii; Mayser, Grammatik der griechischen
Papyri aus der Ptolemaerzeit; Lautund Wortlehre, vii-x; Deissmann, Light from
the Ancient East, 20-41; Robertson, Grammar of the Greek New Testament,
Bibliography. New volumes of papyri as a result of recent explorations in Egypt
are published each year. See PAPYRUS, and in the other encyclopaedias under the
word Most of the papyri discovered belong to the period of the koine (the first
three centuries BC and AD in round numbers), and with great wealth of
illustration they show the life of the common people of the time, whether in
Egypt or Herculaneum (the two chief regions represented).
There
are various degrees of culture shown, as can be seen in any of the large volumes
of Grenfell and Hunt, or in the handbooks of Lietzmann, Griechische Papyri
(1905), and of Milligan, Greek Papyri (1910). They come from the scrap-heaps of
the long ago, and are mainly receipts, contracts, letters of business or love,
military documents, etc. They show all grades of culture, from the illiterate
with phonetic spelling to the man of the schools. But we have here the language
of life, not of the books. In a most startling way one notes the similarities of
vocabulary, forms, and syntax between the language of the papyri of the 1st
century AD and that of the New Testament books. As early as 1778, F.W. Sturz,
made use of the Charta Borgiana, "the first papyrus ever brought to
Europe" (Deissmann, Light from the Ancient East, 39), and in 1841 Thiersch
likewise saw the value of the papyri for the philology of the Septuagint.
But
the matter was not pressed. Lightfoot threw out a hint about the value of
letters of the people, which was not followed till Deissmann saw the point;
compare Moulton, Prol., 242. It is not necessary here to illustrate the matter
at length. Deissmann takes up in detail the "Biblical" words in
Thayer's Lexicon, and has no difficulty in finding most of them in the papyri
(or inscriptions). Thus plerophoreo, is shown to be common in the papyri. See
Deissmann, Bible Studies and Light from the Ancient East, for extensive lists.
The papyri show also the same meanings for many words once thought peculiar to
the Bible or the New Testament. An instance is seen in the official sense of
presbuteros, in the papyri, 5 ho presbuteros les komes (Pap. Lugd. A 35 f),
"without doubt an official designation" (Deissmann, Bible Studies,
155). So adelphos, for members of the community, anastrophe, for manner of life,
antilempsis, "help," leitourgia, "public service," paroikos,
"sojourner," etc. (Deissmann, Light from the Ancient East, 107). R.
Helbing (Grammatik der Septuaginta, 1908) and H. St. John Thackeray (A Grammar
of the Old Testament in Greek according to the Septuagint, 1909) have applied
the new knowledge to the language of the Septuagint, and it has been discussed
with much ability in the first volumes. The use of the papyri for grammatical
purposes is made easier by the excellent volume of E. Mayser, Grammatik der
griechischen Papyri aus der Ptolemaerzeit; Laut- und Wortlehre (1906), though
his "Syntax," is still a desideratum. Useful also is G. Cronert,
Memoria Graeca Herculanensis (1903).
(2)
The ostraka.-- The literature on this subject is still small in bulk. In 1899
Ulrich Wilcken published Griechische Ostraka aus Aegypten und Nubien, and in
1902 W.E. Crum produced his book of Christian ostraka called Coptic Ostraca from
the Collections of the Egypt Exploration Fund, the Cairo Museum, and Others.
This was followed in 1905 by H.R. Hall's Coptic and Greek Texts of the Christian
Period from Ostraka, Stelae, etc. These broken pieces of pottery were used by
the lowest classes as writing material. It was very widely used because it was
so very cheap. Wilcken has done more than anyone else to collect and decipher
the ostraka. Deissmann (Light from the Ancient East, 46) notes that Cleanthes
the Stoic "wrote on ostraka or on leather" because too poor to buy
papyrus. So he quotes the apology of a Christian for using potsherd for a
letter: "Excuse me that I cannot find papyrus as I am in the country"
(Crum, Coptic Ostraca, 55). The use of apecho, on an ostrakon for a receipt in
full, illustrates well the frequent use of this word in the New Testament
(Deissmann, Light from the Ancient East, 111).
(3)
The inscriptions.-- Here caution must be used since many of the inscriptions
give, not the vernacular, but the literary language. The official (legal and
military) decrees often appear in very formal style. But a number do preserve
the vernacular idiom and often have the advantage of being dated. These
inscriptions are chiefly on stone, but some are on metal and there are a few wax
tablets. The material is vast and is constantly growing. See list of the chief
collections in Deissmann's Light from the Ancient East, 10-20. Boeckh is the
great name here. As early as 1779 Walch (Observationes in Matt. ex graecis
inscriptionibus) made use of Greek inscriptions for New Testament exegesis, and
R.A. Lipsius says that his father (K.H.A. Lipsius, author of Grammatische
Untersuchungen uber die biblische Gracitat) "contemplated a large grammar
of the Greek Bible in which he would have availed himself of the discoveries in
modern epigraphy" (Deissmann, Light, etc., 15).
Schmiedel
has made good use of the inscriptions so far in his revision of Winer; H.A.A.
Kennedy (Sources of New Testament Greek, 1895), H. Anz (Subsidia ad Cogn., etc.,
1894), R. Helbing (Grammatik der Septuaginta, 1908), J. Psichari (Essai sur le
Grec de la Septante, 1908), H. St. John Thackeray (A Grammar of the Old
Testament in Greek according to the Septuagint, 1909), and R. Meister (Prol. zu
einer Grammatik der Septuaginta, 1907) turned to good account the inscriptions
for the linguistic problems of the Septuagint, as indeed Hatch (Essays in
Biblical Greek, 1889) had already done. W. Dittenberger added some valuable
"Grammatica et orthographica" to his Orientis Graeci Inscriptiones
Selectae (2 vols, 1903, 1905). See also E. L. Hicks and G. F. Hill, Greek
Historical Inscriptions (1901), and Hicks's paper "On Some Political Terms
Employed in the New Testament," Classical Review, 1887, 4 ff, 42 ff. W. M.
Ramsay's Cities and Bishoprics of Phrygia (2 vols, 1895, 1897) and his other
works show keen insight in the use of the inscriptions. Deissmann's Bible
Studies (1895, 1901) applied the knowledge of the inscriptions to the Septuagint
and to the New Testament. In his Light from the Ancient East (1910) copious use
is made of the inscriptions for New Testament study. Moulton (Prol., 1906, 258
f, for lists) is alive to the value of the inscriptions for New Testament
grammar, as indeed was Blass (Grammatik des neutestamentlichen Griechisch, 1896)
before him.
Compare
further, G. Thieme, Die Inschriften von Magnesia am Maander und das Neue
Testament (1906); T. Nageli, Der Wortschatz des Apostels Paulus (1905), and J.
Rouffiac, Recherches sur les caracteres du Grec dans le New Testament d'apres
les Inscr. de Priene (1911). Special treatises or phases of the grammar of the
inscriptions appear in Meisterhans-Schwyzer, Grammatik der attischen Inschriften
(1900); Nachmanson, Laute und Formen der magnetischen Inschriften (1896);
Schweizer, Grammatik der pergamenischen Inschriften (1898).
Moulton
and Milligan have drawn freely also on the inscriptions for their "Lexical
Studies" running in The Expositor (1908 and the years following). The value
of the inscriptions for the Greek of the New Testament is shown at every turn.
For instance, prototokos, is no longer a "Biblical" word. It appears
in a metrical inscription (undated) of Trachonitis on a tomb of a pagan
"high priest" and "friend of the gods" (Deissmann, Light,
etc., 88); compare Kaibel, Epigrammata Graeca, etc., number 460. Even agape,
occurs on a pagan inscription of Pisidia (Papers of the American School of
Classical Studies at Athens, 2, 57). See, further, W.H.P. Hatch's "Some
Illustrations of New Testament Usage from Greek Inscriptions of Asia
Minor," Journal of Biblical Literature, 1908, 134-146.
(4)
Modern Greek.-- As early as 1834 Heilmeier saw that the modern Greek vernacular
went back to the koine (Moulton, Prologoumena, 29), but it is only in recent
years that it was clearly seen that the modern Greek of the schools and usually
in the newspapers is artificial, and not the real vernacular of today. Mullach's
work (Grammatik der griechischen Vulgarsprache, 1856) was deficient in this
respect. But Jannaris' Historical Greek Grammar (1897) carries the history of
the vernacular Greek along with the literary style. Hatzidakis, Einleitung in
die neugriechische Grammatik, 1892, clears the air very much and connects the
modern Greek with the New Testament. But it is to Thumb that we are indebted for
the best knowledge of the vernacular (he demotike) as opposed to the literary
language (he kathareuousa) of today. Mitsotakis (Praktische Grammatik, 1891) had
treated both together, though Wied (Die Kunst, die neugriechische Volksprache)
gave only the vernacular. But Wied is only elementary. Thumb alone has given an
adequate treatment of the modern Greek vernacular, showing its unity and
historical contact with the vernacular koine (Handbuch der neugriechischen
Volkssprache, 1895; Thumb-Angus, Handbook of Modern Greek Vernacular, 1912).
Thus one can see the living stream of the New Testament speech as it has come on
down through the ages. It is impossible to overestimate the importance of modern
Greek vernacular in the knowledge of New Testament Greek The disappearance of
the optative, the vanishing of the infinitive before hina, and itacism are but
instances of many others which are luminous in the light of the modern Greek
vernacular. See Psichari, Essais de grammaire historique neo-grecque (1886-89).
(5)
Historical and comparative grammar.-- From this source the koine gets a new
dignity. It will take one too far afield to sketch here the linguistic
revolution wrought since the publication of, and partly caused by, Bopp's
Vergleichende Grammatik (1857), following Sir William Jones' discovery of
Sanskrit. The great work of Brugmann and Delbruck (Grundriss der vergleichenden
Grammatik der indogermanischen Sprachen, I-V, 1892-1909) marks the climax of the
present development, though many workers have won distinction in this field. The
point to accent here is that by means of comparative philology the Greek
language is seen in its proper relations with other languages of the
Indo-Germanic family, and the right interpretation of case, preposition, mode,
tense, voice, etc., is made possible. The old traditional empiricism is
relegated to the scrap-heap, and a new grammatical science consonant with the
facts has taken its place. See Delbruck, Introduction to the Study of Language
(1882), Giles, Short Manual of Comparative Philology (1901), for a resume of the
facts.
Wright,
Comparative Grammar of the Greek Language (1912), applies the new learning to
the Greek tongue. The progress in classical scholarship is well shown by Sandys
in his History of Classical Scholarship (I-III, 1906-8) and by Gudeman,
Geschichte der klass. Philologie, 2. Aufl, 1909. Innumerable monographs have
enriched the literature of this subject. It is now feasible to see the Greek
language as a whole, and grasp its historical unity. Seen in this light the
koine is not a dying tongue or a corrupt dialect. It is a normal and natural
evolution of the Greek dialects into a world-speech when Alexander's conquests
made it possible. The vernacular koine which has developed into the modern Greek
vernacular was itself the direct descendant of the Attic vernacular which had
its roots in the vernacular of the earlier dialects. The dialectical
developments are closely sketched by Thumb, Handbuch der griechischen Dialekte
(1909), and by Buck, Introduction to the Study of Greek Dialects (1910), not to
mention the older works of Hoffmann, Meister, etc. Jannaris has undertaken in
his Historical Greek Grammar (1897) to sketch and interpret the facts of the
Greek tongue throughout its long career, both in its literary and vernacular
aspects. He has succeeded remarkably well on the whole, though not quite seeing
the truth about the modern Greek vernacular. Schanz is seeking to lay the
foundation for still better work by his Beitrage zur historischen Syntax der
griechischen Sprache (1882 and the years following). But the New Testament
student must be open to all the new light from this region, and it is very
great. See, further, Dieterich, Untersuchungen zur Geschichte der griech.
Sprache von der hellen. Zeit (1898).
4.
Characteristics of the Vernacular "koine": As already indicated, the
Greek of the New Testament is in the main just the vernacular koine of the 1st
century AD, though Greek as used by men of ability and varying degrees of
culture. The most striking difference between the vernacular koine and the
literary Attic is seen in the vocabulary. The writers in the literary koine show
more likeness to the classic Attic, but even they reveal the changes due to the
intervening centuries. There was, of course, no violent break. The changes came
gradually and naturally. It is mainly at this point that Deissmann has done such
brilliant work in his Bible Studies and other books. He has taken the lists of
"Biblical" and "ecclesiastical" words, as given by Cremer
and Thayer, and has shown from the papyri, ostraka, inscriptions, or koine
writers that they are not peculiar to the Bible, but belong to the current
speech of the time.
The
proof is so overwhelming and extensive that it cannot be given here. Some words
have not yet been found in the non-Biblical koine, but they may be any day. Some
few words, of course, belong to the very nature of Christianity christianos, for
instance), but apostolos, baptismos, paroikos, sunagoge, and hundreds of others
can no longer be listed as "Biblical." New meanings come to old words
also. Compare daimonion. It is interesting to note that the New Testament shows
many of the words found in Aristophanes, who caught up the vernacular of his
day. The koine uses more words from the lower strata of society. Aristotle
likewise has many words common in the koine, since he stands at the parting of
the ways between the old dialects and the new koine of Alexander's conquests.
The koine develops a fondness for compound and even double compound
(sesquipedalian) words; compare, for instance, anekdiegetos; aneklaletos;
anexereunetos; antapokrinomai; oikodespotes; oligopsuchos; prosanapleroo;
sunantilambanomai; huperentugchano; chrusodaktulios, etc.
The
use of diminutives is also noteworthy in the koine as in the modern Greek:
compare thugatrion; klinarion; korasion; kunarion; onarion; opsarion; ploiarion;
otion, etc. The formation of words by juxtaposition is very common as in
plerophoreo, cheiro-graphon. In phonetics it is to be noticed that
"ei", "oi", "ee", "eei", "u",
"i" all had the value of "ee" in "feet." This
itacism was apparent in the early koine. So ai = e and o and oo were not sharply
distinguished. The Attic tt became ss, except in a few instances, like elatto,
kreitton. The tendency toward de-aspiration (compare Ionic) was manifest;
compare eph' helpidi, for the reverse process. Elision is less frequent than in
Attic, but assimilation is carried farther. The variable final consonants
"n" (nu) and "s" (sigma) are used generally before
consonants.
We
find "-ei-" for "-iei-" as in pein. outheis, and metheis,
are common till 100 BC, when they gradually disappear before oudeis, and medeis.
In general there is less sense of rhythm and more simplicity and clearness. Some
of the subtle refinements of form and syntax of the classic did not survive in
the koine vernacular. In accidence only a few points may be noted. In
substantives the Ionic "-res" is frequent. The Attic second declension
vanishes. In the third declension forms like nuktan, show assimilation to the
first. Both charin, and charita, occur. Contraction is sometimes absent (compare
Ionic) as in oreon. Adjectives show forms like asphalen, and indeclinable
pleres, appears, and pan, for panta (compare megan), dusi, for duoin. The dual
is gone. Even the dual pronouns hekateros, and poteros, are rare. tis, is
occasionally used like hostis. hos ean, is more frequent than hos an, in the 1st
century AD. The two conjugations blend more and more into one, as the- mi forms
vanish.
There
is some confusion in the use of- ao and- eo verbs, and new presents occur like
apoktenno, optano, steko. The forms ginomai, ginosko, are the rule now. There is
much increase in aorists like escha, and imperfects like eicha. The form- osan
(eichosan, eschosan) occasionally appears. Quite frequent is a perfect like
dedokan, and the augment is often absent in the plu-perfect as in dedokei. Per
contra, a double augment occurs in apekateste, and a treble augment in
eneochthesan. The temporal augment is often absent with diphthong as in
oikodomethe. The koine Greek has- tosan, not- nton. In syntax the tendency is
toward simplicity, to short sentences, the paratactic construction, and the
sparing use of particles. The vernacular koine avoids both the bombast of
Asianism and the artificiality of Atticism. There is, indeed, more freedom in
violating the rules of concord as to gender, number, and case. The nominativus
pendens is common. The comparative does duty often for the superlative
adjective, and the superlative generally has the elative sense. The accusative
is increasingly common with verbs. The line between transitive and intransitive
verbs is not a hard-and-fast one. The growth in the use of prepositions both
with nouns and in composition is quite noticeable, but some of the older
prepositions, like amphi, are vanishing. The cases used with various
prepositions are changing. The instrumental use of en, is very common. Many new
adverbial and prepositional phrases have developed. The optative is nearly dead
and the infinitive (apart from the use of tou, en to, eis to, with the
infinitive) is decaying before hina. The future participle is rare. me, begins
to encroach on ou, with infinitives and participles. The periphrastic
conjugation is specially common. The direct discourse is more frequent than the
indirect. The non-final use of hina, is quite noticeable. There are, besides,
dialectical and provincial peculiarities, but these do not destroy the real
unity of the vernacular koine any more than do individual traits of separate
writers.
II.
Literary Elements in the New Testament.-- Deissmann (Light from the Ancient
East, 245) is disposed to deny any literary quality to the New Testament books
save the Epistle to the Hebrews. "The Epistle to the Hebrews shows us
Christianity preparing for a flight from its native levels into the higher
region of culture, and we are conscious of the beginnings of a Christian
world-literature." He speaks of it also as "a work which seems to hang
in the background like an intruder among the New Testament company of popular
books." One feels that this is an extreme position and cannot be justified
by the facts. It is true that Peter and John were agrammatoi kai idiotai
<Acts 4:13>, and not men of the schools, but this was certainly not the
case with Luke and Paul who were men of literary culture in the truest sense.
Luke and Paul were not Atticists, but that artificial idiom did not represent
the best type of culture.
Deissmann
admits that the New Testament has become literature, but, outside of He, he
denies any literary quality in its composition. Paul, for instance, wrote only
"letters," not "epistles." But Romans and Ephesians confront
us. See Milligan, Greek Papyri, xxxi, for a protest against the sweeping
statement of Deissmann on this point. One need not go to the extreme of Blass,
"Die rhythmische Komposition des Hebr. Brides," Theol. Studien und
Kritik, 1902, 420-61; Die Rythmen der asiatischen und romischen Kunstprosa,
1905, to find in Hebrews and Paul's writings illustrations of the artificial
rules of the Asianists. There is undoubtedly rhythm in Paul's eloquent passages
(compare <1 Cor 13,15>), but it is the natural poetic quality of a soul
aflame with high passions, not conformity to rules of rhetoric. To deny literary
quality to Luke and Paul is to give a narrow meaning to the word
"literary" and to be the victim of a theory. Christianity did make use
of the vernacular koine, the wonderful world-speech so providentially at hand.
But the personal equation figured here as always. Men of culture differ in their
conversation from illiterate men and more nearly approximate literary style. It
is just in Luke, Paul, and the author of He that we discover the literary flavor
of men of ability and of culture, though free from artificiality and pedantry.
The eloquence of He is that of passion, not of the art of Asianism. Indeed, the
Gospels all show literary skill in the use of material and in beauty of
language. The Gospel of John has the rare elevation and dignity of the highest
type of mind. There is no Atticistic tendency in the New Testament as in
Josephus, Ant. There is no posing for the present or for posterity. It is the
language of life, the vernacular in the main, but rising at times from the very
force of passion to high plateaus of emotion and imagination and poetic grace
from the pens of men of real ability, and in some instances of high culture.
III.
The Semitic Influence.-- It is no longer possible to explain every variation in
the New Testament from the classic Attic by the term Hebraism. That easy
solution has disappeared. Sooth to say, when the true character of the
vernacular koine is understood, there is not very much left to explain. The New
Testament Greek as a rule is just normal koine. Milligan (Greek Papyri, xxx)
admits on the part of Moulton "an overtendency to minimize" the
"presence of undoubted Hebraisms, both in language and grammar." That
is true, and is due to his strong reaction against the old theory of so many
Hebraisms. The Semiticisms (Hebraisms and Aramaisms) are very natural results of
the fact that the vernacular koine was used by Jews who read the Hebrew Bible
and the Septuagint translation, and who also spoke Aramaic as their native
tongue. The Septuagint, as translation of Greek, directly from the Hebrew (or
Aramaic), has a much greater number of these Semiticisms. See Swete, An
Introduction to the Old Testament in Greek (1900), for the salient facts.
Thackeray
in his Grammar of the Old Testament in Greek (1909) shows "the koine-- the
basis of Septuagint Greek" in section 3, and in section 4 discusses
"the Semitic element in Septuagint Greek." The matter varies in
different parts of the Septuagint, but in all parts the Semitic influence goes
far beyond what it is in the New Testament. In the New Testament we have free
composition in Greek, except in certain portions of the Gospels and Acts where
Aramaic originals (oral or written) lie beyond the Greek text. So in particular
<Lk 1>, the words of Jesus in <Lk 2>, and the opening chapters of
Acts. See Dalman, Words of Jesus (1902), and J.T. Marshall, "The Aramaic
Gospel," The Expositor, Ser. IV volumes II-VIII; see also ARAMAIC supra.
There is, to some extent, translation-Gr, as in the Septuagint. The quotations
from the Old Testament are either from the Hebrew original, or, as most
frequently, from the Septuagint.
In
either case we have translation-Greek again. These two classes cover the more
obvious Semiticisms if we add Hebrew names (persons and places) and other
transliterations like abbadon, allelouia. The Greek of the Septuagint does not,
of course, give a true picture of the Greek spoken by the Jews in Alexandria or
in Palestine But the constant reading of the Septuagint was bound to leave its
impress on the style of the people (compare the King James Version and the
English language). The surprise, in fact, is not the number of Semiticisms, but,
all things considered, the fewness of them. Luke, just because he was a Gentile
and so noted the Hebraisms in the Septuagint, shows rather more of them than the
other New Testament writers: compare prosetheto triton pempsai <Lk 20:12>.
Some of the points of style so common in the Septuagint find occasional parallel
in the papyri or inscriptions, like blepon blepo, chara chairo, ov .... hon ....
auton. Others are more obviously imitations of the Hebrew style, as in areskein
enopion tinos, rather than areskein tini. But there is a certain dignity and
elevation of style so characteristic of the Hebrew Old Testament that reappears
in the New Testament. The frequent use of kai, in parts of the New Testament
reminds one of the Septuagint and the Hebrew waw ("w"). There is,
besides, an indefinable tone in the New Testament that is found in the Old
Testament. Swete (Apocalypse of St. John, cxx) laments the tendency to
depreciate unduly the presence of Hebraisms in the New Testament. The pendulum
may have swung too far away from the truth. It will strike the level, but we
shall never again be able to fill our grammars and commentaries with
explanations of so many peculiar Hebraisms in the New Testament. On the whole
the Greek New Testament is standard vernacular koine.
IV.
Individual Peculiarities of New Testament Writers.-- There is not space for an
extended discussion of this topic. The fact itself calls for emphasis, for there
is a wide range in style between Mark's Gospel and Hebrews, 1 Peter and Romans,
Luke's Gospel and the Apocalypse. There are no Atticists found in the New
Testament (compare 4 Macc in the Septuagint and Jos), but there are the less
literary writings (Matthew, Mark, the Johannine books, the other catholic
epistles) and the more literary writings (Luke's writings, Paul's Epistles, and
Hebrews). But even so, no hard-and-fast line can be drawn. Moulton, Cambridge
Biblical Essays, 484, thinks 2 Peter more like the Atticistic writings,
"though certainly the Atticists would have scorned to own a book so full of
`solecisms. ' "Moulton assumes that 2 Peter is pseudepigraphic, and does
not credit the notion that the crude "Babu" Greek, to use Abbott's
term, may be Peter's own uncorrected style (compare <Acts 4:13>), while 1
Peter may have the smoothing effect of Silvanus' hand (compare <1 Pet
5:12>).
A
similar explanation is open concerning the grammatical lapses of the Apocalypse,
since John is also called agrammatos, in <Acts 4:13>, whereas the Gospel
of John may have had the revision of the elders of Ephesus (compare <Jn
21:24>). But whatever the explanation, there is no doubt of the wide
divergences style between different books and groups of books in the New
Testament list. The Lukan, Johannine, Petrine, Pauline groups stand apart, but
with cleavages within each group. Harnack (Luke the Physician, 1907; The Sayings
of Jesus, 1908; The Acts of the Apostles, 1909; The Date of the Acts of the
Apostles, 1911) has accepted and strengthened the contention of Hawkins (Horae
Synopticae, 2nd edition, 1909) and of Hobart (Medical Language of Luke, 1882)
that the medical terms in the Gospel of Luke and of Acts show that the books
were written by the same writer and that a physician, and so Luke.
The
diversities in style here and there are chiefly due to the sources of
information used. Even in the Pauline books, which form so well-marked a
collection, striking diversities of language and style appear. But these letters
cover a period of some 15 years of intense activity and mental and spiritual
development, and treat a great variety of topics. They properly reflect the
changing phases of Paul's preaching of the cross of Christ in different places
and under varying circumstances and confronting ever fresh problems. The plays
of Shakespeare offer a useful parallel. Even in Paul's old age, in the Pastoral
Epistles the stamp of Paul's spirit is admitted by those who admit only Pauline
fragments; compare J. Weiss, Beitrage zur Paulinschen Rhetorik (1897). The style
is indeed the man, but style is also the function of the subject, and style
varies with different periods of a man's life. E.A. Abbott has made an excellent
discussion of the Johannine Vocabulary (1905) and of Johannine Grammar (1906),
but special grammars of each writer are hardly to be expected or desired. But
Nageli has begun a study of Paul's vocabulary in his Wortschatz des Apostels
Paulus (1905). The Gospel of Matthew shows very little of that Hebraism that one
would expect from the general purpose and tone of the book. It is possible, of
course, that the supposed original was in Aramaic, or, if in Greek, of a more
Hebraistic type. Whether the present Greek of Matthew made use of Mark's Gospel
and a collection of Logia (Q), we do not know. Certainly Mark's Gospel is
written in colloquial koine with little evidence of the culture of the schools.
Mark is a faithful reporter and does his work with rare simplicity and
vividness. He reveals clearly the Aramaic background of Christ's teaching. The
writings of James and Jude do not show that only Greek was spoken in the home at
Nazareth, nor that they used only Aramaic These two epistles are evidently free
compositions in Greek with much of the freshness of imagery so manifest in the
parables of Jesus Himself. This brief sketch does not do justice to the richness
and variety of language in the books of the New Testament.
V.
The "koine" Spoken by Jesus.-- See ARAMAIC LANGUAGE for proof that
Jesus spoke that language as the vernacular of the people of Palestine. But
Christ spoke the koine also, so that the New Testament is not an idiom that was
unknown to the Master. Gwilliam (the 1-volume Hastings, Dictionary of the
Bible), "Language of Christ") does still deny that Jesus spoke Greek,
while Roberts takes the other extreme in his book, Greek the Language of Christ
and His Apostles (1888). Per contra again, Julicher considers it impossible to
suppose that Jesus used Greek (article "Hellenism" in Encyclopaedia
Biblica). J.E.H. Thomson, "The Language of Palestine during the Time of Our
Lord" (Temple, Bible Dictionary) argues convincingly that Palestine was
bi-lingual and that Jesus knew and spoke Greek as well as Aramaic Peter
evidently spoke in Greek on the Day of Pentecost and was understood by all. Paul
was understood in Jerusalem when he spoke in Greek <Acts 21:37>. Jesus
taught in Decapolis, a Greek region, in the region of Tyre and Sidon (Greek
again). Galilee itself was largely inhabited by Gentiles who spoke Greek At the
time of the Sermon on the Mount, we read that people were present from Decapolis
and Peraea, besides the mixed multitude from Galilee, Judaea, and Jerusalem
<Mt 4:25; Lk 6:17>. Thomson proves also that in Matthew's Gospel the
quotation from the Old Testament in the words of Jesus is from the Septuagint,
while Matthew's own quotations are from the Hebrew. The case seems clear. It is
not possible to say always when Jesus spoke Greek and when Aramaic. That would
depend on the audience. But it is practically certain that Christ Himself knew
and spoke at will the vernacular koine, and thus had this linguistic bond with
the great world of that era and with lovers of the Greek Testament today.
LITERATURE.--
The literature on this subject is very extensive. The most important volumes
have been mentioned in the discussion above.
A.T.
ROBERTSON
(from International Standard Bible Encylopaedia, Electronic Database
Copyright (C) 1996 by Biblesoft)
Catatan: saya kutip seluruh artikel, anda tak perlu baca seluruhnya.
Waaaah... waaah... waaah... kalau saya mau tuliskan isi
buku Ruakh Emet dll dgn bukti2 akurat bhw PB aslinya Ibrani juga bisa, tapi cape
nulisnya pak. Pada dasarnya kalau bapak tetap ngotot bahwa PB aslinya Yunani ya
sudah.... saya khan tdk memaksa!. Silakan bapak pegang saja pemahaman bapak itu.
Tapi saya masih menunggu jawaban bapak ttg Kitab Matius 1 yg saya tanyakan di
atas lho ya.
Omong kosong. Kalau Haleluyah bisa diyunanikan menjadi ALLELOUIA, yang
bunyinya mirip, maka bukankah mereka bisa meyunanikan YAHWEH menjadi IAPHE atau
yang sejenisnya? Tetapi kenyataannya mereka bukan meyunanikan, tetapi mengubah /
menggantikannya dengan kata KURIOS, yang bunyinya sama sekali tak ada kemiripan
dengan YAHWEH.
Saya kira bapak tdk usah bemain2 kata! Dimana pola
pikir bapak shg berkesimpulan YAHWEH diyunanikan menjadi IAPHE? Saya menulis
suatu realita kalau YESHUA dlm kitab berbhs Yunani menjadi IESOUS krn memang
huruf Yunani tdk mengenal abjad YHW. Poin saya bahwa NAMA itu TIDAK BISA
diterjemahkan! Kenapa jadi muter-muter sapai ke bahasa? Yg jadi topik pembahasan
kita khan NAMA? Bukan BAHASA atau SEBUTAN.
Tanggapan Budi Asali:
Bahwa Yosua menjadi Yesus, itu jelas mrpk semacam
transliterasi, bukan penterjemahan / perubahan. Yahweh jg bisa dibegitukan.
Yunani tak punya huruf Y, dan krn itu, Y dlm Ibrani diubah menjadi I dlm Yunani.
Yunani juga tak punya V atau W, tetapi punya PHI, yg bunyinya mirip dg V. Lalu
apa anehnya kalau ditransliterasikan menjadi IAPHE?
f. Dahulu tidak menggunakan Nama Yahweh juga ada
mujizat dan diberkati.
Berkat jasmani dan Mujizat bukan menjadi jaminan
suatu kebenaran, dunia perdukunan juga kadang diidentikkan dengan mujizat, kalau
bicara soal berkat secara materi, orang yang tidak ke tempat ibadah manapun asal
bekerja dengan sungguh-sungguh juga bisa kaya, konglomerat juga banyak yang
tidak percaya Yeshua Hamasiah. Dan apakah ada pengikut Yeshua Hamasiakh / Yesus
Kristus kalau berdoa ditutup “dalam Nama Allah?” Tidak pernah ada khan? Jadi
yang mengadakan mujizat itu siapa?.
Mattithyahu/Matius 7: 21-23 menggambarkan orang yang
menyebut Yeshua sebagai Tuhan dan bahkan sudah melakukan mujizat sekalipun,
namun akhirnya ditolak juga karena jahat, bisa karena tidak berani mengajarkan
kebenaran dan tidak dikenal. Untuk masuk sorga harus di dahinya ada NamaNya dan
Nama BapaNya (Wahyu 14: 1).
Tanggapan Budi Asali:
Ini argumentasi konyol, saya tak punya argumentasi seperti itu.
Juga Mat 7:21-23 menunjuk pada orang kristen KTP / nabi-nabi palsu. Lihat
kontextnya mulai ay 15 yang bicara tentang nabi-nabi palsu. Juga ay 23 yang
mengatakan Yesus TIDAK PERNAH mengenal mereka. Ini tak ada urusannya dengan
kemurtadan, ataupun dengan penggunaan nama YAHWEH.
Tanggapan Yakub :
Ya bagus dah kalau bapak tdk punya argumentasi seperti
yg teman-teman bapak sampaikan kpd saya! Saya menulis itu krn kenyataannya
setiap saya sampaikan ttg nama Tuhannya Avraham, Yitskhaq dan Ya’aqov justru
temen2 bapak banyak yg mengatakan “Saya tdk pusingkan soal Yahweh, saya
menyebut ALLAH juga diberkati”
Matius 7: 21-23 konteksnya memang benar seperti yg
bapak berikan, namun apakah itu tdk mengacu soal nama? Coba kalau bapak
mengatakan kenal dgn seseorang, apakah itu tdk mengacu soal namanya seseorang
tsb juga? Selain berbicara ttg keinginan org tsb dan kebiasaan2nya? Tentu saja
berbicara ttg peribadi secara menyeluruh walaupun tdk 100% tepat, namun kalau
bicara KENAL tentu setidak2nya mengenal namanya bukan? Kita tdk saling mengenal
saja setidak2nya bapak sdh tau nama saya koq.
Hati2 kalau bapak tdk menghormati nama Yahweh! Baca
Maleakhi 2: 1-2. Mengganti dgn seenaknya apakah itu menghormati?
Tanggapan Budi Asali:
Memang bicara soal nama, tetapi bukan nama YHWH melainkan nama Yesus.
Saya tidak mengganti dg seenaknya, tetapi mengikuti PB, dan krn itu jelas
ada otoritas ilahi yg membenarkan.
Mal 2:1-2 sama dg diatas, kata ‘nama’ menunjuk kpd pemilik nama itu.
Makanya belajar ilmu tafsir donk, jangan ngawur saja!
Penulis
Rev. Yakub Sulistyo, S.Th. MA
Bawen Bukit Permai, Blok D – 21 Bawen.
50661
Telp. 0298-522239, HP. 081-22-800-219
Email: [email protected]
ALLAH atau Allah dalam Alkitab, bukan Bahasa.
Dalam Kitab Suci (Alkitab) umat Nasrani di Indonesia, terdapat kata “ALLAH” dan “Allah” (perhatikan huruf kapital dan bukan, karena Lembaga Alkitab Indonesia membedakan arti kata dari huruf kapital dan yang hanya huruf depannya saja yang kapital) yang selama ini oleh umat Nasrani di Indonesia dikenal sebagai sinonim / padanan kata / pengganti kata “TUHAN” atau “Tuhan”. Hal itu dikarenakan hasil terjemahan Kitab Suci oleh Lembaga Alkitab Indonesia yang memiliki banyak kata “ALLAH” dan “Allah”, meng-konotasikan sebagai bahasa Indonesia.
Sebagai salah satu contohnya, dalam Kitab Kejadian 1: 1 diterjemahkan “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” dan dalam kamus Alkitab yang ditaruh dibagian belakang ada definisi TUHAN = salinan dari nama Allah Israel, yaitu Yahweh (bd Kel 3: 14).
Jika menyimak kata “Allah” dari dua kalimat tersebut diatas, maka orang akan berpikir bahwa “Allah” di Alkitab terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia tersebut sama artinya / sebagai padanan kata dari kata “Tuhan.”
Namun apabila membaca dalam Kitab Kejadian 33: 20 B yang diterjemahkan “Allah Israel ialah Allah”, maka persepsi kata “Allah” sebagai sebutan atau pengganti kata Tuhan menjadi rancu, sebab arti kalimat “Allah Israel ialah Allah” menurut tata bahasa Indonesia yang baik, akan berarti “Ada Allah yang disembah oleh Israel, namanya Allah”. Artinya “Allah” juga sebagai “NAMA DIRI” dari sesembahan Israel, disamping sebagai “Sebutan” atau pengganti kata “Tuhan”.
Kerancuan terjemahan tersebut akan semakin membingungkan, apabila menemukan dua kata yang berdampingan seperti “TUHAN Allah” dan “Tuhan ALLAH”. Contohnya:
“Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit.” (Kejadian 2: 4) dan
“Katakanlah: Hai gunung-gunung Israel, dengarkanlah firman Tuhan ALLAH! Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada gunung-gunung dan bukit-bukit, kepada alur-alur sungai dan lembah-lembah; Sungguh, Aku akan mendatangkan perang atasmu dan Aku akan membinasakan bukit-bukit pengorbananmu.” (Yehezkiel 6: 3).
Jika dibandingkan kata “TUHAN” dalam kitab Kejadian 2: 4 dan “TUHAN” dalam kamus Alkitab tersebut diatas, serta terjemahan kitab Yesaya 42: 8A “Aku ini TUHAN, itulah namaKu” berarti TUHAN menjadi “Nama Diri”. Namun dalam Kitab Kejadian 33: 20 B justru nama Tuhan yang disembah Israel NamaNya “Allah”, berarti NAMA Tuhan yang disembah oleh Israel telah diterjemahkan menjadi dua NAMA yaitu “Allah” dan “TUHAN”, dan akan menjadi NAMA PRIBADI lagi yaitu “ALLAH” jika membaca dalam kitab Yehezkiel 24: 24 dan masih banyak ayat-ayat senada yang lain yang mengindikasikan bahwa “ALLAH” juga sebagai NAMA DIRI, belum lagi dalam kitab Perjanjian Baru, yang dalam Haverit Hakadasha (Kitab Perjanjian Baru yang berbahasa Ibrani) berasal dari “Yahweh” (NAMA PRIBADI) namun Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkannya menjadi “Tuhan” yang hanya huruf “T” nya saja yang kapital.
Jika kembali ke Kitab Suci Asli yang berbahasa Ibrani, tidak pernah ada satupun kata “Allah” dan “ALLAH” sebagai “BAHASA”, apalagi jika dibaca, orang tidak akan mampu membedakan mana yang huruf kapital semua dan mana yang hanya huruf depannya saja yang kapital.
Apa yang diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia sebagai bahasa, jika dikonfirmasikan ke bahasa Ibrani, sebagai bahasa asli Kitab Suci umat Nasrani, ternyata ada yang merupakan Nama Tuhan yang disembah oleh orang Israel yaitu YAHWEH dan ada juga yang berasal dari kata Elohim (sesembahan).
NAMA DIRI Yahweh, dikalangan Nasrani malah dianggap “sesat” dan sudah tidak dikenal lagi, hal itu karena Lembaga Alkitab Indonesia telah menghilangkannya / menerjemahkannya dan berubah menjadi TUHAN, Tuhan, ALLAH dan Allah.
Sesuai kitab Keluaran 20: 7; 23: 13 dan Ulangan 5: 11, seharusnya nama Yahweh tidak diterjemahkan, sebab nama diri tidak bisa diterjemahkan. Seperti para scientist yang menulis sebuah buku, baik itu berupa skripsi, tesis dan sebagainya, setiap mengutip buku lain sebagai referensinya, nama pengarangnya tidak diterjemahkan. Sesuai dengan ayat tersebut di atas, menyebut namaNya dengan sembarangan saja dilarang, apalagi mengganti namaNya dengan sembarangan, larangan ini dikeluarkan sendiri oleh Si Empunya Nama yaitu Yahweh.
Memang orang Yahudi kalau menemukan Nama Diri “Yahweh” mereka membacanya “Adonai” atau “Ha Shem”, namun bukan berarti mereka tidak mengenal nama Yahweh, melainkan karena menghormatiNya, sebab yang mereka baca Adonai atau Ha Shem itu, hurufnya “Yod He Waw He” yang jika dibaca berbunyi Yahweh, sedangkan Adonai itu huruf Ibraninya “Aleph Daled Nun Yod” yang berarti Tuan (Your Highness / Yang Mulia) dan Ha Shem itu huruf Ibraninya “He Shin Mem” yang berarti Sang Nama atau Nama itu. Dan hal itupun sebenarnya tidak sesuai dengan kehendak si pemilik Nama yang menghendaki namaNya disebut turun temurun dari generasi ke generasi (Keluaran 3: 15, 1 Tawarikh 16: 8, Mazmur 103: 1; 105: 1 dan lain lain).
Seharusnya Lembaga Alkitab Indonesia tidak mencontoh orang Yahudi sebagai contoh kebenarannya, sebab jika orang Yahudi yang dijadikan contoh kebenaran untuk tidak menyebut Nama Yahweh, seharusnya orang Yahudi menolak Yeshua / Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat manusia juga diikuti oleh orang Nasrani di Indonesia.
Jika “ALLAH” maupun “Allah” menjadi bahasa Indonesia, seharusnya memiliki persepsi yang sama diantara suku, bahasa dan agama di Indonesia, seperti “KURSI” yang diadopsi dari bahasa Arab “AL KURSI” dikalangan suku, bahasa dan agama di Indonesia memiliki persepsi yang sama. Terbukti persepsi kata “ALLAH” maupun “Allah” dari agama Islam dan Kristen saja berbeda, dan kalangan Hindu dan Budha tidak pernah memakai kata “Allah” maupun “ALLAH” sebagai bahasa Indonesia untuk sinonim kata “Tuhan”.
Jika umat Nasrani di Indonesia meluruskan Kitab Sucinya, dengan tidak mencantumkan kata “ALLAH” maupun “Allah”, yang dalam bahasa Ibraninya tidak pernah ada, maka Indonesia akan tercipta suasana kondusif antar dua agama (Islam dan Kristen) karena masing-masing berjalan direlnya sendiri sendiri, sehingga tidak ada yang mempertentangkan kata “ALLAH” dalam persepsi yang berbeda.
Penulis:
YS
Tanggapan Budi Asali:
Dalam bagian ini anda tak punya argument lain, jadi tidak saya tanggapi.
Saya ingin beri tambahan tentang istilah Yunani KURIOS:
1. Asal usul kata KURIOS.
Bavinck
mengatakan bahwa kata Yunani KURIOS diturunkan dari kata Yunani KUROS, yang
berarti ‘strength’ (= kekuatan) - ‘The Doctrine of God’,
hal 109.
2. Arti dan penggunaan dari kata Yunani KURIOS.
Pada
umumnya dalam bahasa Inggris kata KURIOS diterjemahkan ‘Lord’ (=
Tuhan), tetapi juga bisa sekedar merupakan sebutan kehormatan, seperti kata
bahasa Inggris ‘sir’ (= tuan).
Kata
KURIOS juga merupakan kata Yunani yang digunakan untuk menterjemahkan kata
YAHWEH dalam Perjanjian Lama, sekalipun kedua kata itu tidak mempunyai arti yang
sama.
Dalam
tafsirannya tentang Ro 10:9-10, William Barclay berkata: “The word
for Lord is KURIOS. ... It has four stages of meaning. (a) It is the normal
title of respect like the English ‘sir’, the French ‘monsieur’, the
German ‘herr’. (b) It is the normal title of the Roman Emperors. (c) It
is the normal title of the Greek gods, prefaced before the god’s name. KURIOS
Serapis is Lord Serapis. (d) In the Greek translation of the Hebrew
scriptures it is the regular translation of the divine name, Jahweh or Jehovah”
[= Kata untuk ‘Tuhan’ adalah KURIOS. ... Kata itu mempunyai 4 tingkatan
arti. (a) Itu adalah gelar kehormatan yang normal seperti kata bahasa
Inggris ‘sir’, kata Perancis ‘monsieur’, kata Jerman ‘herr’.
(b) Itu adalah gelar normal dari Kaisar-kaisar Romawi. (c) Itu adalah gelar
normal dari dewa-dewa Yunani, yang diletakkan sebelum nama dewa tersebut. KURIOS
Serapis adalah Tuhan Serapis. (d) Dalam terjemahan Yunani dari Kitab Suci
Ibrani, itu merupakan terjemahan biasa / tetap dari nama ilahi, Yahweh atau
Yehovah] - hal 139.
Dalam
tafsirannya tentang Mark 12:35-37a William Barclay berkata: “This
word ‘Lord’ (the Greek KURIOS) is the regular translation of Jahweh
(Jehovah) in the Greek version of the Hebrew scriptures” [= Kata
‘Tuhan’ ini (Yunani KURIOS) merupakan terjemahan biasa dari YAHWEH (Yehovah)
dalam versi Yunani dari Kitab Suci Ibrani] - hal 298.
Dalam
tafsirannya tentang 1Kor 12:1-3, William Barclay berkata:
“The
word for Lord was KURIOS ... It was the word by which the sacred name Jehovah
was rendered in the Greek translation of the Old Testament scriptures”
[= Kata untuk ‘Tuhan’ adalah KURIOS ... Itu merupakan kata dengan mana nama
yang keramat Yehovah diterjemahkan dalam terjemahan Yunani dari Kitab Suci
Perjanjian Lama] - hal 107.
The
International Standard Bible Encyclopedia, vol II:
“Greek kyrios is usually translated ‘Lord’ in the English versions
and is the equivalent of Heb. YHWH in the LXX (e.g., Isa. 40:3; HR, II,
800-839)” [= Kata bahasa Yunani KURIOS biasanya diterjemahkan ‘Lord
(= Tuhan)’ dalam versi-versi Inggris dan merupakan padan kata dari kata bahasa
Ibrani YHWH dalam LXX / Septuaginta (contoh: Yes 40:3; HR, II, 800-839)]
- hal 508.
Louis
Berkhof:
“KURIOS. ... This name does not
have exactly the same connotation as Yahweh, but designates God as the Mighty
One, the Lord, the Possessor, the Ruler who has legal power and authority”
(= KURIOS. ... Nama ini tidak mempunyai arti yang sama seperti YAHWEH, tetapi
menunjukkan Allah sebagai Yang Perkasa / Kuat, Tuhan, Pemilik, Pemerintah /
Penguasa yang mempunyai kuasa dan otoritas yang sah) - ‘Systematic Theology’, hal 50.
Selain
untuk menterjemahkan kata Ibrani YAHWEH, kata KURIOS juga digunakan untuk
menterjemahkan beberapa kata Ibrani lain, yang juga menunjuk kepada Allah.
W.
E. Vine: “KURIOS
is the Sept. and N.T. representative of Heb. Jehovah (‘LORD’ in Eng.
versions), see Matt. 4:7; Jas. 5:11, e.g., of adon, Lord, Matt. 22:44, and of
Adonay, Lord, 1:22; it also occurs for Elohim, God, 1Pet. 1:25” [= Dalam
Septuaginta dan Perjanjian Baru, KURIOS adalah wakil dari kata Ibrani Yehovah
(LORD / TUHAN dalam versi-versi Inggris), lihat Mat 4:7; Yak 5:11 sebagai
contoh, dari ADON, Tuhan / Tuan, Mat 22:44, dan dari ADONAY, Tuhan, Mat 1:22;
kata itu juga muncul untuk kata ELOHIM, Allah, 1Pet 1:25] - ‘An
Expository Dictionary of New Testament Words’, hal 688.
Catatan:
·
Mat 4:7 dikutip dari
Ul 6:16, tetapi kalau dalam Ul 6:16 digunakan kata YAHWEH, maka dalam
Mat 4:7 digunakan kata KURIOS.
·
Yak 5:11 tidak
terlalu jelas karena itu bukan suatu kutipan. Tetapi kata-kata ‘apa yang
pada akhirnya disediakan Tuhan baginya’ kelihatannya menunjuk pada bagian
akhir dari kitab Ayub, pada saat Tuhan memulihkan kesehatan dan harta Ayub,
yaitu Ayub 42:10. Dalam Ayub 42:10 digunakan kata YAHWEH, tetapi dalam Yak 5:11
digunakan kata KURIOS.
·
Mat 22:44 dikutip
dari Maz 110:1, tetapi kalau dalam Maz 110:1 digunakan kata ADON (=
tuan), maka dalam Mat 22:44 digunakan kata KURIOS.
·
Mat 1:22-23 dikutip
dari Yes 7:14, tetapi kalau dalam Yes 7:14 itu yang berbicara melalui
Yesaya adalah ADONAY, maka dalam Mat 1:22 yang berbicara melalui Yesaya
adalah KURIOS.
·
1Pet 1:25 dikutip
dari Yes 40:8, tetapi kalau dalam Yes 40:8 itu digunakan kata ELOHIM,
maka dalam 1Pet 1:25 digunakan kata KURIOS.
Tanggapan Yakub :
Saya juga tdk akan menanggapi masalah KURIOS, sebab sdh
ada di atas! Dan saya ingatkan justru dr tulisan bapak sendiri membuktikan bahwa
KURIOS itu BUKAN NAMA!. Saya tanya, bapak BUDI ASALI kalau di Arab, berubah jadi
apa? Lalu kalau di Amerika berubah menjadi apa? Tolong dijawab ya pak! Terima
kasih.
Selamat berkarya dan kiranya sukses selalu menyertai
bapak.
Tanggapan Budi Asali:
Saya tak pernah bilang kalau KURIOS itu nama. saya hanya bilang perubahan
itu dilakukan oleh PB, dan krn itu, itu pasti benar.
Di USA nama saya tetap, lalu apa hubungannya? Saya kan tak beri otoritas pd
siapapun utk ganti nama saya? Tetapi kalau saya punya pembantu, lalu menyebut /
memanggil saya ‘tuan’ saya tak akan marah. Bgm dg anda?
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali