Kebaktian

 Minggu, tgl 6 Mei 2007, pk 17.00

 

Persekutuan ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3, Surabaya)

 Pdt. Budi Asali, M.Div.

 

 

Golgota(5)

Pengejekan Terhadap Yesus

 

I) Di sekitar penyaliban Yesus terjadi beberapa kali pengejekan terhadap Yesus.

 

1) Di hadapan Mahkamah Agama.

Mat 26:67-68 - “(67) Lalu mereka meludahi mukaNya dan meninjuNya; orang-orang lain memukul Dia, (68) dan berkata: ‘Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?’”.

Bandingkan dengan:

·        Mark 14:65 - “Lalu mulailah beberapa orang meludahi Dia dan menutupi mukaNya dan meninjuNya sambil berkata kepadaNya: ‘Hai nabi, cobalah terka!’ Malah para pengawalpun memukul Dia”.

·        Luk 22:63-65 - “(63) Dan orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-olokkan Dia dan memukuliNya. (64) Mereka menutupi mukaNya dan bertanya: ‘Cobalah katakan siapakah yang memukul Engkau?’ (65) Dan banyak lagi hujat yang diucapkan mereka kepadaNya”.

Catatan: Dalam Injil Lukas, bagian ini diceritakan sebelum sidang (Luk 22:63-64). Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa Luk 22 mengandung banyak hal yang ditulis secara tidak khronologis.

 

Matthew Henry mengatakan bahwa sekalipun mereka telah menjatuhkan hukuman mati, tetapi mereka tidak mempunyai kuasa untuk melakukannya, karena mereka ada di bawah penjajahan Romawi. Karena itu, sementara mereka mempunyai Yesus dalam kuasa mereka, mereka melakukan semua kejahatan yang bisa mereka lakukan terhadap Yesus.

Sebetulnya, di semua negara yang beradab, orang-orang yang sudah dijatuhi hukuman ada di bawah perlindungan hukum. Hukuman yang dijatuhkan sudah cukup bagi mereka. Tetapi di sini, pada waktu mereka sudah menjatuhkan hukuman mati bagi Yesus, mereka bersikap seakan-akan hukuman mati itu masih terlalu baik bagi Dia. Dan siapa orang-orang ini? Jelas mereka adalah orang-orang yang sama dengan orang-orang yang menjatuhkan hukuman mati tersebut. Mereka adalah Sanhedrin, anggota-anggota Mahkamah Agama Yahudi!

 

a)      Yesus diludahi.

Diludahi, dalam kalangan Yahudi, merupakan suatu penghinaan yang luar biasa.

Ini bisa terlihat dari:

·        Bil 12:14 - “Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali.’”.

·        Ul 25:5-10 - “(5) ‘Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar. (6) Maka anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel. (7) Tetapi jika orang itu tidak suka mengambil isteri saudaranya, maka haruslah isteri saudaranya itu pergi ke pintu gerbang menghadap para tua-tua serta berkata: Iparku menolak menegakkan nama saudaranya di antara orang Israel, ia tidak mau melakukan kewajiban perkawinan ipar dengan aku. (8) Kemudian para tua-tua kotanya haruslah memanggil orang itu dan berbicara dengan dia. Jika ia tetap berpendirian dengan mengatakan: Aku tidak suka mengambil dia sebagai isteri - (9) maka haruslah isteri saudaranya itu datang kepadanya di hadapan para tua-tua, menanggalkan kasut orang itu dari kakinya, meludahi mukanya sambil menyatakan: Beginilah harus dilakukan kepada orang yang tidak mau membangun keturunan saudaranya. (10) Dan di antara orang Israel namanya haruslah disebut: Kaum yang kasutnya ditanggalkan orang.’”.

 

Kalau bagi orang Yahudi biasa, diludahi sudah merupakan penghinaan yang luar biasa, apalagi bagi Kristus, yang adalah Allah yang menjadi manusia?

 

b)      Yesus ditinju dan dipukul.

Clarke mengatakan bahwa kata Yunani yang diterjemahkan ‘meninju’ memang artinya ‘meninju’. Sedangkan yang diterjemahkan ‘memukul, artinya ‘menampar dengan tangan terbuka’.

Bdk. Mat 26:67 (KJV): ‘others smote him with the palms of their hands’ (= yang lain memukul Dia dengan telapak tangan mereka).

Albert Barnes mengatakan bahwa arti sebenarnya dari kata ini adalah ‘memukul dengan tongkat. Tetapi kata itu juga bisa diartikan ‘menampar’ (dengan telapak tangan).

 

c)      Yesus diejek.

Albert Barnes mengatakan bahwa dalam Injil Lukas ditambahkan kata-kata ‘dan banyak lagi hujat yang diucapkan mereka kepadaNya’ (Luk 22:65). Ini merupakan sesuatu yang menarik, karena dalam pengadilan mereka menganggap bahwa Yesus menghujat Allah. Tetapi Kitab Suci / Firman Tuhan menyatakan bahwa merekalah yang melakukan penghujatan! Mengapa? Karena Yesus adalah Anak Allah dan mereka tidak mempercayai hal itu, dan bahkan menghinaNya.

 

Dalam Markus maupun Lukas dikatakan bahwa mereka menutupi mukanya, dan lalu meninjuNya sambil berkata: ‘Hai nabi, cobalah terka!’.

Matthew Henry mengomentari hal ini dengan berkata bahwa mereka mempermainkan jabatan nabi dari Yesus, dan juga mereka menjadikan kemaha-tahuan ilahi sebagai permainan anak-anak.

 

 

2) Di hadapan Herodes.

 

Luk 23:8-12 - “(8) Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang. Sebab sudah lama ia ingin melihatNya, karena ia sering mendengar tentang Dia, lagipula ia mengharapkan melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda. (9) Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi jawaban apapun. (10) Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Dia. (11) Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Dia, ia mengenakan jubah kebesaran kepadaNya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus. (12) Dan pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus; sebelum itu mereka bermusuhan”.

 

a)      Motivasi Pontius Pilatus dan providensia Allah.

Matthew Henry mengatakan bahwa Pontius Pilatus sudah muak persoalan ini, dan ingin membuangnya, dan ini kelihatannya merupakan alasan sebenarnya mengapa ia mengirimkan Yesus kepada Herodes. Tetapi di atas semua ini, Allah mengatur semunya untuk menggenapi nubuat dalam Kitab Suci dalam Maz 2:2, seperti terlihat dari Kis 4:26-27.

Maz 2:2 - “Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapiNya”.

Kis 4:26-27 - “(26) Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang DiurapiNya. (27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi”.

 

b)      Motivasi Herodes dan sikap Yesus.

Matthew Henry mengatakan bahwa Herodes ingin bertemu dengan Yesus bukan karena ia menyenangi ajaranNya, tetapi semata-mata karena rasa ingin tahu. Dan untuk memuaskan rasa ingin tahunya inilah maka ia berharap untuk melihat mujijat yang Yesus lakukan. Karena itulah maka ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus. Tetapi Yesus tidak menjawab sepatah katapun. Ia tidak mau memuaskan rasa ingin tahu Herodes, dan Ia tidak mau melakukan satu mujijatpun. Ia mau melakukan mujijat untuk pengemis yang paling miskin / malang, tetapi Ia menolak untuk melakukannya bagi raja yang sombong, untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

 

Matthew Henry (tentang Luk 23:1-12): “Herod thought, now that he had him in bonds, he might command a miracle, but miracles must not be made cheap, nor Omnipotence be at the beck of the greatest potentate” (= Herodes mengira, sekarang ia mendapatkan Dia dalam tangannya, ia bisa memerintahkan suatu mujijat, tetapi mujijat-mujijat tidak boleh dijadikan barang murahan, ataupun kemahakuasaan ditundukkan kepada raja yang paling besar sekalipun).

 

Wycliffe Bible Commentary (tentang Luk 23:9): “Jesus did not fear Herod, and refused to waste his time on a trifler” (= Yesus tidak takut kepada Herodes, dan menolak untuk membuang waktuNya bagi seorang yang tidak penting).

 

Penerapan: alangkah berbedanya sikap Yesus ini dengan sikap kebanyakan ‘pendeta’ jaman sekarang, yang selalu ‘siap melayani’ / tunduk kepada orang-orang gede / kaya.

 

c)  Luk 23:10 menunjukkan bahwa tokoh-tokoh Yahudi mengikutiNya dan memfitnah Dia di hadapan Herodes.

Luk 23:10 - “Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Dia”.

KJV: ‘And the chief priests and scribes stood and vehemently accused him’ (= Dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat berdiri dan menuduhNya dengan berapi-api).

Matthew Henry mengatakan bahwa kata-kata yang saya garis-bawahi itu sebetulnya terjemahannya adalah ‘dengan kurang ajar dan dengan berani’. Ia juga mengatakan bahwa bukan hal baru kalau orang-orang kristen dan pelayan-pelayan Tuhan yang saleh, yang sebetulnya bersahabat dengan pemerintahan sipil, difitnah sebagai pemecah dan musuh dari pemerintah.

 

d) Herodes menjadikan Yesus tidak ada apa-apanya, padahal Dia yang menciptakan segala sesuatu!

Luk 23:11a - “Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Dia”.

KJV: ‘And Herod with his men of war set him at nought, and mocked him’ (= Dan Herodes dan tentaranya membuatNya tidak ada apa-apanya, dan mengolok-olokNya).

Matthew Henry menambahkan bahwa dengan tindakan ini Herodes mempunyai sikap yang lebih buruk terhadap Yesus dari Pontius Pilatus.

 

Matthew Henry (tentang Luk 23:1-12): “Herod, who had been acquainted with John Baptist, and had more knowledge of Christ too than Pilate had, was more abusive to Christ than Pilate was; for knowledge without grace does but make men the more ingeniously wicked (= Herodes, yang mengenal Yohanes Pembaptis, dan mempunyai lebih banyak pengetahuan tentang Kristus dari pada Pilatus, lebih kejam / menghina terhadap Kristus dari pada Pilatus; karena pengetahuan tanpa kasih karunia hanya membuat orang-orang lebih jahat).

 

 

 

3) Yang dilakukan oleh para tentara Romawi.

 

Mat 27:27-31 - “(27) Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. (28) Mereka menanggalkan pakaianNya dan mengenakan jubah ungu kepadaNya. (29) Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepalaNya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kananNya. Kemudian mereka berlutut di hadapanNya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: ‘Salam, hai Raja orang Yahudi!’ (30) Mereka meludahiNya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepalaNya. (31) Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari padaNya dan mengenakan pula pakaianNya kepadaNya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan”.

 

Mark 15:16-20a - “(16) Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul. (17) Mereka mengenakan jubah ungu kepadaNya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepalaNya. (18) Kemudian mereka mulai memberi hormat kepadaNya, katanya: ‘Salam, hai raja orang Yahudi!’ (19) Mereka memukul kepalaNya dengan buluh, dan meludahiNya dan berlutut menyembahNya. (20a) Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari padaNya dan mengenakan pula pakaianNya kepadaNya”.

 

Yoh 19:2-3,5 - “(2) Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepalaNya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu, (3) dan sambil maju ke depan mereka berkata: ‘Salam, hai raja orang Yahudi!’ Lalu mereka menampar mukaNya. ... (5) Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: ‘Lihatlah manusia itu!’”.

 

a) Semua tindakan-tindakan dalam text di atas ini dilakukan oleh para tentara Romawi.

Dalam Mat 27:26 Yesus disesah, lalu diserahkan untuk disalibkan. Seka­rang, sementara salib disiapkan, Yesus ada di tangan para tentara Romawi, yang lalu mengejek dan mempermainkanNya habis-habisan. Mereka tidak mengenal Dia, tidak pernah dirugikan oleh Dia, tidak bermusuhan dengan Dia, tetapi bisa begitu jahat terhadap Dia.

Penerapan: pernahkah / seringkah saudara berbuat jahat kepada orang yang sama sekali tidak pernah bersalah kepada saudara? Berbuat jahat kepada orang yang bersalah kepada kita sudah merupakan dosa, apalagi berbuat jahat kepada orang yang tidak pernah berbuat salah kepada kita!

 

b) Pontius Pilatus juga harus dipersalahkan dalam hal ini.

Matthew Henry mengatakan bahwa hal-hal ini terjadi di gedung pengadilan, atau rumah / istana dari Pontius Pilatus (Mat 27:27  Mark 15:16), tempat dimana seharusnya orang-orang yang ditindas dilindungi, tetapi yang justru menjadi tempat terjadinya kebiadaban ini. Mungkin Pontius Pilatus tidak memerintahkan hal ini, tetapi dengan membiarkan hal ini terjadi, ia jelas harus dipersalahkan.

 

Matthew Henry (tentang Mat 27:27-31): “those in authority will be accountable, not only for the wickedness which they do, or appoint, but for that which they do not restrain, when it is in the power of their hands. Masters of families should not suffer their houses to be places of abuse to any, nor their servants to make sport with the sins, or miseries, or religion, of others” (= mereka yang mempunyai kekuasaan akan bertanggung jawab, bukan hanya untuk kejahatan yang mereka lakukan, atau tetapkan, tetapi juga untuk kejahatan yang tidak mereka cegah, padahal itu ada dalam kuasa mereka. Tuan / kepala dari keluarga tidak boleh mengijinkan rumah-rumah mereka menjadi tempat dilakukannya kekejaman, ataupun tempat dimana pelayan-pelayan mereka membuat orang-orang lain sebagai lelucon berkenaan dengan dosa, atau penderitaan, atau agama).

 

c)      Pakaian Yesus ditanggalkan dan Ia lalu diberi jubah ungu (Mat 27:28).

Kata ‘ungu’ ini sebetulnya salah terjemahan!

NIV/NASB: ‘a scarlet robe’ (= jubah merah tua).

Tetapi dalam Mark 15:17 dan Yoh 19:2 memang dikatakan ‘jubah ungu’ [NIV / NASB: ‘purple’ (= ungu)].

Jadi, apa warna dari jubah itu sebetulnya? Merah tua atau ungu? Ada beberapa cara untuk mengharmoniskan bagian-bagian yang kelihatannya kontradiksi / bertentangan ini:

1.  Warna jubah itu ada di antara merah tua dan ungu.

2.  J. A. Alexander mengatakan bahwa istilah bahasa Yunani untuk warna sangat tidak pasti, sehingga yang mereka sebut dengan ‘ungu’ adalah warna-warna yang terletak di antara merah cerah sampai pada biru gelap.

3.  Kain / jubah ungu pada saat itu adalah kain yang sangat mahal, dan hanya dipakai oleh orang-orang kaya, raja atau orang yang mendapat penghormatan dari raja (bdk. Ester 8:15  Daniel 5:7,29  Luk 16:19  Wah 17:4). Karena itu, jelas tidak mungkin bahwa tentara Romawi itu betul-betul memakaikan jubah ungu kepada tubuh Yesus yang penuh dengan darah itu. Sama seperti mahkota yang dipakaikan bukanlah mahkota sungguh-sungguh tetapi mahkota duri, dan tongkat kerajaan yang diberikan bukanlah tongkat kerajaan sungguh-sungguh tetapi hanya sebatang buluh (ay 29), maka jelaslah jubah yang dipakaikan bukanlah betul-betul jubah ungu.

Jadi, mungkin sekali Matius menuliskan ‘merah tua’ sesuai dengan aslinya, tetapi Markus dan Yohanes menuliskan ‘ungu’ karena mereka meninjaunya dari sudut pemikiran para tentara Romawi itu.

 

d)      Yesus diberi mahkota duri dan sebatang buluh di tangan kananNya (Mat 27:29a).

Ada penafsir yang menganggap ini betul-betul ditujukan sebagai siksaan dan karena itu mereka menggambarkan duri itu panjang-panjang sehingga mencocok / melukai kepala Yesus.

Tetapi banyak juga penafsir yang beranggapan bahwa mahkota duri ini tidak dimaksudkan untuk menyiksa Yesus, tetapi hanya untuk mengejek Yesus. Ini lebih sesuai dengan kontex dari Mat 27:27-31 ini yang memang secara umum bukan menunjukkan penyiksaan, tetapi pengejekan. Kalau memang demikian mungkin sekali durinya tidaklah panjang-panjang, tetapi bagaimanapun duri ini tetap bisa melukai kepala Yesus, apalagi ketika kepala yang bermahkotakan duri itu dipukul dengan buluh (Mat 27:30).

 

e)      Mereka berlutut di hadapanNya / menyembahNya (Mat 27:29b).

Matthew Henry mengatakan bahwa di sini mereka mempermainkan jabatan raja dari Yesus dengan pura-pura menyembahNya, tetapi akan datang waktunya dimana mereka sungguh-sungguh harus menyembah Dia, pada saat Yesus datang kedua-kalinya (bdk. Fil 2:9-11). Bisakah saudara bayangkan betapa takutnya orang-orang itu pada saat itu?

 

Fil 2:9-11 - “(9) Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, (10) supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, (11) dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!”.

 

f)       Mereka mengejekNya dan meludahiNya (Mat 27:29c,30a,31).

 

g)      Mereka memukulkan buluh itu ke kepala Yesus (Mat 27:30b).

Tindakan ini pasti menusukkan duri-duri itu lebih dalam lagi ke kepala Yesus!

 

4) Yang terjadi setelah penyaliban.

 

Mat 27:39-44 - “(39) Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, (40) mereka berkata: ‘Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diriMu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!’ (41) Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: (42) ‘Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepadaNya. (43) Ia menaruh harapanNya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepadaNya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.’ (44) Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencelaNya demikian juga”.

 

Mark 15:29-32 - “(29) Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: ‘Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, (30) turunlah dari salib itu dan selamatkan diriMu!’ (31) Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: ‘Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! (32) Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya.’ Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga”.

 

Luk 23:35-37 - “(35) Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: ‘Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diriNya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.’ (36) Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepadaNya (37) dan berkata: ‘Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diriMu!’”.

 

a) Setelah disalibkanpun ejekan terhadap Yesus tidak berhenti, karena orang-orang yang lewat menghujat dan mengejekNya (Mat 27:39-40).

Kata-kata dalam Mat 27:40 bukan sekedar ejekan, tetapi juga fitnahan, karena Yesus tidak pernah berkata bahwa Ia akan merubuhkan Bait Allah.

Bdk. Yoh 2:19 - “Jawab Yesus kepada mereka: ‘Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.’’”.

 

b)      Ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala dan tua-tua juga mengejek Dia.

Mat 27:41-43: “(41) Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: (42) ‘Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepadaNya. (43) Ia menaruh harapanNya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepadaNya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.’”.

 

1.  Ini betul-betul sesuatu yang ‘hebat’! Ahli-ahli Taurat adalah pengajar firman saat itu; dan imam-imam adalah pengantara manusia berdosa dengan Allah! Tetapi mereka bisa melakukan sesuatu yang begitu rendah! Seorang tokoh agama tidak pantas melakukan pengejekan, bahkan kalaupun Yesus adalah orang yang jahat!

 

Pulpit Commentary: “They forgot the dignity of their office” (= Mereka melupakan martabat dari jabatan mereka yang kudus).

 

2.  Injil / salib memang kelihatan bodoh, menggelikan, bahkan memalukan, kalau dilihat dengan logika duniawi. Bagaimana mungkin orang yang mengaku sebagai Allah, Raja dan Juruselamat, bisa menderita tidak berdaya di kayu salib dan kelihatan kalah secara total?

Bandingkan dengan:

·        1Kor 1:18,22,23 - “(18) Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. ... (22) Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, (23) tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.

·        Ro 1:16 - “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani”.

Bagian yang saya garis-bawahi itu salah terjemahan.

NIV: ‘I am not ashamed of the gospel’ (= aku tidak malu karena Injil).

Ayat-ayat di atas ini memang menunjukkan bahwa Injil mengandung bagian yang memalukan / menggelikan. Tetapi bagaimanapun juga Mark 8:38 / Luk 9:26 melarang kita malu karena Yesus / Injil!

Mark 8:38 - “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataanKu di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan BapaNya, diiringi malaikat-malaikat kudus.’”.

Penerapan: seringkah saudara merasa malu:

·        karena saudara adalah orang kristen?

·        pada waktu memberitakan Injil?

 

3.  Ejekan dari para tokoh agama ini.

Mat 27:42-43: “‘Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepadaNya. (43) Ia menaruh harapanNya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepadaNya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.’”.

 

a.  Matthew Henry mengatakan bahwa serangan ini ada persamaannya dengan pencobaan yang dilakukan oleh Iblis terhadap Yesus di padang gurun, yang diawali dengan kata-kata ‘Jika Engkau Anak Allah ...’ (bdk. Mat 4:3).

 

b.      ‘Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!’.

Matthew Henry mengatakan bahwa tadi Yesus sudah dipermainkan dalam jabatanNya sebagai Raja dan nabi. Sekarang ia dipermainkan dalam jabatanNya sebagai Juruselamat.

 

c.       ‘Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepadaNya’.

Mereka mengatakan bahwa mereka mau percaya kepada Yesus kalau Yesus turun dari salib. Orang-orang ini hanya mau ikut Yesus kalau Yesus kelihatan menang (turun dari salib).

Penerapan: jaman sekarang juga ada banyak orang yang hanya mau ikut Yesus kalau jalan kristen kelihatannya menang, misalnya orang kristen harus sembuh dari penyakit, banyak yang mengalami mujijat, menjadi kaya, dan sebagainya. Hati-hati dengan ajaran seperti ini! Dari apa yang Yesus alami disini, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa jalan kristen justru sering kelihatan kalah!

 

Matthew Henry (tentang Mat 27:39-44): “They promised that, if he would come down from the cross, they would believe him. ... If he had come down from the cross, they might with as much reason have said that the soldiers had juggled in nailing him to it, as they said, when he was raised from the dead, that the disciples came by night, and stole him away (= Mereka berjanji bahwa jika Ia turun dari salib, mereka akan percvaya kepadaNya. ... Seandainya Ia turun dari salib, mereka mungkin mempunyai sama banyaknya alasan untuk mengatakan bahwa para tentara telah menipu dengan berpura-pura memakukan Dia pada salib, seperti yang mereka katakan, pada waktu Ia bangkit dari antara orang mati, bahwa murid-murid datang pada malam, dan mencuri mayatNya).

 

Mereka berkata bahwa mau percaya kepada Yesus kalau Yesus turun dari salib, tetapi anehnya pada waktu Yesus memberikan mujijat yang lebih besar, yaitu bangkit dari antara orang mati, mereka tetap tidak mau percaya kepada Yesus!

 

Pulpit Commentary: “Sceptics are ever ready to prescribe to God what miracles he must work in order to gain their confidence, as though that confidence also were an infinite benefit to him. When Christ gave them the more astonishing evidence of his Messiahship by rising from the dead, they did not believe” [= Skeptic (orang yang ragu-ragu / tak percaya) selalu siap untuk menentukan bagi Allah mujijat apa yang harus Ia lakukan untuk mendapatkan keper­cayaan / keyakinan mereka, seakan-akan keyakinan mereka itu merupakan suatu keuntungan yang tak terhingga bagi Dia. Ketika Kristus memberikan kepada mereka bukti yang lebih mengherankan tentang keMesiasanNya dengan bangkit dari antara orang mati, mereka tidak percaya].

 

Pulpit Commentary: “The sign he had given them was not his coming down from the cross, but his coming up from the grave” (= Tanda yang Ia telah berikan kepada mereka bukanlah turun dari salib, tetapi naik / bangkit dari kubur).

 

d.  ‘Ia menaruh harapanNya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepadaNya!’.

Mereka mempunyai anggapan seperti teman-teman Ayub. Kalau seseorang menderita dan Allah tak segera menolongnya, itu berarti Allah tidak mempedulikan orang itu, karena orang itu pasti adalah orang brengsek.

 

c)      Kedua penjahat yang disalibkan bersamaNya juga mengejekNya (ay 44).

Seharusnya mereka yang senasib dengan Dia tidak bersikap seperti ini, tetapi bagaimanapun, inilah kenyataannya.

 

Semua pengejekan ini merupakan penggenapan dari Maz 22:7-9 - “(7) Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. (8) Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: (9) ‘Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?’”.

 

II) Sikap Yesus menghadapi semua ejekan ini.

 

1) Yesus tidak menjawab / balas memaki / mengejek.

Pada waktu diejek seperti ini Kristus tidak menjawab / membalas (1Pet 2:23). Ini merupakan penggenapan dari Yes 53:7.

1Pet 2:23 - “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil”.

Yes 53:7 - “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya”.

 

2) Yesus memilih untuk tidak turun dari salib tetapi tetap terpaku pada salib sampai mati.

 

Calvin (tentang Mat 27:40): “The Son of God determined to remain nailed to the cross for the sake of our salvation” (= Anak Allah berketetapan untuk tetap terpaku pada salib demi keselamatan kita) - hal 305.

 

Barnes mengatakan bahwa Yesus tidak turun dari salib karena pada masa yang lalu Ia sudah banyak melakukan mujijat, dan sekarang adalah saat bagiNya untuk melakukan penebusan. Ia telah menubuatkan kematianNya dan sekarang adalah saatnya untuk itu. Karena itu Ia memilih untuk mati di salib untuk menebus dosa umat manusia.

 

III) Semua ejekan ini mempunyai makna.

 

1) Diludahi.

 

Calvin (tentang Mat 27-27-dst): “Our filthiness deserves that God should hold it in abhorrence, and that all the angels should spit upon us; but Christ, in order to present us pure and unspotted in presence of the Father, resolves to be spat upon, and to be dishonoured by every kind of reproaches” (= Kekotoran kita layak mendapatkan bahwa Allah menganggapnya menjijikkan, dan bahwa semua malaikat meludahi kita; tetapi Kristus, untuk menghadirkan kita murni dan tak bercacat di hadapan Bapa, memutuskan untuk diludahi, dan dihina dengan setiap jenis celaan) - hal 290.

 

2) Diberi jubah ungu.

 

J. C. Ryle (tentang Yoh 19:2): “Our Lord was clothed with a robe of shame and contempt, that we might be clothed with a spotless garment of righteousness, and stand in white robe before the throne of God” (= Tuhan kita dipakaiani dengan jubah yang memalukan dan menjijikkan, supaya kita bisa dipakaiani dengan jubah kebenaran yang tak bernoda, dan berdiri dalam jubah putih di hadapan takhta Allah) - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 305.

 

3) Diberi mahkota duri.

 

Matthew Henry (tentang Mat 27:27-31): “thorns came in with sin, and were part of the curse that was the product of sin, Gen. 3:18. Therefore Christ, being made a curse for us, and dying to remove the curse from us, felt the pain and smart of those thorns” [= duri-duri masuk (ke dalam dunia) bersama dengan dosa, dan merupakan bagian dari kutuk yang merupakan hasil dari dosa, Kej 3:18. Karena itu, Kristus, yang dijadikan kutuk karena kita, dan mati untuk menyingkirkan kutuk itu dari kita, merasakan rasa sakit dari duri-duri ini].

Kej 3:18 - semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu”.

 

J. C. Ryle (tentang Yoh 19:2): “He, the innocent sin-bearer, wore the crown of thorns, that we, the guilty, might wear a crown of glory” (= Ia, pemikul dosa yang tidak bersalah, memakai mahkota duri, supaya kita, bisa memakai mahkota kemuliaan) - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 304.

 

4) Tak bisa menyelamatkan diriNya sendiri dan tidak bisa turun dari salib.

 

Matthew Henry (tentang Mat 27:39-44): “They take it for granted that he could not save himself, and therefore had not the power he pretended to, when really he would not save himself, because he would die to save us” (= Mereka menganggap bahwa Ia tidak bisa menyelamatkan diriNya sendiri, dan karena itu tidak mempunyai kuasa yang kataNya dimilikinya, padahal sebetulnya Ia tidak mau menyelamatkan diriNya sendiri, karena Ia mau mati untuk menyelamatkan kita).

 

A. T. Robertson (tentang Mat 27:42): “If he had saved himself now, he could not have saved any one. The paradox is precisely the philosophy of life proclaimed by Jesus himself (Matt. 10:39)” [= Seandainya Ia menyelamatkan diriNya sendiri sekarang, Ia tidak bisa menyelamatkan siapapun. Paradox ini persis merupakan filsafat kehidupan yang dinyatakan oleh Yesus sendiri (Mat 10:39)].

Mat 10:39 - “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”.

 

Perlu disadari bahwa kalau Yesus turun dari salib untuk menyelamatkan diriNya sendiri, ia mungkin kelihatannya menang, tetapi sebetulnya Ia kalah, karena Ia tidak jadi menebus dosa manusia! Mereka mengatakan akan percaya kepadaNya kalau Ia turun dari salib, padahal seandainya Yesus turun dari salib, maka tidak ada gunanya kita percaya kepadaNya.

 

William Barclay: “They all centred round one thing - the claims that Jesus had made and his apparent helplessness on the Cross. It was precise­ly there that the Jews were so wrong. They were using the glory of Christ as a means of mocking him. ‘Come down,’ they said, ‘and we will believe on you’. But as General Booth once said, ‘It is precisely because he would not come down that we believe in him’” (= Mereka semua menyoroti satu hal - pengakuan yang dibuat Yesus dan keadaan dimana Ia kelihatannya tidak berdaya di atas kayu salib. Tetapi justru disana orang-orang Yahudi itu salah. Mereka menggunakan kemuliaan Kristus sebagai cara / sarana untuk mengejek Dia. ‘Turunlah’, kata mereka, ‘dan kami akan percaya kepadaMu’. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Jendral Booth, ‘Justru karena Ia tidak mau turun maka kita percaya kepadaNya’).

 

Pulpit Commentary: “He might, indeed, have answered the jibe by coming down from the cross; but then, as Bishop Pearson says, in saving himself he would not have saved us” (= Ia bisa saja menjawab ejekan itu dengan turun dari salib; tetapi, seperti yang dikatakan oleh Bishop Pearson, dalam menyelamatkan diriNya sendiri, Ia tidak akan menyelamatkan kita).

Bdk. Yoh 12:24 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”.

 

Matthew Henry (tentang Mat 27:27-31): “All this misery and shame he underwent, that he might purchase for us everlasting life, and joy, and glory.” (= Semua kesengsaraan dan rasa malu ini Ia alami, supaya Ia bisa membeli bagi kita hidup kekal, dan sukacita, dan kemuliaan).

 

IV) Sikap / tanggapan kita yang seharusnya.

 

1) Jelas bahwa sikap pertama dan terutama dari kita adalah bahwa kita percaya kepada Kristus yang telah rela mengalami begitu banyak penderitaan untuk menebus dosa-dosa kita. Apakah saudara percaya bahwa saudara, sebagai orang berdosa, yang seharusnya mengalami semua itu, tetapi Kristus telah mengalaminya untuk saudara?

Karena Kristus telah diejek / dipermalukan / direndahkan, maka saudara bisa dipermuliakan / ditinggikan. Tetapi itu hanya terjadi kalau saudara percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara.

 

2) Jangan heran kalau suatu hari saudara, demi Kristus, harus mengalami hinaan / ejekan seperti yang Kristus alami. Bukankah Yesus sendiri berkata bahwa seorang murid tidak lebih dari gurunya, dan seorang hamba tidak lebih dari tuannya? Bdk. Mat 10:24.

 

Matthew Henry (tentang Mat 27:39-44): “Many people would like the King of Israel well enough, if he would but come down from the cross, if they could have his kingdom without the tribulation through which they must enter into it. But the matter is settled; if no cross, then no Christ, no crown. Those that would reign with him, must be willing to suffer with him, for Christ and his cross are nailed together in this world” (= Banyak orang menginginkan Raja Israel, seandainya Ia mau turun dari salib, seandainya mereka bisa mendapatkan kerajaanNya tanpa kesengsaraan melalui mana mereka harus masuk ke dalamnya. Tetapi persoalannya ditetapkan: jika tidak ada salib, maka tidak ada Kristus, tidak ada mahkota. Mereka yang akan memerintah dengan Dia, harus mau menderita dengan Dia, karena Kristus dan salibNya dipakukan bersama-sama dalam dunia ini).

 

J. C. Ryle (tentang Yoh 19:2): “When John Huss, the martyr, was brought forth to be burned, they put a paper over his head, on which were pictured three devils, and the title ‘heresiarch.’ When he saw it, he said, ‘My Lord Jesus Christ, for my sake, did wear a crown of thorns; why should not I, therefore, for His sake, wear this ignominious crown?’” (= Pada waktu John Huss, sang martir, dibawa untuk dibakar, mereka meletakkan kertas di atas kepalanya, dimana digambarkan 3 setan, dan gelar ‘pimpinan / kepala dari sekte sesat’. Pada waktu ia melihatnya, ia berkata: ‘Tuhanku Yesus Kristus, demi aku, memakai mahkota duri; karena itu, mengapa demi Dia aku tidak mengenakan mahkota yang memalukan ini?’) - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 304.

 

3) Jangan meniru dunia yang menghina / mengejek / merendahkan Kristus; sebaliknya, layanilah dan muliakanlah Dia.

 

Adam Clarke (tentang Mat 27:29): “Let the world do what it will to render the royalty and mysteries of Christ contemptible, it is my glory to serve a King thus debased; my salvation, to adore that which the world despises; and my redemption, to go unto God through the merits of him who was crowned with thorns.’” (= Biarlah dunia melakukan apa yang ia maui untuk membuat kerajaan dan misteri Kristus sebagai sesuatu yang menjijikkan, adalah kemuliaan / kemegahanku untuk melayani seorang Raja yang begitu direndahkan; keselamatanku adalah memuja apa yang direndahkan oleh dunia; dan penebusanku adalah untuk pergi kepada Allah melalui jasa dari Dia yang telah dimahkotai dengan duri).

 

4) Kalau Allah untuk sementara waktu tidak menolong saudara dari kesukaran saudara, seperti yang Ia lakukan terhadap Kristus pada waktu Kristus ada di kayu salib, jangan menuruti bujukan setan, yang mengatakan bahwa Ia tidak mampu menolong saudara, dan Ia tidak mengasihi / mempedulikan saudara!

 

Calvin (tentang Mat 27:39,40): “And whenever God does not assist us according to our wish, but conceals his aid for a little time, it is a frequent stratagem of Satan, to allege that our hope was to no purpose, as if his promise had failed. ... And lest we should come to tempt God in a manner similar to that in which those men tempted him, let us allow God to conceal his power, whenever it pleases Him to do so, that he may afterwards display it at his pleasure at the proper time and place” (= Dan kapanpun Allah tidak menolong kita sesuai keinginan kita, tetapi menyembunyikan pertolonganNya untuk sedikit waktu, merupakan tipu daya / muslihat Setan, untuk mengatakan bahwa pengharapan kita tak ada gunanya, seakan-akan janjiNya telah gagal. ... Dan supaya jangan kita mencobai Allah dengan cara yang sama seperti orang-orang itu mencobai Dia, hendaklah kita membiarkan Allah menyembunyikan kuasaNya, kapanpun itu menyenangkan Dia untuk melakukan hal itu, supaya belakangan Ia bisa menunjukkannya sesuai perkenanNya pada waktu dan tempat yang tepat) - hal 304-305.

 

Calvin menyoroti kata-kata ‘diriNya sendiri tidak dapat Ia sela­matkan’ (Mat 27:42), dan juga kata ‘sekarang’ yang seharusnya ada dalam Mat 27:42,43.

Mat 27:42 (NIV): ‘Let him come down now from the cross’ (= Baiklah Ia turun dari salib sekarang).

Mat 27: 43 (NIV): ‘Let God rescue him now (= Biarlah Allah menolong Dia sekarang).

 

Calvin (tentang Mat 27:42,43): Because Christ does not immediately deliver himself from death, they upbraid him with inability. And it is too customary with all wicked men to estimate the power of God by present appearances, so that whatever he does not accomplish they think that he cannot accomplish, and so they accuse him of weakness, whenever he does not comply with their wicked desire. ... This, as I said a little ago,  is a very sharp arrow of temptation which Satan holds in his hand, when he pretends that God has forgotten us, because He does not relieve us speedily and at the very moment. ... Satan, therefore, attempts to drive us to despair by this logic, that it is vain for us to feel assured of the love of God, when we do not clearly perceive his aid. And as he suggests to our minds this kind of imposition, so he employs his agents, who contend that God has sold and abandoned our salvation, because he delays to give his assistance. We ought, therefore, to reject as false this argument, that God does not love those whom he appears for a time to forsake; and, indeed, nothing is more unreasonable than to limit his love to any point of time. God has, indeed, promised that he will be our deliverer; but if he sometimes wink at our calamities, we ought patiently to endure the delay. It is, therefore, contrary to the nature of faith, that the word ‘now’ should be insisted on by those whom God is training by the cross and by adversity to obedience, and whom he entreats (meminta) to pray and to call on his name; for these are rather the testimonies of his fatherly love, as the apostle tells us, (Heb. 12:6.) But there was this peculiarity in Christ, that, though he was the well-beloved Son, (Matth. 3:17; 17:5,) yet he was not delivered from death, until he had endured the punishment which we deserved; because that was the price by which our salvation was purchased” [= Karena Kristus tidak segera membebaskan diriNya sendiri dari kematian, mereka mencelaNya dengan ketidak-mampuan. Dan adalah biasa bahwa orang-orang jahat menilai kuasa Allah oleh hal-hal yang terlihat sekarang ini, sehingga apapun yang Ia tidak lakukan mereka kira Ia tidak bisa melakukannya, dan mereka menuduhNya dengan kelemahan, kapanpun Ia tidak memenuhi keinginan mereka yang jahat. ... Ini seperti yang tadi baru saya katakan, merupakan suatu panah pencobaan yang tajam yang dipegang oleh setan di tangannya, pada waktu ia membujuk kita supaya kita percaya bahwa Allah telah melupakan kita, karena Ia tidak membebaskan kita dengan cepat dan pada saat itu juga. ... Karena itu setan mencoba untuk menggiring kita pada keputus-asaan dengan menggunakan logika ini, bahwa adalah sia-sia bagi kita untuk yakin akan kasih Allah, pada waktu kita tidak secara jelas merasakan pertolonganNya. Dan pada saat ia mengusulkan pada pikiran kita tipuan ini, ia juga menggunakan agen-agennya, yang berargumentasi bahwa Allah telah menjual dan meninggalkan keselamatan kita, karena Ia menunda untuk memberikan pertolonganNya. Karena itu kita harus menolak argumentasi yang salah ini, bahwa Allah tidak mengasihi mereka yang kelihatannya Ia tinggalkan untuk sementara waktu; dan memang tidak ada yang lebih tidak masuk akal dari pada membatasi kasihNya pada waktu tertentu. Allah memang berjanji bahwa Ia akan menjadi Pembebas kita; tetapi jika Ia kadang-kadang seolah-olah tidak melihat pada bencana-bencana yang menimpa kita, kita harus dengan sabar menahan / memikul penundaan tersebut. Karena itu, merupakan sesuatu yang bertentangan dengan sifat dari iman, bahwa kata ‘sekarang’ dipaksakan oleh mereka yang Allah latih oleh salib dan kesengsaraan supaya bisa taat dan yang Ia minta untuk berdoa dan berseru kepada namaNya; karena ini lebih merupakan kesaksian dari kasih bapa, seperti yang dikatakan oleh sang rasuk (Ibr 12:6). Tetapi ada keanehan ini dalam Kristus, dimana sekalipun Ia adalah Anak yang dikasihi (Mat 3:17; 17:5), tetapi Ia tidak dibebaskan dari kematian, sampai Ia telah mengalami hukuman yang sebetulnya layak kita dapatkan; karena itulah harga dengan mana keselamatan kita dibeli] - hal 306,307.

 

Penerapan: Seringkah saudara menganggap bahwa Allah telah melupakan / meninggalkan saudara kalau Ia tidak menolong / menjawab doa saudara dengan segera? Ingatlah bahwa itu adalah bujukan setan!

  

 -AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com