10 hukum Tuhan:

hukum kedua

  Pdt. Budi Asali, M.Div.

 

1)   Ay 4: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi”.

 

a)   ‘Jangan membuat’.

Matthew Henry: “The Jews (at least after the captivity) thought themselves forbidden by this commandment to make any image or picture whatsoever. ... It is certain that it forbids making any image of God (for to whom can we liken him? Isa. 40:18,15), or the image of any creature for a religious use. ... It also forbids us to make images of God in our fancies, as if he were a man as we are. Our religious worship must be governed by the power of faith, not by the power of imagination. They must not make such images or pictures as the heathen worshipped, lest they also should be tempted to worship them. Those who would be kept from sin must keep themselves from the occasions of it” (= ).

Catatan: Isa 40:15 seharusnya adalah Isa 40:25

Yes 40:18,25 - “(18) Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia? ... (25) Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus”.

 

Keil & Delitzsch: “It is not only evident from the context that the allusion is not to the making of images generally, but to the construction of figures of God as objects of religious reverence or worship, but this is expressly stated in v. 5; so that even Calvin observes, that ‘there is no necessity to refute what some have foolishly imagined, that sculpture and painting of every kind are condemned here.’ With the same aptness he has just before observed, that ‘although Moses only speaks of idols, there is no doubt that by implication he condemns all the forms of false worship, which men have invented for themselves.’” (= ).

 

Calvin: “There is no need of refuting the foolish fancy of some, that all sculptures and pictures are here condemned by Moses, for he had no other object than to rescue God’s glory from all the imagination which tend to corrupt it” (= ) - hal 108.

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Thou shalt not bow.’ - i. e., ‘make in order to bow.’ Under the auspices of Moses himself, figures of cherubim, brazen serpents, oxen, and many other things were made and never condemned. The mere making of them was no sin, it was the making with the intent to give idolatrous worship” (= ).

 

D. L. Moody: “A man must be greater than anything he is able to make or manufacture. What folly then to think of worshipping such things!” (= Seseorang pasdti lebih besar dari apapun yang mampu ia buat atau hasilkan. Jadi alangkah tololnya untuk berpikir tentang penyembahan terhadap hal-hal seperti itu!) - ‘D. L. Moody On The Ten Commandments’, hal 33.

 

b)   ‘patung yang menyerupai apapun’.

Bdk. Ul 4:15-19 - “(15) Hati-hatilah sekali - sebab kamu tidak melihat sesuatu rupa pada hari TUHAN berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api - (16) supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apapun: (17) yang berbentuk laki-laki atau perempuan:  yang berbentuk binatang yang di bumi, atau berbentuk burung bersayap yang terbang di udara, (18) atau berbentuk binatang yang merayap di muka bumi, atau berbentuk ikan yang ada di dalam air di bawah bumi; (19) dan juga supaya jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga apabila engkau melihat matahari, bulan dan bintang, segenap tentara langit, engkau disesatkan untuk sujud menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu, yang justru diberikan TUHAN, Allahmu, kepada segala bangsa di seluruh kolong langit sebagai bagian mereka”.

 

Bandingkan juga dengan:

·        Kel 34:17 - “Janganlah kaubuat bagimu allah tuangan”.

·        Kel 20:23 - “Janganlah kamu membuat di sampingKu allah perak, juga allah emas janganlah kamu buat bagimu”.

·        Im 26:1 - “‘Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu”.

Calvin: “There is no doubt but that he comprehends by synecdoche, all kinds of images, when he forbids the making of molten gods; because metal is no more abominated by God than wood, or stone, or any other material, out of which idols are usually made; but, inasmuch as the insane zeal of superstition is the more inflamed by the value of the material or the beauty of the workmanship, Moses especially condemned molten gods. ... idolaters indulge themselves more fully in their worship of very precious idols, by the external splendour of which all their senses are ravished” (= ) - hal 116.

 

Calvin: “it is wrong for men to seek the presence of God in any visible image, because He cannot be represented to our eyes” (= ) - hal 107.

 

c)   ‘yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi’.

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘That is in heaven above.’ - namely, angels, the sun, moon, and stars, images of which were made, as seen on Assyrian sculptures, in the form of discs, crescents, rayed stars, etc., used in Zabaism or astrolatry, the oldest form of idolatry in the world; bright light in the image of Baal or Bel, and pale light in that of Astarte; - birds (Deut. 4:17-18), the hawk, eagle” (= ).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Or that is in the water under the earth.’ - crocodiles, Dagon” (= ).

 

Keil & Delitzsch: “By ‘that which is in heaven’ we are to understand the birds, not the angels, or at the most, according to Deut. 4:19, the stars as well; by ‘that which is in earth,’ the cattle, reptiles, and the larger or smaller animals; and by ‘that which is in the water,’ fishes and water animals. ‘Under the earth’ is appended to the ‘water,’ to express in a pictorial manner the idea of its being lower than the solid ground (cf. Deut. 4:18)” (= ).

 

2)         Ay 5a: “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya”.

KJV: ‘Thou shalt not bow down thyself to them, nor serve them’ (= ).

RSV: ‘you shall not bow down to them or serve them’ (= ).

NASB: You shall not worship them or serve them (= ).

NIV: You shall not bow down to them or worship them (= ).

 

Matthew Henry: “they must not bow down to them occasionally, that is, show any sign of respect or honour to them, much less serve them constantly, by sacrifice or incense, or any other act of religious worship. When they paid their devotion to the true God, they must not have any image before them, for the directing, exciting, or assisting of their devotion. Though the worship was designed to terminate in God, it would not please him if it came to him through an image” (= ).

 

Sikap yang seharusnya terhadap patung berhala.

Ul 7:25-26 - “(25) Patung-patung allah mereka haruslah kamu bakar habis; perak dan emas yang ada pada mereka janganlah kauingini dan kauambil bagi dirimu sendiri, supaya jangan engkau terjerat karenanya, sebab hal itu adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu. (26) Dan janganlah engkau membawa sesuatu kekejian masuk ke dalam rumahmu, sehingga engkaupun ditumpas seperti itu; haruslah engkau benar-benar merasa jijik dan keji terhadap hal itu, sebab semuanya itu dikhususkan untuk dimusnahkan.’”.

 

3)         Tujuan dari hukum kedua.

 

Calvin: “In the First commandment, after He had taught who was the true God, He commanded that He alone should be worshipped; and now He defines what is His legitimate worship (= ) - hal 106.

Calvin: “it would not be sufficient for us to be instructed to worship Him alone, unless we also knew the manner in which He would be worshipped” (= ) - hal 107.

Matthew Henry: “The second commandment concerns the ordinances of worship, or the way in which God will be worshipped, which it is fit that he himself should have the appointing of” (= ).

 

Matthew Henry: “we are here forbidden to worship even the true God by images, v. 4, 5” (= ).

 

Calvin: “God is insulted, not only when His worship is transferred to idols, but when we try to represent Him by any outward similitude” (= ) - hal 107.

 

Calvin: “although Moses only speaks of idolatry, yet there is no doubt but that by synecdoche, as in all the rest of the Law, he condemns all fictitious services which men in their ingenuity have invented” (= ) - hal 107.

 

Adam Clarke: “This commandment also prohibits every species of external idolatry, since the first does all idolatry that may be called internal or mental. All false worship may be considered of this kind, together with all image worship, and all other superstitious rites and ceremonies” (= ).

 

Jangan anggap Allah mau menerima seadanya penyembahan yang dilakukan manusia menurut pemikiran dan khayalannya masing-masing.

Bdk. Yoh 4:23-24 - “(23) Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (24) Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.’”.

 

Bandingkan juga dengan Kol 2:8,16-23 - “(8) Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. ... (16) Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. (18) Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, (19) sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya. (20) Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: (21) jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; (22) semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. (23) Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi”.

 

Perhatikan penyembahan dan peraturan-peraturan dari ajaran sesat yang dibicarakan oleh Paulus dalam text di atas ini. Kelihatannya ada kerendahan hati, dan bahkan penuh hikmat, tetapi dikecam oleh Paulus, karena tidak sesuai dengan Kristus / Kitab Suci!

 

4)         Apakah patung berhala ada roh jahatnya?

Hab 2:19 - “Celakalah orang yang berkata kepada sepotong kayu: ‘Terjagalah!’ dan kepada sebuah batu bisu: ‘Bangunlah!’ Masakan dia itu mengajar? Memang ia bersalutkan emas dan perak, tetapi roh tidak ada sama sekali di dalamnya”.

Kelihatannya ayat ini menunjukkan bahwa patung berhala tak ada setannya, tetapi saya kira bukan itu maksudnya. Maksudnya adalah bahwa patung itu mati, dikontraskan dengan Allah yang hidup.

Bdk. Yer 10:8-16 - “(8) Berhala itu semuanya bodoh dan dungu; petunjuk dewa itu sia-sia, karena ia hanya kayu belaka. - (9) Perak kepingan dibawa dari Tarsis, dan emas dari Ufas; berhala itu buatan tukang dan buatan tangan pandai emas. Pakaiannya dari kain ungu tua dan kain ungu muda, semuanya buatan orang-orang ahli. - (10) Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murkaNya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geramNya. (11) Beginilah harus kamu katakan kepada mereka: ‘Para allah yang tidak menjadikan langit dan bumi akan lenyap dari bumi dan dari kolong langit ini.’ (12) Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatanNya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaanNya, dan yang membentangkan langit dengan akal budiNya. (13) Apabila Ia memperdengarkan suaraNya, menderulah bunyi air di langit, Ia menaikkan kabut awan dari ujung bumi, Ia membuat kilat serta dengan hujan, dan mengeluarkan angin dari perbendaharaanNya. (14) Setiap manusia ternyata bodoh, tidak berpengetahuan, dan setiap pandai emas menjadi malu karena patung buatannya. Sebab patung tuangannya itu adalah tipu, tidak ada nyawa di dalamnya, (15) semuanya adalah kesia-siaan, pekerjaan yang menjadi buah ejekan, dan yang akan binasa pada waktu dihukum. (16) Tidaklah begitu Dia yang menjadi bagian Yakub, sebab Dialah yang membentuk segala-galanya, dan Israel adalah suku milikNya; namaNya ialah TUHAN semesta alam!”.

1Tes 1:9 - “Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar”.

 

Jadi, saya berpendapat bahwa Hab 2:19 itu bukan dasar untuk mengatakan bahwa patung berhala tak ada roh jahatnya. Saya berpendapat adalah memungkinkan bahwa setan memasuki suatu patung berhala, karena ia senang disembah (bdk. Mat 4:10). Juga jelas adalah mungkin bahwa ia yang mengabulkan doa-doa yang dinaikkan kepada / melalui patung itu.

 

5)         ‘sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu’ (ay 5b).

Bdk. Kel 34:14 - “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang namaNya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu”.

Kecemburuan Allah ini merupakan alasan mengapa penyembahan berhala dilarang. Kecemburuan Allah ini kelihatannya bukan hanya merupakan alasan dari hukum kedua, tetapi juga dari hukum pertama.

Bdk. Ul 6:14-15 - “(14) Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu, (15) sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi”.

 

Keil & Delitzsch: “The threat and promise, which follow in vv. 5b and 6, relate to the first two commandments, and not to the second alone; because both of them, although forbidding two forms of idolatry, viz., idolo-latry and ikono-latry, are combined in a higher unity, by the fact, that whenever Jehovah, the God who cannot be copied because He reveals His spiritual nature in no visible form, is worshipped under some visible image, the glory of the invisible God is changed, or Jehovah changed into a different God from what He really is” (= ).

 

Calvin: “God is called jealous, because He permits no rivalry which may detract from His glory, nor does He suffer the service which is due to Him alone to be transferred elsewhere” (= ) - hal 423.

 

Matthew Henry: “Jealousy is quicksighted. Idolatry being spiritual adultery, as it is very often represented in scripture, the displeasure of God against it is fitly called jealousy. If God is jealous herein, we should be so, afraid of offering any worship to God otherwise than as he has appointed in his word” (= ).

 

Adam Clarke: “‘Jealous God.’ This shows in a most expressive manner the love of God toward this people. He felt for them as the most affectionate husband could do for his spouse, and was jealous for their fidelity” (= ).

 

6)   ‘yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat’ (ay 5c).

 

Bdk. Ratapan 5:1-22 - “(1) Ingatlah, ya TUHAN, apa yang terjadi atas kami, pandanglah dan lihatlah akan kehinaan kami. (2) Milik pusaka kami beralih kepada orang lain, rumah-rumah kami kepada orang asing. (3) Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda. (4) Air kami kami minum dengan membayar, kami mendapat kayu dengan bayaran. (5) Kami dikejar dekat-dekat, kami lelah, bagi kami tak ada istirahat. (6) Kami mengulurkan tangan kepada Mesir, dan kepada Asyur untuk menjadi kenyang dengan roti. (7) Bapak-bapak kami berbuat dosa, mereka tak ada lagi, dan kami yang menanggung kedurjanaan mereka. (8) Pelayan-pelayan memerintah atas kami; yang melepaskan kami dari tangan mereka tak ada. (9) Dengan bahaya maut karena serangan pedang di padang gurun, kami harus mengambil makanan kami. (10) Kulit kami membara laksana perapian, karena nyerinya kelaparan. (11) Mereka memperkosa wanita-wanita di Sion dan gadis-gadis di kota-kota Yehuda. (12) Pemimpin-pemimpin digantung oleh tangan mereka, para tua-tua tidak dihormati. (13) Pemuda-pemuda harus memikul batu kilangan, anak-anak terjatuh karena beratnya pikulan kayu. (14) Para tua-tua tidak berkumpul lagi di pintu gerbang, para teruna berhenti main kecapi. (15) Lenyaplah kegirangan hati kami, tari-tarian kami berubah menjadi perkabungan. (16) Mahkota telah jatuh dari kepala kami. Wahai kami, karena kami telah berbuat dosa! (17) Karena inilah hati kami sakit, karena inilah mata kami jadi kabur: (18) karena bukit Sion yang tandus, di mana anjing-anjing hutan berkeliaran. (19) Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhtaMu tetap dari masa ke masa! (20) Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama? (21) Bawalah kami kembali kepadaMu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala! (22) Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?”.

 

Tetapi bagaimana dengan 2 ayat di bawah ini?

 

Ada 2 kemungkinan pengharmonisan antara ay 5b ini dengan Ul 24:16 / Yeh 18:20:

 

a)   Beberapa penafsir termasuk Calvin, beranggapan bahwa keturunan itu juga ketularan dosa dari nenek moyangnya, sehingga pada waktu mereka dihukum, mereka memang layak mendapatkan hukuman itu.

Bandingkan dengan:

·        Kej 15:12-16 - “(12) Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. (13) Firman TUHAN kepada Abram: ‘Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. (14) Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. (15) Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. (16) Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap.’”.

·        Mat 23:30-36 - “(30) dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. (31) Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. (32) Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! (33) Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? (34) Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, (35) supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. (36) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!’”.

Kedua text di atas ini menunjukkan keturunan yang dihukum karena dosa nenek moyangnya, tetapi mereka sendiri juga jahat, sehingga memang pantas / layak menerima hukuman tersebut.

 

Adam Clarke: “‘Visiting the iniquity of the fathers upon the children.’ This necessarily implies - IF the children walk in the steps of their fathers, for no man can be condemned by divine justice for a crime of which he was never guilty; see Ezek. 18: Idolatry is however particularly intended and visiting sins of this kind refers principally to national judgments. By withdrawing the divine protection the idolatrous Israelites were delivered up into the hands of their enemies, from whom the gods in whom they had trusted could not deliver them. This God did to the third and fourth generations, i. e., successively; as may be seen in every part of the Jewish history, and particularly in the book of Judges” (= ).

 

Bdk. Im 26:38-42 - “(38) Dan kamu akan binasa di antara bangsa-bangsa lain, dan negeri musuhmu akan memusnahkan kamu. (39) Dan siapa yang masih tinggal hidup dari antaramu, mereka akan hancur lebur dalam hukumannya di negeri-negeri musuh mereka, dan karena kesalahan nenek moyang mereka juga mereka akan hancur lebur sama seperti nenek moyangnya. (40) Tetapi bila mereka mengakui kesalahan mereka dan kesalahan nenek moyang mereka dalam hal berubah setia yang dilakukan mereka terhadap Aku dan mengakui juga bahwa hidup mereka bertentangan dengan Daku (41) - Akupun bertindak melawan mereka dan membawa mereka ke negeri musuh mereka - atau bila kemudian hati mereka yang tidak bersunat itu telah tunduk dan mereka telah membayar pulih kesalahan mereka, (42) maka Aku akan mengingat perjanjianKu dengan Yakub; juga perjanjian dengan Ishak dan perjanjianKu dengan Abrahampun akan Kuingat dan negeri itu akan Kuingat juga”.

 

b)   Yang dimaksud oleh ay 5b bukan hukuman tetapi akibat dari dosa.

 

Barnes’ Notes: “‘Visiting the iniquity of the fathers upon the children.’ ... Sons and remote descendants inherit the consequences of their fathers’ sins, in disease, poverty, captivity, with all the influences of bad example and evil communications. ... The ‘inherited curse’ seems to fall often most heavily on the least guilty persons; but such suffering must always be free from the sting of conscience; it is not like the visitation for sin on the individual by whom the sin has been committed. The suffering, or loss of advantages, entailed on the unoffending son, is a condition under which he has to carry on the struggle of life, and, like all other inevitable conditions imposed upon men, it cannot tend to his ultimate disadvantage, if he struggles well and perseveres to the end. The principle regulating the administration of justice by earthly tribunals (Deut. 24:16), is carried out in spiritual matters by the Supreme Judge” (= ).

 

 

7)         ‘dari orang-orang yang membenci Aku’ (ay 5d).

Perhatikan bahwa para penyembah berhala disebutkan sebagai ‘orang-orang yang membenci Aku’.

 

Thomas Watson: “Another reason against image-worship is, that it is hating God. The Papists, who worship God by an image, hate God. Image-worship is a pretended love to God, but God interprets it as hating him. ... An image-lover is a God hater” (= Suatu alasan lain yang menentang penyembahan patung adalah bahwa itu adalah membenci Allah. Pengikut-pengikut Paus, yang menyembah Allah menggunakan patung, membenci Allah. Penyembahan patung merupakan suatu kasih yang pura-pura kepada Allah, tetapi Allah menafsirkannya sebagai membenci Dia. ... Seorang pecinta patung adalah seorang pembenci Allah) - ‘The Ten Commandments’, hal 67.

 

8)   ‘tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu’ (ay 6).

 

a)   ‘tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang’.

Bdk. Kel 34:6-7 - “(6) Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: ‘TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setiaNya, (7) yang meneguhkan kasih setiaNya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.’”.

 

Ul 7:9-11 - “(9) Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setiaNya terhadap orang yang kasih kepadaNya dan berpegang pada perintahNya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, (10) tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. (11) Jadi berpeganglah pada perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini untuk dilakukan.’”.

 

Keil & Delitzsch: “The sin of the fathers He visits (punishes) on the children to the third and fourth generation. shileeshiym third (sc., children) are not grandchildren, but great-grandchildren, and ribee`iym the fourth generation. On the other hand He shows mercy to the thousandths, i. e., to the thousandth generation (cf. Deut. 7:9, where dowr lª'elep stands for la'alaapiym) (= ).

 

Matthew Henry: “the favour God would show to his faithful worshippers: Keeping mercy for thousands of persons, thousands of generations of those that love me, and keep my commandments. This intimates that the second commandment, though, in the letter of it, it is only a prohibition of false worships, yet includes a precept of worshipping God in all those ordinances which he has instituted. As the first commandment requires the inward worship of love, desire, joy, hope, and admiration, so the second requires the outward worship of prayer and praise, and solemn attendance on God’s word” (= ).

 

Matthew Henry: “This mercy shall extend to thousands, much further than the wrath threatened to those that hate him, for that reaches but to the third or fourth generation” (= ).

 

Adam Clarke: “‘And showing mercy unto thousands.’ ... What a disproportion between the works of justice and mercy! Justice works to the third or fourth, mercy to thousands of generations!” (= ).

 

Barnes’ Notes: “‘Unto thousands.’ ‘unto the thousandth generation.’ Yahweh’s visitations of chastisement extend to the third and fourth generation, his visitations of mercy to the thousandth; that is, forever. That this is the true rendering seems to follow from Deut. 7:9” (= ).

Catatan:  apa benar kata-katanya? Saya kira Kel 20:5 memang berbeda dengan Ul 7:9. Tidak berarti bahwa terjemahan dari Kel 20:5 harus diubah.

 

b)   ‘yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu’.

Adam Clarke: “‘That love me, and keep my commandments.’ It was this that caused Christ to comprise the fulfilment of the whole law in love to God and man; ... And since love is the grand principle of obedience, and the only incentive to it, so there can be no obedience without it. It would be more easy, even in Egyptian bondage, to make bricks without straw, than to do the will of God unless His love be shed abroad in the heart of the Holy Spirit. Love, says the apostle, is the fulfilling of the law” (= ).

Bdk. Ro 13:10 - “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat”.

 

Calvin: “when it is said, ‘unto them that love me,’ the fountain and origin of true righteousness is expressed; for the external observation of the Law would be of no avail unless it flowed from hence. And praise is given to love rather than to fear, because God is delighted with none but voluntary obedience, but He rejects that which is forced and servile” (= ) - hal 111.

 

9)         Sikap Katolik terhadap hukum ke 2.

 

Wycliffe Bible Commentary: “There are different ways of dividing the Commandments. The Lutheran and Roman Catholic churches follow Augustine in making verses 2-6 the first commandment, and then dividing verse 17, on covetousness, into two. Modern Judaism makes verse 2 the first commandment and verses 3-6 the second. The earliest division, which can be traced back at least as far as Josephus, in the first century A.D., takes Exo 20:3 as the first command and 20:4-6 as the second. This division was supported unanimously by the early church, and is held today by the Eastern Orthodox and most Protestant churches” (= ).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “The Roman Catholic Church, and the Lutherans after the example of Augustine, divide the commandments into the duties pertaining to God, comprised in the first three, and those relating to man, contained in the remaining seven. In their view also which is supported by the Masoretic division, the first commandment extends from Exo. 20:2 to Exo. 20:6; the second commandment is expressed in Exo. 20:7; and in order to make up the required number ten, they divide Exo. 20:17 into two. One part prohibits the coveting of another’s house, the second part the coveting of another’s wife, etc. (see the note at Exo. 24:12; 31:18)” (= ).

 

Catatan:

·        bagi saya masalahnya bukanlah pembagian / division, karena sebetulnya kita tidak tahu pembagian dari 10 hukum Tuhan ini.

Barnes’ Notes: “The Hebrew name which is rendered in our King James Version as THE TEN COMMANDMENTS occurs in Exo. 34:28; Deut. 4:13; 10:4. It literally means ‘the Ten Words.’ The Ten Commandments are also called THE LAW, even THE COMMANDMENT (Exo. 24:12), THE WORDS OF THE COVENANT (Exo. 34:28), THE TABLES OF THE COVENANT (Deut. 9:9), THE COVENANT (Deut. 4:13), THE TWO TABLES (Deut. 9:10,17), and, most frequently, THE TESTIMONY (e. g. Exo. 16:34; 25:16or THE TWO TABLES OF THE TESTIMONY (e. g. Exo. 31:18). In the New Testament they are called simply THE COMMANDMENTS (e. g. Matt. 19:17). The name DECALOGUE is found first in Clement of Alexandria, and was commonly used by the Fathers who followed him. Thus we know that the tables were two, and that the commandments were ten, in number. But the Scriptures do not, by any direct statements, enable us to determine with precision how the Ten Commandments are severally to be made out, nor how they are to be allotted to the Two tables. On each of these points various opinions have been held (see Exo. 20:12)” (= ).

Dalam tafsirannya tentang Kel 20:12, Barnes mengatakan sebagai berikut:

Barnes’ Notes: “Verse 12. ‘Honour thy father and thy mother.’ According to our usage, the fifth commandment is placed as the first in the second table; and this is necessarily involved in the common division of the commandments into our duty toward God and our duty toward men. But the more ancient, and probably the better, division allots five commandments to each table (compare Rom. 13:9), proceeding on the distinction that the First table relates to the duties which arise from our filial relations, the second to those which arise from our fraternal relations. The connection between the first four commandments and the fifth exists in the truth that all faith in God centers in the filial feeling. Our parents stand between us and God in a way in which no other beings can. On the maintenance of parental authority, see Exo. 21:15,17; Deut. 21:18-21” (= ).

·        bagi saya masalah sebenarnya adalah penghapusan hukum ke 2 dalam 10 Hukum Tuhan versi Katolik.

 

Matthew Henry: “The best and most ancient lawgivers among the heathen forbade the setting up of images in their temples. This practice was forbidden in Rome by Numa, a pagan prince; yet commanded in Rome by the pope, a Christian bishop, but, in this, anti-christian. The use of images in the church of Rome, at this day, is so plainly contrary to the letter of this command, and so impossible to be reconciled to it, that in all their catechisms and books of devotion, which they put into the hands of the people, they leave out this commandment, joining the reason of it to the first; and so the third commandment they call the second, the fourth the third, etc.; only, to make up the number ten, they divide the tenth into two” (= ).

 

Adam Clarke: “To countenance its image worship, the Roman Catholic church has left the whole of this second commandment out of the decalogue, and thus lost one whole commandment out of the ten; but to keep up the number they have divided the tenth into two commandments. This is totally contrary to the faith of God’s elect and to the acknowledgment of that truth which is according to godliness. The verse is found in every MS. of the Hebrew Pentateuch that has ever yet been discovered. It is in all the ancient versions, Samaritan, Chaldee, Syriac, Septuagint, Vulgate, Coptic, and Arabic; also in the Persian, and in all modern versions. There is not one word of the whole verse lacking in the many hundreds of MSS. collected by Kennicott and De Rossi. This corruption of the word of God by the Roman Catholic Church stamps it, as a false and heretical church, with the deepest brand of ever-enduring infamy!” (= ).

 

Kata-kata Matthew Henry dan Adam Clarke tentang 10 hukum Tuhan versi Katolik ini sesuai dengan apa yang tertulis dalam ‘Catechism of the Catholic Church’ (sebelum no 2052), dimana dituliskan 10 hukum Tuhan versi Katolik sebagai berikut:

A Traditional Catechetical Formula

1. I am the LORD your God: you shall not have strange Gods before me.

2. You shall not take the name of the LORD your God in vain.

3. Remember to keep holy the LORD’S Day.

4. Honor your father and your mother.

5. You shall not kill.

6. You shall not commit adultery.

7. You shall not steal.

8. You shall not bear false witness against your neighbor.

9. You shall not covet your neighbor’s wife.

10. You shall not covet your neighbor’s goods.

 

Catatan: adalah tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah untuk membagi hukum ke 10 menjadi 2. Mengapa?

¨       Kalau ‘jangan mengingini istri sesamamu’ disebutkan sebagai hukum ke 9 seperti dalam versi Katolik, itu mungkin masih bisa disesuaikan dengan Ul 5, dimana kata-kata ‘istri sesamamu’ menduduki tempat pertama, dan lalu disusul dengan ‘rumah, ladang, hamba, lembu, keledai sesamamu’. Tetapi bagaimana hal itu bisa disesuaikan dengan Kel 20:17, dimana kata-kata ‘rumah sesamamu’ menduduki tempat pertama, dan sesudah itu baru ‘istrinya’?

Ul 5:21 - “Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu”.

Kel 20:17 - “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.’”.

¨       Pada waktu Paulus mengutip hukum ke 10 ini, ia memperlakukannya sebagai satu kesatuan.

Calvin (tentang Kel 20:12): “the prohibition of God to covet either our neighbour’s wife or his house, is foolishly separated into two parts, whereas it is quite clear that only one thing is treated of, as we gather from the words of Paul, who quotes them as a single Commandment. (Rom. 7:7.) ... the fact itself explains how one error has grown out of another; for, when they had improperly hidden the Second Commandment under the First, and consequently did not find the right number, they were forced to divide into two parts what was one and indivisible” [= larangan Allah untuk mengingini istri sesama kita atau rumahnya, secara bodoh dipisahkan menjadi 2 bagian, padahal adalah cukup jelas bahwa hanya satu hal yang dibicarakan, seperti yang bisa kita dapatkan dari kata-kata Paulus, yang mengutip mereka sebagai satu Perintah / Hukum (Ro 7:7). ... fakta itu sendiri menjelaskan bagaimana satu kesalahan telah tumbuh dari kesalahan yang lain; karena, pada waktu mereka secara tidak benar telah menyembunyikan Perintah / Hukum kedua di bawah Perintah / Hukum pertama, dan karena itu tidak bisa mendapatkan bilangan yang benar (tak bisa mendapatkan bilangan 10), mereka terpaksa membagi menjadi 2 bagian apa yang seharusnya adalah satu dan tidak bisa dibagi-bagi] - hal 6.

Bdk. Ro 7:7 - “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: ‘Jangan mengingini!’”.

 

Calvin: “Idolaters in vain endeavour to elude this second point by their foolish cavils; as amongst the Papists that trifling distinction is commonly advanced, that only latreia, and not douleia is prohibited. For Moses, first of all, comprehends generally all the forms and ceremony of worship; and then adds immediately afterwards the word dbf,GNABAD, which means properly ‘to serve.’ Hence we conclude that they make a childish endeavour at evasion, when they pay only the honour of ‘service’ to picture and statues” (= ) - hal 109.

Catatan: kata Ibrani dbf seharusnya dibaca AVAD, bukan GNABAD.


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com