Kebaktian

Minggu, tgl 4 Maret 2007, pk 17.00

 Persekutuan

 “GOLGOTA”

 

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3, Surabaya)

 Pdt. Budi Asali, M.Div.

 

Golgota(2)

Penolakan Anggur

 

Mat 27:33-35 - “(33) Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak. (34) Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya. (35) Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaianNya dengan membuang undi”.

 

Mark 15:22-24 - “(22) Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak. (23) Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepadaNya, tetapi Ia menolaknya. (24) Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaianNya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing”.

 

I) Ada 2 x pemberian minum kepada Yesus.

 

Penjelasan di bawah ini perlu saudara ketahui supaya saudara tidak menganggap bahwa terjadi kontradiksi berkenaan dengan peristiwa pemberian minum kepada Yesus ini.

 

Peristiwa pemberian minum dalam text-text di atas berbeda dengan peristiwa pemberian minum anggur asam kepada Yesus dalam Mat 27:48 / Mark 15:36 / Yoh 19:28-30a.

Mat 27:47-50 - “(47) Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: ‘Ia memanggil Elia.’ (48) Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. (49) Tetapi orang-orang lain berkata: ‘Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.’ (50) Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawaNya”.

Mark 15:34-37 - “(34) Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (35) Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: ‘Lihat, Ia memanggil Elia.’ (36) Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: ‘Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.’ (37) Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawaNya”.

Yoh 19:28-30 - “(28) Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci -: ‘Aku haus!’ (29) Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. (30) Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya”.

 

Dari perbandingan semua text-text di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa memang terjadi pemberian minum 2 x kepada Yesus. Perhatikan fakta-fakta di bawah ini:

 

1)  Matius dan Markus memang menceritakan 2 x pemberian minum yang berbeda.

Yang pertama terjadi dalam Mat 27:34 / Mark 15:23; yang kedua terjadi dalam Mat 27:48 / Mark 15:36 / Yoh 19:29-30a.

 

2)  Pemberian minum yang pertama terjadi sesaat sebelum penyaliban; pemberian minum yang kedua terjadi pada saat Yesus sudah disalibkan, bahkan mungkin pada akhir dari penyaliban, pada saat Yesus hampir mati.

 

Matthew Henry (tentang Mat 27:34): “the drink they provided for him before he was nailed to the cross, v. 34” (= minuman yang mereka sediakan untuk Dia sebelum Ia dipakukan pada salib, ay 34).

 

3)  Pemberian minum yang pertama ditolak oleh Yesus; pemberian minum yang kedua terjadi setelah Ia berseru ‘Aku haus’ (Yoh 19:28-30a), dan ini diterima oleh Yesus.

 

Barnes’ Notes: “This was presented to him in the early part of his sufferings, or when he was about to be suspended on the cross. ‘Afterward,’ when he was on the cross and just before his death, vinegar was offered to him ‘without the myrrh’ - the vinegar which the soldiers usually drank - and of this he drank. See Matt. 27:49, and John 19:28-30. When Matthew and Mark say that he ‘would not drink,’ they refer to a different thing and a different time from John, and there is no contradiction” (= Ini diberikan kepadaNya pada bagian awal dari penderitaanNya, atau pada waktu Ia akan digantungkan pada salib. ‘Belakangan’, pada waktu ia ada di salib dan persis sebelum kematianNya, cuka / anggur asam ditawarkan kepadaNya ‘tanpa mur’ - cuka / anggur asam yang biasanya diminum tentara-tentara - dan ia meminum minuman ini. Lihat Mat 27:49, dan Yoh 19:28-30. Pada waktu Matius dan Markus berkata bahwa ia ‘tidak mau meminumnya’, mereka menunjuk pada hal yang berbeda dan saat yang berbeda dari Yohanes dan di sana tidak ada kontradiksi).

 

4)  Dalam pemberian minum yang pertama Yesus diberi anggur bercampur mur / empedu; sedangkan dalam pemberian minum yang kedua Yesus diberi anggur asam.

 

5)  Pemberian minum yang pertama merupakan penggenapan dari Maz 69:22a; sedangkan pemberian minum yang kedua merupakan penggenapan dari Maz 69:22b.

Maz 69:22 - (a) Bahkan, mereka memberi aku makan racun, (b) dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam”.

Catatan: dalam Kitab Suci Indonesia Maz 69:22a itu salah terjemahan.

Maz 69:22a - “Bahkan, mereka memberi aku makan racun.

RSV: ‘poison’ (= racun).

KJV/NIV/NASB: ‘gall’ (= empedu).

 

Kata bahasa Ibraninya sebetulnya memang bisa berarti ‘racun’ atau ‘bisa’, tetapi juga bisa berarti ‘empedu’. Dalam menterjemahkan, kita harus memilih yang tepat. Kalau kita memilih ‘racun’, lalu bagaimana menyesuaikannya dengan penggenapan ayat itu di sini? Masakan Yesus memang diberi racun? Jadi, kita harus memilih terjemahan ‘empedu’.

 

Keil & Delitzsch (tentang Maz 69:22): ro’sh signifies first of all a poisonous plant ...; but then, since bitter and poisonous are interchangeable notions in the Semitic languages, it signifies gall as the bitterest of the bitter” (= RO’SH pertama-tama menunjuk pada suatu tanaman beracun ...; tetapi lalu, karena ‘pahit’ dan ‘beracun’ merupakan gagasan yang bisa dibolak-balik dalam bahasa-bahasa Semitik, itu menunjuk pada empedu sebagai yang paling pahit dari yang pahit).

 

Barnes’ Notes: “‘Gall for my meat.’ ... Or, they gave me this ‘instead’ of wholesome food. The word here rendered ‘gall’ - (ro’sh) - is the same ‘in form’ which is commonly rendered ‘head,’ and occurs in this sense very often in the Scriptures. It is also used to denote a ‘poisonous plant,’ ... The word then comes to denote poison; venom; anything poisonous; and then, anything very bad-tasted; ‘bitter.’ It is rendered ‘gall,’ as here, in Deut. 29:18; Jer. 8:14; 9:15; 23:15; Lam. 3:5,19; Amos 6:12; ‘venom’ in Deut. 32:33; ‘poison,’ in Job 20:16; and ‘hemlock,’ in Hos. 10:4” [= ‘Empedu untuk makananku’. ... Atau, mereka memberikan ini dan bukannya makanan yang sehat. Kata yang di sini diterjemahkan ‘empedu’ - (RO’SH) - adalah sama bentuknya dengan yang biasanya diterjemahkan ‘kepala’, dan muncul dalam arti ini sangat sering dalam Kitab Suci. Itu juga digunakan untuk menunjuk pada ‘suatu tanaman beracun’, ... Kata itu lalu menunjuk pada racun; bisa; apapun yang beracun; dan lalu, apapun yang rasanya tidak enak; ‘pahit’. Itu diterjemahkan ‘empedu’, seperti di sini, dalam Ul 29:18; Yer 8:14; 9:15; 23:15; Rat 3:5,19; Amos 6:12; ‘bisa’ dalam Ul 32:33; ‘racun’ dalam Ayub 20:16; dan ‘cemara beracun’ dalam Hos 10:4].

 

Ul 29:18 - “Sebab itu janganlah di antaramu ada laki-laki atau perempuan, kaum keluarga atau suku yang hatinya pada hari ini berpaling meninggalkan TUHAN, Allah kita, untuk pergi berbakti kepada allah bangsa-bangsa itu; janganlah di antaramu ada akar yang menghasilkan racun [KJV: ‘gall’ (= empedu)] atau ipuh”.

Yer 8:14 - “Mengapakah kita duduk-duduk saja? Berkumpullah dan marilah kita pergi ke kota-kota yang berkubu dan binasa di sana! Sebab TUHAN, Allah kita, membinasakan kita, memberi kita minum racun [KJV: ‘water of gall’ (= air empedu)], sebab kita telah berdosa kepada TUHAN”.

Yer 9:15 - “Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Sesungguhnya, Aku akan memberi bangsa ini makan ipuh dan minum racun [KJV: ‘water of gall’ (= air empedu)].

Yer 23:15 - “Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam mengenai para nabi itu: ‘Sesungguhnya, Aku akan memberi mereka makan ipuh dan minum racun [KJV: ‘water of gall’ (= air empedu)], sebab dari para nabi Yerusalem telah meluas kefasikan ke seluruh negeri.’”.

Rat 3:5,19 - “(5) Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan [KJV: ‘gall’ (= empedu)] dan kesusahan. ... (19) ‘Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun  [KJV: ‘gall’ (= empedu)]itu.’”.

Amos 6:12 - “Berlarikah kuda-kuda di atas bukit batu, atau dibajak orangkah laut dengan lembu? Sungguh, kamu telah mengubah keadilan menjadi racun  [KJV: ‘gall’ (= empedu)]dan hasil kebenaran menjadi ipuh!”.

Ul 32:33 - “Air anggur mereka adalah racun ular, dan bisa [KJV: ‘venom’ (= bisa)] ular tedung yang keras ganas”.

Ayub 20:16 - Bisa [KJV: ‘poison’ (= racun)] ular tedung akan diisapnya, ia akan dibunuh oleh lidah ular”.

Hos 10:4 - “Mereka membual, mengangkat sumpah dusta, mengikat perjanjian, sehingga tumbuh hukum seperti pohon upas [KJV: ‘hemlock’ (= cemara beracun)] di alur-alur ladang”.

 

II) Apakah Matius bertentangan dengan Markus?

 

Mat 27:34 - “Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya”.

KJV: ‘vinegar ... mingled with gall’ (= cuka / anggur asam ... dicampur dengan empedu).

RSV/NIV/NASB: ‘wine ... mingled with gall’ (= anggur ... dicampur dengan empedu).

 

A. T. Robertson (tentang Mat 27:34): “Late MSS. read ‘vinegar’ (oxos) instead of ‘wine’” [= Manuscripts belakangan berbunyi ‘cuka / anggur asam’ (OXOS) dan bukannya ‘anggur’].

 

Mark 15:23 - “Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepadaNya, tetapi Ia menolaknya”.

 

Mat 27:34 mengatakan bahwa Yesus diberi minum anggur bercampur empedu, sedangkan Mark 15:23 mengatakan bahwa Yesus diberi minum anggur bercampur mur. Bagaimana mengharmoniskan kedua bagian yang berbeda / kelihatannya kontradiksi ini?

 

1)  Mungkin sekali itu adalah anggur bercampur ramuan tertentu, antara lain empedu dan mur.

 

A. T. Robertson: “Mark (Mark 15:23) has ‘myrrh’ instead of ‘gall.’ ... Both elements may have been in the drink which Jesus tasted and refused to drink” [= Markus (Mark 15:32) mempunyai ‘mur’ dan bukannya ‘empedu’. ... Kedua elemen bisa ada dalam minuman yang Yesus kecap / cicipi dan yang Ia tolak untuk minum].

 

2)  Baik kata ‘empedu’ maupun ‘mur’ menunjuk pada zat yang sangat pahit.

 

Barnes’ Notes (tentang Mat 27:34): “‘They gave him vinegar ...’ Mark says that, ‘they gave him to drink wine mingled with myrrh.’ The two evangelists mean the same thing. Vinegar was made of light wine rendered acid, and was the common drink of the Roman soldiers, and this might be called either vinegar or wine in common language. ‘Myrrh’ is a bitter substance produced in Arabia, but is used often to denote anything bitter. ... ‘Gall’ is properly a bitter secretion from the liver, but the word is also used to denote anything exceedingly ‘bitter,’ as wormwood, etc. The drink, therefore, was vinegar or sour wine, rendered ‘bitter’ by the infusion of wormwood or some other very bitter substance.” (= ‘Mereka memberiNya cuka / anggur asam ...’. Markus mengatakan bahwa ‘mereka memberiNya minum anggur bercampur mur’. Kedua penginjil memaksudkan hal yang sama. Cuka / anggur asam dibuat dari anggur ringan yang dbuat jadi asam, dan merupakan minuman umum dari tentara-tentara Romawi, dan ini bisa disebut cuka / anggur asam atau anggur dalam bahasa biasa. ‘Mur’ merupakan suatu zat yang pahit yang dihasilkan di Arab, tetapi sering digunakan untuk menunjuk pada apapun yang pahit.  ... ‘Empedu’ merupakan suatu zat yang dikeluarkan dari hati, tetapi kata itu juga digunakan untuk menunjuk pada apapun yang sangat ‘pahit’, seperti wormwood atau zat lain yang sangat pahit).

Catatan: ‘wormwood’ merupakan semacam tanaman yang mengeluarkan minyak yang sangat pahit.

 

Lenski: “Matthew calls it wine mixed with KHOLE. This was not actual gall, but the drink was so called because of its bitter taste. Mark reports that the drink was wine mixed with myrrh, and this tells us what the bitter substance was” (= Matius menyebutnya anggur yang bercampur dengan KHOLE. Ini bukan betul-betul empedu, tetapi minuman itu disebut demikian karena rasanya yang pahit. Markus melaporkan bahwa minuman itu adalah anggur bercampur mur, dan ini memberitahu kita apa zat yang pahit itu) - hal 1106.

 

William Hendriksen mempunyai pandangan yang sama dengan Lenski.

 

III) Apa gunanya pemberian minuman ini?

 

Ada beberapa pandangan:

 

1)  Calvin: untuk mempercepat keluarnya darah, sehingga mempercepat kematian.

Calvin juga mengatakan bahwa penolakan Yesus menolak terhadap minuman itu menunjukkan bahwa Ia tidak cepat-cepat ingin mati supaya bebas dari penderitaan, tetapi dengan sabar memikul penderitaanNya sampai selesai.

 

2)  Knox Chamblin: ini bukan obat bius, tetapi hanya olok-olok / ejekan, karena dengan adanya empedu dan mur, anggur itu menjadi tidak bisa diminum. Alasannya: kalau kita melihat kontex Maz 69:22, maka pemberi­an empedu itu bukanlah suatu tindakan yang baik, tetapi untuk membuat menderita.

 

Maz 69:20-22 - “(20) Engkau mengenal celaku, maluku dan nodaku; semua lawanku ada di hadapanMu. (21) Cela itu telah mematahkan hatiku, dan aku putus asa; aku menantikan belas kasihan, tetapi sia-sia, menantikan penghibur-penghibur, tetapi tidak kudapati. (22) Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam”.

KJV/NIV/NASB: ‘gall’ (= empedu).

RSV: ‘poison’ (= racun).

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Maz 69:22a): “As given to criminals, it was a kindness; as given to the righteous Sin-bearer, it was an insult” (= Pada waktu diberikan kepada orang-orang kriminil, itu merupakan suatu kebaikan; pada waktu diberikan kepada Pemikul / Penanggung dosa yang benar, itu merupakan penghinaan).

 

3)  Mayoritas penafsir: minuman ini berfungsi sebagai obat bius, untuk mengurangi rasa sakit. Tradisi mengata­kan bahwa minuman ini dipersiapkan oleh perempuan-perempuan Yerusalem sebagai tindakan belas kasihan terhadap orang yang akan disalibkan.

 

Matthew Henry (tentang Mat 27:34): “It was usual to have a cup of spiced wine for those to drink of, that were to be put to death, according to Solomon’s direction (Prov. 31:6-7), ‘Give strong drink to him that is ready to perish;’” [= Merupakan sesuatu yang biasa / umum untuk memberi minum secawan anggur yang dibumbui kepada mereka yang akan dibunuh, menurut pengarahan dari Salomo (Amsal 31:6-7), ‘Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa’].

 

Bdk. Amsal 31:6-7 - “(6) Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. (7) Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya”.

 

Adam Clarke (tentang Mat 27:34): “It was a common custom to administer a stupefying potion compounded of sour wine, which is the same as vinegar, from the French vinaigre, frankincense, and myrrh, to condemned persons, to help to alleviate their sufferings, or so disturb their intellect that they might not be sensible of them. The rabbis say that they put a grain of frankincense into a cup of strong wine; and they ground this on Prov. 31:6: ‘Give strong drink unto him that is ready to perish,’ i. e. who is condemned to death. Some person, out of kindness, appears to have administered this to our blessed Lord but he, as in all other cases, determining to endure the fullness of pain, refused to take what was thus offered to him, choosing to tread the winepress alone” (= Merupakan suatu kebiasaan yang umum untuk memberikan minuman pembius bercampur anggur asam, yang sama dengan cuka, dari kata Perancis Vinaigre, kemenyan / dupa, dan mur, kepada orang-orang yang dihukum, untuk menolong untuk mengurangi penderitaan-penderitaan mereka, atau begitu mengganggu pikiran mereka sehingga mereka bisa tidak merasakan penderitaan-penderitaan itu. Para rabi mengatakan bahwa mereka memasukkan satu butir kemenyan / dupa ke dalam suatu cawan dari anggur keras; dan mereka mendasarkan hal ini pada Amsal 31:6: ‘Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa’, yaitu mereka yang dihukum mati. Beberapa orang, dari kebaikan mereka, kelihatannya memberikan ini kepada Tuhan kita yang terpuji, tetapi Ia, seperti dalam kasus-kasus yang lain, karena berketetapan untuk menanggung / menahan kepenuhan dari rasa sakit, menolak untuk meminum apa yang ditawarkan kepadaNya, dan dengan demikian memilih untuk menginjak-injak pemerasan anggur sendirian).

 

Adam Clarke (tentang Mat 27:34): “Wine mixed with myrrh was given to malefactors at the place of execution, to intoxicate them, and make them less sensible to pain. ... But if vinegar was offered him, which was taken merely to assuage thirst, there could be no reason for his rejecting it” (= Anggur dicampur dengan mur diberikan kepada penjahat-penjahat di tempat eksekusi, untuk memabukkan mereka, dan membuat mereka kurang merasakan rasa sakit. ... Tetapi pada waktu cuka / anggur asam diberikan kepadaNya, yang diminum semata-mata untuk mengurangi rasa haus, di sana tidak ada alasan bagiNya untuk menolaknya).

 

Alfred Edersheim: “It was a merciful Jewish practice to give to those led to execution a draught of strong wine mixed with myrrh, so as to deaden consciousness” (= Merupakan suatu praktek Yahudi yang penuh belas kasihan untuk memberi kepada mereka yang dibawa pada pengeksekusian seteguk anggur keras dicampur dengan mur, sehingga mematikan kesadaran) - ‘The Life and Times of Jesus the Messiah’, hal 605.

 

Wycliffe Bible Commentary: “The intent of this drugged potion was to deaden pain” (= Tujuan / maksud dari minuman pembius ini adalah untuk mematikan rasa sakit).

 

A. T. Robertson: “The myrrh gave the sour wine a better flavour and like the bitter gall had a narcotic and stupefying effect. ... Women provided the drink to deaden the sense of pain and the soldiers may have added the gall to make it disagreeable” (= Mur memberikan anggur asam bau yang lebih baik dan seperti empedu yang pahit mempunyai efek narkotik dan membius. ... Perempuan-perempuan menyediakan minuman untuk mematikan perasaan sakit dan tentara-tentara mungkin telah menambahkan empedu untuk membuat rasanya tidak enak).

 

Vincent: “The compound of wine and gall was intended as a stupefying draught” (= Campuran dari anggur dan empedu dimaksudkan sebagai minuman pembius).

 

Lenski: “Myrrh was added to the wine in order to give it a stupefying effect” (= Mur ditambahkan pada anggur itu untuk memberinya efek membius) - hal 1106.

 

Penafsir-penafsir lain yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah: William Hendriksen, William Barclay dan Matthew Poole.

 

IV) Kristus menolak minuman anggur bercampur empedu / mur itu.

 

Kalau dalam point III) di atas yang benar adalah pandangan dari mayoritas penafsir, dimana anggur itu adalah anggur bius yang bisa mengurangi rasa sakit, maka Kristus menolak minuman itu karena Ia tidak mau penderitaanNya dikurangi.

 

Barnes’ Notes (tentang Mat 27:34): “The effect of this, it is said, was to stupefy the senses. It was often given to those who were crucified, to render them insensible to the pains of death. Our Lord, knowing this, when he had tasted it refused to drink. He was unwilling to blunt the pains of dying. The ‘cup’ which his ‘Father’ gave him he rather chose to drink. He came to suffer. His sorrows were necessary for the work of the atonement, and he gave himself up to the unmitigated sufferings of the cross” (= Dikatakan bahwa efek dari minuman ini adalah untuk membius perasaan. Itu sering diberikan kepada mereka yang disalibkan, untuk membuat mereka tidak merasakan rasa sakit dari kematian. Tuhan kita, mengetahui hal ini, pada waktu Ia telah mencicipinya, menolak untuk meminumnya. Ia tidak mau menumpulkan rasa sakit dari kematian. Ia memilih untuk meminum ‘cawan’ yang diberikan Bapa kepadaNya. Ia datang untuk menderita. Kesedihan / penderitaanNya perlu untuk pekerjaan penebusan, dan Ia menyerahkan diriNya sendiri untuk penderitaan yang tidak dikurangi dari salib).

 

A. T. Robertson: “Jesus desired to drink to the full the cup from his Father’s hand (John 18:11)” [= Yesus ingin untuk meminum seluruh cawan dari tangan BapaNya (Yoh 18:11)].

Yoh 18:11b - “bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?”.

 

Lenski: “He intended to go through the final ordeal with a perfectly clear mind; he intended to endure all without avoiding a single agony” (= Ia bermaksud untuk melalui siksaan akhir ini dengan pikiran yang terang secara sempurna; ia bermaksud untuk menahan semua tanpa menghindari satu penderitaanpun) - hal 1106.

 

Mengapa Ia tidak mau penderitaanNya dikurangi? Karena Ia sadar bahwa pada saat itu Ia sedang memikul hukuman dosa umat manusia, termasuk hukuman dosa saudara dan saya. Seandainya ia mau meminum minuman pembius itu sehingga penderitaanNya dikurangi, maka Ia tidak memikul seluruh hukuman kita, tetapi sebagian saja. Misalkan saja penderitaanNya berkurang 10 %, maka itu akan berarti bahwa Ia hanya memikul 90 % dari hukuman dosa kita. Itu juga berarti bahwa hukuman dosa kita yang ia bayar hanya 90 %, sedangkan yang 10 % harus kita bayar sendiri. Dan ini pasti tidak akan bisa menyelamatkan kita, karena 10 % dari semua dosa kita pasti lebih dari cukup untuk membawa kita ke neraka untuk selama-lamanya! Tetapi puji Tuhan; Ia menolak minuman itu. Dan dengan menolak minuman bius itu, Ia memikul seluruh / 100 % hukuman dosa kita!

 

Kristus memang konsekwen! Dalam Mat 26:39,42 Ia sudah mengatakan kepada Bapa bahwa Ia mau meminum ‘cawan’ (artinya ‘penderitaan’ atau ‘murka Allah’) dari Bapa itu.

Mat 26:39,42 - “(39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’ ... (42) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!’”.

Dan di sini Ia betul-betul meminum ‘cawan penderi­taan / murka Allah’ itu sampai habis; Ia memikul seluruh hukuman dosa kita tanpa sisa sedikitpun!

 

Ini sesuai dengan ayat-ayat di bawah ini, yang menunjukkan bahwa semua dosa kita dibayar oleh Kristus / semua dosa kita diampuni oleh Kristus.

·        Yeh 36:25 - “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu”.

·        Kis 13:39 - “Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa”.

·        Kol 2:13 - “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita”.

·        Tit 2:14 - “yang telah menyerahkan diriNya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diriNya suatu umat, kepunyaanNya sendiri, yang rajin berbuat baik”.

·        1Yoh 1:7,9 - “(7) Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. ... (9) Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”.

 

Karena itulah kalau kita percaya kepada Yesus, tidak ada dosa yang tidak diampuni, dan tidak ada lagi kemungkinan kita akan dihukum oleh Allah.

 

Charles Haddon Spurgeon: “Memory looks back on past sins with deep sorrow for the sin, but yet with no dread of any penalty to come; for Christ has paid the debt of His people to the last jot and tittle, and received the divine receipt; and unless God can be so unjust as to demand double payment for one debt, no soul for whom Jesus died as a substitute can ever be cast into hell. It seems to be one of the very principles of our enlightened nature to believe that God is just; we feel that it must be so, and this gives us our terror at first; but is it not marvelous that this very same belief that God is just, becomes afterwards the pillar of our confidence and peace! If God is just, I, a sinner alone and without a substitute, must be punished; but Jesus stands in my stead and is punished for me; and now, if God is just, I, a sinner, standing in Christ, can never be punished (= Ingatan melihat ke belakang kepada dosa-dosa yang lalu dengan kesedihan yang dalam untuk dosa, tetapi tanpa rasa takut terhadap hukuman yang akan datang; karena Kristus telah membayar hutang umatNya sampai pada hal yang paling kecil / remeh, dan telah menerima kwitansi ilahi; dan kecuali Allah itu bisa begitu tidak adil / benar sehingga menuntut pembayaran dobel untuk satu hutang, tidak ada jiwa, untuk siapa Yesus mati sebagai pengganti, bisa dicampakkan ke dalam neraka. Kelihatannya merupakan satu prinsip dari diri kita yang sudah diterangi, untuk percaya bahwa Allah itu adil / benar; kita merasa bahwa haruslah demikian, dan ini mula-mula memberikan kita rasa takut; tetapi tidakkah merupakan sesuatu yang mengagumkan bahwa kepercayaan yang sama bahwa Allah itu adil / benar, setelah itu lalu menjadi pilar / tonggak dari keyakinan dan damai kita! Jika Allah itu adil / benar, saya, seorang yang berdosa, sendirian dan tanpa seorang pengganti, harus dihukum; tetapi Yesus telah menggantikan saya dan dihukum untuk saya; dan sekarang, jika Allah itu adil / benar, saya, seorang yang berdosa, berdiri dalam Kristus, tidak pernah bisa dihukum) - ‘Morning and Evening’, September 25, morning.

Bdk. Ro 8:1 - “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”.

Tetapi persoalannya, sudahkah saudara percaya kepada Yesus sehingga Penebus / Juruselamat saudara? Kalau belum, cepatlah datang kepadaNya, sebelum terlambat!

 

-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com