Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Rabu, tanggal 30 April 2014, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

pembahasan ajaran

 

Pdt. Stephen Tong (1)

 

Pendahuluan.

 

Mengapa saya membahas ajaran Pdt. Stephen Tong? Karena beberapa alasan ini:

 

1)   Pdt. Stephen Tong adalah orang yang sangat terkenal, sangat berkharisma, yang menyebabkan banyak orang mengaminkan apapun yang dia katakan, tanpa mengecek benar atau tidaknya ajarannya. Karena itu, pada saat Pdt. Stephen Tong memberikan ajaran yang salah / sesat, ini sangat membahayakan. Saya hanya ingin memberikan ajaran alternatif terhadap ajaran-ajaran Pdt. Stephen Tong yang saya anggap salah / sesat. Orang mau memilih yang mana, itu urusan mereka dengan Tuhan.

 

2)   Pdt. Stephen Tong mengaku diri, dan dikenal sebagai, tokoh Reformed, padahal banyak ajaran Pdt. Stephen Tong yang tidak Reformed. Dan ini menyebabkan orang yang menerima apapun yang Pdt. Stephen Tong katakan, akan salah paham tentang ajaran Reformed yang sebenarnya, dan juga menyebabkan, pada waktu saya mengajarkan ajaran Reformed yang sesungguhnya, malah dicap sebagai Hyper-Calvinist! Ini khususnya berkenaan dengan ajaran bahwa Allah menentukan segala sesuatu (yang memang merupakan ajaran Reformed).

 

Ajaran-ajaran Pdt. Stephen Tong yang saya bahas adalah:

 

I) Pencabutan kependetaan.

 

“Pertanyaan: sinode GRII sudah mencabut kependetaan Bp. Nico dan Bp. Effendi namun mereka akan meneguhkan penggembalaan mereka kembali di dalam gereja baru mereka di dalam waktu dekat. Bahkan Bp. Rajali akan ditahbiskan menjadi pendeta missi oleh mereka. Upacara peneguhan dan pentahbisan ini akan dipimpin oleh Pdt. Peter Wongso. Bagaimana tanggapan Pdt. Stephen Tong?

Jawaban: Terserah! Itu adalah kebebasan mereka. GRII adalah gereja yang mendidik, gereja yang mengajar, gereja yang mengundang, gereja yang mentahbiskan kedua pendeta tersebut. Tetapi telah terjadi pemberontakan dan penyangkalan terhadap konstitusi GRII. Di Sidney warta gereja dari awal pakai nama GRII dan sampai sekarang tetap melanjutkan nomor warta mingguan, tapi mengatakan bahwa dari permulaan tidak ada hubungan dengan GRII. Ketika 5 orang dari sinode diutus kesana, saya mengatakan tidak perlu berdebat dan bertengkar, tanyakan saja 4 pertanyaan. Apakah Bp. Effendi dulu murid Pdt. Stephen Tong? Apakah dulu dia diundang dan diajar dalam sekolah theologia dan akhirnya engkau diundang menjadi pendeta di GRII? Apakah Bp. Effendi ditahbiskan menjadi pendeta oleh GRII? Apakah Bp. Effendi dikirim oleh GRII ke Sidney menjadi hamba Tuhan disitu? Tetapi pertanyaan ini tidak dijawab. Malah ia mengatakan bahwa dari permulaan tidak ada hubungan dengan pusat. Ini kalimat yang berlawanan dengan fakta. Maka sinode mengambil keputusan mencabut kependetaannya. Silahkan dia menjadi pendeta di luar GRII, itu kebebasan dia. Tapi dia tidak mungkin lagi diundang berkhotbah di semua GRII, karena kependetaannya dalam GRII sudah dicabut. Kita jelas sekali dalam melakukan semua ini, semua teratur, logis dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Pdt. Peter Wongso yang mentahbiskan karena harus senior yang diakui otoritasnya. Apakah Pdt. Peter Wongso mempunyai pendirian theologia Reformed? Tidak. Beliau seorang injili yang mengatakan doktrin predestinasi tidak usah dipercaya. Pertanyaan saya, gereja baru yang dinamakan apa oleh Bp. Effendi? Kalau masih pakai nama Reformed Evangelical, mengapa orang yang tidak bertheologia Reformed yang menahbiskan dia? Ini semua sudah bukan tanggung jawab saya. Sekarang saya mengatakan betul-betul setelah pemberontakan itu terjadi, mereka tidak ada lagi hubungan dengan gereja pusat.” - Ringkasan Khotbah GRII Jakarta.

 

Tanggapan saya:

 

Ini sebetulnya merupakan suatu praktek, bukan ajaran. Tetapi semua praktek, pasti didasarkan pada ajaran / kepercayaan. Karena itu, saya tetap membahasnya.

 

1)   Hanya Pdt. Effendi yang dinyatakan kesalahannya, dan itupun hanya dikatakan sebagai ‘pemberontakan’. Ini sama sekali tidak jelas. Sedangkan untuk Pdt. Nico tak disebutkan sama sekali apa kesalahannya. Demikian juga dengan Ev. Rajali.

 

2)   Sebetulnya kalau ada seseorang dalam gereja melakukan kesalahan, maka prosedur yang harus dilakukan ada dalam Alkitab, yaitu dalam Mat 18:15-17 - “(15) ‘Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. (16) Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. (17) Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai..

 

Kalau dari kutipan di atas, saya tidak melihat dilakukannya prosedur ini, tetapi Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa apa yang ia lakukan sudah ‘sesuai dengan kehendak Tuhan’.

 

3)   Saya percaya suatu gereja berhak memecat seorang pendeta kalau memang salah, tetapi saya tidak percaya bahwa suatu gereja berhak mencabut kependetaan dari seorang pendeta sekalipun pendeta itu ditahbiskan di dalam gereja itu. Gereja hanya alat Tuhan dalam mentahbiskan, sedang pentahbisan itu adalah dari Tuhan sendiri. Jadi, kalau sebuah gereja memecat seorang pendeta, maka sekalipun keluar dari gereja itu, maka pendeta itu tetap adalah seorang pendeta!

 

Bahkan Yudas Iskariot tidak pernah dicabut kerasulannya, kecuali oleh kematiannya.

Kis 1:20 - “‘Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya: dan: Biarlah jabatannya diambil orang lain.”.

Maz 109:8 - “Biarlah umurnya berkurang, biarlah jabatannya diambil orang lain.”.

 

Kalau memang gereja berhak mencabut kependetaan, maka logikanya / konsekwensinya, gereja juga berhak mencabut baptisan terhadap seseorang sehingga orang itu dinyatakan sebagai kafir / belum dibaptis. Ini jelas konyol / tak masuk akal!

 

4)   Tentang Pdt. Peter Wongso, saya mendapatkan informasi yang bisa dipercaya, bahwa beliau sudah membuang doktrin Arminianismenya, dan memeluk Calvinisme. Bahkan Pdt. Peter Wongso menarik buku-bukunya, yang berhaluan Arminianisme dari peredaran, dan memberitahu murid-muridnya kalau ajarannya yang dulu itu salah. Kelihatannya Pdt. Stephen Tong tidak tahu tentang hal ini, sehingga ia tetap menganggap Pdt. Peter Wongso sebagai seorang Arminian.

 

Dan seandainya Pdt. Peter Wongso memang tetap adalah seorang Arminian, lalu apa salahnya seorang Reformed ditahbiskan menjadi pendeta oleh seorang pendeta Arminian? Pdt. Stephen Tong sendiri mengakui Pdt. Peter Wongso sebagai ‘seorang injili’! Lalu mengapa tidak boleh mentahbiskan orang Reformed menjadi pendeta?

Catatan: saya sendiri ditahbiskan menjadi pendeta oleh Pdt. Suciono, yang saya kira bukan orang Reformed, dan saya tak bermasalah sama sekali dengan hal itu.

 

Apakah Pdt. Stephen Tong mau mendirikan tembok-tembok pemisah dalam gereja, yang sebetulnya sudah dihancurkan oleh kematian Kristus?

 

Ef 2:11-18 - “(11) Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu - sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat’, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, - (12) bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. (13) Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. (14) Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, (15) sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, (16) dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. (17) Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’, (18) karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.”.

 

Gal 3:28 - Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus..

 

1Kor 12:13 - Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh..

 

Kol 3:11 - “dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.”.

 

Apa gunanya Pdt. Stephen Tong mempercayai, menggunakan dan mengucapkan 12 Pengakuan Iman Rasuli, yang salah satu kalimatnya berbunyi ‘Gereja yang kudus dan Am, Persekutuan orang kudus’, kalau ternyata prakteknya berbeda total dengan pengakuan Imannya?

 

5)   Siapa yang mentahbiskan Stephen Tong menjadi pendeta?

Semua ini membuat saya bertanya-tanya: “Siapa gerangan pendeta yang mentahbiskan Stephen Tong sendiri”? Mengingat itu pasti sudah lama sekali, dan pada saat itu rasanya Reformed belum ngetrend di Indonesia, maka rasanya sukar bisa saya bayangkan bahwa ia ditahbiskan oleh seorang pendeta Reformed. Saya lalu mencari informasi tentang hal itu.

Setelah saya bertanya-tanya kepada beberapa teman (salah satunya adalah seorang pendeta yang dulunya menjadi pendeta di GKKK), maka saya mendapat informasi yang sangat mengejutkan saya!

Ada 2 sumber yang berbeda, yang mengatakan hal yang sama, yaitu bahwa yang mentahbiskan Stephen Tong menjadi pendeta JUGA ADALAH Pdt. Peter Wongso!!!!

Memang Pdt. Stephen Tong adalah lulusan SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara), dan pada waktu mudanya ada di lingkungan SAAT dan GKKK (Gereja Kristen Kalam Kudus). Jadi, memang sangat logis kalau yang mentahbiskan dia menjadi pendeta adalah Pdt. Peter Wongso (rektor SAAT pada waktu itu)!

Catatan:

a)         SAAT pada saat itu namanya masih MAAT (Madrasah Alkitab Asia Tenggara).

b)         Stephen Tong ditahbiskan menjadi pendeta tahun 1982, sebelum itu ia hanya berstatus Ev.

c)         Foto pentahbisan Stephen Tong menjadi pendeta oleh Pdt. Peter Wongso terlampir.

d)   Foto Pdt. Peter Wongso bisa dilihat di: http://gosipnya.blogspot.com/2012/06/gereja-kristen-kalam-kudus.html

 

Ini menjadi suatu kekonyolan yang luar biasa, karena Pdt. Stephen Tong mengkritik Pdt. Effendi, Pdt. Nico, Pdt. Rajali, karena mereka ditahbiskan oleh Pdt. Peter Wongso, padahal Pdt. Stephen Tong sendiri juga ditahbiskan oleh orang yang sama! BAGUS SEKALI!!! Apakah Pdt. Stephen Tong lupa bahwa yang mentahbiskan dia adalah orang yang sama dengan yang mentahbiskan 3 orang yang ia bicarakan????

 

Dan kalau 3 orang ini ditahbiskan oleh Pdt. Peter Wongso yang sudah berubah pandangan menjadi Reformed, maka Pdt. Stephen Tong ditahbiskan oleh Pdt. Peter Wongso, pada saat Pdt. Peter Wongso jelas-jelas masih Arminian!!!

 

II) Penggunaan kata ‘ELOHIM’ untuk membuktikan doktrin Allah Tritunggal.

 

Dalam membahas tentang kata ELOHIM ini, Pdt. Stephen Tong dalam seminar dan bukunya berkata bahwa dalam bahasa Ibrani ada bentuk singular (= tunggal), bentuk dual (= ganda / dobel), dan bentuk plural (= jamak). Dan ia lalu berkata, bahwa penggunaan bentuk singular berarti kita membicarakan hanya satu, bentuk dual berarti kita membicarakan dua, sedangkan bentuk plural berarti kita membicarakan tiga atau lebih. Istilah ELOHIM tidak ada dalam bentuk singular, tidak di dalam bentuk dual, tetapi ada dalam bentuk plural, dan ini menunjukkan tiga atau lebih (dalam hal ini tentu ia memilih tiga, bukan lebih dari tiga) - Stephen Tong, ‘Allah Tritunggal’, hal 28.

Catatan: ajaran ini juga saya dengar sendiri secara langsung di Surabaya (kira-kira tahun 1988).

 

Pembahasan ini boleh jadi menarik, tetapi sangat salah! Mengapa? Karena penjelasan ini tidak sesuai dengan gramatika bahasa Ibrani. Perlu diketahui bahwa dalam bahasa Ibrani:

 

1)   Tidak ada satu kata bendapun yang mempunyai bentuk singular, dual dan plural.

Kalau kata benda mempunyai bentuk singular dan dual, maka kata itu tidak mempunyai bentuk plural, dan kalau kata benda itu mempunyai bentuk singular dan plural, maka kata itu tidak mempunyai bentuk dual.

 

2)   Bentuk dual adalah bentuk plural dari kata benda yang biasanya ada dalam bentuk ganda / dobel, seperti tangan, kaki, telinga, dada, mata, dsb. Karena itu, kalau kita ingin mengatakan ‘tiga tangan’, maka kita tetap menggunakan bentuk dual, bukan bentuk plural, karena kata ‘tangan’ tidak mempunyai bentuk plural! Karena itu kalau digunakan bentuk dual, belum tentu jumlahnya dua!

 

Menahem Mansoor: Dual Number. There is another kind of plural, known as the dual number, for the double members of the body (eyes, hands, feet, and ears) and for other objects found in pairs. [= Bentuk Dual. Disana ada suatu jenis yang lain dari bentuk jamak, dikenal sebagai bentuk dual, untuk anggota-anggota ganda dari tubuh (mata, tangan, kaki dan telinga) dan untuk obyek-obyek lain yang didapati dalam pasangan.] - ‘Biblical Hebrew Step By Step’, vol 1, hal 55.

 

Menahem Mansoor: In addition, there is another kind of plural in Hebrew, known as the dual number, for the paired organs of the body such as hands, ears, eyes, etc., and for things that come in pairs, such as shoes, wings, etc. (= Sebagai tambahan, disana ada suatu jenis bentuk jamak lain dalam bahasa Ibrani, dikenal sebagai bentuk dual, untuk organ-organ tubuh yang berpasangan seperti tangan, telinga, mata, dsb., dan untuk benda-benda yang ada dalam pasangan, seperti sepatu, sayap, dsb.) - ‘Biblical Hebrew Step By Step’, vol 1, hal 124.

 

Menahem Mansoor: The dual merely signifies the plural number and not necessarily the dual number two. (= Bentuk dual semata-mata berarti bentuk jamak, dan tidak harus bilangan dua.) - ‘Biblical Hebrew Step By Step’, vol 1, hal 125.

 

Catatan: ini adalah buku pelajaran bahasa Ibrani yang saya gunakan di semester pertama waktu saya belajar theologia di RTS (Reformed Theological Seminary), Jackson, Mississippi, USA. Dosen saya pada waktu itu adalah Dr. Knox Chamblin (sekarang sudah meninggal).

 

3)   Sebaliknya kalau kita mengatakan ‘dua meja’, maka kita tetap menggunakan bentuk plural, bukan bentuk dual, karena kata ‘meja’ tidak mempunyai bentuk dual. Demikian juga kalau kita mau berkata ‘dua allah’, maka kita tetap harus menggunakan bentuk plural ELOHIM, karena kata itu memang tidak mempunyai bentuk dual.

 

Kesimpulan: tidak beralasan untuk mengatakan bahwa bentuk plural ELOHIM berarti tiga atau lebih!

 

III) Pdt. Stephen Tong dan Alkitab / Firman Tuhan.

 

1)   Pengutipan yang ceroboh dan salah dari Alkitab / Firman Tuhan.

 

a)   Dalam salah satu khotbahnya di TV Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa batu dari pengumban Daud mengenai pelipis Goliat.

 

Bdk. 1Sam 17:49 - “lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah DAHI orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam DAHInya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah.”.

KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV: ‘forehead’ (= dahi).

 

Ini memang merupakan hal kecil, bukan kesalahan doktrinal / moral, tetapi ini menunjukkan kecerobohan Pdt. Stephen Tong dalam menggunakan Alkitab.

 

b)         Dalam khotbahnya tentang hukum ke 9, Pdt. Stephen Tong berkata:

“Tetapi what you talk, abdikan dirimu kepada kebenaran. Yesus berkata: Yang ya katakan ya, yang tidak katakan tidak. Lebih dari itu engkau milik setan.

Bdk. Mat 5:37 - “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”.

 

Keterangan: kalau dari kata-kata Pdt. Stephen Tong, maka orangnya yang merupakan milik setan, tetapi kalau dari Mat 5:37 maka kata-kata yang lebih dari pada ‘ya’ / ‘tidak’ itu yang berasal dari setan. Ini jelas beda!

 

Dan kata-kata Yesus ini sama sekali bukan bertujuan melarang dusta (hukum ke 9), tetapi melarang sumpah yang sembarangan. Ini terlihat dari kontextnya.

Mat 5:33-37 - “(33) Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. (34) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, (35) maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kakiNya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; (36) janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. (37) Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”.

 

Jadi yang dimaksudkan adalah, kalau mau mengatakan ‘ya’ orangnya berkata ‘sumpah ya’. Ini yang dimaksudkan dengan ‘lebih dari pada itu’.

 

c)   Dalam khotbahnya tentang hukum ke 9, Pdt. Stephen Tong mengatakan:

“Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu atau jangan mengkeluarkan kalimat yang tidak benar untuk mencelakakan orang lain .....”.

 

“Hukum 9: Jangan berdusta mencelakakan orang lain. Saya dari kecil memperhatikan akan hukum ini. Tidak ditulis jangan berdusta menolong orang lain. Ndak ada! Juga tidak dikatakan ‘jangan berdusta’

waktu mencuri tidak dikatakan jangan mencuri (?)

Jangan berzinah. Stop.

Jangan membunuh. Stop.

Heran, di dalam hukum 9: Jangan berdusta demi mencelakakan orang lain. Di sini ada suatu syarat. Seperti jangan membuat patung bagi dirimu dan menyembahnya. Disitu point yang paling penting bukan bikin patung ndak bikin patung. Disitu penting ‘for you yourself and for worshipping them’. Itu yang tidak boleh.

Sehingga akhirnya Tuhan membikin patung, suruh orang Israel bikin patung. Dua dari pada kerubim yang berada di atas peti perjanjian. Boleh bikin patung. Boleh taruh disitu. Karena disini adalah mengutarakan keadilan Tuhan dan bukan demi kemauan dirimu sendiri dan demi menyembah dia. Itu yang tidak boleh.

Jadi perintah ke 2 dan perintah ke 9 itu mempunyai kalimat-kalimat yang diberikan penjelasan. Bukan hanya sekedar suatu perintah. Thou shall not steal. Thou shall not kill. Thou shall not commit adultery. Bukan begitu gampang. Janganlah bersaksi dusta demi mencelakakan orang lain. Itu sebabnya Alkitab mencatat kasus dari pada Rahab. Dia berdusta demi menolong orang lain. Dengan tidak mencelakakan orang lain. Boleh tidak? Sekali lagi saya tidak katakan boleh atau tidak boleh. Saya katakan tidak mungkin tidak berdusta”.

 

Saya tidak bisa menemukan dalam bagian manapun dari Alkitab ada ayat yang berbunyi “Janganlah bersaksi dusta demi mencelakakan orang lain.”.

 

Dalam 10 hukum Tuhan, baik dalam Kel 20:16, maupun dalam Ul 5:20, kata-katanya hanya berbunyi: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.”.

 

Ayat-ayat dalam 5 kitab Musa yang mengandung kata ‘dusta’ atau ‘berdusta’ ada di bawah ini:

 

Kel 5:9 - “Pekerjaan orang-orang ini harus diperberat, sehingga mereka terikat kepada pekerjaannya dan jangan mempedulikan perkataan dusta.’”.

Kel 20:16 - “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.”.

Kel 23:7 - “Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta. Orang yang tidak bersalah dan orang yang benar tidak boleh kaubunuh, sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah.”.

Im 6:3 - “atau bila ia menemui barang hilang, dan memungkirinya, dan ia bersumpah dusta - dalam perkara apapun yang diperbuat seseorang, sehingga ia berdosa - ”.

Im 6:5 - “atau segala sesuatu yang dimungkirinya dengan bersumpah dusta. Haruslah ia membayar gantinya sepenuhnya dengan menambah seperlima; haruslah ia menyerahkannya kepada pemiliknya pada hari ia mempersembahkan korban penebus salahnya.”.

Im 19:12 - “Janganlah kamu bersumpah dusta demi namaKu, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.”.

Ul 5:20 - “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.”.

Ul 19:18 - “Maka hakim-hakim itu harus memeriksanya baik-baik, dan apabila ternyata, bahwa saksi itu seorang saksi dusta dan bahwa ia telah memberi tuduhan dusta terhadap saudaranya,”.


Im 19:11 - “Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya.”.

Bil 23:19 - “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”.

 

Catatan: Saya bahkan juga mengecek ayat-ayat lain dalam seluruh Alkitab yang menggunakan kata ‘dusta’ atau ‘berdusta’, dan tak menemukan ayat seperti yang Pdt. Stephen Tong kutip, tetapi semua itu terlalu banyak untuk dituliskan di sini.

 

Kesimpulan: tidak ada ayat yang mirip dengan ‘ayat’ yang diucapkan oleh Pdt. Stephen Tong.

Jadi, dari mana Pdt. Stephen Tong mendapatkan ‘ayat’ yang berbunyi:

1.   “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu atau jangan mengkeluarkan kalimat yang tidak benar untuk mencelakakan orang lain .....”?

2.   “Janganlah bersaksi dusta demi mencelakakan orang lain.”?

 

Jadi, ini merupakan suatu pengutipan ayat yang tidak ada dalam Alkitab! Dan ‘ayat’ dari Pdt. Stephen Tong ini sangat membahayakan, karena secara implicit mengijinkan dusta pada saat dusta itu bukan bertujuan untuk mencelakakan orang lain, padahal sebetulnya, menurut saya, Alkitab secara mutlak melarang dosa, dalam sikon apapun. Jadi, dusta Rahab, jelas-jelas merupakan dosa. Bisa dimengerti, tetapi tidak bisa dibenarkan!

 

d)   Dalam khotbah / ajarannya tentang Khong Hu Cu, Pdt. Stephen Tong mengutip ayat dari Kisah Rasul 10 (tanpa menyebutkan ayat berapa) sebagai berikut: “ternyata semua orang yang baik di dunia diterima oleh Tuhan”.

Tidak bisa tidak, yang Pdt. Stephen Tong kutip adalah Kis 10:35. Sekarang bandingkan kutipan Pdt. Stephen Tong yang sembrono / serampangan itu dengan ayat aslinya yang berbunyi sebagai berikut:

Kis 10:35 - “Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya.”.

Ada 2 hal yang perlu dipersoalkan tentang hal ini:

 

1.   Penekanan dari ayat ini, kalau dilihat dari seluruh kontext (Kis 10), adalah bahwa Tuhan tidak membedakan antara orang dari bangsa Yahudi dan orang dari bangsa non Yahudi.

Tetapi justru kata-kata ‘dari bangsa manapun’ dalam Kis 10:35 ini dihapuskan oleh Pdt. Stephen Tong pada waktu ia mengutip ayat ini secara serampangan!

 

J. A. Alexander: “The essential meaning is that whatever is acceptable to God in one race is acceptable in any other” (= Arti yang hakiki dari ayat ini adalah bahwa apapun yang bisa diterima oleh Allah dalam satu bangsa bisa diterima dalam bangsa yang lain) - hal 409.

 

2.   Pdt. Stephen Tong mengatakan ‘orang yang baik’, tetapi ay 35 sebetulnya mengatakan takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran. Ini merupakan dua hal yang sangat berbeda.

Banyak penafsir (termasuk Calvin) yang menganggap bahwa kata-kata ‘takut akan Allah’ menunjuk pada kesalehan terhadap Allah, sedangkan kata-kata ‘mengamalkan kebenaran’ menunjuk pada kesalehan terhadap sesama manusia. Jadi, kata-kata ‘takut akan Allah dan mengamalkan kebenaran’ tentu tidak bisa secara serampangan diganti dengan kata-kata ‘orang yang baik’!

 

2)   Penggunaan Kitab Suci / ajaran agama lain.

 

a)   Dalam ajarannya tentang Khong Hu Cu, Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa orang Kristen dan hamba-hamba Tuhan perlu mengerti ajaran Khong Hu Cu untuk membantu mereka menjadi orang-orang Kristen yang lebih bertanggung jawab.

 

Tanggapan saya: Menurut saya ini merupakan penghinaan / perendahan terhadap Alkitab kita sendiri. Apakah Alkitab yang kita punyai tidak lengkap atau tidak cukup, sehingga kita harus menggunakan ajaran Khong Hu Cu untuk bisa menjadi orang-orang Kristen yang lebih bertanggung jawab??

Bdk. 2Tim 3:16-17 - “(16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”.

 

Juga kata-kata Pdt. Stephen Tong ini jelas bertentangan dengan semboyan Reformasi ‘Sola Scriptura’ (= Hanya Kitab Suci)!

 

b)         Pdt. Stephen Tong menggunakan Al-Quran sebagai dasar ajaran.

 

Pdt. Stephen Tong: “Mujizat yang Yesus lakukan, yang tercatat di Alkitab saja ada tiga puluh lima kali, melampaui akumulasi dari semua mujizat yang pernah manusia lakukan di sepanjang sejarah. Di luar itu, adakah mujizat-mujizat lain yang Yesus lakukan? Saya percaya, masih banyak. Karena di penutup Injil Yohanes tertulis: kalau semua perkara yang Yesus perbuat dituliskan satu per satu, maka agaknya, seluruh dunia tak sanggup menampungnya. Dan memang, di Al’quran juga terdapat dua mujizat Yesus, yang tak tertulis di Alkitab. 1. saat orang-orang mencerca, menghujat Maria: ‘perempuan najis, perempuan zinah; belum menikah sudah hamil’. Jawabnya: saat bayiku lahir nanti, tanyakan saja padaNya, apa Dia lahir karena perzinahan? Dan benar, saat Yesus lahir, Dia dapat berkata-kata, menjelaskan bahwa Dia bukan anak haram. 2. suatu kali, saat orang-orang yang meragukan Yesus Kristus berasal dari Allah itu mengelilingi Dia, Dia menundukkan kepala, mengambil sebongkah tanah liat dan dibentuknyalah seekor burung, lalu menghembuskan nafas ke hidungnya, dan terbanglah burung itu ke angkasa. Merupakan salah satu bukti bahwa apa yang Yohanes katakan benar adanya” - dikutip dari Ringkasan Khotbah Gereja Reformed Injili Indonesia, tahun ke - 22 No 1117, 6 Feb 2011, hal 2, kolom 1.

 

Tanggapan saya:

Kata-kata Pdt. Stephen Tong tentang mujijat yang dilakukan oleh Yesus dalam Al-Quran itu kelihatannya adalah ayat-ayat Al-Quran di bawah ini:

 

S U R A T   A L - I M R O N

3:49. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel ( yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman."

 

S U R A T   A L - M A A I D A H

5:110. (Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."

 

S U R A T   M A R Y A M

19:27. Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

19:29. maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?"

 

Tetapi penggunaan Al-Quran sebagai dasar ajaran, lagi-lagi merupakan ajaran yang bertentangan dengan semboyan Reformasi ‘Sola Scriptura’ (= Hanya Kitab Suci)!!

 

Disamping itu, kalau Pdt. Stephen Tong menerima ajaran dari Al-Quran yang dipersoalkan, maka ia akan menabrak ayat-ayat Alkitab ini:

 

1.   Yoh 2:11 - Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tandaNya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaanNya, dan murid-muridNya percaya kepadaNya..

 

Matthew Henry (tentang Yoh 2:11): Many miracles had been wrought concerning him at his birth and baptism, and he himself was the greatest miracle of all; but this was the first that was wrought by him. (= Banyak mujijat telah dibuat berkenaan dengan Dia pada kelahiranNya dan baptisanNya, dan Ia sendiri adalah mujijat yang terbesar dari semua; tetapi ini adalah mujijat pertama yang dibuat olehNya.).

 

Calvin (tentang Yoh 2:11): “The meaning is, that this was the first of Christ’s miracles; for when the angels announced to the shepherds that he was born in Bethlehem, (Luke 2:8,) when the star appeared to the Magi, (Matthew 2:2,) when the Holy Spirit descended on him in the shape of a dove, (Matthew 3:16; Mark 1:10; John 1:32,) though these were miracles, yet, strictly speaking, they were not performed by him; but the Evangelist now speaks of the miracles of which he was himself the Author. For it is a frivolous and absurd interpretation which some give, that this is reckoned the first among the miracles which Christ performed in Cana of Galilee; as if a place, in which we do not read that he ever was more than twice, had been selected by him for a display of his power. It was rather the design of the Evangelist to mark the order of time which Christ followed in the exercise of his power. For until he was thirty years of age, he kept himself concealed at home, like one who held no public office. Having been consecrated, at his baptism, to the discharge of his office, he then began to appear in public, and to show by clear proofs for what purpose he was sent by the Father. We need not wonder, therefore, if he delayed till this time the first proof of his Divinity.” [= Artinya adalah, bahwa ini adalah yang pertama dari mujijat-mujijat Kristus; karena pada saat malaikat-malaikat mengumumkan kepada gembala-gembala bahwa Ia telah dilahirkan di Betlehem, (Luk 2:8), pada saat bintang tampak kepada orang-orang Majus, (Mat 2:2), pada saat Roh Kudus turun kepadaNya dalam bentuk seekor burung merpati, (Mat 3:16; Mark 1:10; Yoh 1:32), sekalipun ini adalah mujijat-mujijat, tetapi berbicara secara ketat, mujijat-mujijat ini tidak dilakukan olehNya; tetapi sang Penginjil sekarang berbicara tentang mujijat-mujijat tentang mana Ia sendiri adalah Penciptanya. Karena merupakan suatu penafsiran yang sembrono dan menggelikan / konyol yang beberapa orang berikan, bahwa ini dianggap sebagai mujijat yang pertama di antara mujijat-mujijat yang Kristus lakukan di Kana dari Galilea; seakan-akan sebuah tempat, dimana kita tidak membaca bahwa Ia pernah lebih dari dua kali, telah memilihnya untuk suatu pertunjukan kuasaNya. Tetapi lebih merupakan rancangan dari sang Penginjil untuk menandai urut-urutan waktu yang Kristus ikuti dalam menggunakan kuasaNya. Karena sampai Ia berumur 30 tahun, Ia menjaga diriNya sendiri tersembunyi di rumah, seperti seseorang yang tidak memegang jabatan umum apapun. Setelah ditahbiskan, pada baptisanNya, pada pelaksanaan jabatanNya, maka pada saat itu Ia mulai muncul di depan umum, dan menunjukkan dengan bukti-bukti yang jelas untuk tujuan apa Ia diutus oleh sang Bapa. Karena itu kita tidak perlu heran, jika Ia menunda sampai waktu ini bukti pertama dari keilahianNya.].

 

2.   Yoh 4:54 - Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea..

 

Siapapun yang menggunakan bahan apapun di luar Alkitab / Firman Tuhan sebagai dasar ajaran, harus memperhatikan ayat-ayat ini:

·         Ul 4:2 - “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu.”.

·         Ul 12:32 - “Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.”.

·         Amsal 30:6 - “Jangan menambahi firmanNya, supaya engkau tidak ditegurNya dan dianggap pendusta.”.

·         Mat 5:19 - “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”.

·         Wah 22:18-19 - “(18) Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. (19) Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.

·         Yes 8:20 - “‘Carilah pengajaran dan kesaksian!’ Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar.”.

 

Victor Budgen mengutip kata-kata John Owen, seorang ahli theologia Reformed yang hidup pada tahun 1616-1683. John Owen berkata sebagai berikut tentang ‘revel­ations’ (= wahyu):

“They are of two sorts - objective and subjective. Those of the former sort, whether they contain doctrines contrary unto that of Scripture, or additional thereunto, or seemingly confirmato­ry thereof, they are universally to be rejected, the former being absolutely false, the latter useless. ... By subjective revelations, nothing is intended but that work of spiritual illumination whereby we are enabled to discern and understand the mind of God in the Scripture; which the apostle prays for in the behalf of believers (Eph 1:16-19) ...” [= Mereka (Wahyu-wahyu) terdiri dari 2 macam - obyektif dan subyektif. Yang tergolong jenis pertama (wahyu obyektif), apakah itu berisikan ajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci, atau ajaran yang ditambahkan pada Kitab Suci, atau ajaran yang kelihatannya meneguhkan Kitab Suci, harus ditolak secara universal, yang pertama karena palsu, yang terakhir karena tidak berguna. ... Yang dimaksud dengan wahyu subyektif tidak lain adalah pekerjaan pencerahan rohani dengan mana kita dimampukan untuk melihat dan mengerti pikiran Allah dalam Kitab Suci; yang untuknya sang rasul berdoa demi orang percaya (Ef 1:16-19) ...] - ‘The Charismatics and the Word of God’, hal 138.

 

Kata-kata John Owen agak sukar dimengerti oleh orang yang tak terbiasa dengan bahasa Theologia, dan karena itu perlu saya jabarkan. John Owen mengatakan bahwa ada dua golongan wahyu:

1.         Wahyu obyektif. Ini terdiri dari dua golongan lagi:

a.   Wahyu yang berisi ajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci / Alkitab. Ini ia sebut sebagai palsu.

b.   Wahyu yang berisi ajaran yang ditambahkan pada Kitab Suci / Alkitab, atau yang meneguhkan Kitab Suci / Alkitab. Ini ia sebut tidak berguna.

2.   Wahyu subyektif. Ini ia artikan sebagai pekerjaan pencerahan rohani (dari Tuhan / Roh Kudus) yang menyebabkan kita bisa mengerti Kitab Suci / Alkitab. Ini tentu saja ia terima.

 

Ajaran Pdt. Stephen Tong yang menggunakan Al-Quran maupun ajaran Khong Hu Cu, jelas termasuk dalam Wahyu obyektif.

 

Bandingkan cara Pdt. Stephen Tong berkhotbah / mengajar, dengan menggunakan ayat Alkitab secara sembarangan / sembrono, atau dengan menggunakan Kitab Suci / ajaran agama lain itu, dengan kata-kata di bawah ini:

 

D. Martyn Lloyd-Jones: “it should be clear to people that what we are saying is something that comes out of the Bible. ... I have known men who have just opened the Bible to read the text. They then shut the Bible and put it on one side and go on talking. I think that is wrong from the standpoint of true preaching. We are always to give the impression, and it may be more important than anything we say, that what we are saying comes out of the Bible, and always comes out of it. That is the origin of our message, this is where we have received it” (= harus jelas bagi orang-orang bahwa apa yang sedang kita katakan adalah sesuatu yang keluar dari Alkitab. ... Saya tahu orang-orang yang hanya membuka Alkitab untuk membaca textnya. Lalu mereka menutup Alkitab dan meletakkannya di satu sisi dan melanjutkan berbicara. Saya pikir itu adalah salah dari sudut pandang khotbah yang benar. Kita harus selalu memberikan kesan, dan itu bisa lebih penting dari apapun yang kita katakan, bahwa apa yang sedang kita katakan keluar dari Alkitab, dan selalu keluar darinya. Itu adalah asal usul / sumber dari berita kita, ini adalah dari mana kita telah menerimanya) - ‘Preaching and Preachers’, hal 75.

 

Sebagai penutup dari point III ini, saya ingin membahas pertanyaan, ‘Apakah Pdt. Stephen Tong memang tidak percaya pada Sola Scriptura (= Hanya Kitab Suci)?’ Saya jawab sendiri pertanyaan itu. ‘Saya yakin Pdt. Stephen Tong percaya Sola Scriptura!’ Jadi, Pdt. Stephen Tong maupun para pendukungnya pasti bisa memberikan khotbah / ajaran Pdt. Stephen Tong yang menunjukkan bahwa Pdt. Stephen Tong percaya pada Sola Scriptura. Saya yakin akan hal itu. Tetapi yang saya tak habis pikir adalah, kalau Pdt. Stephen Tong memang percaya Sola Scriptura, mengapa ia bisa mengajar seperti yang saya berikan di atas? Saya kira itu hanyalah merupakan suatu blunder, dan saya berharap Pdt. Stephen Tong mau meralat ajarannya itu.

 

 

-bersambung-

 

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org