Khotbah Pekabaran Injil

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


 

Hampir menjadi orang Kristen

Kisah 26:1-29

I) Paulus dihadapkan ke pengadilan.

1)   Nubuat dan perintah Tuhan Yesus.

Mat 10:18: “Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah”.

a)   Dari ayat di atas terlihat bahwa Yesus memang sudah menubuatkan bahwa para pengikutNya akan dihadapkan ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja, dan inilah yang dialami oleh Paulus pada saat ini.

b)   Dalam kasus seperti ini, Yesus memberikan perintah untuk memberikan kesaksian bagi mereka!

2)   Paulus taat pada perintah Yesus ini; ia memberikan kesaksian tentang Yesus kepada penguasa dan raja, kepada siapa ia dihadapkan, khususnya kepada Festus dan Agripa.

a)   Paulus menceritakan keadaannya sebelum ia bertobat, pada waktu ia masih menentang kekristenan dan menangkapi, menyiksa, bahkan membunuhi orang-orang kristen (ay 4-5,9-12).

b)   Ia menceritakan juga tentang peristiwa dimana ia melihat Yesus, yang menyebabkan pertobatannya (ay 13-18). Dan pada peristiwa itu juga ia mendapatkan panggilan / perintah dari Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil (ay 16-18). Itulah sebabnya ia memberitakan Injil, dan itu menyebabkan ia ditangkap (ay 19-21).

c)   Dalam menceritakan semua ini, Paulus jelas memberitakan Injil kepada para pendengarnya, dan ini terlihat dari:

1.   Ia menyebut Yesus sebagai ‘Tuhan’ (ay 15).

2.   Ia mengutip kata-kata Yesus yang berbicara tentang keselamatan / pengampunan dosa karena iman kepada Yesus.

Ay 17b-18: “Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, (18) untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepadaKu memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.

Perhatikan bahwa kekristenan tidak mengajar keselamatan karena ‘perbuatan baik’ ataupun karena ‘iman + perbuatan baik’, tetapi hanya karena ‘iman’!

Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

3.   Ia berbicara tentang keharusan untuk bertobat dari dosa.

Ay 19: “Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.

4.   Ia berbicara tentang penderitaan dan kebangkitan Mesias, dan bahwa Injil akan diberitakan kepada bangsa-bangsa non Yahudi.

Ay 23: “yaitu, bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain.’”.

Ay 8: “Mengapa kamu menganggap mustahil, bahwa Allah membangkitkan orang mati?”.

5.   Semua yang ia katakan tentang Mesias ini sesuai dengan kata-kata para nabi dan Musa (= Perjanjian Lama).

Ay 22b-23: “(22b) Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain dari pada yang sebelumnya telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa, (23) yaitu, bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain.’”.

II) Tanggapan pendengar Paulus terhadap Injil yang ia beritakan.

1)   Tanggapan Festus.

a)   Ia menganggap Paulus gila karena ilmunya yang banyak.

Ay 24: “Sementara Paulus mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya, berkatalah Festus dengan suara keras: ‘Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.’”.

1.   Orang Kristen memang bisa dimaki karena pengetahuannya yang banyak; misalnya, dianggap sebagai ahli Taurat.

Musuh-musuh Kristus selalu bisa menemukan sesuatu untuk mencela Dia, ataupun pelayan-pelayanNya / orang-orang kristen.

Bdk. Mat 11:18-19a - “(18) Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. (19a) Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.”.

Matthew Henry: “The apostles, who were fishermen, were despised because they had no learning; Paul, who was a university-man, and bred a Pharisee, is despised as having too much learning, more than did him good. Thus the enemies of Christ's ministers will always have something or other to upbraid them with” (= Rasul-rasul, yang adalah nelayan-nelayan, diremehkan karena mereka tidak terpelajar; Paulus, yang adalah orang universitas, dan keturunan Farisi, diremehkan sebagai mempunyai pengetahuan terlalu banyak, lebih dari yang bisa memberi kebaikan kepadanya. Demikianlah musuh-musuh dari pelayan-pelayan Kristus akan selalu mempunyai satu dan lain hal untuk mencela mereka).

2.   Orang Kristen juga bisa dimaki gila pada waktu:

a.   Ia berbicara tentang hal-hal rohani, yang tak dimengerti / tak dipercaya oleh orang dunia, seperti pada waktu ia menyatakan:

·        Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia.

·        Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga.

·        Roh Kudus yang adalah Allah sendiri ada dalam dirinya.

·        Tuhan berbicara kepadanya dan menyuruh / melarang / menjanjikan / menyatakan sesuatu kepadanya. Harus diakui bahwa pada jaman ini ada banyak orang Kristen yang mengaku bahwa Tuhan berbicara kepadanya, tetapi itu hanya bualan belaka atau sebetulnya setan yang berbicara kepadanya. Tetapi ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak bisa berbicara kepada kita.

·        Kepercayaannya terhadap mujijat-mujijat dalam Kitab Suci, termasuk kebangkitan Kristus. Mungkin salah satu hal yang menyebabkan Festus mengatakan Paulus gila adalah karena ia mempercayai kebangkitan Yesus dari antara orang mati.

·        Kitab Suci sebagai Firman Tuhan.

b.   Ia mempunyai semangat yang luar biasa untuk mentaati / melayani Tuhan, seperti mau memberikan persembahan persepuluhan, mau pergi ke gereja dengan rajin tiap minggu, mau rajin datang dalam Pemahaman Alkitab, mau menjadi misionaris ke negara lain, dsb.

c.   Ia rela mengorbankan segala sesuatu untuk Tuhan.

Tetapi perhatikan apa yang dikatakan Albert Barnes di bawah ini.

Barnes’ Notes: “The tenants of a madhouse often think all others deranged but themselves; but there is no madness so great, no delirium so awful, as to neglect the eternal interest of the soul for the sake of the pleasures and honors which this life can give” (= Penghuni-penghuni dari suatu rumah gila sering berpikir bahwa semua orang lain gila kecuali diri mereka sendiri; tetapi tidak ada kegilaan yang lebih besar, tidak ada ketidak-warasan yang begitu hebat / mengerikan, sehingga mengabaikan kepentingan kekal dari jiwa demi kesenangan dan kehormatan yang bisa diberikan oleh hidup ini).

b)   Jawaban Paulus.

Ay 25-27: “(25) Tetapi Paulus menjawab: ‘Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat! (26) Raja (Agripa) juga tahu tentang segala perkara ini, sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin, bahwa tidak ada sesuatupun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara ini tidak terjadi di tempat yang terpencil. (27) Percayakah engkau, raja Agripa, kepada para nabi? Aku tahu, bahwa engkau percaya kepada mereka.’”.

1.   Jawaban Paulus kepada Festus dalam ay 25 menunjukkan penguasaan diri, kesabaran dan sopan santun yang tinggi. Ini saja sudah menunjukkan bahwa ia tidak mungkin gila.

2.   Seluruh jawaban ini juga menunjukkan strategi / taktik dan kebijaksanaan Paulus dalam melakukan penginjilan. Dari kata-kata Festus tadi, ia tahu bahwa Festus akan sukar atau bahkan tidak mungkin dipertobatkan. Karena itu, dalam ay 26-27 ia ‘meninggalkan’ Festus, dan mengalihkan kata-katanya kepada Agripa.

Sekarang mari kita membahas kata-kata Paulus kepada Agripa dalam ay 26-27 ini:

a.   Ay 26b: “Aku yakin, bahwa tidak ada sesuatupun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara ini tidak terjadi di tempat yang terpencil.

Ada 2 pandangan tentang apa yang dimaksud oleh Paulus dengan kata-kata ini:

·        ada yang menganggap bahwa ini menunjuk kepada pengalamannya sendiri, yang ia ceritakan dalam kesaksiannya tadi.

·        ada yang menganggap ini menunjuk kepada penderitaan, kematian, dan kebangkitan Mesias.

Mengingat bahwa Paulus menyambung kata-kata ini dengan kata-kata ‘Percayakah engkau, raja Agripa, kepada para nabi (ini pasti menunjuk kepada Perjanjian Lama)?’ dalam ay 27a, saya berpendapat bahwa yang Paulus maksudkan dalam ay 26b adalah tentang Mesias, karena itu memang ada dalam Perjanjian Lama, sedangkan pengalaman dan pertobatan Paulus tak ada dalam Perjanjian Lama.

b.   Ay 27: “Percayakah engkau, raja Agripa, kepada para nabi? Aku tahu, bahwa engkau percaya kepada mereka.’”.

·        Perhatikan bahwa dalam ay 26 Paulus bicara tentang pengetahuan Agripa (‘tidak ada sesuatupun dari semuanya ini yang belum didengarnya’), tetapi dalam ay 27 ia menanyakan tentang iman / kepercayaan Agripa terhadap hal itu! Hanya tahu tentang Kristus menebus dosa dsb, tidak ada gunanya, kalau tidak disertai iman kepada Kristus!

·        Tetapi mengapa dalam ay 27 yang ditanyakan bukan iman kepada Kristus tetapi kepada nabi-nabi?

Adam Clarke: “If he believed the prophets, see Acts 26:22-23, and believed that Paul’s application of their words to Christ Jesus was correct, he must acknowledge the truth of the Christian religion” [= Jika ia percaya kepada nabi-nabi, (lihat Kis 26:22-23), dan percaya bahwa penerapan Paulus tentang kata-kata mereka kepada Kristus Yesus adalah benar, ia harus mengakui kebenaran dari agama Kristen].

Barnes’ Notes: “‘Believest thou the prophets?’ The prophecies respecting the character, the sufferings, and the death of the Messiah” (= ‘Percayakah engkau kepada nabi-nabi?’ Nubuat-nubuat mengenai karakter, penderitaan, dan kematian Mesias?).

2)   Tanggapan Agripa.

Ay 28: “Jawab Agripa: ‘Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!’”.

Ada banyak pandangan tentang arti dari kata-kata Agripa ini, karena kata-katanya memang kabur / tidak jelas.

Pulpit Commentary: “This saying of Agrippa’s is obscure and variously explained” (= Kata-kata Agripa ini kabur dan dijelaskan dengan bermacam-macam cara) - hal 268.

Terjemahan hurufiah dari ay 28 adalah: in a little you persuade me to make christian’ (= di dalam sedikit / kecil engkau meyakinkan aku menjadi orang kristen).

Tidak dikatakan ‘dalam sedikit apa’!

Ini menyebabkan kata-kata ‘in a little’ ditafsirkan bermacam-macam:

a)   Diartikan ‘almost’ / ‘hampir-hampir’.

Ay 28: Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang kristen’.

KJV: Almost thou persuadest me to be a christian’ (= Hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang kristen).

NKJV: ‘You almost persuade me to become a christian’ (= Engkau hampir saja meyakinkan aku untuk menjadi orang kristen).

John Wesley: “‘Then Agrippa said unto Paul, Almost thou persuadest me to be a Christian!’ - See here, Festus altogether a heathen, Paul alogether a Christian, Agrippa halting between both. Poor Agrippa! But almost persuaded! So near the mark, and yet fall short! Another step, and thou art within the vail. Reader, stop not with Agrippa; but go on with Paul” [= ‘Lalu Agripa berkata kepada Paulus, Hampir saja engkau meyakinkan aku menjadi orang Kristen!’ - Lihatlah di sini, Festus adalah orang kafir sepenuhnya, Paulus adalah orang Kristen sepenuhnya, Agripa berhenti di tengah-tengah keduanya. Agripa yang malang! Tetapi hampir saja diyakinkan! Begitu dekat dengan tanda sasaran, tetapi gagal memenuhi standard! Selangkah lagi, dan engkau ada di dalam kemurahan. Pembaca, jangan berhenti bersama Agripa; tetapi teruslah bersama Paulus].

Barnes’ Notes: “‘Almost.’ ... Thou hast nearly convinced me that Christianity is true, and persuaded me to embrace it. The arguments of Paul had been so rational; the appeal which he had made to his belief of the prophets had been so irresistible, that he had been nearly convinced of the truth of Christianity. ... Yet, as in thousands of other cases, he was not quite persuaded to be a Christian. What was included in the ‘almost’; what prevented his being quite persuaded, we know not. It may have been that the evidence was not so clear to his mind as he would profess to desire; or that he was not willing to give up his sins; or that he was too proud to rank himself with the followers of Jesus of Nazareth; or that, like Felix, he was willing to defer it to a more convenient season” (= ‘Hampir saja’. ... Engkau hampir meyakinkan aku bahwa kekristenan adalah benar, dan meyakinkan aku untuk memeluknya. Argumentasi Paulus begitu masuk akal; desakan yang ia buat pada kepercayaannya kepada nabi-nabi begitu tak bisa ditolak, sehingga ia hampir diyakinkan terhadap kebenaran dari kekristenan. ... Tetapi, seperti dalam ribuan kasus lain, ia tidak sungguh-sungguh diyakinkan untuk menjadi seorang Kristen. Ia termasuk dalam ‘hampir saja’; apa yang menghalanginya untuk sungguh-sungguh diyakinkan, kami tidak tahu. Itu bisa karena bukti tidak cukup jelas bagi pikirannya seperti yang ia inginkan; atau bahwa ia tidak mau meninggalkan dosa-dosanya; atau bahwa ia terlalu sombong untuk menggolongkan dirinya sendiri dengan para pengikut dari Yesus dari Nazaret; atau seperti Feliks, ia mau menundanya sampai waktu yang lebih tepat).

Pulpit Commentary, hal 290, memberikan contoh-contoh orang yang ‘hampir kristen’ di dalam gereja:

1.   Anak dari orang tua yang beriman dan saleh, dikelilingi oleh pengaruh-pengaruh yang baik, dibimbing ke rumah Allah, banyak didoakan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menjadi orang Kristen.

2.   Pengunjung kebaktian di gereja, yang sering digerakkan sampai mencucurkan air mata, tetapi emosi berlalu, dan keputusan percaya dan menerima Yesus ditunda, dan mereka hanya ‘hampir kristen’.

3.   Orang-orang tua yang sedang sekarat, yang pernah berulang-ulang menunda keputusan percaya kepada Yesus pada masa mudanya, dan sekarang tidak bisa melakukan keputusan tersebut, dan ada dalam bahaya untuk mati sebagai seseorang yang ‘hampir kristen’.

4.   Ada orang tua yang mempunyai anak-anak yang kristen (yang pasti banyak memberitakan Injil dan mendoakan orang tuanya), tetapi mereka sendiri tetap ada dalam kehidupan lama yang penuh dengan dosa.

5.   Orang-orang yang pernah mempunyai kekuatiran yang bersifat agama (seperti takut kepada Allah, takut pada pnghakiman akhir jaman, takut kepada neraka, dsb), tetapi semua itu tak pernah membuat ia sungguh-sungguh memutuskan untuk percaya dan menerima Yesus.

Apakah saudara adalah salah satu dari orang-orang seperti ini?

b)   Diartikan ‘in a short time’ / ‘dalam waktu yang singkat’.

RSV: In a short time you think to make me a christian’ (= Dalam waktu yang singkat engkau berpikir untuk membuat aku jadi orang kristen).

NIV: ‘Do you think that in such a short time you can persuade me to be a christian’ (= Apakah kamu pikir bahwa dalam waktu yang begitu singkat kamu bisa meyakinkan / membujuk aku untuk menjadi orang kristen).

NASB: in a short time you will persuade me to become a christian’ (= dalam waktu yang singkat kamu akan meyakinkan aku menjadi orang kristen).

Mungkin ini adalah pandangan dari kebanyakan penafsir. Kalau ini benar, maka Agripa perlu mengetahui bahwa sebetulnya tidak harus membutuhkan waktu lama untuk membuat seseorang yakin dan percaya kepada Yesus Kristus!

Ada juga yang menterjemahkan ‘in a short time’ / ‘dalam waktu yang singkat’, tetapi dengan arti yang berbeda. Mereka mengartikan ‘dalam waktu sedikit lagi engkau akan meyakinkan aku’. Tetapi arti ini mengharuskan kata ‘meyakinkan’ ada dalam bentuk future tense (perhatikan kata ‘akan’ yang saya garis bawahi tersebut), sedangkan sebetulnya di sini kata ‘meyakinkan’ menggunakan bentuk present tense. KJV: ‘thou persuadest me’.

c)   Diartikan ‘in a small degree’ / ‘dalam tingkat yang kecil’.

J. A. Alexander menyalahkan kedua pandangan di atas. Mari kita perhatikan argumentasinya.

Ay 28-29: “(28) Jawab Agripa: ‘Hampir-hampir saja (Lit: in a little) kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!’ (29) Kata Paulus: ‘Aku mau berdoa kepada Allah, supaya segera atau lama-kelamaan (Lit: in a little or in great) bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini.’”.

Perhatikan bahwa kata-kata ‘hampir-hampir saja’ secara hurufiah adalah ‘in a little’. Kata ini lalu diambil oleh Paulus dalam ay 29, tetapi disambung dengan kontrasnya, dan ia mengatakan ‘in a little or in great’.

J. A. Alexander mengatakan bahwa kalau diartikan ‘hampir-hampir’ / ‘almost’ maka dalam ay 29 Paulus seharusnya berkata ‘hampir-hampir atau sepenuhnya / ‘almost or altogether, karena ‘altogether’ / ‘sepenuhnya’ adalah kontras dari ‘almost’ / ‘hampir-hampir’.

Sedangkan kalau diartikan ‘dalam waktu yang singkat’ / ‘in a short time’, maka dalam ay 29 seharusnya Paulus mengatakan ‘dalam waktu yang singkat atau dalam waktu yang lama / panjang’ / ‘in a short time or in a long time’, karena kata-kata ‘in a long time’ / ‘dalam waktu yang lama’ adalah kontras dari kata-kata ‘in a short time’ / ‘dalam waktu yang singkat’.

Dalam faktanya, yang Paulus katakan dalam ay 29 adalah ‘segera atau lama-kelamaan’, tetapi ini juga terjemahan yang salah / tak hurufiah. Secara hurufiah terjemahannya adalah ‘in a little or in great’ (= dalam kecil atau dalam besar).

J. A. Alexander sendiri mengatakan bahwa ‘in a little’ artinya ‘in a small degree’ / ‘dalam tingkat yang kecil’.

J. A. Alexander: “The idea then is, ‘thou persuadest me a little (or in some degree) to become a Christian,’ i.e. I begin to feel the force of your persuasive argument, and if I hear you longer, do not know what the effect may be” [= Jadi artinya adalah: ‘engkau sedikit / agak meyakinkan aku (atau dalam tingkat tertentu) untuk menjadi orang Kristen’, yaitu ‘Aku mulai merasa kekuatan dari argumentasimu yang meyakinkan, dan jika aku mendengarmu lebih lama, aku tak tahu apa yang akan terjadi’] - hal 429.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Then Agrippa said unto Paul, Almost thou persuadest me to be a Christian,’. There is certainly some difficulty in this translation, there being no other clear instance of this meaning of the phrase. Some of the best critics think the only true sense of the words to be, ‘With a little persuadest thou me,’ which they understand as an ironical response to the apostolic question - to this effect, ‘Ah, Paul, thou art for making me a Christian rather too summarily - I am not to be so easily turned.’ But the apostle’s reply seems clearly to show that he at least did not so understand the king; and it is not likely that he misunderstood him. Others, who also object to the rendering of our version, think the sense of the phrase to be, ‘In little (time) thou wilt persuade me to be a Christian’ - q. d., ‘At this rate you will soon have me over to your opinions;’ which they take to have been meant seriously, though not very deeply. But though the words will bear the sense of ‘In little (time),’ the tense used - not the future, ‘thou wilt persuade me;’ but the present, ‘thou persuadest me,’ suits ill with such a rendering of the words; and the apostle’s reply seems to us quite fatal to it. One other sense of the words, different from that of our version, remains, ‘In a little [measure] thou art persuading me to be a Christian’ - q. d., ‘You are really making some impression upon me;’ ‘I feel myself a little drawn over to your opinions.’ Not that Agrippa is to be supposed, in saying this, to mean anything more than a high compliment to the persuasiveness of the speaker; though it may well be supposed that there was more in it than he would let his manner show. But the chief, and to us all-sufficient recommendation of this view of the words - which is that of Tyndale and Cranmer, and defended by Alexander - is, that it is the only one which the apostle’s response perfectly meets” (= ).

Yang manapun arti yang benar, yang jelas Agripa tidak sungguh-sungguh menjadi orang Kristen. Ini juga terlihat dari kata ‘orang Kristen’ yang ia gunakan, yang pada saat itu masih merupakan suatu istilah kafir yang bersifat menghina orang Kristen.

J. A. Alexander: “This is ... not a genuine conviction of the truth of Christianity, as may be gathered from the later history of this man, as recorded by Josephus, and from his use of the term ‘Christian’, which had not yet been adopted by the church itself, but was still a heathenish if not a disrespectful designation” (= Ini bukanlah suatu keyakinan yang sejati tentang kebenaran dari kekristenan, seperti bisa didapatkan dari sejarah selanjutnya dari orang ini, seperti dicatat oleh Josephus, dan dari penggunaan istilah ‘orang Kristen’ olehnya, yang belum diterima oleh gereja sendiri, tetapi tetap merupakan suatu istilah kafir, bahkan suatu istilah yang bersifat menghina) - hal 429.

Dengan demikian, sekalipun ia hampir selamat, tetapi ia tidak selamat!

Barnes’ Notes: “There is every reason to believe that he was never quite persuaded to embrace the Lord Jesus, and that he was never nearer the kingdom of heaven than at this moment. It was the crisis, the turning-point in Agrippa’s life, and in his eternal destiny; and, like thousands of others, he neglected or refused to allow the full conviction of the truth on his mind, and died in his sins” (= Ada terlalu banyak alasan untuk percaya bahwa ia tidak pernah sungguh-sungguh diyakinkan untuk mempercayai Tuhan Yesus, dan bahwa ia tidak pernah lebih dekat pada kerajaan surga dari pada pada saat ini. Itu adalah saat kritis, titik balik dalam kehidupan Agripa, dan dalam tujuan / nasib kekalnya; dan, seperti ribuan orang lain, ia mengabaikan atau menolak untuk mengijinkan keyakinan penuh terhadap kebenaran pada pikirannya, dan mati dalam dosanya).

Barnes’ Notes: “persons are deterred from being altogether Christians by the following, among other causes: (a) By the love of sin - the love of sin in general, or some particular sin which they are not willing to abandon; (b) By the fear of shame, persecution, or contempt, if they become Christians; (c) By the temptations of the world - its cares, vanities, and allurements - which are often presented most strongly in just this state of mind; (d) By the love of office, the pride of rank and power, as in the case of Agrippa; (e) By a disposition, like Felix, to delay to a more favorable time the work of religion, until life has wasted away, and death approaches, and it is too late, and the unhappy man dies ALMOST a Christian” [= orang-orang dihalangi untuk menjadi orang-orang kristen sepenuhnya oleh hal-hal berikut, antara lain: (a) Oleh kecintaan kepada dosa - cinta kepada dosa secara umum, atau dosa tertentu yang tak mau mereka tinggalkan; (b) Oleh rasa takut terhadap kehinaan, penganiayaan, atau kebencian, jika mereka menjadi orang Kristen; (c) Oleh pencobaan-pencobaan dunia ini - kekuatirannya, kesia-siaannya, dan daya tariknya - yang sering diajukan dengan paling kuat pada keadaan pikiran pada saat seperti ini; (d) Oleh kecintaan pada jabatan, kesombongan tentang pangkat dan kuasa, seperti dalam kasus Agripa; (e) Oleh suatu kecondongan, seperti Feliks, untuk menunda pekerjaan agama ke suatu waktu yang lebih baik / menyenangkan, sampai hidup disia-siakan / dihabiskan dengan sia-sia, dan kematian mendekat, dan itu menjadi terlambat, dan orang yang malang itu mati dalam keadaan HAMPIR Kristen].

Barnes’ Notes: “this state of mind is one of special interest and special danger. It is not one of safety, and it is not one that implies any certainty that the ‘almost Christian’ will ever be saved. There is no reason to believe that Agrippa ever became fully persuaded to become a Christian. To be almost persuaded to do a thing which we ought to do, and yet not to do it, is the very position of guilt and danger. And it is no wonder that many are brought to this point - the turning-point, the crisis of life - and then lose their anxiety, and die in their sins. May the God of grace keep us from resting in being almost persuaded to be Christians! May every one who shall read this account of Agrippa be admonished by his convictions, and be alarmed by the fact that he then paused, and that his convictions there ended! And may every one resolve by the help of God to forsake every thing that prevents his becoming an entire believer, and without delay embrace the Son of God as his Saviour!” (= Keadaan pikiran seperti ini adalah keadaan pikiran yang membutuhkan perhatian khusus, dan mempunyai bahaya yang khusus. Ini bukan sesuatu yang aman, dan tak ada apapun yang secara tak langsung menunjukkan kepastian apapun bahwa ‘orang yang hampir Kristen’ akan pernah diselamatkan. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa Agripa pernah menjadi yakin sepenuhnya untuk menjadi orang Kristen. Hampir diyakinkan untuk melakukan sesuatu yang harus kita lakukan, tetapi tidak melakukannya, adalah suatu posisi dari kesalahan dan bahaya. Dan tidak mengherankan bahwa ada banyak orang yang dibawa pada titik ini - titik balik, krisis dari kehidupan - dan lalu kehilangan kepedulian mereka, dan mati dalam dosa mereka. Kiranya Allah kasih karunia menjaga kita dari berhenti dalam keadaan hampir diyakinkan menjadi orang Kristen! Kiranya setiap orang yang membaca cerita tentang Agripa ini diperingatkan oleh hal-hal yang meyakinkannya, dan menjadi takut oleh fakta bahwa ia berhenti pada saat itu, dan bahwa hal-hal yang meyakinkannya itu berakhir di sana! Dan kiranya setiap orang memutuskan, dengan pertolongan Allah, untuk meninggalkan segala sesuatu yang menghalanginya untuk menjadi orang percaya sepenuhnya, dan tanpa penundaan memeluk / mempercayai Anak Allah sebagai Juruselamatnya!).

Pulpit Commentary: “In the audience-chamber we have thus the most diverse attitudes of mind towards Christianity represented. Paul, in the full inspiration of faith and life of the Son of God; Agrippa, convinced but not converted; Bernice, probably recalcitrant; Festus, hardened in indifferent cynicism. Some wanting little, others much, to make them Christians. But what is the practical difference between almost saved and quite damned?” (= Maka dalam ruangan hadirin kita mempunyai wakil dari sikap-sikap pikiran yang paling bermacam-macam terhadap kekristenan. Paulus, dalam ilham yang penuh dari iman dan kehidupan Anak Allah; Agripa, diyakinkan tetapi tidak bertobat; Bernike, mungkin kepala batu; Festus, dikeraskan dalam sikap sinis yang acuh tak acuh. Sebagian kekurangan sedikit, yang lain kekurangan banyak, untuk membuat mereka orang-orang Kristen. Tetapi perbedaan praktis apa yang ada di antara ‘hampir selamat’ dan ‘sungguh-sungguh dihukum’?) - hal 276.

III) Tanggapan Paulus.

Ay 29: “Kata Paulus: ‘Aku mau berdoa kepada Allah, supaya segera atau lama-kelamaan bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini.’”.

Ia menghendaki, dan berdoa, supaya bukan hanya Agripa, tetapi juga semua orang yang hadir saat itu, menjadi orang Kristen sama seperti dia, dengan belenggu-belenggu itu sebagai perkecualian.

Matthew Henry: “he intimates that it was the concern, and would be the unspeakable happiness, of every one of them to become true Christians - that there is grace enough in Christ for all, be they ever so many - enough for each, be they ever so craving” (= ia mengisyaratkan bahwa adalah perhatiannya, dan akan merupakan kebahagiaannya yang tak terkatakan, bahwa setiap orang dari mereka menjadi orang Kristen yang sejati - bahwa ada kasih karunia yang cukup dalam Kristus untuk semua, sekalipun di sana ada begitu banyak orang - cukup untuk setiap orang, sekalipun mereka begitu sangat membutuhkannya).

- AMIN -


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com