10 hukum Tuhan:


  Pdt. Budi Asali, M.Div.



Ay 16: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu”.


Im 19:11 - “Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya”.


Kel 23:1-2 - “(1) ‘Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. (2) Janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan, dan dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu perkara janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum”.


Matthew Henry (tentang Kel 20:16): “The ninth commandment concerns our own and our neighbour’s good name: Thou shalt not bear false witness, v. 16. This forbids, 1. Speaking falsely in any matter, lying, equivocating, and any way devising and designing to deceive our neighbour. 2. Speaking unjustly against our neighbour, to the prejudice of his reputation; and (which involves the guilty of both), 3. Bearing false witness against him, laying to his charge things that he knows not, either judicially, upon oath (by which the third commandment, and the sixth of eighth, as well as this, are broken), or extrajudicially, in common converse, slandering, backbiting, tale-bearing, aggravating what is done amiss and making it worse than it is, and any way endeavouring to raise our own reputation upon the ruin of our neighbour’s” (= ).


Matthew Henry (tentang Kel 23:1): “The witnesses are here cautioned that they neither occasion an innocent man to be indicted, by raising a false report of him and setting common fame against him, nor assist in the prosecution of an innocent man, or one whom they do not know to be guilty, by putting their hand in swearing as witnesses against him, v. 1. Bearing false witness against a man, in a matter that touches his life, has in it all the guilty of lying, perjury, malice, theft, murder, with the additional stains of colouring all with a pretence of justice and involving many others in the same guilt. There is scarcely any one act of wickedness that a man can possibly be guilty of which has in it a greater complication of villanies than this has. Yet the former part of this caution is to be extended, not only to judicial proceedings, but to common conversation; so that slandering and backbiting are a species of falsewitness-bearing. A man’s reputation lies as much at the mercy of every company as his estate or life does at the mercy of a judge or jury; so that he who raises, or knowingly spreads, a false report against his neighbour, especially if the report be made to wise and good men whose esteem one would desire to enjoy, sins as much against the laws of truth, justice, and charity, as a false witness does - with this further mischief, that he leaves it not in the power of the person injured to obtain redress. That which we translate, Thou shalt not raise, the margin reads, Thou shalt not receive a false report; for sometimes the receiver, in this case, is as bad as the thief; and a backbiting tongue would not do so much mischief as it does if it were not countenanced. Sometimes we cannot avoid hearing a false report, but we must not receive it, that is, we must not hear it with pleasure and delight as those that rejoice in iniquity, nor give credit to it as long as there remains any cause to question the truth of it. This is charity to our neighbour’s good name, and doing as we would be done by” (= ).


Adam Clarke (tentang Kel 23:1): “the inventor and receiver of false and slanderous reports, are almost equally criminal. The word seems to refer to either, and our translators have very properly retained both senses, putting ‘raise’ in the text, and ‘receive’ in the margin. The original lo’ tisaa’ has been translated, ‘thou shalt not publish.’ Were there no publishers of slander and calumny, there would be no receivers; and were there none to receive them, there would be none to raise them; and were there no raisers, receivers, nor propagators of calumny, lies, etc., society would be in peace” (= ).


Adam Clarke (tentang Kel 20:16): “Not only false oaths, to deprive a man of his life or of his right, are here prohibited, but all whispering, tale-bearing, slander, and calumny; in a word, whatever is deposed as a truth, which is false in fact, and tends to injure another in his goods, person, or character, is against the spirit and letter of this law. Suppressing the truth when known, by which a person may be defrauded of his property or his good name, or lie under injuries or disabilities which a discovery of the truth would have prevented, is also a crime against this law. He who bears a false testimony against or belies even the devil himself, comes under the curse of this law, because his testimony is false. By the term ‘neighbour’ any human being is intended, whether he rank among our enemies or friends” (= ).



Contoh pelanggaran terhadap hukum ini:


1)         Dusta yang dilakukan dengan:


a)   Lidah.


·        dalam bisnis / dagang.

bdk. Amsal 20:14 - “‘Tidak baik! Tidak baik!’, kata si pembeli, tetapi begitu ia pergi, ia memuji dirinya”.

Perhatikan bahwa ini merupakan sesuatu yang sangat umum dalam dunia perdagangan. Dunia perdagangan dipenuhi dengan dusta, dan saking umumnya hal itu, orang tidak lagi merasa bahwa itu merupakan dusta dan itu adalah dosa!

Bukan hanya pembeli, tetapi penjualnya juga sangat  sering, atau bahkan lebih sering, berdusta, supaya bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak.

·        fitnah / meneruskan kabar angin yang belum tentu benar, apalagi tentang hamba Tuhan.

Bil 35:30 - “Setiap orang yang telah membunuh seseorang haruslah dibunuh sebagai pembunuh menurut keterangan saksi-saksi, tetapi kalau hanya satu orang saksi saja tidak cukup untuk memberi keterangan terhadap seseorang dalam perkara hukuman mati”.

Ul 17:6 - “Atas keterangan dua atau tiga orang saksi haruslah mati dibunuh orang yang dihukum mati; atas keterangan satu orang saksi saja janganlah ia dihukum mati”.

Ul 19:15 - “‘Satu orang saksi saja tidak dapat menggugat seseorang mengenai perkara kesalahan apapun atau dosa apapun yang mungkin dilakukannya; baru atas keterangan dua atau tiga orang saksi perkara itu tidak disangsikan”.

Mat 18:15-17 - “(15) ‘Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. (16) Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. (17) Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai”.

Yoh 8:17 - “Dan dalam kitab Tauratmu ada tertulis, bahwa kesaksian dua orang adalah sah”.

2Kor 13:1 - “Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah”.

1Tim 5:19 - “Janganlah engkau menerima tuduhan atas seorang penatua kecuali kalau didukung dua atau tiga orang saksi”.


Catatan: ‘saksi’ adalah orang yang tahu sendiri peristiwa itu, bukan hanya mendengarnya dari orang lain!


Matthew Henry (tentang 1Tim 5:19): “Observe, 1. There must be an accusation; it must not be a flying uncertain report, but an accusation, containing a certain charge, ... 2. This accusation is not to be received unless supported by two or three credible witnesses; and the accusation must be received before them, that is, the accused must have the accusers face to face, because the reputation of a minister is, in a particular manner, a tender thing; and therefore, before any thing be done in the least to blemish that reputation, great care should be taken that the thing alleged against him be well proved, that he be not reproached upon an uncertain surmise” (= ).

Adam Clarke (tentang 1Tim 5:19): “Do not consider an elder as guilty of any alleged crime, unless it be proved by two or three witnesses. ... Among the Romans, a plebeian might be condemned on the deposition of one credible witness; but it required two to convict a senator. The reason of this difference is evident: those whose business it is to correct others will usually have many enemies; great caution, therefore, should be used in admitting accusations against such persons” (= ).

Barnes’ Notes (tentang 1Tim 5:19): “The ministers of religion often give offence to wicked people by their rebukes of sin (compare Mark 6:17-20); wicked people would rejoice to see an accusation against them sustained; the cause of religion would be liable to suffer much when its ministers were condemned as guilty of gross offences, and it is right, therefore, that the evidence in the case should be as free as possible from all suspicion that it is caused by malignity, by hatred of religion, or by conspiracy, or by a desire to see religion disgraced. ... At the same time, however, the wicked, though in the ministry, should not be screened from the punishment which they deserve. The apostle gave no injunction to attempt to cover up their faults, or to save them from a fair trial. He only demanded such security as the nature of the case required, that the trial should be fair” (= ).


·        dusta tentang usia anak, supaya dapat discount.


b)   Tulisan.


·        memalsu tanda tangan.

·        mengubah umur / tahun kelahiran pada waktu mengambil SIM.

·        menaikkan bon / kwitansi.

·        mahasiswa yang mau dititipi absensi oleh teman yang bolos kuliah.

·        mengisi formulir pendaftaran secara tidak jujur; biasanya dalam persoalan gaji orang tua, gajinya direndahkan.

·        menandatangani pernyataan yang tidak benar.

·        memberi surat sakit, padahal tidak sakit.


c)   Sikap / pura-pura.

Bdk. 1Sam 21:10-15 - “(10) Kemudian bersiaplah Daud dan larilah ia pada hari itu juga dari Saul; sampailah ia kepada Akhis, raja kota Gat. (11) Pegawai-pegawai Akhis berkata kepada tuannya: ‘Bukankah ini Daud raja negeri itu? Bukankah tentang dia orang-orang menyanyi berbalas-balasan sambil menari-nari, demikian: Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa?’ (12) Daud memperhatikan perkataan itu, dan dia menjadi takut sekali kepada Akhis, raja kota Gat itu. (13) Sebab itu ia berlaku seperti orang yang sakit ingatan di depan mata mereka dan berbuat pura-pura gila di dekat mereka; ia menggores-gores pintu gerbang dan membiarkan ludahnya meleleh ke janggutnya. (14) Lalu berkatalah Akhis kepada para pegawainya: ‘Tidakkah kamu lihat, bahwa orang itu gila? Mengapa kamu membawa dia kepadaku? (15) Kekurangan orang gilakah aku, maka kamu bawa orang ini kepadaku supaya ia menunjukkan gilanya dekat aku? Patutkah orang yang demikian masuk ke rumahku?’”.



·        pura-pura sakit / sedih.

·        bersikap munafik.


Hal-hal yang perlu ditekankan tentang dusta:


1.   Dusta tetap dilarang, baik hal itu merugikan orang lain atau tidak.

Contoh: berkata kepada pengemis: ‘Tidak punya uang’, padahal saudara punya uang. Sekalipun ini tidak merugikan siapa-siapa, ini tetap merupakan dosa.


2.   Dusta tetap dilarang, sekalipun hal itu diperintahkan oleh orang tua / boss!

Memang yang memerintahkan salah, tetapi yang melaksanakan juga salah.


3.   Dusta tetap dilarang, sekalipun hal itu dilakukan untuk tujuan yang baik. Jangan percaya pada apa yang disebut ‘white lie’ (= dusta putih). Ingat bahwa tujuan yang baik tidak menghalalkan cara yang tidak baik!

Ironside: “Men are in the habit of distinguishing between different types of lies. Some lies are called ‘white lies,’ and some are called ‘black lies.’. But my Bible tells me, ‘All liars shall have their part in the lake which burneth with fire and brimstone’ (Rev. 21:8). It does not make any distinction between white, black, and gray lies” [= Manusia biasa membedakan antara jenis-jenis dusta yang berbeda. Sebagian dusta disebut ‘dusta putih’, dan sebagian disebut ‘dusta hitam’. Tetapi Alkitab saya memberi tahu saya: ‘... semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; ...’ (Wah 21:8). Alkitab tidak membuat pembedaan apapun antara dusta-dusta putih, hitam dan abu-abu] - ‘Timothy, Titus, & Philemon’, hal 26.


4.   Dusta tetap dilarang, sekalipun itu dilakukan terhadap orang yang brengsek.

Robert L. Dabney: “... God, and not the hearer, is the true object on whom any duty of veracity terminates. God always has the right to expect truth from me, however unworthy the person to whom I speak” (= ... Allah, dan bukan pendengarnya, merupakan obyek / tujuan yang benar terhadap siapa kewajiban kejujuran ditujukan. Allah selalu mempunyai hak untuk mengharapkan kebenaran dari aku, tidak peduli betapa tidak berharganya orang kepada siapa aku berbicara) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 425.


2)   Gereja yang merencanakan bahwa suatu acara akan dimulai pk. 19.00, tetapi mengumumkannya kepada jemaat bahwa acara dimulai pk. 18.30, karena memperkirakan bahwa jemaat bakal terlambat. Ini merupakan tindakan yang umum tetapi salah, bukan hanya karena ini merupakan suatu dusta, tetapi juga karena hal seperti ini justru mendidik jemaat untuk datang terlambat.


3)   Tidak menepati janji, baik kepada Tuhan (Pkh 5:3-4), maupun kepada manusia (bdk. Maz 15:4).

Pkh 5:3-4 - “(3) Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. (4) Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya”.

Maz 15:4 - “yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi.

Perhatikan terjemahan dari Maz 15:4 ini. Mungkin ini salah terjemahan!


Tetapi awas, Maz 15:4 ini tidak berarti bahwa Yefta dan Herodes benar pada waktu menepati sumpahnya.

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Maz 15:4): “A vow to God of what was in itself sinful is better broken than kept, which would be adding a second sin to the original sin. But in all that is not sinful, even though entailing hurt to one’s self, an oath, if freely taken, must be faithfully kept” (= ).



·        tidak menepati janji pada waktu camp, KKR, dan sebagainya

·        tidak menepati janji pacaran / pernikahan. Ini mungkin yang paling banyak / sering dilanggar!

·        tidak menepati janji untuk bertemu atau untuk hal yang remeh sekalipun.

·        tidak menepati janji untuk menelpon kembali. Saya sering ditelpon orang, dan pada waktu pembantu / istri memberitahu orang itu bahwa saya tidak ada, maka orang itu berkata bahwa nanti jam sekian ia akan menelpon kembali. Dalam pengalaman saya, kemungkinannya 90 % atau lebih, orang itu tidak menelpon pada jam yang telah ia janjikan.


4)         Sinterklaas / Santa Claus.

Penggabungan Sinterklaas / Santa Claus dengan Natal merupakan hal yang menyedihkan dan salah, bukan hanya karena sebetulnya kedua hal itu sama sekali tidak ada hubungannya, tetapi terutama mengingat bahwa Sinterklas / Santa Claus adalah dongeng / takhyul yang bersifat dusta dan Natal adalah peristiwa historis / fakta dalam Kitab Suci. Tetapi celakanya banyak gereja dan orang kristen yang menggabungkan kedua hal ini.

Catatan: Encyclopedia Britannica 2000 mengatakan bahwa Santa Claus dilatar-belakangi oleh seseorang yang bernama Santo Nikolas, yang dikatakan hidup pada abad ke 4. Tetapi Encyclopedia itu juga mengatakan bahwa keberadaannya tidak pernah dibuktikan oleh dokumen sejarah manapun. Sedangkan Sinterklaas, yang merupakan versi Belanda, jelas-jelas merupakan dusta.


5)   Membual, menambah-nambahi cerita, termasuk dalam khotbah / pemerintah-beritaan Firman Tuhan. Banyak pengkhotbah berbuat dosa dengan cara ini! Juga banyak orang kristen, yang sekalipun maksudnya baik, tetapi dalam bersaksi menceritakan dusta.


6)         Memfitnah / menyebarkan gossip.

Im 19:16 - “Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN”.

Maz 15:1-5 - “(1) Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemahMu? Siapa yang boleh diam di gunungMu yang kudus? (2) Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, (3) yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; (4) yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; (5) yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya”.

Tit 2:3 - “Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik”.

Tit 3:2 - Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang”.


Adam Clarke (tentang Maz 15:3-4): “‘He that backbiteth not with his tongue.’ ... He is one who treats his neighbour with respect. He says nothing that might injure him in his character, person, or property; he forgets no calumny, he is author of no slander, he insinuates nothing by which his neighbour may be injured. ... The words backbite and backbiter come from the Anglo-Saxon bac, the back, and bitan, to bite. ... it was intended to convey the treble sense of knavishness, cowardice, and brutality. He is a knave, who would rob you of your good name; he is a coward, that would speak of you in your absence what he dared not to do in your presence; and only an ill-conditioned dog would fly at and bite your back when your face was turned. All these three ideas are included in the term; and they all meet in the detractor and calumniator. His tongue is the tongue of a knave, a coward, and a dog. Such a person, of course, has no right to the privileges of the Church militant, and none of his disposition can ever see God” (= ).


Barnes’ Notes (tentang Maz 15:3-4): “The word ‘backbite’ means to censure; slander; reproach; speak evil of. The Hebrew word - raagal - a verb formed from the word ‘foot,’ means properly ‘to foot it,’ and then ‘to go about.’ Then it means to go about as a tale-bearer or slanderer; to circulate reports unfavorable to others. It is not improperly rendered here ‘backbite;’ and the idea is, that it is essential to true piety that one should not be a slanderer, or should not circulate evil reports in regard to others” (= ).


Mungkin ini adalah bentuk dusta yang paling kejam! Tetapi celakanya banyak orang kristen sering memfitnah, baik secara sengaja, maupun tidak sengaja (menceritakan berita yang disangka benar, tetapi ternyata tidak benar).


Ini termasuk salah satu dosa untuk mana orang yang melakukannya seharusnya dikucilkan (dilakukan siasat gerejani terhadapnya).

1Kor 5:9-13 - “(9) Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. (10) Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir (seharusnya ‘tamak’) dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. (11) Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir (seharusnya ‘tamak’), penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. (12) Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? (13) Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu”.


7)   Dusta / fitnah bisa dilakukan dengan menceritakan setengah kebenaran (half truth).

Memang tidak setiap kali kita menceritakan sesuatu, kita harus menceri­takan seluruh kebenaran. Tetapi seringkali, kalau kebenaran tidak diceritakan seluruhnya tetapi hanya sebagian saja, itu bisa merugikan / menjatuhkan nama orang lain. Dalam hal ini, sekalipun hal yang kita ceritakan itu bukan dusta, tetapi kita tetap memfitnah orang yang kita ceritakan itu. Misalnya kalau saudara bertemu dengan saya pada waktu saya pergi ke bioskop dengan istri saya dan seorang wanita lain, dan saudara lalu menceritakan kepada orang-orang lain bahwa saya pergi dengan seorang wanita lain (tanpa menceritakan tentang ikut sertanya istri saya), maka itu jelas adalah half truth yang bersifat memfitnah!

Karena itu kalau saudara ingin menceritakan sesuatu maka pikirkanlah lebih dulu, apakah dengan membuang bagian-bagian tertentu saudara tidak sedang menjelekkan nama orang lain.

Dusta dengan menceritakan setengah kebenaran ini juga bisa dilakukan oleh orang kristen yang dalam bersaksi hanya menceritakan hal-hal yang enak / berkat yang mereka alami dari Tuhan, tetapi sengaja menyembunyikan / tidak mengakui hal-hal yang tidak enak yang mereka alami dalam mengikuti Kristus.


8)   Dusta / fitnah juga bisa dilakukan dengan mengubah nada bicara / mimik wajah!

Misalnya: kalau si A berka­ta kepada saudara: ‘si B itu gila’. Ia mengatakan hal itu dengan wajah tersenyum, dan tidak betul-betul bermaksud memaki si B. Tetapi saudara lalu menyampaikan hal itu kepada si B dengan berkata: ‘Si A berkata: kamu itu gila!’, dengan nada membentak dan wajah yang marah, maka sebetulnya saudara sedang memfitnah si A!

Karena itu setiap kali saudara menceritakan tentang apa yang dikatakan oleh orang lain, perhatikanlah apakah nada dan mimik wajah saudara sesuai dengan aslinya!


Catatan: Jujur tidak berarti bahwa kita harus membuka semua rahasia! Kita boleh merahasiakan, tetapi tidak boleh berdusta.


Renungkan: berapa kali saudara melanggar hukum kesembilan ini? Kalau saudara tahu bahwa saudara sudah sering / banyak berdusta, maka jangan menganggapnya sebagai dosa yang remeh, karena Wah 21:8 mengatakan bahwa semua pendusta akan masuk ke dalam lautan yang menyala-nyala dengan api dan belerang! Juga perhatikan Kis 5:1-11, dimana Ananias dan Safira dihukum mati oleh Tuhan karena berdusta.

e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com