Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

buas22@yahoo.com

 

Allah melawat umatNya

 

MATIUS 1:18-2:12

 

I) Allah melawat umatNya pada Natal.

 

Jaman sekarang, kalau seseorang berkata ‘Allah melawat umatNya’ maka biasanya ia berkata demikian karena melihat ada sesuatu yang spektakuler. Ini juga terjadi dalam jaman Kitab Suci, misalnya dalam Luk 7:16, dimana keluar kata-kata ‘Allah telah melawat umatNya’ setelah mereka melihat Yesus membangkitkan anak janda di Nain.

Tetapi dalam Natal 2000 tahun yang lalu itu, Allah melawat umatNya, dan tidak kelihatan ada hal-hal yang spektakuler, setidaknya untuk kebanyakan orang pada saat itu. Memang ada hal-hal yang spektakuler, seperti:

·        kelahiran dari perawan. Tetapi siapa yang mengetahui hal ini selain Yusuf dan Maria?

·        bala tentara sorga / malaikat yang memuji Allah (Luk 2:13-14), tetapi lagi-lagi hanya beberapa gembala yang melihat hal ini.

·        tanda bintang (Mat 2:2,9). Tetapi inipun hanya kelihatan oleh para orang Majus.

 

Sedangkan yang terlihat oleh orang banyak, sama sekali tidak spektakuler. Ini memang sesuai dengan nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus.

Bdk. Yes 53:2-3 - “(2) Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. (3) Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap Dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan”.

 

Tetapi Kitab Suci mengatakan bahwa Yesus adalah Imanuel / God with us / Allah dengan kita / Allah beserta kita! Dengan kata lain, dalam diri Yesus, Allah telah melawat kita.

 

Penerapan: jangan selalu mengharapkan hal-hal yang spektakuler! Sekalipun Tuhan memang bisa melakukan hal seperti itu, tetapi tidak selalu Ia bekerja dengan cara demikian! Juga jangan beranggapan bahwa kalau tidak terjadi hal-hal yang spektakuler, Allah tidak melawat / tidak hadir / tidak bekerja.

 

II) Tujuan lawatan Allah dalam Natal.

 

Ada banyak tujuan kedatangan Yesus ke dalam dunia, seperti memberitakan Injil / Firman Tuhan (Mark 1:38  Luk 4:43), memberikan teladan hidup (Fil 2:5-8  Yoh 13:15), dsb. Tetapi tujuan utama kedatangan Yesus ke dalam dunia adalah menyelamatkan umatNya dari dosa.

Mat 1:21 - “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka.’”.

 

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari Mat 1:21 ini:

 

1)   Kata ‘menyelamatkan dari dosa’ artinya adalah:

 

a)   Menebus dari dosa, mengampuni dosa, membebaskan dari hukuman dosa.

 

1.   Nama ‘Yesus’ artinya memang adalah ‘Saviour’ (= Juruselamat), dan karena itu:

·        dalam beriman kepada Yesus, saudara harus percaya kepadaNya sebagai Juruselamat dosa, bukan sekedar sebagai pelaku mujijat, teladan, pemberi berkat, penyembuh penyakit dsb.

·        dalam penginjilan, hal inilah yang harus saudara tekankan! Kalau dalam penginjilan saudara terus berbicara tentang kesembuhan ilahi / mujijat, maka saudara akan menghasilkan ‘petobat’ yang hanya percaya kepada Yesus sebagai penyembuh / pelaku mujijat. Itu bukan hal yang salah (karena Yesus memang bisa menyembuhkan / melakukan mujijat), tetapi iman seperti itu tidak memadai dan belum menyelamatkan dia! Tetapi kalau dalam penginjilan saudara menceritakan kematian Kristus untuk menebus dosa, maka saudara akan menghasilkan petobat sejati yang betul-betul percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dosa.

 

2.   Orang yang betul-betul percaya kepada Kristus betul-betul bebas dari hukuman dosa.

Ro 8:1 - “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”.

 

b)         Membebaskan dari perhambaan dosa (Yoh 8:34-36  1Pet 2:24).

1Pet 2:24 - “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran”.

Yoh 8:34b - “Setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa”.

Yoh 8:36 - “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka”.

Dengan demikian, kita yang tadinya diperhamba oleh dosa, tidak bisa berbuat baik, sekarang bisa berbuat baik. Dengan kata lain, kita mengalami pengudusan.

 

Orang Kristen yang sejati harus mengalami kedua hal di atas ini. Tetapi jaman sekarang banyak orang kristen yang yakin kalau dosanya sudah diampuni, tetapi hidupnya sama sekali tidak berubah. Kalau saudara adalah orang seperti itu ingatlah bahwa Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati!

Yak 2:17,26 - “(17) Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. ... (26) Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”.

 

Juga perhatikan kutipan-kutipan kata-kata J. C. Ryle dalam bukunya yang berjudul ‘Holiness’ (= Kekudusan) di bawah ini:

·        “A ‘saint’, in whom nothing can be seen but worldliness or sin, is a kind of monster not recognized in the Bible” (= ‘Orang kudus’, dalam diri siapa tidak terlihat apapun kecuali keduniawian atau dosa, adalah sejenis monster yang tidak dikenal dalam Alkitab) - hal 19.

·        “I do not understand how a man can be a true believer unto whom sin is not the greatest burden, sorrow and trouble” (= Aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa adalah orang percaya yang sejati kalau bagi dia dosa bukanlah beban, kesedihan dan kesukaran yang terbesar) - hal 38 (kata-kata ini dikutip J. C. Ryle dari John Owen).

·        “I fear it is sometimes forgotten that God has married together justification and sanctification. They are distinct and different things, beyond question, but one is never found without the other. All justified people are sanctified, and all sanctified are justified. What God has joined together let no man dare to put asunder” (= Aku takut bahwa kadang-kadang dilupakan kalau Allah telah mengawinkan ‘pembenaran’ dan ‘pengudusan’. Tidak usah diragukan bahwa mereka memang adalah 2 hal yang berbeda, tetapi yang satu tidak pernah ada tanpa yang lain. Semua orang yang dibenarkan juga dikuduskan, dan semua yang dikuduskan juga dibenarkan. Apa yang telah dipersatukan Allah jangan ada yang berani menceraikannya) - hal 46.

·        “He and sin must quarrel, if he and God are to be friends” (= Ia dan dosa harus bertengkar, kalau ia mau berteman dengan Allah) - hal 68.

 

2)   ‘UmatNya’.

Ini tidak bisa diartikan ‘orang Yahudi saja’, tapi harus diartikan ‘orang pilihan Allah dari semua bangsa’. Yesus memang tidak datang hanya untuk bangsa Yahudi saja. Ini terlihat dengan jelas dari ayat-ayat seperti:

·        Kej 12:3 - “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.’”.

·        Mat 28:19 - “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”.

·        Kis 1:8 - “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.’”.

·        Kis 10:34-35 - “(34) Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: ‘Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. (35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya”.

·        Roma 11:11-24 - “(11) Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu. (12) Sebab jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka. (13) Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku, (14) yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan cemburu di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka. (15) Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati? (16) Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus. (17) Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, (18) janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu. (19) Mungkin kamu akan berkata: ada cabang-cabang yang dipatahkan, supaya aku dicangkokkan di antaranya sebagai tunas. (20) Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah! (21) Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. (22) Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasanNya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahanNya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahanNya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga. (23) Tetapi merekapun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali. (24) Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri”.

 

3)   Cara Kristus menyelamatkan.

Ia menyelamatkan kita dari dosa dengan jalan mati di atas kayu salib untuk menebus dosa kita. Karena Ia mau mati untuk menebus dosa inilah maka Ia harus dilahirkan (Mat 20:28 - Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang).

 

Ada orang yang mengatakan:

·        “Yesus mati supaya kita bisa hidup”.

·        “Anak Allah menjadi manusia, supaya manusia bisa menjadi anak Allah”.

 

4)   Secara tidak langsung Mat 1:21 ini menunjukkan bahwa kalau Yesus tidak datang, maka umat manusia tidak akan bisa selamat.

 

Kalau memang sudah ada atau akan ada jalan keselamatan yang lain, apa perlunya Yesus datang ke dalam dunia, menderita dan mati disalib untuk menebus dosa? Hanya untuk memberikan tambahan satu jalan lagi padahal sudah ada banyak jalan? Itu bodoh dan konyol. Yang benar adalah: karena tidak ada jalan lain untuk selamat, maka Yesus datang ke dalam dunia dan mati disalib untuk menebus dosa, supaya tersedia jalan keselamatan satu-satunya bagi manusia!

 

Penerapan:

·        jangan mencari jalan keselamatan di luar Kristus. Kalau mau selamat, datanglah dan percayalah kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan.

·        banyaklah dan tekunlah dalam memberitakan Injil, bahkan dalam gereja (ingat akan lalang di antara gandum!), karena tanpa ini manusia akan masuk ke neraka.

 

III) 3 golongan orang dengan tanggapannya terhadap Natal.

 

1)   Golongan Herodes.

 

a)         Diri Herodes (Herodes yang Agung).

Ia adalah orang Idumea dan sebetulnya ia adalah seorang raja yang hebat, tetapi ia sangat mudah curiga dan kejam luar biasa. Ia bahkan membunuh istrinya sendiri, ibu mertuanya dan 3 anak laki-lakinya karena curiga bahwa mereka mau merebut tahtanya.

 

Sampai-sampai saat itu ada kata-kata dari kaisar yang berbunyi: ‘Lebih baik menjadi babinya Herodes dari pada menjadi anak laki-lakinya’. Mengapa? Karena Herodes, yang ingin menyenangkan orang Yahudi, memang tidak makan babi. Jadi kalau menjadi babinya aman. Tetapi menjadi anak laki-lakinya resikonya besar untuk dicurigai dan lalu dibunuh.

Catatan: dalam bahasa Yunani, kata ‘anak laki-laki’ adalah HUIOS, sedangkan kata ‘babi’ adalah HUOS, sehingga dalam bahasa Yunani kata-kata kaisar itu membentuk syair.

 

Bisakah saudara bayangkan bagaimana reaksinya ketika mendengar dari orang-orang Majus bahwa ada raja orang Yahudi yang baru dilahirkan? Semua orang tahu akan kekejamannya dan karena itu ketika ia mendengar dari orang-orang Majus tentang raja yang baru lahir, dikatakan oleh Kitab Suci bahwa ‘terkejutlah ia beser­ta seluruh Yerusalem’ (Mat 2:3).

Kata ‘terkejut’ di sini salah terjemahan; seharusnya adalah ‘terganggu’.

KJV/RSV/NASB: ‘was troubled’ (= terganggu).

NIV: ‘was disturbed’ (= terganggu).

Perhatikan bahwa ay 3 itu mengatakan bahwa bukan hanya Herodes saja yang merasa terganggu, tetapi juga seluruh Yerusalem. Mengapa? Karena seluruh Yerusalem, yang sudah mengenal watak Herodes, takut akan reaksi Herodes karena adanya Raja yang baru lahir itu.

 

b)         Sikapnya terhadap Tuhan Yesus.

Ia menganggap kehadiran Tuhan Yesus ‘mengganggu’ kehidupannya / kedudukannya sehingga ia menentang Tuhan Yesus dan ingin membunuhNya.

 

Perlu diketahui bahwa orang yang memusuhi Yesus belum tentu memusuhi gereja. Herodes membangun Bait Allah, tetapi ia memusuhi Yesus. Jadi bisa saja saudara pro pada gereja / kekristenan (simpatisan kristen), tetapi memusuhi Yesus!

 

Yesus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Herodes salah sangka terhadap maksud baik Yesus itu, dan ia justru memusuhi Yesus!

 

Penerapan: Apakah saudara adalah orang yang menolak Tuhan Yesus karena saudara merasa bahwa Tuhan Yesus ‘mengganggu’ hidup saudara? Ada macam-macam cara melalui mana saudara bisa merasakan Yesus sebagai gangguan, seperti:

·        Mungkin agama saudara bertentangan dengan Yesus, dan karena itu saudara menganggap Yesus sebagai gangguan.

·        Mungkin saudara merasa Yesus mengganggu kenikmatan hidup saudara karena Yesus melarang saudara berzinah.

·        Mungkin saudara merasa Yesus mengganggu acara piknik saudara pada hari Minggu karena Ia menyuruh saudara untuk berbakti di gereja.

·        Mungkin saudara merasa Yesus mengganggu pekerjaan saudara karena Ia melarang saudara berdusta dan menyuruh saudara untuk hidup jujur.

·        Mungkin saudara merasa Yesus mengganggu pelajaran sekolah saudara karena ia melarang saudara tidak jujur pada waktu ulangan / ujian.

·        Mungkin saudara merasa Yesus mengganggu saudara dalam persoalan pacaran karena Ia melarang saudara berpacaran dengan orang yang tidak seiman.

·        Mungkin saudara merasa Yesus mengganggu kehidupan keluarga saudara karena keluarga saudara selalu aktirf di gereja sehingga menyebabkan saudara kesepian.

 

Kalau hal-hal seperti ini menyebabkan saudara lalu menolak Yesus, saudara tidak berbeda dengan Herodes!

Kalau saudara adalah orang seperti Herodes, ingatlah bahwa Yesus datang ke dalam dunia dengan maksud baik, yaitu untuk menyelamatkan dunia dari dosa. Kalau saudara terus membiarkan diri saudara salah paham tentang hal ini, dan terus memusuhi Yesus, maka akhirnya saudara tidak akan diselamatkan, dan saudara akan mengalami hukuman kekal karena dosa-dosa saudara! Karena itu bertobatlah dan datanglah kepada Yesus, dan terimalah Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan saudara!

 

Illustrasi: Ada seorang petani yang mempunyai seekor anjing yang setia. Suatu hari petani itu mempunyai anak, dan pada waktu ia pergi ke sawah untuk bertani, ia meninggalkan bayinya dalam kamar beserta anjingnya. Pada waktu ia pulang dari sawah, anjingnya menyambutnya dengan mulut berlumuran darah. Ia kaget sekali dan menduga bahwa anjing itu telah membunuh bayinya. Ia marah sekali dan lalu memukuli anjing itu sampai mati. Tetapi pada waktu ia masuk ke kamar, ternyata bayi itu ada dalam keadaan sehat, dan di dekatnya ada bangkai seekor ular. Jadi anjing itu membela bayi itu dengan bertarung dengan ular itu dan membunuhnya. Anjing itu melakukan sesuatu yang sangat baik dan mulia, tetapi karena salah sangka, petani itu justru membunuhnya.

Ada banyak orang memusuhi Yesus karena salah sangka seperti ini! Yesus datang ke dalam dunia dengan maksud yang baik / mulia, yaitu untuk mati disalib bagi dosa dunia. Tetapi banyak orang salah sangka dan menganggap Yesus sebagai gangguan.

 

2)   Golongan Imam dan ahli Taurat.

 

Mereka adalah rohaniwan / tokoh agama, dan mereka adalah orang-orang yang melayani Tuhan, mengerti dan bahkan hafal Firman Tuhan. Pada waktu ditanya dimana Mesias harus dilahirkan, mereka langsung ingat bahwa Perjanjian Lama mengatakan bahwa Mesias akan dilahirkan di Betlehem.

Bdk. ay 4-6: “(4) Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. (5) Mereka berkata kepadanya: ‘Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: (6) Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel.’”.

Bahwa mereka bisa menja­wab pertanyaan-pertanyaan tentang Firman Tuhan, dan bisa mengutip Mikha 5:1 dari Perjanjian Lama untuk menjawab pertanyaan Herodes / orang-orang Majus, menunjukkan bahwa mereka banyak belajar dan hafal akan Kitab Suci.

Tetapi imam-imam dan ahli-ahli Taurat yang tahu banyak tentang Firman Tuhan / Mesias ini, tidak mau pergi ke Betlehem untuk mencari Mesias. Mereka acuh tak acuh terhadap diri Tuhan Yesus sendiri.

 

Illustrasi: Sikap imam-imam dan ahli-ahli Taurat ini sama gilanya dengan pemuda yang datang ke rumah seorang gadis secara rajin, mempunyai dan menjalin hubungan yang baik dengan keluarga gadis itu, mempelajari dan mengerti banyak tentang gadis itu, mau melayani gadis itu, tetapi terhadap diri gadis itu sendiri ia acuh tak acuh / tak ada hubungan.

 

Penerapan: banyak orang Kristen yang mempunyai jabatan tinggi dalam gereja / sudah melayani Tuhan, mengerti banyak tentang Firman Tuhan, tetapi tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan, dan tidak pernah ‘datang’ kepada Yesus, dan bahkan sebetulnya sama sekali tidak peduli dengan diri Yesusnya sendiri. Mereka punya interest terhadap segala sesuatu dalam gereja (pendetanya, aliran gerejanya, aktivitasnya, jemaatnya, dsb) tetapi mereka acuh tak acuh terhadap diri Yesus sendiri. Orang seperti ini bisa menyusup dalam segala golongan dalam gereja, mulai anak sekolah minggu sampai pendeta!

Kalau sauda­ra adalah orang kristen yang seperti ini, jangan pernah harap bahwa kekristenan yang kosong seperti itu bisa menyelamatkan saudara! Karena yang paling utama dalam kekristenan adalah hubungan pribadi / pengenalan terhadap Yesusnya!

Bdk. Mat 7:21-23 - “(21) Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!’”.

Terlihat sekali bahwa orang-orang ini adalah orang-orang kristen yang aktif di gereja, dan banyak melakukan pelayanan, bahkan pelayanan yang hebat-hebat / spektakuler, tetapi ternyata Yesus tidak pernah mengenal mereka!

Padahal, kalau mereka adalah orang-orang kristen yang sejati, Yesus pasti mengenal mereka. Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

·        Yoh 10:27 - “Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku”.

·        Gal 4:9 - “Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?”.

·        2Tim 2:19 - “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya’ dan ‘Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.’”.

 

3)   Golongan orang-orang Majus.

 

a)   Hal-hal yang tidak kita ketahui tentang orang-orang Majus ini:

 

1.   Tidak diketahui dengan jelas dari mana datangnya orang-orang Majus ini. Kitab Suci hanya mengatakan bahwa mereka datang ‘dari Timur’.

 

2.   Juga tidak diketahui berapa jumlah orang-orang Majus ini.

Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa mereka berjumlah 3 orang! Persembahan mereka yang 3 macam, yaitu emas, kemenyan dan mur, tidak membuktikan bahwa mereka ada 3 orang!

Penerapan: jadi, kalau saudara membuat drama tentang orang-orang Majus ini, saudara tidak harus menggunakan 3 orang Majus. Pokoknya harus lebih dari satu, karena istilah di sini menggunakan bentuk jamak. Tetapi jumlahnya boleh 2 atau 3 atau bahkan 12!

 

b)   Orang-orang Majus ini kontras sekali dengan gembala-gembala yang datang pada waktu kelahiran Yesus (Luk 2:8-dst).

 

Orang-orang Majus:                                   Para gembala:

- bukan orang Yahudi.                                - orang Yahudi.

- kaya (mereka memberi emas!).     - miskin.

- berpendidikan.                                                     - tidak berpendidikan.

 

Ada 2 hal yang bisa kita dapatkan dari sini:

 

1.   Bahwa Injil diberitakan kepada ‘gembala’ maupun ‘orang Majus’, menunjukkan bahwa Injil harus diberitakan kepada semua golongan (bangsa apapun, tingkat ekonomi dan pen­didikan yang bagaimanapun).

Renungkan: adakah golongan yang saudara anak tirikan dalam pemberitaan Injil? Bangsa / suku bangsa tertentu (yang fanatik dalam agama lain)? Golongan yang miskin? Golongan yang tidak berpendidikan?

 

2.   Orang dari golongan apapun boleh datang kepada Kristus.

Bandingkan dengan Yoh 6:37b yang berbunyi: “barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang”.

 

c)         Mereka mendapat petunjuk ‘bintang’ (ay 2,9,10).

Ada sesuatu yang mungkin terlihat aneh di sini. Apakah ini berarti bahwa orang Kristen boleh percaya / bermain-main dengan Astrology? Dalam mempersoalkan hal ini, perlu diingat bahwa Astrology / Horoscope berbeda dengan Astronomy / Ilmu Perbintangan.

 

1.   Astronomy berasal dari 2 kata bahasa Yunani yaitu ASTRON (= bintang) + NOMOS (= hukum).

Ini menunjuk pada ilmu perbintangan, dan ini tentu tidak dilarang dalam kekristenan.

 

2.   Astrology berasal dari 2 kata bahasa Yunani juga, yaitu ASTRON (= bintang) + LOGOS (= kata, ucapan, ajaran). Ini menunjuk pada ramalan yang didasarkan atas posisi bin­tang, atau yang lazim kita kenal dengan nama Horoscope.

Ini secara explicit dilarang dalam Kitab Suci / kekristenan, yaitu dalam Yes 47:13-15 yang berbunyi sebagai berikut: “(13) Engkau telah payah karena banyaknya nasihat! Biarlah tampil dan menyelamatkan  engkau orang-orang yang meneliti segala penjuru langit, yang menilik bintang-bintang dan yang pada setiap bulan baru memberitahukan apa yang akan terjadi atasmu! (14) Sesungguhnya, mereka sebagai jerami yang dibakar api; mereka tidak dapat melepaskan nyawanya dari kuasa nyala api; api itu bukan bara api untuk memanaskan diri, bukan api untuk berdiang! (15) Demikianlah faedahnya bagimu dari tukang-tukang jampi itu, yang telah kaurepotkan dari sejak kecilmu; masing-masing mereka terhuyung-huyung ke segala jurusan, tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau”.

 

Sekarang, kalau Astrology / Horoscope itu memang dilarang, bagaimana mungkin Tuhan memberi petunjuk kepada orang-orang Majus itu dengan menggunakan sebuah bintang? Calvin menja­wab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa ‘bintang’ itu bukanlah bintang biasa, karena ay 9 menunjukkan bahwa ‘bintang’ itu mempunyai ‘kelakuan’ yang tidak seperti bintang-bintang yang lain.

 

Ay 9: “Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

 

Dimana ada bintang yang mempunyai ‘kelakuan’ seperti itu? Jadi ini pasti bukan bintang biasa, tetapi ini adalah suatu mujijat yang merupakan alat Tuhan untuk memberi petunjuk kepada orang-orang Majus. Karena itu jelaslah bahwa hal ini tidak boleh dijadikan sebagai dasar untuk membenarkan Astrology / Horoscope!

 

d)   Mereka tidak mengerti Firman Tuhan (sehingga harus berta­nya-tanya kepada Herodes); mereka hanya mendapat petunjuk ‘bintang’, tetapi mereka lalu mencari Yesus, rela berkorban dalam menempuh jarak jauh, sehingga akhirnya menemukan Yesus.

Alangkah kontrasnya golongan ini dengan golongan imam-imam dan ahli-ahli Taurat, yang sekalipun mengerti banyak ten­tang Firman Tuhan, tetapi acuh tak acuh terhadap Yesus sendiri.

 

Penerapan:

·        sekalipun saudara tidak terlalu mengerti Firman Tuhan, dan sekalipun saudara adalah orang yang bodoh (kurang berpendidikan / mempunyai IQ yang rendah), tetapi kalau saudara mempunyai hati yang betul-betul mencari Tuhan dan kebenaran, Tuhan pasti akan menunjukkan jalan yang benar kepada saudara!

·        sekalipun saudara tidak tahu terlalu banyak tentang kekristenan / Firman Tuhan, tetapi asal saudara tahu bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, yang lalu mati di salib untuk dosa saudara, maka tanggapilah hal / kebenaran yang sedikit itu dengan datang kepada Yesus!

 

e)         Mereka menemukan bayi Yesus dalam sebuah rumah.

Mat 2:11 - “Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibuNya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadaNya, yaitu emas, kemenyan dan mur”.

 

Bahwa di sini dikatakan kalau bayi itu ada di dalam sebuah rumah, menunjukkan bahwa orang-orang Majus ini tidak pernah bertemu dengan para gembala, karena para gembala mengunjungi Yesus pada waktu Yesus masih ada di tempat hewan.

Luk 2:16 - “Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.

 

Penerapan: karena itu hati-hatilah pada waktu mengadakan drama Natal, supaya tidak mempertemukan orang-orang Majus dengan para gembala di kandang Yesus!

 

f)          Mereka menyembah Yesus (ay 2,11).

 

1.   Perhatikan bahwa mereka bukan menyembah Maria, dan bukan juga Yesus dan Maria, tetapi hanya Yesus saja!

 

Perhatikan komentar dari C. H. Spurgeon tentang bagian ini:

The old Reformers used to say, “Here is a bone that sticks in the throat of the Romanists, and they can neither get it up nor down, for it does not say, ‘They saw Mary and the young child’, the young child is put first, they came to see him; and it does not say that ‘they fell down and worshipped them’” If ever there was an opportunity  for Mariolatry, surely this was the one, when the child  was as yet newly-born, and depended so  much upon his mother. Why did not the magi say “Ave Maria!” and commence at once their Mariolatry? Ay, but these were wise men; they were not priests from Rome, else might they have done it [= Tokoh-tokoh Reformasi kuno sering berkata: “Ini adalah tulang yang menyangkut di tenggorokan orang Roma (Katolik), dan mereka tidak dapat mengeluarkannya ataupun menelannya, karena ayat itu tidak berkata: ‘Mereka melihat Maria dan bayi itu’, bayi itu disebut lebih dulu, mereka datang untuk melihat Dia; dan ayat itu tidak berkata bahwa ‘mereka tersungkur dan menyembah mereka’”. Kalau ada kesempatan untuk melakukan penyembahan terhadap Maria, maka sebetulnya inilah kesempatannya, dimana bayi itu baru dilahirkan, dan sangat bergantung kepada ibuNya. Mengapa orang-orang Majus itu tidak berkata “Salam Maria!” dan lang­sung memulai penyembahan terhadap Maria? Ah, tetapi mereka ini adalah orang-orang yang bijaksana; mereka bukan pastor-pastor dari Roma, karena kalau demikian mereka mungkin sudah melakukannya] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’ , vol 3, hal 34.

 

Catatan: Perlu saudara ketahui bahwa dalam terjemahan KJV kata-kata ‘orang-orang majus’ dalam Mat 2:1 diterjemahkan ‘wise men’ (= orang-orang yang bijaksana).

 

Mat 2:1 - “Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem”.

KJV: ‘Now when Jesus was born in Bethlehem of Judaea in the days of Herod the king, behold, there came wise men from the east to Jerusalem’ (= Pada saat Yesus dilahirkan di Betlehem Yudea pada jaman raja Herodes, lihatlah, orang-orang bijaksana / majus datang dari Timur ke Yerusalem).

 

2.   Mereka menyembah Yesus sekalipun mereka melihat:

a.         Seorang bayi yang lemah dan tidak berdaya.

Betul-betul membutuhkan iman yang luar biasa untuk mau menyembah seorang bayi seperti itu!

b.   Orang tua Yesus miskin, bukan bangsawan / raja, dan bayi itu ada di dalam sebuah rumah (ay 11), bukan istana.

 

Keadaan Yesus sebagai bayi yang kelihatan lemah dan tak berdaya, dan keadaan dari Yusuf dan Maria yang miskin dan tidak punya kedudukan apa-apa, dan tempat sederhana yang menjadi tempat tinggal Bayi itu, ternyata tidak menjadi halangan bagi orang-orang Majus itu untuk percaya bahwa bayi miskin itu adalah Raja! Ini lagi-lagi menunjukkan iman yang luar biasa!

 

Penampilan lahiriah Yesus ini sesuai dengan nubuat dalam Yes 53:2b yang berbunyi ‘Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia’, tetapi mereka toh mau menyembahNya. Bandingkan dengan Mat 13:53-56 yang menunjukkan bahwa banyak orang tidak percaya kepada Yesus karena  melihat penampilan lahiriahNya.

Mat 13:53-56 - “(53) Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Iapun pergi dari situ. (54) Setibanya di tempat asalNya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperolehNya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? (55) Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibuNya bernama Maria dan saudara-saudaraNya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? (56) Dan bukankah saudara-saudaraNya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperolehNya semuanya itu?’”.

 

Penerapan: Jangan menilai agama, buku (warnanya, bentuknya, cetakannya), gereja (besarnya dan indahnya gedungnya), pendeta (gelarnya, gagahnya), orang kristen, berdasarkan penampilan lahiriahnya! Ingat bahwa penampilan lahiriah seringkali menipu!

 

g)         Mereka memberi persembahan yaitu: emas, kemenyan, mur.

Mat 2:11 - “Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibuNya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadaNya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

 

Origen (dan banyak penafsir lain) menganggap emas sebagai persembahan untuk seorang raja, kemenyan sebagai persembahan untuk Allah, dan mur sebagai persembahan untuk manusia.

William Barclay (dan banyak penafsir lain) menganggap emas sebagai persembahan untuk seorang raja, kemenyan sebagai persembahan untuk seorang imam, dan mur sebagai persembahan untuk orang mati (bdk. Yoh 19:39).

Tetapi Calvin tidak menyetujui tafsiran-tafsiran seperti ini, dan menganggap bahwa tafsiran-tafsiran ini tidak mempunyai dasar. Calvin hanya menganggap bahwa orang-orang Majus ini tentu memberikan barang-barang terbaik dari negeri mereka, sama seperti Yakub memberikan persembahan kepada penguasa Mesir barang-barang terbaik di Kanaan (Kej 43:11).

Penerapan: kalau saudara memang percaya kepada Yesus, berikan yang terbaik kepadaNya!

 

Kesimpulan:

 

Ada 3 golongan manusia dengan sikapnya yang berbeda-beda terhadap lawatan Allah dalam Natal / kedatangan Yesus. Yang mana menjadi sikap saudara?

 

 

-o0o-


e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com